• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V – KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada beberapa persamaan dan perbedaan antara genius loci pada rumah Aceh tradisional dan kontemporer.

Perbedaan tersebut meliputi dimensi ruang, karakter serta identifikasi dan orientasi bangunan. Sedangkan untuk elemen spirit masih terdapat persamaan yang berkaitan dengan hukum syariat Islam yang dianut oleh masyarakat Aceh yang mempengaruhi pemikiran masyarakat dalam menciptakan ruang dalam rumah Aceh tradisional maupun kontemporer.

Dalam kehidupan masyarakat Aceh rumah merupakan sebuah tempat yang diperuntukkan untuk perempuan. Rumah menjadi hak dari seorang ibu dan anak perempuan di dalam keluarga tersebut. Hal ini sangat erat kaitannya dengan ajaran Islam tentang keistimewaan para perempuan dan menjaga auratnya dari mata-mata khianat kaum laki-laki dan tidak menjadi fitnah bagi mereka. Wanita juga diperintah kan untuk menjaga kehormatan mereka di hadapan laki-laki yang bukan suaminya dengan cara tidak bercampur baur dengan mereka.

Adapun genius loci terkait ruang yang hadir dalam arsitektur Aceh tradisional adalah sebaagai berikut:

1. Rumah tradisional memiliki antropologi ruang secara vertical yaitu perbedaan kosmos antara rumah bawah (yup moh) sebagai tempatnya para binatang, rumah atas (ateuh moh) tempat manusia hidup, danloteng (bubong) sebagai tempat menyimpan pusaka leluhur.

2. Rumah Aceh tradisional dibangun pada musim kemarau dikarenakan bangunan menggunakan material kayu yang harus dikeringkan terlebih dahulu sehingga kualitas bangunan bertahan lama. Dengan struktur rumah yang fleksibel sehingga bisa digoyangkan dan dipindahkan.

3. Setiap ruang dalam rumah tradisional dihitung dengan jumlah rueng (satu rueng = 9 m²).

4. Ukuran pintu yang kecil dan rendah dengan tingginya 120-150 cm yang berfungsi menghormati pemilik rumah dengan menunduk ketika masuk melewati pintu. Dan jendela dari kayu dengan ukuran kecil supaya menjaga aktifitas di dalam ruang dari pandangan pengamat.

5. Menggunakananaktangga yang berjumlahganjil.

6. Orientasi rumah yang sejajar dengan arah timur-barat (Kiblat) dan pintu utama pada sisi utara-selatan.

7. Perbedaan fungsi ruang depan (seuramoe keu) untuk laki-laki dan ruang belakang (seuramoe liket) untuk perempuan.

8. Panteu atau tempat seperti dipan yang diletakkan pada bagian bawah rumah yang digunakan sebagai tempat menidurkan anak dengan ayunan, bersantai dengan tetangga dan sebagai tempat untuk menerima tamu.

Adapun genius loci terkait ruang yang hadir dalam arsitektur Aceh kontemporer adalah sebaagai berikut:

1. Syariat Islam menghadirkan batasan tertentu dalam masyarakat untuk menghadirkan dan menciptakan ruang-ruang yang akan digunakan secara terpisah antara kaum laki-lakidan kaum perempuan. Begitu juga dengan ruang tunggu pada bagian depan rumah seperti teras maupun panteu yang digunakan untuk menerima tamu asing maupun tamu laki-laki yang bukan mahramnya supaya tidak langsung masuk ke dalam rumah. Begitu pula dengan bentuk dan ukuran bukaan jendela pada bagian kamar yang berbeda dengan ukuran bukaan jendela pada ruang lainnya yang lebih besar, hal ini untuk menjaga pandangan dan bukaan yang terbatas karena kamar tidur merupakankamar pribadi kaum wanita dengan segala aktifitas pribadinya.

2. Waktu pembangunan rumah yang fleksibel sesuai dengan kemampuan ekonomi pemilik rumah karena menggunakan bahan bangunan yang dibeli dari toko bangunan.

3. Dimensi ruang dibuat berdasarkan kebutuhan dan kemampuan ekonomi pemilik rumah.

4. Ukuran pintu dan jendela sudah menggunakan ukuran standart yang berlaku saat ini. Dan bukaan jendela sudah menggunakan kaca namun tetap dilapisi gorden pada saat dibutuhkan untuk membatasi pandangan dari luar.

5. Kehadiran kama manyang padar umah Aceh kentemporer merupakan genius loci dengan struktur panggung menggunakan lantai dari kayu papan dan dianggap suci yang digunakan sebagai bentuk menghormati dan melayani orang tua yang sudah uzur dan juga sebagai tempat untuk memandikan jenazah.

6. Pemisahan mon yaitu area cuci dan mandi dengan WC sebagai bentuk keyakinan masyarakat Aceh bahwa mon merupakan area yang bersih yang digunakan untuk berwudhu dan bersuci sehingga harus dipisahkan dengan WC yang bersifat najis.

7. Letak dan posisi WC yang berada di belakang dan terpisah dari mon bertujuan untuk menjaga kebersihan dari najis. Begitu pula dengan posisi WC yang tidak boleh menghadap kearah Kiblat yang merupakan orientasi dan tujuan beribadah berdasarkan keyakinan dalam ajaran Islam.

8. Keberadaan ruang tamu untuk kaum laki-laki danr uang keluarga untuk kaum perempuan yang cukup lebar yang akan digunakan ketika mengadakan acara adat maupun hari besar.

9. Rumah dengan pekarangan yang luas, baik pekarangan pribadi maupun secara berkelompok yang akan digunakan sebagai tempat untuk menjemur padi yang merupakan hasil panen, maupun menjemur bahan-bahan keperluan masak. Pekarangan ini juga digunakan sebagai ruang makan dengan pemasangan tenda ketika mengadakan acara adat seperti pesta pernikahan, acara aqiqah, acara 7 hari meninggalnya seseorang dan sebagainya.

10. Rumah yang dibangun dengan pintu utama terletak pada bagian depan rumah yang menghadapkejalanraya, serta pintu belakang maupun pintu samping yang diletakkan pada bagian rumah yang berhubungan langsung dengan rumah tetangga.

Struktur kepercayaan tentang perbedaan kosmos yang berlaku sebelumnya pada rumah tradisional sudah hilang, begitu pula dengan kaedah dan aturan ruang yang berlaku pada masa lalu. Hal ini dikarenakan sedikit banyaknya pengaruh modern yang berlaku. Walapun demikian, secara keseluruhan kehidupan dan ruang dalam rumah kontemporer Aceh saat ini, khususnya di Aceh Utara masih menjunjung tinggi syariat Islam serta adat-adat Aceh selama tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dimulai dari proses pembangunannya, kehidupan sehari-hari dari mulai acara kelahiran hingga upacara kematian dengan ruang yang telah dipersiapkan sebelumnya.

6.2 Saran

Berikut saran yang dirumuskan dari penelitian ini adalah sebagai berikut;

1. Pemahaman yang baik terhadap genius loci rumah Aceh dapat dijadikan sebagai acuan dalam merancang bangun rumah tinggal kontemporer Aceh di masa yang akandatang.

2. Adanya kerjasama yang kuat dari pihak pemerintah, akademisi, professional, pelaksana maupun media tentang pelestarian genius loci kepada masyarakat luas, khususnya daerah Aceh dengan segala karakter dan potensi alam di sekitarnya.

Dokumen terkait