• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.7 Konsepsi dan Batasan Penelitian

5.1.6 Proses Hirarki Analitik (PHA)

5.1.6.3 Analisis Hasil Pengolahan PHA

Analisis pengolahan PHA terbagi menjadi dua, yaitu : pengolahan horisontal dan pengolahan vertikal. Analisis pengolahan horisontal terbagi menjadi empat bagian, yaitu : tingkat 1 yang merupakan permasalahan yang menjadi kendala investasi bagi penanam modal untuk industri pengolahan

perikanan, tingkat 2 adalah sub masalah yang mempengaruhi setiap permasalahan yang menjadi kendala investasi dan tingkat 3 adalah faktor penyebab yang

mempengaruhi setiap sub masalah. Analisis pengolahan vertikal terbagi menjadi tiga bagian, yaitu : tingkat 1 yang merupakan permasalahan yang menjadi kendala investasi, tingkat 2 yang merupakan sub masalah yang menjadi kendala investasi dan tingkat 3 yang merupakan faktor penyebab dari setiap sub masalah.

Hasil pengolahan horisontal dan vertikal antar elemen pada tingkat 1 menghasilkan hasil yang sama. Hasil pengolahan horisontal dan vertikal antar elemen pada tingkat 1 dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Susunan Bobot dan Prioritas Hasil Pengolahan Horisontal dan Vertikal Antar Elemen Tingkat 1

Elemen Masalah Bobot PHA Prioritas

Produksi 0,281 2

Sumberdaya Manusia 0,141 3

Pemasaran 0,578 1

Rasio Inkonsistensi : 0,00

Sumber : Diolah dari Data Primer Tahun 2008

Pengolahan pada tingkat 1 bertujuan untuk mengetahui masalah yang paling mempengaruhi investasi bagi penanam modal untuk industri pengolahan hasil perikanan. Hasil pengolahan menunjukkan bahwa pemasaran menjadi kendala utama bagi penanam modal. Hal ini dapat dilihat dari bobotnya sebesar

0,578. Menurut Kotler (2005) pemasaran merupakan cara yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan sosial dan manusiawinya dengan mendapatkan laba. Laba juga merupakan tujuan akhir dari perusahaan dan pemasaran berfungsi sebagai pencapai tujuan akhir perusahaan.

Masalah berikutnya yang menjadi kendala investasi bagi penanam modal untuk industri pengolahan dan pemasaran hasil perikanan adalah produksi dengan bobot sebesar 0,281. Kegiatan produksi memiliki pengertian segala usaha

penggunaan dan pengelolaan sumber daya atau yang sering disebut faktor-faktor produksi dalam proses transformasi menjadi berbagai produk atau jasa (Handoko, 2000). Perusahaan pengolahan hasil perikanan memang sudah seharusnya memberikan perhatian penting pada kegiatan produksi karena produk yang dihasilkan akan mempengaruhi perkembangan perusahaan.

Sumberdaya manusia dengan bobot 0,141 menjadi prioritas terakhir yang dipertimbangkan penanam modal sebagai kendala investasi pada perusahaan pengolahan hasil perikanan. Hal ini dapat dikaitkan dengan besarnya jumlah penduduk Indonesia merupakan daya tarik bagi para investor untuk menjadikan tingginya populasi tersebut sebagai kekuatan pasar untuk produk yang akan mereka hasilkan.

Rasio inkonsistensi merupakan nilai yang menunjukkan bahwa semua elemen pada suatu model hirarki dikelompokkan secara logis oleh responden. Mutu informasi yang diperoleh baik jika nilai rasio inkonsistensi maksimal 0,1 (Saaty 1993). Hasil pengolahan horisontal pada tingkat 1 memberikan nilai rasio inkonsistensi sebesar 0,00. Hal ini menunjukkan bahwa responden telah

memberikan mutu informasi yang baik dan konsisten mengenai prioritas masalah yang menjadi kendala investasi bagi penanam modal untuk industri pengolahan hasil perikanan. Susunan bobot dan prioritas hasil pengolahan horisontal antar elemen pada tingkat 1 serta nilai rasio inkonsistensinya dapat dilihat pada Tabel 14 di atas.

Tabel 15. Susunan Bobot dan Prioritas Hasil Pengolahan Horisontal Antar Elemen Tingkat 2

Elemen Masalah Elemen Sub Masalah Bobot PHA Prioritas RI

Produksi Bahan Baku

Sarana & Prasarana Pajak Perizinan 0,334 0,258 0,156 0,251 1 2 4 3 0,03 Sumberdaya Manusia (SDM) Kesejahteraan

Keterampilan & Pengetahuan

0,253 0,747 2 1 0,00 Pemasaran Infrastruktur Jaringan Pemasaran Mutu 0,135 0,538 0,327 3 1 2 0,01

Sumber : Diolah dari Data Primer Tahun 2008

Hasil pengolahan horisontal tingkat 2 pada Tabel 15 di atas menunjukkan bahan baku sebagai prioritas utama pada permasalahan produksi dengan bobot sebesar 0,334. Prioritas berikutnya pada permasalahan produksi berturut-turut adalah sarana dan prasarana pendukung kegiatan produksi dengan bobot sebesar 0,258, kemudian perijinan produksi dengan bobot sebesar 0,251 dan pajak terkait dengan bobot sebesar 0,156 menjadi prioritas terakhir. Bahan baku yang

digunakan oleh kebanyakan industri pengolahan hasil perikanan berorientasi ekspor adalah ikan hasil tangkapan. Hasil pengolahan ini sesuai dengan pencatatan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), kesulitan dalam memperoleh bahan baku ikan dari kapal-kapal penangkap adalah salah satu penyebab kemandekan dalam pengembangan industri pengolahan perikanan. Jika bahan baku meningkat maka kapasitas produksi dan pendapatan perusahaan pun akan meningkat.

Pada permasalahan sumberdaya manusia sebagai kendala invetasi pada sektor industri pengolahan perikanan, keterampilan dan pengetahuan tenaga kerja dengan bobot sebesar 0,747 menjadi prioritas utama yang berpengaruh, sedangkan kesejahteraan dengan bobot sebesar 0,253 menjadi prioritas kedua. Keterampilan dan pengetahuan menjadi prioritas utama karena kebanyakan tenaga kerja yang bekerja pada sektor kelautan dan perikanan masih memiliki kualitas rendah. Kualitas sumberdaya manusia merupakan faktor utama yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya produktifitas sumberdaya manusia tersebut. Semakin tinggi kualitas yang dimiliki sumberdaya manusia akan semakin tinggi pula

Jaringan pemasaran dengan bobot sebesar 0,538 merupakan prioritas utama yang menjadi kendala bagi pemasaran. Prioritas kedua yang menjadi kendala pemasaran adalah mutu dengan bobot sebesar 0,327 dan infrastruktur dengan bobot sebesar 0,135.

Tabel 16. Susunan Bobot dan Prioritas Hasil Pengolahan Horisontal Antar Elemen Tingkat 2 dan Tingkat 3 Untuk Masalah Produksi

Elemen Masalah Elemen Sub Masalah Bobot PHA Prioritas Elemen Faktor Penyebab Bobot PHA Prioritas Jumlah 0,559 1 Mutu 0,441 2 Bahan Baku 0,334 1 Rasio inkonsistensi : 0,00 Air Bersih 0,421 1 Cold Storage 0,197 3 Energi Listrik 0,382 2 Sarana & Prasarana 0,258 2 Rasio Inkonsistensi : 0,06 Regulasi 0,561 1 Biaya 0,439 2 Pajak 0,156 4 Rasio Inkonsistensi : 0,00 Regulasi 0,335 2 Biaya 0,317 3 Waktu 0,348 1 Produksi Perizinan 0,251 3 Rasio Inkonsistensi : 0,01

Sumber : Diolah dari Data Primer Tahun 2008

Tabel 16 di atas menunjukkan hasil pengolahan horisontal pada tingkat 3 sebagai faktor-faktor penyebab bagi setiap permasalahan. Faktor penyebab utama pada bagian bahan baku produksi adalah jumlah dengan bobot sebesar 0,559 dan mutu dengan bobot sebesar 0,441. Beberapa perusahaan pengolahan hasil perikanan sebagai sumber mengakui bahwa selain hasil tangkapan sendiri, sisa kebutuhan bahan bakunya mereka impor dari luar negeri.

Air bersih dengan bobot sebesar 0,421 menjadi faktor penyebab utama pada bagian permasalahan sarana dan prasarana. Energi listrik menjadi prioritas kedua dengan bobot 0,382, lalu cold storage dengan bobot 0,197. Perusahaan-perusahaan industri pengolahan perikanan di kawasan Pelabuhan Nizam Zachman Jakarta memperoleh kebutuhan airnya dari Perusahaan Air Minum (PAM), sedangkan diakui oleh pelaku usaha air yang disalurkan oleh PAM tidak terjamin kebersihannya. Kualitas air digunakan tentunya dapat mempengaruhi mutu dari hasil olahan mereka.

Pada bagian masalah pajak, prioritas utama sebagai faktor penyebab adalah regulasi dengan bobot sebesar 0,561 dan dengan bobot sebesar 0,439 sebagai faktor penyebab berikutnya adalah biaya. Sistem birokrasi yang dianut oleh pemerintah Indonesia direalisasikan dengan hukum dan peraturan

administrasi sebagai pengatur. Akan tetapi, peraturan-peraturan yang ada sekarang dianggap sebagai sumber munculnya masalah khususnya pajak. Pajak sebagai pengeluaran bagi perusahaan, semakin besar omset perusahaan, semakin besar pula pajak yang akan dibayarkan. Dari hasil wawancara dengan responden, didapatkan bahwa setiap tahunnya tidak sedikit biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk pajak.

Pada bagian masalah perijinan, secara berturut-turut yang menjadi faktor penyebab adalah waktu dengan bobot sebesar 0,348. prioritas kedua adalah regulasi dengan bobot 0,335, dan biaya dengan bobot sebesar 0,317 menjadi prioritas terakhir. Diakui oleh pelaku usaha waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan ijin yang dibutuhkan perusahaan membutuhkan waktu yang cukup lama. Menurut mereka lamanya waktu perolehan ijin ini masih dapat dipersingkat.

Tabel 17. Susunan Bobot dan Prioritas Hasil Pengolahan Horisontal Antar Elemen Tingkat 2 dan Tingkat 3 Untuk Masalah Sumberdaya Manusia

Elemen Masalah Elemen Sub Masalah Bobot PHA Prioritas Elemen Faktor Penyebab Bobot PHA Prioritas Upah 0,649 1 Tunjangan 0,351 2 Kesejahteraan 0,253 2 Rasio Inkonsistensi : 0,00 Pelatihan 0,766 1 Tingkat Pendidikan 0,234 2 Sumberdaya Manusia (SDM) Keterampilan & Pengetahuan 0,747 1 Rasio Inkonsistensi : 0,00

Sumber : Diolah dari Data Primer Tahun 2008

Hasil pengolahan berikutnya untuk bagian masalah kesejahteraan pada permasalahan sumberdaya manusia menunjukkan faktor penyebab utama adalah upah dengan bobot sebesar 0,649. Prioritas berikutnya adalah tunjangan bagi tenaga kerja dengan bobot sebesar 0,351. Dari hasil pengamatan, pada umumnya pemberian upah oleh perusahaan pengolahan perikanan di kawasan Pelabuhan Nizam Zachman Jakarta dilakukan dengan tiga cara, yaitu : secara harian, mingguan, dan bulanan. Upah harian diberikan kepada buruh produksi, seperti yang bekerja membersihkan ikan, menyortir ikan, memisahkan daging ikan

dengan kulitnya, dan lainnya. Upah mingguan dapat diberikan kepada anak buah kapal maupun tenaga kerja lain yang dibayar per minggunya, sedangkan sisanya menerima upah bulanan. Upah dinilai penting karena kebanyakan perusahaan tidak memberikan tunjangan kepada tenaga kerjanya, namun ada pula beberapa perusahaan yang memberikan tunjangan kepada sebagian tenaga kerjanya.

Faktor penyebab utama yang mempengaruhi bagian masalah keterampilan dan pengetahuan tenaga kerja adalah pelatihan dengan bobot sebesar 0,766. Berikutnya adalah faktor tingkat pendidikan dengan bobot sebesar 0,234. Kendala bagi perusahaan tidak adanya pelatihan khusus yang diberikan bagi tenaga kerja. Keterampilan bekerja yang dimiliki pekerja kebanyakan perusahaan sekarang pada umumnya merupakan warisan atau meniru apa-apa yang telah dilakukan pekerja sebelumnya.

Tabel 18. Susunan Bobot dan Prioritas Hasil Pengolahan Horisontal Antar Elemen Tingkat 2 dan Tingkat 3 Untuk Masalah Pemasaran

Elemen Masalah Elemen Sub Masalah Bobot PHA Prioritas Elemen Faktor Penyebab Bobot PHA Prioritas Jalan 0,392 2 Pelabuhan 0,608 1 Infrastuktur 0,135 3 Rasio Inkonsistensi : 0,00 Promosi 0,228 2 Informasi Pasar 0,772 1 Jaringan Pemasaran 0,538 1 Rasio Inkonsistensi : 0,00 Implementasi Penerapan Standar 0,652 1 Standar 0,348 2 Pemasaran Mutu 0,327 2 Rasio Inkonsistensi : 0,00

Sumber : Diolah dari Data Primer Tahun 2008

Hasil analisis dari penilaian yang diberikan oleh responden di kawasan Pelabuhan Nizam Zachman Jakarta menunjukkan prioritas utama penyebab bagian masalah infrastruktur adalah pelabuhan dengan perolehan bobot 0,608, kemudian jalan dengan bobot sebesar 0,392. Keberadaan pelabuhan perikanan sangat penting dalam menentukan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan usaha perikanan tangkap terpadu. Prioritas utama yang menjadi faktor penyebab dalam bagian jaringan pemasaran bagi perusahaan industri pengolahan hasil perikanan adalah informasi pasar dengan bobot sebesar 0,772 dan promosi hanya memiliki bobot sebesar 0,228. Sebagian besar responden yaitu perusahaan

pengolahan perikanan dengan orientasi ekspor menyatakan bahwa selama ini mereka memperoleh informasi pasar dari rekan bisnis yang telah mereka miliki di negara tujuan ekspornya. Para pelaku usaha mengakui masih belum adanya sistem informasi pasar yang baik yang telah memiliki kualitas dan kuantitas, serta struktur dan mekanisme kerja sistem informasi itu sendiri di Indonesia.

Implementasi penerapan standar dengan bobot sebesar 0,652 merupakan faktor penyebab utama dari bagian masalah mutu. Ketatnya penerapan mutu yang diberlakukan oleh negara-negara tujuan ekspor khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa menimbulkan kesulitan bagi beberapa perusahaan untuk mencapai standar tersebut. Selanjutnya merupakan hasil pengolahan vertikal antar elemen tingkat 2 (Tabel 19).

Tabel 19. Susunan Bobot dan Prioritas Hasil Pengolahan Vertikal Antar Elemen Tingkat 2

Elemen Sub Masalah Bobot PHA Prioritas

Bahan Baku 0,094 4

Sarana & Prasarana 0,072 6

Pajak 0,044 8

Perizinan 0,070 7

Kesejahteraan 0,036 9

Keterampilan & Pengetahuan 0,105 3

Infrastruktur 0,078 5

Jaringan Pemasaran 0,311 1

Mutu 0,189 2

Nilai Rasio Inkonsistensi : 0,00

Sumber : Diolah dari Data Primer Tahun 2008

Pengolahan vertikal pada tingkat 2 (elemen sub masalah) menunjukkan bahwa sub masalah utama yang menjadi kendala investasi bagi industri

pengolahan hasil perikanan adalah jaringan pemasaran (0,311). Sub masalah mutu dengan perolehan bobot sebesar 0,189 menjadi prioritas kedua, sedangkan yang menjadi prioritas sub masalah ketiga adalah sub masalah keterampilan dan pengetahuan pekerja atau karyawan dengan perolehan bobot sebesar 0,105. Hasil pengolahan vertikal antar elemen tingkat 3 terhadap alternatif masalah dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20. Susunan Bobot dan Prioritas Hasil Pengolahan Vertikal Antara Elemen Pada Tingkat 3 Terhadap Alternatif Masalah

Elemen Faktor Penyebab Bobot PHA Prioritas

Jumlah Bahan Baku 0,053 6

Mutu Bahan Baku 0,041 8

Air Bersih 0,031 9 Cold Storage 0,014 16 Energi Listrik 0,028 10 Regulasi Pajak 0,025 11 Biaya Pajak 0,019 15 Regulasi Perizinan 0,024 12 Biaya Perizinan 0,022 14 Waktu Perizinan 0,025 11 Upah tenagaKerja 0,023 13

Tunjangan Tenaga Kerja 0,012 17

Pelatihan SDM 0,081 3 Tingkat Pendidikan SDM 0,025 11 Jalan 0,031 9 Pelabuhan 0,047 7 Promosi 0,071 4 Informasi Pasar 0,240 1

Implementasi Penerapan Standar 0,123 2

Standar 0,066 5

Nilai Rasio Inkonsistensi : 0,02

Sumber : Diolah dari Data Primer Tahun 2008

Dari hasil pengolahan vertikal, faktor penyebab masalah yang menjadi prioritas utama adalah informasi pasar dengan perolehan bobot sebesar 0,240. Informasi pasar juga menjadi kendala utama dalam permasalahan pemasaran. Prioritas kedua implementasi penerapan standar dengan perolehan bobot sebesar 0,123. Banyak faktor yang mempengaruhi sulitnya implementasi penerapan standar bagi perusahaan, di antaranya adalah kurang mendukungnya sarana dan prasarana yang berperan penting dalam proses produksi, proses perijinan, dan lain sebagainya.

Prioritas ketiga adalah pelatihan SDM dengan perolehan bobot sebesar 0,081. Prioritas berikutnya adalah promosi dengan perolehan bobot sebesar 0,071. Yang menjadi prioritas kelima dan keenam adalah standar yang ditetapkan oleh negara tujuan ekspor dan jumlah bahan baku dengan perolehan bobot masing-masing sebesar 0,066 dan 0,053.

Rasio inkonsistensi yang diperoleh dari pengolahan vertikal tingkat 3 terhadap alternatif masalah adalah sebesar 0,02. Nilai rasio inkonsistensi yang dihasilkan sangat baik dan menunjukkan kualitas informasi yang diberikan oleh

responden yaitu perusahaan-perusahaan di kawasan Pelabuhan Nizam Zachman Jakarta. Nilai rasio inkonsistensi ini juga mencerminkan konsistensi responden dalam mengelompokkan prioritas masalah, sub masalah serta faktor penyebab sub masalah yang mempengaruhi kendala investasi bagi penanam modal dalam hal ini perusahaan-perusahaan di kawasan Pelabuhan Nizam Zachman Jakarta.

Tabel 21. Susunan bobot dan Prioritas Hasil Pengolahan Horisontal Antar Elemen Pada Tingkat 4

Elemen Alternatif Bobot PHA Prioritas

Penyederhanaan Regulasi 0,163 4

Insentif Investasi 0,337 1

Perbaikan Infrastruktur 0,251 2

Pemberian perlindungan dan advokasi pemasaran produk perikanan 0,249 3 Rasio Inkonsistensi : 0,00

Sumber : Diolah dari Data Primer Tahun 2008

Alternatif utama yang dipilih sebagai solusi dari faktor-faktor penyebab permasalahan utama yang menjadi kendala investasi bagi penanam modal untuk industri pengolahan hasil perikanan orientasi ekspor di kawasan Pelabuhan Nizam Zachman Jakarta yaitu insentif investasi. Insentif investasi menjadi alternatif utama dengan perolehan bobot sebesar 0,337. Alternatif berikutnya yang dapat menjadi solusi bagi faktor-faktor penyebab permasalahan utama secara berturut-turut adalah perbaikan infrastruktur (0,251), pemberian perlindungan dan advokasi pemasaran produk perikanan (0,249), dan penyederhanaan regulasi (0,163).

5.2 Pembahasan

Pelabuhan Nizam Zachman Jakarta merupakan pelabuhan perikanan yang diperuntukkan terutama bagi kapal-kapal perikanan yang beroperasi di perairan samudera. Perusahaan-perusahaan perikanan yang terdapat di kawasan Pelabuhan Nizam Zachman Jakarta hampir seluruhnya bergerak di bidang penangkapan, pengolahan, ataupun keduanya. Pengolahan yang dilakukan kebanyakan adalah pembekuan hasil laut tanpa penambahan nilai guna. Pemasaran hasil olahan ditujukan untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Dari hasil analisis terhadap jawaban-jawaban responden, diketahui masalah utama yang menjadi kendala investasi bagi penanam modal untuk

industri pengolahan hasil perikanan berorientasi ekspor adalah pemasaran dengan informasi pasar sebagai penyebab utama. Pemasaran merupakan kegiatan

perusahaan yang bertujuan untuk mendapatkan laba. Laba atau keuntungan digunakan perusahaan untuk membiayai kegiatan perusahaan berikutnya dan juga untuk investasi perusahaan. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemasaran hasil olahan perikanan adalah tersedianya informasi pasar yang cepat, tepat dan akurat (DKP 2005).

Lingkungan pemasaran yang berkembang cepat, membutuhkan informasi pasar seketika yang lebih besar dari sebelumnya. Terjadi pergeseran yang hebat sekali, pergeseran pemasaran perusahaan pengolahan hasil perikanan dari pasar lokal ke nasional dan akhirnya ke pasar global, dari kebutuhan pembeli hingga keinginan pembeli, dari persaingan harga ke persaingan non-harga. Karena perusahaan memperluas peliputan wilayah pasar mereka, berarti perusahaan membutuhkan lebih banyak informasi secara lebih cepat. Pendapatan yang meningkat turut mendorong pembeli menjadi lebih selektif dalam memilih barang (Kotler 2002).

Dari hasil wawancara, hampir seluruh responden membangun jaringan pemasarannya sendiri, khususnya di pasar luar negeri. Mulai dari pencarian mitra usaha dalam melakukan ekspor-impordan dalam pencarian informasi, hanya sedikit informasi yang dapat diperoleh dari dalam negeri. Informasi pasar negara tujuan ekspor yang lebih akurat didapatkan dari informan yang selama ini selalu bekerja sama dengan mereka. Informasi yang biasa mereka peroleh dari dalam negeri contohnya adalah total ekspor, total konsumsi, pola konsumsi, standar mutu hasil olahan perikanan, dan lain sebagainya. Hal ini karena, jaringan

pemasaran industri pengolahan dan pemasaran hasil perikanan berorientasi ekspor masih sangat terbatas. Informasi yang sering ditanyakan manajemen perusahaan kepada informan mereka di negara tujuan ekspor antara lain laju inflasi, isu-isu politik dan sosial, perkiraan harga beli hasil olahan perikanan, kemungkinan perluasan pasar, dan sebagainya.

Informasi-informasi pasar dibutuhkan perusahaan untuk membantu manajemen perusahaan dalam memilih pasar dengan lebih baik, mengembangkan tawaran yang lebih baik, dan melaksanakan rencana pemasaran dengan lebih baik

(Kotler 2002). Menurut responden, bukan masalah ketiadaaan informasi yang dirasakan oleh pelaku-pelaku usaha industri pengolahan hasil perikanan, melainkan waktu yang dibutuhkan pemerintah ataupun lembaga lainnya dalam mengumpulkan dan menyusun informasi lebih lama. Sehingga seringkali saat informasi tersebut dipublikasikan dirasa terlambat oleh manajemen perusahaan.

Penyebab berikutnya untuk masalah pemasaran adalah implementasi penerapan standar. Indonesia telah menerapkan (Hazard Analysis Critical Control Point) HACCP sebagai sistem pengawasan mutu dan keamanan pangan. HACCP adalah suatu sistem yang digunakan untuk mengidentifikasi bahaya dan tindakan pengendaliannya yang terfokus pada pencegahan daripada pengujian produk akhir. Prinsip pengawasan higien dalam HACCP antara lain : produksi primer, unit produksi (disain dan fasilitas), pengawasan, perawatan dan sanitasi (unit produksi), kebersihan personel atau karyawan (unit produksi), transportasi, informasi produk, dan pelatihan (BSN 2000).

Implementasi penerapan standar dirasa sulit dilakukan oleh responden karena faktor sarana produksi yang kurang mendukung terutama sarana air bersih. Dari wawancara yang dilakukan, diketahui bahwa perusahaan-perusahaan

pengolahan hasil perikanan di kawasan Pelabuhan Nizam Zachman menggunakan air PAM sebagai sumber air bersih dan digunakan dalam kegiatan produksi. Diakui pula bahwa air PAM yang digunakan tersebut terkadang masih mengandung kotoran.

Sanitasi dan higienis yang merupakan suatu syarat utama yang harus diperhatikan dalam penyediaan proses bahan baku pangan yang bermutu dan aman dikonsumsi oleh masyarakat. Pengertian sanitasi dan higien tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena erat kaitannya dan mempunyai tujuan sama yaitu untuk mengusahakan cara hidup sehat. Tetapi definisi keduanya terdapat perbedaan yaitu usaha sanitasi lebih menitik beratkan kepada faktor lingkungan hidup manusia sedangkan higien lebih ditujukan pada faktor kebersihan individu/perorangan (Gazpers 2001)

Sanitasi adalah suatu usaha dan tindakan yang dilakukan untuk mengubah secara langsung maupun tidak langsung pengaruh lingkungan buruk bagi

sendiri adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu /perorangan (Gazpers 2001). Sanitasi dan higienis air yang merupakan bahan pendukung utama proses produksi perlu dijaga dengan baik. Mengingat pentingnya air dalam proses pengolahan pembekuan komoditi perikanan, maka air yang digunakan harus bersih dan memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan. Diakui beberapa responden selama proses penanganan dan pengolahan, air yang digunakan perusahaan ada yang diberi klorin sesuai dosis yang dibutuhkan sebagai disinfektan. Penggunaan klorin sebagai disinfektan karena senyawa ini mampu bekerja secara efektif membunuh kuman dan harganya murah sehingga bernilai ekonomis.

Semua bahan yang digunakan terutama yang bersifat kimiawi harus teridentifikasi secara jelas dan disimpan jauh dari areal produksi. Penggunaan bahan kimia yang memiliki kandungan toksik tinggi sebaiknya jangan disimpan di dalam ruangan pengolahan, akan tetapi disimpan di dalam gudang yang kering. Penanganan bahan-bahan beracun ini harus diperhatikan oleh perusahaan agar produk, peralatan dan bahan pengemas produk terlindungi dari pencampuran bahan pembersih, bahan untuk sanitasi, potongan logam atau bahan kimia lainnya yang dapat menyebabkan kontaminasi pada produk secara fisik. Penggunaan klorin untuk menjaga kualitas air yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan di kawasan PPSJ sangat beresiko terhadap kualitas dan mutu hasil olahan. Jika dosis klorin yang digunakan melebihi dosis yang dibutuhkan dan klorin tersbut

kemudian terserap oleh bahan baku olahan, maka secara otomatis bahan baku tersebut telah tercemar bahan kimia.

Pengawasan mutu dilakukan oleh perusahaan responden untuk memenuhi ketentuan persyaratan kualitas produk yang ditetapkan oleh perusahaan dari masing-masing negara pengimpor. Kegiatan pengawasan ini dilakukan mulai dari pembelian bahanbaku sampai dengan proses ekspor dengan memberlakukan proses rantai dingin (cold chain), penggunaan klorin dan pengawasan terhadap mutu produk akhir. Pengawasan mutu ini dilakukan juga dengan cara mengambil sampel dari setiap bahan baku utama untuk dilakukan pengujian di laboratorium secara rutin. Namun dalam BSN (2000) disebutkan bahwa walaupun perusahaan-perusahaan di Indonesia telah menerapkan HACCP sebagai sistem pengawasan

mutu dan keamanan pangan, tetapi pada kenyataannya pengawasan di lapangan masih menekankan pada pengujian produk akhir. Hanya sedikit porsi yang menekankan pada fungsi pengawasan selama penanganan dan pengolahan bahan baku.

Masalah yang juga dikatakan oleh responden adalah terkadang masih terjadi ketidakakuratan hasil pengujian oleh laboratorium pengujian mutu hasil

perikanan. Menurut Fajar (2008), berbedanya hasil uji disebabkan karena kelengkapan peralatan untuk pengujian standar yang tidak lengkap dan berbeda antara masing-masing laboratorium penguji di daerah. Perbedaan peralatan seringkali menyebabkan tidak seragamnya tingkat ketelitian dan sensitivitas hasil pengujian. Kurang sempurnanya pelaksanaan pengawasan dan tidak seragamnya hasil pengujian dapat berakibat penolakan dan penahanan produk di pasar internasional.

Jepang merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia untuk komoditas