ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
B. Analisis Deskriptif 1.Motivasi 1.Motivasi
Kuesioner pada variabel Motivasi menggunakan skala data 1-5, di mana 1 menunjukkan bahwa persepsi karyawan tetap tentang motivasi yang diterima sangat rendah, artinya sangat kurang sesuai dengan peranan penting yang dilakukan karyawan seperti optimis, berani menerima tantangan, mandiri dan tanggung jawab, memiliki cita-cita, kreatif dan berpikir positif, sedangkan skala 5 menunjukkan bahwa persepsi karyawan tetap nonmanajerial tentang kompensasi yang diterima sangat tinggi, artinya sangat sesuai dengan peranan penting yang dilakukan karyawan seperti optimis, berani menerima tantangan, mandiri dan tanggung jawab, memiliki cita-cita, kreatif dan berpikir positif. Skala data tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel V.6
Tabel Skala Motivasi
Skala Data Kelas Kategori 1 1,00 – 1,79 Sangat Rendah 2 1,80 – 2,59 Rendah 3 2,60 – 3,39 Cukup 4 3,40 – 4,19 Tinggi 5 4,20 – 5,00 Sangat Tinggi Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
Dengan menggunakan kategori yang tersaji pada Tabel V.6 Tabel Skala Data Motivasi, rata – rata skor persepsi karyawan tetap terhadap motivasi (lampiran 1) adalah sebesar 3,65 (rata2 paling bawah) yang masuk kategori tinggi. Karyawan berpendapat bahwa peranan yang diberikan seperti optimis, berani menerima
tantangan, mandiri dan tanggung jawab, memiliki cita-cita, kreatif dan berpikir positif bagi instansi tersebut sangat tinggi.
2. Gaya Kepemimpinan
Kuesioner pada variabel Gaya Kepemimpinan menggunakan grade 1,1 sampai dengan 9,9, dimana 1,1 gaya kepemimpinan atasan dalam perhatian terhadap tugas dan karyawan sangat rendah sampai dengan 9,9 gaya kepemimpinan atasan dalam perhatian terhadap tugas dan karyawan sangat tinggi. Adapun skala data tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel V.7
Tabel Skala Gaya Kepemimpinan Skala Kelas Kategori Keterangan 1,1 1,00-1,79 Sangat
rendah
Perhatian atasan terhadap tugas dan karyawan sangat rendah
3,3 1,80-2,59 Rendah Perhatian atasan terhadap tugas dan karyawan rendah
5,5 2,60-3,39 Cukup Perhatian atasan terhadap tugas dan karyawan cukup
7,7 3,40-4,19 Tinggi Perhatian atasan terhadap tugas dan karyawan tinggi
9,9 4,20-5,00 Sangat Tinggi
Perhatian atasan terhadap tugas dan karyawan sangat tinggi
Dengan menggunakan kategori tersebut, rata-rata skor persepsi karyawan tetap terhadap gaya kepemimpinan atasan (ketua regu) adalah (Lampiran 1) 3,37 yang masuk dalam kategori cukup sekitar 5,5 (manajemen jalan tengah) perhatian atasan terhadap karyawan dan perhatian atasan terhadap tugas seimbang. Secara umum karyawan tetap berpendapat bahwa Atasan cukup memberikan perhatian
terhadap tugas dan karyawan itu sendiri. Perhatian terhadap tugas dan karyawan tetap itu terkait dengan fungsi manajerial dalam hal perencanaan, pengarahan dan pengawasan.
3. Kinerja Karyawan
Kuesioner pada variabel Kinerja menggunakan skala data 1-5, di mana 1 menunjukkan bahwa persepsi manajer/atasan langsung setiap unit/bagian tentang kinerja karyawan yang diterima sangat rendah, artinya sangat kurang sesuai dengan kualitas hasil kerja, kuantitas hasil kerja, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab, prestasi kerja, Disiplin, Kerjasama, sedangkan skala 5 menunjukkan bahwa persepsi manajer/atasan langsung setiap unit/bagian tentang kinerja karyawan yang diterima sangat tinggi, artinya sangat sesuai dengan kualitas hasil kerja, kuantitas hasil kerja, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab prestasi kerja, Disiplin, Kerjasama. Skala data tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel V.8
Tabel Skala Kinerja Karyawan Skala Data Kelas Kategori
1 1,00 – 1,79 Sangat Rendah 2 1,80 – 2,59 Rendah 3 2,60 – 3,39 Cukup 4 3,40 – 4,19 Tinggi 5 4,20 – 5,00 Sangat Tinggi Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
Dengan menggunakan kategori yang tersaji pada Tabel V.8 Tabel Skala Data Kinerja Karyawan, rata – rata skor persepsi karyawan tetap terhadap kinerja karyawan (lampiran 1) adalah sebesar 3,99 yang masuk kategori tinggi. Kepala
bagian langsung setiap unit/bagian berpendapat bahwa kualitas hasil kerja, kuantitas hasil kerja, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab prestasi kerja, Disiplin, Kerjasama dari karyawannya sudah tinggi
C. Pengujian Instrumen 1. Hasil Uji Validitas
Hasil uji validitas dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Dalam uji validitas ini, kriteria suatu nilai dikatakan valid jika nilai tersebut lebih besar dari rtabel. Untuk mengetahui nilai rtabel dapat dilakukan dengan rumus: rtabel(α, n-2) dari tabel Product Moment. Program aplikasi yang digunakan dalam uji validitas ini adalah SPSS 16.0. Pada uji validitas ini,
diketahui bahwa n adalah 93, dan α = 5%, maka rtabel(5%, 93-2) = 0.173. Setiap item
pertanyaan dapat dikatakan valid jikalebih besar dari 0,173. Hasil uji validitas data pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini:
Tabel V.9
Uji Validitias Pada Variabel Motivasi Variabel Item r (hitung) r (tabel) Status Motivasi (X) 1 0.589** 0.173 VALID 2 0.522** 0.173 VALID 3 0.570** 0.173 VALID 4 0.385** 0.173 VALID 5 0.654** 0.173 VALID 6 0.386** 0.173 VALID 7 0.625** 0.173 VALID 8 0.510** 0.173 VALID 9 0.599** 0.173 VALID 10 0.581** 0.173 VALID
11 0.479** 0.173 VALID Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
Berdasarkan Tabel V.9 dapat diketahui bahwa seluruh item pernyataan tentang motivasi. Semua item pernyataan mempunyai nilai rhitung ≥ rtabel 0.173 sehingga seluruh item pertanyaan dikatakan valid.
Tabel V.10
Uji Validitias Pada Variabel Gaya Kepemimpinan
Variabel Item r (hitung) r (tabel) Status Gaya Kempimpinan 1 0.622** 0.173 VALID 2 0.739** 0.173 VALID 3 0.774** 0.173 VALID 4 0.828** 0.173 VALID 5 0.803** 0.173 VALID 6 0.824** 0.173 VALID 7 0.784** 0.173 VALID 8 0.797** 0.173 VALID Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
Berdasarkan Tabel V.10 dapat diketahui bahwa seluruh item pernyataan tentang gaya kepemimpinan. Semua item pernyataan mempunyai nilai rhitung ≥ rtabel 0.173 sehingga seluruh item pertanyaan dikatakan valid.
Tabel V.11
Uji Validitias Pada Variabel Kinerja Karyawan
Variabel Item r (hitung) r (tabel) Status Kinerja
Karyawan
1 0.315** 0.173 VALID 2 0.587** 0.173 VALID 3 0.610** 0.173 VALID
4 0.730** 0.173 VALID 5 0.630** 0.173 VALID 6 0.592** 0.173 VALID 7 0.789** 0.173 VALID 8 0.601** 0.173 VALID Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
Berdasarkan Tabel V.11 Tabel Validitas Kinerja Karyawan, seluruh item pernyataan mengenai kinerja karyawan dinyatakan valid, karena rhitung lebih besar dari rtabel 0,173. Oleh karena itu, dari hasil analisis data dari tabel-tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh item pertanyaan dinyatakan valid karena semua item memiliki nilai yang lebih dari 0,173. Dengan demikian, seluruh item pertanyaan dapat diikutkan kembali dalam analisis selanjutnya.
2. Hasil Uji Reliabilitas
Hasil uji reliabilitas ini dilakukan dengan menggunakan Croncbach’s Alpha dengan bantuan program aplikasi SPSS. Suatu variabel dikatakan reliabel jika nilai Croncbach’s Alpha > 0,60. Program aplikasi yang digunakan dalam uji reliabilitas ini adalah SPSS 16.0. Hasil uji reliabilitas data pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel V.12
Tabel Uji Realiabilitas Motivasi
Berdasarkan Tabel V.12 Tabel Uji Reliabilitas Motivasi, dapat disimpulkan bahwa instrumen variabel motivasi dapat dikatakan reliabel karena nilai dari Croncbach’s Alpha dari variabel motivasi yaitu 0,726 > 0,60.
Tabel V.13
Tabel Uji Reliabilitas Gaya Kepemimpinan
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
Berdasarkan Tabel V.13 Tabel Uji Reliabilitas Gaya Kepemimpinan, dapat disimpulkan bahwa instrumen variabel gaya kepemimpinan dapat dikatakan reliabel karena nilai dari Croncbach’s Alpha dari variabel gaya kepemimpinan yaitu 0,785> 0,60.
Tabel V.14
Tabel Uji Reliabilitas Kinerja Karyawan
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
Berdasarkan Tabel V.14 Tabel Uji Reliabilitas Kinerja Karyawan, dapat disimpulkan bahwa instrumen variabel kinerja karyawan dapat dikatakan reliabel karena nilai dari Croncbach’s Alpha dari variabel kinerja karyawan yaitu 0,751 > 0,60. Jadi dapat disimpulkan bahwa semua variabel pada penelitian ini yaitu kompensasi, iklim organisasi, dan kinerja karyawan dinyatakan reliabel.
3. Hasil Uji Asumsi Klasik a. Hasil Uji Normalitas
Metode yang digunakan untuk uji normalitas adalah dengan Kolmogorov-Smirnov, suatu data normal jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) > 0,05. Selain itu, normal atau tidaknya suatu data, dapat juga terlihat pada grafik Normal P-P Plot. Suatu data dapat dikatakan normal jika data (titik) menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti garis diagonal. Program aplikasi yang digunakan dalam uji normalitas ini adalah SPSS 16.0. Berikut ini adalah hasil dari uji normalitas:
Gambar V.1
Hasil Uji Normalitas Tahap 1
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
Berdasarkan grafik Normal P-P Plot pada Gambar V.1 Hasil Uji Normalitas , penyebaran data (titik) berada di sekitar garis diagonal dan mengikuti garis diagonal. Jadi dapat disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi normal.
Tabel V. 15
Tabel Hasil Uji Normalitas Tahap 1
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
Berdasarkan Tabel V.15 Tabel Hasil Uji Normalitas, jika dilihat dari nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu 0,55 > 0,05, artinya data tersebut berdistribusi normal.
Gambar V.2 Hasil Uji Normalitas Tahap 2
Berdasarkan grafik Normal P-P Plot pada Gambar V.2 Hasil Uji Normalitas , penyebaran data (titik) berada disekitar garis diagonal dan mengikuti garis diagonal. Jadi dapat disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi normal.
Tabel V. 16
Tabel Hasil Uji Normalitas Tahap 2
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
Berdasarkan Tabel V.16 Tabel Hasil Uji Normalitas, jika dilihat dari nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu 0,71 > 0,05, artinya data tersebut berdistribusi normal.
b. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Metode yang digunakan pada uji heteroskedastisitas adalah dengan uji glejser. Kriteria dari uji ini adalah suatu variabel dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas atau disebut juga homokedastisitas jika nilai Sig. lebih besar dari 0,05, selain itu juga dapat dilihat dari penyebaran titik pada grafik Scatterplot. Jika titik-titik pada grafik Scatterplot menyebar secara acak, baik di bagian atas angka nol ataupun di bagian bawah angka nol dari sumbu vertikal atau sumbu Y, maka dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas atau disebut
homokedastisitas. Program aplikasi yang digunakan dalam uji heteroskedastisitas ini adalah SPSS 16.0. Berikut ini adalah hasil dari uji heterokedastisitas:
Gambar V.3
Grafik Scatterplot Tahap 1
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
Jika dilihat dari Gambar V.3 Grafik Scatterplot, titik-titik yang menyebar secara acak, maka dapat dikatakan bahwa pada uji ini tidak terjadi heteroskedastisistas.
Tabel V. 17
Tabel Hasil Uji Heteroskedastisitas Tahap 1
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 5.805 1.513 3.836 .000 Motivasi -.105 .037 -.283 -.818 .593
Berdasarkan Tabel V.17 uji Glejser yang telah dilakukan pada tabel ini diperoleh nilai signifikansi variabel Motivasi adalah 0.593 nilai tersebut di bawah 0.05 sehingga tidak mengandung adanya heteroskedastisitas.
Tabel V. 18
Tabel Hasil Uji Heteroskedastisitas Tahap 2
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
Berdasarkan Tabel V.18 uji Glejser yang telah dilakukan pada tabel ini diperoleh variabel moderasi Gaya Kepemimpinan terhadap Motivasi mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.470 nilai tersebut diatas 0,05 sehingga tidak mengandung adanya heteroskedastisitas.
D. Pengujian Hipotesis
Analisis data pada penelitian ini menggunakan program statistik SPSS 16.0 for windows. Pengujian ini pengaruruh model regresi interaksi moderasi menggunakan moderated analysis (MRA).
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 12.229 9.712 1.259 .211 Motivasi -.256 .245 -.711 -1.041 .301 Gaya Kepemimpinan -.275 .355 -.803 -.774 .441 Motivasi*Gaya Kepemimpinan .006 .009 1.014 .725 .470
Model Hubungan regresi dengan variabel moderating menggunakan MRA Hipotesis yang akan diuji :
Gambar V. 4 Kerangka Moderasi
Variabel moderating adalah variabel yang mampu memperkuat atau memperlemah hubungan kausal antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Semakin tinggi motivasi dan gaya kepemimpinan akan berpengaruh terhadap semakin tingginya kinerja karyawan. Untuk menguji apakah merupakan variabel moderating maka persamaan regresi dapat dilihat sebagai berikut:
1. Hasil Uji Hipotesis I
Tabel dibawah ini merupakan hasil output SPSS Pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan:
Gaya Kepemimpinan
Kinerja Karyawan Motivasi
Tabel V. 19
Hasil Analisis Persamaan I
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016
a. Merumuskan hipotesis
H01 = Motivasi tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan tetap Ha1 = Motivasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan tetap b. Menerima atau menolak hipotesis
Ho1 ditolak dan Ha1 diterima, karena berdasarkan tabel V. 19 diperoleh probabilitas signifikansi 0,001 < 0,05, berarti motivasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan tetap. Artinya semakin tinggi motivasi kerja, maka semakin tinggi kinerja karyawan tetap dan sebaliknya dengan tingkat keyakinan 95% (kesalahan 5%). Berdasarkan hasil pengujian analisis di atas, regresi yang terbentuk adalah:
Y= 24,821+ 0.178X
Persamaan regresi tersebut menjelaskan bahwa motivasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan tetap. Koefisien regresi motivasi sebesar 0,178X
menyatakan bahwa setiap pertambahan motivasi akan menambah rata-rata kinerja sekitar 0.178.
2. Hasil Uji Hipotesis II
Tabel ini merupakan hasil output SPSS Gaya Kepemimpinan memoderasi pengaruh motivasi terhadap Kinerja:
Tabel V. 20
Hasil Analisis Persamaan II
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2016 a. Merumuskan hipotesis
H02 = Gaya Kepemimpinan tidak memoderasi pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan tetap
Ha2 = Gaya Kepemimpinan memoderasi pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan tetap
b. Menerima atau menolak hipotesis
Ho2 ditolak dan Ha2 diterima, karena berdasarkan tabel V. 20 Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 4.832 14.187 .341 .734 Motivasi .717 .359 1.313 2.000 .049 Gaya Kepemimpinan .713 .519 1.372 1.375 .073 Motivasi*Gaya Kepemimpinan .192 .013 1.988 1.478 .043
a. Dependent Variable: Kinerja Karyawan Coefficientsa
diperoleh probabilitas signifikansi 0,043 < 0,05, berarti gaya kepemimpinan memperkuat pengaruh motivasi terhadap kinerja. Artinya semakin gaya kepemimpinan mendekati 9,9 maka pengaruh motivasi terhadap kinerja semakin kuat dan sebaliknya dengan tingkat kesalahan 5%. Untuk mengetahui terjadinya efek moderasi maka dari hasil olah Standardized Coefficients diketahui bahwa koefisien pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan tetap adalah 1,313 dan koefisien moderasi pengaruh motivasi terhadap kinerja adalah 1,988.
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel di atas, moderasi regresi yang terbentuk adalah:
Hasil Regresi II:
Y= 4,832+0,717X+0,713Z+0,192XZ
Persamaan regresi tersebut menjelaskan bahwa nilai konstanta sebesar 4,832. Hal ini berarti jika tidak ada variabel lain yang mempengaruhi maka skor kinerja sebesar 4,832. Nilai koefisien motivasi sebesar 0,717 hal ini berarti bahwa jika variabel motivasi naik satu-satuan maka skor kinerja akan naik sebesar 0,717 atau sebaliknya jika ada penurunan. Koefisien gaya kepemimpinan sebesar 0,713 yang berarti bahwa jika variabel gaya kepemimpinan naik satu-satuan maka nilai skor variabel kinerja naik sebesar 0,713. Koefisien interaksi antara motivasi dan gaya kepemimpinan sebesar 0,192 berarti bahwa jika interaksi antara motivasi dan gaya kepemimpinan naik satu-satuan maka kinerja akan naik sebesar 0,192
dengan tingkat signifikansi sebesar 0,043<0,05. Dengan kata lain gaya kepemimpinan memperkuat pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan tetap.
E. Pembahasan
Berdasarkan analisis data Regresi I sebelum dimoderasi dapat diketahui bahwa jika nilai motivasi satu maka skor kinerja sebesar 24,999, dan jika nilai motivasi naik satu-satuan maka skor kinerja sebesar 25,177. Maka skor kinerja akan naik sebesar 0,178 atau sebaliknya jika ada penurunan. Sedangkan analisis Regresi II sesudah dimoderasi dapat diketahui bahwa jika nilai motivasi satu maka skor kinerja sebesar 5,545, dan jika nilai motivasi naik satu-satuan maka skor kinerja sebesar 6,266. Maka skor kinerja akan naik sebesar 0,717 atau sebaliknya jika ada penurunan. Analisis ini dapat dikatakan moderasi karena nilai koefisien kinerjanya lebih besar dari analiis sebelum dimoderasi. Hal ini disimpulkan bahwa semakin gaya kepemimpinan berorientasi ke pencapaian kinerja yang tinggi sekaligus perhatian ke bawahan semakin baik maka pengaruh motivasi semakin kuat. Teori yang mendukung hasil penelitian yang telah penulis lakukan adalah teori yang dikemukakan oleh Stoner (1986:120) ada gaya kepemimpinan yang biasanya dilakukan oleh pempimpin dalam mengarahkan dan mempengaruhi bawahannya, yaitu; gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas meliputi kualitas dan kuantitas kerja, efisiensi kerja, proses kerja. Sedangkan gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada karyawan meliputi fungsi-fungsi dalam manajerial seperti keterlibatan dalam fungsi perencanaan, pengarahan dan pengawasan dalam bekerja. Semakin tinggi perhatian atasan terhadap karyawan dan perhatian atasan terhadap tugas (manajemen 5,5)
manajemen jalan tengah, hal ini akan dapat menciptakan motivasi yang tinggi pada karyawan untuk meningkatkan lagi kinerjanya.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya dari Dwi SETYORINI, 2016, Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah, Surakarta. dalam tesisnya yang berjudul “Kinerja Karyawan Ditinjau dari Gaya Kepemimpinan, Lingkungan Organisasi, Kompensasi dan Kepuasan Kerja sebagai Variabel Moderating” di Bank Konvensional dan Bank Syariah Surakarta. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan. Faktor yang mempengaruhi ditinjau dari gaya kepemimpinan lingkungan organisasi, kompensasi dan kepuasan kerja Sebagai variabel moderating. Populasi dari penelitian ini adalah karyawan di perbankan konvensional dan syariah di Surakarta total sampel penelitian adalah 45 karyawan yang ditentukan dengan convience sampling. Analisis data dilakukan dengan uji asumsi klasik dan pengujian hipotesis dengan metode regresi linear berganda.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi kinerja karyawan yaitu gaya kepemimpinan, lingkungan organisasi, dan kompensasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan, sedangkan kepuasan kerja tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan, serta kepuasan kerja memoderasi hubungan gaya kepemimpinan dan kompensasi terhadap kinerja karyawan, sedangkan kepuasan kerja tidak memoderasi hubungan lingkungan organisasi dengan kinerja karyawan pada perbankan Konvensional dan Syariah. Pada dasarnya karyawan akan senang apabila diberikan perhatian dari pimpinannya dan juga memberikan kepercayaan kepada karyawan, sehingga karyawan akan
termotivasi dalam bekerja. Dengan adanya motivasi ini karyawan akan mandiri dan bertanggung jawab, optimis, kreatif dan berpikir positif dalam menjalankan pekerjaannya.
98 BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian penulis untuk mengetahui apakah motivasi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan tetap dan apakah gaya kepemimpinan memoderasi positif pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan tetap. Setelah dilakukan pengumpulan data melalui kuesioner, dilakukan pengolahan data dengan beberapa uji yang telah ditentukan dengan menggunakan bantuan SPSS 16.0, diperoleh hassil sebagai berikut:
1. Motivasi (X) berpengaruh terhadap kinerja karyawan tetap (Y) di Dinas Perhubungan dan Transportasi.
2. Gaya Kepemimpinan (Z) memoderasi pengaruh motivasi (X) terhadap kinerja karyawan tetap (Y) di Dinas Perhubungan dan Transportasi.
B.Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas dalam penelitian ini, penulis mengajukan saran untuk Dinas Perhubungan dan Transportasi. Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan, variabel yaitu motivasi dan gaya kepemimpinan memiliki peranan yang dalam mempengaruhi kinerja karyawan tetap. Semakin tinggi kepedulian atasan terhadap tugas maupun pribadi-pribadi bawahan maka semakin kuat pengaruh motivasi terhadap kinerja. Berdasarkan hasil kuesioner rata-rata tertinggi dan terendah dalam variabel gaya kepemimpinan adalah atasan langsung mengarahkan dalam bekerja dan menutut efisien kerja (3,48), maka ada baiknya
Dinas Perhubungan dan Transportasi mempertahankan hal tersebut dan melibatkan karyawan dalam penentuan standar kuantitas hasil kerja (3,25). Dengan gaya kepemimpinan yang baik, maka pengaruh motivasi karyawan tetap akan semakin tinggi dan kinerja karyawan tetap akan semakin tinggi. Disarankan oleh penulis pada item pernyataan nomor 1 yang memiliki rata-rata skor yang masih rendah dibandingkan rata-rata skor pernyataan lainnya yaitu (3,32). Saran dari penulis yang harus ditingkatkan adalah melibatkan karyawan dalam penentuan standar kualitas hasil kerja (3,32). Dengan adanya gaya kepemimpinan yang baik maka kinerja karyawan tetap akan semakin tinggi.
Saran lain yang diberikan penulis mengenai peningkatan motivasi terutama pada item pernyataan nomor 7 yang memiliki rata-rata skor yang masih rendah dibandingkan rata-rata skor pernyataan lainnya yaitu (3,00) dari skala 1-5. Saran dari penulis adalah meningkatkan kesejahteraan diluar gaji karyawan agar termotivasi dalam bekerja. Dengan adanya motivasi maka kinerja karyawan tetap akan semakin tinggi. Sedangkan item pernyataan lainnya terkait variabel motivasi, penulis menyarankan untuk tetap dipertahankan karena rata-rata skor per item pernyataan lainnya (selain item pernyataan nomor 7 ) sudah tinggi.
C.Keterbatasan
Dalam penelitian ini, masih ada beberapa kendala yang dialami oleh penulis yaitu dalam menyebarkan kuesioner langsung pada karyawan tetap pada Dinas Perhubungan dan transportasi. Oleh karena itu, instansi membantu penulis dalam menyebarkan kuesioner dengan dibantu oleh orang kepercayaan dari bagian/unit
Kepala Sub Bagian Umum, yaitu Ibu Ratna. Kelemahannya adalah dari data jawaban responden dari kuesioner yang dibagikan kurang bervariasi sehingga kurang sesuai dengan harapan peneliti. Peneliti menduga responden kurang jujur dan bersungguh-sungguh dalam mengisi kuesioner yang telah dibagikan.
101