HASIL DAN PEMBAHASAN
E. Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah suatu metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi faktor yang menjadi kekuatan (Strengths), Kelemahan (Weaknesses), Peluang (Opportunities), dan Ancaman (Threats) yang mungkin terjadi dalam mencapai suatu tujuan dari kegiatan proyek (Bell 2008). Proses analisis SWOT memerlukan kajian dari aspek lingkungan baik yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal tapak yang mempengaruhi pola strategi dalam mencapai tujuan (Bell 2008).
Analisis SWOT yang diterapkan PTTI berdasarkan ide dan pemikiran setiap permasalahan kondisi internal dan eksternal tapak dalam pertimbangan strategi dan konsep dasar perencanaan. Namun, analisis SWOT hanya dideskripsikan berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada tapak. Tidak adanya metode dan strategi penyusunan yang menggambarkan hasil proses dan metode analisis SWOT yang dilakukan PTTI secara spesifik ataupun dengan skoring. Tabel 8 merupakan analisis SWOT yang dideskripsikan PTTI dan disusun dengan strategi SWOT oleh mahasiswa magang dalam melengkapi data yang telah dilakukan. PTTI perlu melakukan perbaikan terhadap proses analisis SWOT sehingga hasil yang didapatkan lebih maksimal.
35
Tabel 8 Penyusunan strategi Analisis SWOT
36
Konsep Dasar
Konsep dasar perencanaan yang dikembangkan pada perencanaan hotel resor di Kawasan Senggigi adalah membangun hotel resor yang ekologi dan berkelanjutan melalui upaya melestarikan lingkungan dan kebudayaan, meningkatkan minat wisatawan terhadap wilayah pariwisata, dan merencanakan karakteristik wisata yang unggul (Gambar 24).
Pengembangan rencana dalam meningkatkan minat wisatawan menjadi hal utama dalam menciptakan hotel resor yang unggul. Daya tarik wisata tidak hanya pada sebuah rekreasi yang diciptakan, melainkan sebuah kombinasi fitur yang memiliki kekhasan pada lingkungan, sosial dan budaya (Gunn 2002). Hal tersebut dicapai melalui strategi pengembangan produk dan rencana tapak yang tepat dan sesuai dengan kondisi tapak.
Melestarikan lingkungan dan budaya menjadi tujuan pengembangan utama dalam melestarikan karakteristik wilayah. hal tersebut dicapai melalui prinseip dasar perencanaan PTTI, yaitu:
a. Preserve
Preservasi dilakukan terhadap Sungai Krandangan dan Habitat Mangrove. potensi alam tersebut memiliki manfaat penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Upaya preservasi diharapkan agar pengembangan atau pihak investor selalu mengelola kondisi sungai dan Hutan Mangrove dengan baik.
Gambar 24 Pengembangan konsep rencana induk Menarik minat wisatawan
dalam meningkatan perekonomian wilayah
Melestarikan alam dan lingkungan
Mengangkat nilai budaya Lombok
a. Menciptakan kawasan wisata yang terintegrasi b. Merencanakan konsep
rekreasi yang
mewadahi semua usia c. Merencanakan strategi
pengembangan produk pelayanan utama dan pendukung
d. Menciptakan „tourism image‟ melalui strategi pengembangan konsep dan desain
a. Melestarikan fitur alam kawasan perencanaan melalui prinsip dasar perencanaan yaitu
preserve, conserve, reserve
b. Menjadikan fitur alam menjadi potensi wisata sehingga diperlukan pengelolaan yang berkelanjutan
a. Konsep pola sirkulasi dan arsitektural bangunan karakteristik Lombok
b. Mengangkat nilai seni dan budaya Lombok dengan adanya area pusat kegiatan budaya c. Bekerjasama dengan
masyarakat dalam menciptakan wisata budaya
Proses perencanaan lanskap dan pengolahan data kawasan yang tepat Konsep dasar Rencana Induk Hotel Resor Senggigi
37 b. Conserve
Sumber daya yang dapat dilestarikan dan dimanfaatkan dalam kawasan perencanaan adalah vegetasi pohon kelapa dan sumber daya air berupa sumur. Pohon kelapa merupakan karakteristik kawasan dan dapat dimanfaatkan sebagai fitur penataan lanskap atau material yang digunakan untuk elemen estetis pengembangan yang bersifat ciri khas. Sumur air bersih dilestarikan sebagai aset alam untuk sumber cadangan air.
c. Reserve
Reserve adalah hasil dari tindakan pelestarian preservasi dan konservasi dimana dimasa mendatang hasil tersebut dapat dirasakan manfaatnya. Hasil pelestarian kawasan diharapkan mampu menjaga mampu menjaga keberlangsungan air dan kualitas sumber daya alam, serta meningkatkan budaya masyarakat, pengunjung, dan investor dalam menjaga dan melestarikan kawasan.
Keseimbangan antara produk dan lingkungan perlu diupayakan dalam merencanakan wisata yang berkelanjutan. Wisata yang berkelanjutan adalah wisata yang dapat menyeimbangkan fungsi ruang untuk wisatawan, memasarkan pariwisata yang tepat dan memperhatikan keadaan lingkungan dan dapat melestarikannya (Holden 2000). Prinsip pelestarian lingkungan yang direncanakan PTTI cukup baik dilakukan dalam mengurangi dampak negatif wisata bagi lingkungan dan tetap menjaga kualitas lingkungan yang berkelanjutan dimasa depan.
Konsep dan Rencana Lanskap A.Konsep Ruang
Konsep ruang pada tapak terbagi menjadi tiga (Gambar 25). Setiap zona terdiri atas ruang penerimaan, pelayanan utama dan pelayanan pendukung. Ruang penerimaan merupakan area masuk menuju kawasan. Ruang ini menampilkan keindahan taman yang ditunjukkan sebagai penyambutan pengunjung. Ruang pelayanan utama merupakan pusat penginap dan akomodasi wisata dengan produk resor yang berbeda sesuai fasilitas, kebutuhan ruang, dan suasana alam yang diinginkan. Pada dasarnya sebuah hotel resor dikunjungi pada waktu tertentu, sehingga kegiatan rekreasi perlu dibedakan menurut kebutuhan wisata dalam suasana yang berbeda (Lawson 2004).
Ruang pelayanan pendukung merupakan salah satu fasilitas dalam wisata yang dapat dinikmati wisatawan yang menginap ataupun sekedar berkunjung dalam waktu yang relatif sebentar. Konsep pelayanan pendukung tepat dilakukan dalam mempertimbangkan ruang yang sifatnya non-reaktif seperti function room dan commercial area untuk mempertahankan occupancy rate tetap tinggi (Lawson 2004). Selain sebagai area komersial, pelayanan pendukung dijadikan sebagai area promosi agar dapat menarik wisatawan untuk menginap. Ruang ini ditunjang dengan adanya fasilitas wisata belanja cinderamata dan kebudayaan khas lombok, spa, beach club, dan restoran.
38
Gambar 25 Konsep ruang
(Sumber: PTTI 2013)
Interaksi antar ruang bertujuan menciptakan kawasan wisata yang terintegrasi. Interaksi antar ruang menunjukkan adanya fasilitas dan aktivitas yang akan dikembangkan. Tata letak disesuaikan dengan pembagian ruang aktivitas yang ada. Oleh karena itu, keterkaitan antar ruang, aktivitas dan fasilitas perlu dijelaskan untuk menempatkan fungsi ruang dalam zona yang sesuai (Tabel 9).
Tabel 9 Rencana ruang, aktivitas dan fasilitas
Zona Rencana ruang Sub ruang dan fasilitas Aktivitas
A suasana privat dan
ketenangan, dengan potensi view Sungai Kerandangan dan hutan Mangrove
Area masuk, taman, area parkir
Boutique resorts (riverfront villas, mangrove villas, pond villas) Spa and wellness centre Mangrove promanade
Business centre and longue Cafe and restaurant
melihat-lihat (menara pandang) menginap
bersantai, spa kegiatan acara khusus pertemuan makan minum B Suasana rekreasi publik dalam menikmati keindahan pantai, kesenangan dan hiburan
area masuk, taman melihat, bermain di taman
area parkir parkir kendaraan
scenic beach longue berenang, bersantai, bermain
hotel resort, beach villas menginap
beach club and restaurant berenang, bersantai, makan minum
toko cinderamata berbelanja
plaza berkumpul
amphiteater menonton pertunjukan
C Wisata rekreasi alami pegunungan dan suasana hutan buatan
plaza berkumpul, bersantai
area parkir parkir kendaraan
forest villas menginap
toko cinderamata berbelanja, belajar kebudayaan
hiking trail hiking
39 A.Konsep Sirkulasi dan Ruang Terbuka Hijau
Konsep sirkulasi pada tapak dibagi menjadi dua, yaitu sirkulasi utama (Main entrance) dan sirkulasi sekunder (pedestrian access) yang ditunjukkan pada Gambar 26. Pola sirkulasi primer menghubungkan ruang dalam tapak. Sirkulasi sekunder menghubungkan ruang dengan jalur pejalan kaki. Jalur sirkulasi dibuat nyaman, memiliki nilai visual yang menarik, dan mengarahkan ruang. Material yang digunakan untuk masing-masing ruang berbeda-beda. Badan jalan dibuat berupa aspal, area pedestrian dibuat dari conblok atau batu alam, dan pada tepi badan air berupa lantai tanah pasir ataupun dek kayu untuk memberikan kesan alami dan mengurangi resiko kerusakan ekosistem.
Gambar 26 Konsep sirkulasi dan ruang terbuka hijau
(Sumber: PTTI 2013)
Ruang terbuka hijau merupakan ruang yang direncanakan karena kebutuhan akan tempat-tempat pertemuan dan aktivitas bersama di udara terbuka. Konsep tata hijau ditujukan untuk menciptakan kenyamanan pengunjung dan mengkonservasi sumber daya pada tapak. Konsep ruang hijau hotel resor terdiri dari beberapa fungsi dan area yaitu:
40
2. ruang hijau sebagai taman yang menciptakan keindahan visual kawasan (green stopping point),
3. ruang hijau terbuka yang terletak di lokasi khusus yang dapat disewakan untuk pertunjungan budaya, pameran, maupun acara besar (Reserve green space), 4. ruang hijau sebagai penyangga kebisingan dan polusi udara (Green buffer). B.Konsep Vegetasi
Konsep vegetasi pada kawasan perencanaan menggunakan strategi pemilihan tanaman sebagai upaya mengkonservasi habitat vegetasi dan satwa yang ada pada tapak (Tabel 10). Vegetasi eksisting yang tidak digunakan dapat dijadikan bahan produksi yang hasilnya dimanfaatkan untuk material bangunan dan pemanfaatan lainnya. Perletakan dan pemilihan tanaman kelapa direncanakan mengikuti pola ruang, sirkulasi, dan bangunan tapak. Pada tahap ini dilakukan pemilihan vegetasi eksisting yang dipertahankan, dan penambahan beberapa vegetasi yang diperlukan dalam tapak (Gambar 27).
Tabel 10 Strategi perhitungan vegetasi dalam perencanaan
Sumber: PTTI 2013
Gambar 27 Konsep dan strategi perencanaan vegetasi, (a) vegetasi yang dipertahankan dan (b) vegetasi yang direncanakan
(Sumber: PTTI 2013)
Strategi konservasi vegetasi Tipe pohon total
Pohon kanopi Pohon kelapa
Tanaman eksisting yang dipertahankan 26 552 578
Tanaman eksisting yang diproduksi 10 246 256
Total tanaman eksisting 36 798 834
Penambahan pohon kanopi d>7 95 121 216
Penambahan pohon kanopi d>4 299 299
41 D. Konsep Drainase
Drainase didefinisikan sebagai pembuangan air permukaan, baik secara alami maupun dengan pompa dengan tujuan untuk mencegah terjadinya genangan, menjaga dan menurunkan permukaan air sehingga genangan air dapat dihindarkan (Russ 2009). Sistem aliran air pada tapak merupakan aliran alami karena keadaan topografi yang menurun ke arah badan air. Sistem jaringan air bersih yang dipompa dari tanah ke reservoir dan menara, kemudian dialirkan ke unit pemakai untuk hunian dan rekreasi. Air kotor yang berasal dari penggunaan dialirkan dengan saluran drainase menuju watertreatment yang dialirkan menuju kolam buatan (kolam teratai). Gambar 28 menunjukkan gambaran rencana drainase pada kawasan perencanaan.
Gambar 28 Rencana drainase (Sumber: PTTI 2013)
Sistem drainase menggunakan sistem bioswale. Sistem bioswale merupakan sistem infiltrasi air dengan menggunakan vegetasi penyerap air, tanah, dan bioorganisme. Bioswale sangat baik digunakan pada kawasan yang memiliki limpasan air yang besar dan pergerakan air yang alami (Jurries 2003). Rencana ini diterapkan pada tepi jalur sirkulasi (Gambar 29) dengan aliran air yang diarahkan langsung ke sungai dan kolam penampungan buatan (kolam teratai). Bentukan
42
mengikuti bentuk U ataupun V sehingga memungkin air berkumpul pada bagian tengah. Rencana drainase dengan sistem ini dapat melindungi kualitas air dan mengurangi konsumsi air dari sumber daya yang berasal dari luar, serta dapat meminimumkan biaya. Selain sebagai penampungan air, kolam teratai juga dimanfaatkan sebagai keindahan visual dengan penanganan kualitas air yang tepat.
Gambar 29 Sistem bioswale pada tepi jalan
(Sumber: urbanlandscape.com)