Profil Aktivitas Produksi Batik
Menjelaskan aktivitas pembagian kerja antara responden laki-laki dan responden perempuan di dalam UKM Batik Pesisir sekali. Tujuannya untuk melihat pada tahapan proses produksi batik mana yang dilakukan dan didominasi atau bahkan hanya dapat dilakukan oleh salah satu responden saja. Selanjutnya, juga untuk melihat ada atau tidak perbedaan upah antara responden laki-laki dan responden perempuan ketika melakukan tahapan pekerjaan yang sama. Tabel 16 akan menjelaskan lebih mendetail.
Tabel 11 Alat profil aktifitas proses produksi dan akses pembuatan Batik Tulis dan Batik Cap antara responden laki-laki dan responden perempuan di dalam UKM Batik Pesisir
Keterangan :
: Tinggi (Akses / Kontrol) : Sedang (Akses / Kontrol) : Rendah (Akses / Kontrol)
No. Aktivitas Akses Tulis Cap L P L P 1 Pembuatan Pola - - 2 Njiplak - - 3 Mbatik - - 4 Ngecap - - 5 Nembok 6 Quality Control 7 Ngecos 8 Nyolet 9 Ngelorod 10 Medel 11 Nyoga 12 Penjemuran* 13 Pelipatan*
Tabel 12 Alat profil aktifitas proses produksi dan kontrol pembuatan Batik Tulis dan Batik Cap antara responden laki-laki dan responden perempuan di dalam UKM Batik Pesisir
Keterangan :
: Tinggi (Akses / Kontrol) : Sedang (Akses / Kontrol) : Rendah (Akses / Kontrol)
Berdasarkan Tabel 11 dan Tabel 12, selanjutnya pada Tabel 13 menjelaskan lebih detail alasan-alasan mengenai perbedaan aktivitas pada tahapan tertentu dalam proses produksi batik tulis dan cap .
Tabel 13 Perbedaan aktivitas responden laki-laki dan perempuan dalam Batik Pesisir beserta alasannya
No Aktivitas Penjelasan
Batik Tulis 1 Pembuatan
Pola
Aktivitas ini hanya dilakukan oleh responden laki-laki saja. Alasan : Berdasarkan penuturan dari general manager Batik Pesisir, daya imaginasi laki-laki lebih mempunyai daya imaginasi lebih tinggi daripada perempuan. Terjadi ketika dalam pembuatan pola tidak mengikuti panduan pola yang sudah ada, tetapi berdasarkan permintaan pemilik usaha untuk menciptakan motif yang baru untuk menyesuaikan perkembangan motif di pasar / mendobrak pasar.
No. Aktivitas Kontrol Tulis Cap L P L P 1 Pembuatan Pola - - 2 Njiplak - - 3 Mbatik - - 4 Ngecap - - 5 Nembok 6 Quality Control 7 Ngecos 8 Nyolet 9 Ngelorod 10 Medel 11 Nyoga 12 Penjemuran* 13 Pelipatan*
No Aktivitas Penjelasan
2 Njiplak Aktivitas ini dilakukan oleh perempuan, laki-laki mempunyai kesempatan
Alasan : Aktivitas ini dinilai membutuhkan ketelitian dan kejelian, dinilai cocok dilakukan oleh perempuan karena sifat tersebut dimiliki oleh perempuan, akan tetapi laki-laki juga dapat berkesempatan bekerja di tahapan ini ketika motif yang dijiplak tidak begitu rumit, alasanya untuk mengindari kesalahan-kesalahan dalam pengerjaannya. 3 Mbatik Aktivitas ini hanya dilakukan oleh perempuan saja
Alasan : Aktivitas ini dinilai membutuhkan ketelitian dan keuletan dan kesabaran, dinilai cocok dilakukan oleh perempuan karena sifat tersebut dimiliki oleh perempuan, dan belum tentu semua perempuan dapat melakukannya. Membutuhkan pembelajaran dan dilakukan berulang-ulang agar dapat melakukannya dan biasanya ketrampilan membatik ini masih di dipelajari secara turun temurun. Belum ada tempat pelatihan khusus untuk mempelajarinya. 4 Nembok Aktivitas ini hanya dilakukan oleh perempuan saja
Alasan : Hampir serupa dengan aktivitas membatik, perbedaannya kalau aktivitas ini sedikit lebih mudah untuk dilakukan, karena tinggal menutup bagian-bagian yang sudah dibatik pada tahap sebelumnya. Hanya dilakukan oleh perempuan saja karena masih terkait dengan sifat dari seorang perempuan itu sendiri. Dari memegang canting, meniup canting yang berisi lilin hingga menorehkan canting yang sudah terisi malam ke kain yang akan di tutup oleh malam adalah aktivitas yang membutuhkan kecermatan, kesabaran dan ketelitian agar tidak membuat kecatatan pada kain, yang akan menyebabkan lebih lamanya proses produksi batik, karena nantinya akan mempengaruhi proses berikutnya 5 No Quality Control Aktivitas
Aktivitas ini dilakukan oleh perempuan,
Alasan : Aktivitas pengecekan dari proses mbatik dan nembok, untuk melihat ada atau tidaknya malam (lilin) yang tidak sesuai dengan motif yang sudah dijiplak sebelumnya. Lagi-lagi, aktivitas ini dilakukan oleh perempuan karena kecocokan antara jenis aktivitas ini yang sama dengan sifat dari seorang perempuan. Perempuan dianggap mempunyai tingkat ketelitian, kejelian dan kecermatan yang lebih tinggi
Penjelasan
dibandingkan dengan laki-laki. Laki-laki juga dapat berkesempatan melakukan tahapan ini, akan tetapi beda bagian. Laki-laki bertugas melakukan pengecekan secara kasar saja, misal terjadi kerusakan kain atau tidak, berbeda dengan perempuan yang mengecek seluruh bagaian motif yang kemudian diberi tanda untuk dilakukan perbaikan ulang.
6 Ngecos Aktivitas ini hanya dilakukan oleh perempuan saja
Alasan : Aktivitas yang paling ringan untuk dilakukan, dan nantinya akan berpengaruh terhadap pemberian upah. Upah yang diterima dari aktivitas ini adalah upah yang paling rendah diantara seluruh aktivitas produksi batik.
7 Nyolet Aktivitas ini dilakukan oleh laki-laki, perempuan mempunyai kesempatan
Alasan : Aktivitas ini sebenarnya dapat dilakukan oleh laki- laki ataupun perempuan, karena tidak begitu membutuhkan tenaga yang besar dan tidak pula membutuhkan ketrampilan khusus. Mengoleskan warna diatas bentangan kain dengan menggunakan spons pada bagian yang dikehendaki. Kenyataannya aktivitas ini dilakukan oleh laki-laki saja, jarang sekali perempuan melakukannya, karena aktivitas ini tidak selamanya di adakan untuk setiap jenis batik yang diproduksi, tergantung warna dan motif yang dikehendaki. Tidak ada bagian tetap untuk aktivitas ini, hanya laki-laki yang dapat melakukannya, karena sebagian besar dari mereka dapat melakukan perkerjaan lebih dari satu.
8 Ngelorod Aktivitas ini hanya dilakukan oleh laki-laki saja
Alasan : Aktivitas ini membutuhkan tenaga yang cukup banyak, beradu dengan panasnya air di dalam drum besar untuk meluruhkan malam (lilin) yang menempel. Hal ini sesuai denga sifat yang dimiliki oleh laki-laki, penuh dengan tenaga, dengan demikian aktivitas ini hanya dilakukan oleh laki-laki, perempuan dianggap tidak memilki tenaga sekuat laki-laki.
No Aktivitas Penjelasan
9 Medel Aktivitas ini hanya dilakukan oleh laki-laki saja,
Alasan : Aktivitas ini hampir sama dengan ngelorod, sama- sama membutuhkan tenaga yang cukup besar untuk melakukannya. Per lembar kain batik, dilakukan pewarnaan hingga dua kali pewarnaan. Sebelum pewanaan dilakukan direndam sebentar didalam drum besar, kemudian lakukan pewarnaan untuk tahap pertama. Aktivitas ini dilakukan oleh dua orang laki-laki untuk memudahkan dan mendapatkan pemerataan dalam pewarnaa, setelah semua kain di warnai, selanjutnya dilakukan pewarnaan kedua. Aktivitas ini memang membutuhkan gerakan yang banyak dan cepat, artinya membutuhkan tenaga yang lebih sehingga sesuai untuk laki-laki.
10 Nyoga Aktivitas ini dilakukan oleh laki-laki,
Alasan : Aktivitas ini hampir serupa dengan aktivtas medel, perbedaannya hanya terletak pada warna yang digunakan. Nyoga merupakan tahapan akhir dari proses produksi batik untuk mendapatkan warna khas dari batik, warna kalem biasanya.
11 Penjemuran *
Aktivitas ini dilakukan oleh laki-laki,
Alasan : Aktivitas ini dilakukan langsung sekaligus setelah aktivitas nyoga telah selesai dilakukan
12 Pelipatan Aktivitas ini dilakukan oleh perempuan, Batik Cap
1 Pengecapan Aktivitas ini hanya dilakukan oleh laki-laki saja,
Alasan : Aktivitas ini juga membutuhkan tenaga yang cukup besar, karena canting yang digunakan untuk mengecap berukuran besar dan terbuat dari besi atau baja, selain itu malam (lilin) yang digunakan diletakkan dengan jarak yang sedikit lebih jauh berbeda dengan aktivitas membatik.
Profil Akses dan Kontrol
Menjelaskan perbedaan akses dan kontrol di responden di dalam UKM Batik sebagai buruh yang bekerja antara laki-laki dan perempuan. Tujuannya untuk melihat kesempatan yang seperti apa yang dimiliki oleh responden laki-laki maupun responden perempuan, terdapat perbedaan atau tidak. Sesuai dengan jenis kelaminnya atau masing-masing mendapatkan kesempatan yang rata, sama adilnya.
Tabel 14 Profil akses dan kontrol atas sumber daya dan benefit dalam proses produksi pembuatan batik tulis dan batik cap antara responden laki- laki dan responden perempuan di dalam UKM Batik Pesisir
Aktivitas Akses Kontrol
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Mendapat informasi untuk
bekerja di Batik Pesisir
Mendapat kesempatan untuk bekerja di Batik Pesisir
Mempunyai kesempatan bekerja sesuai dengan ketrampilan yang dimiliki
Mempunyai kesempatan bekerja sesuai dengan jenis kelaminnya
Mempunyai kesempatan bekerja sesuai dengan umurnya
Mendapat kesempatan pelatihan tertentu selama bekerja sebagai buruh
Mendapat kesempatan untuk mendapatkan upah yang sesuai dengan
pekerjaannnya
Memilki kesempatan untuk bekerja lembur
Memiliki kesempatan untuk
melakukan pekerjaan pada beberapa proses tahapan pembuatan batik
Mempunyai kesempatan untuk ijin cuti
Faktor-faktor yang Mempengaruhi (Hambatan dan Kesempatan)
Menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi akses dan kontrol responden laki-laki dan perempuan yang bekerja sebagai buruh di dalam UKM Batik Pesisir, baik yang menjadi hambatan atau justru menjadikan responden tersebut memperoleh kesempatan yang lebih untuk bisa bekerja dan mendapatkan akses ataupun kontrol yang lebih dibandingkan dengan satu pihak lain.
Tabel 15 Faktor saling pengaruh antara “profil aktifitas” dan “profil akses dan kontrol” dalam Proses Produksi Pembuatan Batik Tulis dan Batik Cap antara responden laki-laki dan responden perempuan di dalam UKM Batik Pesisir
No Faktor Pengaruh Hambatan (constraints)
Kesempatan (opportunities) Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
1 Jenis Kelamin 2 Usia - - 3 Lama Bekerja - - 4 Tingkat Pendidikan - - - - 5 Status Perkawinan - - - Analisis : 1. Jenis Kelamin
- Laki-laki : Terjadi ketika kesempatan kerja yang tersedia adalah pekerjaan yang di khususkan bagi perempuan, misalnya membatik, laki- laki tidak dapat mengaksesnya.
- Perempuan : Terjadi ketika kesempatan kerja yang tersedia adalah pekerjaan yang di khususkan bagi laki-laki, misalnya pengecapan, perempuan tidak dapat mengaksesnya.
2. Usia
- Laki-laki : Tidak begitu mempengaruhi, karena responden yang bekerja masih tergolong dalam usia produktif semua, artinya kekuatan fisik yang dimiliki oleh mereka cenderung masih sama.
- Perempuan : Sedikit mempengaruhi, contohnya pada aktivitas quality control yang berkesempatan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut adalah mereka yang tergolong usia dewasa awal. Hal ini berkaitan dengan tingkat kecermatan yang masih tinggi dan konsentrasi untuk melihat semua bagain yang sudah di batik maupun di tembok pada tahapan sebelumnya.
3. Lama Bekerja
- Laki-laki : Memberikan kesempatan bagi mereka yang sudah bekerja lebih lama, akan mendapatkan sedikit tambahan upah.
- Perempuan : Sama halnya dengan laki-laki, dapat memberikan kesempatan bagi mereka yang sudah bekerja lebih lama, akan
mendapatkan sedikit tambahan upah., akan tetapi kesempatannya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.
4. Tingkat Pendidikan - Laki-laki : - Perempuan :
5. Status Perkawinan
- Laki-laki : Tidak mempengaruhi untuk responden laki-laki
-
Perempuan : Dapat mempengaruhi, sama seperti yang sudah dijelaskan pada bagain analisis karakteristik responden yang mempengaruhi akses dan kontrol yang dapat berkaitan dengan mau atau tidak maunya seorang perempuan bekerja langsung di tempat atau memilih untuk bekerja di rumah.Tingkat pendidikan tidak mepengaruhi, karena jenis pekerjaan ini tidak berkaitan dengan kecerdasan intelegensi yang berkaitan dengan tingginya pendidikan seseorang.
UKM dan Gender
Berdasarkan data dari kementrian koperasi dan UKM Republik Indonesia tahun 2010 sekitar 60% UKM dikelola oleh perempuan Indonesia. Perempuan peranan penting dalam peningkatan perekonomian Negara. Peran perempuan dalam aktivitas ekonomi tidak hanya perperan dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan masyarakat namun juga mengurangi efek flukuatif ekonomi; berkontribusi dalam upaya menurunan angka kemiskinan dan menjamin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Peran perempuan di sektor UKM umumnya terkait dengan bidang perdagangan dan industri pengolahan seperti: warung makan, toko kecil (perancangan),pengolahan makanan dan industri kerajinan, karena usaha ini dapat dilakukan dirumah sehingga tidak melupakan perempuan sebagai ibu rumah tangga.meskipun awalnya UKM yang dilakukan perempuan lebih banyak sebagai pekerjaan sampingan untuk membantu suami dan untuk menambah pendapatan rumah tangga,tetapi dapat menjadi sumber pendapatan rumah tangga terutama apabila dikelola secara sungguh-sungguh (Sugihastuti dan Septiawan 2010).
Hasil dari penelitian ini, dalam UKM Batik Pesisir memaparkan bahwa dalam bekerja, terutamanya dalam pembagian kerja masih berdasarkan sifat masing-masing dari jenis kelamin. Hal ini terjadi sudah sejak dahulu, sudah adanya skema pemikiran dari masyarakat bahwa pekerjaan dalam proses produksi dibatik masing-masing akan khas dengan jenis kelamin masing-masing. Membatik yang membutuhkan ketelitian tinggi, kecermatan dan kesabaran hanya pantas dilakukan oleh perempuan. Pengecapan yang menggunakan canting tembaga yang besar, otomatis pula memutuhkan tenaga yang lebih besar hanya pantas dilakukan oleh laki-laki. Sudah terdapat standar patokan seperti menharuskan pembagian kerja seperti itu.
Mengenai kedudukan perempuan pada proses produksi pembuatan batik, yang terjadi saat ini jumlah secara keseluruhan memang banyak kaum perempuan yang bekerja, akan tetapi dalam aktual proses produksi perempuan bekerja pada bagian tahapan njiplak, mbathik, nembok, ngecos, quality control itu terjadi dalam proses produksi batik tulis. Aktivitas tahapan mbathik, nembok akan hilang ketika dalam proses produksi batik cap. Artinya dalam hal ini peran perempuan dalam proses produksi batik menjadi bergeser dan hilang. Kemungkinan juga yang terjadi di lapangan, ketika pekerjaan yang semula dilakukan perempuan berlalih dilakukan oleh kaum laki-laki, akanterdapat perbedaan upah yang diberikan. Batik Cap yang lebih murah daripada batik tulis akan diproduksi lebih banyak, karena banyaknya pertimbangan, salah satunya karena waktu yan lebih singkat dalam pembuatannya dan lebih berpeluang banyak terjual karena harganya yang lebih terjangkau.
Perihal fenomena yang terjadi, dapat dikatakan bahwa peran-peran perempuan dalam proses produksi pembuatan batik manakala terjadi otomatisasi industri dan pada umumnya posisi tersebut diambil alih oleh kaum laki-laki. Perempuan dapat dikatakan termarginalkan ketika peran mereka tergeser dan terdapat perbedaan upah meskipun melakukan pekerjaan yang sama. Masyarakat sendiri memang masih menganggap bahwa ketika perempuan bekerja, mereka hanya sekedar mencari uang tambahan, membantu suami untuk memenuhi kebutuhan rumah-tangganya. Berbeda dengan ketika laki-laki yan bekerja, yang
sudah menjadi kewajibannya, sebagai tulang punggung keluarga pencari nafkah laki-laki berhak mendapatkan upah yang lebih besar daripada perempuan. Bahkan terasa tidak adil ketika harus disamakan.
Kasian mbak sepertinya, kalau upahnya sama rasanya justru malah ngga adil menurut kami (Widia, GM).
Akses dan Kontrol dalam Produksi Batik Tulis dan Batik Cap
Jenis produksi yang berbeda di dalamnya terdapat pembagian kerja pula yang berbeda. Pembagian kerja yang berbeda akan mempengaruhi kesempatan pula yang berbeda antara buruh laki-laki dan perempuan dalam bekerja. Produksi batk tulis yang identik identik dengan proses mbathiknya yang dilakukan oleh perempuan, menjelaskan bahwa perempuan mempunyai kesempatan yang besar untuk dapat bekerja. Laki-lakipun sebenarnya juga memiliki kesempatan, tidak ada larangan tertulis yang menyatakan bahwa laki-laki tidak boleh melakukan aktivitas mbathik. Akan tetapi akan dianggap sesuatu yang tidak wajar ketika laki- laki mbathik, mengambil peran atau pekerjaan yang sangat identik dengan perempuan, yang membutuhkan tingkat kecermatan ketelitian dan kesabaran tinggi. Karena kesempatan atau akses yang rendah, menjadikan laki-laki sangat sulit untuk bekerja sebagai pembatik dan tentunya karena sudah stereotipe tersebut.
Produksi batk cap yang identik identik dengan proses ngecapnya yang dilakukan oleh laki-laki, menjelaskan bahwa laki-laki mempunyai kesempatan yang besar untuk dapat bekerja. Perempuanpun sebenarnya juga memiliki kesempatan, tidak ada larangan tertulis yang menyatakan bahwa perempuan tidak boleh melakukan aktivitas ngecap. Akan tetapi akan dianggap sesuatu yang tidak wajar ketika perempuan ngecap, mengambil peran atau pekerjaan yang identik dengan laki-laki, yang membutuhkan tenaga yang lebih banyak Karena kesempatan atau akses yang rendah, menjadikan laki-laki sangat sulit untuk bekerja sebagai pembatik dan tentunya karena sudah stereotipe seperti itu.