MANAJEMEN UKGT BERWAWASAN LINGKUNGAN
6.3. Hasil dan Pembahasan
6.3.3. Analisis Finalsial
Tujuan analisis finansial adalah untuk mengetahui sejauh mana kegiatan usaha dapat memberikan manfaat selama umur ekonomis. Hasil analisis finansial ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan apakah investor bersedia menanamkan modalnya dalam kegiatan usaha UKGT.
Ada beberapa metode atau kriteria untuk mengukur kelayakan suatu kegiatan usaha atau proyek secara finansial, yang banyak digunakan, yaitu : (1) NPV (net present value), (2) IRR (internal rate of return), (3) Net B/C (Benefit Cost Ratio), dan (4) PBP (Pay Back Period) ( Pramudya, 1992; Riyanto, 1995; Soekartawi, 1995; Ibrahim, 2003).
Net Present Value (NPV)
Nilai Sekarang Bersih (Net Present Value) yaitu perbedaan antara nilai sekarang dari penerimaan total dan nilai sekarang dari pengeluaran sepanjang umur proyek pada tingkat suku bunga atau tingkat diskonto (discount rate) tertentu yang diberikan. Apabila NPV bernilai positif, berarti menunjukkan besarnya keuntungan yang diperoleh dari investasi atau proyek. NPV adalah kriteria invetasi yang banyak digunakan dalam mengukur apakah suatu proyek
layak atau tidak. Menurut (Pramudya,1992 ; dan Ibrahim, 2003), NPV dapat dihitung dengan persamaan berikut:
NPV = n t 1 t i C B ) 1 ( ... (6.1) Keterangan :
B
= Benefit (penjualan hasil produksi )
C
= Cost (biaya investasi dan operasi)
i = suku bunga atau diskon faktor(discount rate) t = waktu (tahun ke- t)
n = umur ekonomis (tahun)
Semakin tinggi pendapatan dan datangnya lebih awal semakin tinggi NPV, namun semakin tinggi discount rate NPV semakin rendah. Proyek dikatakan
layak apabila NPV ≥ 0, dan proyek ditolak jika NPV < 0.
Analisis finansial diperhitungkan berdasarkan data investasi, modal kerja, biaya masukan, benefit, dan diskon faktor tiap tahun. Oleh karena itu berdasarkan data struktur produksi rerata tiap hari (Table 6.6), perlu diolah menjadi data tiap tahun sebelum didiskon. Masa giling/kerja tiap bulan adalah 26 hari dan masa giling tiap tahun rerata adalah 5 bulan, sehingga tiap tahun:
Benefit = Rp 1.630.174/hr x 26 hr/bl x 5 bl/th = Rp 211.922.685 Masukan = Rp 1.385.879/hr x 26 hr/bl x 5bl/th = Rp 180.164.270 Investasi dan Modal Kerja = Rp 40.000.000 + Rp 9.000.000 = Rp 49.000.000
Diskon Faktor (DF) = 15 % Waktu (t) = 5 tahun
Data tersebut diatas selanjutnya dinyatakan dalam Tabel 6.7 untuk digunakan dalam perhitungan menentukan besarnya NPV.
Internal Rate of Return (IRR)
Tingkat Pengembalian Internal (Internal Rate of Return) adalah suatu tingkat discount rate yang menghasilkan NPV (Net Present Value) sama dengan nol (Pramudya,1992; Ibrahim, 2003) mengemukakan IRR merupakan suatu tingkat pengembalian modal yang digunakan dalam suatu proyek yang nilainya dinyatakan dalam prosentase per tahun. Suatu proyek yang layak dilaksanakan akan mempunyai nilai IRR yang lebih besar dari nilai discount rate.
Tabel 6.7. Arus Kas Biaya dan Manfaat UKGT dalam Perhitungan NPV Thn. Cost (C) (Rp) Benefit (B) (R) B – C (Rp) DF 15% NPV (Rp) 0 49.000.000 -- -49.000.000 1,0000 -49.000.000 1 180.164.270 211.922.685 30.641.975 0,8695 26.643.197 2 180.164.270 211.922.685 30.641.975 0,7561 23.168.397 3 180.164.270 211.922.685 30.641.975 0,6575 20.147.098 4 180.164.270 211.922.685 30.641.975 0,5717 17.518.017 5 180.164.270 211.922.685 30.641.975 0,4971 15.232.125 Net Present Value(NPV) = 53.708.836 Sumber : Hasil Penelitian Lapang, 2008
Suatu proyek dapat dilakukan apabila tingkat pengembalian (rate of return) lebih besar dari pada pengembalian (return) yang diterima apabila
melakukan investasi di tempat lain (bank, dan lain-lain), sehingga IRR harus dibandingkan dengan alternatif investasi yang lain. Penerimaan atau penolakan usulan investasi ini adalah dengan membandingkan IRR dengan tingkat bunga yang disyaratkan (required rate of return). Apabila IRR lebih besar dari pada tingkat bunga yang disyaratkan maka proyek tersebut diterima, apabila lebih kecil ditolak. Penghitungan untuk menentukan IRR masih memerlukan penghitungan NPV. Besarnya nilai IRR dapat ditentukan dengan menghitung terlebih dulu NPV1 dan NPV2 dengan cara coba-coba (trial and error).
Berdasarkan hasil coba-coba tersebut maka nilai IRR berada antara nilai NPV positif dan nilai NPV negatif yaitu pada NPV = 0. Nilai IRR dapat didekati dengan persamaan berikut :
IRR i1 ( ) ) ( 1 2 2 1 1 i i NPV NPV NPV ……….. (6.2) Keterangan : i1 = tingkat discount rate yang menghasilkan NPV1 (positif)
i2 = tingkat discount rate yang menghasilkan NPV2 (negatif)
Nilai IRR yang diperoleh merupakan nilai pendekatan, karena hubungan antara perubahan i dan NPV tidak merupakan garis lurus, sehingga ketepatannya dipengaruhi oleh nilai i1 dan i2. Hal ini bermakna semakin kecil perbedaan nilai i, nilai IRR yang diperoleh semakin tinggi ketepatannya.
Berdasarkan data dalam Tabel 6.7 maka dilakukan perhitungan coba-coba untuk : i1 = 55%, diperoleh besarnya NPV1 = 485.442; dan untuk i2 = 56%, diperoleh NPV2 = -461.734.
Angka-angka tersebut kemudian dimasukkan kedalam persamaan (6.2) : 1 i IRR (0,01) 0,55703 ) 734 . 461 ( 442 . 485 442 . 485 55 , 0 ) ( ) ( 1 2 2 1 1 i i NPV NPV NPV
sehingga didapat IRR = 55,703% atau dibulatkan 55,7 %
Net B/C (Net Benefit Cost Ratio)
Rasio Manfaat Biaya Bersih (Net Benefit Cost Ratio) merupakan perbandingan antara net benefit yang telah didiskon bernilai positif (+) dengan net cost yang telah didiskon bernilai negatif (-). Menurut (Pramudya, 1992 dan Ibrahim, 2003) formula untuk menghitung Net B/C adalah sebagai berikut :
n t t t t n t t t t i C B i C B C NetB 1 1 ) ( ) 1 ( ) ( ) 1 ( / ………..…… (6.3)
Pengambilan keputusan berdasarkan kriteria berikut : jika B/C ≥ 1 (satu),
maka proyek layak untuk dilaksanakan, dan jika B/C < 1, maka proyek ditolak atau tidak layak dilaksanakan.
Berdasarkan data dari Tabel 6.7 yang telah diolah, diperoleh net benefit yang telah didiskon (+) sebesar 102.708.836 dan cost yang telah didiskon (-) yaitu sebesar -49.000.000, sehingga dengan memasukkan harga tersebut kedalam persamaan (3) dapat ditentukan :
096 , 2 ) 000 . 000 . 49 ( 836 . 708 . 102 /C NetB
Pay Back Period (PBP)
Periode Pengembalian Kembali (Pay Back Period) adalah metode untuk mengukur berapa lama (berapa tahun) suatu investasi akan bisa kembali atau seberapa cepat investasi bisa kembali, dasar yang dipergunakan adalah aliran kas. Apabila PBP kurang dari suatu periode yang telah ditentukan, proyek tersebut diterima atau dikatakan menguntungkan, sedang kalau lebih lama maka proyek ditolak. Semakin cepat pengembalian biaya invstasi, semakin baik karena semakin lancar perputaran modal. Kelemahan metode PBP yaitu mengabaikan nilai waktu uang dan aliran kas setelah periode payback. Formula untuk menentukan PBP (Ibrahim, 2003) adalah sebagai berikut :
p n i n i icp i p B B I T PBP 1 1 1 1 ……...……… (6.4) Keterangan :
Tp-1 = tahun sebelum terdapat PBP
Ii = jumlah investasi yang telah didiskon
Bicp-1 = jumlah benefit yang telah didiskon sebelum PBP Bp = jumlah benefit pada PBP berada
Berdasarkan hasil perhitungan merujuk pada Tabel 6.7, didapat :
Ii = 49.000.000; Tp-1 = tahun ke-1, Bicp-1 = 26.643.197 (belum melewati jumlah investasi yang telah didiskon, yaitu : 49.000.000). Pada tahun ke-2 benefit yang
telah didiskon = 49.811.594 (sudah melewati 49.000.000) dan diketahui Bp = 23.168.397. PBP dapat dihitung dengan memasukkan harga-harga diatas
PBP = 1 + (49.000.000 – 26.643.197)/ 23.168.397
= 1+ 0,9649 = 1,965 tahun atau 1 tahun 11 bulan 17 hari.
Tetapi karena masa giling UKGT dalam satu tahun rerata hanya 5 bulan maka dalam kenyataan PBP menjadi 1 tahun 4 bulan 25 hari. Hasil perhitungan dari beberapa metode diatas selanjutnya ditabelkan untuk memudahkan menganalisis kelayakan usaha, seperti ditunjukkan dalam Tabel 6.8.
Berdasarkan Tabel 6.8, kriteria NPV bernilai Rp. 53.708.836 (positif), IRR = 55,5 (lebih besar dari pada bunga bank 15%), Net B/C = 2,096 > 1; dan PBP = 1,965 < 5 (lebih kecil dari batas waktu pinjaman bank yang ditetapkan) maka waktu pengembalian modal lebih cepat. Oleh karena itu kegiatan UKGT layak dilaksanakan.
Tabel 6.8. Nilai NPV, Net B/C, IRR dan PBP untuk Diskon Faktor 15% Jangka Waktu 5 Tahun dan Umur Ekonomis 5 Tahun
No Metode Nilai Satuan Status
1 NPV 53.716.653 rupiah Layak
2 IRR 55,7 persentase Layak
3 Net B/C 2,096 angka tanpa satuan Layak
4 PBP 1,965 tahun Layak
Sumber : Hasil penelitian Lapang, 2008
Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas terhadap kegiatan usaha dilakukan untuk mengkaji apabila terjadi : (1) kesalahan pendugaan suatu nilai biaya atau manfaat, (2) perubahan unsur harga pada saat proyek sedang dilaksanakan (Pramudya, 1992).
Hal ini perlu dilakukan karena dalam analisis proyek umumnya didasarkan pada proyeksi-proyeksi yang mengandung banyak unsur ketidak pastian tentang apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang.
Kegiatan UKGT dilakukan analisis sensitivitas dengan asumsi apabila terjadi perubahan keadaan ekonomi, sosial dan politik, sehingga menyebabkan : (1) kenaikan harga tebu, (2) kenaikan harga solar, (3) kenaikan upah pekerja, (4) penurunan harga gula tumbu, dan (5) kenaikan investasi. Dalam setiap asumsi hal-hal lain dianggap tetap (cetirus paribus). Hasil analisis sensitivitas dari masing-masing asumsi disajikan dalam beberapa Tabel berikut.
Tabel 6.9. Analisis Sensitivitas terhadap Kenaikan Harga Tebu No Kenaikan Harga Tebu (%) NPV (Rp) IRR (%) Net B/C (angka) PBP (tahun) 1 7,5 20.267.029 31,41 1,41 2,98 2 10 9.119.761 22,62 1,18 3,58 3 12,5 -2.027.508 13,24 0.96 4,47 4 15 -13.174.777 2,96 0,73 5,91
Sumber : Hasil Penelitian Lapang, 2008
Apabila terjadi kenaikan harga tebu hingga 12,5 % maka kegiatan usaha UKGT tidak layak dijalankan. Hal ini disebabkan berdasarkan kriteria NPV hasilnya negatif (- 2.027.508) dan Net B/C kurang dari satu, yaitu (0,96) serta IRR 13,24 % < 15% (bunga bank), hanya PBP yang masih dibawah angka batas waktu 5 tahun, yaitu 4,47 tahun. Namun apabila harga tebu naik hanya sampai 10 %, UKGT masih layak dijalankan.
Tabel 6.10. Analisis Sensitivitas terhadap Kenaikan Harga Solar No Kenaikan Harga Solar (%) NPV (Rp) IRR (%) Net B/C (angka) PBP (tahun) 1 10 49.787.113 52,96 2,01 2,05 2 20 45.865.390 50,20 1,94 2,14 3 30 41.950.588 47,42 1,85 2,24 4 50 34.106.545 41,75 1,69 2,46
Sumber : Hasil Penelitian Lapang, 2008
Dari Tabel 6.10 diketahui bahwa meskipun biaya pemakaian solar mengalami kenaikan hingga 50% dari biaya sekarang, namun kegiatan UKGT masih layak dijalankan. Hal ini didasarkan atas kriteria NPV = 34.106.545 (positif), IRR = 41,75 > bunga bank 15 %, Net B/C = 1,69 > 1, dan PBP = 2,46 < 5 tahun
Tabel 6.11. Analisis Sensitivitas terhadap Kenaikan Upah Pekerja No Kenaikan Upah (%) NPV (Rp) IRR (%) Net B/C (angka) PBP (tahun) 1 5 48.806.682 52,27 1,99 2,07 2 10 43.904.529 48,81 1,89 2,18 3 15 39.002.375 45,31 1,79 2,31 4 20 34.100.221 41,75 1,69 2,46
Sumber : Hasil Penelitian Lapang, 2008
Meskipun terjadi kenaikan upah pekerja hingga 20 % dari yang berlaku sekarang, kegiatan UKGT masih layak dilaksanakan. Hal ini dinyatakan berdasarkan kriteria sebagaimana dalam Tabel 11. NPV = Rp. 34.100.221
(positif), IRR = 41,75% lebih besar dari bunga bank yang berlaku, yaitu 15 %, Net B/C = 1,69 > 1 dan PBP = 2,46 tahun masih dibawah batas pengembalian modal selama 5 tahun.
Tabel 6.12. Analisis Sensitivitas terhadap Penurunan Harga GT No Penurunan harga GT (%) NPV (Rp) IRR (%) Net B/C (angka) PBP (tahun) 1 2,5 35.950.245 43,10 1,73 2.41 2 5 18.191.654 29,81 1,37 3,08 3 7,5 433.062 15,38 1,00 4,24 4 10 -17.325.529 -0,012 0,65 6,71
Sumber : Hasil Penelitian Lapang, 2008
Jika harga gula tumbu turun hingga 10 % tiap kilogram maka kegiatan
usaha UKGT menjadi tidak layak. Hal ini didasarkan atas kriteria NPV negatif (-17.325.529), Net B/C sebesar 0,65 < 1; -0,012 < 15 % dan PBP 6,71 sehingga
melampaui batas 5 tahun, seperti ditunjukkan dalam Tabel 6.12.
Tabel 6.13. Analisis Sensitivitas terhadap Kenaikan Investasi No Kenaikan Investasi (%) NPV (Rp) IRR (%) Net B/C (angka) PBP (tahun) 1 10 49.716.653 50,27 1,93 2,13 2 25 43.716.653 43,36 1.74 2.40 3 50 33.716.653 34,21 1,48 2,82 4 100 13.716.653 18,51 1,15 3,69
Berdasarkan Tabel 6.13, dapat dinyatakan bahwa meskipun terjadi kenaikan nilai investasi total hingga 100 persen dari nilai sekarang (Rp 49 juta rupiah), kegiatan usaha UKGT masih layak dilaksanakan. Hal ini karena kriteria NPV bernilai positif yaitu Rp 13.716.653, Net B/C =1,15 > 1, IRR = 18,51 % lebih besar dari bunga bank yang berlaku dan PBP = 3,69 kurang dari lima tahun sebagai waktu pengembalian modal.
Sub model kelayakan finansial dibangun dengan menggunakan software
Microsoft Excel, secara ringkas dinyatakan dalam Tabel 6.14.
Tabel 6.14. Sub Model Kelayakan Finansial UKGT
No
A n a l i s i s
Struktur Produksi Kelayakan Finansial Sensitifitas Harga Tebu Naik (15%)
Harga GT Turun (10%) 1 Volume Produksi (kg/hr) 563,1 NPV (Rp) 53.716.653 -13.174.777 -17.325.529 2 Rasio Nilai Tambah (%) 29 IRR (%) 55,7 2,96 -0,012 3 Saham Pekerja (%) 48 Net B/C 2,096 0,73 0,65 4 Tingkat Keuntungan (%) 14,5 PBP (tahun) 1,965 5,91 6,71
Sumber : Hasil Penelitian Lapang, 2008 (dianalisis). 6.4. Simpulan dan Saran
6.4.1. Simpulan
Berdasar atas struktur produksi, gula tumbu yang dihasilkan rerata tiap UKGT sebesar 563,1 kg/hari dan harga rerata gula tumbu Rp 2.895. Tebu yang digiling rerata 6,2 ton/hari dan harga tebu rerata Rp 165.045/ton, memberikan nilai tambah sebesar 29 %, saham pekerja 48 %, keuntungan pengusaha rerata tiap hari sebesar 14,5% (Rp 235.707). Penghasilan bersih selama 26 hari kerja adalah
Rp 6.128.382 tiap bulan. Penghasilan bersih selama musim giling 5 bulan (tiap tahun) yaitu sebesar Rp 30.641.975.
Berdasar atas metode NPV diperoleh nilai positif Rp 53.716.653, IRR = 55,7 % sehingga lebih besar dari pada bunga bank, Net B/C = 2,1 >1, dan PBP = 1,96 tahun; berarti perputaran modal lebih cepat, kurang dari jangka waktu yang dipersyaratkan yaitu 5 tahun.
Kenaikan harga tebu hingga 15% menjadikan kegiatan usaha UKGT tidak layak dijalankan. Jika harga gula tumbu turun hingga 10 % tiap kilogram, kegiatan usaha UKGT juga tidak layak. Kenaikan harga solar, kenaikan upah pekerja, dan kenaikan nilai investasi secara sendiri-sendiri (bukan simultan) tak berpengaruh terhadap kelayakan usaha UKGT. Meskipun harga solar naik hingga 50 % dari harga sekarang, kenaikan upah pekerja hingga 20 % dan bahkan kenaikan investasi hingga 100 %, kegiatan usaha UKGT masih layak dilaksanakan.
Meskipun UKGT berpenghasilan bersih tinggi, yaitu Rp 30.641.910 selama musim giling dan periode kembali modal sangat singkat (dua kali musim giling), namun UKGT masih langka yang memperoleh pinjaman dari pihak perbankan.
Berdasar atas hasil analisis tersebut, kegiatan UKGT layak, secara ekonomi atau finansial menguntungkan sehingga memenuhi salah satu pilar pembangunan keberlanjutan (ekonomi, ekologi dan sosial).
6.4.2. Saran
UKGT perlu dikembangkan didaerah lain yang berdekatan dengan kebun tebu atau pabrik gula, sehingga dapat meningkatkan kapasitas produksi gula
tumbu, memperluas kesempatan kerja, dan mengurangi ketergantungan petani tebu terhadap pabrik gula. Untuk mempercepat pengembangan UKGT diluar kabupaten Kudus para pengusaha diharap menjalin kerjasama dengan pihak perbankan dan petani di daerah tempat tujuan.
Masa pengembalian modal yang singkat, diharapkan UKGT mampu mengakses pinjaman dari pihak perbankan untuk pengembangan usaha. Namun persyaratan harus bisa dipenuhi, antara lain memiliki pembukuan keuangan. Begitu juga hendaknya pihak perbankan tidak ragu-ragu mengucurkan dana ke UKGT, meskipun usahanya bersifat musiman, karena dalam dua kali musim giling (dua tahun) modal kembali.
Kestabilan harga gula tumbu perlu diperhatikan oleh pemerintah atau pihak-pihak terkait mengingat penurunan harga gula tumbu sangat sensitif terhadap kelayakan atau keberlanjutan usaha UKGT.
Produktivitas tanaman secara umum tak dapat dipisahkan dari varitas unggul dan pupuk yang diberikan. Penelitian dilakukan terhadap varietas tebu R-579 yang ditanam di lahan beririgasi dengan variasi pemupukan terhadap tebu yang sudah mengalami tiga kali keprasan.
Varietas tebu R-579 (Krismanu, 2003) merupakan salah satu varietas unggulan PT Perkebunan Nusantara XI yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan tebu milik petani. Varietas ini mampu menghasilkan rata-rata 10,07 ton gula/hektare atau dua kali lipat produktivitas nasional yang rata-rata 4 ton gula/hektare. Varietas R 579 telah diujicobakan di sejumlah PG di Jawa Timur menghasilkan 1.500 kuintal/hektar (150 ton/ha) dengan rendemen minimal 8 %.
Karakter varietas tebu unggul yang menjadi dasar pemilihan adalah potensi hasil tinggi, type kemasakan, kesesuaian terhadap fisik lahan, tahan terhadap jasad pengganggu tertentu serta mempunyai sifat agronomis penting lainnya. Varietas tebu unggul merupakan salah satu teknologi untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas produksi secara signifikan (Mirzawan dan Lamadji, 1997). Oleh sebab itu perolehan teknologi ini menjadi dambaan para praktisi industri gula, karena biaya aplikasi relatif murah, masa produktif antara 5 – 6 tahun (Sugiyarta, 2007), sehingga dinamisasi varietas tebu unggul dalam kurun waktu tertentu akan menguntungkan para petani tebu.
Paradigma lama menganggap tebu sebagai tanaman semusim, tebu ditanam di lahan sawah setiap tahun dibongkar. Dalam paradigma baru, tanaman tebu dipahami sebagai tanaman tahunan, tebu ditanam di lahan sawah maupun
kering dengan sistem ratoon sampai di atas 5 tahun, di India bahkan sampai 25 tahun. (Hakim, 2007).
Sebelum ditemukan pupuk kimia seperti sekarang, nenek moyang kita telah mempraktekkan sistem pertanian bebas pencemaran. Pemakaian materi organik (kompos dan mulsa) dalam sistim pertanian sudah dilakukan sejak 8000 tahun yang silam (Cutler dan Hill, 1994). Akan tetapi semua cara-cara yang dianggap kuno ini hampir dilupakan di kalangan petani semenjak diperkenalkan pupuk kimia.
Bahan organik sebagai pupuk ibarat multi-vitamin untuk tanah pertanian, berfungsi untuk meningkatkan kesuburan tanah, merangsang perakaran sehat, dan memperbaiki struktur tanah. Peningkatan kandungan bahan organik tanah selanjutnya meningkatkan kemampuan tanah mempertahankan kandungan air tanah. Mikroba tanah bermanfaat bagi tanaman dan aktivitas mikroba ini membantu tanaman menyerap unsur hara dari tanah sehingga menghasilkan senyawa yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Selain itu aktivitas mikroba tanah diketahui membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.
Varietas tebu unggul membutuhkan masukan pupuk kimia tinggi dan konsumsi semakin meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Cutler dan Hill (1994), kondisi ini akibat dari terhambatnya proses serapan akar terhadap air dan hara terlarut sehingga keberadaan hara dalam jumlah rendah tidak dapat diambil oleh akar secara optimal. Akibat selanjutnya menurut Stoate et al (2001), materi organik berkurang, tanah menjadi keras, kurang porositas tanah, rendah nilai tukar ion tanah, rendah daya ikat air, rendah populasi dan aktivitas mikroba, dan secara keseluruhan mengakibatkan tingkat kesuburan tanah rendah.
Dengan demikian perlu dosis pupuk lebih tinggi untuk memungkinkan akar menyerap hara dalam jumlah yang cukup dari ketersediaan hara yang terdapat dalam tanah.
Berbagai pupuk organik dapat diperoleh dari limbah rumah tangga, limbah pertanian, limbah peternakan, limbah industri makanan dan minuman dengan bahan baku organik. Materi-materi tersebut dapat diaplikasikan langsung atau difermentasikan terlebih dahulu. Keuntungan pemakaian pupuk organik menurut Papavizas dan Lumsden (1980) dan Campbell (1989) diantaranya : memperbaiki tekstur tanah, menyediakan nutrien dan dapat meningkatkan kesehatan tanaman, menekan perkecambahan spora, pemeliharaan kesehatan dan kesuburan tanaman. Memperhatikan aspek kesuburan dan kesehatan tanah merupakan hal yang paling penting dalam sistem pertanian.
Produktivitas tebu sistem keprasan pada perlakuan : Po = 18,33 kg/m2 ; P1 = 15,67 kg/m2; P2 = 21,67 kg/m2 dan P3 = 20,33 kg/m2. Produktivitas tebu hasil penelitian ini berdasar atas analisis Sidik Ragam (Analisis of Variance) menunjukkan perbedaan nyata dengan taraf signifikansi 5 %. Meskipun baru dilakukan pemupukan organik satu kali. Hasil tertinggi pada perlakuan P2, diikuti P3 dan Prerata = 19 kg/m2juga lebih tinggi dari pada Po. Produktivitas tebu dengan pemupukan organik hasilnya akan lebih baik setelah dilakukan perlakuan pemupukan lebih dari tiga kali panen, karena mikro organisme tanah dari pupuk organik menjadikan unsur hara tanah yang tersedia semakin banyak untuk diserap oleh akar tanaman.
Agar produktivitas tanaman tidak menurun dan kesuburan tanah tetap terjaga, maka sebagai langkah awal adalah kombinasi penggunaan pupuk kimia
dan pupuk organik merupakan solusi yang tepat sebagaimana ditunjukkan hasil penelitian ini. Petani dapat meningkatkan produktivitas tebu walaupun penggunaan pupuk kimia dikurangi 50% - 75% dari penggunaan yang biasa dilakukan, namun diperlukan tambahan pupuk organik cair Nd. Meskipun ada penambahan pupuk organik, namun keuntungan petani meningkat karena biaya pengurangan pupuk kimia lebih besar dari pada biaya penambahan pupuk organik cair Nd dan tambahan upah tenaga kerja. Keuntungan petani dari perlakuan pemupukan P2 terdiri dari penghematan pupuk 50% yaitu Rp 697.500/ha.tahun dan peningkatan produksi 18% sebesar Rp 18.150.300, total Rp 18.847.800. Sedangkan keuntungan dari perlakuan pemupukan P3 terdiri dari penghematan pupuk 75% adalah Rp 1.196.250/ha.tahun dan peningkatan produksi 11% yaitu Rp 16.901.850, total Rp 17.108.100. Perlakuan pemupukan yang paling menguntungkan adalah perlakuan P2 yaitu pengurangan pupuk kimia 50% ditambah pupuk organik cair Nd yaitu 2 liter tiap hektar tahun.
Gula tumbu merupakan salah satu produk pangan olahan. Sejalan dengan kesadaran masyarakat membutuhkan mutu yang baik dan menarik, pangan harus berdasarkan suatu standar sehingga tidak merugikan dan membahayakan kesehatan konsumen.
Berdasarkan pendapat pengusaha maupun pedagang gula tumbu menyatakan bahwa gula tumbu hasil UKGT adalah mutu II (Latief, 2001 dan Latief 2007). Hal ini kemudian didukung oleh hasil analisis laboratorium yang mengacu SNI 1-6237-2000 untuk membuktikan secara kuantitatif. Berdasarkan analisis laboratorium kadar air 8,9%, sukrosa 64 %, dan glukosa 12,5 %, sehingga
sesuai dengan SNI 1-6237-2000 maka gula tumbu produk UKGT masuk kategori mutu II.
Mutu gula tumbu perlu ditingkatkan agar dapat diandalkan menjadi produk yang mampu bersaing dalam pasar lokal, dan bahkan mampu menembus pasar global serta harga meningkat. Peningkatan mutu gula tumbu dalam penelitian ini dilakukan berdasar atas rancangan percobaan dalam laboratorium melalui metode sulfitasi. Hasil interaksi pH nira dan variasi suhu pemasakan secara konstan, diperoleh gula tumbu mutu I sesuai dengan SNI 1-6237-2000. Gula tumbu terbaik diperoleh dari metode penambahan larutan kapur tohor kedalam nira hingga menjadi pH 9 pada pemanasan awal suhu 50oC – 60oC, lalu dinetralkan dengan asam sulfit menjadi pH 7 dan dididihkan, setelah itu nira disaring. Nira yang telah bersih dipanaskan lanjut atau dimatangkan pada suhu konstan 100oC hingga mengental, kemudian dicetak menjadi gula tumbu.
Undang–Undang Pangan tahun 1996 menimbang : (1) pangan merupakan kebutuhan dasar manusia, (2) pangan yang aman, bermutu, bergizi, dan beragam sebagai prasyarat utama untuk kesehatan, dan (3) pangan sebagai komoditas dagang memerlukan sistem perdagangan yang jujur dan bertanggung jawab. Sistem jaminan mutu dan keamanan pangan sektor pertanian mengacu sepenuhnya kepada Peraturan Pemerintah Nomor 102 tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional. Jaminan mutu (Hubeis, 1997) merupakan kunci penting keberhasilan usaha. Jaminan mutu merupakan sikap pencegahan terhadap terjadinya kesalahan dengan bertindak tepat sedini mungkin oleh setiap orang yang berada di dalam maupun di luar bidang produksi.
teknologi, penyebaran lokasi, penyerapan tenaga kerja, produksi, ekspor dan peningkatan mutu. Walaupun faktor mutu menambah biaya produksi, namun peningkatan biaya mutu diimbangi dengan peningkatan penerimaan dan dapat menimbulkan citra yang baik dari konsumen (Wirakartakusumah dan Syah, 1990). Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB) adalah suatu pedoman yang menjelaskan bagaimana memproduksi makanan agar bermutu, aman dan layak untuk dikonsumsi. Kadarisman (1996) berpendapat bahwa mutu harus dirancang dan dibentuk ke dalam produk, sedangkan Fardiaz (1997) mengemukakan, CPMB diharapkan produsen pangan dapat menghasilkan produk makanan yang bermutu, aman dikonsumsi dan sesuai dengan tuntutan konsumen, bukan hanya konsumen lokal tetapi juga konsumen global. GMP (Good Manufacturing
Practises) menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan operasi sanitasi dan higiene
pangan suatu proses produksi atau penanganan pangan merupakan persyaratan dasar (pre-requisite) penerapan dasar HACCP (Winarno, 2004). Menurut Hadiwihardjo (1998), merujuk pada sistem HACCP mempunyai tiga pendekatan penting dalam pengawasan dan pengendalian mutu produk pangan, yaitu : (1) keamanan pangan (food safety), yaitu aspek-aspek dalam proses produksi yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit; (2) kesehatan dan kebersihan pangan (whole-someness), merupakan karakteristik produk atau proses dalam kaitannya dengan kontaminasi produk atau fasilitas sanitasi dan higiene; (3) kecurangan ekonomi (economic fraud), yaitu tindakan ilegal atau penyelewengan yang dapat merugikan konsumen. Sejak tahun 2005 HACCP (ISO 15161) digabung dengan ISO 9000 dan ISO 14000 menjadi ISO 22000.
yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu gula tumbu memenuhi mutu I sesuai SNI 1-6237-2000. Hal ini merupakan langkah awal yang akan digunakan untuk meningkatkan mutu gula tumbu dalam UKGT secara nyata di lapang. Harga gula tumbu mutu I Rp 3.500 sampai Rp 4.500/kg, sedangkan harga gula tumbu mutu II rerata adalah Rp 2.895/kilogram. Keuntungan bersih dari peningkatan mutu gula tumbu berkisar antara 1% hingga 10 %, meskipun ada tambahan biaya produksi untuk meningkatkan mutu tersebut.
Gula tumbu dapat didiversikasi bentuk produknya yaitu (1) dicetak menjadi butiran-butiran kecil (2 x 2 x 2) cm3, dan (2) dibuat lebih lembut dari pada gula pasir, disebut gula semut. Kedua jenis ini produk tersebut lebih tahan