• Tidak ada hasil yang ditemukan

URAIAN TEORITIS

II.2 Analisis Framing

Analisis framing merupakan versi yang paling baru dari pendekatan analisis wacana untuk menganalisa teks media. Gagasan mengenai anlisis framing pertama kali dilontarkan oleh Beterson pada tahun 1955. Frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Lebih jauh, konsep tersebut dikembangkan oleh Goffman pada tahun 1974. Goffman mengatakan frame merupakan kepingan perilaku-perilaku yang membimbing individu dalam membaca realitas.

Analisis framing merupakan sebuah model analisis (yang berasal dari paradigma konstruktivisme), mengungkap rahasia di balik semua perbedaan (bahkan pertentangan) media yang dapat digunakan untuk menguak fakta yang tersembunyi. Model analisis yang dapat membantu dalam mengetahui bagaimana realitas di lapangan dibingkai oleh media. Sebab media yang berada di tengah-tengah realitas sosial, terlebih dahulu akan memahami realitas tersebut, memaknainya, dan akan mengkonstruksinya dengan bentukan dan makna tertentu.

Kita keliru jika menganggap bahwa kata-kata itu mempunyai makna. Kita lah yang memberi makna pada kata-kata tersebut. Dan makna yang kita berikan kepada kata yang sama bisa berbeda-beda, tergantung pada konteks ruang dan waktu. (Dedy Mulyana, 2005:255)

Analisis framing, analisis yang digunakan untuk melihat konteks sosial budaya suatu wacana. Khususnya hubungan antara berita dan ideologi, yakni proses atau mekanisme, mengubah, dan meruntuhkan ideologi. Untuk menganalisa siapa mengendalikan siapa dalam suatu struktur kekuasaan, pihak mana yang diuntungkan dan dirugikan, siapa si penindas dan si

tertindas, tindakan politik mana yang konstitusional dan yang di-inkonstitusional, kebijakan publik mana yang harus didukung dan tidak boleh didukung, dan sebagainya.

Analisis inilah yang dipakai untuk melihat bagaimana upaya media menyajikan sebuah

event yang mengesankan objektivitas, keseimbangan, dan non-partisipan dan mengemasnya sedemikian rupa sehingga khalayak mudah tergiring ke dalam kerangka pendefenisian realitas tertentu yang dilakukan oleh media melalui pemilihan kata, bahasa, penggunaan simbol dan sistem logika tertentu.

Bidang komunikasi sendiri memandang analisis framing sebagai alat yang dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan peraturan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk mengiring interpretasi khalayak sesuai sudut pandang yang dimilikinya. Dengan kata lain analisis ini merupakan sebuah pendekatan untuk mengetahui bagaimana seorang wartawan dalam memandang dan memahami suatu masalah, menyeleksinya, dan membuatnya menjadi sebuah berita. Dan pada akhirnya, caranya memandang sebuah masalah itulah yang menentukan fakta mana yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan, atau dihilangkan, serta hendak dibawa kemana berita tersebut nantinya.

Makna sebuah peristiwa yang diproduksi dan disebarluaskan oleh media massa sebenarnya adalah suatu konstruksi makna yang temporer, rentan, dan terkadang muskil. Peristiwa-peristiwa yang dilaporkan tersebut, berita sekalipun, bukanlah peristiwa yang sebenarnya terjadi. Proses persepsi selektif yang diperankan oleh wartawan dan para editor, disadari atau tidak, berperan dalam menghasilkan judul berita, ukuran huruf untuk judul, penempatan tiap-tiap berita (halaman depan, tengah, atau belakang-untuk media cetak),

pengulangan-pengulangan, pemakaian grafis, pemberian label kepada orang atau peristiwa yang diberitakan, pertanda penting atau tidaknya berita itu, panjang atau tidaknya laporan, komentar siapa dan komentar mana yang akan dibuang, yang setidaknya akan menunjukkan keberpihakan media itu. Dengan begitu, berita-berita yang mereka sampaikan merupakan realitas yang diciptakan, yang diinginkan mengenai peristiwa atau kelompok orang yang dilaporkan.

Berita sebenarnya merupakan laporan peristiwa yang artifisial setelah melewati beberapa proses seleksi dan reproduksi. Tetapi dapat diklaim sebagai objek oleh media itu untuk mencapai tujuan ideologis dan mungkin juga bisnis. Dengan kata lain, media massa bukan sekedar menyampaikan, melainkan juga menciptakan makna.

Pippa Noris, Montague Kern, dan Marion Just dalam buku Framing Terrorism (Pippa Noris et al, 2003:11) pun menyimpulkan framing; “The essence of framing is selection to proriotize some facts, images, or develovments over others, there by unconsciously promoting one particular interpretation of events.” Mereka menyatakan bahwa esensi framing itu adalah sebuah penyeleksian yang bertujuan untuk memprioritaskan beberapa fakta, gambaran, atau perkembangan-perkembangan di atas hal-hal lainnya, oleh karena itu secara tidak sadar akan menonjolkan penafsiran yang sebahagian (bukan pemahaman secara menyeluruh) dari kejadian-kejadian.

Ada dua aspek penting dalam framing. Pertama, memilih fakta/ realitas. Proses memilih fakta ini didasarkan pada asumsi karena wartawan tidak mungkin melihat peristiwa tanpa perspektif. Dalam memilih fakta ini selalu terkandung dua kemungkinann, yaitu pada apa yang dipilih (included) dan apa yang dibuang (excluded). Penekanan aspek tertentu itu dilakukan dengan memilih angel tertentu, memilih fakta tertentu dan melupakan fakta yang lain,

memberikan aspek tertentu dan melupakan aspek lainnnya. Intinya, peristiwa dilihat dari sisi tertentu. Kedua, menuliskan fakta. Proses ini berhubungan dengan bagaimana fakta yang dipilih itu disajikan kepada khalayak. Gagasan itu diungkapkan dengangn kata, kalimat dan proposisi apa, dengan bantuan aksentual foto dan gambar apa dan sebagainya. Pemakaian kata, kalimat atau foto merupakan implikasi dari memilih aspek tertentu yang ditonjolkan menjadi benar-benar menonjol, lebih mendapat alokasi dan perhatian yang besar dibandingkan aspek lain. Semua aspek itu dipakai untuk membuat dimensi tertentu dari konstruksi berita menjadi bermakna dan diingat oleh khalayak. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok, mempunyai kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan dipengaruhi khalayak dalam memahami suatu realitas. (Eriyanto, 2011:79-81)

Framing pada akhirnya menentukan bagaimana realitas itu hadir di hati pembaca. Apa yang kita tahu tentang realitas sosial pada dasarnya tergantung pada bagaimana kita melakukan frame atas peristiwa yang memberikan pemahaman dan pemaknaan tertentu atas suatu peristiwa. Framing dapat mengakibatkan suatu peristiwa yang sama dapat menghasilkan berita yang secara radikal berbeda apabila wartawan mempunyai frame yang berbeda ketika melihat peristiwa tersebut dan menuliskan pandangannya dalam berita. Apa yang dilaporkan oleh media seringkali merupakan hasil dari pandangan mereka (predisposisi perseptuil) wartawan ketika melihat dan meliput peristiwa. Analisis framing membantu kita untuk mengetahui bagaimana realitas peristiwa yang sama itu dikemas secara berbeda oleh wartawan sehingga menghasilkan berita secara radikal berbeda. (Eriyanto, 2011:97-99)

Framing bukan hanya berkaitan dengan skema individu (wartawan) melainkan juga berhubungan dengan proses produksi berita, kerangka kerja dan rutinitas organisasi media. Bagaimana peristiwa dibingkai, kenapa peristiwa dipahami dalam kerangka tertentu atau bingkai

tertentu, tidak bingkai orang lain, bukan semata-mata disebabkan skema struktur wartawan, melainkan juga rutinitas kerja dan institusi media yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi pemaknaan media.

Wartawan hidup dalam institusi media dengan seperangkat aturan, pola kerja dan aktivitas masing-masing, maka yang terjadi adalah institusi media itu yang mengontrol dalam pola kerja tertentu yang mengharuskan wartawan melihat peristiwa dalam kemasan tertentu. Atau bisa juga terjadi wartawan sebagai bagian dari anggota komunitas menyerap nilai-nilai yang ada dalam komunitasnya. Wartawan hidup dan bekerja dalam suatu intitusi yang mempunyai pola kerja, kebiasaan, aturan, norma, etika, dan rutinitas tersendiri. Semua elemen proses produksi berita tersebut mempengaruhi bagaimana peristiwa dipahami. Secara umum sebagai bagian dari komunitas tertentu, wartawan akan menyerap nilai-nilai kelompok dalam pandangannya secara pribadi.

Framing berkaitan dengan bagaimana realitas dibingkai dan disajikan kepada khalayak. Dari defenisi yang sederhana ini saja sudah tergambar apa efek framing. Sebuah realitas bisa jadi dibingkai dan dimaknai secara berbeda oleh media. Bahkan pemaknaan itu bisa jadi akan sangat berbeda. Realitas begitu kompleks, penuh dengan dimensi, maka ketika dimuat dalam berita bisa jadi menjadi akan menjadi realitas satu dimensi.

Framing berhubungan dengan penafsiran realitas. Bagaimana peristiwa dipahami dan siapa sumber yang diwawancarai. Semua elemen tersebut tidak dimaknai semata sebagai masalah teknis jurnalistik, tetapi sebuah praktik. Berbagai praktik tersebut bisa mengakibatkan pendefenisian tertentu atas realitas. Peristiwa yang sama bisa menghasilkan berita yang berbeda,

dan pada akhirnya menghasilkan realitas yang berbeda pula ketika peristiwa itu dibingkai dengan cara yang berbeda.

Salah satu efek framing yang paling mendasar adalah realitas sosial yang kompleks, penuh dengan dimensi dan tidak beraturan disajikan dalam berita sebagai sesuatu yang sederhana, beraturan dan memenuhi logika tertentu. Framing menyediakan alat bagaimana peristiwa dibentuk dan dikemas dalam kategori yang dikenal khalayak. Karena itu, framing menolong khalayak untuk memproses informasi ke dalam kategori yang dikenal, kata-kata kunci dan citra tertentu.

Ada tiga ciri utama dari sebuah frame. Yang pertama yaitu menonjolkan aspek tertentu-mengaburkan aspek lain. Framing umumnya ditandai dengan menonjolkan aspek tertentu dari realitas. Dalam penulisan sering disebut sebagai fokus. Berita secara sadar atau tidak diarahkan pada aspek tertentu. Akibatnya, ada aspek lain yang tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Pemberitaan suatu peristiwa dari persfektif politik misalnya, mengabaikan aspek lain seperti ekonomi, sosial, dan sebagainya. Misalnya, pemberitaan media dalam skandal sebuah bank. Pemberitaan banyak memberitakan kasus ini dalam aspek ekonomi. Masalah teknis ekonomi, berapa kerugian ekonomi dari skandal bank tersebut dan seterusnya, sering menjadi berita utama. Pemberitaan yang terus menerus dari aspek ekonomi ini mengaburkan masalah tersebut sebagai masalah politik.

Yang kedua yaitu menampilkan sisi tertentu-melupakan sisi lain. Sebut misalnya pemberitaan media mengenai aksi mahasiswa. Berita misalnya banyak menampilkan bagaimana demonstrasi itu akhirnya diwarnai dengan bentrokan. Berita secara panjang dan lebar menggambarkan proses bentrokan, mahasiswa yang nekad menembus barikade dan akhirnya

diwarnai dengan puluhan mahasiswa yang luka-luka. Dengan menampilkan sisi yang seperti ini saja dalam berita, mengakibatkan ada sisi lain yang dilupakan. Yakni, apa tuntutan dari mahasiswa tersebut? Seolah dengan menggambarkan berita seperti itu, demonstrasi tersebut tidak ada gunanya. Mahasiswa hanya bermaksud mencari sensasi dan berusaha membuat keributan saja di tengah masyarakat. Berita misalnya, ditandai dengan gerutukan supir angkot yang tidak suka dengan demonstrasi karena menyebabkan kemacetan. Disini menampilkan aspek tertentu menyebabkan aspek lain yang lebih penting dalam memahami realitas tidak mendapatkan liputan yang memadai dalam berita.

Ciri yang ketiga adalah menampilkan aktor tertentu-menyembunyikan aktor lain. Berita seringkali juga mempfokuskan pemberitaan pada aktor tertentu. Ini tentu saja tidak salah. Tetapi efek yang segera terlihat adalah memfokuskan pada satu pihak atau aktor tertentu menyebabkan aktor lain yang mungkin relevan dan penting dalam pemberitaan menjadi tersembunyi. (Eriyanto, 2011: 165-168)

Konsep framing dalam studi media banyak mendapat pengaruh dari lapangan psikologi dan sosiologi. Tetapi secara umum, teori framing dapat dilihat dalam dua tradisi, yaitu psikologi dan sosiologi. Pendekatan psikologi terutama melihat bagaimana pengaruh kognisi seseorang dalam membentuk skema tentang diri, sesuatu atau gagasan tertentu. Sementara dari sosiologi, konsep framing dipengaruhi oleh pemikiran Ervinm Goffman. Menurut Goffman, manusia pada dasarnya secara aktif mengklarifikasikan dan mengkategorisasikan pengalaman hidup ini agar mempunyai arti atau makna. Setiap tindakan manusia pada dasarnya mempunyai arti dan manusia berusaha memberi penafsiran atas prilaku tersebut agar bermakna dan berarti. Sebagai akibatnya, tindakan manusia sangat tergantung pada frame atau skema interpretasi dari

Robert N. Entman mengelompokkan konsep framing ke dalam dua dimensi. Pertama,

seleksi isu, dan kedua penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas/ isu tertentu dan dapat mengabaikan isu-isu lainnya yang anggap media tersebut tidak penting. Penekanan ataupun seleksi yang dilakukan dapat diartikan: membuat informasi terlihat jelas, lebih bermakna atau mudah diingat oleh khalayak. Pada akhirnya isu yang dipilih tersebut dikonstruksi sedemikian rupa sehingga memiliki makna.

II.2.1 Seleksi Isu

Aspek ini berkaitan dengan pemilihan fakta. Bagaimana yang akan diliput oleh wartawan dari suatu isu/peristiwa? Aspek memilih fakta tidak dapat dilepaskan dari bagaimana fakta itu difahami oleh media. Ketika melihat sebuah peristiwa, wartawan harus memakai kerangka konsep dan abstraksi dalam menggambarkan realitas. Misalnya sebuah berita tentang tindakan petani tebu yang membakar perkebunan tebu dianggap sebagai tindakan anarkis, maka realitas yang akan dibentuk wartawan tidak menguntungkan petani. Sebaliknya jika tindakan tersebut dimaknai sebagai bentuk perlawanan para petani, maka realitas yang dibentuk menguntungkan petani.

Entman menyebut ada empat cara yang sering dilakukan media dalam proses pendefenisian peristiwa. Keempat cara itu merupakan strategi media, dan membawa konsekuensi tertentu atas realitas yang terbentuk oleh media. Pertama pendefenisian masalah (problem

identification) adalah yang pertama kali dapat kita lihat mengenai framing. Elemen ini

merupakan bingkai yang paling utama. Elemen ini menekankan bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Sewaktu timbul permasalahan atau peristiwa, bagaimana permasalahan atau peristiwa itu dipahami. Peristiwa yang sama dapat dipahami secara berbeda. Bingkai yang

berbeda ini akan menyebabkan realitas bentukan yang berbeda pula, maka tidak jarang orang bingung terhadap berita-berita yang dimunculkan media karena adanya perbedaan tadi.

Kedua, memperkirakan penyebab masalah (causal interpretation), merupakan elemen framing untuk membingkai siapa yang dianggap aktor dari sebuah peristiwa. Penyebabnya dapat berupa apa (what) ataupun siapa (who). Bagaimana peristiwa dipahami tentu saja menentukan apa dan siapa yang dianggap sebagai sumber masalah. Oleh sebab itu, masalah yang dipahami secara berbeda, penyebab masalah secara tidak langsung juga akan dipahami secara berbeda pula. Dengan kata lain, pendefenisian sumber masalah ini menyertakan secara lebih luas siapa yang dianggap sebagai pelaku dan siapa yang dianggap sebagai korban.

Ketiga, membuat pilihan moral (moral evaluation), yaitu elemen framing yang dipakai untuk membenarkan/ memberi argumentasi pada pendefenisian masalah yang sudah dibuat. Ketika masalah sudah didefenisikan, penyebab masalah sudah ditentukan, dibutuhkan sebuah argumentasi yang kuat untuk mendukung gagasan tersebut. Gagasan yang dikutip adalah yang berhubungan dengan sesuatu yang familiar dan dikenal oleh masyarakat.

Keempat, menekankan penyelesaian (treatment recommendation), adalah elemen yang dipakai untuk melihat apa yang dikehendaki oleh wartawan. Jalan seperti apa yang disajikan oleh wartawan untuk menyelesaikan masalah. Dimana penyelesaian itu tentu saja sangat tergantung pada bagaimana peristiwa itu dilihat dan siapa dipandang sebagai penyebab masalah.

II.2.2. Penonjolan Aspek Tertentu dari Suatu Isu

Penonjolan sebuah aspek yang tertentu ini sangat berkaitan dengan penulisan fakta. Proses tersebut sangat berhubungan dengan pemakaian bahasa dalam menuliskan realitas untuk

melainkan sebagi politik bahasa. Bagaimana sebuah bahasa-yang dalam hal ini umumnya pilihan kata-kata yang dipilih, dapat menciptakan realitas tertentu kepada khalayak. Kata-kata tertentu tidak hanya memfokuskan perhatian khalayak pada masalah tertentu, namun juga membatasi persepsi dan mengarahkannya pada cara berfikir dan keyakinan tertentu. Dengan kata lain, kata-kata yang dipakai dapat membatasi seseorang dalam melihat dari sudut pandang lain, menyediakan aspek tertentu dari suatu peristiwa dan mengarahkannya untuk memahami suatu peristiwa. Hilang sudah kesempatan untuk menilai apa yang sebenarnya terjadi.