• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

C. Analisis Hasil Penelitian

2. Analisis Hasil Statistik

Data-data dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa

informasi-informasi keuangan yang berasal dari laporan keuangan perusahaan debitur. Data

yang dibutuhkan tersebut diperoleh dari Bank Syariah Mandiri cabang Stabat

Langkat, dimana proses menginput data dan mengolahnya dilakukan dengan

menggunakan bantuan program SPSS versi 16.0. (Lampiran 1). Berikut penulis

membuat deskripsi rasio-rasio keuangan dan kebutuhan pembiayaan murabahah

Tabel 4.1

Rasio-rasio Keuangan dan Pembiayaan Murabahah Rata-Rata

Perusahaan CR DER NPM ATO ROA

Pembiayaan Rata-Rata A 2.940 0.031 0.968 0.123 0.120 3.796 B 2.920 0.660 0.214 1.078 0.233 2.530 C 4.810 0.010 0.332 1.027 0.341 2.530 D 1.850 0.010 0.539 0.785 0.423 10.121 E 1.973 0.068 0.288 0.591 0.170 2.277 F 2.577 0.422 0.342 0.130 0.044 3.796 G 8.650 0.013 0.134 0.094 0.012 2.530 H 88.980 0.002 0.117 8.914 0.338 3.796 I 2.330 0.381 0.102 0.954 0.098 3.036 J 17.160 0.019 0.153 2.167 0.331 3.796 K 1.073 0.226 0.160 1.136 0.182 2.530 L 24.520 0.013 0.153 2.167 0.331 3.289 M 2.262 0.310 0.121 2.037 0.247 5.567 N 1.692 0.325 0.140 0.158 0.022 1.265 O 2.203 0.002 0.520 0.251 0.132 2.530 P 1.810 0.340 0.113 1.538 0.178 5.061 Q 11.625 0.580 0.113 3.479 0.390 1.518 R 4.420 0.240 0.290 0.622 0.300 2.530 S 1.427 0.259 0.815 0.263 0.082 15.182 T 12.800 0.033 0.126 0.225 0.281 3.289 U 4.487 0.109 0.098 2.510 0.248 3.289 V 5.450 0.102 0.198 7.521 0.124 1.265 W 2.428 0.088 0.080 1.160 0.092 1.265 X 7.500 0.105 0.838 0.162 0.135 1.518 Y 5.063 0.114 0.155 1.267 0.306 1.822 Z 1.214 0.785 0.160 1.130 0.181 1.265 AA 20.330 0.015 0.130 5.636 0.732 1.771 BB 4.111 0.163 0.219 2.106 0.461 3.543 CC 1.136 0.146 0.084 1.544 0.130 1.265 DD 3.793 0.100 0.492 0.690 0.339 2.024 Sumber : Lampiran 1

a. Uji Asumsi Klasik

Salah satu syarat yang mendasari model regresi berganda adalah terpenuhinya

semua asumsi klasik, agar hasil pengujian bersifat tidak bias dan efisien.

Pengujian asumsi klasik dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan program

klasik lainnya agar hasil pengujian tidak bersifat bias dan efisien. Menurut

Ghozali (2005:123) asumsi klasik yang harus dipenuhi adalah berdistribusi

normal, non-multikolinearitas, non autokorelasi dan non heterokedastisitas.

1) Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model

regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal

serta untuk menghindari bias dalam model regresi. Pengujian ini

diperlukan karena untuk melakukan uji t dan uji F mengasumsikan

bahwa nilai residual mengikut i distribusi normal (Erlina, 2008:102).

Untuk menguji kenormalitasan data tersebut, dapat digunakan analisis

grafik histogram yang membandingkan data observasi dengan

distribusi yang mendekati distribusi normal dan yang lebih handal

adalah dengan melihat normal probability plot. Jila distribusi normal,

garis yang menggambarkan data akan mengikuti garis diagonal

(Ghozali, 2005:110). Selain uji grafik, juga dianjurkan untuk

melakukan lagi uji statistik Kolmogorov-Smirnov (KS) yang

dijelaskan Ghozali (2005:115), pedoman pengambilan keputusan

tentang data tersebut merupakan distribusi normal dapat dilihat dari:

a) bila nilai signifikansi <0,05 berarti distribusi data tidak normal

b) bila nilai signifikansi >0,05 berarti distribusi data normal.

Berikut ini adalah hasil pengujian dengan menggunakan uji statistik

Tabel 4.2

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 30

Normal Parametersa Mean .0000000

Std. Deviation 2.53891817

Most Extreme Differences Absolute .198

Positive .198

Negative -.132

Kolmogorov-Smirnov Z 1.082

Asymp. Sig. (2-tailed) .192

a. Test distribution is Normal. Sumber : Lampiran 2

Dari hasil pengolahan data, diperoleh nilai unstandarized residual atau

nilai signifikansi sebesar 0,192. Dari data tersebut dapat terlihat bahwasanya nilai

signifikansi lebih besar dari 0,05, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa model

regresi secara keseluruhan terdistribusi secara normal.

Untuk lebih jelas, berikut ini turut dilampirkan grafik histogram dan plot

Gambar 3.1

Sumber : Lampiran 2

Gambar 3.2

Sumber : Lampiran 2

mendekati distribusi normal, dari grafik histogram di atas dapat disimpulkan

bahwa distribusi data masih dapat dikatakan normal karena distribusi data masih

mengikuti garis diagonal yang tidak terlalu menceng (skewness) kiri maupun

menceng kanan.

Dan pada grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar di sekitar garis

diagonal serta penyebarannya agak mendekati garis diagonal sehingga dapat

disimpulkan bahwa data dalam model regresi terdistribusi secara normal.

2) Uji Multikolinearitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan

adanya korelasi yang sangat kuat di antara variabel independen. Model

regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel

independen karena hal ini akan megurangi keyakinan dalam pengujian

signifikansi (Ghozali, 2005:91).

Multikolinearitas adalah keadaan adanya korelasi yang kuat antara

variabel independen yang satu dengan variabel independen lainnya.

Dalam hal ini kita sebut variabel-variabel bebas tidak orthogonal.

Variabel-variabel bebas yang bersifat orthogonal adalah variabel bebas

yang memiliki nilai korelasi di antara sesamanya sama dengan nol.

Jika terjadi korelasi sempurna di antara sesama variabel bebas, maka

konsekuensinya adalah:

a) koefisien-koefisien regresi menjadi tidak dapat ditaksir,

Deteksi multikolinearitas dilakukan denagn melihat niai VIF (Variance

Inflation Factor) dan tolerance. Pedoman suatu model regresi yang

bebas dari multikolinearitas adalah VIF < 10 dan tolerance > 0,1

(Ghozali, 2005:92). Berikut adalah hasil pengolahan data yang

menunjukkan ada tidaknya gejala multikolinearitas:

Tabel 4.3 Coefficientsa Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 CR .471 2.124 DER .836 1.196 NPM .806 1.240 ATO .416 2.405 ROA .796 1.257

a. Dependent Variable: Pembiayaan Murabahah Sumber : Lampiran 2

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas

dengan dasar nilai VIF untuk setiap variabel independen tidak ada yang melebihi

10 dan nilai tolerance tidak ada yang kurang dari 0,1, maka dapat dilakukan

3) Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model

regresi terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t

dengan kesalahan pada periode t-1 atau sebelumnya. Autokorelasi

muncul karena observasi yang berurutan sepanjang tahun berkaitan

satu sama lain. Masalah ini timbul karena residual atau kesalahan

pengganggu tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya.

Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.

Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi, dapat digunakan uji

Durbin-Watson. Menurut Ade Fatma (2007:33), untuk menguji ada

tidaknya autokorelasi adalah dengan melihat model regresi linear

berganda apabila nilai Durbin-Watson berada di bawah angka 2, maka

model tersebut terbebas dari autokorelasi.

Hasil dari pengujian autokorelasi adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4 Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .452a .204 .038 2.790886 1.966

a. Predictors: (Constant), ROA, NPM, DER, CR, ATO b. Dependent Variable: Pembiayaan Murabahah Sumber : Lampiran 2

Dari tabel di atas, dapat terlihat angka Durbin-Watson sebesar 1,966. Hal

ini dapat memberikan kesimpulan bahwasanya angka 1,966 < 2, berarti model

4) Uji Heterokedastisitas

Tujuan dari uji heterokedastisitas ini adalah untuk menguji apakah

dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians residual dari

satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians residual dari

satupengamatan ke pengamatan lainnya tetap, maka disebut

homokedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedastisitas (Erlina,

2008:106). Model regresi yang baik adalah homokedastisitas. Untuk

mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas, menurut Ghozali

(2005:105) dapat dilihat dari grafik scatterplot antara nilai prediksi

variabel dependen yaitu ZPRED dengan nilai residualnya SRESID.

Dasar pengambilan keputusannya adalah:

a) jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk pola

tertentu yang teratur, maka telah terjadi heterokedastisitas,

b) jika tidak ada pola tertentu, serta titik-titik yang menyebar tidak

tertentu di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak

terjadi heterokedastisitas atau terjadi homokedastisitas.

Berikut ini dilampirkan grafik scatterplot untuk menganalisis apakah

terjadi heterokedastisitas atau terjadi homokedastisitas dengan

Gambar 4.3

Sumber : Lampiran 2

Dari grafik scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secar acak serta

tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat

disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi. Dengan

demikian model ini layak dipakai untuk memprediksi jumlah pembiayaan

murabahah berdasarkan masukan variabel independen CR, DER, NPM, ATO, dan

ROA.

Dokumen terkait