ANALISIS METODE
A. ANALISIS METODE PENETAPAN HARI RAYA IDUL FITRI 1.PERHITUNGAN ABOGE DESA LOSARI
3. Analisis Existensi Perhitungan Aboge
Ditengah kemajuan ilmu dan tehnologi yang perkembangannya begitu cepat menyebar keseluruh pelosok nusantra Dusun Losari Desa Gunungsari masih menggunakan metode petung Jawa dalam melakukan segala sesuatunya. Dari dulu sampai sekarang perhitungan ini masih diberlakukan di Dusun ini. Meski sebenarnya sifat sebuah keilmuan itu berkembang dan berubah sesuai dengan waktu/ zammannya akan tetapi di Dusun ini sebuah bentuk keilmuan petangan Jawa yang merupakan warisan dari pengetahuan dan pengalaman orang-orang terdahulu masih diberlakukan sampai saat ini. Hal ini merupakan sebauah kemunduran dari sebuah keyakinan terhadap konsep kebenaran secara ilmiah. Karena ilmu yang sudah terbukti kebenarannya tidak dapat berperan secara komprehensif dalam kehidupan keyakinann masyarakat. Adapun yang melatar belakangi masih tetap berlakunya petangan Jawa Aboge ini adalah:
a. Dasar dari perhitungan
Primbon Jawa dalam hal penetapan hari raya Idul Fitri Jama’ah Aboge Dusun losari menjadi sumber dari perhitungan. Al-Quran dan Al-Hadis bukan menjadi dasar mereka dalam penetapannya, meskipun penetapan hari raya Idul Fitri merupakan sebuah bentuk penetapan hari beribadah. Hal ini menjadi salah satu
70
penyebab masih diberlakukannya petangan abboge. Karena sumber yang digunakan bukanlah Al-Quran ataupun Al-Hadis dimana kepercayaan terhadap petuah nenek moyang masih dipegang dan diyakini secara kuat di Dusun ini. Dari pendapat penulis, keyakinan yang dipertahankan oleh Jama’ah Aboge Dusun losari merupakan bentuk manifestasi dari kurang memahaminya Jama’ah Aboge dalam hal penetapan hari raya Idul Fitri yang disyari’atkan dalam Islam. Tidak mengetahui pentingnya metode yang dianjurkan nabi dalam hal penentuan waktu beribadah. Hal ini wajar kiranya karena segi keilmuan yang tidak diperbaharui dalam diri Jama’ah dan sesepuhnya. Selain itu dari sumber yang digunakan yakni prembon Jawa belum adanya perubahan dari Aboge ke Asapon dari setiap petangan yang dilakukan. Artinya petangan yang ada sesuai dengan perhitungan masa Aboge belum direvisi dan dirubah kedalam petangan sisitem Asapon.
b. Kurangnya Sosialisasi Kalender Jawa.
Minimnya sosialisasi penanggalan Jawa sangat lah mempengaruhi penggunaan Hisab Jawa Aboge di Dusun Losari saat ini. Masyarakat hanya mengenal Hisab Jawa Aboge saja. Perubahan tahun Aboge ke tahun Asapon dalam Hisab Jawa sama sekali tidak diketahui olah mereka. Masyarakat Aboge di Losari memang tidak mengetahui adanya perubahan tahun Jawa. Seperti telah diuraikan dalam bab sebelumnya, penganut Aboge di Dusun
71
Losari tidak mengetahui jika ada tahun Ajumgi. Selanjutnya berganti ke Amiswon, Aboge, dan Asapon. Tahun Jawa Aboge yang seharusnya sudah berakhir pada tahun 1936 M namun masih digunakan oleh masyarakat Aboge desa Losari, kurangnya sosialisasi tersebut karena saat itu masih dijajah oleh Belanda 3,5 abad dan Jepang beberapa tahun, sehingga pihak Kraton tidak bisa memberi informasi tentang perubahan dari Aboge ke Asapon. Perubahan tersebut sesuai dengan pengumuman serat kekancingan Kraton no 54 tanggal 5 Pebruari tahun 1933 M, yakni perubahan Aboge ke Asapon. Penduduk Jawa hanya mengenal sampai periode Aboge sekitar tahun 1800 Jawa. Pada masa itu Negara kita dalam suasana menderita, sehingga tidak sempat memikirkan tentang kalender Jawa apalagi yang berlaku secara umum adalah Kalender Masehi. Sampai sekarang orang-orang Jawa yang kelahiran tahun 1930 M dan masih hidup, hanya Kitab yang digunakan sesepuh Jama’ah Aboge dalam penetapan hari raya Idul Fitri bukan Al-Quran, Hadis atau kitab-kitab ulama Islam. Buku/ kitab Primbon yang menjadi pegangan bagi para sesepuh ini masih menggunakan perhitungan system Aboge.
c. Pendidikan yang relative rendah dari kebanyakan masyarakatnya. Penganut Aboge yang ada di Dusun Losari kebanyakan adalah orang-orang tua yang memiliki latar belakang pendidikan SD atau bahkan tidak sampai selesai. hampir Sebagian besar masyarakat di
72
DusunLosari mengikuti penentuan awal bulan kamariah dengan Rukyah Jawa sistem Aboge, nilai kuantitasnya mencapai 60% persen. Akan tetapi lambat laun pengikut Aboge berkurang seiring banyaknya anak-anak yang masuk sekolah dan wafatnya para sesepuh yang kuat pengaruhnya. Faktor pendidikandan perkembangan informasi sangatlah mempengaruhi keberadaan masyarakat Aboge di Dusun Losari. Semakin banyak masyarakat yang mengikuti pendidikan formal, akan menjadikan semakin berkurangnya pengikut Aboge di Desa Losari.
Pendidikan yang rendah merupakan salah satu faktor bagi masyarakat yang saat ini masih meyakini Rukyah Jawa Aboge dalam penentuan hari raya Idul Fitri. Potret ini terlihat dari perkembangan penganut Rukyah Jawa Aboge. Dari tahun-ketahun tidak mengalami perkembangan namun malah penurunan. Karena semakin banyak anak-anak yang masuk sekolah dan banyaknya tokoh-tokoh utama yang menganut Rukyah Jawa Aboge meninggal dunia. Sehingga semakin lama pengaruh Rukyah Jawa Aboge semakin redup. Aboge yang ada di Dusun Losari bukanlah sebuah organisasi seperti Muhammadiyah ataupun NU sehingga tidak ada regenerasi dan juga tidak menyiapkan generasi secara khusus. d. Keyakinan masyarakatnya.
Keyakinan ataupun kepercayaan masyarakat yang mengiktuti Hisab Jawa Aboge di Dusun Losari masih sangat
73
kental, sehingga masukan-masukan yang datangnya dari luar sering kali sulit untuk diterima oleh masyarakat. Misalkan masukan yang datangnya dari organisasi NU disekitar desa Losari, menurut penuturan Kh. Subhi selama ini sudah pernah memberikan sosialisasi terkait pemahaman persoalan penentuan awal bulan Qomariah. Hendaknya persoalan penentuan awal bulan Qomariah dibedakan antara tradisi dan Agama. Namun demikian, kami sebagai warga NU mengambil sikap toleransi dalam menyikapi perbedaan penentuan awal bulan yang ada di masyarakat. Sikap agree indisagreement(ittifaq fi al-ikhtilaf). Masyarakat yang saat ini masih mengikuti penanggalan Jawa dengan sistem Aboge meyakini, bahwa Aboge merupakan peninggalan para leluhur mereka. Peninggalan ini harus terus dilestarikan dalam rangka memberikan penghormatan kepada leluhur. Kepercayaannya terhadap leluhur telah mendarah daging di hati mereka, sehingga sampai sekarang mereka tetep berusaha untuk melestarikan Hisab system Aboge tersebut. Penggunaan Hisab Jawa Aboge sebagai penentuan hari raya Idul Fitri merupakan salah satu dari pemanfaatan HIsab Jawa Aboge tersebut. Hisab Jawa juga digunakan dalam penentuan hari menyangkut adat-istiadat yang mereka pegangi, seperti Suronan, sedekah bumi, dan juga meyangkut petangan Jawa yang berhubungan dengan penentuan
74
hari tertentu yang dianggap hari baik bagi masyarakat yang meyakini Hisab Jawa Aboge.