• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Eksistensi Pasar Tradisional Menghadapi Pasar Modern d

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN EKSISTENSI PASAR TRADISIONAL

5.3 Analisis Eksistensi Pasar Tradisional Menghadapi Pasar

5.3.2 Analisis Eksistensi Pasar Tradisional Menghadapi Pasar Modern d

Surakarta

Eksistensi pasar tradisional di Kota Surakarta mengalami penurunan ketika pasar tradisonal tersebut tidak mampu memberikan keunggulan-keunggulan untuk tetap bertahan sehingga menyebabkan kurangnya konsumen pasar. Pasar tradisional di Kota Surakarta mulai membenahi diri melalui program revitalisasi pasar yang dilakukan oleh pihak Pemerintah Kota belakangan ini. Akan tetapi revitalisasi pasar tradisional ternyata belum cukup untuk menciptakan pasar tradisional yang berdaya saing. Karena pada intinya, eksistensi pasar tradisional itu sendiri pun tidak hanya diukur berdasarkan kondisi bangunan fisik semata. Pasar tradisional di Kota Surakarta masih perlu bangun dari mimpi dan mulai menciptakan pasar tradisional yang berdaya saing, memiliki daya tarik dan menawarkan kelebihan- kelebihannya sebagai sebuah pasar, sehingga dapat tetap eksis meskipun pasar modern menyerang dengan menawarkan keunggulannya.

Eksistensi pasar tradisional di Kota Surakarta dapat didukung dengan memberikan keunggulan-keunggulan yang mampu menciptakan pasar tradisional berdaya saing dan tentunya tetap eksis dalam persaingan pasar. Pasar tradisional tersebut mampu mempetahankan eksistensinya dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Kebijakan atau peraturan yang terlaksana. Pemerintah Kota melalui Perda Kota Surakarta Nomor 01 tahun 2010 sudah menunjukkan maksud dan tujuannya untuk mempertahankan keberadaan pasar tradisional di Kota Surakarta dengan melindungi pasar tradisional dengan sedemikian rupa agar pasar tradisional tidak terkikis oleh keberadaan pasar modern. Namun pada kenyataannya, pengeluaran kebijakan tersebut bukan menjadi solusi utama tanpa adanya pelaksanaan di lapangan. Untuk itu, Pihak Pemerintah sebagai pengelola pasar tradisional seharusnya mengubah cara pandang agar tidak melihat pasar tradisional sebagai sumber pendapatan semata. Pihak Pemerintah harus secara nyata berinvestasi pada perbaikan pasar tradisional dan

UnRegister

commit to user

V-101

menetapkan standar layanan minimum. Ini tentu juga berimplikasi pada penunjukkan orang-orang yang tepat sebagai pengelola dan memberikan kewenangan yang cukup untuk mengambil keputusan sehingga tidak bertindak sekedar sebagai pengumpul retribusi semata. Juga penting untuk meningkatkan kinerja pengelola pasar baik itu melalui pelatihan atau evaluasi berkala. Lebih lanjut, pengelola pasar harus secara konsisten melakukan koordinasi dengan para pedagang untuk mencapai pengelolaan pasar yang lebih baik. Usaha bersama antara Pihak Pemerintah dan sektor swasta juga dapat menjadi solusi terbaik untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional.

2. Dukungan infrastruktur pasar yang lengkap dan berfungsi dengan baik. Pasar tradisional di Kota Surakarta mampu mempertahankan eksistensinya untuk melawan pasar modern dengan menyediakan infrastruktur yang lebih lengkap dan memadai. Tidak hanya semata pada penyediaan infrastruktur berdasarkan kuantitasnya saja, namun lebih kepada pemberian kualitas dari infrastruktur itu sendiri. Pada umumnya di Kota Surakarta, penyediaan infrastruktur pasar tradisional berupa sarana peribadatan, sarana keamanan, dan sarana kebersihan dan prasarana berupa masjid, mushola, MCK, tempat pembuangan sampah, pos keamanan, hydrant, APAR, jaringan drainase, jaringan air bersih, jaringan komunikasi, dan jaringan listrik sudah tersedia di pasar tradisional. Tetapi penyediaan infrastruktur saja tidak cukup karena dapat dilihat bahwa pasar modern di Kota Surakarta memberikan keunggulan berupa kualitas infrastruktur yang baik. Untuk itu, agar pasar tradisional tetap eksis, pasar tradisional harus memberikan keunggulan pada infrastrukturnya melalui perbaikan kualitas dan pengawasan secara rutin terhadap setiap infrastruktur pasar yang ada untuk memastikan berfungsi baik dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Surakarta selaku konsumen pasar.

3. Kondisi fisik dan non fisik yang memadai. Pasar tradisional di Kota Surakarta dengan kondisi fisik dan non fisik yang belakangan ini terkesan tidak memberikan kenyamanan dapat menjadi hal negative bagi pasar tradisional dalam mempertahankan eksistensinya. Pasar modern yang semakin marak dalam menciptakan kondisi fisik dan non fisik yang memadai sebaiknya menjadi cambuk yang digunakan pasar tradisional untuk mulai membenahi kondisi fisik dan non fisik nya. Bangunan pasar tradisional yang hanya mengalami revitalisasi bagian fisik tanpa revitalisasi bagian non fisik, lahan parkir pasar yang pada umumnya sudah memenuhi namun belum tertata dan terjaga dengan baik, pedestrian yang dialih fungsikan menjadi lahan parkir illegal

yang semakin menambah kesemrawutan pasar, vegetasi yang masih belum efektif untuk mendukung keberlangsungan pasar, dan kenyamanan yang belum terjaga

UnRegister

commit to user

V-102

melalui tindakan kriminal berupa pencopetan dan kondisi pasar yang terkesan kumuh dan gelap masih membayang-bayangi masyarakat Kota Surakarta selaku konsumen pasar untuk mengunjungi pasar tradisional. Dengan kondisi fisik dan non fisik yang kurang memadai tersebut, pasar modern pun menawarkan kondisi fisik dan non fisik yang lebih memadai dan menarik perhatian konsumen. Untuk itu, pasar tradisional harus mampu menjadi penyeimbang dari pasar modern dengan merevitalisasi bagian non fisik mulai dari pedagang dan pengelola pasar tradisional itu sendiri, penataan terhadap lahan parkir melalui pengawasan dan penjagaan yang rutin, pengembalian fungsi pedestrian sebagai jalur untuk para pejalan kaki sehingga mendukung pasar tradisional dalam menciptakan kenyamanan bagi konsumen pasar dan menghindari kesemrawutan, vegetasi yang tepat di pasar tradisional melalui pemilihan vegetasi dan penempatannya sehingga vegetasi di pasar tradisional berfungsi dengan baik sebagai pemberi nilai estetika dan penghilang bau tidak enak, serta peningkatan kenyamanan dalam ukuran yang berbeda bagi setiap individu dengan pemaksimalan kinerja aparat keamanan dan senantiasa menjaga kebersihan.

4. Manajemen dan pengelolaan pasar yang baik. Untuk mampu tetap eksis di tengah hempasan pasar modern, pasar tradisional harus diatur dan dikelola sedemikian rupa, terarah dan terstruktur serta tidak terpusat pada perolehan pendapatan daerah saja. Pihak Pemerintah Kota sebagai pemilik dari pasar tradisional memiliki kewenangan penuh dalam mengatur dan mengelola keberadaan pasar tradisional. Diatas kewenangan penuh dari pihak Pemerintah Kota, tidak bisa dilupakan bahwa pihak Pemerintah Kota memiliki tanggungjawab untuk menciptakan pasar tradisional yang mampu bertahan dengan serangan manajemen dan pengelolaan pasar modern yang sangat baik. Pasar tradisional harus disiapkan melalui :

a. Kelembagaan yang baik dalam mengelola dan mengatur keberlangsungan pasar tradisional, dalam hal ini melalui pemilihan sumber daya manusia (SDM) yang tepat dan mampu memahami tugas dan fungsinya dalam memciptakan pasar tradisional yang terarah dan terstruktur.

b. Penyediaan alat produksi yang membantu para pedagang di pasar tradisional baik melalui penyediaan alat maupun peminjaman dan serta pemasaran.

c. Pembangunan dan perawatan yang berkelanjutan bagi pasar tradisional. Pembangunan dan perawatan tersebut bukan dilakukan pada saat mengalami kerusakan berat saja, namun lebih kepada kebutuhan dari pasar tradisional itu sendiri untuk dirawat dan dilakukan perbaikan pada bagian yang rusak.

UnRegister

commit to user

V-103

d. Biaya manajemen dan pengelolaan yang sebaiknya tidak memberatkan pedagang saja, namun pihak pemerintah selaku pihak yang berwenang atas keberlangsungan pasar tradisional harus memberikan solusi terhadap biaya yang dibutuhkan untuk merawat dan membangun pasar tradisional di Kota Surakarta

5. Komoditas dagangan yang dikemas dan disajikan dengan menarik dan hygienis. Pada umumnya penyediaan komoditas dagangan di pasar tradisional sudah lebih lengkap baik itu berupa barang konsumsi maupun barang produksi. Hal itulah yang menjadi point utama dari pasar tradisional untuk tetap eksis di tengah kehadiran pasar modern. Pasar tradisional yang menyediakan barang konsumsi yang disajikan secara alami dan dengan harga yang murah menjadi keunggulan yang seharusnya digunakan untuk menjadi penyeimbang akan keberadaan pasar modern yang komoditas dagangannya sudah tidak disajikan secara alami dan dengan harga yang relatif lebih mahal. Untuk tetap eksis, pasar tradisional harus mulai menggunakan keunggulan pada komoditas dagangan sebagai alat untuk berdaya saing dengan mulai membenahi penyajiannya yang terkesan tidak hygienis menjadi hygienis serta komoditas dagangan tersebut ditata dengan lebih rapi. Pada pasar modern sudah lama dikenal istilah zoningisasi terhadap komoditas dagangan. Dan belakangan ini pasar tradisional sudah mulai mampu bersaing dengan penetapan zonifikasi di dalam pasar tradisional sehingga konsumen lebih dimudahkan dalam membeli komoditas daganngan dan pasar tradisional lebih rapi dan tidak semrawut. Hal-hal demikianlah yang pada akhirnya membutuhkan dukungan dari pihak pemerintah agar tidak lekas pudar dan kembali kepada pasar tradisional yang kumuh. Namun pasar tradisional harus disiapkan lebih keras lagi menjadi pasar tradisional yang memiliki komoditas dagangan yang lengkap dan segar dengan dukungan zoningisasi.

6. Dukungan permodalan yang besar. Dukungan permodalan bagi pasar tradisional yang kecil menjadi faktor penyebab pasar tradisional kurang berdaya saing dengan pasar modern. Pasar modern dengan modal yang besar tentunya akan lebih mudah dalam menyediakan infrastruktur, kondisi fisik dan non fisik serta komoditas yang baik. Dengan modal yang besar, pasar modern juga mampu memberikan manajemen dan pengelolaan yang maksimal terhadap keberadaan pasar modern. Dengan menyadari kondisi ini, pasar tradisional di Kota Surakarta, harus mulai mengalokasikan dana yang lebih besar untuk memberikan dukungan permodalan terhadap pasar tradisional. Sehingga pasar tradisional dengan dukungan permodalan yang memadai menjadi berdaya saing dan penyeimbang bagi keberadaan pasar modern. Dukungan permodalan terhadap pasar tradisional oleh pihak Pemerintah Kota dan pedagang

UnRegister

commit to user

V-104

pasar tradisional, akan mampu menyediakan infrastruktur yang memadai, kemudahan dalam menciptakan kondisi fisik dan non fisik yang baik serta komoditas dagangan yang lengkap dan disajikan dengan baik. Dan dengan dukungan permodalan yang lebih besar, pasar tradisional akan mampu memanajemen dan mengelola pasar tardisional menjadi pasar yang berdaya saing dan mampu tetap eksis di tengah kehadiran pasar modern dengan segala penawaran yang dilakukan.

7. Konsumen pasar yang menyasar setiap golongan masyarakat. Konsumen pasar tradisional yang cenderung hanyalah masyarakat dari lapisan ekonomi menengah ke bawah menjadi hal yang menjadi hal yang sangat tragis dalam jangka waktu belakangan ini. Kebanyakan dari konsumen tersebut hanyalah masyarakat yang dibatasi oleh kemampuan keuangan mereka. Dapat disimpulkan bahwa apabila keuangan mereka meningkat, mereka pun akan sama dengan masyarakat lainnya yang lebih memilih untuk berbelanja di pasar modern. Untuk mengatasi hal ini pasar tradisional perlu pembenahan diri untuk menunjukkan eksistensinya bahwa masayarakat selaku konsumen mengunjungi pasar tradisional bukan hanya karena keterbatasan mereka saja namun karena keinginan dan kebutuhan mereka sendiri. Harga yang relatif murah dan pasar tradisional yang cenderung dapat dijangkau dengan waktu lebih sedikit disbanding pasar modern menjadi kelebihan dari pasar tradisional yang seharusnya mampu menarik minat masyarakat banyak. Pasar modern yang menawarkan kesenangan bagi konsumen pasar, harus diimbangi oleh pasar tradisional dengan memberikan kepuasan yang sama dalam bentuk yang berbeda bagi masyarakat Kota Surakarta selaku konsumen pasar, agar pasar tradisional mampu mempertahankan eksistensinya menghadapi pasar modern di Kota Surakarta.

8. Waktu operasional yang tertentu dan lebih panjang. Pasar tradisional memiliki waktu operasional yang jauh berbeda dengan pasar modern meskipun waktu operasional itu sama-sama dengan karakteristik waktu operasional tertentu. Namun waktu operasional pasar modern yang lebih banyak atau lebih lama menjadi ruang bagi pasar modern untuk menarik konsumen dalam jumlah yang lebih banyak. Pekerjaan dan perubahan gaya hidup (lifestyle) dari masyarakat yang pada akhirnya menjadi penentu bagi masyarakat Kota Surakarta selaku konsumen pasar dalam menentukan pilihan untuk mengunjungi pasar yang mereka inginkan menyesuaikan dengan waktu operasional dari pasar itu sendiri. Lamanya pasar beroperasional harus diimbangi oleh pasar tradisional melalui pengefektifan waktu operasional. Pada umumnya, ada beberapa dari pasar tradisional itu sendiri yang beroperasional 24 jam, namun itu belum dapat menjadi penyeimbang bagi pasar modern. Yang diperlukan adalah penataan dan

UnRegister

commit to user

V-105

pembatasan bagi waktu operasional pasar modern, agar lebih tertata dan tidak mematikan keberadaan pasar tradisional. Sehingga dengan demikian, pasar tradisional mampu tetap eksis di tengah kehadiran pasar modern dengan segala kelebihannya. 9. Jangkauan pelayanan yang luas. Jangkaun pelayanan yang luas bukan semata hanya

pada skala atau tingkat dari pelayanan pasar itu sendiri baik itu jangkauan pelayanan lokal maupun jangkauan pelayanan regional. Pasar tradisional di Kota Surakarta pada umumnya sudah menjangkau masyarakat baik itu pembeli maupun pedagang dari wilayah Kota Surakarta dan wilayah di sekitarnya. Selain itu, pasar tradisional juga sudah menyediakan kebutuhan masyarakat baik berupa kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder dengan dilengkapi oleh kemudahan akses. Dengang kondisi yang sudah demikian, pasar tradisional eksis di tengah kehadiran pasar modern. Namun eksistensi tersebut harus dipertahankan dan ditingkatkan seiring dengan penawaran yang diberikan oleh pasar modern. Pasar tradisional harus tetap menjaga eksistensinya melalui tingkat pelayanan, ketersediaan kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder serta kemudahan akses. Supaya pasar tradisional tetpa menjadi pilihan bagi masyarakat yang masih menghargai keberadaannya di dalam sebuah kota.

Keberadaan pasar modern di Kota Surakarta mempengaruhi keberadaan pasar tradisional yang semakin lama semakin terhimpit. Meskipun pada hakikatnya pasar modern dan pasar tradisional mempunyai kelebihan masing-masing dimana segmentasi pasar yang berbeda satu sama lainnya namun tetap saja keberadaan pasar modern membuat pasar tradisional semakin terhimpit. Di pasar tradisional masih terjadi proses tawar-menawar harga yang memungkinkan terjadinya kedekatan personal dan emosional antar penjual dan pembeli yang tidak mungkin didapatkan ketika berbelanjanya di pasar modern, dikarenakan harga di pasar modern sudah pasti dan ditetapkan dengan lebel harga.

Ketidakberdayaan pasar tradisional di Kota Surakarta dikarenakan keterbatasan modal, rantai distibusi barang yang terlampau panjang, kondisi fisik dan non fisik pasar tradisional yang tidak nyaman, dan kualitas barang dagangan yang ada di pasar tradisional tidak lebih baik dari pasar modern. Hal itulah yang pada akhirnya menyatu dan menjadi fenomena atas keberadaan pasar tradisional menghadapi pasar modern. Kehadiran pasar modern itu pada akhirnya telah mengancam eksistensi pasar tradisional. Seperti yang diungkap oleh AC Nielson dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa pasar modern telah tumbuh sebesar 31,4%. Bersamaan dengan itu, pasar tradisional telah tumbuh secara negatif sebesar 8%. Berdasarkan kenyataan ini maka pasar tradisional akan habis dalam kurun waktu sekitar 12 tahun yang akan datang, sehingga perlu adanya langkah preventif untuk menjaga kelangsungan pasar tradisional.

UnRegister

commit to user

V-106

Dokumen terkait