BAB V – KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Analisis Genius Loci pada Rumah Aceh Tradisional
Rumah Aceh tradisional disebut juga denganRumoh Aceh. Rumoh Aceh merupakan hasil karya masyarakat Aceh yang mengalami proses akulturasi perubahan dari waktu ke waktu yang panjang dalam sejarah. Secara fungsi rumoh Aceh mampu menjadi pelindung manusia dan keluarganya dari gangguan alam seperti sengatan panasnya matahari, dinginnya malam, terpaan angin, gempa bumi dan sebaginya. Selain itu, rumoh Aceh juga mampu menjadi tempat kebutuhan hidup manusia sebagai tempat melakukan kegiatan sehari-hari, sebagai tempat peyimpanan barang-barang berharga, kegiatan ekonomi dan ritual keagaaman (Mirsa, 2013).
Dalam proses menganalisis genius loci yang terdapat pada rumoh Aceh, ada beberapa indikator yang bisa dijadikan acuan penelitian seperti yang sudah dijelaskan pada subbab 2.8.
5.1.1 Analisis Ruang
Seperti yang sudah dijelaskan dalam subbab 2.4.1 bahwa space merupakan sebuah indikasi 3 dimensional yang membentuk sebuah tempat. Space dibagi dalam existential space yaitu ruang yang terbentuk dari pengalaman manusia terhadap pandangan hidup dan lingkungannya dan architectural space merupakan wujud ruang dari sebuah tempat itu sendiri.
Struktur ruang dalam rumoh Aceh terbagi secara vertikal dan horizontal.
Secara vertikal, rumoh Aceh terbagi dalam lapisan kosmos dengan lapisan paling bawah yaitu tanah, lantai yang ditinggikan yaitu hunian, dan loteng (atap). Tanah merupakan tempat bagi para binatang, rumah atau lantai yang ditinggikan sebagai tempat manusia berkehidupan sedangkan atap merupakan tempat yang dianggap penting (leluhur). Di dalam atap atau biasa disebut loteng tepatnya di sisi dalam tombak layar merupakan tempat yang digunakan untuk menyimpan harta dan pusaka keluarga serta barang-barang berharga lainnya. Struktur horizontal yang terjadi pada rumoh Aceh yaitu perbedaan ruang yang digunakan untuk kaum laki-laki dan perempuan. Hal ini erat kaitannya dengan keyakinan masyarakat Aceh yaitu ajaran Islam yang melarang bercampurnya kaum laki-laki dan kaum perempuan yang bukan mahramnya seperti yang terlihat pada Gambar 5.1.
Gambar 5.1 Struktur Rumah Aceh Tradisional Secara Vertikal Dan Horizontal
Rumoh Aceh memiliki 3 ruang utama yaitu seuramoe keu pada bagian depan yang digunakan untuk kaum laki-laki dengan tangga sebagai pintu masuk utama, seuramoe likoet sebagai ruang untuk perempuan dengan tangga sebagai pintu masuk pada bagian belakang, dan area privat yaitu di tengah bangunan sebagai inti dari rumah itu sendiri disebut dengan rumoh inong yaitu ruang yang digunakan untuk tidur. Rumoh inong dapat di akses dari ruang seuramoe keu dan seuramoe likoet dengan akses tangga (Gambar 5.2).
Gambar 5.2 Struktur ruang pada rumah Aceh tradisional
Berikut beberapa ruang yang terdapat dalam keseluruhan rumah Aceh tradisional seperti pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1 Analisis Ruang dalam Arsitektur Aceh Tradisional
Sedikit dan terbatas Musim kemarau
3. Organisasi
Tabel 5.1 (Lanjutan)
Secara vertikal yaitu rumah bawah (yup moh) seluas 81-189 m², lantai yang ditinggikan (ateuh moh) yaitu
Secara vertikal, rumah bawah dibatasi oleh tiang rumah, ateuh moh dibatasi oleh tangga dan dinding pembatasnya, dan loteng dibatasi oleh bara (balok di atas tiang)
Secara horizontal, seuramoe keu dan seramoe likoet sama-sama dibatasi oleh 5-7 anak tangga dan tungai dibatasi oleh ketinggian lantai sebesar 50 cm.
5. Struktur Bangunan
Menggunakan ukuran dengan patokan khusus seperti pada tabel 2.3.
Rumah itu adalah properti bergerak yang bisa dijual dan diangkut. Konstruksi rumah sangat fleksibel sehingga rumah bisa
Dinding pembatas massif, pintu dan tanpa penutup
5.1.2 Analisis Karakter
Berdasarkan teori genius loci, karekter merupakan sifat dari sebuah ruang, baik dari segi material, cahaya dan penghawaan pada ruang tersebut. Karakter sebuah ruang juga dibentuk oleh kegiatan yang terjadi di dalamnya.
Secara keseluruhan rumoh Aceh terbuat dari material yang berasal dari alam sekitar. Masyarakat Aceh biasanya memiliki kebun (lampoih) sendiri yang ditanami berbagai macam pohon kayu yang bisa digunakan untuk membangun rumah. Pohon-pohon kayu ini akan ditebang jika sudah mencapai umurnya untuk digunakan sebagai tiang-tiang rumah yang akan dibangun, tiang rumah dibuat dari batang kayu yang kuat demi menjaga kekokohan dan struktur rumah bertahan lama. Berikut hasil analisis elemem karakter dalam arsitektur tradisional Aceh terlihat pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2 Analisis Karakter dalam Arsitektur Aceh Tradisional No. Arsitektur berorientasi dan sejajar mengikuti arah selatan-utara.
Pola dan orientasi rumah memberikan cahaya dan udara yang masuk ke harus dikeringkan untuk konstruksi.
Kebutuhan cahaya dan temperatur untuk memaksimalnya kualitas material yang akan digunakan untuk pembangunan rumah.
Tabel 5.2 (Lanjutan) No. Arsitektur
Aceh
Karakter
Material Cahaya dan Temperatur 3. Organisasi sedikit karena berada dibagian tengah bangunan tetapi dengan temperatur yang sejuk dan dingain karena cukupnya aliran angina dari sela-sela kayu
Secara vertikal yaitu rumah bawah (yup moh) seluas 81-189 m², lantai yang ditinggikan (ateuh moh) yaitu
Secara vertikal, rumah bawah dibatasi oleh tiang rumah, ateuh moh dibatasi oleh tangga dan dinding pembatasnya, dan loteng dibatasi oleh bara (balok di atas tiang)
Secara horizontal, seuramoe keu dan seramoe likoet sama-sama dibatasi oleh 5-7 anak tangga dan tungai dibatasi oleh ketinggian lantai sebesar 50 cm. menjadikannya sebagai tempat aliran udara dan angin yang menjadikan rumah terasa sejuk.
Tabel 5.2 (Lanjutan) No. Arsitektur
Aceh
Karakter
Material Cahaya dan Temperatur 5. Struktur
Bangunan
Struktur dari kayu dan panggung juga menghadirkan cahaya alami yang maksimal ke dalam rumah.
6. Tangga Terbuat dari batang kayu. Area tangga tidak memiliki batasan massif sehingga mendapatkan cahaya yang maksimal begitu pula dengan temperaturnya. Sedangkan atap digunakan untuk melindunginya pengguna dari cahaya matahari langsung. dikarenakan tidak memiliki penutup atap.
8. Panteu Panteu terbuat dari batang kayu sebagai penopangnya dan batang bambu sebagai material lantai yang digunakan.
Panteu memiliki cahaya yang cukup dan suhu yang sangat sejuk karena letaknya di kolong rumah sebagai tempat aliran udara.
Kondisi mon yang digunakan untuk kegiatan mencuci dan mandi menyebabkan mon menjadi ruang yang lebih basah dan lembab sehingga ruang ini tidak dilengkapi dengan atap supaya memudahkan masuknya angin yang diharapkan mampu menjaga ruang mon ini lebih cepat kering.
5.1.3 Analisis Spirit
Elemen genius loci selanjutnya adalah spirit, yaitu kepercayaan dan kekuatan alam yang tetap menjadi inspirasi yang misterius dan tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Sistem kepercayaan masyarakat Aceh adalah agama Islam dimana manusia
memiliki hubungan langsung dengan Tuhan dan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan, serta adanya kewajiban menjaga hubungan baik dengan sesame manusia dan Alam.
Rumah Aceh tradisional merupakan bangunan yang dimiliki oleh masyarakat Aceh yang menganut kepercayaan kepada Allah SWT dengan ajaran Islam. Sehingga setiap elemen-elemen atau ruang yang terbentuk pada rumoh Aceh tidak terlepas dari norma-norma dan hukum ajaran Islam. Ibadah utama agama Islam yaitu shalat yang cenderung dilakukan secara berjamaah baik di mushalla maupun di dalam rumah.
Bagi anak-anak diwajibkan belajar mengaji dan ilmu agama yang juga dilakukan di mushala atau di dalam rumah. Oleh sebab itu rumah memiliki ruang yang lapang dan luas dan bersih dari segala bentuk najis. Berikut analisis spirit terlihat pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3 Analisis Spirit dalam Arsitektur Aceh Tradisional
No. Arsitektur Aceh Spirit
1. Pola dan Orientasi 1. Bentuk rumah yang memanjang dari timur ke barat yang menunjukkan arahnya menuju Kiblat yang berada di arah barat.
2. Pintu utama tidak terletak di salah satu sisi atap pelana dan karena itu berorientasi ke selatan atau utara. Ini kemungkinan besar merupakan karakteristik pra-Islam, karena dalam kepercayaan Hindu pintu masuk rumah tidak boleh berorientasi pada matahari terbenam mengingat asosiasi dengan kegelapan dan hitam, yang merupakan warna kematian
2. Waktu
pembangunan dan material bangunan
Pembangunan dimulai dengan peletakan batu pertama yang akan dipimpin oleh ulama atau petua di daerah tersebut dengan mengharapkan doa keberkahan bagi rumah yang akan dibangun.
Tabel 5.3 (Lanjutan)
No. Arsitektur Aceh Spirit
3. Organisasi Ruang Posisi seuramoe keu yang terletak di bagian depan rumah yang digunakan untuk laki-laki dan seuramoe likoet pada bagian belakang untuk perempuan sebagai bentuk dari aturan Islam yang memisahkan laki-laki dan perempuan khususnya yang buka muhrim.
4. Antropologi Rumah
1. Secara vertikal perbedaan kosmos antara susunan atas dan bawah. Atas rumah merupakan tempat yang bersih dan suci yang digunakan untuk kehidupan manusia dalam beribadah kepada Allah sedangkan rumah bawah merupakan tempatnya para binatang.
2. Secara horizontal yaitu perbedaan ruang dan akses masuk bagi laki-laki dan perempuan untuk yang bukan muhrim. Sebagaimana ajaran Islam tentang larangan berkumpulnya laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya.
5. Struktur Bangunan 1. Bukaan pintu yang lebih rendah merupakan makna bahwa rumah merupakan tempat yang sakral bagi penghuninya, sehingga setiap ada seseorang yang masuk diharuskan menunduk dan meminta izin untuk menghormati penghuni di dalamnya.
2. Bukaan jendela yang kecil dan bermaterial kayu dibuat karena bukaan hanya sekedar media untuk memasukkan cahaya dan udara yang cukup ke dalam rumah, tanpa harus mengekspos kegiatan dan penghuni yang berada di dalam rumah terlihat dari luar demi menjaga kehormatan penghuninya.
6. Tangga 1. Jumlah anak tangga dengan angka ganjil sebagaimana Islam menyukai angka ganjil.
2. Level lantai untuk perempuan yang lebih ditinggikan. Yaitu bagian tungai yang dipakai oleh ibu dan anak perempuan. Level lantai ini menunjukkan tingkat privasi yang tinggi sehingga memberikan batas yang jelas dikarenakan ibu dan anak perempuan itu adalah aurat yang tidak boleh dilihat oleh sembarangan orang yang bukan muhrimnya.
Tabel 5.3 (Lanjutan)
No. Arsitektur Aceh Spirit
7. Mon Yang secara harfiah berarti sumur yang menjadi sumber utama air bersih. Area sekitar sumur ini digunakan untuk semua kegiatan mencuci dan bersuci.
Secara arsitektur, mon dibatasi dengan dinding pada empat sisi tanpa dilengkapi dengan atap supaya cahaya dan penghawaan masuk dengan maksimal demi menjaga area mon tetap bersih dan kering.
8. Panteu Sebagai tempat untuk menerima tamu khususnya tamu asing yang dianggap tidak boleh memasuki rumah.
Kebersihan dan kesucian dalam agama Islam merupakan hal yang paling penting demi kesempurnaan ibadah yang dilaksanakan. Rumah merupakan tempat untuk melaksanakan ibadah terutama ibadah wajib seperti shalat dan membaca Al-Quran dengan demikian rumah diharuskan dalam keadaan bersih dan suci dari segala kotoran dan najis, oleh sebab itulah terdapat pasu (guci) yang diletakkan pada tangga rumah Aceh yang dimaksudkan untuk mencuci kaki dan tangan bagi siapa pun yang hendak melangkah masuk ke dalam rumah.
Selanjutnya kesucian juga berlaku pada saat mencuci, mandi dan berwudhu.
Kegiatan mencuci piring, mencuci pakaian maupun mencuci bahan makanan, mandi dan wudhu dilakukan di dalam mon. Mon terletak di luar ruang rumah karena merupakan ruang yang basah dan lembab yang rentang dengan kotor. Sedangkan WC diletakkan pada ruang lain yang terpisah dari mon, karena WC merupakan tempat yang dianggap kotor dan najis.
5.1.4 Analisis identifikasi dan orientasi
Dalam membangun rumoh Aceh masyarakat mampu mengidentifikasi alam dan lingkungan sekitarnya serta memahami potensi-potensi yang menjadikan keberadaan mereka nyaman dan tidak merasa asing. Lingkungan dan alam bumi Aceh yang terdiri dari pinggiran pantai, hamparan sawah dengan iklim tropis yang membuat masyarakat Aceh mampu mengorientasikan diri untuk hidup dan membangun bangunan yang sesuai dengan potensi alam itu sendiri. Hasil analisis elemen identifikasi dan orientasi dapat dilihat pada Tabel 5.4.
Tabel 5.4 Analisis Identifikasi dan Orientasi pada Arsitektur Tradisional Aceh No. Rumah
Tradisional Aceh
Identifikasi dan Orientasi Potensi Alam Kondisi Lingkungan 1. Pola dan berpagar yang ditanami pohon buah-buahan.
Rumah dibangun di atas pekarangan yang luas yang dimanfaatkan sebagai area untuk menjemur padi hasil panen setiap tahunnya. Begitu pula keberadaan kroeng sebagai tempat untuk menyimpan persediaan padi untuk kebutuhan hidup sampai masa panen selanjutnya tiba. untuk proses pembuatan rumah.
2. Masyarakat memiliki kebun kayu sendiri yang akan diolah menjadi bahan bangunan.
3. Membuat struktur rumah lebih fleksibel dan dinding papan yang mampu menjaga temperatur.
Tabel 5.4 (Lanjutan) No. Rumah
Tradisional Aceh
Identifikasi dan Orientasi Potensi Alam Kondisi Lingkungan 3. Organisasi
Lingkungan dengan tingkat sosial yang tinggi sehingga diperlukan tempat bersantai bersama.
Keadaan iklim setempat yang mengidentifikasi rumah dengan kolong sebagai bentuk orientasinya. panggung dengan tinggi kolong bangunan mencapai 2,5-3 meter.
Konstruksi utama rumah panggung ini merupakan tameh (tiang) berbentuk bulat yang diletakkan di atas gaki tameh atau keuneuleung (pondasi/umpak).
Tameh dan keuneuleung ini tidak ditanam di dalam tanah melainkan hanya diletakkan saja di atas tanah.
6. Tangga Tangga yang
terbuat dari kayu.
Kebutuhan tangga untuk media naik ke dalam rumah yang keperluan mencuci dan bersuci juga sebagai tempat memandikan ternak dan membersihkan tikar pandan yang membutuhkan area yang luas.
Tabel 5.4 (Lanjutan) No. Rumah
Tradisional Aceh
Identifikasi dan Orientasi Potensi Alam Kondisi Lingkungan 8. Panteu Garis pantai yang
panjang di daerah Aceh juga memiliki potensi tumbuhnya perdu pandan duri.
Panteu digunakan untuk kegiatan para kaum perempuan dalam mengayam tikar pandan yang akan digunakan untuk kebituhan sehari-hari maupun untuk dijual.
5.2 Analisis Genius Loci pada Rumah Kontemporer