• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN EKSISTENSI PASAR TRADISIONAL

5.3 Analisis Eksistensi Pasar Tradisional Menghadapi Pasar

5.3.1 Analisis Sub Variabel

Analisis sub variabel merupakan analisis yang mebahas secara jelas mengenai 9 (Sembilan) komponen eksistensi yang akhirnya digunakan menjadi sub variabel dalam penelitian “Eksistensi Pasar Tradisional Menghadapi Pasar Modern di Kota Surakarta”. Analisis sub variabel ini pun terdiri atas analaisis kebijakan, analisis infrastruktur, analisis kondisi fisik dan non fisik, analisis manajemen dan pengelolaan pasar, analisis komoditas dagangan, analisis permodalan, analisis karakteristik perilaku konsumen, analisis jangkauan pelayanan, serta analisis waktu operasional yang dijabarkan sebagai berikut :

5.3.1.1. Analisis Kebijakan

Daya dukung peraturan atau yang lazim disebut dengan kebijakan dimaksudkan untuk memberikan batasan dalam mengelola dan memberikan perlindungan terhadap pasar. Daya dukung peraturan atau kebijakan ini untuk memberikan hubungan “saling” antara pasar modern dengan pasar tradisional yaitu saling membutuhkan, berkembang serasi, dan simbiosis mutualisme, memberikan pedoman bagi penyelenggaraan pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan pasar modern, memberikan norma keadilan, saling menguntungkan dan tanpa tekanan dalam hubungan antara pemasok barang dengan pasar modern, serta bagaimana pengembangan kemitraan dengan Usaha Kecil, sehingga tercipta tertib persaingan dan keseimbangan kepentingan produsen, pemasok, pasar modern dan konsumen.

1. Kebijakan tentang Perlindungan terhadap Pasar Tradisional

Pasar Tradisional dengan mengupayakan sumber-sumber alternatif pendanaan untuk pemberdayaan, meningkatkan kompetensi pedagang dan pengelola, memprioritaskan kesempatan memperoleh tempat usaha bagi pedagang pasar tradisional yang telah ada sebelum dilakukan renovasi atau relokasi, serta mengevaluasi pengelolaan (PP No.112 tahun 2007 dan PermenDag No. 53/MDAG/PER/12/2008). Perlindungan pasar merupakan upaya terpadu guna membangun daya tahan pasar yang berkelanjutan dan mampu memberdayakan pasar sebagai ruang kegiatan ekonomi dalam mencapai kesejahteraan masyarakat. Perlindungan pasar meliputi peningkatan kualitas bangunan; penataan atau pengelompokan

UnRegister

commit to user

V-83

pedagang; memberikan kesempatan yang sama pada pedagang untuk memanfaatkan pasar; meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian pedagang; memberikan kemudahan kepada pedagang dalam hal perizinan, tertib administrasi, perlindungan standarisasi pelayanan; memberikan kenyamanan dan keamanan pasar; memberikan kepastian hukum terhadap pelanggaran (Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 1 tahun 2010). Pasar tradisional di Kota Surakarta dilindungi dengan membangun daya tahan pasar yang berkelanjutan dan memberdayakan pasar sebagai ruang kegiatan ekonomi dalam mencapai kesejahteraan masyarakat yaitu melalui pengaturan terhadap retribusi, pengaturan terhadap zoning dagangan, pengaturan terhadap kenyamanan dan keamanan pasar serta penyediaan sarana dan prasarana (infrastruktur) pasar.

Dari hasil wawancara melalui kuisioner dilihat bahwa masih kurangnya sosialisasi terhadap kebijakan itu sendiri oleh Pihak Pemerintah Kota Surakarta. Di lapangan ditemukan pelaksanaan dari regulasi/kebijakan tersebut, namun karena pengelola,pedagang dan pembeli kurang memahami tentang regulasi/kebijakan tersebut, maka pelaksanaannya sendiri kurang mendapat apresiasi dari pihak pedagang dan pembeli.

Tabel 5.3

Sub Variabel Regulasi Pasar Tradisional

No. REGULASI

Sosialisasi Responden

1 Mengetahui peraturan tersebut 16

2 Tidak mengetahui peraturan tersebut 46

3 Pernah mendengar tetapi tidak tahu 2

Jumlah Responden 64

Sumber : Hasil Analisis, 2012

Gambar 5.3

Sub Variabel Regulasi Pasar Tradisional

Sumber : Hasil Analisis, 2012

2. Kebijakan tentang Pengaturan Pasar Modern

Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern dengan memberdayakan pusat perbelanjaan dan toko modern dalam membina pasar tradisional, serta mengawasi pelaksanaan kemitraan (PP No.112 tahun 2007 dan PermenDag No. 53/MDAG/PER/12/2008). Penyelenggaraan dan pendirian Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut :

UnRegister

commit to user

V-84

memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan keberadaan pelaku UMKM, Koperasi dan Pasar Tradisional yang ada di wilayah yang bersangkutan; memperhatikan jarak Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern dengan pasar tradisional, sehingga tidak mematikan atau memarjinalkan pelaku ekonomi di pasar tradisional; menyediakan fasilitas yang menjamin Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern yang bersih, sehat, hygienis, aman, tertib dan ruang public yang nyaman; menyediakan fasilitas tempat usaha bagi UMKM dan Koperasi pada posisi yang sama-sama menguntungkan; menyediakan fasilitas ibadah bagi karyawan dan konsumen kecuali dalam bentuk minimarket; menyediakan fasilitas parkir kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor yang memadai di dalam area bangunan dengan luasan untuk satu unit kendaraan roda empat untuk setiap 60 m2 (enam puluh meter persegi) luas lantai Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern serta menyediakan sarana pemadam kebakaran dan jalur keselamatan bagi petugas maupun pengguna Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern (Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 5 tahun 2011). Pasar Modern di Kota Surakarta diatur sedemikian rupa keberadaannya dengan upaya untuk menyeimbangkan diri dengan keberadaan pasar tradisional di Kota Surakarta.

Tabel 5.4

Kebijakan Pasar di Kota Surakarta menurut Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 1 tahun 2010 dan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 1 tahun 2010

Pasar Tradisional Pasar Modern

Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 1 tahun 2010

Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 5 tahun 2011

Pelaksanaan

Peningkatan kualitas bangunan Tidak terlaksana sepenuhnya

Memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan keberadaan pelaku UMKM, Koperasi dan Pasar Tradisional yang ada di wilayah yang bersangkutan

Tidak terlaksana sepenuhnya Penataan atau pengelompokan

pedagang

Terlaksana Memperhatikan jarak Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern dengan pasar tradisional, sehingga tidak mematikan atau memarjinalkan pelaku ekonomi di pasar tradisional

Tidak terlaksana sepenuhnya

Memberikan kesempatan yang sama pada pedagang untuk memanfaatkan pasar

Tidak terlaksana sepenuhnya

Menyediakan fasilitas yang menjamin Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern yang bersih, sehat, hygienis, aman, tertib dan ruang public yang nyaman

Terlaksana

Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian pedagang

Tidak terlaksana sepenuhnya

Menyediakan fasilitas tempat usaha bagi UMKM dan Koperasi pada posisi yang sama-sama menguntungkan

Tidak terlaksana sepenuhnya Memberikan kemudahan kepada

pedagang dalam hal perizinan, tertib administrasi, perlindungan standarisasi pelayanan

Terlaksana Menyediakan fasilitas ibadah bagi karyawan dan konsumen kecuali dalam bentuk minimarket

Terlaksana

Memberikan kenyamanan dan keamanan pasar

Terlaksana Menyediakan fasilitas parkir kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor yang memadai di dalam area bangunan

Tidak terlaksana

Memberikan kepastian hukum terhadap pelanggaran

Terlaksana Menyediakan sarana pemadam kebakaran dan jalur keselamatan bagi petugas maupun pengguna Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern

Terlaksana

Sumber : Hasil Analisis, 2012

Beberapa kebijakan Pemerintah telah dikeluarkan untuk menata pengelolaan perpasaran, baik pasar modern maupun pasar tradisional. Implementasi kebijakan ini menuntut komitmen lebih besar agar dapat dilaksanakan secara konsisten. Kebijakan mengenai perlindungan terhadap pasar tradisional dan penataan terhadap pasar modern di Kota Surakarta masih harus lebih dievaluasi lagi agar keberadaan pasar modern di Kota Surakarta menjadi penyeimbang terhadap pasar tradisional. Perlu diciptakan pasar tradisional

UnRegister

commit to user

V-85

yang mampu berdaya saing dengan keberadaan pasar modern. Keberadaan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern atau yang disebut dengan pasar modern merupakan perwujudan hak masyarakat dalam berusaha di sektor perdagangan yang perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan usahanya guna meningkatkan perekonomian daerah terutama di Kota Surakarta. Tetapi, hal tersebut juga harus tetap memperhatikan bagaimana pasar tradisional agar mampu mempertahankan eksistensinya di Kota Surakarta. Karena semakin pasar modern di Kota Surakarta tidak ditata dan diberikan kebijakan atau pengaturan yang tegas, hal itu dapat melemahkan kemampuan pasar tradisional untuk menunjukkan keberadaannya di tengah jaman yang semakin maju dan tingkat konsumerisme tinggi di Kota Surakarta.

5.3.1.2. Analisis Infrastruktur (Sarana dan Prasarana)

Infrastruktur merujuk pada sistem fisik yang menyediakan transportasi, pengairan, drainase, bangunan-bangunan gedung dan fasilitas publik yang lain yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi (Kodoatie,2003:9). Penyelenggaraan infrastruktur (sarana dan prasarana) diarahkan sesuia dengan fungsinya masing-masing, serta ketidakseimbangan dalam penyediaan terhadap kebutuhan yang ada akan menimbulkan ketidakefektifan dan kurang efisiensi dalam pemanfaatan sarana dan prasarana yang ada.

Kebutuhan sarana dan prasarana yang penting dalam sarana perdagangan (SNI 03- 1733-2004) adalah :

1. Sarana berupa pos keamanan, pemadam kebakaran, sarana ibadah dan sarana kebersihan.

2. Prasarana berupa jaringan air bersih, jaringan air kotor, jaringan komunikasi dan jaringan listrik.

Dalam penelitian ini, pasar tradisional di Surakarta pada pemenuhan kuantitasnya sudah termasuk kedalam kategori pasar tradisional yang lengkap, namun saja kualitas dari penyediaan sarana dan prasarana itu sendiri sudah perlu diperbaiki. Berikut ini dapat dijelaskan hasil wawancara melalui kuisioner terhadap pedagang di pasar tradisional di Kota Surakarta :

Tabel 5.5

Sub Variabel Infrastruktur Pasar Tradisional

No. INFRASTRUKTUR

Kondisi Responden

1 Tidak perlu 8

2 Perlu perbaikan kualitas 55

3 Perlu penambahan kuantitas dan perbaikan kualitas 1

Jumlah Responden 64

Sumber : Hasil Analisis, 2012

UnRegister

commit to user

V-86

Gambar 5.4

Sub Variabel Infrastruktur Pasar Tradisional

Sumber : Hasil Analisis, 2012

Sedangkan untuk Pasar Modern, penyediaan infrastruktur pasar modern sudah sangat baik dan sesuai dengan kebutuhan dari konsumen pasar modern. Infrastruktur yang disediakan di pasar modern lebih baik dibandingkan dengan penyediaan infrastruktur di pasar tradisional. Berdasarkan kondisi infrastruktur (sarana dan prasarana) di Pasar Tradisional dan Pasar Modern di Kota Surakarta, jika dilihat berdasarkan ketentuan yang berlaku dalam (SNI 03-1733-2004) tentang Kebutuhan Sarana dan Prasarana dalam Sarana Perdagangan, adalah sebagai berikut :

Tabel 5.6

Tingkat Kesesuaian Sarana dan Prasarana Pasar Tradisional dan Pasar Modern di Kota Surakarta

No. Jenis Sarana dan Prasarana

Pasar Tradisional Pasar Modern Kondisi Sarana dan

Prasarana

Tingkat Kesesuaian

Kondisi Sarana dan Prasarana

Tingkat Kesesuaian SARANA

1. Sarana peribadatan · Mushola

· Masjid

Memenuhi · Mushola Memenuhi

2. Sarana kebersihan · MCK · Tempat sampah · Bin sampah · Container Tidak memenuhi · MCK · Tempat sampah · Bin sampah · Container Memenuhi

3. Sarana Keamanan · Hydrant atau APAR

· Pos Keamanan

Memenuhi · Hydrant atau APAR

· Pos Keamanan

Memenuhi

PRASARANA

1. Jaringan air bersih Memenuhi 1. Jaringan air bersih Memenuhi 2. Jaringan air kotor

(drainase)

Tidak memenuhi 2. Jaringan air kotor Memenuhi 3. Jaringan komunikasi Tidak memenuhi 3. Jaringan komunikasi Memenuhi 4. Jaringan listrik Memenuhi 4. Jaringan listrik Memenuhi

Sumber : Hasil Analisis, 2012

Kondisi sarana dan prasarana dengan kategori memenuhi dimaksudkan bagi sarana dan prasarana yang penyediaannya sudah tersedia lengkap di pasar modern dan pasar tradisional di Kota Surakarta. Sedangkan untuk kategori tidak memenuhi adalah keberadaan sarana dan prasarana pasar yang kondisinya sudah tidak berfungsi baik.

Kondisi sarana dan prasarana di pasar tradisional di Kota Surakarta pada umumnya sudah baik penyediaannya, namun saja sarana dan prasarana tersebut perlu peningkatan kualiatas hampir di seluruh sarana dan prasarananya. Sarana peribadatan dan sarana

UnRegister

commit to user

V-87

keamanan di pasar tradisional di Kota Surakarta, kesesuaiannya sudah memenuhi karena masih dapat dimanfaatkan dan difungsikan. Namun berbeda halnya dengan sarana kebersihan di pasar tradisional, kesesuaiannya masih tidak memenuhi, karena masih ada pasar tradisional yang penyediaan tempat sampah dan container yang tidak tersedia dengan baik. Sedangkan untuk prasarana pasar tradisional, jaringan drainase dan jaringan komunikasi tidak memnuhi disebabkan jaringan drainase di pasar tradisional yang sudah tersumbat dan tidak diperbaiki serta telepon dan pusat informasi yang tidak tersedia.

Berbeda halnya dengan kondisi sarana dan prasarana di pasar modern yang tingkat kesesuaiannya sudah memenuhi mulai dari sarana dan prasarananya. Hal ini membuktikan bahwa pasar modern di Kota Surakarta sudah memiliki kesiapan dalam memberikan pelayanan maksimal terhadap konsumen dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki yang menjadikannya sebagai daya tarik tersendiri bagi pengguna pasar di Kota Surakarta.

Menurut konsep gravitasi bahwa sarana prasarana yang berbeda pada suatu lokasi akan menumbuhkan daya tarik bagi lokasi lain (Tarigan, 2005:104). Kondisi sarana prasarana yang tersedia di pasar modern di Kota Surakarta, seluruhnya mampu menjadi daya tarik bagi para pengguna pasar. Sebagian besar bentuk prasarana yang ada, mampu memenuhi kebutuhan untuk aktivitas yang ada di dalamnya.

5.3.1.3. Analisis Kondisi Fisik dan Non-Fisik

Kondisi fisik adalah hal-hal yang menyangkut keberadaan pasar secara fisik menyangkut bangunan pasar, lahan parkir, bongkar muat dan pedestrian sedangkan kondisi non fisik adalah hal-hal yang menyangkut keberadaan pasar secara non-fisik menyangkut aksesibitas, sirkulasi, tingkat kenyamanan dan vegetasi. Berikut ini merupakan tabel pengadaan kondisi fisik dan non-fisik pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta :

Tabel 5.7

Pengadaan Kondisi Fisik dan Non Fisik Pasar di Kota Surakarta

No. Kondisi Fisik dan Non Fisik

Pasar

Pasar di Kota Surakarta

Pasar Tradisional Pasar Modern Kondisi Eksisting Tingkat

Kesesuaian

Kondisi Eksisting Tingkat Kesesuaian

KONDISI FISIK

1. Bangunan Pasar Bangunan sudah tergolong pada bangunan yang baik (hanya sebagian yang bangunan tua seperti Pasar Legi) karena sudah dilakukan renovasi terhadap pasar, namun saja masih banyak aktivitas pasar yang dilakukan diluar bangunan pasar sehingga menyebabkan pasar kurang tertata dan memiliki kesan kekumuhan

Tidak memenuhi Bangunan dalam kondisi baik, memadai dan mampu menampung aktivitas yang ada di dalam pasar.

Memenuhi

2. Lahan Parkir Lahan parkir menggunakan lahan parkir milik pasar, lahan parkir menggunakan halaman masyarakat dan lahan parkir menggunakan badan jalan.

Tidak memenuhi Ditata ke dalam parkir off street dalam bangunan namun ada juga yang on street tetapi sudah tertata dan dijaga.

Memenuhi

3. Bongkar Muat Bongkar muat pada waktu dan tempat yang sudah ditentukan dan tidak mengganggu aktivitas lainnya. Hanya pada siang hari, bongkar muat yang dilakukan masih sedikit menimbulkan kesemrawutan.

Memenuhi Bongkar muat pada waktu dan tempat yang sudah ditentukan dan tidak mengganggu aktivitas lainnya.

Memenuhi

4. Pedestrian Memadai namun tidak digunakan sesuai Tidak memenuhi Baik dan memadai dan Memenuhi

UnRegister

commit to user

V-88 No. Kondisi Fisik

dan Non Fisik Pasar

Pasar di Kota Surakarta

Pasar Tradisional Pasar Modern Kondisi Eksisting Tingkat

Kesesuaian

Kondisi Eksisting Tingkat Kesesuaian

dengan fungsinya, karena kebanyakan dimanfaatkan sebagai lahan parkir.

dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya.

KONDISI NON FISIK

1. Sirkulasi Sirkulasi tinggi dimana pasar tradisional berada pada jalan arteri sekunder dal jalan lokal dengan 2 arah.

Memenuhi Sirkulasi tinggi dimana pasar modern berada pada jalan arteri.

Memenuhi

2. Aksesibilitas Terjangkau Memenuhi Terjangkau Memenuhi

3. Kenyamanan Masih terjadi tindakan kriminal berupa pencopetan, kebersihan yang kurang terjaga yang kental dengan kesan kumuhnya dan penyajian dagangan yang kurang menarik.

Tidak memenuhi Didukung oleh AC dan kebersihan yang sudah terjaga.

Memenuhi

4. Vegetasi Memadai dan tercover dalam bentuk potisasi, pepohonan, tanaman semak atau perdu.

Memenuhi Memadai berupa potisasi, taman dan pepohonan.

Memenuhi

Sumber : Hasil Analisis, 2012

Kondisi fisik dan non fisik pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta berbeda tingkat kesesuaiannya. Semakin memenuhi tingkat kesesuaian pasar terhadap kondisi fisik dan non fisik menjadi daya tarik terhadap pasar tersebut. Kondisi fisik dan non fisik pasar modern yang memenuhi dari aspek bangunan, lahan parkir, bongkar muat, pedestrian, sirkulasi, aksesibilitas, tingkat kenyaman dan vegetasi memberikan nilai tambah terhadap pasar modern. Bangunan pasar tradisional yang direnovasi menjadi bangunan bertingkat bukan menjadi solusi tepat disaat dimana justru bangunan bertingkat tersebut memberikan kesulitan tersendiri terhadap pedagang dan konsumen pasar yang berkunjung. Struktur bangunan bertingkat tidak hanya merugikan para pedagang yang menempati lantai atas, melainkan juga para pedagang di lantai bawah. Para pedagang yang berada di lantai bawah yang harus dihubungkan dengan anak tangga ke bawah mengeluhkan keadaan pengap, bau akibat minimnya sirkulasi udara dalam ruangan. Sistem ventilasi di lantai bawah tidak dapat mengatur sirkulasi udara dengan leluasa karena letaknya. Pembeli tidak akan nyaman berlama-lama di lantai bawah karena terasa panas dan lembab ditambah bau yang kurang sedap itu. Situasi ini semakin tidak nyaman lagi dengan banyaknya sampah di sana-sini.

Terlihat bahwa Pihak Pemerintah hanya mengutamakan pragmatisme dan efisiensi dalam bidang perpasaran dengan cara mengembangkan bangunan pasar tradisional yang bertingkat. Seharusnya, renovasi pasar tradisional bertingkat tidak hanya didasarkan semata pada kedua pertimbangan tersebut, tapi juga mempertimbangkan kenyamanan berbelanja dan berdagang serta didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Oleh karena itu, perlu ada inovasi desain pasar yang lebih baik. Penataan tangga penghubung yang pendek, nyaman, dan praktis, tersedianya ventilasi udara yang cukup, tempat sampah dan air bersih yang memadai, serta sistem penataan jenis dagangan menurut tingkatan lantai pasar akan menciptakan kenyamanan dan keamanan berdagang dan berbelanja. Potensi ini hanya dapat tercapai bila ada kerja sama erat dan terus-menerus antara Pihak Pemerintah, pengelola pasar,

UnRegister

commit to user

V-89

pedagang, investor, dan juga pelanggan. Demikian juga dengan lahan parkir di pasar tradisional yang harus mengalami perluasan sehingga tidak menggunakan parkir yang pada akhirnya menimbulkan kesemrawutan.

5.3.1.4. Analisis Manajemen dan Pengelolaan Pasar

Manajemen dan pengelolaan pasar yang baik merupakan upaya yang dilakukan pemerintah untuk membantu kapasitas produksi dan pemasaran serta peningkatan kemampuan masyarakat dengan memanfaatkan potensi yang dimilikinya dengan mandiri dan terakomodasi dalam pertumbuhan pasar. Dalam manajemen dan pengelolaan pasar, pemerintah mempunyai kewajiban untuk memberikan fasilitas, perlindungan, pembinaan dan pelayanan dalam pengelolaan pasar melalui pembaharuan sikap dan mentalitas dalam pengelolaan pasar yang mencakup pembinaan, pengelolaan seperti perencanaan, arah kebijakan, pengembangan, manajemen, keuangan dan penyerasian. Demikian pula pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta memerlukan manajemen dan pengelolaan pasar sehingga keberadaan pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta terbina. Terkelola dan terencana dengan baik. Berikiut ini merupakan tabel tingkat kesesuaian manajemen dan pengelolaan pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta berdasarkan ketentuan yang tertuang di dalam Peraturan Presiden No.112 tahun 2007 dan Peraturan Daerah Kota Surakarta terkait perlindungan terhadap pasar tradisional dan penataan terhadap pasar modern :

Tabel 5.8

Sistem Manajemen dan Pengelolaan Pasar Tradisional dan Pasar Modern di Kota Surakarta

PASAR DI KOTA SURAKARTA No. INDIKATOR

SUB VARIABEL

PASAR TRADISIONAL PASAR MODERN

Peraturan Presiden No.112 tahun 2007 dan Peraturan Daerah

Kota Surakarta Nomor 1 tahun 2010 Pelaksanaan Tingkat Kesesuaian Peraturan Presiden No.112 tahun 2007 dan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 5 tahun 2011 Pelaksanaan Tingkat Kesesuaian 1. Kelembagaan · Penyelenggaraan, pengelolaan dan perlindungan pasar yang dimiliki, dikuasai dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dilaksanakan oleh Dinas.

· Pengelolaan pasar adalah upaya terpadu yang dilakukan untuk menata dan membina keberadaan pasar yang meliputi kebijakan perencanaan, perizinan, penataan, pemanfaatan,pengembang an, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, pembinaan dan evaluasi serta penegakan hukum

Pada umumnya (98%) melibatkan kerjasama antara Pihak Pemerintah Kota melalui Dinas Pasar berkoordinasi dengan pedagang pasar tradisional itu sendiri

Memenuhi · Penyelenggaraan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern (Pasar Modern) menjadi tanggungjawab pengusaha dengan pengawasan dari Pihak Pemerintah Daerah. · Pembinaan dan Pengawasan terhadap kegiatan penyelenggaraan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern (Pasar Modern) dilakukan oleh Pemerintah dan

Pihak Swasta atau investor atau pemilik dari pasar modern itu sendiri. Memenuhi 2. Alat produksi dan pemasaran · Pihak Pemerintah (45%) · Pedagang sendiri (49%) · Keterlibatan Pihak Pemerintah dan pedagang (6%) Tidak memenuhi

Pihak Swasta atau investor atau pemilik dari pasar modern itu sendiri. Memenuhi 3. Pembangunan dan perawatan pasar

Pihak Pemerintah Kota Surakarta (86%)

Tidak memenuhi

Pihak Swasta atau investor atau pemilik dari pasar modern itu sendiri. Memenuhi 4. Biaya manajemen dan

Pihak Pemerintah Kota Surakarta dan pedagang di pasar tradisional (73%)

Tidak memenuhi

Pihak Swasta atau investor atau pemilik dari pasar

Memenuhi

UnRegister

commit to user V-90 pengelolaan pasar Pemerintah Daerah. modern itu sendiri.

Sumber : Hasil Analisis, 2012

Dari sisi kelembagaan, perbedaan karakteristik pengelolaan pasar modern dan pasar tradisional nampak dari lembaga pengelolanya. Pada pasar tradisional, kelembagaan pengelola umumnya ditangani oleh Dinas Pasar yang merupakan bagian dari sistem birokrasi. Sementara pasar modern, umumnya dikelola oleh profesional dengan pendekatan bisnis. Selain itu, sistem pengelolaan pasar tradisional umumnya terdesentralisasi dimana setiap pedagang mengatur sistem bisnisnya masing-masing. Sedangkan pada pasar modern, sistem pengelolaan lebih terpusat yang memungkinkan pengelola induk dapat mengatur standar pengelolaan bisnisnya.

Semakin baik manajemen dan pengelolaan suatu pasar, maka keberadaan pasar tersebut akan semakin tertata, terkendali dan terselenggara mampu memenuhi kebutuhan konsumen. Manajemen dan pengelolaan pasar modern di Kota Surakarta yang terpenuhi dari aspek kelembagaan, alat produksi dan pemasaran, pembangunan dan perawatan serta biaya manajemen dan pengelolaan pasar menjadi nilai positif yang menjadikan pasar modern memiliki daya tarik lebih dibandingkan dengan pasar tradisional yang manajemen dan pengelolaannya masih belum terpenuhi secara keseluruhan. Diperlukan pembenahan diri dari Pihak Pemerintah dan Dinas Pengelola Pasar dalam memberikan perhatian yang lebih terhadap keberlangsungan pasar tradisional di Kota Surakarta disertai dengan pembinaan dan pengawasan oleh Pihak Pemerintah terhadap pasar modern sehingga terjalin kesinambungan yang baik dalam memanajemen dan mengelola pasar di Kota Surakarta. Sehingga pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta berdiri sebagai mitra usaha yang terkendali dan terkelola den gan baik.

5.3.1.5. Analisis Komoditas Barang

Barang atau komoditas dalam teori ekonomi adalah suatu objek atau jasa yang memiliki nilai. Nilai suatu barang akan ditentukan karena barang itu mempunyai kemampuan

Dokumen terkait