II. TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Analisis Finansial
Menurut Kadariah, L Karlina dan C Gray (1978), untuk mengetahui kelayakan suatu usaha perlu dilakukan pengujian melalui analisis finansial. Selain itu usaha agribisnis merupakan usaha yang memerlukan modal usaha yang cukup besar dengan resiko yang besar pula. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis kelayakan usaha, yang dimaksud untuk mengevaluasi apakah usaha tersebut layak untuk diusahakan. Untuk mengevaluasi kelayakan usaha perlu diketahui besar manfaat dan besar biaya dari setiap unit yang dianalisis. Manfaat (benefit) adalah apa yang diperoleh orang atau badan swasta yang menanamkan modalnya dalam proyek. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam kelayakan suatu usaha, antara lain aspek teknis, aspek manajerial dan administratif, aspek organisasi, aspek komersial, aspek finansial dan aspek
ekonomis. Analisis finansial dapat dilakukan melalui analisis usaha dan analisis kriteria investasi.
2.4.1 Analisis Usaha
Analisis usaha perikanan merupakan pemeriksaan keuangan untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan yang telah dicapai selama usaha perikanan berlangsung. Dalam analisis usaha perikanan komponen yang digunakan adalah biaya produksi, penerimaan usaha dan pendapatan yang diperoleh dari usaha perikanan. Dalam analisis usaha dilakukan analisis pendapatan usaha, analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C) dan analisis waktu pengembalian modal (payback period), Return of Investment (ROI), dan
Break Event Point (BEP) (Rahardi F, Nazaruddin dan R Kristiawati 2005). Analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C) adalah tingkat perbandingan antara penerimaan total dengan biayanya. Analisis imbangan penerimaan dari biaya (Revenue-Cost Ratio) bertujuan untuk menguji sejauh mana hasil yang diperoleh dari usaha tertentu (dihitung selama periode satu tahun) cukup menguntungkan. Dengan kata lain, seberapa jauh setiap nilai rupiah biaya yang digunakan dalam kegiatan usaha tertentu dapat memberikan nilai
penerimaan sebagai manfaatnya (Hernanto F 1989).
Analisis pendapatan usaha (laba) adalah total penerimaan (TR = Total Revenue) dikurangi dengan biaya total (TC = Total Cost). Jadi perubahan laba yang akan diperoleh perusahaan tergantung dari perubahan penerimaan (MR =
Marginal Revenue) dan perubahan biaya (MC = Marginal Cost) (Sugiarto, T Herlambang, Brastoro, R Sudjana, S Kelana 2005).
Penerimaan adalah total produksi dikalikan dengan harga per satuan produk. Biaya produksi adalah seluruh biaya yang diperlukan untuk menghasilkan sejumlah output tertentu, yang terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah dengan berubahnya jumlah output. Biaya variabel adalah biaya yang berubah dengan berubahnya jumlah output (Lipsey R G, PN Courant, DD Purvis, PO Steiner 1995).
Analisis payback period digunakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang digunakan untuk melunasi investasi yang ditanamkan. Metode payback
period merupakan metode yang menghitung seberapa cepat investasi yang dilakukan bisa kembali, karena itu hasil perhitungannya dinyatakan dalam satuan waktu yaitu tahun atau bulan (Husnan S, E Pudjiastuti 2004).
Break even point (BEP) adalah titik kembali modal yang menunjukkan biaya total yang dikeluarkan perusahaan sama dengan hasil penjualan yang diterimanya. Pada saat BEP dicapai usaha tidak untung dan tidak rugi. BEP dapat dihitung dengan mengetahui biaya tetap, biaya produksi, dan hasil penjualan (Sugiarto, T Herlambang, Brastoro, R Sudjana, S Kelana 2002).
Return of Investment (ROI) merupakan nilai keuntungan yang diperoleh pengusaha dari setiap jumlah uang yang diinvestasikan dalam periode waktu tertentu. Analisis ROI dapat digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal dalam kegiatan usaha tersebut. Besar kecilnya nilai ROI ditentukan oleh kemampuan pengusaha dalam menghasilkan keuntungan dan mengembalikan investasi serta penggunaan investasi dari luar untuk memperbesar perusahaan. Besarnya ROI dapat diperoleh dari rumus berikut ini (Rahardi F, Nazaruddin dan R Kristiawan 2005).
2.4.2 Analisis Kriteria Investasi
Analisis kriteria investasi merupakan analisis untuk mencari suatu ukuran menyeluruh tentang baik tidaknya suatu usaha yang telah dikembangkan. Setiap kriteria investasi menggunakan present value yang telah di-discount dari arus-arus benefit dan biaya selama umur suatu usaha (Kadariah, L Karlina dan C Gray 1978). Penilaian investasi dalam suatu usaha dilakukan dengan membandingkan antara semua manfaat yang diperoleh akibat investasi dengan semua biaya yang dikeluarkan selama proses investasi dilaksanakan.
Analisis kelayakan usaha adalah penelitian tentang pengevaluasian apakah suatu usaha layak atau tidak untuk dilaksanakan atau dilanjutkan, dilihat dari sudut pandang badan-badan atau orang-orang yang menanamkan modalnya. Suatu usaha dikatakan layak apabila usaha tersebut mendatangkan keuntungan. Dalam rangka mencari ukuran menyeluruh tentang baik tidaknya suatu kegiatan usaha telah dikembangkan berbagai macam indeks yang disebut kriteria investasi. Setiap indeks tersebut menggunakan Present Value (PV) yang telah didiscount dari
arus-arus manfaat dan biaya selama umur kegiatan usaha (Kadariah, L Karlina, C Gray 1978).
Kadariah, L Karlina, C Gray (1978) mengemukakan bahwa suatu usaha atau poyek dikatakan layak atau tidak untuk dilaksanakan jika sesuai dengan ukuran kriteria investasi yang ada. Beberapa metode pengukuran dalam kriteria investasi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut :
(1)Net Present Value (NPV) yaitu nilai kini dari keuntungan bersih yang ada diperoleh pada masa mendatang, yang merupakan selisih kini dari benefit
dengan nilai kini dari biaya.
(2)Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) adalah perbandingan antara jumlah nilai kini dari keuntungan bersih pada tahun dimana keuntungan bersih bernilai positif dengan keuntungan bersih yang bernilai negatif.
(3)Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat bunga dimana nilai kini dari biaya total sama dengan nilai kini dari penerimaan total. IRR dapat pula dianggap sebagai tingkat keuntungan atas investasi bersih dalam suatu proyek dengan syarat setiap manfaat yang diwujudkan, yaitu setiap selisih benefit (Bt) dan cost (Ct) yang bernilai positif secara otomatis ditanamkan kembali pada tahun berikutnya dan mendapatkan tingkat keuntungan yang sama selama sisa umur proyek.
Berdasarkan analisis kriteria investasi, maka usaha pada pembudidaya Heru Fish Farm dinilai layak untuk dikembangkan jika diperoleh hasil perhitungan NPV > 0 ; Net B/C≥ 1 dan IRR≥interest rate.
2.4.3 Analisis Sensitivitas
Analisis Sensitivitas adalah untuk menelaah kembali suatu analisis untuk dapat melihat pengaruh-pengaruh yang terjadi akibat keadaan yang berubah-ubah. Analisis sensitivitas bertujuan untuk melihat bagaimana hasil analisis suatu kegiatan ekonomi bila ada suatu kesalahan atau perubahan-perubahan dalam dasar-dasar perhitungan biaya atau keuntungan (Kadariah, L Karlina dan C Gray 1978).
Menurut Gittinger JP(1986), analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat sampai berapa persen peningkatan atau penurunan faktor-faktor tersebut dapat
mengakibatkan perubahan dalam criteria investasi yaitu dari layak menjadi tak layak untuk dilaksanakan. Dengan demikian, analisis sensitivitas membantu menentukan unsur yang sangat menentukan hasil proyek, dan juga dapat membantu pengawasan yang lebih ketat untuk menjamin hasil yang diharapkan akan menguntungkan perekonomian (Kadariah, L Karlina dan C Gray 1978).