• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Indikator Kinerja (surveilans)

Dalam dokumen Surveilans Epid (Halaman 43-63)

III. PRINSIP-PRINSIP SURVEILANS

1) Pengertian Indikator Kinerja (surveilans)

(1) Indikator kinerja yang merupakan ukuran besarnya hasil kerja yang diharapkan

diperoleh setelah satu rangkaian aktivitas program (indikator kinerja program). Indikator kinerja ini lebih tepat sebagai ukuran pencapaian tujuan program, dan berdasarkan indikator kinerja ini dapat dinyatakan program telah mencapai tujuan yang diharapkan atau tidak. Misalnya, indikator kinerja program pengendalian DBD adalah angka kesakitan <52 kasus per 100.000 penduduk pertahun perProvinsi.

(2) Indikator kinerja yang merupakan ukuran kualitas suatu sistem kerja (indikator

kinerja - surveilans). Secara operasional, suatu unit program apabila menyatakan besarnya masalah program, maka wajib didukung oleh sistem kerja informasi yang baik. Sistem kerja informasi ini, baik atau tidak baik, dinyatakan dengan ukuran atau indikator kinerja-surveilans. Misalnya, angka kesakitan DBD di Jakarta adalah sebesar 225 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2010. Penyataan besarnya angka

dari semua rumah sakit atau hanya sebagian rumah sakit (kelengkapan laporan), seberapa akurat kasus DBD itu sesuai dengan definisi yang telah ditetapkan (keakuratasn pengisian variabel), dsb. Kelengkapan laporan dan keakuratan pengisian variabel merupakan indikator kinerja untuk mengukur mutu laporan yang menyatakan angka kesakitan DBD di Jakarta. Ini yang disebut indikator kinerja-surveilans DBD

Program, biasanya memanfaatkan indikator kinerja sebagai indikator kinerja jenis pertama, sementara surveilans memanfaatkan indikator kinerja sebagai indikator kinerja jenis kedua. Oleh karena itu, pengertian indikator kinerja (surveilans) sering digunakan sebagai ukuran yang menyatakan “kualitas sistem surveilans” yang telah diselenggarakan, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Indikator kinerja (surveilans) digunakan untuk menjaga agar data yang dihimpun dan dimanfaatkan sebagai sumber data surveilans, adalah sama dengan yang terdapat pada sumber-sumber data, baik jumlah maupun distribusi menurut waktu, tempat dan karakteristik kasus-kasus, tidak terjadi bias, dan menghasilkan informasi yang tidak salah. Validitas data dan atribut sistem surveilans yang lain, dibahas dalam bahasan tersendiri.

Data indikator kinerja (surveilans) menurut karakteristik waktu dan tempat, dapat menuntun kepada sumber data yang perlu mendapat pembinaan dan dukungan dalam penyelenggaraan sistem surveilans yang lebih baik

Indikator kinerja (surveilans) ini sering rancu dengan tujuan surveilans, dan indikator kinerja program. Kerancuan ini dapat mengakibatkan timbulnya kelemahan manajemen dan pembinaan penyelenggaraan sistem surveilans, terutama penyelenggaraan surveilans yang berada dalam satu paket dengan penyelenggaraan program. Beberapa contoh bahasan dibawah ini dapat menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut :

Contoh : Surveilans Demam Berdarah Dengue

Indikator kinerja program pengendalian DBD adalah angka kesakitan DBD sebesar kurang dari 50 kasus per 100.000 populasi per tahun di setiap Kabupaten/Kota

Tujuan Surveilans DBD adalah terdatakannya angka kesakitan DBD per 100.000 populasi per tahun di setiap Kabupaten/Kota

Indikator Kinerja Surveilans DBD adalah setiap rumah sakit yang merawat anak mengirimkan laporan bulanan data kesakitan DBD (semua atau 100%) dengan kelengkapan laporan per RS lebih dari 80% per tahun

Makna indikator (data sebagai contoh):

- Indikator kinerja surveilans DBD dalam bentuk kelengkapan laporan tahunan unit pelayanan.

- Dilaporkan angka kesakitan DBD kabupaten Bogor berdasarkan laporan Rumah Sakit selama tahun 2010 adalah 40 kasus per 100.000 populasi, maka dapat dinyatakan program pengendalian DBD Kabupaten Bogor telah berhasil menekan angka kesakitan DBD jauh dibawah indikator kinerja yang ditetapkan (52 kasus per 100.000 populasi per Kabupaten per tahun) - Kabupaten Bogor memiliki 4 rumah sakit yang merawat anak (kasus DBD),

oleh karena itu, surveilans perlu menganalisis daftar absensi pelaporan rumah sakit tersebut selama setahun kegiatan untuk mengukur besarnya kelengkapan laporan per RS.

Tabel 1

Daftar Absensi Laporan Bulanan Data Kesakitan Rumah Sakit Kabupaten Bogor, 2010

Nama RS Laporan Bulan Yang Diterima

% Realisasi Seharusnya RS Sumber Sehat 6 12 50% RS Sehat 10 12 83% RSUD Bogor 11 12 92% RS Harapan 12 12 100 % Total (6+10+11+12) =39 4x12=4 8 82% S u m b e r : ( D a t a C o n t o h )

- Indikator kinerja (surveilans) DBD adalah kelengkapan laporan total RS sebesar lebih dari 80%, dan pada data tersebut diatas memiliki

kelengkapan laporan total 82%

- Sesuai dengan ancangan indikator kinerja (surveilans) program

pengendalian DBD tersebut diatas, masing-masing RS harus mencapai kelengkapan laporan >80%.

- Pada absensi laporan bulanan data kesakitan tersebut diatas, RS. Sumber Sehat hanya melaporkan 50% dari jumlah laporan seharusnya, sementara RS yang lain telah mencapai kelengkapan laporan >80%. Sehingga, sesuai dengan indikator kinerja (surveilans) yang diharapkan, maka pernyataan angka kesakitan DBD Kabupaten Bogor sebesar 40 per 100.000 populasi tersebut adalah tidak dipercaya kebenarannya

- Jika setiap RS dari 4 RS yang ada telah melengkapi laporannya, sehingga

kelengkapan laporan masing-masing RS sudah lebih dari 80%, maka pernyataan angka kesakitan DBD Kabupaten Bogor sebesar 40 per 100.000 populasi tersebut adalah dipercaya kebenarannya

Contoh : Surveilans AFP (acute flaccid paralysis) dan Virus Polio Liar

Tujuan program eradikasi polio adalah tercapainya Indonesia bebas polio

Indikator kinerja program eradikasi polio adalah cakupan imunisasi tinggi dan merata, dan setiap adanya transmisi virus polio liar baru dapat dihentikan dalam waktu kurang dari 1 tahun sejak ditemukan

Tujuan surveilans AFP dan virus polio liar adalah terdeteksi dini adanya virus polio liar Indikator kinerja surveilans AFP dan virus polio liar:

1. Kelengkapan laporan mingguan rumah sakit lebih dari 80 % per tahun

per kabupaten/kota

2. AFP rate non polio ditemukan minimal 2 per 100.000 anak berusia

kurang dari 15 tahun per tahun per Provinsi

3. Spesimen adekuat (diambil, dikirim dan diperiksa sesuai dengan

Makna indikator (data contoh):

- Indikator kinerja surveilans AFP adalah kelengkapan laporan mingguan rumah sakit pertahun, jumlah kasus dicurigai (kasus AFP) yang ditemukan dan dikonfirmasi

- Pada tahun 2010, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur melaporkan bahwa di Wilayah Jawa Timur tidak ditemukan adanya virus polio liar. Oleh karena itu, dari sisi program eradikasi polio dapat dinyatakan Jawa Timur “aman” - Provinsi Jawa Timur terdiri dari 35 Kabupaten/Kota, dengan total seluruhnya

terdapat 100 rumah sakit (merawat anak <15 tahun)

- Jika :

1. kelengkapan laporan mingguan rumah sakit cukup baik lebih dari 80%

per tahun per kabupaten/kota selama tahun 2010, dan

2. AFP rate non polio lebih dari 2 per 100.000 anak berusia kurang dari 15

tahun di setiap Kabupaten/Kota, dan

3. lebih dari 80 % spesimen tinja setiap kasus telah diambil dan dikelola

cukup baik (adekuat),

maka pernyataan “tidak ada virus polio liar di wilayah Jawa Timur” adalah dipercaya

- Sebaliknya jika terdapat kelengkapan laporan mingguan rumah sakit kurang dari 80 %

per tahun pada salah satu Kabupaten/Kota, maka pernyataan “tidak ada virus polio liar di .

wilayah Jawa Timur” adalah tidak dipercaya

- Hal yang sama jika salah satu indikator kinerja tidak terpenuhi, maka

pernyataan tidak ada virus polio liar di wilyah Jawa Timur adalah tidak dipercaya.

- Kesimpulan tidak dipercaya dalam sistem surveilans sebagaimana tersebut diatas, berarti menyatakan bahwa kinerja deteksi dini virus polio liar tidak cukup baik, sehingga kalau muncul virus polio liar di salah satu wilayah di Jawa Timur, bisa tidak diketahui, menyebar dengan cepat tanpa diketahui, bisa menjadi endemis polio kembali dan menjadikan Indonesia tidak bebas polio.

2). Rumusan Indikator Kinerja

(Indikator kinerja dalam bahasan berikut adalah indikator kinerja-surveilans.)

Setiap penyelenggaraan sistem surveilans yang baik, selalu menetapkan ancangan indikator kinerja, dan kemudian kegiatan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan sistem surveilans berdasar pada indikator kinerja ini.

Rumusan indikator kinerja harus sederhana, mudah dilaksanakan, tetapi tetap mengukur mutu /kualitas kinerja surveilans dengan baik.

Apabila satu paket penyelenggaraan sistem surveilans memiliki banyak indikator kinerja, sehingga membutuhkan banyak kegiatan perekaman, pengumpulan dan analisis terhadap data indikator kinerja tersebut yang diperoleh dari berbagai unit sumber data. Banyaknya kegiatan perekaman, pengumpulan, pengolahan data akan memberikan beban kerja dan menggangu upaya meningkatkan kinerja surveilans. Oleh karena itu, setiap penyelenggaraan sistem surveilans perlu menetapkan sesedikit mungkin indikator kinerja, sesederhana mungkin, tetapi tetap dapat mengukur kualitas penyelenggaraan surveilans tersebut. Boleh dikatakan, melakukan monitoring terhadap indikator kinerja adalah merupakan salah satu kegiatan surveilans terhadap program penyelenggaraan sistem surveilans itu sendiri.

Indikator kinerja yang paling sering digunakan adalah kelengkapan laporan, ketepatan waktu laporan, kelengkapan distribusi/desiminasi informasi, terbitnya buletin epidemiologi, tetapi sebetulnya terdapat beberapa rumusan indikator kinerja lain yang juga digunakan.

(1) Kelengkapan Laporan

Kelengkapan laporan selalu mengukur jumlah laporan yang diterima dari pelapor (unit) dibanding dengan jumlah laporan yang harusnya diterima.

Kelengkapan laporan adalah sebagai salah satu indikator kinerja (surveilans) yang paling sering digunakan, baik itu ditingkat nasional, provinsi maupun di kabupaten/kota, bahkan juga digunakan pada indikator kinerja (surveilans) di unit

unit pelayanan dan di masyarakat sebagai laporan kelurahan, desa, atau kelompokkelompok masyarakat.

Kelengkapan laporan, merupakan metode pengukuran kinerja yang paling sederhana, dan jika dirumuskan dengan tepat, dapat member dukungan pengukuran kinerja surveilans yang tepat, dan dapat memberi manfaat untuk mengidentifikasi adanya permasalah kinerja surveilans lebih fokus dan tepat waktu.

Rumusan kelengkapan laporan yang baik adalah kelengkapan laporan unit sumber data awal (unit pelayanan), tetapi pada penyelenggaraan sistem surveilans nasional dan provinsi lebih sering berdasarkan pada kelengkapan laporan unit pengumpul data (Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Dinas Kesehatan Provinsi)

Contoh : Surveilans DBD Provinsi

Sistem surveilans DBD secara nasional berbasis data yang diperoleh dari laporan bulanan data kasus dan kematian DBD Rumah Sakit.

Tabel 2

Data Kasus DBD Provinsi Banten, tahun 2010

No. Kab/Kota Angka Kesakitan Laporan Kab/KotaKelengkapan

per 100.000 pop per tahun *)

1. Tangerang 74.2 11/12 (92%) 2. Kota Tangerang 187,8 10/12 (83%) 3 Kota Tangerang Selatan 64.0 12/12 (100%) ... Nasional …% …. %

Sumber Data : contoh simulasi

*) 11/12 adalah dilaporkan sebanyak 11 laporan dari 12 laporan seharusnya

Sepintas dapat dilihat, bahwa angka kesakitan DBD Kota Tangerang Selatan sebesar 64,0 kasus per 100.000 populasi, adalah dapat

dipercaya, karena kelengkapan laporan mencapai 100%. Kelengkapan

laporan ini adalah kelengkapan laporan bulanan yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sementara kelengkapan laporan

masingmasing rumah sakit (sumber data awal), tidak diketahui, dan oleh karena itu, angka

kesakitan DBD Kota Tangerang Selatan sebesar 64,0 kasus per 100.000 populasi, adalah belum sepenuhnya dapat dipercaya .

Rumusan Kelengkapan Laporan Berdasarkan Data Sumber Data Awal

Data kasus DBD Nasional, bersumber dari laporan bulanan data kasus DBD yang dilaporkan oleh Rumah Sakit di seluruh wilayah Indonesia secara berjenjang ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, kemudian ke Dinas Kesehatan Provinsi dan terakhir dikirim ke Kementerian Kesehatan, cq. Subdit Arbovirosis, Ditjen PP&PL. Setiap jenjang, data DBD tersebut direkam, diolah dan dilaporkan dalam bentuk data rangkuman (agregat), dan juga digunakan untuk keperluan surveilans pada masing-masing tingkatan. Demikian juga untuk data kesakitan berbagai program yang lain

G a m b a r 2

Alur Laporan Kasus DBD RS

Dengan model pendataan tersebut, Unit Surveilans DBD di Dinas Kesehatan Provinsi, tidak dapat mengidentifikasi berapa besar kelengkapan laporan Sumber

Untuk mendapatkan data kelengkapan laporan yang baik, seringkali, disamping data kelengkapan laporan Unit Pelapor (Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota), juga perlu dilengkapi dengan kelengkapan laporan sumber data (unit pelayanan/RS).

Dari dapat terlihat angka keakitan Kota Tangerang Selatan sebesar 64,0 kasus per 100.000 populasi diperoleh dari laporan Rumah Sakit dengan kelengkapan laporan bulana Kab/Kota sebesar 100%, dengan kelengkapan laporan rumah sakit sebesar 92%, atau dapat dikatakan, angka kesakitan DBD tersebut dapat dipercaya.

Tabel 3

Data Kasus DBD Provinsi Banten, Tahun 2010

No. Kabupaten/

Angka Kesakitan

Kelengkapan

Laporan Bulanan Kelengkapanlaporan RS

Kota /100.000 Kab/Kota

populasi /tahun /tahun *)

1. Tangerang 74.2 11/12 (92%) 6 RS, 47/65 (72%) 2. Kota Tangerang 187,8 10/12 (83%) 6 RS, 60/72 (83%) 3. Kota Tangerang 64.0 12/12 (100%) 4 RS, 44/48 (92%) Selatan ... Nasional ….% …..% …..%

Sumber : (contoh simulasi)

*) adalah jumlah RS yang ada, jumlah laporan yang diterima/jumlah laporan seharusnya dari semua RS yang ada (% kelengkapan laporan RS per tahun)

Tabel 4

Laporan Bulanan Data Kesakitan DBD Rumah Sakit, Prov Banten, 2010

BULAN LAPORAN ___________________________________________________________________________

Kab/ Jml Jumlah Lap Jumlah Lap RS

Kode RS Sakit Jml RS Penduduk Angka

Kota Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des (%) Kesakitan Kab/Kota (%)

FETP Kementerian Kesehatan RI-WHO | 28

T RS-T1 RS-T2 RS-T3 RS-T4 11 3 6 5 23 x 10 8 30 4 20 6 32 8 25 10 total 26 44 60 80 KT RS-KT1 RS-KT2 RS-KT3 RS-KT4 60 6 30 30 130 7 60 35 22 0 18 28 46 19 7 35 12 0 total 15 7 283 377 503 KTS RS-KTS1 RS-KTS2 15 1 8 30 2 15 40 5 7 40 8 36 total 31 56 75 99 KS RS-KS1 10 0 0 20 27 total 10 18 25 33 Lb RS-Lb1 15 27 36 48 total 15 27 36 48 Pd RS-Pd1 8 15 19 26 total 8 15 19 26 74.2 11/12 (92%) 47/65 (72%) 187.8 10/12 (83%) 60/72 64.0 12/12 (100%) 44/48 12/12 (100%) 24/24 12/12 (100%) 12/12 12/12 (100%) 12/12 180 50 23 10 110 40 4 0 8 2 8 3 1 • • • x 31 88 x 6 8 1027 125 527 366 6 1265 41 1 1 5 2 10 3 8 2 2 1 1 x 5 2 6 3 8 2 4 2 2 2 230 31 1264 752 26 7 6 2 5 2 6 12 141 19 2 42 13 9 3 7 3 8 21 23 7 5 2 4 2 5 11 126 1 6 8 . 2 30 10 8 x 5 10 x x x 0 0 20 8 7 x 7 x 8 4 4 x x x 4 8 q x 10 9 7 13 1 6 1 2 5 Grafik 3

Angka Kesakitan DBD (Data Rumah Provinsi Banten, 2010

Kelengkapan Laporan Sumber Data Berdasarkan Waktu Pelaporan Kelengkapan

laporan biasanya dihitung untuk periode waktu setahun, tetapi seringkali kelengkapan laporan juga perlu dihitung pada saat pelaporan itu dilaporkan, tergantung periode waktu pelaporan. Indikator kinerja berdasarkan kelengkapan laporan pada saat pelaporan ini, sering digunakan pada penyelenggaraan surveilans untuk keperluan pemantauan ketat, seperti pewantauan wilayah setempat,

surveiilans pada waktu terjadi KLB dsb. Seberapa ketat, tergantung kebutuhan masing-masing situasi, bisa tiap hari, tiap bulan atau yang paling sering adalah tiap minggu.

Contoh.

Pada Laporan Bulanan Data Kasus DBD, laporan kasus DBD dibuat dan dikirimkan oleh Rumah Sakit ke Dinas Kesehatan Kab/Kota dilaksanakan bulanan. Pada pemantauan ketat di Puskesmas dan Kab/Kota, seringkali perekaman dan pelaporannya dilakukan setiap minggu.

Tabel 5

Data Kasus DBD Kota Tangerang, 2010

Berdasarkan Laporan Bulanan Data Kesakitan Rumah Sakit BULAN LAPORAN

Kode RS Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

RS-KTS1 RS-KTS2 RS-KTS3 RS-KTS4 15 1 8 7 30 2 15 9 40 5 7 23 40 8 36 15 41 5 21 20 11 2 6 8 10 2 5 2 3 1 2 x 8 1 6 x 2 x 3 1 8 2 4 3 22 2 13 7 Total 31 56 75 99 87 27 19 6 15 6 17 44 Kelengkapan Laporan Per Bulan (%) 100 100 100 100 100 100 100 75 75 75 10 0 100

Pada Data Kasus DBD Kota Tangerang, menurut bulan kejadian dan kelengkapan laporannya, menunj ukkan kelengkapan laporan Kabupaten / Kota sebesar 100%

(tidak ada laporan yang tidak dibuat oleh Dinas Kesehatan Kota tangerang Selatan), tetapi apabila dicermati kelengkapan laporan Rumah Sakit, terdapat RSKTS2 tidak melapor pada bulan Oktober dan RS-KTS3 tidak melapor pada bulan Agustus dan bulan September, sehingga mempengaruhi jumlah data yang seharusnya ikut dianalisis

Gambaran kurva bulanan Data Kasus DBD Kota Tangerang Selatan, 2010, dan kelengkapan laporannya dapat dicermati pada grafik dibawah ini. Sepintas dapat dilihat, kurva kasus DBD menurut Bulan Kejadian pada bulan Agustus, September dan Oktober sebetulnya lebih tinggi, karena ini hanya berdasarkan data laporan Rumah Sakit dengan kelengkapan <80% dari seluruh Rumah Sakit yang harusnya melapor. Pada kurva perkembangan kasus yang ketat, seperti pada pemantauan wilayah setempat ini, seringkali disebutkan batas kritis kelengkapan laporan, sebagai indikator kinerja (surveilans) yang menyatakan untuk berhati-hati melakukan analisis data, jika kelengkapan laporan berada dibawah batas kelengkapan yang diharapkan.

Grafik 4

Data Kasus DBD

Kota Tangerang Selatan, 2010 J a n Fe b M a r A p r M e i J u n J u l A g s S e p O k t N o v D e s

BULAN

Sumber Data (contoh simulasi) Laporan Kasus

7 5 1 0 0 8 0

(2) Ketepatan Laporan

Ketepatan waktu laporan merupakan indikator kinerja kedua yang paling sering digunakan. Ketepatan waktu laporan adalah tersedianya data surveilans pada unit yang memanfaatkan data tersebut tepat waktu pada saat data tersebut dipergunakan. Secara operasional, ketepatan waktu laporan serti diartikan sebagai tanggal waktu laporan harus sudah diterima. Misal, laporan bulanan data kesakitan Puskesmas diterima di Dinas Kesehatan Kota selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya. Pelaporan dan atau penggabungan data pada periode waktu yang bukan seharusnya, dapat mengacaukan pola kurva dari data surveilans yang akan dianalisis. Oleh karena itu, data surveilans sebaiknya dikirimkan selalu tepat waktu, jika terlambat, jangan digabungkan dengan data surveilans waktu berikutnya, tetapi tetap dikirim sebagai data surveilans periode waktu yang seharusnya.

(3) Keakuratan Jumlah Kasus dan Diagnosis

Unit Sumber Data, misalnya Rumah Sakit atau puskesmas, mendapat kasus berdasarkan data kunjungan berobat, atau kunjungan lain, dan kemudian diperiksa dan didiagnosis oleh dokter. Oleh karena itu, terdapat makna keakuratan : keakuratan data sebagai ketapatan diagnosis, dan keakuratan data sebagai ketepatan jumlah kasus yang diidentifikasi, direkam dan dilaporkan oelh sumber data (misal Rumah Sakit)

(4) Keakuratan Data Sebagai Ketepatan Diagnosis

Ketidaktepatan penetapan kasus sebagaimana diharapkan adalah bias yang disebabkan karena tidak akuratnya definisi kasus atau kemampuan dokter untuk mendiagnosis:

1. Bukan Kasus, tetapi dinyatakan sebagai kasus

2. Kasus benar dinyatakan sebagai kasus

Keakuratan Data Sebagai Ketepatan Jumlah Kasus Teridentifikasi, Direkam dan Dilaporkan

Kasus-kasus yang telah didiagnosis oleh dokter, semestinya terekam dan dilaporkan sebagai kasus, tetapi seringkali kasus-kasus ini tidak terlaporkan :

1. Telah didiagnosis dokter, tetapi tidak tertuliskan diagnosisnya di buku register

2. Telah didiagnosis, dan tercatat dalam buku register, tetapi terlewatkan Secara operasional, tidak mudah memantau tingkat keakuratan data surveilans sebagamana tersebut diatas, biasanya, pemantauan lapangan (observasi) dilakukan di sumber data awal (misal Rumah Sakit, Puskesmas, laboratorium) untuk mengukur tingkat

keakuratan data tersebut :

1. Bagaimana kesepakatan mengenai definisi operasional kasus ?

2. Bagaimana prosedur penemuan kasus dibuat dan diterapkan ?

3. Siapa yang mendiagnosis, apakah mereka cukup memiliki kemampuan profesional yang memadai ?

4. Memeriksa register harian dan kartu kasus dan menguji apakah semua kasus yang ditemukan telah direkam dan dilaporkan

5. Menguji pengetahuan dan perhatian setiap orang yang terkait dengan penyelenggaraan surveilans di Sumber Data

6. Menguji apakah umpan balik perbaikan data, absensi dan pencapaian indikato kinerja telah dibuat dan dikirimkan ke sumber data oleh unit yang menerima laporan

(5) Estimasi Jumlah Kasus Sebagai Indikator Kinerja

Pada surveilans berbasis data masyarakat, indikator kinerja (surveilans) seringkali digunakan estimasi jumlah kasus yang ada di masyarakat, baik berdasarkan hasil penelitian dan atau berdasarkan hasil-hasil surveilans sebelumnya, atau hasil surveilans di tempat lain.

Surveilans AFP menggunakan indikator kinerja ditemukannya kasus AFP sebesar minimal 2 per 100.000 anak usia kurang dari 15 tahun pertahun. Artinya, jika jumlah kasus AFP yang ditemukan pada suatu Provinsi kurang dari 2 per 100.000 anak usia kurang dari 15 tahun pertahun, maka dikatakan surveilans dilaksanakan dengan kualitas kinerja rendah.

Pada surveilans AFP tersebut, estimasi kasus AFP yang ada pada suatu populasi adalah lebih dari 2 kasus per 100.000 populasi anak berusia kurang dari 15 tahun. Surveilans AFP yang baik adalah jika semua kasus AFP ditemukan dan diperiksa. Pada program-program pengendalian penyakit, dimana tindakan terhadap kasus itu merupakan sasaran program, seringkali membuat estimasi kasus sebagai indikator kinerja surveilans, misalnya pada program pengendalian pnemonia, pengendalian TBC, pengendalian penyakit tidak menular, dsb. Disini, surveilans berperan sebagai bagian program untuk menemukan kasus untuk diobati atau tindakan lain.

Dalam dokumen Surveilans Epid (Halaman 43-63)

Dokumen terkait