• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Epidemiologi Deskriptif

Dalam dokumen Surveilans Epid (Halaman 30-124)

III. PRINSIP-PRINSIP SURVEILANS

7. Analisis Epidemiologi Deskriptif

8. Disiminasi informasi

9. Atribut Sistem Surveilans

10.Komponen Sistem Surveilans

1. Mekanisme Kerja Surveilans

Definisi surveilans, pada umumnya, menjelaskan proses atau mekanisme kerja surveilans. Pada umumnya, mekanisme kerja surveilans terdiri dari kegiatan identifikasi kasus, pengumpulan dan pengolahan data, analisis-interpretasi data dan distribusi informasi kepada pihak-pihak yang memerlukan.

Pada Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi Kesehatan, mekanisme kerja surveilans terdiri atas :

1. Identifikasi penyakit (kasus) atau masalah kesehatan serta informasi terkait lainnya

2. Perekaman, pelaporan, dan pengolahan data

3. Analisis dan interpretasi data

4. Studi epidemiologi

5. Penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkannya

6. Membuat rekomendasi dan alternatif tindaklanjut

7. Umpan balik.

Rumusan mekanisme kerja surveilans tersebut tidak berbeda jauh dengan rumusan WHO : (1) Mengidentifikasi, menetapkan batasan atau definisi serta ukuran masalah kesehatan yang menjadi fokus surveilans, (2) mengumpulkan dan mengolah data masalah kesehatan tersebut (juga bisa termasuk faktor-faktor yang terkait), (3) analisis dan interpretasi data surveilans tersebut dan (4) medistribusikan data dan hasil interpretasinya kepada penanggungjawab program penanggulangan masalah kesehatan, dan (5) monitor dan evaluasi berkala pemanfaatan dan kualitas surveilans untuk perbaikan penyelenggaraan surveilans. Surveilans masalah kesehatan tidak termasuk tindakan penanggulangan masalah kesehatan

Masuknya studi epidemiologi dalam mekanime kerja surveilans tersebut diatas, dimaksudkan agar setiap informasi yang memerlukan identifikasi permasalah lebih teliti perlu dilakukan penyelidikan atau penelitian agar informasi yang dihasilkan akan lebih baik, obyektif, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pada mekanisme kerja surveilans tersebut juga memasukkan mekanisme kerja umpan balik. Umpan balik, berbeda dengan distribusi informasi, umpan balik adalah memberikan informasi dan komunikasi kepada unit sumber data, agar menjaga mutu data dan melakukan perbaikan kesalahan atau melengkapi data kurang lengkap. Umpan balik sebagai upaya kendali mutu surveilans dan memenuhi indikator kinerja surveilans yang telah ditetapkan.

Kegiatan perekaman, pelaporan dan pengolahan data, dapat dilaksanakan oleh unit surveilans sendiri, tetapi dapat juga sebagai bagian dari sistem pencatatan dan pelaporan unit lain, bahkan dari sektor-sektor di luar sektor kesehatan

Masing-masing mekanisme kerja surveilans akan dibahas secara khusus pada bahasan terpisah.

2. Tujuan

Apa masalah kesehatan yang perlu dukungan surveilans ? Apa beda tujuan surveilans dan tujuan program ?

Apa beda tujuan surveilans dan indikator kinerja surveilans ?

Bagaimana hubungan tujuan survielans dengan analisis data surveilans ?

Pada Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan, surveilans bertujuan untuk menyediakan data dan informasi epidemiologi secara nasional, provinsi dan kabupaten/kota yang dimanfaatkan untuk :

1. dasar manajemen kesehatan untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan,

Menurut Stephen B. Tachker, kegunaan surveilans cukup luas :

1. Menghitung estimasi besar masalah kesehatan

2. Menggambarkan riwayat alamiah penyakit

3. Deteksi KLB

4. Dokumentasi distribusi dan sebaran kejadian kesehatan

5. Mengfasilitasi riset epidemiologi atau laboratorium

6. Menguji hipotesis

7. Evaluasi program penanggulangan masalah kesehatan

8. Memantau perubahan agent penyakit

9. Memantau kegiatan isolasi

10. Deteksi perubahan mutu pelayanan

11. Perencanaan

Esensi surveilans (epidemiologi/kesehatan masyarakat) adalah memanfaatkan data untuk memantau masalah-masalah kesehatan dan mendorong dilaksanakannya upaya penanggulangan. Surveilans dapat membantu menentukan prioritas-prioritas masalah kesehatan, menentukan pilihan strategi atau metode penanggulangan terbaik, memandu tahapan upaya penanggulangan, dan melakukan kajian efektivitas upaya penanggulangan penyakit atau masalah kesehatan lainnya.

Contoh

Distribusi penyakit DBD menurut Kabupaten/Kota berdasarkan angka

kesakitan (stratifikasi daerah), dapat membantu program menentukan daerah prioritas yang perlu segera dilakukan upaya penanggulangan.

Distribusi penyakit DBD menurut waktu menunjukkan pola musiman,

sehingga dapat membantu program menentukan kapan sebaiknya tindakan pengendalian vektor dilakukan dan kapan tindakan darurat pelayanan rumah sakit mulai diaktifkan.

Distribusi penyakit DBD menurut waktu dan daerah dapat membantu program melakukan evaluasi efektifitas tindakan pengendalian vektor yang sudah dilakukan. Setiap penyelenggaraan suatu sistem surveilans tertentu perlu ditetapkan adanya

tujuan yang jelas dan terukur. Jelas itu adalah obyektif apa, kapan dan dimana tersedia produksi informasi epidemiologi sebagai hasil kerja surveilans, jelas manfaat dari informasi epidemiologi yang diperolehnya, dan jelas siapa atau unit apa yang memanfaatkan informasi epidemiologi tersebut. Terukur dalam artian dapat diukur dengan ukuran kuantitatif sesuai dengan ukuran-ukuran epidemiologi, sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan diperbandingkan antar waktu dan antar populasi atau antar tempat/daerah

Tujuan surveilans berbeda dengan tujuan program, tetapi surveilans sebagai bagian dari suatu program, dan oleh karena itu tujuan surveilans terkait dengan tujuan-tujuan program. Pada suatu program kesehatan, tujuan program adalah mendapatkan penyelesaian masalah kesehatan, pencapaian tujuan diukur dalam bentuk rate tertentu, misalnya besar penurunan incidence rate, prevalence rate, mortality rate atau case fatality rate. Sementara tujuan surveilans yang terkait dengan program tersebut adalah mengukur seberapa besar penyelesaian masalah kesehatan tersebut telah dapat dicapai, yang biasanya diukur dalam bentuk rate yang sama.

Tujuan surveilans akan membantu penyelenggaraan sistem surveilans lebih fokus, sistematis, dukungan anggaran yang diperlukan lebih jelas, penggerakan sumberdaya menjadi lebih efisien dan terarah serta kinerjanya dapat diukur, diperbandingkan dari waktu ke waktu, dan dari wilayah satu ke wilayah lain serta dapat dipertanggung jawabkan.

Untuk memberikan pemahaman yang memadai, dibahas hubungan beberapa jenis program dengan tujuan-peran surveilans dalam mendukung kinerja program.

Contoh :

Progran Pengendalian Pnemonia

1. terlaksananya pengobatan standar kasus pnemonia anak minimal 80% dari estimasi jumlah kasus pnemonia di setiap wilayah Puskesmas

2. case fatality rate pnemonia menurun menjadi kurang dari 5% dari

jumlah kasus pnemonia yang mendapat pengobatan standar di setiap Puskesmas

Tujuan surveilans :

Mengetahui gambaran epidemiologi pnemonia berobat dan hasil pengobatan

1. diketahuinya jumlah kasus pnemonia menurut Puskesmas dan periode waktu

mingguan

2. diketahuinya jumlah kasus pneumonia yang mendapat pengobatan

standar menurut Puskesmas dan periode waktu mingguan

3. diketahuinya jumlah kasus pnemonia yang mendapat pengobatan

standar meninggal (case fatality rate) menurut Pukesmas dan periode waktu mingguan

Kegiatan program pengendalian pnemonia adalah menemukan semua

penderita pnemonia dan memberikan pertolongan dengan

pengobatan/perawatan standar. Oleh karena itu, peran surveilans pertama adalah menunjukkan daerah atau jenis populasi mana yang perlu mendapat prioritas dibanding kelompok lain, agar program dilaksanakan lebih efektif dan efisien. Peran surveilans kedua adalah melakukan monitoring dan evaluasi telah seberapa jauh kegiatan program telah berhasil mencapai tujuan program.

Pada program pengendalian pnemonia, dan program-program lain dimana penemuan dan tindakan terhadap penderita menjadi salah satu programnya sering terjadi perdebatan batas kegiatan program dan kegiatan surveilans pada kegiatan penemuan penderita. Apakah ini tugas program atau tugas surveilans pada program tersebut ?.

Pada program pengendalian pnemonia ini, bisa jadi upaya penemuan penderita menjadi tugas program, sehingga bisa ditemukan sejumlah penderita sesuai tujuan program, sementara surveilans berperan menghitung jumlah penderita yang ditemukan menurut karakteristik waktu, tempat dan orang, sesuai kebutuhan untuk membantu program untuk bekerja lebih efektif dan efisien.

Pada kejadian terakhir ini, semakin menunjukkan bahwa program dan surveilans berada dalam satu kendaraan menuju pencapaian kinerja program yang diharapkan, tetapi sekaligus menunjukkan perlu adanya kejelasan peran program dan surveilans, sehingga ancangan kegiatan, anggaran, penggerakan sumber daya dan hasil kerja dapat diukur dan dipertanggungjawabkan.

Contoh :

Program Pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) Tujuan program :

2. menurunnya cafe fatality rate<1% di setiap kabupaten/kota Tujuan surveilans :

Teridentifikasinya setiap kasus demam berdarah dengue berobat (insidens rate) dan jumlah meninggal (CFR) di rumah sakit di setiap kabupaten/kota dan periode waktu bulanan dan ta hun an

Berbeda dengan program pengendalian pnemonia, program pengendalian DBD bertujuan menurunkan angka kesakitan dan angka fatalitas kasus (CFR), sehingga upaya mengendalikan faktor risiko dan mencegah jatuh sakit menjadi salah satu strategi yang diterapkan, disamping strategi untuk menjamin agar penderita DBD dapat tertolong dengan sistem rujukan, dan perawatan yang baik

Strategi program dalam upaya menurunkan angka kesakitan adalah mengendalikan nyamuk Aedes agypti, sehingga mata rantai penularan dapat diputus, dan besarnya jumlah penularan dapat dikurangi, sehingga jumlah penderita juga dapat dikurangi ,.

Sama dengan program pengendalian pnemonia, peran surveilans utama adalah membantu program dengan cara menentukan tingkat kerentanan populasi berdasarkan waktu, tempat dan karakteristik masyarakat (angka kesakitan, angka kematian, angka fatalitas kasus, kejadian luar biasa).

Untuk mencapai tujuan surveilans tersebut, dapat dikembangkan

1. surveilans berdasarkan survei kasus pada populasi secara berkala (times series),

2. surveilans berdasarkan data kasus baru berkunjung/berobat ke unit

pelayanan untuk membuat estimasi besarnya angka kesakitan dan angka kematian menurut wilayah, umur dan jenis kelamin, atau

3. surveilans berdasarkan data perubahan jenis dan jumlah

tempat-tempat perindukan nyamuk, jenis dan kepadatan nyamuk, demografi, musim, lingkungan tempat tinggal dan faktor risiko lainnya yang digunakan untuk meng-estimasi tingkat kepadatan nyamuk dan dampaknya terhadap angka kesakitan dan angka kematian DBD.

Berdasarkan informasi surveilans tersebut, maka program dapat menentukan prioritas daerah atau kelompok populasi dalam upaya pengendalian nyamuk penyebab demam berdarah, atau adanya penentuan strategi yang spesifik untuk masing-masing daerah dan populasi.

Disamping sumber data dari data sudah lewat beberapa waktu sebelumnya, sebagaimana contoh diatas, data yang diperoleh pada periode waktu berjalan, juga menjadi sumber data surveilans yang penting, terutama pada penyakit potensi KLB seperti DBD ini. Perkembangan kasus (perubahan jumlah, risiko, dan tipe virus) dan perubahan kondisi lingkungan (kepadatan nyamuk, musim atau curah hujan, tumbuhnya tempat-tempat perindukan nyamuk dsb) dapat diidentifikasi melalui sistem deteksi dini kasus dan sistem deteksi dini kondisi rentan serta diikuti dengan respon peningkatan kewaspadaan, respon investigasi dan respon penanggulangan. Ini menjadi konsep dasar model SKD-KLB yang akan tersendiri.

Tujuan program pengendalian DBD kedua, yaitu, menurunkan angka fatalitas kasus (CFR) dapat disamakan dengan tujuan program pengendalian pnemonia, yaitu menemukan dan mengobati/merawat penderita DBD

Program Pengendalian Influenza Pandemi Tujuan

program : Surveilans Epidemiologi

Dapat tertanggulanginya dengan cepat setiap kejadian episenter influenza pandemi Tujuan surveilans :

1. Deteksi dini episenter influenza pandemi

2. Memantau perkembangan episenter influenza pandemi

3. Memastikan tidak adanya transmisi virus influenza pandemi dari orang ke orang

Berbeda dengan dua contoh sebelumnya, pada Program Pengendalian Influenza Pandemi, sering kita sebut sebagai menyiapkan pasukan tempur yang medan pertempuran belum ada, tepatnya mungkin akan terjadi. Program yang sama adalah pada program eradikasi polio dengan diselenggarakannya surveilans AFP dan virus polio liar, program penanggulangan SARS dengan surveilans SARS, dsb.

Program penanggulangan episenter pandemi influenza, adalah terus mempersiapkan diri agar pada waktu episenter pandemi influenza terjadi, maka penggerakan sumber daya dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

Surveilans influenza pandemi yang sedang berjalan adalah surveilans flu burung. Surveilans memainkan peran kunci, pertama, deteksi dini adanya episenter dan sebaliknya, kedua, terus menerus membuktikan episenter pandemi influenza tidak sedang terjadi. Jika episenter pandemi influnza terdeteksi dini, maka program penanggulangan segera bertindak.

Dalam upaya membangun deteksi dini kemungkinan terjadinya episenter pandemi influenza, maka dilakukan langkah surveilans :

1. Memantau perkembangan kejadian pandemi influenza di seluruh dunia

dan identifikasi kemungkinan menyebar ke wilayah Indonesia

2. Memantau perkembangan influenza H5N1 pada hewan dan manusia,

baik berdasarkan pendekatan bukti epidemiologi adanya penularan dari orang ke orang, maupun berdasarkan perubahan karakter virus (mutasi genetik)

3. Memantau kemungkinan munculnya kasus pnemonia ganas dan menular

sebagai cluster pnemonia tertentu.

Salah satu peran surveilans pada program ini adalah membuktikan bahwa, episenter pandemi influenza itu tidak sedang terjadi, merupakan pekerjaan yang paling berat. Tujuan surveilans tercapai apabila semua indikator kinerja surveilans menunjukkan surveilans diselenggarakan dengan kualitas tinggi.

Indikator kinerja surveilans episenter pandemi influenza menunjukkan kualitas surveilans sangat tinggi jika

1. Setiap kasus suspek H5N1 dapat teridentifikasi dan dikonfirmasi, dan

terbukti tidak ada penularan kepada semua orang yang kontak erat dengan penderita yang diamati (penularan gelombang kedua)

2. Setiap kasus pnemonia ganas dan cluster pnemonia dapat teridentifikasi

dan konfirmasi serta dipastikan tidak ada penularan kepada semua kontak erat dengan penderita yang diamati.

Berdasarkan data indikator kinerja tersebut dapat disimpulkan :

1. Apabila ketiga indikator tersebut diatas terpenuhi, maka unit surveilans

dapat menyatakan “tidak terdapat episenter pandemi influenza” yang meyakinkan.

2. Apabila salah satu indikator tersebut tidak memenuhi indikator kinerja yang ditetapkan, maka pernyataan unit surveilans yang menyatakan “tidak terjadi episenter pandemi influenza” tersebut menjadi diragukan atau tidak diyakini kebenarannya.

Pada contoh kasus pandemi influenza, jelas peran surveilans sangat bergantung kepada kebutuhan program, sebaliknya program akan melaksanakan program dengan efektifitas dan efisiensi bergantung kepada hasil kerja surveilans yang memiliki kulaitas kerja yang sangat tinggi.

3.

Indikator Kinerja

Sebagai suatu kegiatan yang diselenggarakan secara sistematis dan terus menerus, maka disamping adanya tujuan yang jelas dan terukur, juga diperlukan adanya indikator kinerja yang jelas dan terukur.

1) Pengertian Indikator Kinerja (surveilans) Secara umum indikator kinerja biasanya dibagi 2 jenis :

(1) Indikator kinerja yang merupakan ukuran besarnya hasil kerja yang diharapkan

diperoleh setelah satu rangkaian aktivitas program (indikator kinerja program). Indikator kinerja ini lebih tepat sebagai ukuran pencapaian tujuan program, dan berdasarkan indikator kinerja ini dapat dinyatakan program telah mencapai tujuan yang diharapkan atau tidak. Misalnya, indikator kinerja program pengendalian DBD adalah angka kesakitan <52 kasus per 100.000 penduduk pertahun perProvinsi.

(2) Indikator kinerja yang merupakan ukuran kualitas suatu sistem kerja (indikator

kinerja - surveilans). Secara operasional, suatu unit program apabila menyatakan besarnya masalah program, maka wajib didukung oleh sistem kerja informasi yang baik. Sistem kerja informasi ini, baik atau tidak baik, dinyatakan dengan ukuran atau indikator kinerja-surveilans. Misalnya, angka kesakitan DBD di Jakarta adalah sebesar 225 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2010. Penyataan besarnya angka

dari semua rumah sakit atau hanya sebagian rumah sakit (kelengkapan laporan), seberapa akurat kasus DBD itu sesuai dengan definisi yang telah ditetapkan (keakuratasn pengisian variabel), dsb. Kelengkapan laporan dan keakuratan pengisian variabel merupakan indikator kinerja untuk mengukur mutu laporan yang menyatakan angka kesakitan DBD di Jakarta. Ini yang disebut indikator kinerja-surveilans DBD

Program, biasanya memanfaatkan indikator kinerja sebagai indikator kinerja jenis pertama, sementara surveilans memanfaatkan indikator kinerja sebagai indikator kinerja jenis kedua. Oleh karena itu, pengertian indikator kinerja (surveilans) sering digunakan sebagai ukuran yang menyatakan “kualitas sistem surveilans” yang telah diselenggarakan, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Indikator kinerja (surveilans) digunakan untuk menjaga agar data yang dihimpun dan dimanfaatkan sebagai sumber data surveilans, adalah sama dengan yang terdapat pada sumber-sumber data, baik jumlah maupun distribusi menurut waktu, tempat dan karakteristik kasus-kasus, tidak terjadi bias, dan menghasilkan informasi yang tidak salah. Validitas data dan atribut sistem surveilans yang lain, dibahas dalam bahasan tersendiri.

Data indikator kinerja (surveilans) menurut karakteristik waktu dan tempat, dapat menuntun kepada sumber data yang perlu mendapat pembinaan dan dukungan dalam penyelenggaraan sistem surveilans yang lebih baik

Indikator kinerja (surveilans) ini sering rancu dengan tujuan surveilans, dan indikator kinerja program. Kerancuan ini dapat mengakibatkan timbulnya kelemahan manajemen dan pembinaan penyelenggaraan sistem surveilans, terutama penyelenggaraan surveilans yang berada dalam satu paket dengan penyelenggaraan program. Beberapa contoh bahasan dibawah ini dapat menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut :

Contoh : Surveilans Demam Berdarah Dengue

Indikator kinerja program pengendalian DBD adalah angka kesakitan DBD sebesar kurang dari 50 kasus per 100.000 populasi per tahun di setiap Kabupaten/Kota

Tujuan Surveilans DBD adalah terdatakannya angka kesakitan DBD per 100.000 populasi per tahun di setiap Kabupaten/Kota

Indikator Kinerja Surveilans DBD adalah setiap rumah sakit yang merawat anak mengirimkan laporan bulanan data kesakitan DBD (semua atau 100%) dengan kelengkapan laporan per RS lebih dari 80% per tahun

Makna indikator (data sebagai contoh):

- Indikator kinerja surveilans DBD dalam bentuk kelengkapan laporan tahunan unit pelayanan.

- Dilaporkan angka kesakitan DBD kabupaten Bogor berdasarkan laporan Rumah Sakit selama tahun 2010 adalah 40 kasus per 100.000 populasi, maka dapat dinyatakan program pengendalian DBD Kabupaten Bogor telah berhasil menekan angka kesakitan DBD jauh dibawah indikator kinerja yang ditetapkan (52 kasus per 100.000 populasi per Kabupaten per tahun) - Kabupaten Bogor memiliki 4 rumah sakit yang merawat anak (kasus DBD),

oleh karena itu, surveilans perlu menganalisis daftar absensi pelaporan rumah sakit tersebut selama setahun kegiatan untuk mengukur besarnya kelengkapan laporan per RS.

Tabel 1

Daftar Absensi Laporan Bulanan Data Kesakitan Rumah Sakit Kabupaten Bogor, 2010

Nama RS Laporan Bulan Yang Diterima

% Realisasi Seharusnya RS Sumber Sehat 6 12 50% RS Sehat 10 12 83% RSUD Bogor 11 12 92% RS Harapan 12 12 100 % Total (6+10+11+12) =39 4x12=4 8 82% S u m b e r : ( D a t a C o n t o h )

- Indikator kinerja (surveilans) DBD adalah kelengkapan laporan total RS sebesar lebih dari 80%, dan pada data tersebut diatas memiliki

kelengkapan laporan total 82%

- Sesuai dengan ancangan indikator kinerja (surveilans) program

pengendalian DBD tersebut diatas, masing-masing RS harus mencapai kelengkapan laporan >80%.

- Pada absensi laporan bulanan data kesakitan tersebut diatas, RS. Sumber Sehat hanya melaporkan 50% dari jumlah laporan seharusnya, sementara RS yang lain telah mencapai kelengkapan laporan >80%. Sehingga, sesuai dengan indikator kinerja (surveilans) yang diharapkan, maka pernyataan angka kesakitan DBD Kabupaten Bogor sebesar 40 per 100.000 populasi tersebut adalah tidak dipercaya kebenarannya

- Jika setiap RS dari 4 RS yang ada telah melengkapi laporannya, sehingga

kelengkapan laporan masing-masing RS sudah lebih dari 80%, maka pernyataan angka kesakitan DBD Kabupaten Bogor sebesar 40 per 100.000 populasi tersebut adalah dipercaya kebenarannya

Contoh : Surveilans AFP (acute flaccid paralysis) dan Virus Polio Liar

Tujuan program eradikasi polio adalah tercapainya Indonesia bebas polio

Indikator kinerja program eradikasi polio adalah cakupan imunisasi tinggi dan merata, dan setiap adanya transmisi virus polio liar baru dapat dihentikan dalam waktu kurang dari 1 tahun sejak ditemukan

Tujuan surveilans AFP dan virus polio liar adalah terdeteksi dini adanya virus polio liar Indikator kinerja surveilans AFP dan virus polio liar:

1. Kelengkapan laporan mingguan rumah sakit lebih dari 80 % per tahun

per kabupaten/kota

2. AFP rate non polio ditemukan minimal 2 per 100.000 anak berusia

kurang dari 15 tahun per tahun per Provinsi

3. Spesimen adekuat (diambil, dikirim dan diperiksa sesuai dengan

Makna indikator (data contoh):

- Indikator kinerja surveilans AFP adalah kelengkapan laporan mingguan rumah sakit pertahun, jumlah kasus dicurigai (kasus AFP) yang ditemukan dan dikonfirmasi

- Pada tahun 2010, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur melaporkan bahwa di Wilayah Jawa Timur tidak ditemukan adanya virus polio liar. Oleh karena itu, dari sisi program eradikasi polio dapat dinyatakan Jawa Timur “aman” - Provinsi Jawa Timur terdiri dari 35 Kabupaten/Kota, dengan total seluruhnya

terdapat 100 rumah sakit (merawat anak <15 tahun)

- Jika :

1. kelengkapan laporan mingguan rumah sakit cukup baik lebih dari 80%

per tahun per kabupaten/kota selama tahun 2010, dan

2. AFP rate non polio lebih dari 2 per 100.000 anak berusia kurang dari 15

tahun di setiap Kabupaten/Kota, dan

3. lebih dari 80 % spesimen tinja setiap kasus telah diambil dan dikelola

cukup baik (adekuat),

maka pernyataan “tidak ada virus polio liar di wilayah Jawa Timur” adalah dipercaya

- Sebaliknya jika terdapat kelengkapan laporan mingguan rumah sakit kurang dari 80 %

per tahun pada salah satu Kabupaten/Kota, maka pernyataan “tidak ada virus polio liar di .

wilayah Jawa Timur” adalah tidak dipercaya

- Hal yang sama jika salah satu indikator kinerja tidak terpenuhi, maka

pernyataan tidak ada virus polio liar di wilyah Jawa Timur adalah tidak dipercaya.

- Kesimpulan tidak dipercaya dalam sistem surveilans sebagaimana tersebut diatas, berarti menyatakan bahwa kinerja deteksi dini virus polio liar tidak cukup baik, sehingga kalau muncul virus polio liar di salah satu wilayah di Jawa Timur, bisa tidak diketahui, menyebar dengan cepat tanpa diketahui, bisa menjadi endemis polio kembali dan menjadikan Indonesia tidak bebas polio.

2). Rumusan Indikator Kinerja

(Indikator kinerja dalam bahasan berikut adalah indikator kinerja-surveilans.)

Setiap penyelenggaraan sistem surveilans yang baik, selalu menetapkan ancangan indikator kinerja, dan kemudian kegiatan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan sistem surveilans berdasar pada indikator kinerja ini.

Rumusan indikator kinerja harus sederhana, mudah dilaksanakan, tetapi tetap mengukur mutu /kualitas kinerja surveilans dengan baik.

Apabila satu paket penyelenggaraan sistem surveilans memiliki banyak indikator kinerja, sehingga membutuhkan banyak kegiatan perekaman, pengumpulan dan analisis terhadap data indikator kinerja tersebut yang diperoleh dari berbagai unit sumber data. Banyaknya kegiatan perekaman, pengumpulan, pengolahan data akan memberikan beban kerja dan menggangu upaya meningkatkan kinerja surveilans. Oleh karena itu, setiap penyelenggaraan sistem surveilans perlu menetapkan sesedikit mungkin indikator kinerja, sesederhana mungkin, tetapi tetap dapat mengukur kualitas penyelenggaraan surveilans tersebut. Boleh dikatakan, melakukan monitoring terhadap indikator kinerja adalah merupakan salah satu kegiatan surveilans terhadap program penyelenggaraan sistem surveilans itu sendiri.

Indikator kinerja yang paling sering digunakan adalah kelengkapan laporan, ketepatan

Dalam dokumen Surveilans Epid (Halaman 30-124)

Dokumen terkait