VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
5) Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya ( R/C )
6.4.2 Analisis Sensitivitas Terhadap Kenaikan Harga Pakan
Perubahan harga pakan (pellet, cacing sutera, dan artemia) yang sering dialami oleh Heru Fish Farm adalah kenaikan harga yang terus meningkat yang sangat mempengaruhi kelangsungan usaha yang dijalankan. Analisis yang perlu
dilakukan pada usaha usaha budidaya ikan hias air tawar ini adalah analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga pakan. Analisis sensitivitas terhadap
kenaikan harga pakan tersebut terdiri atas dua skenario, dimana skenario pertama adalah modal yang digunakan merupakan modal sendiri dan skenario kedua adalah modal berasal dari pinjaman bank.
(a) Skenario 1
Metode yang digunakan dalam melakukan analisis ini adalah swtching value. Berdasarkan analisis switching value dengan menggunakan modal sendiri, persentase kenaikan harga pakan Heru Fish Farm yang menyebabkan usaha ikan hias air tawar tidak layak untuk dikembangkan adalah sebesar 750,64% dengan nilai NPV sebesar (Rp0,01). Perbandingan nilai kriteria investasi dengan
menggunakan modal sendiri setelah terjadinya kenaikan harga pakan tersaji pada Tabel 16.
Berdasarkan Tabel 16, terlihat bahwa dengan menggunakan modal sendiri nilai NPV yang diperoleh menurun hingga mempunyai nilai kurang dari nol (bernilai negatif). Nilai NPV yang diperoleh setelah kenaikan harga pakan tersebut adalah (Rp0,01)yang artinya bahwa pada tingkat suku bunga 10,8%, nilai saat ini dari keuntungan (net benefit) yang diperoleh selama umur proyek sepuluh tahun di masa yang akan datang adalahsebesar (Rp0,01). Sehingga usaha yang dilakukan oleh Heru Fish Farm tidak layak untuk dikembangkan.
Tabel 16. Perbandingan Nilai Kriteria Investasi pada Skenario 1 Setelah Terjadi Kenaikan Harga Pakan sebesar 750,64%
No. Kriteria Investasi Sebelum Kenaikan Harga
Pakan
Setelah Kenaikan Harga Pakan 1 Harga Pakan Pellet 5.000,00 42.531,95 Cacing Sutera 5.000,00 42.531,95 Artemia 80.000,00 680.511,18 Garam krosok 1.500,00 12.759,58 Cacing darah 5.000,00 42.531,95 2 NPV (Rp) 1.023.006.121,90 (0,01) 3 Net B/C 3,43 1,00 4 IRR (%) 57,20 10,79
Internal Rate of Return (IRR) yang diperolehdengan discount rate sebesar 10,8% adalah 10,79% sebelum terjadi penurunan harga output dengan
menggunakan modal sendiri. Nilai tersebut menurun sebesar 46,41% setelah terjadi penurunan harga output, dengan demikian diperoleh nilai IRR hasil analisis sensitivitas terhadap penurunan harga output sebesar 10,79%. Hal ini berarti bahwa usaha usaha budidaya ikan hias air tawar ini mampu memberikan tingkat pengembalian atau keuntungan sebesar 10,79% per tahun dari seluruh investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun umur proyek, sehingga menyebabkan usaha ini rugi. Hal ini dapat disimpulkan dengan melihat perubahan nilai kriteria investasi dimana nilai NPV kurang dari nol, yaitu sebesar (Rp0,01), nilai IRR
lebih kecil dari tingkat suku bunga yaitu sebesar 10,79%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa usaha ini pada skenario 1 (modal sendiri) tidak sensitif terhadap kenaikan harga pakan, dimana nilai sensitivitasnya adalah sebesar 750,64%.
(b) Skenario 2
Metode yang digunakan dalam melakukan analisis ini adalah swtching value. Berdasarkan analisis switching value dengan menggunakan modal pinjaman, persentase kenaikan harga pakan Heru Fish Farm yang menyebabkan usaha ikan hias air tawar tidak layak untuk dikembangkan adalah sebesar
809,18% dengan nilai NPV sebesar (Rp0,01). Perbandingan nilai kriteria investasi dengan menggunakan modal pinjaman setelah terjadinya kenaikan harga pakan tersaji pada Tabel 17.
Berdasarkan Tabel 17, terlihat bahwa dengan menggunakan modal
pinjaman nilai NPV yang diperoleh menurun hingga mempunyai nilai kurang dari nol (bernilai negatif). Nilai NPV yang diperoleh setelah kenaikan harga pakan tersebut adalah (Rp0,01)yang artinya bahwa pada tingkat suku bunga 10,8%, nilai saat ini dari keuntungan (net benefit) yang diperoleh selama umur proyek sepuluh tahun di masa yang akan datang adalahsebesar (Rp0,01). Sehingga usaha yang dilakukan oleh Heru Fish Farm tidak layak untuk dikembangkan.
Tabel 17. Perbandingan Nilai Kriteria Investasi pada Skenario 2 Setelah Terjadi Kenaikan Harga Pakan sebesar 809,18%
No. Kriteria Investasi Sebelum Kenaikan Harga
Pakan
Setelah Kenaikan Harga Pakan 1 Harga Pakan Pellet 5.000,00 45.458,93 Cacing Sutera 5.000,00 45.458,93 Artemia 80.000,00 727.342,95 Garam krosok 1.500,00 13.637,68 Cacing darah 5.000,00 45.458,93 2 NPV (Rp) 1.100.467.488,99 (0,01) 3 Net B/C 4,58 1,00 4 IRR (%) 73,91 10,79
Sumber : Data Primer Diolah, Tahun 2008
Internal Rate of Return (IRR) yang diperolehdengan discount rate sebesar 10,8% adalah 10,79% sebelum terjadi penurunan harga output dengan
menggunakan modal pinjaman. Nilai tersebut menurun sebesar 63,12% setelah terjadi kenaikan harga pakan, dengan demikian diperoleh nilai IRR hasil analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga pakan sebesar 10,79%. Hal ini berarti bahwa usaha usaha budidaya ikan hias air tawar ini mampu memberikan tingkat
pengembalian atau keuntungan sebesar 10,79% per tahun dari seluruh investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun umur proyek, sehingga menyebabkan usaha ini rugi. Hal ini dapat disimpulkan dengan melihat perubahan nilai kriteria investasi dimana nilai NPV kurang dari nol, yaitu sebesar (Rp0,01), nilai IRR
lebih kecil dari tingkat suku bunga yaitu sebesar 10,79%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa usaha ini pada skenario 2 (modal pinjaman) tidak sensitif terhadap kenaikan harga pakan, dimana nilai sensitivitasnya adalah sebesar 809,18%.
6.4.3 Analisis Sensitivitas Terhadap Penurunan Harga Output dan
Kenaikan Harga Pakan (a) Skenario 1
Metode yang digunakan dalam melakukan analisis ini adalah swtching value. Berdasarkan analisis switching value terhadap kombinasi perubahan harga yaitu penurunan harga output dankenaikan harga pakan dengan menggunakan modal sendiri, persentase penurunan harga output dankenaikan harga pakan Heru
Fish Farm yang menyebabkan usaha ikan hias air tawar tidak layak untuk dikembangkan adalah sebesar 29,47% dengan nilai NPV sebesar (Rp0,01). Perbandingan nilai kriteria investasi dengan menggunakan modal sendiri setelah terjadinya penurunan harga output dankenaikan harga pakan tersaji pada Tabel 18.
Berdasarkan Tabel 18, terlihat bahwa dengan menggunakan modal sendiri nilai NPV yang diperoleh menurun hingga mempunyai nilai kurang dari nol (bernilai negatif). Nilai NPV yang diperoleh setelah penurunan harga output dan kenaikan harga pakan tersebut adalah (Rp0,01)yang artinya bahwa pada tingkat suku bunga 10,8%, nilai saat ini dari keuntungan (net benefit) yang diperoleh selama umur proyek sepuluh tahun di masa yang akan datang adalahsebesar (Rp0,01). Sehingga usaha yang dilakukan oleh Heru Fish Farm tidak layak untuk dikembangkan.
Tabel 18. Perbandingan Nilai Kriteria Investasi pada Skenario 1 Setelah Terjadi Penurunan Harga Output dan Kenaikan Harga Pakan sebesar 29,47%
No. Kriteria Investasi
Sebelum Penurunan Harga
Output dan Kenaikan Harga Pakan
Setelah Penurunan Harga
Output dan Kenaikan Harga Pakan
1 Harga :
Koi (Cyprinus carpio) 20.000,00 14.106,12 Silver Dolar (Metynnis 500,00 352,65
hypsauchen) 12.500,00 8.816,32
Red Fin Shark
(Ephalzeorhynchus frenatus) 3.500,00 2.468,57
Corydoras Albino (Corydoras
aeneus) 600,00 423,18
Komet (Carassius auratus) 2.200,00 1.551,67 Platy Pedang (Xyphophorus
helleri) 1.000,00 705,31 Pellet 5.000,00 6.473,47 Cacing Sutera 5.000,00 5.000,00 Artemia 80.000,00 80.000,00 Garam Krosok 1.500,00 1.500,00 Cacing Darah 5.000,00 5.000,00 2 NPV (Rp) 1.023.006.121.90 (0,01) 3 Net B/C 3,43 1,00 4 IRR (%) 57,20 10,79
Sumber : Data Primer Diolah, Tahun 2008
Internal Rate of Return (IRR) yang diperolehdengan discount rate sebesar 10,8% adalah 10,79% sebelum terjadi penurunan harga output dengan
menggunakan modal sendiri. Nilai tersebut menurun sebesar 46,41% setelah terjadi penurunan harga output, dengan demikian diperoleh nilai IRR hasil analisis sensitivitas terhadap penurunan harga output sebesar 10,79%. Hal ini berarti bahwa usaha usaha budidaya ikan hias air tawar ini mampu memberikan tingkat pengembalian atau keuntungan sebesar 10,79% per tahun dari seluruh investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun umur proyek, sehingga menyebabkan usaha ini rugi. Hal ini dapat disimpulkan dengan melihat perubahan nilai kriteria investasi dimana nilai NPV kurang dari nol, yaitu sebesar (Rp0,01), nilai IRR
lebih kecil dari tingkat suku bunga yaitu sebesar 10,79%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa usaha ini pada skenario 1 (modal sendiri) sensitif terhadap penurunan harga output dankenaikan harga pakan, dimana nilai sensitivitasnya adalah sebesar 29,47%.
(b) Skenario 2
Metode yang digunakan dalam melakukan analisis ini adalah swtching value. Berdasarkan analisis switching value terhadap kombinasi perubahan harga yaitu penurunan harga output dankenaikan harga pakan dengan menggunakan modal pinjaman, persentase penurunan harga output dankenaikan harga pakan Heru Fish Farm yang menyebabkan usaha ikan hias air tawar tidak layak untuk dikembangkan adalah sebesar 31,77% dengan nilai NPV sebesar (Rp0,01). Perbandingan nilai kriteria investasi dengan menggunakan modal pinjaman setelah terjadinya penurunan harga output dankenaikan harga pakan tersaji pada Tabel 19.
Berdasarkan Tabel 19, terlihat bahwa dengan menggunakan modal
pinjaman nilai NPV yang diperoleh menurun hingga mempunyai nilai kurang dari nol (bernilai negatif). Nilai NPV yang diperoleh setelah penurunan harga output
dankenaikan harga pakan tersebut adalah (Rp0,01)yang artinya bahwa pada tingkat suku bunga 10,8%, nilai saat ini dari keuntungan (net benefit) yang diperoleh selama umur proyek sepuluh tahun di masa yang akan datang adalah sebesar (Rp0,01). Sehingga usaha yang dilakukan oleh Heru Fish Farm tidak layak untuk dikembangkan.
Internal Rate of Return (IRR) yang diperolehdengan discount rate sebesar 10,8% adalah 10,79% sebelum terjadi penurunan harga output dengan
menggunakan modal pinjaman. Nilai tersebut menurun sebesar 63,12% setelah terjadi kenaikan harga pakan, dengan demikian diperoleh nilai IRR hasil analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga pakan sebesar 10,79%. Hal ini berarti bahwa usaha usaha budidaya ikan hias air tawar ini mampu memberikan tingkat
pengembalian atau keuntungan sebesar 10,79% per tahun dari seluruh investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun umur proyek, sehingga menyebabkan usaha ini rugi. Hal ini dapat disimpulkan dengan melihat perubahan nilai kriteria investasi dimana nilai NPV kurang dari nol, yaitu sebesar (Rp0,01), nilai IRR
lebih kecil dari tingkat suku bunga yaitu sebesar 10,79%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa usaha ini pada skenario 2 (modal pinjaman) sensitif terhadap penurunan harga output dankenaikan harga pakan, dimana nilai sensitivitasnya adalah sebesar 31,77%.
Tabel 19. Perbandingan Nilai Kriteria Investasi pada Skenario 2 Setelah Terjadi Penurunan Harga Output dan Kenaikan Harga Pakan sebesar 31,77%
No. Kriteria Investasi
Sebelum Penurunan Harga
Output dan Kenaikan Harga Pakan
Setelah Penurunan Harga
Output dan Kenaikan Harga Pakan
1 Harga :
Koi (Cyprinus carpio) 20.000,00 13.646,47 Silver Dolar (Metynnis 500,00 341,16
hypsauchen) 12.500,00 8.529,05
Red Fin Shark
(Ephalzeorhynchus frenatus) 3.500,00 2.388,13
Corydoras Albino (Corydoras
aeneus) 600,00 409,39
Komet (Carassius auratus) 2.200,00 1.501,11 Platy Pedang (Xyphophorus
helleri) 1.000,00 682,32 Pellet 5.000,00 6.588,38 Cacing Sutera 5.000,00 5.000,00 Artemia 80.000,00 80.000,00 Garam Krosok 1.500,00 1.500,00 Cacing Darah 5.000,00 5.000,00 2 NPV (Rp) 1.100.467.488,99 (0,01) 3 Net B/C 4,58 1,00 4 IRR (%) 73,91 10,79
Sumber : Data Primer Diolah, Tahun 2008
Berdasarkan analisis sensitivitas terhadap kedua skenario, dapat
disimpulkan bahwa usaha yang dilakukan oleh Heru Fish Farm sensitif terhadap penurunan harga output, kombinasi penurunan harga output dan kenaikan harga
pakan serta tidak sensitif terhadap kenaikan harga pakan, baik pada skenario 1 mau pun skenario 2. Pada skenario 1 (modal sendiri) merupakan skenario usaha yang paling sensitif terhadap penurunan harga output serta kombinasi penurunan harga output dan kenaikan harga pakan dibandingkan dengan skenario 2 (modal pinjaman).