• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sub Model Produktivitas Tebu dan Analisis Usahatani

MANAJEMEN UKGT BERWAWASAN LINGKUNGAN

4.2. Metode Penelitian

4.3.3. Sub Model Produktivitas Tebu dan Analisis Usahatani

Analisis usahatani tebu dilakukan untuk menentukan keuntungan dan kelayakan usaha berdasarkan kriteria rasio pendapatan terhadap biaya (Net B/C). Usahatani tebu dikatakan layak apabila nilai B/C lebih besar dari satu.

Skenario (1), sub model produktivitas tebu keprasan pada perlakuan Po, sesuai kebiasaan petani tebu. Berdasarkan data primer yang diperoleh dan diolah dengan basis luas lahan satu ha biaya produksi : C = Rp 12.000.000,- meliputi:

sewa lahan Rp 5.000.000/tahun, tenaga kerja dan saprodi (bibit, pupuk dan pestisida) Rp 7.000.000/tahun. Hasil penjualan tebu disawah: Rp 160.000,-/ton, hasil panen tebu Po = 156 ton/ha.

Jumlah pendapatan B : Rp. 24.960.000/ha.tahun

Keuntungan usahatani tebu : B – C = Rp 24.960.000 - Rp 12.000.000 = Rp 12.960.000/ha.tahun.

Rasio pendapatan terhadap biaya : B/C = Rp 24.960.000/Rp 12.000.000 = 2,08 Berdasarkan hasil analisis tersebut (B/C = 2,08), maka usahatani tebu adalah layak.

Skenario (2), sub model produktivitas tebu sistem keprasan pada perlakuan P2 dengan penghematan pupuk kimia 50%. Produktivitas tebu naik 18 %, jumlah pendapatan B = Rp 24.960.000 (1 + 18)% = Rp. 29.452.800 /ha.tahun.

Analisis penghematan biaya berdasar atas pengurangan penggunaan pupuk kimia 50% dari kebiasaan, yaitu 0,5 x 14 kuintal/ha tahun = 7 kuintal. Harga pupuk anorganik jenis ZA : Rp 110.000/kuintal, pupuk jenis PHONSKA : Rp 175.000/kuintal. Penggunaan pupuk ZA dan PONSKA berimbang, yaitu masing-masing 50 %. Tambahan biaya untuk pupuk organik cair Nd : Rp. 50.000/l, sebanyak 2 l/ha tahun = Rp 100.000 dan upah tenaga kerja : Rp 25.000/hari sebanyak 4 orang = Rp. 100.000/ha, pemupukan dilakukan dua kali/tahun sehingga tambahan biaya untuk tenaga kerja = Rp. 200.000/ha.tahun.

Berdasar atas basis luas lahan satu ha maka penghematan biaya yang dilakukan oleh petani adalah :

penghematan biaya pupuk kimia – (biaya pupuk organik + upah pekerja) = 7 x (Rp. 110.000 + Rp. 175.000)/2 – (Rp. 100.000 + Rp. 200.000,-)

= Rp. 697.500/ha.tahun.

Biaya produksi C = Rp. 12.000.000 – Rp 697.500 = Rp. 11.302.500 Keuntungan usahatani tebu : B – C = Rp 29.452.800 - Rp 11.302.500 = Rp 18.150.300/ha.tahun.

Rasio pendapatan terhadap biaya : B/C = Rp 29.452.800/Rp 11.302.500 = 2,61. Skenario (3), sub model produktivitas tebu keprasan pada perlakuan P3 dengan penghematan pupuk kimia 75%. Produktivitas tebu naik 11% sehingga jumlah pendapatan B = Rp 24.960.000 (1 + 11)% = Rp. 27.705.600/ha.tahun.

Analisis penghematan biaya berdasar atas pengurangan penggunaan pupuk kimia/pupuk anorganik 75% dari kebiasaan, yaitu 0,75 x 14 kuintal/ha tahun = 10,5 kuintal. Berdasar atas basis luas lahan satu ha maka penghematan biaya yang dilakukan oleh petani adalah :

penghematan biaya pupuk kimia – (biaya pupuk organik + upah pekerja) = 10,5 x (Rp. 110.000 + Rp. 175.000)/2 – (Rp. 100.000 + Rp. 200.000,-) = Rp. 1.196.250/ha.tahun.

Biaya produksi (C) = Rp. 12.000.000 – Rp 1.196.250 = Rp. 10.803.750 Keuntungan usahatani tebu (B – C) = Rp 27.705.600 - Rp 10.803.750 = Rp 16.901.850/ha.tahun.

Rasio pendapatan terhadap biaya : B/C = Rp 27.705.600/Rp 10.803.750 = 2,56 Penghematan biaya pembelian pupuk kimia sebesar 50% untuk skenario (2) dan 75% untuk skenario (3). Meskipun harus menambah biaya pembelian pupuk organik cair Nd dan biaya tenaga kerja untuk penyemprotannya, namun masih lebih menguntungkan, karena biaya pembelian pupuk organik ditambah

biaya tenaga kerja masih lebih rendah dibanding dengan penghematan biaya untuk pembelian pupuk kimia.

Sub model produktivitas tebu keprasan dengan variasi pemupukan disajikan dalam Tabel 4.6.

Tabel 4.6. Sub Model Produktivitas Tebu Keprasan dengan Perlakuan Pemupukan

H a s i l

S k e n a r i o (1) Po (2) P2 (3) P3

Produktivitas tebu (ton/ha.tahun) 156 184 173

Kenaikan produksi tebu (%) - 18 11

Penghematan biaya pupuk (Rp/ha.tahun) - 697.500 1.196.250

Penghematan pupuk (%) - 50 75

Keuntungan usaha tani tebu (Rp/ ha.tahun) 12.960.000 18.150.300 16.901.850

Kenaikan keuntungan usahatani (%) - 40 30

Net B/C 2,08 2,61 2,56

Sumber : Hasil Percobaan dan Penelitian Lapang, 2008/2009.

Penghematan biaya pupuk merupakan efisiensi atau tambahan keuntungan bagi petani. Menurut Khudori (2006), selain keuntungan terukur (tangible benefit) tersebut diatas, ada keuntungan yang tidak kasatmata (intangible benefit) yaitu berkurangnya potensi pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia, dan stagnasi produktivitas akibat kelelahan tanah (soil fatique) bisa dihindari. Hal ini akan menjamin keberlanjutan kapasitas produksi lahan tebu dan pada gilirannya dapat menjamin ketahanan pangan.

Penghematan biaya semacam ini merupakan konsep LEISA (low external

input sustainable agriculture), yaitu sebuah konsep yang mempromosikan sistem

dan cara-cara pertanian yang berkelanjutan dengan menggunakan sedikit mungkin asupan kimiawi tambahan. Penerapan prinsip LEISA memungkinkan dibangunnya suatu pertanian dimana produktivitas dan keuntungan ekonomi ditingkatkan dengan cara memperhatikan aspek ekologis. Misalnya, pemeliharaan ternak untuk dimanfaatkan dalam pembuatan pupuk kandang serta pemanfaatan sampah pertanian seperti dedaunan untuk digunakan sebagai suplemen tanaman.

4.4. Simpulan dan Saran 4.4.1. Simpulan

Sub model produktivitas tebu sistem keprasan dengan perlakuan variasi pemupukan Po, P1, P2 dan P3, berdasar atas Analisis Sidik Ragam (Analysis of

Variance) dengan taraf signifikansi 5%, menunjukkan perbedaan nyata.

Produktivitas tertinggi dicapai pada perlakuan P2 = 21,67 kg/m2, yaitu kombinasi pemupukan dengan pengurangan 50% pupuk kimia dari kebiasaan yang dilakukan oleh petani, ditambah dengan pupuk organik cair Nd. Pada perlakuan P3 diperoleh pengurangan pupuk 75% dari kebiasaan petani namun produktivitasnya hanya 20,33kg/m2, lebih rendah dari pada P2.

Usaha tani tebu yang paling menguntungkan dalam hal ini dicapai oleh perlakuan P2 yaitu 21,67 kg/m2 luas lahan atau 184 ton/ha.tahun. Peningkatan produksi tebu 18 % dari kondisi Po dan penghematan pupuk sebesar Rp 697.500,-/ha.tahun. Keuntungan usahatani tebu Rp. 18.150.300/ha tahun, sedangkan biasanya Rp 12.960.000 atau meningkat 40 %, dan net B/C = 2,61.

menguntungkan petani tebu. Pengurangan pupuk kimia dapat mencegah kerusakan tanah dan bahaya pencemaran kelebihan bahan kimia di lahan tebu. Kelebihan bahan kimia bisa diserap oleh produk pertanian secara berlebihan, selain itu pupuk kimia akan larut terbawa oleh air hujan, mencemari dasar sungai dan terjadi eutrofikasi yang mempercepat pendangkalan alur sungai maupun di daerah muara sungai. Pengurangan bahan kimia merupakan Good Farming

Practices (GFP) yang menjadi salah satu titik kendali kritis dari sistem

manajemen HACCP.

Sub model produktivitas tebu sistem keprasan dengan kombinasi pengurangan pupuk kimia dan penambahan pupuk organik cair Nd dapat meningkatkan produktivitas tebu dan menghemat biaya masukan. Selanjutnya ketersediaan tebu lestari dan aman sebagai bahan baku UKGT. Tanah tidak mengalami kerusakan dan bahkan lebih produktif sehingga UKGT berkelanjutan.

4.4.2. Saran

Penelitian ini perlu ditindak lanjuti untuk tahun kedua, ketiga dan seterusnya untuk melihat dampak positif penggunaan pupuk organik cair Nddan serasah mulsa. Lokasi penelitian diperluas dan diutamakan pada lahan kering. Ukuran luas lahan percobaan diperbesar dan penggunaan pupuk kimia ZA dan PONSKA lebih bervariasi agar diperoleh penghematan lebih optimal.

Perlu penelitian tanpa penggunaan pupuk kimia sama sekali terhadap lahan tebu yang telah diberi pemupukan organik sebelumnya. Hal ini sebagai wujud pelaksanaan LEISA, Agroekologi, HACCP dan ISO 22000, serta menuju pertanian organik secara total. Disamping menjaga kelestarian lingkungan, selalu tersedia pasokan tebu yang aman bagi kesehatan dan UKGT berkelanjutan.

Abstract

The research aims to improve of brown sugarcane quality by sulphitation method in laboratory eksperimental, supposed the result fulfils the first quality according to SNI 1-6237-2000 that is a minimal condition of safety food. The method based on Factorial Complete Random Design with two treatments and three repetitions. Initially cane juice that filtered given lime tohor and heated 50 -

60oC up to achieve ph 9. The treatment: (1) make cane juice pH 7 and pH 8 with

add sulphite acid, and (2) maturing in constant temperature, that is 70, 80, 90, and 100oC. Cane juice that heated up to coagulate and it was poured into moulding and solidification to be brown sugarcane. The testing is done towards sugar quality, it was result with parameter (dependent variable): (1) water content, (2) sucrose content, (3) glucose content, (4) efficiency, (5) colour, (6) taste, (7) smell, and (8) hardness. The result is brown sugarcane that fulfil the first quality of SNI 1-6237-2000 and the best method to produce it is the treatment : making cane juice pH 7 and heats in constant maturing temperature 100°C.

Keyword: brown sugarcane, quality, sulfitation method.

5.1. Pendahuluan

Usaha kecil gula tumbu (UKGT) merupakan agroindustri, mengolah tebu menjadi gula merah dilakukan oleh sebagian masyarakat Kabupaten Kudus secara tradisional, berlangsung hingga sekarang setiap musim panen tebu. Gula merah tebu yang dihasilkan, disebut gula tumbu dengan kualitas II (Latief, 2001 dan Latief, 2007). Berdasarkan analisis laboratorium diketahui kadar air 8,9%, kadar sukrosa 64 %, dan kadar glukosa 12,5 %. Gula merah tebu di Jepang disebut

kokuto, aman untuk dikonsumsi sebab mengandung senyawa anti oksidan yaitu,

polikosanol, dan aldehid rantai panjang sebagai anti kanker dan pengaturan tekanan darah (Asikin, 2008).

Rendahnya kualitas gula tumbu tersebut berpengaruh terhadap ketahanan atau lamanya penyimpanan. Gula tumbu yang disimpan lebih dari tiga bulan menjadi lembek, dan ditumbuhi fungi/jamur atau kapang, sehingga harga jual menjadi rendah.

Agar gula yang dihasilkan berkualitas baik, maka perlu dilakukan proses pemurnian nira. Pemurnian nira bertujuan untuk menghilangkan sebanyak mungkin kotoran, baik buih maupun bentuk garam yang mengendap dengan cara disaring, sehingga nira menjadi jernih. Menurut Hugot (1992) dan Elfers (1994), metode pemurnian nira ada tiga, yaitu: defekasi, sulfitasi dan karbonatasi. Metode sulfitasi mampu mengikat kotoran lebih sempurna dibanding metode defekasi, namun masih dapat ditingkatkan dengan metode karbonatasi. Peningkatkan kualitas gula tumbu dalam penelitian ini dipilih metode sulfitasi karena metode karbonatasi secara teknis sulit diterapkan dalam UKGT.

Tujuan penelitian ini adalah merancang sub model peningkatan kualitas gula tumbu. Sub model atau metode proses terbaik dari berbagai interaksi pH dan suhu pemasakan nira terhadap kualitas gula merah yang dihasilkan melalui metode sulfitasi dalam laboratorium, diharapkan menghasilkan gula merah yang memenuhi mutu I sesuai denganSNI 1-6237-2000. Sub model atau metode proses yang didapat dari penelitian ini, adalah perlakuan pH tertentu dan suhu pemasakan tertentu yang paling banyak menghasilkan parameter mutu gula tumbu terbaik. Sub model tersebut kedepan dapat digunakan sebagai acuan atau diaplikasikan secara nyata dalam skala produksi di UKGT. Pengujian mutu dibatasi berdasarkan parameter atau variabel terikat: (1) kadar air, (2) kadar sukrosa, (3) kadar glukosa, (4) rendemen, (5) warna, (6) rasa, (7) aroma, dan (8) kekerasan.

5.2. Metode Penelitian

Dokumen terkait