HASIL PENELITIAN
F. Analisis Kebutuhan Tempat Tidur pada Rumah Sakit di Kota Banda Aceh
4.3. Keputusan Pengembangan VIP RSU Meuraxa Banda Aceh
Keputusan pengembangan VIP RSU Meuraxa Banda Aceh dalam penelitian
pengembangan ruangan VIP. Analisis SWOT meliputi analisis kekuatan, kelemahan,
peluang dan tantangan.
1. Strength (kekuatan)
Kekuatan dalam analisis ini adalah adanya faktor-faktor pendorong yang dimiliki
oleh RSU Meuraxa Banda Aceh untuk pengembangan ruangan VIP di RSU
Meuraxa, yaitu sebagai berikut:
a. Tersedianya Lahan Ruangan VIP
Lahan yang dibutuhkan untuk pengembangan ruangan VIP adalah seluas 650
m3, dan lahan tersebut merupakan milik RSU Meuraxa, sehingga tidak
mengalami kesulitan dalam pembebasan dan pengadaan lahan pembangunan.
b. Tersedianya Tenaga Medis dan Paramedis
RSU Meuraxa mempunyai tenaga medis dan para medis yang cukup untuk
memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan Permenkes No.
262/Menkes/Per/VI/1979 sudah sangat mencukupi. Data analisis
ketersediaan SDM kesehatan di RSUM Kota Banda Aceh seperti pada Tabel
4.21.
Tabel 4.21. Analisis Situasi SDM Kesehatan di RSUM Kota Banda Aceh Tahun 2008
Indikator N
1 Tenaga Medis 35 9 1
2 Tenaga Paramedis Perawatan 172 1 1
3 Tenaga Paramedis Non Perawatan 94 5 1
4 Tenaga Non Medis 132 4 3
Total 433
Jumlah Tempat Tidur 106
c. Tersedianya Anggaran Pengembangan
Anggaran pengembangan ruangan VIP RSUM mutlak bersumber dari
Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), yaitu sebanyak
Rp. 2.413.800.000 (dua milyar empat ratus tiga belas juta delapan ratus ribu
rupiah) dan sudah tersedia tanpa harus melakukan pinjaman baik dari daerah
atau sumber lainnya.
Selain itu berdasarkan perhitungan nilai investasi diketahui ketersediaan dan
dan keuntungan yang akan diperoleh memberikan ruang bagi RSUM Kota
Banda Aceh untuk dapat mengembangkan ruangan VIP.
d. Merupakan Pusat Rujukan Puskesmas di Kota Banda Aceh
Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Banda Aceh Nomor 474/10009/2003
tanggal 08 Oktober 2003, serta pengukuhan Menteri Kesehatan pada tanggal
19 Desember 2003 menjadi rumah sakit rujukan kelas C milik Pemerintah
Kota Banda Aceh. Hal ini menjadi pendorong bagi RSUM untuk terus
mengembangkan infrastruktur dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,
salah satunya adalah pengembangan ruangan VIP. Ditetapkannya sebagai
kesehatan yang luas dengan rumah sakit lain di Kota Banda Aceh dan institusi
kesehatan lainnya.
2. Weakness (kelemahan)
Kelemahan yang dimaksud dalam analisis ini adalah segala faktor yang dinilai
dapat menjadi kelemahan dalam upaya pengembangan ruangan VIP RSUM Kota
Banda Aceh. Kelemahan tersebut, yaitu:
a. Rendahnya Kinerja RSU Meuraxa
Kinerja RSU Meuraxa dikatakan rendah meskipun dilihat dari salah satu
indikator rumah sakit yaitu BOR sudah mendekati standar yang
direkomendasikan namun secara kualitas kondisi pelayanan kesehatan
di RSUM masih belum menunjukkan prestasi yang baik. Hal ini diindikasikan
masih adanya keluhan pelayanan dari pasien yang datang berobat ke RSUM.
b. Lemahnya Sistem Informasi Kesehatan
Sistem informasi kesehatan di rumah sakit belum berjalan dengan baik, dapat
dilihat dari sulitnya memperoleh informasi yang cepat dan akurat. Selain itu
dapat dilihat dari validitas data di unit rekam medik, serta Sistem Informasi
Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang rendah seperti waktu tunggu dan
waktu diagnosa pasien. Kondisi ini disebabkan oleh: rendahnya kemampuan
petugas pengolah data dan informasi SIMRS, dukungan dana yang masih
dan pengambilan keputusan, dan sistem informasi kesehatan yang masih
terfragmentasi ke dalam berbagai program rumah sakit dan kegiatan.
c. Kurangnya Kemampuan Advokasi dan Sosialisasi Pelayanan di Rumah Sakit
Kemampuan manajemen rumah sakit dalam melakukan advokasi program
kesehatan di rumah sakit dan kebutuhan manajemen rumah sakit masih
kurang, demikian juga dengan kemampuan untuk mengidentifikasi
potensi-potensi yang ada di luar organisasi atau pihak yang berkepentingan belum
dilakukan dengan baik.
d. Kurangnya Keterpaduan antara Perencanaan dengan Penganggaran
Konsekuensi dari lemahnya sistem informasi kesehatan rumah sakit dan
kurangnya advokasi adalah adanya kesenjangan antara perencanaan dengan
penganggaran, artinya perencanaan yang telah dibuat tidak didukung oleh
ketersediaan dana yang cukup, serta adanya ketergantungan pelaksanaan
program berdasarkan proyek, sehingga tidak ada kesinambungan
perencanaan.
3. Opportunities (peluang)
Peluang yang ada dalam organisasi RSUM Kota Banda Aceh dalam upaya
pengembangan ruang perawatan VIP adalah:
Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Banda Aceh Nomor 474/10009/2003
tanggal 08 Oktober 2003, serta pengukuhan Menteri Kesehatan pada tanggal
19 Desember 2003 menjadi rumah sakit rujukan kelas C milik Pemerintah
Kota Banda Aceh, sehingga RSUM Kota Banda Aceh dapat lebih leluasa
untuk mengembangkan pelayanan kesehatan di Kota Banda Aceh, dan
diharapkan menjadi barometer pelayanan di Kota Banda Aceh.
b. Desentralisasi Kesehatan
Adanya desentralisasi yaitu adanya kewenangan daerah untuk mengelola
manajemen rumah sakit baik dalam perencanaan maupun dalam
penganggaran kesehatan di rumah sakit. Selain itu akan memperpendek alur
birokrasi termasuk dalam upaya pengembangan RSUM Kota Banda Aceh.
c. Demografi dan Geografis
Berdasarkan aspek demografi dan geografis, secara tidak langsung
memberikan kontribusi peluang untuk pengembangan ruangan VIP RSUM
Kota Banda Aceh. Hal ini karena secara geografis RSUM terletak sangat
strategis dari akses masyarakat dari luar Kota Banda Aceh (terutama
Kabupaten Aceh Besar) dan dalam Kota Banda Aceh, secara demografi
jumlah penduduk di Kota Banda Aceh sebesar 214.850 jiwa dengan tingkat
pertumbuhan 20,8%, sehingga memberikan kontribusi terhadap jumlah
kunjungan masyarakat ke RSU Meuraxa.
Berdasarkan aspek sosial budaya, diketahui pasca tsunami Kota Banda Aceh
banyak terjadi migrasi penduduk dari luar Aceh, sehingga terjadi keragaman
suku, budaya dan agama, meskipun secara umum masyarakat Kota Banda
Aceh merupakan masyarakat Aceh dengan agama Islam. Keberadaan ruangan
VIP di RSUM akan memberikan ruang kepada elemen masyarakat di Kota
Banda Aceh untuk memanfaatkannya, apalagi ada komitmen RSUM untuk
memberikan pelayanan bernuansa Islami dan berorientasi kepada kebutuhan
pelanggan.
e. Tehnologi Kesehatan
RSUM Kota Banda Aceh mempunyai fasilitas kesehatan yang sangat
memadai dan sudah mencukupi untuk pelayanan medis dan non medis.
Selama beberapa tahun terakhir, banyak bantuan dari lembaga-lembaga
swasta, maupun Non Goverment Organization (NGO) yang selama ini
beroperasi di Kota Banda Aceh, sehingga kelengkapan sarana medis sudah
sangat baik di RSUM Kota Banda Aceh. Hal ini akan memberikan kontribusi
peluang untuk pengembangan ruangan VIP.
f. Adanya Media Informasi/Media Komunikasi dan Iklim Keterbukaan
Kondisi ini selaras dengan perkembangan pembangunan Kota Banda Aceh yang pasca Tsunami yang begitu pesat, seperti pembangunan infrastruktur jalan, gedung, perhotelan dan sarana pelayanan kesehatan dan pendidikan, sehingga akses media dan informasi semakin luas. Selain itu tingginya pemberitaan tentang kondisi pelayanan kesehatan di Kota Banda Aceh,
sehingga memberikan ruang untuk persaingan pelayanan kesehatan. Di samping itu iklim keterbukaan saat ini memungkinkan masyarakat untuk mengawasi seluruh aspek pelayanan kesehatan di RSUM sehingga dibutuhkan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, salah satunya adalah kebutuhan ruang perawatan VIP.
g. Adanya kebijakan pemerintah melalui Departemen Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak pengumuman No. 01/PJ.09.2009 dikeluarkan pada tanggal 13 Januari 2009 tentang Penjelasan Fiskal Luar Negeri di mana setiap warga negara yang ke luar negeri bila tidak mempunyai NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) maka harus membayar fiskal.
4. Threats (ancaman) a. Kompetitor
Berdasarkan analisis situasi di Kota Banda Aceh banyak rumah sakit sudah mempunyai ruangan VIP, dan dengan keterbukaan iklim investasi, maka rumah sakit yang ada di Kota Banda Aceh akan berupaya untuk terus mengembangkan dan meningkatkan pelayanan kesehatan baik dari aspek infrastruktur maupun mutu pelayanan. Di Kota Banda Aceh ada lima rumah sakit Swasta, dan jika dianalisis dengan menggunakan tehnik analisis pesaing. Hasil analisis pesaing menunjukkan bahwa rumah sakit yang menjadi kompetitor adalah Rumah Sakit Swasta Tgk Fakinah dan Rumah Sakit Harapan Bunda, item yang menjadi kompetisinya adalah pada item
pengenalan nama, jenis pelayanan, jumlah ruangan, segmentasi pasar dan ketersediaan fasilitas lain dan tenaga dokter terutama dokter spesialis.
Melihat fenomena persaingan tersebut, maka perlu dilakukan upaya
yang mengarah pada pengembangan ruang perawatan VIP sangat tepat
mengingat RSUM Kota Banda Aceh belum mempunyai ruang perawatan VIP
dibandingkan dengan Rumah Sakit Swasta di Kota Banda Aceh, sehingga
diharapkan kecenderungan kunjungan pasien ke RSUM Kota Banda Aceh
akan tinggi. Hasil analisis pesaing dapat dilihat pada Tabel 4.22.
Tabel 4.22. Analisis Pesaing dengan 4 RS Lain di Kota Banda Aceh Nama Rumah Sakit
RS Meuraxa RS Tgk Fakinah RS Harapan Bunda RS Permata Hati RSBulan Sabit Merah Faktor Strategis Bobot
Rate Skor Rate Skor Rate Skor Rate Skor Rate Skor
Pengenalan Nama 0.05 2 0.1 4 0.2 3 0.15 2 0.1 2 0.1 Visi dan Misi 0.05 4 0.2 4 0.2 4 0.2 4 0.2 3 0.15 Jenis Pelayanan 0.15 3 0.45 4 0.6 3 0.45 3 0.45 2 0.3 Jumlah Ruangan 0.05 2 0.1 4 0.2 3 0.15 3 0.15 3 0.15 Ruangan VIP 0.05 2 0.1 4 0.2 4 0.2 3 0.15 3 0.15 Manajemen RS 0.05 4 0.2 4 0.2 4 0.2 4 0.2 2 0.1 Tenaga Dokter 0.30 3 0.9 4 1,2 4 1,2 2 0.6 2 0.6 Tenaga Perawat 0.15 4 0.6 3 0.45 3 0.45 3 0.45 3 0.45 Segmentasi Pasar 0.32 2 0.64 4 1.28 3 0.96 3 0.96 3 0.96 Lokasi 0.10 3 0.3 4 0.4 4 0.4 3 0.3 2 0.2 Kekuatan Keuangan 0.30 4 1.2 4 1.2 4 1.2 3 0.9 2 0.6 Fasilitas Lain 0.10 3 0.3 4 0.4 3 0.3 2 0.2 2 0.2 Total 5.09 6.53 5.86 4.66 3.96
b. Tuntutan Masyarakat
Tuntutan masyarakat untuk memperoleh pelayanan yang berkualitas akan
menjadi ancaman, jika tidak terpenuhi dengan baik. Tuntutan tersebut adalah
pelayanan yang bermutu dan berdaya guna. Kondisi ini berimplikasi terhadap
permintaan masyarakat untuk berobat ke luar negeri seperti Penang-Malaysia,
rumah sakit di Kota Medan, dan luar Aceh lainnya. Seperti diketahui data
Depkes (2006) menunjukkan rata-rata pasien setiap hari 50 orang yang
berobat ke Malaysia dan Singapura, dan sebagian besar berasal dari Jakarta,
Medan, Riau dan Aceh. Dilihat dari aspek pembiayaan Depkes RI
mengestimasi kurang lebih 400 milyar rupiah setiap tahunnya mengalir ke
rumah sakit di Singapura dan Malaysia. Untuk itu upaya pengembangan
ruangan VIP dinilai sangat strategis guna menarik masyarakat untuk berobat
ke RSUM Kota Banda Aceh
c. Kemauan dan Kemampuan Membayar
Kemampuan dan kemauan membayar masyarakat dinilai menjadi ancaman
jika tarif pelayanan rumah sakit tinggi di atas kemampuan masyarakat
mengeluarkan biaya untuk pengobatan. Data BPS Kota Banda Aceh (2007)
menunjukkan bahwa penghasilan perkapita penduduk Kota Banda Aceh tahun
2007 adalah Rp. 3.082.690, dan meskipun didominasi oleh masyarakat
dengan pekerjaan sebagai PNS dan swasta (terutama industri pengolahan,
perdagangan, perhotelan dan restoran) namun kondisi ini tidak memberikan
yang diberikan. Data Rumah Sakit Umum Tgk. Fakinah tahun 2007
menunjukkan sebanyak 76,4% pasien menggunakan ruangan VIP, ini
membuktikan tingginya kebutuhan masyarakat Kota Banda Aceh untuk
pelayanan VIP.
d. Sumber PAD Pemda Nanggroe Aceh Darussalam
Mengingat RSUM merupakan rumah sakit rujukan milik pemerintah, maka
dengan sendirinya akan menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah
(PAD), sehingga menjadi tantangan dalam pengelolaan keuangan rumah
sakit. Untuk itu pengembangan ruang perawatan VIP dibutuhkan manajemen
yang kuat dan mampu mengakomodir seluruh aspek khususnya aspek
keuangan.
e. Kondisi Geografis yang Rawan Bencana
RSUM terletak di pusat Kota Banda Aceh, dan secara geografis merupakan
daerah yang sangat rawan bencana, apalagi setelah terjadi Tsunami tahun
2004 silam, sehingga menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan
ruang rawat inap VIP.
Berdasarkan analisis SWOT tersebut di atas, maka dibuat pencermatan
faktor-faktor strategik dalam analisis kebutuhan pengembangan ruangan VIP, seperti pada
Tabel 4.23. Analisis Pencermatan Faktor Strategis Pengembangan VIP RSUM INTERNAL EKSTERNAL
STRENGTH OPPORTUNITIES
Tersedia Lahan Penetapan sebagai Rumah Sakit Umum Pemerintah Tersedia Tenaga Medis & Paramedis Desentralisasi Kesehatan
Tersedia Anggaran Pengembangan Demografi dan Geografis dan Sosial Budaya Merupakan Rumah Sakit Rujukan Tehnologi Kesehatan Mendukung
Adanya Media Informasi & Iklim Keterbukaan Organisasi
WEAKNESS THREATS
Rendahnya Kinerja Rumah Sakit Adanya Kompetitor Lemahnya Sistem Informasi Kesehatan Tuntutan Masyarakat
Kemampuan Advokasi Kurang Kemampuan dan Kemauan Membayar Masyarakat Perencanaan dg Penganggaran tidak terpadu Sumber PAD Pemda NAD
Kondisi Geografis Rawan Bencana
Berdasarkan analisis SWOT tersebut, maka kebutuhan ruang perawatan VIP
di RSUM sangat mendesak, hal tersebut dapat digambarkan dalam bentuk kuadran
analisis SWOT seperti pada Gambar 4.2.
STRENGTH WEKNESS
Tersedia Lahan Rendahnya Kinerja RS Tersedia Tenaga Medis dan
Paramedis
Lemahnya Sistem Informasi Kesehatan
Tersedia Anggaran Pengembangan
Kemampuan Advokasi Kurang
Merupakan RS Rujukan Perencanaan dengan Penganggaran tidak Terpadu
OPPURTUNITIES ASUMSI STRATEGI SO
(KUADRAN I)
ASUMSI STRATEGI WO (KUADRAN II)
Penetapan sebagai RSU Pemerintah
Pemberdayaan SDM Kesehatan
Penataan dan Optimalisasi Tenaga Medis dan Non Medis
Desentralisasi Kesehatan Peningkatan Mutu Pelayanan Peningkatan Kompensasi dan Jasa Medis
Demografi dan Geografis Peningkatan Peran Stakeholder Peningkatan Mutu Program dan Pelayanan
Sosial Budaya Mendukung Peningkatan Peran Pemerintah Pengembangan Sistem Informasi Rumah Sakit Tehnologi Kesehatan
Mendukung
Pengembangan Rumah Sakit Advokasi Alokasi Anggaran Rumah Sakit
KESIMPULAN ANALISIS FAKTOR INTERNAL (KAFI)
KESIMPULAN ANALISIS FAKTOR EKSTERNAL (KAFE)
Lanjutan Gambar 4.2 Adanya Media Informasi & Keterbukaan Iklim Organisasi
Penyediaan Sarana dan Fasilitas Rumah Sakit
Peningkatan Perencanaan Program Rumah Sakit
THREATS ASUMSI STRATEGI ST
(KUADRAN III)
ASUMSI STRATEGI ST (KUADRAN IV)
Adanya Kompetitor Pelayanan Kesehatan Berkualitas
Penempatan SDM Sesuai Kualifikasi Pendidikan Tuntutan Masyarakat Penambahan Tenaga
Kesehatan
Melakukan Kerja Sama dengan Rumah Sakit lain Kemampuan dan Kemauan
Membayar Masyarakat
Peningkatan Kualitas SDM Evaluasi Rutin Kinerja Rumah Sakit
Sumber PAD Pemda NAD Survei Kepuasan Pasien Pemberian Imbalan dan Insentif
Kondisi Geografis Rawan Bencana
Survei Ability dan Willingness To Pay
Peningkatan Tarif Rumah Sakit
Promosi Kesehatan di Rumah Sakit
Siaga Bencana
Gambar 4.2. Analisis SWOT Berdasarkan Strategi dan Pilihan dalam Upaya Pengembangan VIP RSUM