HASIL PENELITIAN
F. Analisis Kebutuhan Tempat Tidur pada Rumah Sakit di Kota Banda Aceh
5.1. Analisis Faktor Internal terhadap Pengembangan VIP RSUM
Analisis faktor internal merupakan bagian integral dalam studi kelayakan,
dalam hal ini studi kelayakan pengembangan ruangan VIP di RSUM. Analisis
tersebut meliputi ketenagaan, keuangan, standar kerja, pola kunjungan pasien, dan
struktur organisasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dilihat dari aspek ketenagaan, RSUM sudah mempunyai alokasi tenaga yang cukup untuk ruangan VIP. Jumlah tenaga tersebut adalah 433 orang tenaga medis, paramedis dan non medis, dengan perbandingan tempat tidur sebanyak 106 tempat tidur, dan jika ditambah 12 ruangan untuk VIP maka akan menjadi 118 tempat tidur juga masih mencukupi. Hal ini didasarkan pada Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 262/Menkes/Per/VI/1979 tentang kebutuhan minimum tenaga kesehatan di RS kelas C. Berdasarkan Permenkes tersebut situasi ketenagaan di RSUM saat ini jika dibandingkan dengan jumlah tempat tidur adalah tenaga medis yang dibutuhkan sebanyak 13 orang untuk 118 tempat tidur. Jumlah tenaga medis yang ada sebanyak 35 orang (dokter spesialis 2 orang yaitu THT dan Obgyn, dokter umum 29 orang dan dokter gigi 4 orang) secara umum jumlah dokter sudah sangat mencukupi, akan tetapi untuk tenaga spesialis belum memenuhi standarisasi tenaga spesialis rumah sakit tipe C yaitu minimal 4 spesialisasi dasar (penyakit anak, penyakit dalam, bedah dan obgyn). Tenaga dokter
spesialis yang dimiliki RSUM sekarang hanya ada 2 orang yaitu THT dan Obgyn, kekurangan tenaga spesialis saat ini dipenuhi dengan kerja sama RSUM dengan RSU Zainoel Abidin yang merupakan rumah sakit milik Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Hasil wawancara dengan Direktur RSUM (September, 2008), untuk jangka panjang pihak Pemerintah Kota Banda Aceh sudah menyekolahkan sebanyak 14 orang dokter dengan berbagai jenis spesialisasi tahun 2006, yaitu: spesialis anak, penyakit dalam, anestesiologi dan penyakit mata masing-masing 2 orang, bedah, radiologi, obgyn, penyakit kulit kelamin dan patologi klinik masing-masing 1 orang dan diharapkan hingga tahun 2010 sudah ada yang menyelesaikan masa pendidikannya. Tenaga paramedis perawatan yang ada sebanyak 186 orang juga sudah mencukupi walaupun ditambah 12 Tempat tidur lagi untuk VIP. Begitu juga dengan tenaga paramedis non perawatan dan tenaga non medis saat ini sudah mencukupi.
Berdasarkan analisis SWOT pada analisis strategi (kuadran), maka kebutuhan tenaga kesehatan merupakan strategi untuk mengatasi kelemahan di RSUM dan kompetitornya. Bentuk analisis tersebut adalah melalui peningkatan jumlah SDM dan peningkatan kualitas SDM kesehatan. Data profil RSUM (2008) menunjukkan bahwa untuk tenaga bidan 87,3% sudah mengikuti pelatihan Asuhan Persalinan Normal, selain itu dilihat dari aspek tenaga manajemen kesehatan, selama kurun waktu 2 tahun terakhir, jumlah SDM kesehatan yang sudah menyelesaikan pendidikan setingkat Pascasarjana Kesehatan sudah lebih dari 6 (enam) orang baik di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada maupun Universitas Sumatera Utara, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan manajemen
dan pelayanan RSUM. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dilihat dari aspek ketenagaan pengembangan VIP sudah sangat layak di RSUM.
Petikan wawancara mendalam menunjukkan bahwa perencanaan pengembangan VIP sudah menjadi kebutuhan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat, dengan menyediakan tenaga kesehatan yang cukup dan berkompeten.
Kebutuhan SDM dalam pengembangan VIP sudah mutlak, tidak hanya dari aspek kuantitas tapi termasuk juga kualitas SDM kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan di ruang VIP RSUM.
Berdasarkan aspek keuangan, juga merupakan bagian integral dari studi kelayakan pengembangan ruangan VIP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan dana pengembangan VIP sebesar Rp. 2.413.800.000,- (dua milyar empat ratus tiga belas juta delapan ratus ribu rupiah) dengan perincian peralatan medis sebesar Rp. 358.800.000,- peralatan nonmedis sebesar Rp. 75.000.000,- dan dana untuk bangunan sebesar Rp. 2.055.000.000. Jumlah dana tersebut selanjutnya disebut sebagai investasi yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Analisis keuangan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui kesiapan anggaran pengembangan VIP, dan batasan waktu dana investasi tersebut kembali. Penilaian investasi dalam penelitian ini hanya menggunakan metode Net Present Value (NPV) dan Payback Periode (PP) dan Internal Rate of Return (IRR) tidak dihitung karena seluruh investasi berasal dari dana APBN yang tidak memerlukan pengembalian bunga pinjaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Net Present Value (NPV) berpola
positif, yaitu sebesar Rp. 292.658.181,- dengan Payback Periode (PP) 5 tahun 3
bulan, artinya investasi dapat dikembalikan selama 5 tahun 3 bulan sejauh tidak
terjadi hal-hal di luar kemampuan rumah sakit seperti bencana alam, atau kebakaran.
umur ekonomis untuk aktiva berupa bangunan adalah 20 tahun dan untuk aktiva
bukan bangunan adalah 4 tahun (Suandy, 2003).
Perhitungan Net Present Value (NPV) dan Payback Periode (PP) dihitung berdasarkan asumsi aliran kas bersih (2010-2019) dari proyeksi tarif kamar VIP
Rp. 300.000,- (berpedoman pada Qanun Walikota Banda Aceh No. 10 Tahun 2003
tentang Tarif Kamar) untuk tahun pertama berjalan dan selanjutnya diasumsikan tarif
kamar meningkat setiap 3 tahun berdasarkan kemampuan dan keadaan sosial
ekonomi masyarakat. Rencana pengembangan ruangan sebanyak 12 kamar, rata-rata
perkiraan LOS adalah 5 hari sesuai dengan LOS pasien rawat inap RSUM tahun 2007
(dapat diestimasikan bila BOR 100% maka pasien dalam 1 tahun adalah 864 orang).
Asumsi BOR VIP tahun pertama mengikuti BOR rata-rata rawat inap RSUM
tahun 2005-2008 yaitu 35%, sehingga estimasi jumlah pasien tahun pertama adalah
35% dari jumlah estimasi pasien VIP dalam 1 tahun yaitu 302 orang. Estimasi aliran
kas bersih tahun 2010 adalah sebesar Rp.299.321.350,- dan pada tahun 2019 aliran
kas bersih mencapai Rp. 1.074.090.081,- di mana aliran kas bersih untuk setiap
tahunnya tidak sama sehingga dalam perhitungan nilai PP adalah menggunakan
model kas bersih yang tidak sama atau berbeda yaitu dengan mengurangi nilai
tahun berikutnya sampai sisa kas bersih tidak dapat dikurangi dengan kas bersih
tahun berikutnya, kemudian sisanya dibagi dengan aliran kas bersih tahun berikutnya
lalu dikali dengan 12 bulan.
Berdasarkan analisis keuangan tersebut, maka pengembangan ruang rawat
inap VIP RSUM layak untuk dilakukan karena nilai Net Present Value (NPV) berpola
positif dan Payback Periode (PP) tidak melebihi umur ekonomis yang berlaku.
Mengingat sumber dana berasal dari APBN sehingga tidak perlu dilakukan
pengembalian bunga. Keadaan tersebut memberikan kesempatan besar bagi RSUM
untuk dapat terus meningkatkan pelayanan rumah sakit guna memperoleh pendapatan
sebesar-besarnya.
Jika direlevansikan dengan analisis SWOT, diketahui bahwa untuk mereduksi
permasalahan jangka waktu peroleh investasi, dan peningkatan pendapatan bersih
VIP nantinya maka perlu dilakukan upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit
seperti pelayanan antrian yang profesional, pelayanan kesehatan yang tepat waktu.
Sedangkan untuk strategi penetapan tarif pelayanan, maka sangat perlu dilakukan
survey kemauan dan kemampuan membayar masyarakat dalam pemanfaatan ruangan
VIP, sehingga penetapan tarif dapat lebih tepat sasaran dan besarnya tarif tidak
memberatkan masyarakat dan dapat sinergis dengan rencana pengembalian dana
investasi RSUM.
Sabarguna (2003), mengatakan bahwa tarif tidak hanya digunakan sebagai
indikator biaya yang harus dibayar oleh pembeli, tetapi juga merupakan suatu tanda
kualitas. Tarif yang terbaik adalah tahu biaya yang dikeluarkan, tahu kemampuan
masyarakat membayar, tahu tarif dari rumah sakit yang lain. Secara teoritis tarif harus
memperhatikan: biaya, perilaku pesaing, kemampuan pasien.
Upaya strategis lainnya yang dapat dilakukan adalah melalui peningkatan
promosi pelayanan kesehatan rumah sakit, guna menarik minat dan keinginan
masyarakat untuk berobat dan memanfaatkan ruangan VIP RSUM nantinya. Bentuk
promosi tersebut adalah melalui advokasi ke pemerintah daerah, peningkatan peran
serta stakeholder serta penggunaan media elektronik dan media cetak mengenai jenis
pelayanan yang ada, ketersediaan sarana dan tenaga kesehatan di RSUM.
Selain itu langkah strategis pada tahun pertama adalah melakukan survei
kepuasan pasien sehingga diperoleh tingkat kepuasan penggunaan VIP RSUM, dan
dapat menjadi evaluasi terhadap peningkatan pelayanan RSUM pada tahun
berikutnya. Karena pada prinsipnya kepuasan pelanggan telah menjadi konsep sentral
dalam wacana bisnis dan manajemen. Pelanggan umumnya mengharapkan produk
berupa barang atau jasa yang dikonsumsi dapat diterima dan dinikmatinya dengan
pelayanan yang baik atau memuaskan. Kepuasan pelanggan dapat membentuk
persepsi dan selanjutnya dapat memposisikan produk perusahaan di mata
pelanggannya rumah sakit merupakan organisasi bisnis, sehingga pendapatan dan
kepuasan konsumen merupakan hal yang paling penting diperhatikan.
Trisnantoro (2003), mengatakan rumah sakit merupakan industri jasa
kesehatan yang pada dasarnya bersifat sosio ekonomi yang dalam menjalankan kegiatannya di samping menekankan penerapan nilai sosial juga harus
memperhatikan prinsip-prinsip ekonomi. Hal tersebut tampak jelas dalam penyelenggaraan suatu rumah sakit swasta yang sumber keuangan atau pendanaannya berasal dari penyandang dana atau investor yang tentunya mengharapkan agar investasinya dapat kembali, dan kemungkinan diharapkan dapat memperoleh keuntungan. Di samping itu, rumah sakit swasta mengemban pula misi utamanya yaitu meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Peran ganda dari rumah sakit swasta yaitu sebagai lembaga sosial dan sebagai unit sosio ekonomi harus dapat berjalan secara terpadu, terencana dan berkesinambungan.
Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam analisis internal adalah ketersediaan sarana dan fasilitas rumah sakit yang mendukung pengembangan ruangan VIP. Hasil analisis sarana dan prasarana menunjukkan bahwa sarana dan pra sarana rumah sakit di RSUM dinilai sudah memadai untuk pengembangan ruang rawat inap VIP, seperti ketersediaan peralatan medis, peralatan non medis, sarana listrik, dan air yang mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan di ruangan VIP RSUM nantinya. Ketersediaan sarana dan fasilitas RSUM saat ini sudah memenuhi standar peralatan untuk rumah sakit tipe C sesuai dengan pedoman teknis yang ditetapkan Departemen Kesehatan RI tahun 2007. Apalagi dalam dana investasi tersedia alokasi dana untuk peningkatan dan penambahan peralatan medis dan non medis guna memberikan kenyamanan pada pasien di ruangan VIP RSUM.
Kebutuhan sarana dan prasarana rumah sakit sangat mutlak diperlukan. Hal
ini menurut Depkes RI (2007), bahwa peralatan baik medis maupun non medis,
persyaratan sesuai dengan standar yang berlaku, untuk menjadi pedoman teknis
sarana, prasarana dan peralatan kesehatan rumah sakit kelas C, yang digunakan dalam
proses perencanaan pengembangan rumah sakit. Berbagai macam investasi dapat
dilakukan di rumah sakit, antara lain adalah: pergantian peralatan medik yang lama
dengan teknologi yang lebih baru, perluasan perlengkapan modal yang sudah ada
misalnya penambahan kapasitas dengan menambah ruangan bangsal, perluasan atau
penambahan produk baru dengan pembelian mesin atau peralatan baru yang belum
pernah dimiliki.
Kebutuhan sarana tersebut salah satunya adalah kebutuhan tempat tidur.
Untuk pengembangan ruang perawatan VIP sebanyak 12 ruangan dibutuhkan tempat
tidur 10% dari kebutuhan tempat tidur secara keseluruhan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa berdasarkan profil RSUM 2007 angka AvLOS rawat inap
adalah 4-6 hari, dengan proporsi rawat inap 0,42 per 1000 penduduk, dan jika
disetarakan 42 orang per 100 penduduk, dan dengan jumlah penduduk sebanyak
214.850 jiwa, maka kebutuhan tempat tidur di rumah sakit Kota Banda Aceh adalah
sebanyak 1.802 tempat tidur, maka untuk VIP sebanyak 10% dari jumlah tersebut
yaitu sebanyak 180 tempat tidur, jumlah tempat tidur untuk kelas VIP saat ini
sebanyak 165 tempat tidur jadi masih tersedia sebanyak 15 tempat tidur lagi sehingga
sangat memungkinkan bagi RSUM dalam pengembangan ruang rawat inap VIP
sebanyak 12 kamar.
Aspek lain dalam analisis faktor internal pengembangan VIP RSUM adalah
menunjukkan bahwa struktur organisasi RSUM dinilai sudah memadai untuk
pengembangan VIP RSUM, yaitu terdiri dari (1) Direktur rumah sakit; (2) Kepala sub
bagian sekretarian dan rekam medik; (3) Kepala sub bagian keuangan dan program;
(4) Kepala seksi keperawatan dan (5) Kepala seksi pelayanan. Selain itu dibawahi
oleh enam kepala sub seksi dan delapan kaur, yaitu kasubsie pelayanan I, pelayanan
II, pelayanan III, asuhan keperawatan, mutu dan etika keperawatan, dan kasubsie
logistik keperawatan, selain itu terdiri dari kaur tata usaha, kepegawaian, rumah
tangga, program dan anggaran, akuntansi, mobilisasi dana, kaur perbendaharaan dan
rekam medik. Struktur organisasi RSUM saat ini sudah berpedoman berdasarkan
Qanun Walikota Banda Aceh tahun 2006.
Berdasarkan profil RSU Meuraxa, bahwa Struktur organisasi RSUM sudah
mempunyai tugas pokok dan fungsi serta Standar Prosedure Operating yang sudah
tertata rapi, dan juga mempunyai beban kerja, bagi masing-masing bagian, juga
dilakukan penilaian analisis beban kerja setiap tahun, berpedoman pada Peraturan
Menteri Dalam Negeri No. 12 tentang Efisiensi Jabatan. Penambahan ruangan VIP
mudah untuk disinergiskan dengan manajemen rumah sakit secara keseluruhan.
Struktur tersebut sudah mengacu pada Kepmenkes No. 436/Menkes/SK/VI/1993
tentang struktur dan proses pelayanan rumah sakit.
Analisis terakhir dalam analisis faktor internal pengembangan ruanganVIP
RSUM adalah menyangkut pola kunjungan pasien. Pola kunjungan pasien yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah kunjungan pasien baik untuk rawat jalan
kecenderungan dan fluktuasi pasien setiap tahunnya serta menjadi dasar asumsi untuk
analisis keuangan dan kebutuhan pelayanan kesehatan termasuk kebutuhan ruangan
kelas seperti VIP.
Hasil penelitian menunjukkan selama kurun waktu 2005-2008 terjadi
kecenderungan pertumbuhan pasien rawat jalan, yaitu 10,4% untuk pelayanan
poliklinik, 38,3% untuk pelayanan unit gawat darurat. Hal ini mencerminkan bahwa
terjadi peningkatan kunjungan pasien ke rumah sakit setiap tahun dengan rata-rata
kunjungan 12,7%. Selain itu dilihat dari kunjungan pasien rawat inap, selama kurun
waktu tersebut terjadi peningkatan nilai BOR yaitu dari 20,5% tahun 2005 menjadi
62% pada tahun 2007 dan hingga Agustus 2008 angka BOR RSUM mencapai 79%.
Kondisi ini menggambarkan bahwa kebutuhan pasien terhadap ruangan rawat inap
merupakan prioritas program dan perencanaan RSUM, termasuk kebutuhan ruangan
VIP.