ANALISA DAN PEMBAHASAN
IV.I. Analisis Berita Majalah Mingguan Tempo
2. Analisis Framing Majalah Tempo Edisi 2-8 April
Di edisi ini Tempo menurunkan tiga tulisan tentang kasus terorisme kelompok Abu Dujana. Masing-masing dengan judul “Menyusuri Lereng Kiai Makukuhan” sebagai tulisan utama yang dimuat di rubrik Nasional, menyusul kemudian berita dengan judul “Nyanyian
Para Tersangka” yang berisikan pengakuan para tersangka yang sudah tertangkap, dan “Kehebatan Abu Dujana Hanyalah Imajinasi” yang berisi wawancara dengan Abu Rusdan, yang juga tersangka teroris.
Dalam tulisan “Menyusuri Lereng Kiai Mukukuhan”, Tempo mengungkap dalam tulisannya tempat-tempat yang biasa dijadikan para tersangka untuk latihan militer. Daerah yang biasa dijadikan tempat latihan kelompok Abu Dujana, yaitu di lereng Gunung Sumbing, tempat pertama di Blok D hutan pinus, dan tempat kedua di hutan Rosomolo yang hampir mendekati puncuk Gunung Sumbing. Dari penelusuran di lokasi latihan kelompok Abu Dujana, ditemukan bekas-bekas latihan kelompok ini berupa botol-botol dan beberapa gelas bekas yang tergantung di tali yang diyakini sebagai sasaran tembak saat latihan.
Sedangkan dalam tulisan kedua yang berjudul “Nyanyian Para Tersangka”, Tempo mencoba mencitrakan polisi sebagai pihak yang memperlakukan tahanan dengan sangat baik, yaitu dengan merawat tahanan di ruangan VIP. Juga dimuat pernyataan dari tersangka yang salut atas perlakuan polisi terhadap tersangka. Berikut kutipannya :
“Mujadid gembira dengan kedatangan keluarga yang dijemput khusus oleh polisi. “Saya sebelumnya mengira akan dipukuli atau disetrum saat tertangkap,” katanya. “Ternyata saya diperlakukan dengan baik.” Ia terus memeluk si bungsu di pangkuannya.”
Selain itu dalam tulisan ini juga diungkapkan susunan terbaru struktur Jamaah Islamiyah yang didapat polisi dari pengakuan para tersangka yang tertangkap. Dari stuktur terbaru ini terlihat jelas posisi penting Abu Dujana yang memegang jabatan sebagai pimpinan sayap militer se-Jawa. Juga diketahui bahwa Noor Din M Top sudah mulai dikucilkan dari kelompok ini.
Dalam tulisan ketiga yang berisi wawancara dengan Ustad Thariquddin alias Abu Rusdan yang pernah dituduh menyembunyikan Ali Ghufron alias Mukhlas, pelaku bom Bali 1. Tetapi dari hasil wawancara Abu Rusdan mengaku sama sekali tidak mengenal Abu Dujana dan kelompoknya seperti yang dituduhkan polisi.
Berikut akan dilihat melalui analisis framing ala Robert N. Entman bagaimana Tempo membingkai peristiwa ini.
Define problems: Tempo melihat apa yang dilakukan oleh kelompok Abu Dujana dengan
mengadakan pelatihan militer merupakan sesuatu yang tidak dapat dibenarkan. Sejatinya, pelatihan-pelatihan militer hanya dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang yang memang ditugaskan negara untuk menjaga keamanan. Tetapi apa yang dilakukan Abu Dujana dan kelompoknya telah melanggar aturan yang ada. Apalagi pelatihan militer tersebut menggunakan senjata M-16 yang belum tentu ada izin kepemilikannya. Ditambah lagi pelatihan ini dilakukan di pegunungan yang sepi dari penduduk agar tidak diketahui oleh masyarakat. Seperti yang ditulis Tempo berikut ini:
“Lahan yang berundak-undak di Desa Jetis umumnya ditanami padi, cabe, atau jagung. Di sana-sini ada juga kebun yang ditanami tomat dan pepaya. Saban hari ada saja truk lalu-lalang mengangkut pupuk kandang. Hanya sekitar dua kilo meter dari desa terakhir itulah kelompok Sarwo Edi alias Suparman alias Sutarjo diduga pernah melakukan latihan militer.
Kepada satuan tugas Bom kepolisian yang memeriksanya, tersangka kasus terorisme yang ditangkap di Yogyakarta, dua pekan lalu itu mengaku pernah dua kali melatih anak buahnya beberapa keterampilan bertempur…”
Tempo secara tersirat menggiring opini pembaca bahwa pelatihan militer yang dilakukan kelompok Abu Dujana adalah dalam rangka menciptakan teror di Indonesia. Apalagi para pelatihnya hampir semua alumni mujahidin dari Afganistan yang selama ini selalu dicitrakan media massa sebagai penyebar ideologi terorisme ke Indonesia. Berikut tempo menyampaikannya :
“Menurut Brekele, para peserta latihan membawa senjata M-16. Namun ia memastikan mereka hanya berlatih membongkar pasang senjata, dan tidak menembak. Alasannya, lokasi latihan terlalu dekat dengan kampung. Ia juga memastikan latihan itu dihadiri Abu Dujana dan seseorang yang dipanggil embahe. Abu Dujana, Zulkarnaen, dan Sarwo Edi disebut-sebut memiliki keterampilan militer. Dujana, yang lahir dengan nama Ainul Bahri, pernah berperang di Afganistan. Ia angkatan ketujuh mujahidin yang masuk ke negara itu pada 1989. Menurut Nasir Abbas, dalam bukunya Membongkar Jamaah Islamiyah, Abu Dujana pernah menjadi instruktur di kamp Al-Jamaah Al-Islamiyah di Towrkham, Afganistan, pada 1993”
Dari dua kutipan penyampain berita Tempo di atas jelas terlihat bahwa apa yang dilakukan kelompok Abu Dujana adalah tindakan yang ilegal, ditambah lagi dengan melakukannya di tempat yang jauh dari jangkauan masyarakat. Berita ini makin diperkuat dengan penempatan dua buah foto yang menunjukkan lokasi latihan yang sangat mendukung teks pemberitaan.
Diagnose Causes: Dari semua pemberitaan yang ditulis Tempo sangat mudah ditebak bahwa
pelaku dari semua pelanggaran ini adalah kelompok Abu Dujana. Dalam hal ini beberapa nama yang disebutkan Tempo antara lain adalah Abu Dujana, Zulkarnaen alias Embah (waktu terbitnya Tempo edisi ini keduanya belum tertangkap), Sarwo Edi, Mujadid, dan Brekele (ketiganya sudah ditahan).
Dalam hal ini Tempo sangat cerdik menuliskan bahwa tersangka seolah-olah menerima apa yang dituduhkan polisi terhadap mereka. Hal ini tampak pada berita kedua yang berisi pernyataan Saiful Anam alias mujadid yang merasa polisi memperlakukannya dengan sangat baik selama perawatan, hal ini diluar dugaannya sebelumnya yang menganggap akan disiksa polisi selama pemeriksaan. Berikut kutipannya :
“Pertemuan keluarga itu di ruang perawatan VIP Rumah Sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta, Rabu malam pekan lalu. Mujadid, yang kaki kirinya ditembak anggota Satuan Tugas Bom Kepolisian, dipertemukan dengan istri, dua anak, dan adik iparnya.
Mujadid gembira dengan kedatangan keluarga yang dijemput khusus oleh polisi. “Saya sebelumnya mengira akan dipukuli atau disetrum saat tertangkap,” katanya. “Ternyata saya diperlakukan dengan baik.” Ia terus memeluk si bungsu di pangkuannya.”
Tulisan itu sekaligus menegaskan bahwa polisi sangat menghargai setiap tahanan tanpa menghalang-halanginya untuk bertemu keluarga. Tulisan ini sekaligus menepis anggapan selama ini yang menyatakan bahwa ketika polisi memeriksa tersangka, maka penyiksaan tidak akan pernah lepas selama proses pemeriksaan sedang berlangsung.
Moral Evaluation: Penilaian moral terhadap pelaku sudah jelas terlihat mulai dari
penggambaran siapa sebenarnya pelaku dan latar belakangnya. Dari pemaparan Tempo, penilaian moral terhadap Abu Dujana dan kelompoknya digambarkan sebagai kelompok yang berbahaya dan harus diwaspadai keberadaannya. Apalagi dengan segala aktivitasnya yang dilakukakan secara tersembunyi. Berikut Tempo menuliskan:
“Sejumlah buron pun diduga memiliki kemampuan merakit bom, diantaranya adalah Opik Lawanga. Menurut Mujadid, Opik adalah perakit bom yang ia ledakkan di Pasar Tentena. “Dia sendiri yang menyiapkan bahan dan merakit bom itu,” katanya kepada
Tempo”
Selain itu setiap pengakuan dari para tersangka tidak boleh langsung dipercaya, tetapi harus di cek lagi kebenarannya, tidak bisa langsung dipercayai begitu saja. Karena polisi beranggapan bisa saja hal itu menjadi trik para tersangka untuk mengelabui polisi. Berikut Tempo menuliskannya :
“Perwira itu juga menambahkan polisi tidak bisa benar-benar mempercayai “nyanyian” para tersangka. “Kita tidak boleh meremehkan kelompok seperti Jamaah Islamiyah,” katanya. Ia lalu menunjuk penemuan bahan peledak di rumah para tersangka. Bukan hanya bahan peledak mentah seperti potasium klorat dan TNT, polisi ternyata juga menemukan bom rakitan yang siap diledakkan.
Sedangkan untuk polisi citra yang dimunculkan cenderung baik. Polisi dicitrakan jauh dari kekerasan ketika memeriksa para tersangka seperti yang telah disebutkan di diagnose
causes di atas. Hal ini menggambarkan bahwa tidak ada maksud lain dari polisi dalam
mengungkap jaringan ini kecuali untuk menghapus tindakan terorisme di Indonesia.
Treatment Recommendation: Atas semua sepak terjang para tersangka kasus ini. Tempo
mencoba merekomendasikan agar kasus ini ditangani oleh polisi agar penanganannya lebih baik dan tepat. Tidak hanya itu, masyarakat juga dihimbau untuk membantu polisi dalam memberikan informasi tentang semua aktivitas kelompok ini. Bahkan kalau perlu polisi akan
memberikan hadiah bagi siapa saja yang bisa melumpuhkan kelompok ini. Berikut kutipan Tempo untuk hal ini :
“…Embah yang dimaksud Sarwo adalah Zulkarnain, buron polisi yang dituduh terlibat dalam pengeboman di Bali, 12 Oktober 2002. Hadiah Rp 500 juta tersedia bagi yang bisa menangkap embah”
Framing Tempo Edisi 2-8 April 2007
Problem Identification Pelatihan militer oleh kelompok ini dianggap akan mengganggu keamanan. Ditambah lagi kepemilkan senjata yang tidak diizinkan
Diagnose Causes Abu Dujana, Zulkarnaen alias Embah, Sarwo Edi, Mujadid, dan Brekele (tiga nama terakhir sudah ditahan) adalah orang yang melatih militer dan menyebarkan terorisme di Indonesia yang dibawanya dari negara lain. Sedangkan polisi dicitrakan sebagai pihak yang memperlakukan para tersangka dengan sangat manusiawi.
Moral Evaluation Tindakan teroris sangat membahayakan dan masyarakat harus berhati-hati, sedangkan tindakan polisi harus didukung
Treatment Recommendation Masyarakat dihimbau untuk membantu memberi tahu keberadaan para tersangka. Menyerahkan kepada kepolisian untuk terus mengungkap dan membasmi tindakan terorisme.