TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian dan Pengembangan Rumah Sakit
Rumah sakit (RS) adalah suatu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan yang
menyediakan rawat inap dan rawat jalan yang memberikan pelayanan kesehatan
jangka pendek dan jangka panjang yang terdiri dari observasi, diagnostik, terapeutik
dan rehabilitasi untuk orang-orang yang menderita sakit, cedera dan melahirkan
(Permenkes No. 1045/Menkes/Per/XI/2006).
Rumah sakit menurut Anggaran Dasar Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh
Indonesia adalah suatu lembaga dalam mata rantai Sistem Kesehatan Nasional yang
mengemban tugas pelayanan kesehatan untuk seluruh masyarakat (Iskandar, 1998).
Menurut American Hospital Association dalam Aditama (2003) menyatakan
rumah sakit adalah suatu institusi yang fungsi utamanya adalah memberikan
pelayanan kepada pasien-diagnostik dan terapetik untuk berbagai penyakit dan
masalah kesehatan, baik yang bersifat bedah maupun non bedah.
Rumah sakit umum pemerintah adalah rumah sakit umum milik pemerintah
baik Pusat, Daerah, Departemen Pertahanan dan Keamanan maupun Badan Usaha
Milik Negara. Rumah sakit umum daerah adalah rumah sakit umum milik pemerintah
provinsi, kabupaten/kota yang berlokasi di daerah provinsi, kabupaten dan kota
Rumah sakit umum kelas C adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis minimal 4 spesialistik dasar yaitu penyakit dalam, kesehatan anak, bedah dan obstetri-ginekologi dan ditambah dengan penunjang medik, yaitu: radiologi, anestesi/kamar operasi/ICU, laboratorium, gizi/ dapur, farmasi, IPSRS dan laundry (Depkes, 1992; dan Depkes, 1994).
Menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri (2002) bahwa rumah sakit daerah mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan yaitu: upaya penyembuhan, pemulihan, peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan.
Rumah sakit umum daerah mempunyai fungsi sebagai berikut: (a) Penyelenggaraan pelayanan medis; (b) Penyelenggaraan pelayanan penunjang medis dan non medis; (c) Penyelenggaraan pelayanan dan asuhan keperawatan; (d) Penyelenggaraan pelayanan upaya rujukan; (e) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan; (f) Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan; (g) Penyelenggaraan administrasi umum dan keuangan (Qanun Walikota Banda Aceh, 2006).
Menurut Permenkes No. 1045/Menkes/Per/XI/2006 bahwa Rumah Sakit Umum Daerah Kelas C terdiri dari 1 Bagian dan paling banyak 2 Bidang, Bagian terdiri paling banyak 3 Sub bagian dan masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3 Seksi.
Menurut Qanun Walikota Banda Aceh (2006), susunan organisasi RSUM Banda Aceh terdiri dari: (1) Direktur; (2) Sekretariat dan administrasi; (3) Bidang pelayanan; (4) Bidang keperawatan; (5) Bidang perencanaan dan anggaran; (6) Bidang pendidikan dan pengembangan; (7) Sub bagian dan sub bidang; (8) Kelompok jabatan fungsional.
Menurut Departemen Kesehatan (1998), Ruang rawat inap adalah ruang untuk
perawatan pasien yang harus dirawat lebih dari 24 jam dan memerlukan suatu
perawatan kesehatan yang intensif baik dalam hal pengobatan, pelayanan, yang sesuai
dengan kondisi pasien dengan mempergunakan prasarana dan sarana dari rumah
sakit. Ruang rawat inap rumah sakit dapat dikelompokkan dalam beberapa kelas
antara lain: (a) Ruang VIP; (b) Ruang kelas I fasilitas 2 orang, luas kamar kelas I
adalah ± 15 m2/tempat tidur, (c) Ruang kelas II fasilitas 3 orang, luas kamar kelas II
adalah ± 10 m2/tempat tidur, (d) Ruang kelas III fasilitas 6 sampai dengan 8 orang,
luas kamar adalah ± 8 m2/tempat tidur.
Berdasarkan lampiran surat keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medik
Depkes RI No. 0159/Yan.Med/Keu/1987, pembagian jumlah tempat tidur dan kelas
perawatan di rumah sakit, maka dari semua tempat tidur didistribusikan lebih dulu
untuk ruang ICU/ICCU, Neonatus Intensive CareUnit (NICU), Perinatologi, Ruang
Rawat Intensif di UGD dan Unit Detoksifikasi (High Care Unit), dan selebihnya
dibagi untuk ruang perawatan kelas utama, kelas I, kelas II, dan kelas III. Adapun
standar luas ruang perawatan, yaitu : (a) Luas kamar VIP ± 21.5 m2/tempat tidur;
(b) Luas kamar kelas I ± 15 m2/tempat tidur; (c) Luas kamar kelas II ± 10 m2/tempat
tidur; (d) Luas kamar kelas III ± 8 m2/tempat tidur.
Pada suatu rumah sakit dalam merencanakan Unit rawat inap VIP perlu
ditetapkan dahulu prinsip dalam perencanaan instalasi rawat inap VIP. Pada
perawatan terpadu (integrated care) untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang
kamar berorientasi kepandangan luar yang lapang atau ke arah taman dengan jumlah
pasien 1 orang, dengan fasilitas KM/WC di dalam. Luas kamar VIP adalah ± 21,5
m2/tempat tidur (Depkes, 1998).
Menurut Jawes dalam Handajani (2002) menyatakan penggunaan ruang rawat
inap di Amerika dengan tipe 1 tempat tidur dengan satu toilet, untuk pasien adalah 18
m2, dan untuk perawat 5 m2, untuk selasar atau koridor 7 m2, dan total kebutuhan
ruang rawat inap VIP = 30 m2 per tempat tidur. Loebis dkk (2001) mengatakan Luas
kamar untuk 1 orang adalah berukuran 10,00 – 15,00 untuk ruang deluxe dapat dibuat
lebih besar, dilengkapi dengan lemari dan perabot seperti televisi, AC, gorden, vas
bunga dan kamar mandi.
Ruang VIP perlu dirancang agar mencerminkan suatu gambaran yang baik
dari rumah sakit dan pengguna fasilitas VIP dapat merasakan kenyamanan. Ruang
VIP dilengkapi dengan permadani, penempatan dari tempat duduk yang ditata untuk
pengunjung VIP, tumbuhan hidup, ruang tunggu harus diatur dengan menarik.
Ruangan pasien yang dianjurkan adalah ukuran minimum kamar-satu bed pasien
tidak kurang dari 11,61 m2, (125 feet2) dengan lebar minimal 3,81 meter. Banyak
rumah sakit yang memiliki ruangan VIP cukup luas sehingga dapat menampung 2
tempat tidur; dan kondisi ini juga memberikan keluwesan terhadap penambahan
kapasitas tempat tidur mendatang (Kunders, 2004).
Menurut Supriantoro dalam Yudiastuti (2002) menyatakan bahwa rumah sakit merupakan salah satu bentuk perusahaan yang sangat kompleks, baik ditinjau dari aspek organisasi, tekhnologi maupun SDM rumah sakit pun dari waktu ke waktu
selalu dihadapkan pada lingkungan usaha yang berubah. Perubahan lingkungan usaha rumah sakit di Indonesia, saat ini dihadapkan pada beberapa kondisi antara lain: (1) Tantangan pasar global yang berdampak pada makin beratnya tingkat kompetisi dalam fasilitas maupun kualitas pelayanan; (2) Krisis multidimensional yang berdampak semakin tingginya tingkat pembiayaan baik untuk operasional maupun investasi dan perubahan pada perilaku konsumen; (3) Perkembangan tekhnologi industri kesehatan yang mengalami kemajuan pesat.
Menurut Siagian (1995); Loebis dkk (2001) mengatakan bahwa rumah sakit adalah fungsi yang selalu berubah dan berkembang, karena tingkat kebutuhan dan kapasitas yang berubah, berkembangnya cara-cara dan alat-alat pengobatan baru, perubahan cara hidup masyarakat, jenis penyakit yang diderita juga berubah. Tuntutan berbagai pihak yang berkepentingan, mengharuskan para manajer dalam dunia bisnis untuk selalu terlibat dalam perubahan. Instrumen ilmiah untuk mewujudkan perubahan tersebut dikenal dengan pengembangan organisasi, yaitu suatu disiplin ilmu baru yang sangat banyak kaitannya dengan masalah-masalah perilaku organisasi.
Perubahan adalah transformasi dari keadaan sekarang menuju keadaan yang
diharapkan di masa yang akan datang, suatu keadaan yang lebih baik. Pada hakikatnya kehidupan manusia maupun organisasi diliputi oleh perubahan secara berkelanjutan. Di satu sisi karena adanya faktor eksternal yang mendorong terjadinya perubahan, di sisi lainnya justru dirasakan sebagai suatu kebutuhan internal (Wibowo, 2005).
Menurut Hussey dalam Wibowo (2005) faktor yang menjadi pendorong bagi kebutuhan akan perubahan, yaitu (a) Perubahan teknologi terus meningkat,
(b) Persaingan semakin intensif dan menjadi lebih global, yang menekankan pada
pencapaian standar kualitas; (c) Pelanggan semakin banyak tuntutan, yang mengarah
pada mutu produk; (d) Profil demografis negara berubah, yang berpengaruh terhadap
pola kebutuhan masyarakat.
Robbins (2005) juga mengungkapkan ada 6 faktor yang merupakan kekuatan
untuk perubahan, yaitu: sifat tenaga kerja, teknologi, kondisi ekonomi, persaingan,
kecendrungan sosial, dan politik. Selanjutnya, menurut Kreitner dan Kinicki dalam
Wibowo (2005) menjelaskan bahawa kebutuhan akan perubahan dipengaruhi oleh
dua faktor, yaitu external forces (kekuatan eksternal) berasal dari luar organisasi dan
internal forces (kekuatan internal) bersumber dari dalam organisasi. Kekuatan Eksternal meliputi karakteristik demografis (umur pendidikan, tingkat ketrampilan,
gender, migrasi, dan lain-lain), kemajuan teknologi, perubahan pasar, tekanan sosial
dan politik. Kekuatan internal, meliputi problem/prospek SDM, dan perilaku serta
keputusan manajerial. Beberapa faktor yang merupakan kekuatan di belakang
kebutuhan perubahan terencana, yaitu: perubahan dalam produk atau jasa, ukuran dan
struktur organisasi, sistem organisasi, dan introduksi teknologi baru.
Menurut Kunder (2004), untuk melakukan perubahan rumah sakit perlu
dilakukan kajian perencanaan yang dapat membantu lembaga atau badan
pengelolanya. Rencana Induk (jangka panjang) rumah sakit mencakup bidang
dan karakteristik perawatan kesehatan; (3) Studi kebutuhan akan perawatan
kesehatan;
(4) Kekuatan dan kelemahan organisasi dan kompetensi utamanya; (5) Rencana
organisasional; (6) Ukuran dan fasilitas fisik termasuk bangunan dan keterbatasan
lahan; dan (7) Kelayakan finansial.
Menurut Umar (2005) mengatakan secara umum aspek-aspek yang akan dikaji dalam studi kelayakan meliputi: (a) Aspek pasar dan aspek pemasaran, tergantung besar kecil bisnis yang akan dilakukan, umumnya hasil studi kelayakan untuk aspek pemasaran akan memberikan informasi antara lain: bagaimana segmentasi, target dan posisi produk ditetapkan, strategi bersaing, perkiraan penjualan yang bisa dicapai dan market share yang bisa dikuasai; (b) Aspek teknik dan teknologi, meliputi strategi perencanaan dan kualitasnya juga tata letak ruangannya; (c) Aspek manajemen, menyangkut perencanaan dan pengorganisasian seperti rincian pekerjaan yang akan dikerjakan dan pembagian beban kerja dan pembentukan struktur organisasi; (d) Aspek Sumber Daya Manusia, seperti berapa jumlah karyawan yang dibutuhkan, penentuan deskripsi pekerjaan yang jelas, pelatihan dan pengembangan; (e) Aspek keuangan, meliputi penentuan kebutuhan akan dana serta sumbernya, menentukan policy aliran kas, penilaian rencana bisnis terhadap prakiraan pemasukan dan pengeluaran dana investasi dengan metode Profitability Index (PI), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP) dan Break Event Point (BEP); (f) Aspek ekonomi, sosial dan politik, meliputi: kondisi ekonomi dan peran pemerintah dapat menunjang rencana
bisnis, kondisi sosial akan saling mempengaruhi rencana bisnis; (g) Aspek lingkungan industri, meliputi: situasi dan kondisi ancaman masuk bagi usaha yang akan dijalankan perlu diketahui kekuatan dan kelemahannya, situasi persaingan bisnis perlu diketahui untuk menentukan kekuatan, kekuatan tawar menawar pengguna jasa dalam mempengaruhi harga produk yang akan ditawarkan; (h) Aspek yuridis yaitu berpedoman pada peraturan-peraturan yang berlaku; dan (i) Aspek lingkungan hidup yaitu menyangkut dengan proses pengelolaan dampak lingkungan dilaksanakan.
Supriono (1998) menyebutkan banyak faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi perusahaan/organisasi, yaitu: ekonomi, politik (termasuk pemerintah dan aturan-aturannya), pasar dan persaingan, teknologi, sosial, geografi. Dalam mencapai suatu keberhasilan suatu kegiatan maka perusahaan/organisasi menghadapi tantangan-tantangan lingkungan, mereka harus melaksanakan analisis dan diagnosis lingkungan secara efektif.
Nitisemito dan Burhan (2004), secara konsepsional pola pikir dalam suatu studi kelayakan dicerminkan oleh struktur variabel. Struktur variabel yang mempengaruhi suatu studi kelayakan adalah: (1) Pasar, yang harus diperhatikan antara lain: mutu/kualitas, brand loyalitas atau kefanatikan merek para konsumen, struktur pasar meliputi kekuatan daya saing, organisasi pemasaran, promosi penjualan dan harga; (2) Finansial/keuangan, dukungan modal yang cukup; (3) Pelaksanaan fungsi manajemen yang profesional; (4) Teknis, pemanfaatan teknologi dan jumlah serta mutu SDM; (5) Faktor Lingkungan, meliputi sistem nilai masyarakat, perundang-undangan dan sistem birokrasi; (6) Sosio-politik; dan (7) Aspek yuridis.
Kasmir dan Jakfar (2007) mengatakan ada beberapa aspek yang perlu
dilakukan studi kelayakan untuk menentukan kelayakan suatu usaha. Secara umum
prioritas aspek-aspek yang diperlukan dilakukan studi kelayakan adalah sebagai
berikut: (1) Aspek hukum, masalah kelengkapan dan keabsahan dokumen
perusahaan, bentuk badan usaha, izin yang dimiliki; (2) Aspek pasar dan pemasaran,
potensi pasar yang ada untuk produk yang ditawarkan, bagaimana strategi pemasaran
yang dijalankan, untuk menangkap peluang pasar yang ada; (3) Aspek keuangan,
biaya apa saja yang dikeluarkan dan seberapa besar biaya yang akan dikeluarkan,
juga seberapa besar pendapatan yang akan diterima jika proyek ini dijalankan,
seberapa lama investasi yang ditanamkan akan kembali; (4) Aspek teknis/operasi,
mengenai lokasi usaha; (5) Aspek manajemen/organisasi, para pengelola usaha dan
struktur organisasi yang ada; (6) Aspek ekonomi sosial; (7) Aspek dampak
lingkungan.
Menurut Neuman dalam Handajani (2003) mengatakan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan rumah sakit adalah Faktor Internal dan Eksternal.
Faktor eksternal meliputi: demografi, epidemilogi, sosio ekonomi, permintaan
kelayakan, trend pelayanan kesehatan, dan perkembangan alat, kemampuan
pembiayaan. Masyarakat cukup puas apabila kebutuhan (need) dalam pelayanan
kesehatan diperoleh. Faktor internal meliputi: analisis mutu pelayanan, karakteristik
tenaga medis dan perawat, pasien, keadaan keuangan, efisiensi biaya, organisasi,
Rangkuti (2006), analisis lingkungan internal dan lingkungan ektsernal
merupakan landasan kritis dalam pengembangan ruang perawatan VIP. Metode
analisis yang dapat digunakan antara lain adalah analisis SWOT, yaitu kajian tentang
faktor strengths atau kekuatan internal, weakneasses atau kelemahan internal,
opportunitie atau peluang eksternal, threats atau ancaman eksternal. Analisis SWOT atau analisis situasi adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk
merumuskan strategi pengembangan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunitie), namun secara
bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakneasses) dan ancaman (threats).
Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi,
tujuan, strategi, dan kebijakan. Analisis SWOT membandingkan antara faktor
eksternal peluang dan ancaman dengan faktor internal kekuatan dan kelemahan
rumah sakit.
Nitisemito dan Burhan (2004) mengatakan pihak yang berkepentingan dalam
pembuatan studi kelayakan adalah: (a) Pengusaha: dengan adanya studi kelayakan
pengusaha akan mengetahui apakah gagasan usahanya layak untuk dilaksanakan
atau tidak sehingga dapat terhindar dari kerugian yang ditimbulkan oleh
kegagalan usaha. (b) Kreditor: bila dari segi studi kelayakan suatu proyek
dinyatakan layak untuk dilaksanakan maka dapat meyakinkan pihak kreditor
khususnya perbankan untuk memberikan kredit. (c) Penanam modal (Investor):
mengambil keputusan, apakah akan menanamkan modalnya atau tidak. d)
Masyarakat/pemerintah: kepentingan studi kelayakan suatu proyek menyangkut
eksternal lities yakni efek atau dampak positif dan negatif yang ditimbulkan.
Berdasarkan paparan di atas dapat diketahui bahwa sangat penting dilakukan
kajian faktor internal dan eksternal rumah sakit sebagai dasar pengambilan keputusan
dalam pengembangan rumah sakit, khususnya pengembangan ruang rawat inap.