• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V – KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Genius Loci

C. Norberg Schulz Peter Zumthor Buku

2.7 Arsitektur Rumah Tradisional Aceh

2.7.1 Pola dan orientasi rumah

Dalam sebuah permukiman masyarakat Aceh, biasanya beberapa rumah tersebar secara acak di dalam sebuah desa (gampong). Rumah-rumah disejajarkan dengan cukup teratur di sepanjang garis utara-selatan dan barat daya. Rumah sering terletak di halaman berpagar yang ditanami pohon buah-buahan. Beberapa halaman berisi lebih dari satu rumah, rumah tambahan merupakan milik anak perempuan yang sudah menikah. Para wanita di setiap halaman adalah keturunan leluhur wanita yang sama. Halaman itu juga berisi sumur, selokan, dan tumpukan pupuk ditutup dengankain. Ada juga lumbung, sapi dan kerbau disimpan di kolong rumah seperti yang terlihat pada Gambar 2.1 dan Gambar 2.2 (Schefold, R., & Nas, P. 2008).

Gambar 2.1 Struktur Ruang Rumah Aceh Tradisional Sumber: Schefold, R., & Nas, P. 2008

Gambar 2.2 Tampak Samping Rumah Aceh Tradisional Sumber: Schefold, R., & Nas, P. 2008

Rumah tradisional Aceh menggunakan konstruksi kayu yang diangkat pada tiang yang berdiri di atas batu alam. Lantainya terbuat dari batang kelapa dan dinding bambu, dan atap menggunakan daun sagu atau rumbia. Sebagian besar atap rumah

dikatakan berorientasi ke timur dan barat. Pintu utama tidak terletak di salah satu sisi atap pelana dan karena itu berorientasi ke selatan atau utara. Ini kemungkinan besar merupakan karakteristik pra-Islam, karena dalam kepercayaan Hindu pintu masuk rumah tidak boleh berorientasi pada matahari terbenam mengingat asosiasi dengan kegelapan dan hitam, yang merupakan warna kematian (Nas, 2008). Meminjam dari tradisi Islam, tolak angin kemudian berorientasi ke Mekah terlihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Denah Rumah Aceh Tradisional Sumber: Schefold, R., & Nas, P. 2008

Rumah itu adalah properti bergerak yang bisa dijual dan diangkut. Konstruksi rumah sangat fleksibel sehingga rumah bisa digoyang-goyang. Biasanya ini dilakukan oleh pencuri untuk memeriksa apakah ada orang yang tidur di rumah.

Setelah menikah, masing-masing anak perempuan terus tinggal di halaman, baik di rumah terpisah atau di rumah ibunya. Jika seorang anak perempuan tetap di rumah ibunya, sebuah kamar dikosongkan oleh orang tua untuk pasangan baru.

Mereka dihadiahi sebuah rumah atau bagian dari itu oleh orang tua mereka sekitar tiga atau empat tahun setelah pernikahan. Jika memungkinkan pasangan juga diberikan sawah untuk setiap anak yang dilahirkan. Perkawinan masing-masing anak perempuan berikutnya membutuhkan hadiah yang sama dan sebagai akibatnya orang tua kadang-kadang ditinggalkan hanya dengan gubuk untuk diri mereka sendiri di dekat rumah-rumah anak perempuan mereka yang sudah menikah.

Seorang pria pindah ke rumah istrinya tetapi tetap menjadi penduduk dusun ibunya. Sistem kekerabatan di Aceh adalah matrilokal (atau uxorilocal dengan suami yang tinggal di tempat pengantin wanita dan ibunya) dengan sifat-sifat bilateral.

Seorang pria dianggap seperti tamu di rumah istrinya.

Rumah itu terdiri dari bagian utama tengah, ruang depan, dan ruang belakang, semuanya berdiri di atas tiang setinggi lebih dari 2 meter. Bagian tengah dinaikkan sekitar setengah meter lebih tinggi dari ruang depan dan ruang belakang. Ruang terbuka besar di bawah rumah digunakan untuk penyimpanan barang-barang seperti

beras, ruang terpisah untuk beras yang baru dipanen, dan rak untuk kayu bakar.

Ruang itu juga dijadikan rumah bagi berbagai macam binatang, seperti anjing, kambing, domba, dan ayam. Sampah dibuang ke sana juga, dan ini sering dibakar sehingga asapnya membunuh serangga, mencegah mereka berkembang biak di bawah atap jerami. Selain itu ada tempat untuk beristirahat di mana anak-anak kadang-kadang memiliki ayunan besar. Perempuan yang melakukan tugas-tugas rumah tangga di sana, dan para tamu yang datang bertamu dan belasungkawa juga ditawarkan di sana. Di kaki tangga berdiri tong air dengan gayung dan batu tempat seseorang mencuci kaki sebelum masuk. Terkadang ada juga anak tangga menuju dapur di belakang, tetapi umumnya wanita menggunakan pintu depan. Dalam beberapa kasus, tangga dikelilingi oleh balok kayu dan ditutupi oleh atap seperti yang terlihat pada Gambar 2.4.

Ruang depan dipisahkan dari ruang dalam, yang hanya memiliki pintu menuju ruang belakang. Satu-satunya pintu (atau tirai) di dinding belakang ruang depan adalah yang memberi akses ke jalan tengah. Ruang depan adalah ruang untuk pria.

Ruang ini juga digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu. Lantai ditutupi dengan anyaman tikar ketika ada acara atau hanya menerima tamu. Ada juga bangku bambu yang berfungsi sebagai tempat tidur ketika terlalu panas di dalam kamar di malam hari. Pria yang tidak berhubungan dengan keluarga tidak pernah memasuki lorong utama yang mengarah ke ruang belakang. Di dalam lorong ini, yang dibatasi untuk anggota rumah tangga.

Gambar 2.4 Layout site rumah Aceh Tradisional Sumber: Schefold, R., & Nas, P. 2008

Kamar di sisi barat lorong itu untuk pasangan yang sudah menikah, untuk pertemuan pertama mempelai wanita dan pria, dan untuk memandikan orang yang meninggal. Kain putih berfungsi sebagai langit-langit, dindingnya dihiasi dengan hiasan, dan lantai ditutupi tikar. Perabotan termasuk bangku rendah dengan kasur dan kelambu, kasur empuk dengan ukuran yang cukup besar, dan peti untuk menyimpan pakaian dan perlengkapan pribadi. Kamar di sisi timur lorong itu untuk para gadis atau anak perempuan pertama yang menikah. Bagian belakang rumah (ruang

belakang) berfungsi sebagai ruang duduk dan dapur. Terdapat tikar untuk orang tua dan bangku rendah untuk anak-anak. Ada rak-rak dengan piring, panci masak, dan lampu. Memasak dilakukan di atas api kayu di wajan yang bertumpu pada lima batu.

Di ruang belakang juga terdapat anak tangga memberi akses ke halaman.

Atapnya terbuat dari daun lontar. Tolak angin dihiasi dengan layar kayu segitiga berhias. Di belakang tolak angin adalah tempat paling suci di rumah tempat pusaka disimpan. Ukiran kayu yang rumit lebih umum di rumah-rumah orang kaya.

Ornamen berupa bentuk geometris dan bunga, karena penggambaran tokoh binatang atau manusia tidak diizinkan oleh Islam. Namun, menurut Dall (1982), tokoh-tokoh monyet, ular, burung, dan binatang lain ditemukan di rumah-rumah tua, dan kemungkinan besar terinspirasi oleh tradisi pra-Islam.

. Waktu terbaik untuk membangun rumah, yang terbuat dari kayu danbambu, adalah musim kemarau karena kayu harus dikeringkan untuk konstruksi. Berdiri di atas batu-batu datar, tiang-tiang itu memiliki ketinggian yang berbeda-beda, sebagian tergantung pada formasi alami tanah, yang biasanya tidak rata. Sebagian besar rumah memiliki enam belas pondasi. Untuk pernikahan seorang anak perempuan, mereka yang memiliki sarana cukup memperpanjang rumah dengan menambah ruang ke ruang belakang, membutuhkan tiang baru baru dan atap tambahan mencapai ke tepi atap utama. Mereka yang tidak cukup kaya untuk membangun rumah terpisah untuk anak perempuan yang sudah menikah meninggalkan ruang dalam untuk pasangan dan pindah ke ruang tambahan diruang belakang. Jalan itu ada di satu sisi atau di tengah

rumah jika ada tiga bagian; ketika ada lima itu tepat di tengah. Ada beberapa model denah rumah tradisional Aceh yaitu seperti pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5 Beberapa tipe denah rumah tradisional Aceh Sumber: Schefold, R., & Nas, P. 2008

Dalam kehidupan masyarakat Aceh mushalla (meunasah) sama pentingnya dengan rumah tradisional Aceh, yang di masa lalu mungkin memiliki konstruksi terbuka tetapi setelah di bawah pengaruh Islam bangunan tersebut menjadi tertutup.

Meunasah dibangun dengan cara yang sama seperti rumah tinggal tetapi tidak memliki jendela, dan partisi, meunasah hanya dilengkapi dengan lampu dan alas tidur. Meunasahadalah tempat berkumpul dan melaksanakanshalat, berdoa dan juga

1. Denah prinsip umum dengan 3 rueng 2. Denah dengan 5

rueng memiliki ruang di bagian depan 3. 2 rumah dengan 3

rueng digabung menjadi 1 4. Rumah 5 rueng

memiliki anjung di bagian belakang 5. Rumah 3 rueng

dengan tangga masuk di sisi rumah yang memiliki tambahan Lantai anjung langsung berada di atas tanah

melaksanakan pertemuan keagamaan, meunasah juga digunakan sebagai tempat laki-laki dan orang asing tidur.

Dalam analisis antropologis rumah tradisional Aceh, tiga lapisan kosmos dan perbedaan antara pria dan wanita sangat penting. Tiga lapisan kosmos diekspresikan secara vertikal dan perbedaan gender diekspresikan secara horizontal dalam urutan tempat tinggal. Terlepas dari pembagian spasial, ornamen juga memainkan peran besar dalam demarkasi dan spesifikasi ruang hunian (Schefold dan Nas, 2008).

Prinsip vertikal di rumah Aceh terkait dengan diferensiasi antara tingkat tanah, tingkat lantai yang ditinggikan, dan loteng, di mana tanah dikaitkan dengan binatang, rumah dengan kehidupan manusia, dan atap dengan leluhur. Di bawah atap, di belakang layar pelana segitiga (tolak angin), pusaka sakral dan barang-barang berharga secara tradisional disimpan. Di antara ketiga tingkat ini, tingkat tanah dan tempat tinggal yang disatukan dianggap sebagai ruang profan, berbeda dengan tingkat atap, yang dianggap sebagai ruang sakral. Pada tingkat hunian, ruang dibatasi oleh bagian tengah rumah yang tinggi. Bagian depan dan belakang bagian bawah dikontraskan dengan bagian tengah yang lebih tinggi, yang dianggap lebih intim.

Organisasi ruang horisontal di rumah mengaitkan bagian depan dengan pria dan bagian belakang dengan wanita. Orientasi rumah ke barat dianggap sebangun dengan Islam.

Di kota Banda Aceh, rumah-rumah tradisional Aceh cukup langka. Namun, di

memiliki orientasi timur-barat yang lama, meskipun seiring waktu beberapa perubahan telah terjadi. Di banyak desa rumah-rumah tradisional telah digantikan dengan yang modern dan barang-barang rumah tangga yang ditemukan di rumah-rumah tradisional biasanya modern. Peralatan pertanian kuno sudah langka saat ini.

Sedangkan meunasah hanya digunakan untuk pertemuan dan sering ditinggalkan.

Gambar 2.6 Foto Rumah Tradisional Aceh yang ada di Banda Aceh Sumber: Schefold, R., & Nas, P. 2008

2.7.2 Struktur rumah tradisional Aceh

Rumah tradisional Aceh sering disebut juga rumoh Aceh. Dalam Mirsa (2015) disebutkan bahwa rumoh Aceh dibuat tinggi di atas tanah dibangun di atas sejumlah tiang-tiang bulat besar yang beraturan. Bentuk rumahnya segi empat dan tinggi lantainya empat sampai sembilan hasta dari permukaan tanah. Rumoh aceh merupakan rumah panggung yang bahan bakunya terdiri dari kayu.

Menurut kebiasaan orang Aceh, dalam melakukan pembangunan rumoh aceh harus menggunakan ukuran-ukuran yang sudah menjadi patokan khusus seperti pada Tabel 2.3;

Tabel 2.3 Patokan Ukuran dalam Masyarakat Aceh

No. Nama Ukuran Dimensi

1. Si Gukee ( Setebal satu kuku) ± 1 mm

2. Si aneuk jaroe (satu jari melintang di ruas tengah) ± 1,6 cm 3. Si atot aneuk jaroe (satu ruas kuku telunjuk) ± 2,5 cm 4. Si paleut (satu telapak tangan, diukur pada titik ruas tengah

ibu jari)

± 10 cm 5. Si jeungkai (satu jengkal, diukur dari ibu jari ke ujung jari

kelingking yang direntang bebas)

± 21 cm 6. Sitapak (satu telapak kaki, diukur dari tumit ke jari kaki

terpanjang)

± 25 cm 7. Si tumbok (satu tumbuk, sepanjang antara bongkol siku

sampai ujung tangan dalam posisi terkepal)

± 40 cm 8. Si hah (satu hasta, diukur dari bongkol siku sampai ke

ujung jari tengah)

± 45 cm 9. Saboh dhap (satu langkah terpanjang, diukur dari tumit kaki

di belakang ke ujung kaki yang di depan)

± 100-120 cm 10. Sideupa (satu depa, diukur dari bentangan tangan terbuka

dari ujung jari tengah tangan kiri ke ujung jari tengah tangan kanan)

± 180 cm

Sumber: Rumoh Aceh, Rinaldi Mirsa 2013

Struktur rumah Aceh terdiri dari beberapa macam sebagai berikut;

1. Tameh

Rumoh Aceh adalah rumah panggung dengan tinggi kolong bangunan mencapai 2,5-3 meter. Konstruksi utama rumah panggung ini merupakan tameh (tiang) yang berbentuk bulat memanjang dengan diameter rata-rata 30 cm. Tameh ini diletakkan di atas gaki tameh atau keuneuleung

(pondasi/umpak). Tameh dan keuneuleung ini tidak ditanam di dalam tanah melainkan hanya diletakkan saja di atas tanah.

Beberapa tameh berdiri membentuk grid sesuai dengan jumlah ruang yang akan dibangun. Untuk rumah dengan 3 ruweung dibutuhkan 16 tameh, untuk bangunan dengan 4 ruweung membutuhkan 20 tameh dan seterusnya. Pada posisi melintang bangunan terdapat 4 tameh, 2 tameh luar dan 2 tameh dalam. Tameh luar memiliki ketinggian 9 hah (+4 meter), sedangkan tameh dalam setinggi 12 hah (+5,5 meter). Jarak antara setiap tameh berkisar 2,5-3 meter (Gambar 2.7).

Gambar 2.7 Gambaran Rangka Rumah Aceh Tradisional Sumber: Kamal (2015)

2. Aleue

Aleue merupakan bagian lantai ada rumoh Aceh. Sebelumnya perlu Tiang dengan tinggi 5,5 meter Tiang dengan tinggi 4 meter meter

mengunakan lubang-lubang yang ada. Balok kayu yang menghubungkan antar tameh pada posisi melintang rumoh Aceh disebut dengan rhok, sedangkan balok kayu yang menghubungkan antar tameh dalam posisi memanjang disebut dengan toi (Gambar 2.8).

Gambar 2.8 Sambungan Kerangka Rumah Aceh Tradisional

Untuk memasang aleue, maka di atas rhok dipasang lhue dengan posisi searah toi. Lhue terbuat dari bambu utuh dengan jarak pemasangan setiap lhue kurang lebih setengah meter. Di atas lhue baru dipasangkan aleue yang terbuat dari papan, baik itu dari batang nibung atau bambu atau bias juga dengan bilah batang pohon pinang maupun bilah batang bugeng (tanaman rawa mangrove), yang kemudian diikat/dijalin dengan tali ijuk (meurantee aleue).

3. Binteh

Binteh merupakan bagian dinding pada bangunan. Pemasangan binteh tergantung dari jenis bahan yang akan digunakan. Bila menggunakan bahan papan, maka papan-papan tersebut akan dipaku pada tiang-tiang dan rang (tiang-tiang pembantu) padabangunan rumah. Sedangkan dinding yang memakai bahan peuleupah meuria (batang rumbia) maka sambungannya akan menggunakan ikatan dengan tali ijuk yang disambungkan dengan tameh dan rang rumah.

Terdapat beberapa bagian pada binteh rumoh Aceh, yaitu papan yang letaknya di ujung toi atau ujung lhue yang disebut dengan kindang yang berfungsi sebagai tumpuan dinding terbawah (Gambar 2.9). Di atas kindang terdapat papan binteh yang dinamakan boh pisang. Pada kedua bagian ini biasanya terdapat ornamen berupa ukiran yang dibuat di sekeliling kindang pada bangunan.

Gambar 2.9 Contoh Kindang pada Rumah Aceh Tradisional Kindang

4. Bubong

Setelah pembahasan rangka aleue, maka dilanjutkan dengan bagian bubong (atap). Pada bagian ujung tiang yang sudah dihubungkan dengan balok disebut dengan bara. Konstruksi kuda-kuda pada dua “tameh dalam” bertumpu pada bara panyang, yaitu balok yang dipasang pada putting bagian tengah yang letaknya sejajar dengan bara. Kemudian ada juga yang disebut baralinteung, yaitu balok yang menghubungkan puting dengan tameh dengan arah melintang (Gambar 2.10).

Gambar 2.10 Struktur Bubong Rumah Aceh Tradisional Sumber: Rizky, 2016

Bara Linteung Tuleung rueng

Bara Bara Panyang Dieri

Indreng Ceureumen

Untuk pemasangan atap rumbia diperlukan bilahan bambu sebagai tempat pengikat atap yang disebut dengan beuleubah. Beuleubah ini dipasang diantara kesu-kesu. Pada bagian pangkal, beuleubah bertumpu pada sepotong kayu panjang yang disebut neuduek beuleubah. Pemasangan atap rumbia di atas beuleubah disambung dengan diikat menggunakan tali rotan. Kemudian kedua ujung atap (arah memanjang) dipasang selembar papan yang disebut dengan seupi (list-plank).

5. Pintoe

Pintoe rumoh Aceh memiliki ketinggian 120-150 cm saja, yang dimaknakan untuk bersikap baik dan santun serta saling menghormati terutama kepada pemilik rumah. Pintoe rumoh Aceh umumnya terdiri dari 2 lembar papan dengan system buka dua sisi dengan lebar daun pintu sihah atau situmbok (±40-45cm). Pada bagian sudut lembaran papan pintoe dibuat lebih tinggi dengan putting bulat berdiameter sekitar 2 aneuk jaroe (±3 cm). Ambang pintoe dibuat dari balok tebal pada 4 sisinya.

Pintoe pada rumoh Aceh tidak memiliki gerendel. Untuk mengunci pintoe, dibuat semacam gerendel dari papan pada sisi pertemuan kedua daun pintu, yang disebut dengan geulanceng pinto.

6. Reunyen

Reunyen merupakan tangga, yaitu penghubung antara ateuh moh dengan miyup moh. Reunyen terletak di bagian depan rumoh Aceh. Reunyen disandarkan di atas rhok pada seuramoe. Biasanya untuk melindungi reunyen dari siraman air hujan maka perlu dibuatnya seulasa (kanopi).

Keberadaan tangga pada rumoh Aceh bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk naik ke atas rumoh, tetapi juga sebagai titik batas yang hanya boleh di datangi oleh tamu yang bukan anggota keluarga atau saudara dekat.

Maka adalah sebuah pantangan bagi tamu yang bukan merupakan saudara dekat penghuni rumah untuk naik ke dalam rumah, sehingga reunyen juga memiliki fungsi sebagai alat kontrol sosial dalam berkehidupan di dalam masyarakat.

Pada rumoh Aceh, jumlah anak tangga harus berjumlah ganjil rata-rata 5-7 anak tangga. Sebagian reunyen rumoh Aceh memiliki penutup yang berfungsi untuk menghalau hewan-hewan yang akan naik ke dalam rumoh terutama hewan peliharaan, sedangkan maknanya merupakan untuk menandakan apabila penghuni rumah sedang tidak ingin menerima tamu yang tidak dikehendakinya.

Untuk menjaga kebersihan rumoh Aceh, pada bagian depan renyeun biasanya terdapat gentong yang diisi air untuk mencuci kaki atau tangan bagi pada penghuni dan tamu yang akan memasuki rumoh Aceh.

7. Mon

Mon dalam bahasa Indonesia disebut sebagai sumur. Mon biasanya terletak di bagian samping atau belakang rumah atau berdekatan dengan ruang dapur. Mon merupakan tempat mandi dan mencuci bagi masyarakat Aceh.

Dari segi agama, konsep rumoh Aceh adalah suci. Dampaknya adalah berkembangnya aturan dalam pikiran masyarakat bahwa toilet tidak boleh berada dalam rumoh Aceh.

2.7.3 Bagian-bagian ruang rumoh Aceh

Ruang pada rumoh Aceh berawal dari leun rumoh (pekarangan) yang menjadi milik bersama, setiap bangunan rumah biasanya terdiri dari ruang seuramoe keu, jure, seuramoe likoet, dan dapu.

Bagian-bagian pada rumoh Aceh secara umum terdiri atas 3 bagian, yaitu: yup moh, ateuh moh dan bubong.

1. Yup Moh / Miyup Moh

Yup Moh yaitu bagian bawah rumoh Aceh merupakan ruang antara tanah dan lantai rumah. Ruang ini biasanya digunakan sebagai tempat penyimpanan jeungki (penumbuk padi) dan kroengpadee (tempat penyimpanan padi atau hasil panen lainnya). Di bagian miyupmoh (bawah rumah/kolong) dibiarkan kosong dan terbuka atau diberi panteu. Di dalam

Panteu adalah sebuah tempat duduk menyerupai meja berbahan bambu atau kayu digunakan untuk meletakkan alat-alat yang terkait dengan mata pencaharian sehari – hari atau dipakai untuk melakukan mata pencaharian seperti membuat kain tenun atau digunakan untuk tempat kroeng atau kandang hewan peliharaan. Ruang kosong ini mampu memberikan keleluasaan ruang yang multifungsi dengan sirkulasi udara yang baik.

1. Jeungki

Pada jaman dahulu, sebelum adanya mesin pengolah beras menjadi tepung masyarakat Aceh menggunakan jeungki sebagai alat penumbuk beras. Bentuk jeungki ini memiliki ukuran yang bervariasi mulai dari jeungki yang berukuran diameter 25-35 cm, dengan panjang normalnya yaitu 3 meter (Gambar 2.12).

Gambar 2.12 Jeungki (penumbuk beras) Sumber : www.scribd.com

Pada bagian depan jeungki terdapat sebuah mata penumbuk berbentuk seperti alu dengan diameter 10 cm. dengan pasangannya batu yang berlubang dengan diameter kurang lebih 30 cm sebagai tempat untuk mengisi beras yang akan ditumbuk. Keseluruhan jeungki ini terbuat dari kayu.

2. Kroeng

Kroeng dalam bahasa Indonesia disebut karung, yaitu tempat untuk menyimpan padi. Kroeng berjumlah tiga buah dan diletakkan di halaman rumah. Kroeng merupakan tempat menyimpan padi setelah dipanen dan disimpan sampai sekian lama dan awet tanpa harus diberi pengawet. Bahan baku dari pembuatan kroeng ini adalah bambu atau dahan pohon aren yang dianyam (Gambar 2.13). Kroeng selalu diletakkan berdekatan dengan jeungki.

Gambar 2.13 Kroeng

3. Ateuh Moh

Ateuh Moh, merupakan bagian atas rumah yaitu tempat melakukan segala aktivitas. Pada bagian ateuh moh terdapat ruang depan yang disebut seuramoe keu, kemudian terdapat 3 anak tangga untuk menuju tungai. Pada tungai (ruang tengah) terdapat rambat dan rumoh inong. Lantai pada bagian tungai lebih tinggi dari pada ruang lainnya karena dianggap suci dan sifatnya sangat pribadi. Diantara rambat terdapat 2 rumoh inong yaitu ruang tidur untuk orang tua dan ruang tidur untuk anak perempuan di rumah tersebut.

Rambat juga merupakan penghubung antara seuramoe keu dan seuramoe likoet (ruang belakang). Dan bagian paling belakang adalah dapu (dapur) atau disebut juga dengan anjong (Gambar 2.14).

Gambar 2.14 Denah Salah Satu Tipe Rumah Aceh Tradisional Sumber: Peter J. M. Nas (2008)

4. Bubong

Bubong merupakan bagian atas rumoh Aceh. Bisa juga disebut sebagai atap dari rumoh Aceh. Namun bagian penting dari bubong terletak pada bagian tungai (ruang tengah) yang diatasnya terdapat bara yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang-barang keluarga. Bubong rumoh Aceh berbentuk pelana dengan menggunakan material daun rumbia.

Daun rumbia dianyam dan disusun rapi untuk menutupi keseluruhan permukaan atap rumah (Gambar 2.15).

Gambar 2.15 Konstruksi Atap Sumber: www.scribd.com 2.8 Penelitian Terdahulu

Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan dengan mengangkat tema tentang genius loci, berikut rangkumannya:

2.8.1 Genius loci pada perkampungan tradisional Senaru suku Sasak kabupaten Lombok Barat (Ersina dkk, 2014)

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji genius loci yang terdapat di kampung Senaru Suku Sasak, khususnya genius loci pada ruang dan karakteristik kawasan Dusun Senaru serta mengeksplorasi sosial budayanya sebagai manifestasi dari eksistensi kawasan tersebut sebagai kampung tradisional.

Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji genius loci pada skala makro (permukiman) dan mikro (rumah tinggal). Genius loci yang ditemukan pada skala

Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji genius loci pada skala makro (permukiman) dan mikro (rumah tinggal). Genius loci yang ditemukan pada skala

Dokumen terkait