KOEFISIEN PRODUCT MOMENT HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII.2 SMP SETIA DARMA
4.1.4 Analisis Hasil Pengolahan Data
6 1027506360 1 , 67929 = 101366 1 , 67929 = 0,670
4.1.4 Analisis Hasil Pengolahan Data
Setelah di analisis, maka di peroleh indeks korelasi = 0,670 kemudian di konsultasikan dengan “ r “ product moment yang terdapat dalam tabel untuk N = 32 dengan taraf signifikan 1% = 0,449 dan taraf signifikan 5% = 0,349 dengan demikian = 0,670 > 0,349 taraf signifikan 5% dan = 0,670 > 0,449 untuk taraf signifikan 1%. Dalam hal ini “ r “ tabel baik taraf signifikasi 1% maupun taraf signifikasi 5%, dengan demikian hipotesis yang penulis ajukan DI TERIMA. Dengan perhitungan
product moment di atas dapat dikatakan Ha yang berbunyi ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa kelas VIII.2 SMP Setia Darma Palembang DI TERIMA, karena terdapat hubungan yang signifikan sebesar 0,670. Sedangkan untuk Ho yang berbunyi tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa kelas VIII.2 SMP Setia Darma Palembang DI TOLAK.
4.2.Pembahasan
Dari perhitungan diatas yakni antara variabel X yaitu (pola asuh orang tua) dengan variabel Y yaitu prestasi belajar siswa (nilai raport), diperoleh indeks korelasi yang lebih besar dari pada nilai “r” yang terdapat dalam tabel, baik pada taraf signifikan 5% maupun 1%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara
56
pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa kelas VIII.2 sekolah menengah pertama (SMP) Setia Darma Palembang.
Sebagaimana di jelaskan pada teori – teori Bab sebelumnya bahwa prestasi seseorang itu akan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern itu meliputi antara lain faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan. Sementara faktor ekstern meliputi faktor keluarga, sekolah dan masyarakat. Faktor keluarga yang paling menentukan adalah pola asuh orang tua yang diterapkan dalam mendidik anak dirumah baik mendidik mengenai cara bertata krama, disiplin, tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Pola asuh yang diterapkan orang tua dirumah secara tidak disadari mempunyai hubungan dengan prestasi belajar yang diperoleh anak disekolah. Jika pola asuh yang diterapkan baik maka kemungkinan besar prestasi belajar yang diperoleh anak juga baik begitupun sebaliknya jika pola asuh yang diterapkan kurang tepat maka prestasi belajar yang diperoleh pun akan kurang maksimal. Oleh sebab itu antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa memiliki hubungan yang kuat yakni sebesar 0,670. Dengan demikian Ha yang berbunyi ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa kelas VIII.2 SMP Setia Darma Palembang diterima, dan Ho yang berbunyi tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan prestasi belajar siswa kelas VIII.2 SMP Setia Darma Palembang ditolak.
Adapun menurut Muslich (2011:100), “pola asuh orang tua dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seprti makan, minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang dan lain-lain), serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat
57
agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya”. “Dalam kegiatan memberikan pengasuhan ini, orang tua akan memberikan perhatian, peraturan, disiplin, hadiah dan hukuman serta tanggapan terhadap keinginan anaknya”, (Djamarah, 2014:52)
Sebagai orang tua, hal ini perlu diperhatikan terutama hal yang berhubungan dengan cara mengasuh anak dirumah jika menginginkan anak mendapat prestasi yang baik. Menurut W.J.S Purwadarminta prestasi adalah hasil yang telah di capai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya)(Hamdani, 2011:137). Masalah prestasi merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian setiap pendidikan, sehingga permasalahan yang muncul yang berkaitan dengan prestasi belajar merupakan tugas orang tua, guru dan sekolah. Maka dari itu dibutuhkan kerjasama yang baik antar orang tua wali dengan pihak sekolah untuk melakukan upaya meningkatkan prestasi belajar siswa.
“Orang tua adalah pendidik dalam keluarga. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka. Dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Oleh karena itu, bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga”, (Djamarah,2014:162). Pola asuh orang tua merupakan hubungan interaksi orang tua dengan anaknya yang melibatkan aspek sikap, nilai dan kepercayaan orang tua dengan anaknya sebagai upaya bentuk pengasuhan dan pemeliharaan.
Pola asuh orang tua akan tercermin pada sikap, kepribadian serta juga tercermin pada prestasi belajar yang dicapai anak dalam pendidikannya di sekolah. Pola asuh yang diterima anak, dapat saja berbentuk otoriter, permisive, atau demokratis. Sebagai contoh siswa yang dibesarkan dengan pola asuh demokratis dalam lingkungan keluarga akan berdampak pada prestasi belajar yang di capai anak di sekolah. Dalam pola asuh
58
demokratis orang tua memberikan kebebasan namun juga memberikan tanggung jawab kepada anak sehingga orang tua masih dapat memberikan pengawasan dan kontrol kepada anak. Orang senantiasa perduli dengan aktivitas anak baik di rumah, di sekolah dan di masyarakat, sehingga kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan pun orang tua perduli. Dengan demikian, siswa di sekolah menjadi siswa yang rajin, bertanggung jawab, disiplin dan mau menerima pendapat serta mau bertukar pendapat dengan orang lain hal ini akan berdampak pada prestasi belajar. Winkel (Hamdani, 2011:138), mengemukakan bahwa “prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Dengan demikian, prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar”.
Seperti dalam penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh Safitri dan Hidayati dengan judul Hubungan Antara Pola asuh Orang Tua Dengan Tingkat Depresi Remaja Di SMK 10 November Semarang. Berdasarkan hasil uji Chi Square didapatkan nilai sebesar 33,318 dengan nilai p sebesar 0,000 < α (0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antar pola asuh orang tua dengan tingkat depresi pada remaja di SMK 10 November Semarang.
Penelitian terdahulu yang juga pernah dilakukan oleh Suharsono, Aris dan Upoyo dengan judul Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kemampuan Sosialisasi Pada Anak Prasekolah Di TK PERTIWI PURWOKERTO UTARA. Hasil analisis diketahui bahwa nilai p= 0,000, yaitu p < α (0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa, ada hubungan antara pola asuh orang tua terhadap kemampuan sosialisasi pada anak prasekolah di TK Pertiwi Purwokerto Utara.
59
Kemudian penelitian terdahulu yang lain yang pernah dilakukan yaitu penelitian yang pernah dilakukan oleh Rahmawati, Sudarma dan Sulastri, dengan judul Hubungan Antara Pola Asuh Dan Kebiasaan Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa SD Kelas IV Semester Genap Di Kecamatan Melaya-Jembrana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua dan kebiasaan belajar memberikan kontribusi yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa kelas IV semester genap SD di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana tahun pelajaran 2012/2013. Hal tersebut dapat diketahui dari besarnya korelasi secara bersama-sama antara pola asuh orang tua dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa adalah sebesar 0,840. Dari besarnya korelasi diketahui bahwa secara bersama-sama tingkat hubungan yang dimiliki adalah sangat kuat. Oleh karena itu maka diperoleh kontribusi kedua faktor tersebut secara bersama-sama adalah 70,56%.
Sama halnya dengan hasil penelitian yang sekarang peneliti lakukan, dari hasil hitung korelasi rx sebesar 0,670 lebih besar dari rtabel baik untuk taraf signifikan 5% maupun 1%. Hasil analisis data jika dilihat dari tabel interprestasi koefisien korelasi nilai 0,670 menunjukkan bahwa pola asuh orang tua mempunyai hubungan yang kuat dengan prestasi belajar siswa. Sehingga menurut pendapat saya dalam kaitannya dengan prestasi belajar siswa, pola asuh orang tua ini merupakan pemeliharaan dan pengasuhan untuk melakukan upaya dengan berbagai cara yang akan membuat siswa menjadi termotivasi untuk belajar maka diharapkan prestasi belajar siswa pun akan semakin baik pula.
60 BAB V