• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Framing Zhongdang dan Gerald M. Kosicki

LANDASAN TEORI

D. Analisis Framing Zhongdang dan Gerald M. Kosicki

Berdasarkan konsep psikologi, framing dapat dilihat sebagai suatu penempatan informasi dalam konteks yang unik, sehingga elemen-elemen suatu isu memperoleh alokasi sumber kognitif individu lebih besar. Konsekuensinya, elemen-elemen yang terseleksi menjadi penting dalam mempengaruhi penilaian individu dalam penarikan kesimpulan.19

Framing sederhana secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok atau apa saja) yang dibingkai oleh media.20 Analisis bingkai merupakan dasar struktur kognitif yang memandu persepsi dan representasi realitas untuk membongkar ideologi dibalik penulisan informasi. Menjelaskan bahwa latar belakang budaya membentuk pemahaman terhadap sebuah peristiwa.

Analisis framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki merupakan salah satu analisis framing terpopuler yang digunakan untuk memperoleh gambaran isi

18

Djohan, Terapi Musik, Teori Dan Aplikasi, h. 135

19

Alex Sobur, Analisis Teks Media, Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotic, Dan Analisis Framing. (Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 2001), h. 163

20

pesan yang disampaikan. Model analisis framing ini terbagi menjadi empat struktur besar, yaitu: struktur sintaksis, struktur skrip, struktur tematik dan struktur retoris.21 1. Struktur Sintaksis

Struktur-struktur tersebut berhubungan dengan bagaimana penulis menyusun gagasan dalam sebuah cerita. Bagian-bagian yang diamati adalah judul, latar dan lainnya. Bagian ini disusun dalam bentuk tetap dan teratur sehingga membentuk skema yang menjadi pedoman bagaimana cerita hendak disusun.22 Dalam sebuah plot (peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang berdasarkan sebab-akibat), hal yang sangat esensial untuk diperhatikan adalah peristiwa, konflik dan klimaks. Eksistensi plot itu sendiri sangat ditentukan oleh ketiga unsur tersebut. Demikian pula dengan masalah kualitas dan kadar kemenarikan sebuah cerita fiksi.23 Peristiwa dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu peristiwa fungsional, kaitan dan acuan. Peristiwa fungsional adalah peristiwa-peritiwa yang menentukan atau mempengaruhi perkembangan plot. Urutan-urutan peristiwa fungsional merupakan inti sebuah karya fiksi yang bersangkutan. Peristiwa kaitan adalah peristiwa yang berfungsi mengaitkan peristiwa-peristiwa penting dalam pengurutan penyajian cerita.24

Peristiwa acuan adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh atau berhubungan dengan perkembangan plot, melainkan mengacu pada unsur lain, misalnya berhubungan dengan masalah perwatakan atau suasana yang

21

Burhan Nurgyantoro, Teori Pengkajian Fiksi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005), h. 113

22

Burhan Nurgyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, h. 113

23

Burhan Nurgyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, h. 113

24

melingkupi batin seorang tokoh. Dalam hal ini bukannya alur dan perisitwa-peristiwa penting yang diceritakan melainkan bagaimana suasana alam dan batinn dilukiskan. Selain peristiwa, dalam sebuah plot juga dikenal dengan adanya konflik. Konflik menyarankan pada sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi atau dialami oleh tokoh cerita yang jika tokoh itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya. Bentuk konflik sebagai bentuk kejadian dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu: konflik fisik dan konflik batin serta konflik eksternal dan konflik internal.25

Hal terakhir yang menentukan arah perkembangan plot adalah klimaks. Menurut Stanton dalam Burhan Nurgiyanto menyatakan bahwa klimaks adalah saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat hal itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya. Artinya, berdasarkan tuntutan dan kelogisan cerita, peristiwa da saat itu boleh terjadi dan boleh juga tidak.26

2. Struktur Skrip

Struktur ini melihat bagaimana strategi penulis cerita mengisahkan atau menceritakan peristiwa-peristiwa sesuai dengan plotnya. Berdasarkan nilai konstruksi dramatik sebuah cerita dalam scenario. Dalam berita, wartawan

25

Burhan Nurgyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, h. 122-124

26

menggunakan beberapa peringkat dalam struktur skrip ini yaitu 5W+1H (What, when, who, where, why, how).27

3. Struktur Tematik

Struktur ini berhubungan dengan cara penulis cerita mengungkapkan pandangannya atas peristiwa ke dalam proposisi, kalimat atau hubungan antarkalimat yang membentuk teks secara keseluruhan. Perangkat yang digunakan adalah detail, koherensi, bentuk kalimat dan kata ganti. Melalui perangkat-perangkat ini membantu melihat bagaimana pemahaman itu diwujudkan dalam bentuk yang lebih kecil.28

Detil merupakan strategi bagaimana komunikator mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit. Sikap atau wacana yang akan dikembangkan oleh seorang komunikator kadangkala tidak perlu disampaikan secara terbuka, tetapi dari detil bagian mana yang dikembangkan dan mana yang dikemukakan dengan detil yang besar, akan menggambarkan wacana yang dikembangkan oleh komunikator.29

Koherensi merupakan jalinan antar kata atau kalimat dalam teks. Dua buah kalimat yang mengggambarkan kalimat dengan fakta berbeda dihubungkan sehingga tampak koheren. Sehingga fakta yang berbeda tersebut dapat menjadi berhubungan ketika seseorang menghubungkannya. Tujuan dari elemen koherensi ini adalah untuk melihat bagaimaa seseorang menggunkana wacana

27

Misbach Yusa Biran, Teknik Menulis Skenario Film Cerita (Yogyakarta: Pustaka Jaya, 2006), h. 238

28

Eriyanto, Analisis Wacana; Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: Lkis, 2001), h. 238

29

untuk menjelaskan suatu fakta atau peristiwa. Apakah perostiwa itu saling terpisah atau berhubungan, atau bahkan sebab-akibat. Pilihan-pilihan mana yang diambil ditentukan oleh sejauh mana kepentingan komunikator terhadap peristiwa tersebut.30

Bentuk kalimat adalah yang berhubungan dengan cara berfikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Logika kausalitas jika diterjemahkan kedalam Bahasa menjadi susunan subjek (yang menerangkan) dan predikat (yang diterangkan). Bentuk kalimat ini bukan hanya persoalan teknis kebenaran tata Bahasa, tetapi juga menentukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat. Dalam kalimat yang berstruktur aktif, seseorang menjadi subjek dari pernyataannya, sedangkan dalam kalimat pasif seseorang menjadi objek dari pernyataannya.31

Kemudian terakhir adalah kata ganti. Merupakan elemen untuk memanipulasi Bahasa dengan menggunakan komunikasi yang imajinatif. Kata ganti merupakan alat yang digunakan oleh komunikator untuk menunjukan dimana posisi seseorang dalam sebuah wacana. Dalam mengungkapkan sikapnya, seseorang dapat menggunakan kata ganti “saya” atau “kami” yang menggambarkan bahwa sikap tersebut merupakan sikap resmi komunikator semata-mata. Namun, ketika memakai kata ganti “kita” menjadikan sikap tersebut sebagai representasi dari sikap bersama dalam suatu komunitas tertentu. Dalam hal ini, kata ganti merujuk pada konteks kategori tertentu. Berbagai kata

30

Eriyanto, Analisis Wacana; Pengantar Analisis Teks Media, h. 242

31

ganti yang berlainan digunakan secara strategis sesuai dengan kondisi yang ada. Prinsipnya adalah merangkul dukungan dan menghilangkan oposisi yang ada.32 4. Struktur Retoris

Struktur ini berhubungan dengan bagaimana penulis menekankan arti tertentu ke dalam sebuah cerita. Struktur ini melihat bagaimana penulis memakai kata, idiom, bentuk cerita yang ditampilkan sebagai penekanan arti tertentu kepada pembaca atau penonton. Dalam struktur retoris ini terdapat dua perangkat yaitu Leksikon dan Metafora.

Leksikon merupakan pemilihan dan pemakaian kata-kata tertentu untuk menandai atau menggambarkan peristiwa. Pilihan kata-kata yang dipakai menunjukan sikap dan ideologi tertentu.33

Metafora merupakan ungkapan dan kiasan dari sebuah wacana teks yang dimaksudkan sebagai bumbu atau ornament dari suatu teks. Meskipun dikatakan sebagai sebuah bumbu atau ornamen, penggunaan metafora tertentu juga bisa dijadika sebagai petunjuk untuk mengerti makna suatu teks.34

32

Eriyanto, Analisis Wacana; Pengantar Analisis Teks Media, h. 253-254

33

Eriyanto, Analisis Framing, h. 257

34

32

BAB III

Dokumen terkait