• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN LAPANGAN

B. Penetapan hari raya Idul fitri Aboge di Dusun Losari

Penganut Rukyah Jawa di Dusun Losari masih murni mengikuti perhitungan kalender Jawa sistem Aboge dalam penetapan hari raya Idul Fitri tanpa ada perubahan ke Asapon. Aboge yang memiliki arti bahwa tanggal 1 Suro Tahun Alip jatuh pada hari Rabu Wage. Perhitungan Aboge ini mereka dapatkan dari nenek moyang mereka yang diwariskan secara turun-temurun. Seperti penuturan bapak Kasten bahwa perhitungan Aboge berasal dari nenek moyang yang diwariskan kepada kakeknya kemudian kepada kedua orang tuanya dan akhirnya kepada dirinya, karena agama Islam yang dipegang oleh masyarakat Aboge di Losari adalah agama keturunan, maka mereka mengikuti keyakinan nenek moyang mereka tersebut.

Dalam penetapan awal bulan kamariah, penganut Hisab Jawa Aboge yang ada di Dusun Losari tidak memiliki lembaga ataupun tim khusus seperti yang ada pada ormas-ormas Islam. Hal ini karena Aboge sendiri bukanlah organisasi masyarakat seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya. Dalam menetapkan hari raya Idul Fitri Jama’ah Aboge Dusun Losari harus dikomando oleh sesepuh yang ada, karena selain tidak banyak yang bisa menghitung, sebagian masyarakat juga tidak memiliki pedoman khusus. Pedoman yang dimakasud adalah berupa tabel perhitungan ataupun almanac perhitungan Jawa untuk menetapkan hari raya Idul Fitri. Dalam Hisab Jawa yang digunakan Jama’ah Aboge dusun losari dengan menggunkan Hisab Jawa Aboge yang berlaku selama satu windu. Sedang

47

satu windu dalam tahun Jawa 8 tahun (daur dalam Kalender Jawa), dan setelah delapan tahun akan kembali pada tahun pertama.

Selain itu, dalam penetapan hari raya Idul Fitri, tidak ada musyawarah penetapan, rembuk, pengumuman, yang dilakukan baik sesepuh Aboge dusun ini ataupun para Jama’ah Aboge yang mengikuti petungan Aboge. pengamatan bulan baru Syawal ataupun mendengarkan keterangan saksi yang dipercaya untuk merukyahpun juga tidak dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat yang mengikiti Aboge, walaupun demikian tidak ada perbedaan yang terjadi pada penganut Aboge baik di Dusun Losari maupun di Dusun yang lainnya, yang mengikuti perhitungan Aboge sebagaimana yang dikemukakan bapak Kasten:

“hari raya Idul Fitri yang menggunakan pitung Aboge tidak berdasarkan pengumuman, musyawarah, petungan pemerintah ataupun penetapan. Karena jauh-jauh hari telah mengetahui kapan jatuhnya tanggal, misalkan tanggal 1 Pasa, Syawal, dan Besar/ Suro. Dalam bulan Syawal ada istilah Waljiro (bulan Syawal siji-loro), dihitung berdasarkan hari dan pasaran tanggal 1 pada bulan Sura, karena tanggal 1 Sura jatuh pada hari Sabtu dan pasarannya Manis, maka tanggal 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu (siji) dan pasaran Pahing (loro, dihitung dari Manis/ Legi) maka lebarannya pada hari Sabtu Pahing. Jadi, masyarakat Aboge tidak harus memperhitungkan hilal. inilah keyakinan masyarakat Aboge. Sehingga jika pemeritah belum bisa menentukan, kami masyarakat Aboge sudah tau jauh-jauh hari. Bahkah untuk 10 tahun kedepan kami telah mengetahui jatuhnya tanggal”.

Dalam menentukan hari raya Idul Fitri yang jatuh pada awal bulan Qomariah 1 Syawal, penganut Aboge di Dusun Losari tidak melakukan rukyat terlebih dahulu. Mereka murni menggunakan Hisab yang merupakan warisan dari nenek moyang tersebut. Sehingga tidak harus

48

melakukan persiapan rukyat pada tanggal 29 pada bulan-bulan Qamariah, khususnya bulan-bulan ibadah. Jika kelompok lain, mulai ormas dan juga pemerintah harus selalu sibuk untuk melaksanakan rukyat. Mereka tidak perlu melakukannya, karena telah mengetahui jatuhnya tanggal 1 untuk tiap-tiap bulan jauh hari sebelumnya.

Hisab Aboge yang mereka pegangi saat ini, adalah ilmu yang diturunkan dari nenek moyang mereka. Seperti yang dijelaskan oleh bapak Kasten, ketika penulis bertanya siapakah orang yang menjadi guru dalam perhitungan Aboge di Dusun Losari, Jawaban tersebut terekam dalam pemaparannya berikut ini:

“Saya kurang hapal ya, tapi kakek buyut saya dulunnya merupakan seorang tokoh yang mempunyyai peranan di Dusun ini, beliaulah yang pertama kali mengajarkan kepada saya. Dan juga Mbah Harjo Suwito yang mengajarkan perhirungan Aboge. Untuk tokoh muda yang mendalami Aboge waktu itu hanya saya. Namun orang Aboge belum tentu ikut merayakan Aboge, yang yakin mutlak pasti mengikuti Aboge. Sebenarnya, masyarakat Wonosegoro banyak yang menganut Aboge. Namun yang hari raya mengikuti Aboge hanya sebagian saja. Orang-orang Wonosegoro kebanyakan mengikuti Aboge karena mereka mengikuti perhitungan-perhitungan hari (menentukan hari baik) namun dalam penentuan awal Ramadan penentuan Hari Raya Idul Fitri, mengikuti kalender nasional (pemerintah). Kami tidak mengikuti NU atau Muhammadiyah karena kami yakin dengan kepercayaan kami sendiri”.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh bapak Sukimin selaku ketua Rt dan juga salah seorang sesepuh Aboge ketika ditanya:

“Aboge wonten Dusun Losari meniko sampun wiwit jaman sien Wiwit tahun 1953 kulo pindah ten Dusun meniko sampun wonten pitung Aboge, dadose kulo mboten mangertosi bilih pitungan Aboge kapan tumibane wonten dusun meniko, ingkang kulo ngertosi, Aboge meniko sampun wonten wiwit kulo mapan wonten

49

dusun losari meniko. Kulo piambak angsal pitungan Aboge meniko ilmu saking tiang sepah kulo ugi asil kulo mployo dateng guru kulo inggih meniko Kiai Munajib saking Kudus, terus kulo mployo maleh dateng simbah Kiai Solikin saking Suroboyo”.

Dalam pemaparan bapak Sukimin ini diterangkan awal mula perhitungan Aboge yang telah ia kuasai. Perhitungan Aboge yang ia kuasai merupakan ilmu yang turun temurun dari keluarganya. diturunkan oleh orang tuanya yang juga merupakan penganut kepercayaan pitung Jawa Aboge. Selain itu beliau paparkan juga bahwa ia juga sempat mengembara/ mployo dalam keilmuan pitung Aboge kepada salah seorang kiai penganut faham Aboge yang cukup terkenal pada masa itu, yakni simbah Kiai Munajib dari Kudus.

Sejarah awal mula Hisab Jawa Aboge sebagai metode untuk menetapkan hari raya Idul Fitri di Dusun Losari tidak di ketahui secara tepat permulaanya. Berdasarkan pemaparan beberapa tokoh Aboge di Losari, Hisab Aboge Dusun Losari merupakan hasil penyebarluasan dari keraton solo yang di bawa oleh orang-orang terdahulu. Tetapi ada juga sesepuh lain yang mengemukakan hal yang berbeda, metode Hisab Aboge di Dusun ini merupakan Hisab yang bersumber dari kalender Jawa yang di bawa oleh Sunan Kalijaga dalam rangka penyebaran agama Islam di Jawa tengah. Terlepas dari perbedaan pendapat yang muncul terkait dengan awal mula Hisab Aboge Dusun ini, terdapat persamaan yang dapat ditarik garis tengah sebagai penghubung perbedaan yang ada. Yaitu kesamaan antara Almanac dan sumber perhitungan Hisab Aboge di Dusun ini yang

50

dimiliki oleh para sesepuh Dusun ini. Perhitungan tahun Jawa Aboge yang mereka gunakan adalah sebagai

berikut :

NO TAHUN HARI DAN PASARAN

HARI PASARAN

1 ALIP REBO WAGE

2 EHE AHAD PON

3 JIMAWAL JUM’AH PON

4 JE SELOSO PAING

5 DAL SETU LEGI

6 BHE KEMIS LEGI

7 WAWU SENEN KLIWON

8 JIMAKHIR JUMAH WAGE

Nama-nama tahun di atas memiliki arti masing-masing, Alip artinya ada-ada (mulai berniat), Ehe memiliki arti tumandang (melakukan), Jimawal artinya gawe (pekerjaan), Je adalah lelakon (proses, nasib), Dal artinya urip (hidup), Be memiliki arti bola-bali (selalu kembali), Wawu artinya marang (ke arah), Jimakir artinya suwung (kosong). Kedelapan tahun tersebut membentuk kalimat “ada-ada tumandang gawe lelakon urip bola-bali marang suwung” (mulai melaksanakan aktifitas untuk proses kehidupan dan selalu kembali kepada kosong). Tahun dalam bahasa Jawa memiliki arti wiji (benih), kedelapan tahun itu menerangkan proses dari perkembangan wiji yang selalu kembali kepada kosong yaitu lahir-mati, lahir-mati yang selalu berputar.

Kalender ini menyatakan bahwa satu windu terbagi kedalam 8 tahun. Komunitas Masyarakat Aboge Dusun Losari merupakkan

51

masyarakat yang sangat kental akan keyakinan terhadap nenek moyang, sangat menghargai dan menyakini terhadap segala sesuatu yang berasal dari nenek moyang( tinggalan poro leluhur). Ibarat seseorang berjalan menyusuri dunia haruslah tedapat petunjuk untuk sampai pada tujuan utama, guna kesuksesan sebuah tujuan. Maka disinah peranan dari peninggalan para leluhur bagi komunitas Aboge di Dusun ini, sebagai petunjuk mencapai keselamatan, ketenanggan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat. Merupakan sebuah kenyataan bahwa Aboge merupakan system kalender Jawa yang keberadaannya telah disenyawakan dengan kalender Hijriiah. Maksudnya adalah bahwa Aboge bukan merupakan petangan Jawa murni, Aboge merupakan system kalender Jawa yang telah dirubah sesuai dengan kalender Hijriah. Namun karena petangan Jawa juga menggunakan kalender ini dalam perhitunganya maka disebutlah bahwa system kalender Aboge mengandung petangan Jawa. Dan orang orang yang mengikuti dan menggunakan petangan Jawa disebut sebagai komunitas Aboge.

Komunitas Aboge di Dusun ini merupakan komunitas mayoritas dengan presentase 60% dari jumlah keseluruhan warganya. Tokoh sepuh Aboge di desa ini adalah bapak Kasten yang merupakan iman masjid di komunitas ini dan bapak Sukimin sebagai salah satu ketua Rt di Dusun ini.

52

C. Dasar perhitunggan Jama’ah Aboge Dusun Losari.

Untuk memperoleh data yang jelas dan lengkap mengenai prinsip penanggalan Aboge yang dimilik di Dusun Losari, penulis menanyakan langsung mengenai informasi tersebut kepada bapak Kasten (sesepuh) Aboge di Dusun Losari. Bapak Kasten tercatat sebagai Warga Dusun Losari yang sekaligus menjadi Sesepuh kelompok Aboge di Dusun Losari. Dijelaskan oleh bapak Kasten, bahwa penganut faham Aboge atau yang mengikuti faham Aboge dalam hal penetapan hari raya Idul Fitri berjumlah kurang lebih 65 keluarga denagn total keseluruhan sekitar 180, terdiri dari 110 merupakan orang dewasa 70 remaja dan anak anak dari keluarga mereka, hingga sampai saat ini sebagaimana yang dikemukakan oleh kepala Dusun. Bapak Kasten menjelaskan bahwa:

“petungan Aboge meniko kulo mboten mangertosi wonten dasari ipun nopo mboten ten kitab suci Al-Quran nopo dene Hadis. Ananging pitungan Aboge meniko wonten lan kacatet ing buku Primbon. Keterangan ingkang kulo tampi mboten wonten saking ayat-ayat suci Al-Quran Nopodene Hadis ingkang nuturke petangan Aboge”

Maksudnya adalah tidak ada dalil yang detail dari ayat Al-Our’an. ataupun dari Hadis Nabi yang menjelaskan adanya ajaran penanggalan Aboge. Hal yang sama juga dikemukakan oleh bapak Sukimin yang juga merupan tokoh dari Aboge di Dusun ini Ia menjelaskan, bahwa ajaran tersebut memang bukanlah ajaran yang terdapat tuntunannya dalam Al-Quran maupun Al-Hadist. ia mendapatkan ajaran metode Rukyah ini dari nenek moyangnya atau mbah-mbahnya terdahulu yang sekarang sudah

53

meninggal dunia. Dia mendapatkan ajaran ini dari orang tua beliau yang juga penganut faham Aboge. Lalu ia menggabungkan antara warisan nenek moyang yang didapatkan dari buku-buku Primbon Jawa terutama yang berjudul Primbon “Sabda Guru”. Buku ini memuat tentang catata-catatan dalam menghadapi berbagai macam persoalan yang sedang atau akan dihadapi. Sebagaimana ketika hendak menentukan hari dan tanggal perkawinan yang dianggap sebagai hari baik, menentukan jatunya awal bulan. Buku ini merupakan buku yang memuat berbagai macam petungan Jawa. Secara lengkap metode menentukan awal bulan komunitas Aboge dijelaskan dalam buku ini.

Dengan merujuk nama buku induk Primbon Jawa, maka tampak bahwa pada dasarnya sistem penanggalan Aboge ini difungsikan selain sebagai penentu waktu beribadah juga difungsikan kedalam petangan jawi yaitu catatan-catatan dari leluhur berdasarkan pengetahuan dan pengalaman baik dan buruk yang yang dialami kemudian dicatat dicatat dan dihimpun dalam sebuah buku yang disebut Primbon. Primbon berasal darikata rimbu. Yang berarti simpan atau simpanan, maka Primbon memuatbermacam-macam catatan oleh suatu generasi diturunkan kepada generasi penerusnya. Pada dasarnya Primbon bukan hal yang mutlak kebenarannya, namun sedikit banyak dapat menjadi perhatian sebagai jalan untuk mencapai keselamatan , kesejahteraan dan ketenangan lahir dan batin.

54

Meski Primbon tidak memuat kebenaran secara mutlak namun Primbon hendaknya tidak diremehkan. Karena dalam kenyataannya Primbon merupakan buah karya pengalaman nenek moyang/ orang-orang terdahulu yang belum tentu merupakan kesalahan secara total. Primbon sebagai pedoman penghati-hati mengingat catatan ini merupakan pengalaman para leluhur(orang-orang zaman dulu), juga jangan menjadikan surut atau mengurangi keyakinan dan kepercayaan kepada Allah SWT yang mengatur segala sesuatunya baik yang telah terjadi maupun yang akan dating kemudia dengan kodrat dan iradat-Nya.

Primbon sebagai petangan jawi semacam ini lah yang menjadi dasar penanggalan komunitas Aboge masyarakat Dusun Losari Desa Gunungsari Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali dalam menentukan hari raya Idul Fitri yang jatuh pada awal bulan Syawwal tanggal satu Syawal (bodo cilik) dalam penyebutan komunitas ini.

Perhitungan itu sekaligus menjadi sebuah dasar menentukan tanggal untuk melakukan sesuatu yang penting seperti acara pernikahan, tasyakuran dan hal-hal penting lainnya yang menjadi adat istiadat masyarakat tersebut. Di Primbon tersebut terdapat pula istilah-istilah dina ala, dino ala banget, pati uriping dina, dina anggarakasih, srikaning dina (hari buruk, hari sangat buruk, hidup matinya hari, hari baik, hari yang harus dihindari, dan lain sebagainya). Di dalam buku yang berjudul “Sabda Guru” terdapat sejumlah mana-nama tahun dalam tahun Jawa, yang diawali tahun Alip, Ehe, Djimawal, Dje,Dal, Be, Wawu, dan yang

55

terahir adalah tahun Dajimakir, serta ajaran-ajaran Jawa seperti perhitungan hidup mati manusia, hari-hari kelahiran, hari-hari baik dan buruk.

Selain itu, terdapat juga cendrane pawuakon yang merupakan penjelasan tentang wuku landep, wuku sita, wuku rukil, wuku kurantil, wukutolu, wuku gumbrek, wuku warigalit, wuku wariagung, wuku djulungwangi, wuku sungsang, sampai wuku watugunung. Kemudian ada penjelasan tentang pratelaning padangan, pratelaning paring kelang, masing-masing wuku, dan masih banyak lagi yang semuanya terkait dengan kebutuhan perhitungan bagi masyarakat itu sendiri untuk menjalankan kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam kalender kejawen tidak hanya mempunyai arti dan fungsi sebagai petunjuk hari, tanggal, hari libur dan hari keagamaan tetapi menjadi dasar dan ada hubungannya dengan apa yang terdapat dalam petangan jawi.

Dengan adanya kebutuhan manusia yang banyak maka Primbon menjadi alternatife bagi kebanyakan masyarakat Jawa dalam menghadapinya. Hal ini merukan sebuah kewajaran dikarnakan masyarakat Jawa yang kental akan budaya mitologi yang telah ditanamkan sejak usia dini dalam mengajari anak-anaknya.

D. Metode Penetapan Hari Raya Idul Fitri Jama’ah Aboge Dusun Losari

Dokumen terkait