HASIL DAN PEMBAHASAN
P- value (Haussman
4.3 Analisis Hasil Penelitian
Analisis hasil penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis pengaruh
variabel independen terhadap pertumbuhan laba. Hasil akhir dari regresi data
panel dalam penelitian ini menggunakan random effect model. Dari hasil random
effects model (REM) pada tabel 4.4 memperlihatkan bahwa nilai koefisien
perubahan pada pertumbuhan laba dapat dijelaskan oleh keseluruhan variabel
bebas yaitu CR, QR, Cash Ratio, GPM, ROA dan ROE pada perusahaan
manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI). Sedangkan sisanya sebesar 92.4747% dijelaskan oleh variabel dan
faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.
Hasil analisis secara simultan menunjukkan semua variabel independen
secara bersama-sama berpengaruh secara simultan terhadap pertumbuhan laba.
Hal ini dilihat dari hasil F statistik lebih besar dari nilai t statistik sebesar
0.393324 > 2.42. Dengan kata lain, CR, QR, Cash Ratio, GPM, ROA dan ROE
secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan laba
pada perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia periode 2010-2012.
Current Ratio (CR) secara parsial memiliki pengaruh yang tidak signifikan
terhadap pertumbuhan laba. Hal ini dapat dilihat sebagaimana ditunjukkan oleh
angka signifikansinya sebesar 0.6427 > 0.05. Dari hasil ini, variabel ROA
memiliki koefisien regresi yang negatif sebesar -0.459921, artinya apabila ROA
berubah 1 persen, maka akan berdampak pada turunnya pertumbuhan laba pada
perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman sebesar -0.459921 persen.
Current ratio menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi
kewajiban-kewajiban lancar. Rasio ini dapat membantu perusahaan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam membayar hutang yang harus segera di penuhi.
Jika perusahaan menggunakan aktiva lancar dengan baik, hal tersebut akan
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Syafrina (2010) yang membuktikan
dengan hasil uji t bahwa CR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
pertumbuhan laba dan Fahmi (2013) yang membuktikan bahwa secara signifikan
current ratio berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap perubahan laba. Dan
secara simultan hasil penelitian ini memiliki hasil yang sama dengan penelitian
Syafrina (2010), Ningsih (2011) dan Fahmi (2013) bahwa secara simultan CR
berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.
Quick Ratio (QR) secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap pertumbuhan laba, sebagaimana yang ditunjukkan oleh angka
signifikansinya sebesar 0.9892 > 0.05. Dari hasil ini, variabel QR memiliki
koefisien regresi yang positif sebesar 0.017390, artinya apabila QR berubah 1
persen, maka akan berdampak positif pada naiknya pertumbuhan laba pada
perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman sebesar 0.017390 persen.
Quick ratio atau rasio cepat menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling
likuid mampu menutupi utang lancar. Semakin besar rasio ini semakin aman bagi
perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Dengan demikian,
apabila perusahaan memiliki pertumbuhan laba yang baik, perusahaan dapat
menutupi utang lancarnya. Hasil penelitian ini sesuai secara parsial dan simultan
dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fahmi (2013) yang
menyatakan secara simultan quick ratio berpengaruh positif terhadap
pertumbuhan laba namun tidak secara parsial.
Cash Ratio (CR) secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan
signifikansinya sebesar 0.4258 > 0.05. Dari hasil ini, variabel Cash Ratio
memiliki koefisien regresi yang positif sebesar 0.796873, artinya apabila Cash
Ratio berubah 1 persen, maka akan berdampak positif pada naiknya pertumbuhan
laba pada perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman sebesar 0.796873
persen. Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk menunjukkan
kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban yang sudah jatuh tempo
dengan kas yang tersedia dalam perusahaan. Semakin tinggi tingkat cash ratio
pada perusahaan, maka hal ini juga menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan
laba suatu perusahaan mengalami peningkatan. Hasil penelitian ini sesuai dengan
hasil penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh Indra Setiawan (2012) yang
menyatakan hipotesis penelitian berpengaruh terhadap pertumbuhan laba secara
simultan dan tidak secara parsial.
Gross Profit Margin (GPM) secara parsial tidak memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap pertumbuhan laba, sebagaimana yang ditunjukkan oleh angka
signifikansinya sebesar 0.4572 > 0.05. Dari hasil ini, variabel gross profit margin
memiliki koefisien regresi yang negatif sebesar -2.161321, artinya apabila GPM
berubah 1 persen, maka akan berdampak negatif pada turunnya pertumbuhan laba
pada peusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman sebesar -2.161321
persen. Rasio ini menunjukkan berapa besar persentase pendapatan bersih yang
diperoleh dari setiap penjualan tertentu. Semakin besar rasio ini semakin baik
karena dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan
secara parsial terhadap pertumbuhan laba akan tetapi secara simultan hasil
penelitian ini memiliki hasil yang sama bahwa GPM berpengaruh terhadap
pertumbuhan laba.
Return on Asset (ROA) secara parsial tidak memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap pertumbuhan laba, sebagaimana yang ditunjukkan oleh angka
signifikansinya sebesar 0.6388 < 0.05. Dari hasil ini, variabel ROA memiliki
koefisien regresi yang posifitif sebesar -1.314952, artinya apabila ROA berubah 1
persen, maka akan berdampak positif pada naiknya pertumbuhan laba pada
perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman sebesar -1.314952 persen.
Return on asset menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan.
Semakin besar rasio ini semakin baik kinerja perusahaan dalam menghasilkan
laba. Hasil penelitian sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh Ningsih (2011) yang menyatakan ROA tidak berpengaruh terhadap
pertumbuhan laba. Sedangkan secara simultan hasil penelitian ini sesuai dengan
hasil penelitian Ningsih (2011) dan Setiawan (2012).
Return on Equity (ROE) secara parsial tidak memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap pertumbuhan laba, sebagaimana yang ditunjukkan oleh angka
signifikansinya sebesar 0.4615 < 0.05. Dari hasil ini, variabel ROE memiliki
koefisien regresi yang negatif sebesar 6.562733, artinya apabila ROE berubah 1
persen, maka akan berdampak negatif pada turunnya pertumbuhan laba pada
perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman sebesar 6.562733 persen.
Return on equity menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memberikan
persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik. Hasil penelitian ini
sesuai dengan hasil penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh Syafrina (2010)
dan Ningsih (2011) yang membuktikan bahwa ROE tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap pertumbuhan laba akan tetapi berpengaruh secara simulan
terhadap pertumbuhan laba.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN