• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DAN PEMBAHASAN

IV.I. Analisis Berita Majalah Mingguan Tempo

3. Analisis Framing Majalah Tempo Edisi 9-15 April

Edisi ini adalah edisi ketiga Tempo memuat secara berturut-turut pemberitaan seputar keterlibatan kelompok Abu Dujana dalam tindakan terorisme di tanah air. Pada edisi ini, Tempo memuatnya lebih dalam dan menyeluruh. Untuk itu Tempo memuat berita ini di rubrik Laporan Utama. Selain di Laporan Utama, Tempo juga mengulasnya di rubrik opini dengan judul “Teroris Bersalin Rupa”

Setelah mengawali tulisan tentang Abu Dujana dan kelompoknya di rubrik opini, Tempo mencoba mengulasnya lagi di Laporan Utama. Terdapat empat tulisan mengenai kelompok Abu Dujana di Laporan Utama edisi ini. Masing-masing dengan judul “Komplotan ‘Pak Guru’ Dujana”. Tulisan ini bercerita tentang pergantian struktur baru Jamaah Islamiyah. Dalam struktur baru yang didapatkan polisi dari Sarwo Edi, seorang tersangka yang baru tertangkap, diketahui bahwa ada faksi baru dalam tubuh Jamaah Islamiyah. Dalam hal ini Abu Dujana bertindak sebagai sariyah alias komandan tentara yang membawahi banyak pasukan.

Dari sini juga diketahui bahwa arah dan garis perjuangan kelompok ini juga sudah mulai beralih. Kelompok ini mulai kurang sepaham dengan cara-cara pengeboman yang dilakukan selama ini. Oleh karena itu Noor Din M Toop mulai dikucilkan oleh kelompok ini karena masih memakai cara kekerasan dalam mencapai tujuannya.

“Akhir Pelarian Pengebom Tentena”, bercerita tentang sepak terjang beberapa murid Dr Azhari. Salah satunya Mujadid, yang diduga terlibat pengeboman pasar Tentena. “Dari Sebuah Corat-coret”, bercerita tentang Universitas Kristen Satya Wacana yang menjadi incaran teroris karena salah seorang dosennya yang menurut para tersangka sering

menghambat pergerakan mereka. Tulisan ini diakhiri dengan sebuah wawancara dengan Sarwo Edi dengan judul “Kekerasan Itu Jalan Darurat”.

Walaupun begitu arah penulisan yang dimuat Tempo sangat berpihak kepada pihak kepolisian. Untuk pendapat yang kontra dengan apa yang asumsi Tempo, Tempo hanya memuat satu pernyataan dari Abu Bakar Baasyir yang kalau di follow up lagi, mungkin kesimpulan yang diambil Tempo akan berbeda, berikut pernyataan Abu Bakar Baasyir tersebut yang ditulis Tempo :

“ …Yang keluar dari polisi selalu rekayasa, diambil dari pengakuan orang yang disiksa,” kata pendiri Pondok Pesantren Al-Mukmin itu”

Berikut akan dilihat bagaimana Tempo membingkai berita ini yang akan dilihat melalui analisis framing versi Robert N. Entman.

Define problems. Dalam edisi kali ini Tempo mengidentifikasi permasalahan ini sebagai

permasalahn internal yang terjadi di tubuh Jamaah Islamiyah. Menurut Tempo sebenarnya sudah terjadi perpecahan di tubuh Jamaah Islamiyah. Dan perpecahan ini semakin memperlemah keberadaan kelompok ini. Seperti dituliskan Tempo berikut ini :

“Selain dilemahkan perpecahan yang memang biasa terjadi pada gerakan bawah tanah, doktrin Jamaah Islamiyah ternyata mulai digerogoti pembelotan. Para pelaku yang telah sadar atas kesesatan strategi perjuangannya kini membantu polisi dalam menginsyafkan rekan-rekan mereka yang baru tertangkap aparat hukum”

Tetapi walaupun permasalahan perpecahan di tubuh Jamaah Islamiyah sudah mulai muncul, polisi tidak langsung percaya dengan semua yang dikatakan para tersangka. Karena alasan perpecahan ini bisa saja sebagai dipakai untuk mengelabui polisi, karena pada dasarnya kelompok ini punya tujuan yang sama dengan Noor Din M Top, hanya cara dan garis perjuangan saja yang berbeda.

Selain itu menurut Tempo, kelompok ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena terbukti beberapa kasus pemboman yang terakhir terjadi di Indonesia justru dilakukan oleh orang-orang Abu Dujana. Dan mereka menurut Tempo punya senjata yang cukup banyak, walaupun sebelumnya sudah pernah disita polisi.

Diagnose Causes: Setelah masalah dapat didefinisikan, tidak susah untuk menemukan siapa

sebenarnya yang menjadi sumber permasalahan dari kasus terorisme kelompok Abu Dujana. Tempo secara tegas menyatakan bahwa penyebab terjadinya aksi terorisme ini adalah pemahaman yang keliru oleh Abu Dujana dan anak buahnya terhadap sebuah perjuangan. Sudah barang tentu semua itu hasil didikan “guru” mereka dalam hal ini Abu Dujana. Berikut Tempo menuliskan :

“Kepada polisi, para tersangka mengaku anggota sayap militer Jamaah Islamiyah. Pemimpin kelompok ini adalah Abu Dujana alias Ainul Bahri, veteran perang Afganistan asal cianjur, Jawa Barat. Polisi menyimpulkan inilah sel baru di tubuh organisasi yang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dinyatakan sebagai teroris Internasional.”

Dari kutipan di atas dengan tegas disebut bahwa Abu Dujanalah yang menyebarkan paham teroris kepada anak buahnya. Selain Abu Dujana juga disebut beberapa nama yang juga punya peran yang sangat kuat dalam menyemaikan bibit terorisme kepada anak buahnya. Diantaranya Sarwo Edi, Mujadid, Mukhlas, dan tidak lupa Noor Din M Top yang dianggap sangat ahli menanamkan ruh berani melakukan bom bunuh diri kepada anggotanya. Seperti yang ditulis Tempo berikut ini :

“…Dujana, menurut Mujadid, dalam berbagai kesempatan membicarakan sepak terjang Noor Din dengan nada negatif. Pria yang konon ahli merekrut pelaku bom bunuh diri itu dianggap menyulitkan dakwah karena kerap mengebom tanpa koordinasi”

Dari pemakaian kata di atas jelas terlihat bahwa Tempo ingin memberi tahu pembaca bahwa aksi bom bunuh diri selama ini didalangi oleh Noor Din M Top, karena dialah yang punya kemampuan untuk mensugesti orang untuk melakukan bom bunuh diri.

Moral Evaluation: Dari beberapa tulisan yang dimuat Tempo di edisi ini, secara tersirat

Tempo ingin mengatakan bahwa kelompok ini sebenarnya sudah mulai menata kembali ideologi dan garis perjuangannya. Ideologi yang selama ini mengutamakan kekerasan dan pemboman dalam mencapai tujuannya mulai ditinggalkan. Sebaliknya hubungan kelompok ini dengan Noor Din M Top juga mulai renggang. Penilaian moral terhadap kelompok Abu Dujana ini berbeda dengan penilaian moral terhadap Noor Din M Top. Noor Din dinilai sebagai orang yang memilih jalan radikal dalam memperjuangkan ideologinya, sedangkan Abu Dujana dan bawahannya sudah bisa menghindari cara-cara kekerasan. Berikut Tempo menuliskannya :

“Meski sama-sama mengklaim “berjuang menegakkan agama”, kelompok Abu Dujana dan Noor Din M Top sebenarnya tak seiring. Dujana, menurut Mujadid, dalam berbagai kesempatan membicarkan sepak terjang Noor Din dengan nada negatif. Pria yang konon ahli merekrut pelaku bom bunuh diri itu dianggap menyulitkan dakwah karena kerap mengebom tanpa koordinasi.”

Akan tetapi, Tempo tidak lupa mengingatkan agar selalu berhati-hati terhadap Abu Dujana dan kelompoknya. Karena menurut Tempo tujuan dan latar belakang mereka tetaplah sama. Hanya cara yang dilakukannya saja yang sudah mulai berbeda. Berikut Tenpo menuliskannya :

“Meski anggotanya hanya satu kelompok, kelompok pimpinan Abu Dujana ini tidak bisa dianggap enteng. Mereka adalah anggota Jamaah Isalmiyah yang kemampuan dan kesetiaannya sudah teruji. Sarwo Edi, misalnya, menjadi anggota organisasi ini sejak dibentuk pada 1993…”

“Agus Suryanto, yang tewas ditembak saat penyergapan, adalah murid Dr Azhari, ahli bom asal Malaysia yang tewas saat penggerebekan oleh polisi di Batu, Jawa Timur, November 2005. Adapun Mujadid pernah meledakkan bom di Pasar Tentena, Sulawesi Tengah, yang menewaskan 22 orang.”

Sebaliknya, sama dengan edisi-edisi sebelumnya polisi selalu dicitrakan dan dinilai sebagai pihak yang sejauh ini telah melaksanakan tugasanya dengan baik. Hal ini terbukti dengan banyaknya kelompok teroris Abu Dujana yang sudah tertangkap. Dan polisi dianggap berhasil menyadarkan anggota yang lain berkat bantuan para mantan teroris. Berikut Tempo menuliskannya dalam rubrik opini:

“…Para pelaku gerakan yang telah sadar atas kesesatan strategi perjuangannya kini membantu polisi dalam menginsyafkan rekan-rekan mereka yang tertangkap aparat hukum. Peran para “mantan guru” ini dalam mendapatkan informasi dari para bekas “muridnya” ternyata sangat efektif. Terbukti lebih dari 400 aktivis Jamaah Islamiyah kini berada dalam tahanan.”

Treatment Recommendation: Hampir sama dengan edisi sebelumnya, untuk menyelesaikan

permasalahan terorisme ini, Tempo merekomendasikan agar permasalahan ditangani oleh aparat penegak hukum. Sedangkan masyarakat diminta untuk berhati-hati terhadap setiap aktivitas kelompok Abu Dujana dan selalu mendukung setiap langkah yang diambil polisi. Hal ini terlihat jelas dalam rubrik opini yang ditulis Tempo :

“Kerja keras polisi terbukti mampu menggulung gerakan ini dengan cukup efektif , seperti terindikasi dari maraknya gelombang pembelotan internal. Justru momentum peralihan strategi ini yang perlu terus didorong. Dorongan ini kita lakukan dengan terus bekerja keras membangun Indonesia yang benar-benar demokratis dan melawan segala upaya pembangkitan rezim otoriter.”

Framing Tempo Edisi 9-15 April 2007

Problem Identification Perpecahan yang mulai terjadi di tubuh Jamaah Islamiyah Diagnose Causes Abu Dujana adalah orang yang melatih anak buahnya

pelatihan militer, dan dia panglima perang Jamaah Islamiyah yang berbeda pandangan dengan Noor Din M Top tentang cara-cara jihad yang selama ini diyakini bersama.

melalui pemboman sudah mulai dievaluasi. Adalah Abu Dujana orang yang kurang sepakat dengan cara-cara seperti itu. Walaupun begitu kelompok ini harus terus diwaspadai karena pemboman selama ini dilakukan oleh anggota Abu Dujana.

Treatment Recommendation Minta Dukungan masyarakat dan menyerahkan kepada kepolisian untuk terus mengungkap dan membasmi tindakan terorisme.

Dokumen terkait