II. TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Analisis Finansial dan Ekonomi
Analisis finansial bertujuan untuk menilai apakah suatu kegiatan tertentu layak secara finansial, atau dapat memberikan keuntungan finansial bagi perusahaan dengan tujuan untuk memaksimumkan keuntungan. Pengambilan keputusan berdasarkan penilaian kelayakan suatu kegiatan, sangat penting untuk turut memperhitungkan semua biaya dan manfaat yang relevan dan/atau benar terjadi sebagai akibat pelaksanaan kegiatan. Berbeda dengan analisis finansial, dalam analisis valuasi ekonomi berbagai biaya lingkungan dan biaya sosial yang mungkin atau potensial terjadi turut diperhitungkan dalam menilai kelayakan investasi suatu kegiatan. Kriteria kelayakan investasi tetap sama, yaitu berdasarkan NPV (net present value).
Kelayakan finansial suatu kegiatan ditunjukan oleh nilai NPV, B/C ratio (Benefit-Cost Ratio), atau IRR (Internal Rate of Return). Nilai NPV, B/C ratio dan IRR sesungguhnya saling berhubungan satu sama lainnya. Suatu kegiatan dikatakan layak secara finansial (menguntungkan bagi perusahaan) bila nilai NPV-nya positif. Bila NPV positif artinya nilai B/C ratio-nya lebih besar dari satu, dan nilai IRR-nya lebih besar dari tingkat suku bunga diskonto (discount rate) yang dipergunakan dalam perhitungan nilai NPV. Salah satu dari ketiga nilai tersebut dapat dipergunakan untuk mengambil keputusan apakah suatu kegiatan akan menguntungkan (layak) atau tidak secara finansial.
Analisis finansial yang perlu diperhatikan adalah waktu didapatkannya pengembalian (returns), sebaliknya analisis ekonomi yang diperhatikan ialah hasil
total atau produktivitas atau keuntungan didapat dari semua sumber yang dipakai dalam proyek untuk masyarakat atau perekonomian secara keseluruhan, tanpa melihat siapa yang menyediakan sumber-sumber tersebut dan siapa yang dalam proyek menerima hasil proyek tersebut. Hasil itu disebut “the social returns” atau
“the economic returns” dari proyek.
2.7.2 Analisis Biaya Mafaat
Suatu kajian penggunaan kawasan sebaiknya dan idealnya melibatkan evaluasi semua manfaat dan biaya-biaya serta dihubungkan dengan pilihan penggunaan yang relevan. Nilai-nilai tersebut bisa disatukan dalam analisa biaya dan manfaat, yang berguna untuk melihat trade off dari perbedaan pilihan pembangunan. Analisis biaya manfaat merupakan alat standar untuk evaluasi jasa ekonomi investasi atau proyek pembangunan. Alat analisis ini secara luas digunakan untuk mengevaluasi pilihan-pilihan penggunaan kawasan hutan (International Institute for Environmental and Development 2003). Analisis biaya manfaat dapat digunakan untuk menganalisis dampak ekonomi pembangunan dengan melakuan evaluasi semua manfaat dan biaya yang terjadi dalam suatu pembangunan.
Kekuatan analisis biaya manfaat adalah penggunaan kriteria keputusan secara eksplisit dan secara langsung dapat diperbandingkan. Logika yang mendasari analisis ini adalah untuk setiap pilihan aktivitas (seperti pilihan penggunaan lahan) masing-masing manfaat bersih (net benefit) harus diperbandingkan dimana net benefit dari pilihan yang diambil secara sederhana diformulasikan dalam persamaan :
Net Benefit (NB) = Benefit (B) – costs (C)
Manfaat dan biaya diidentifikasi untuk setiap periode waktu biasanya per tahun atau menggunakan time horizon. Pengunaan teknik discounting, net benefit sepanjang waktu dapat dikombinasikan ke dalam satu tampilan agregat tunggal atau NPV. Setiap pilihan penggunaan kawasan hutan misalkan pilihan A (pilihan pengelolaan HCVA) , net benefit (NBA) harus melebihi dari net benefit (NBB) jika pilihan A lebih disukai.
31
Pilihan penggunaan kawasan hutan untuk membandingkan pilihan antara konservasi hutan dan pertambangan maka harus melibatkan manfaat dan biaya-biaya sosial dan biaya lingkungan yang disebabkan karena adanya nilai yang hilang dari konversi hutan (perubahan penggunaan kawasan hutan menjadi pertambangan). Perubahan tersebut akan menyebabkan kehilangan fungsi lingkungan penting seperti pengatur tata air/DAS dan carbon storage) serta sumberdaya hutan (kayu komersial, hasil hutan bukan kayu dan rekreasi ameniti). Hal ini dapat dikatakan bahwa nilai yang hilang merupakan nilai ekonomi total dari keberadaan hutan dan merupakan cerminan dari ekstrenalitas negatif atau dampak kerusakan akibat perkebunan kelapa sawit.
Beberapa studi dengan analisis biaya manfaat yang telah dikaji oleh International Institute for Environmental and Development (2003) yang mengestimasi biaya dan manfaat finansial dari ekstraksi lestari buah-buahan hutan, lateks, dan kayu dan membandingkannya dengan pengembangan bersih potensial dengan menggunakan analisis biaya manfaat pilihan pengggunaan kawasan hutan.
2.7.3 Analisis Sensitivitas
Gittinger (2008) menyebutkan analisis sensitivitas adalah suatu analisa untuk dapat melihat pengaruh-pengaruh yang akan terjadi akibat keadaan yang berubah-ubah. Analisis sensitivitas merupakan perlakukan terhadap ketidakpastian karena proyeksi suatu proyek selalu menghadapi ketidakpastian yang dapat saja terjadi pada keadaan yang telah kita ramalkan atau perkirakan. Gray, Kadariah, dan Karlina (1999) menyebutkan bahwa analisis sentivitas tujuannya ialah untuk melihat apa yang akan terjadi dengan hasil analisis proyek jika ada kesalahan atau perubahan dalam dasar-dasar perhitungan biaya atau manfaat. Analisis sensitivitas diperlukan, karena analisis ini didasarkan pada proyeksi-proyeksi yang banyak mengandung ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan adalah (a) terdapatnya cost over run, misalnya kenaikan biaya konstruksi, (b) perubahan dalam perbandingan harga terhadap tingkat harga umum, misalnya penurunan harga hasil produksi, (c) mundurnya waktu implementasi, dan (d) kesalahan dalam perkiraan hasil per hektar. Analisis sensitivitas perubahan dalam
harga perlu dilakukan terutama untuk proyek-proyek dengan umur ekonomis yang panjang dan dalam ukuran yang besar.
2.8Analisis Kebijakan Pengelolaan HCVA di Perkebunan Kelapa Sawit Freeman (1984) mendefinisikan stakeholder sebagai kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dapat dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi. Analisis kebijakan pengelolaan HCVA di perkebunan kelapa sawit menggunakan analisis pemangku kepentingan (stakeholder). Reed et al. (2009) mendefinisikan analisis stakeholder sebagai proses dengan tujuan untuk (1) mendefinisikan aspek sosial dan fenomena alam yang dipengaruhi oleh kebijakan atau tindakan, (2) mengidentifikasi individu, kelompok dan organisasi yang dipengaruhi oleh atau dapat mempengaruhi bagian dari fenomena (dapat melibatkan bukan manusia dan bukan makhluk hidup dan generasi masa depan), (3) memprioritaskan individu dan kelompok tersebut terlibat dalam proses pembuatan keputusan. Analisis stakeholder merupakan suatu pendekatan untuk memahami sebuah sistem dan perubahan yang terjadi di dalamnya, dengan mengidentifikasi aktor kunci atau stakeholder kunci dan menilai kepentingan masing-masing stakeholder dalam sistem tersebut (Grimble and Wellard, 1997).
Analisis stakeholder dipadang sebagai cara membangkitkan informasi dari pelaku yang sesuai untuk memahami tingkah laku, kepentingan, agenda dan pengaruh dalam proses pengambilan kebijakan (Brugha dan Varvasovsky 2000 dalam Reed et al. 2009). Analisis stakeholder memandu kita untuk dapat sampai pada persoalan dan memahami alasan yang ada di balik konflik kepentingan yang mengancam keberhasilan suatu proyek atau kebijakan (Grimble and Chan 2005).
Meyers (2001) menyatakan bahwa analisis stakeholder diperlukan untuk memahami posisi orang lain dalam menghadapi isu yang ada, sehingga dapat menakar tingkat dukungan atau oposisi dari orang lain dan memprediksi langkah yang akan diambil bila terjadi perubahan. Masing-masing stakeholder memiliki derajat kekuatan (power) yang berbeda-beda dalam mengontrol keputusan yang berpengaruh pada kebijakan dan lembaga. Mereka memiliki derajat potensi yang berbeda untuk disumbangkan atau derajat kepentingan (interest) yang berbeda dalam mencapai tujuan tertentu. Reed et al. 2009 menyatakan bahwa analisis
33
stakeholder terdiri atas (1) identifikasi stakeholder, (2) pembedaan di antara kategorisasi stakeholder, (3) investigasi hubungan di antara stakeholder.