• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3. Analisis Estimasi Metode Two SLS

Two SLS terdiri dari dua tahap, pertama adalah untuk menentukan variabel dependent Model (1) yang juga akan digunakan sebagai variabel independent dalam Model (2). Model (1) adalah:

SB = c0 + c1 DPTt-1 + c2 Yc + c3 INF + μ

Analisis dengan OLS diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.5. Hasil Regresi Faktor-faktor yang Suku Bunga

SB = 22,89475 – 0,000126 DPTt-1 – 3,882897 YC + 0,1117133 INF + 0,909857 Dm Std.Er. : (0,000316) (2,857137) (0,049462) (3,656250) t-stat : (-0,400221) (-1,359017) (2,368153)** (0,24885) R2 : 0,5932 F-stat : 5,10414*** DW-test : 2,123787 Prob : 0,009496 Sumber : Lampiran 2

Ket. : ** = signifikan pada α 5 %. *** = signifikan pada α 1 %.

Berdasarkan persamaan tersebut dapat dihitung tingkat suku bunga (SB1) setiap tahun, yang kemudian dimasukkan sebagai variabel independent pada tahap kedua (step 2), dengan model:

DPT = b0 + b1 DPTt-1 + b2 SB1 + b3 Yc + b4 DM + μ

Analisis dengan OLS terhadap model 2 diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.6. Hasil Regresi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dana Simpanan DPT = -8616,570 + 1,2286 DPTt-1 + 363,946 SB1 + 1074,891 Yc – 1,351723 DM Std.Er. : (0,098007) (115,9244) (784,714) (931,938) t-stat : (12,536)*** (3,139)*** (1,3698) (-0,0014) R2 : 0,9893 F-stat : 323,581*** DW-test : 2,78102 Prob : 0,0000 Sumber : Lampiran 4

Ket. : *** = signifikan pada α 1 %.

Berdasarkan uji t-statistik (uji secara parsial), dapat diketahui bahwa tabungan tahun sebelumnya, suku bunga, pendapatan perkapita, dan kondisi perekonomian (dummy) berpengaruh positif terhadap penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara. Berikut ini hasil uji t dari masing-masing variabel bebas.

a. Tabungan tahun sebelumnya

Hasil estimasi menunjukkan bahwa tabungan tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara. Hal ini berarti bahwa jika tabungan tahun

sebelumnya meningkat, maka penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara semakin meningkat. Koefisien regresi tabungan tahun sebelumnya sebesar 1,2286 berarti bahwa setiap peningkatan tabungan tahun sebelumnya sebesar Rp. 1 milyar, maka menyebabkan peningkatan penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara Rp. 1,2286 milyar, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 12,536 yang lebih besar dibandingkan t-tabel (α 1 % = 2,947). Hal ini berarti bahwa variabel tabungan tahun sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara pada tingkat keyakinan 99 %.

Hasil penelitian ini dapat dijelaskan bahwa masyarakat tetap berusaha untuk meningkatkan tabungannya pada perbankan. Hal ini juga berhubungan dengan berbagai promosi yang dilakukan oleh pihak bank untuk menarik dana masyarakat yang semakin besar, melalui sejumlah hadiah-hadiah, dimana semakin besar jumlah tabungan, hadiah yang ditawarkan juga semakin besar.

b. Suku Bunga

Hasil estimasi menunjukkan bahwa suku bunga berpengaruh positif terhadap penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara. Hal ini berarti bahwa jika suku bunga meningkat, penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara semakin meningkat. Koefisien regresi suku bunga sebesar 363,946 berarti bahwa setiap peningkatan

suku bunga sebesar 1 persen, maka menyebabkan peningkatan penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara Rp. 363,946 milyar, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 3,139 yang lebih besar dibandingkan t-tabel (α 1 % = 2,947). Hal ini berarti bahwa variabel suku bunga berpengaruh signifikan terhadap penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara pada tingkat keyakinan 99%.

Menurut Keynes pengaruh tingkat bunga terhadap tabungan nasional sangat kompleks serta banyak kemungkinan yang akan terjadi. Di samping itu juga membutuhkan lag yang cukup lama (Mikesell dan Zinser, 1973; Molho, 1986). Arrieta (1988) dalam studinya menyimpulkan bahwa tingkat bunga berpengaruh positif terhadap tabungan nasional. Muradoglu dan Taskin (1996) dalam penelitiannya menemukan bahwa efek tingkat bunga dapat dijelaskan dari keputusan konsumsi intertemporer. Peningkatan tingkat pengembalian tabungan akan meningkatkan tabungan tetapi efek pendapatan riil terhadap tingkat pengembalian mengakibatkan tabungan menurun.

c. Pendapatan Perkapita

Berdasarkan hasil estimasi diketahui bahwa pendapatan perkapita berpengaruh positif terhadap penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara. Hal ini berarti bahwa peningkatan pendapatan perkapita akan meningkatkan penghimpunan dana masyarakat pada bank

pemerintah di Sumatera Utara. Koefisien regresi pendapatan perkapita sebesar 1074,891 berarti bahwa setiap peningkatan pendapatan perkapita sebesar Rp. 1 juta, maka menyebabkan peningkatan penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara Rp. 1074,891 milyar, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 1,3698 yang lebih kecil dibandingkan t-tabel (α 10 % = 1,753). Hal ini berarti bahwa variabel pendapatan perkapita tidak berpengaruh signifikan terhadap penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara. Pengaruh pendapatan perkapita yang tidak signifikan berhubungan dengan kondisi perekonomian daerah Sumatera Utara yang belum sepenuhnya berlangsung secara normal sebagai akibat krisis ekonomi yang belum pulih. Bahkan kebijakan pemerintah menaikkan harga-harga seperti BBM, tarif listrik dan telepon menyebabkan kemampuan masyarakat untuk menabung belum signifikan. Namun dalam hal ini pengaruh dari pendapatan perkapita adalah positif terhadap peningkatan tabungan, artinya semakin tinggi pendapatan perkapita, maka tabungan masyarakat pada bank pemerintah juga semakin tinggi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini semakin menguatkan hasil penelitian Tjahyono (2005) yang menyatakan bahwa faktor-faktor ekonomi makro yang mempengaruhi secara positif terhadap penghimpunan dana masyarakat adalah variabel pendapatan perkapita (Yt) dan jumlah uang beredar (M).

Sedangkan hasil penelitian Darmawan (2006), menunjukkan bahwa bahwa pendapatan masyarakat memiliki dampak positif signifikan terhadap tingkat tabungan masyarakat antar daerah di Indonesia. Perbedaan dengan hasil penelitian ini lebih disebabkan cakupan data penelitian, dimana penelitian Darmawan berfokus pada antar daerah, khususnya daerah Jawa dan luar Jawa, dengan periode waktu penelitian 1976 – 2004, sedangkan penelitian ini hanya difokuskan pada tabungan masyarakat di Bank Pemerintah di Sumatera Utara.

Rossi (1988) melakukan studi empiris mengenai dampak pendapatan terhadap tabungan dengan menggunakan data time series untuk 49 negara dengan periode waktu 1973-1983. Studi ini menemukan hasil bahwa adanya dampak positif dari tingkat pendapatan sekarang (current income level) terhadap tingkat tabungan. Menurut hipotesis pendapatan permanen (The Permanent-Income Hypothesis), masyarakat akan membelanjakan sebagian besar dari pendapatan permanen untuk konsumsi dan pendapatan transistori (penggunaannya belum ditentukan) akan dialokasikan untuk tabungan.

d. Dummy Variabel Kondisi Perekonomian

Hasil estimasi menunjukkan bahwa kondisi perekonomian berpengaruh negatif terhadap perkembangan penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara. Hal ini berarti bahwa setelah terjadinya krisis ekonomi sejak tahun 1997 menyebabkan penurunan penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara.. Nilai koefisien regresi dummy variabel sebesar -1,3517 berarti bahwa kondisi setelah krisis ekonomi

penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara menurun sebesar Rp. 1,3517 milyar, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai -0,0014 yang lebih besar dibandingkan -t-tabel (α 10 % = -1,753). Hal ini berarti bahwa variabel kondisi perekonomian tidak berpengaruh signifikan terhadap penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Tjahyono (2005) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi penghimpunan dana masyarakat adalah krisis moneter. Krisis moneter menunjukkan pengaruh negatif terhadap penghimpunan dana masyarakat yang disimpan dalam Bank Pemerintah dan Bank Swasta Nasional di wilayah propinsi Jawa Timur selama periode tahun 1988 - 2001.

Dari masing-masing variabel dependent (variabel terikat) dan variabel independent (variabel bebas) yang disertakan dalam model estimasi pada Tabel 4.6 di atas, diperoleh koefisien determinasi (R²) sebesar 0,9893 berarti secara keseluruhan variabel tabungan tahun sebelumnya, suku bunga, pendapatan perkapita, dan kondisi perekonomian mampu menjelaskan variasi penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara sebesar 98,93 persen selama kurun waktu yang diteliti. Sedangkan sisanya sebesar 1,07 persen, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.

Bila dilihat secara bersama-sama (serentak) dari variabel bebasnya berarti tabungan tahun sebelumnya, suku bunga, pendapatan perkapita, dan kondisi perekonomian mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penghimpunan dana masyarakat pada bank pemerintah di Sumatera Utara pada tingkat keyakinan 99 persen. Hal ini dapat dilihat dari nilai F-statistik sebesar 323,581 > F-tabel (5:14) sebesar 4,56 pada α 1 %.

4.3.2. Uji Autokorelasi

Dalam penelitian ini terdapat data runtun waktu kelambanan atau lag, yaitu dana simpanan tahun sebelumnya. Oleh karena itu uji autokorelasi dilakukan dengan H-statistik, sebagai berikut:

h = (1 – ½ d) )] ( N[var -1 N 1 β dimana : d = D.W. statistik N = jumlah observasi

Var (β1) = varian koefisien regresi untuk lag variabel

Dari hasil estimasi, standard error variabel dana simpanan tahun sebelumnya (β1) = 0,098007, dengan nilai DW statistik sebesar 2,78102, maka:

Var (β1) = (0,098007)2 = 0,00960537 h = (1 – ½ x 2,78102) 537) 20(0,00960 -1 20

= (1 – 1,39051) x 4,9785 = -1,94

Berdasarkan kriteria h-statistik, tidak ada autokorelasi jika -1,96 < h-hitung < 1,96. Hasil perhitungan menunjukkan h-hitung -1,94 yang berarti -1,96 < -1,94 < 1,96. Dengan demikian tidak ditemukan masalah autokorelasi dalam model analisis.

Dokumen terkait