Terdapat enam variabel karakteristik individu yang dianalisis hubungannya dengan perilaku ekonomi nelayan rajungan, yaitu umur, tingkat pendidikan, pengalaman sebagai nelayan, waktu kerja nelayan, tingkat pendapatan, serta tingkat pengetahuan nelayan terhadap perilaku ekonomi. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui apakah karakteristik individu (umur, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, pengalaman sebagai nelayan, waktu kerja nelayan, dan tingkat pengetahuan) yang berbeda memiliki hubungan dengan perilaku ekonomi nelayan rajungan. Perilaku ekonomi nelayan rajungan tersebut meliputi perilaku produksi (orientasi mutu dan adaptasi teknologi), perilaku konsumsi dan alokasi tenaga kerja.
Hubungan karakteristik individu responden dengan perilaku ekonomi nelayan rajungan dianalisis dengan menggunakan SPSS 16.0 for windows dengan model uji Rank Spearman. Uji ini dilakukan untuk menganalisis apakah terdapat hubungan signifikan antara karakteristik individu responden dengan perilaku ekonomi yang dilakukan oleh nelayan rajungan.
Hubungan Umur dengan Perilaku Ekonomi
Uji hipotesis pengaruh umur terhadap perilaku ekonomi nelayan dapat dijabarkan sebagai berikut:
H0 = tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan perilaku
ekonomi nelayan
H1 = terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan perilaku ekonomi
nelayan
Kriteria pengujian hipotesis dengan uji statistik korelasi Rank Spearman
adalah jika nilai signifikansi (p) >0.05 maka terima H0. Hal ini berarti bahwa umur
nelayan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku ekonomi nelayan. Jika nilai signifikansi (p) <0.05 maka tolak H0 dan terimaH1 yang berarti
bahwa umur nelayan memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku ekonomi nelayan. Adapun korelasi antara umur responden dengan perilaku ekonomi nelayan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Korelasi antara umur responden dengan perilaku ekonomi
Perilaku Ekonomi Umur
P s Perilaku Produksi Orientasi mutu 0.845 0.032 Adaptasi Teknologi 0.548 -0.098 Perilaku Konsumsi 0.010 -0.400* Nilai signifikan : 0.05
Sumber: Data Primer diolah (2013) Keterangan:
s
: koefisien korelasi Rank Spearman P : nilai probabilitas
Hubungan Umur dengan Perilaku Produksi
Hubungan umur dengan perilaku produksi dibagi menjadi dua, yaitu: Pertama, hubungan umur dengan orientasi mutu. Analisis hubungan antara variabel umur dengan orientasi mutu memiliki nilai signifikan (p)= 0.845 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel umur dan orientasi mutu yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0
diterima. Nelayan, baik pada awal dewasa, usia pertengahan maupun tua, tidak mengetahui dengan pasti tentang mutu daging rajungan, sehingga nelayan menangkap rajungan tanpa memerhatikan mutu.
“… orang nelayan gak tau tentang daging mbak, tau pas jadi brangkas aja. Kalo daging, istri dan anak perempuan saya yang tau. Tapi tau jenis-jenis daging dan nyium aroma daging
rajungan, saya pernah …” (Car, 50thn, 8 April 2013)
Kedua, hubungan umur dengan adaptasi teknologi. Analisis hubungan antara variabel umur dengan adaptasi teknologi memiliki nilai signifikan (p)= 0.548 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel umur dan adaptasi teknologi yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 diterima. Kedua variabel tidak memiliki hubungan
disebabkan karena nelayan rajungan yang berumur awal dewasa maupun berumur tua seluruhnya tidak menggunakan teknologi untuk menunjang penangkapan, seperti GPS yang mereka anggap mahal dan tidak memiliki pengetahuan untuk menggunakannya.
“… GPS tuh apa mbak? Kaya kompas ya? Pake kompas saja gak mbak, pake perkiraan dan ingatan aja untuk berangkat atau
pulang ngelaut…”(Rnt, 32thn,8 April 2013)
Hubungan Umur dengan Perilaku Konsumsi
Analisis hubungan antara variabel umur dengan perilaku konsumsi memiliki nilai signifikan (p)= 0.010 yang berarti nilai signifikan <0.05. Hal ini berarti terdapat hubungan signifikan antara variabel umur dan perilaku konsumsi yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima.. Selain itu, terdapat
koefisien korelasi sebesar -0.400 yang berarti semakin tinggi umur nelayan, semakin rendah perilaku konsumsi. Klasifikasi keeratan hubungan menurut Bungin (2001), hubungan umur dengan perilaku konsumsi merupakan hubungan negatif yang sedang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4 orang yang berumur tua, tidak ada yang perilaku konsumsinya tinggi. Perilaku konsumsi terbanyak dilakukan oleh nelayan berumur awal dewasa, yaitu 6 dari 12 orang dengan perilaku konsumsi tinggi, karena mayoritas umur awal dewasa belum memiliki keluarga sehingga belum memikirkan kehidupan orang lain seperti istri dan anak.
“... sudah 5 tahun gak ngerokok mbak. Suka sesak napas kalo abis ngelaut. Jadi disuruh berenti sama istri dan anak…” (Wry, 55thn, 8 April 2013)
“... saya belum berkeluarga, jadi biasanya uang dari nangkep rajungan buat beli pulsa, nge-band dan minum ma temen-
temen ...” (Tr, 20thn, 11 April 2013)
“… dulu pas masih belum punya istri, saya sering nyawer. Tapi sekarang malu ma anak mbak. Udah tua juga soalnya…” (Nn, 44 thn, 10 April 2013)
Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Perilaku Ekonomi
Uji hipotesis pengaruh tingkat pendidikan terhadap perilaku ekonomi nelayan dapat dijabarkan sebagai berikut:
H0 = tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan
dengan perilaku ekonomi nelayan
H1 = terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan
perilaku ekonomi nelayan
Kriteria pengujian hipotesis dengan uji statistik korelasi Rank Spearman
adalah jika nilai signifikansi (p) >0.05 maka terima H0. Hal ini berarti bahwa
tingkat pendidikan nelayan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku ekonomi nelayan. Jika nilai signifikansi (p) <0.05 maka tolak H0 dan
terimaH1 yang berarti bahwa tingkat pendidikan nelayan memiliki hubungan yang
signifikan dengan perilaku ekonomi nelayan. Adapun korelasi antara tingkat pendidikan responden dengan perilaku ekonomi nelayan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Korelasi tingkat pendidikan dengan perilaku ekonomi
Perilaku Ekonomi Tingkat Pendidikan
P s
Perilaku Produksi
Orientasi mutu 0.568 -0.093
Adaptasi Teknologi 0.811 0.039
Perilaku Konsumsi 0.648 0.074
Alokasi Tenaga Kerja 0.640 -0.076
Nilai signifikan : 0.05
Sumber: Data Primer diolah (2013) Keterangan:
s : koefisien korelasi Rank Spearman P : nilai probabilitas
* : memiliki hubungan
Hubungan Tingkat Pendidikan Responden dengan Perilaku Produksi
Hubungan tingkat pendidikan responden dengan perilaku produksi dibagi menjadi dua, yaitu: Pertama, hubungan tingkat pendidikan dengan orientasi mutu. Analisis hubungan antara variabel tingkat pendidikan dengan orientasi mutu memiliki nilai signifikan (p)= 0.568 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara variabel tingkat pendidikan dan orientasi mutu yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 diterima. Pendidikan
yang ditempuh responden tidak menjadikan responden mengetahui, memahami dan melakukan perilaku yang berorientasi pada mutu rajungan.
Kedua, hubungan tingkat pendidikan dengan adaptasi teknologi. Analisis hubungan antara variabel tingkat pendidikan dengan adaptasi teknologi memiliki nilai signifikan (p)= 0.811 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat pendidikan dan adaptasi teknologi yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 diterima. Tingkat pendidikan
bukanlah faktor penentu untuk nelayan beradaptasi dengan teknologi. Pengaruh lingkungan, modal yang dimiliki serta intervensi pihak luar yang menjadikan nelayan beradaptasi dengan teknologi.
Hubungan Tingkat Pendidikan Responden dengan Perilaku Konsumsi
Analisis hubungan antara variabel tingkat pendidikan dengan perilaku konsumsi memiliki nilai signifikan (p)= 0.648 yang berarti nilai signifikan >0.05. Tingkat pendidikan nelayan sebagai responden tidak memiliki hubungan dengan tinggi rendahnya perilaku konsumsi yang dilakukan nelayan, sehingga H0
diterima. Setinggi apapun pendidikan yang telah ditempuh nelayan tidak akan merubah sifat boros nelayan dalam konsumsi.
Hubungan Tingkat Pendidikan Responden dengan Alokasi Tenaga Kerja
Analisis hubungan antara variabel tingkat pendidikan dengan alokasi tenaga kerja memiliki nilai signifikan (p)= 0.640 yang berarti nilai signifikan <0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara variabel tingkat pendidikan dan alokasi tenaga kerja yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 diterima. Nelayan yang
berpendidikan tinggi maupun yang berpendidikan rendah tidak membebaskan istri dan anak perempuan untuk bekerja di tempat yang lebih baik, seperti pabrik. Selain itu, keterbatasan pendidikan di lingkungan keluarga nelayan tidak menjadikan keluarga nelayan dapat bekerja di tempat yang mensyaratkan pelamar memiliki pendidikan yang tinggi seperti perkantoran.
“… setelah SMA dan gak tamat, Saya pernah bekerja di Taiwan, menjadi nelayan di sana...” (Jd, 44thn, 12 April 2013)
Hubungan Pengalaman Menjadi Nelayan dengan Perilaku Ekonomi
Uji hipotesis pengaruh pengalaman menjadi nelayan terhadap perilaku ekonomi nelayan dapat dijabarkan sebagai berikut:
H0 = tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengalaman menjadi
nelayan dengan perilaku ekonomi nelayan
H1 = terdapat hubungan yang signifikan antara pengalaman menjadi
nelayan dengan perilaku ekonomi nelayan
Kriteria pengujian hipotesis dengan uji statistik korelasi Rank Spearman
adalah jika nilai signifikansi (p) >0.05 maka terima H0. Hal ini berarti bahwa
pengalaman menjadi nelayan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku ekonomi nelayan. Jika nilai signifikansi (p) <0.05 maka tolak H0 dan
terimaH1 yang berarti bahwa pengalaman menjadi nelayan memiliki hubungan
yang signifikan dengan perilaku ekonomi nelayan. Adapun korelasi pengalaman menjadi nelayan responden dengan perilaku ekonomi nelayan dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Korelasi pengalaman menjadi nelayan dengan perilaku ekonomi
Perilaku Ekonomi Pengalaman Menjadi Nelayan
P s
Perilaku Produksi
Orientasi mutu 0.368 0.146
Adaptasi Teknologi 0.538 -0.100
Perilaku Konsumsi 0.075 -0.285
Alokasi Tenaga Kerja 0.297 0.169
Nilai signifikan : 0.05
Sumber: Data Primer diolah (2013) Keterangan:
s : koefisien korelasi Rank Spearman P : nilai probabilitas
Hubungan Pengalaman Menjadi Nelayan dengan Perilaku Produksi
Hubungan pengalaman menjadi nelayan dengan perilaku produksi dibagi menjadi dua, yaitu: Pertama, hubungan pengalaman menjadi nelayan dengan orientasi mutu. Analisis hubungan antara variabel pengalaman menjadi nelayan dengan orientasi mutu memiliki nilai signifikan (p)= 0.368 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pengalaman menjadi nelayan dan orientasi mutu yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 diterima. Orientasi mutu rajungan tidak berhubungan dengan
pengalaman menjadi nelayan rajungan karena nelayan hanya mengetahui bentuk fisik ketika rajungan dalam bentuk brangkas bukan dalam bentuk daging yang dijual ke industri.
Kedua, hubungan pengalaman menjadi nelayan dengan adaptasi teknologi. Analisis hubungan antara variabel pengalaman menjadi nelayan dengan adaptasi teknologi memiliki nilai signifikan (p)= 0.538 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pengalaman menjadi nelayan dan adaptasi teknologi yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 diterima. Teknologi yang dimiliki nelayan baik nelayan awal dewasa
hingga berumur tua, sama saja yaitu mayoritas menggunakan alat tradisional, perahu tradisional dan tidak menggunakan teknologi lainnya yang lebih modern.
Hubungan Pengalaman Menjadi Nelayan dengan Perilaku Konsumsi
Analisis hubungan antara variabel pengalaman menjadi nelayan dengan perilaku konsumsi memiliki nilai signifikan (p)= 0.075 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pengalaman menjadi nelayan dan perilaku konsumsi yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 diterima. Perilaku konsumsi berhubungan dengan kebiasaan
nelayan dalam mengonsumsi rokok, minum-minuman keras, dan tidak memiliki tabungan bukan dengan lamanya kerja menjadi nelayan.
Hubungan Pengalaman Menjadi Nelayan dengan Alokasi Tenaga Kerja
Analisis hubungan antara variabel pengalaman menjadi nelayan dengan alokasi tenaga kerja memiliki nilai signifikan (p)= 0.297 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pengalaman menjadi nelayan dan alokasi tenaga kerja yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 diterima. Pembagian kerja dalam keluarga nelayan,
kepemilikan pekerjaan sampingan dan keikutsertaan anggota keluarga dalam usaha nelayan tidak memiliki hubungan dengan pengalaman responden bekerja menjadi nelayan. Namun, dipengaruhi oleh motivasi dan semangat bekerja yang lebih baik.
Hubungan Waktu Kerja Nelayan dengan Perilaku Ekonomi
Uji hipotesis pengaruh waktu kerja nelayan terhadap perilaku ekonomi nelayan dapat dijabarkan sebagai berikut:
H0 = tidak terdapat hubungan yang signifikan antara waktu kerja dengan
perilaku ekonomi nelayan
H1 = terdapat hubungan yang signifikan antara waktu kerja dengan
perilaku ekonomi nelayan
Kriteria pengujian hipotesis dengan uji statistik korelasi Rank Spearman
adalah jika nilai signifikansi (p) >0.05 maka terima H0. Hal ini berarti bahwa
waktu kerja nelayan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku ekonomi nelayan. Jika nilai signifikansi (p) <0.05 maka tolak H0 dan terimaH1
yang berarti bahwa waktu kerja nelayan memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku ekonomi nelayan. Adapun korelasi antara waktu kerja responden dengan perilaku ekonomi nelayan dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10 Korelasi waktu kerja nelayan dengan perilaku ekonomi
Perilaku Ekonomi Waktu Kerja
P s
Perilaku Produksi
Orientasi mutu 0.421 0.131
Adaptasi Teknologi 0.282 0.174
Perilaku Konsumsi 0.075 0.644
Alokasi Tenaga Kerja 0.124 -0.247
Nilai signifikan : 0.05
Sumber: Data Primer diolah (2013) Keterangan:
s : koefisien korelasi Rank Spearman P : nilai probabilitas
Hubungan Waktu Kerja Nelayan dengan Perilaku Produksi
Hubungan waktu kerja nelayan dengan perilaku produksi dibagi menjadi dua, yaitu: Pertama, hubungan waktu kerja nelayan dengan orientasi mutu. Analisis hubungan antara variabel waktu kerja nelayan dengan orientasi mutu memiliki nilai signifikan (p)= 0.421 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel waktu kerja nelayan dan orientasi mutu yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 diterima. Waktu kerja
nelayan yang rata-rata sama, tidak berhubungan dengan mutu rajungan yang didapat.
Kedua, hubungan waktu kerja nelayan dengan adaptasi teknologi. Analisis hubungan antara variabel waktu kerja nelayan dengan adaptasi teknologi memiliki nilai signifikan (p)= 0.282 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel waktu kerja nelayan dan adaptasi teknologi yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 diterima. Nelayan
teknologi apa yang digunakan nelayan tersebut.
Hubungan Waktu Kerja Nelayan dengan Perilaku Konsumsi
Analisis hubungan antara variabel waktu kerja nelayan dengan perilaku konsumsi memiliki nilai signifikan (p)= 0.075 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel waktu kerja nelayan dan perilaku konsumsi yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0
diterima. Besarnya uang untuk konsumsi yang dikeluarkan nelayan tidak berhubungan dengan lamanya nelayan bekerja di laut.
Hubungan Waktu Kerja Nelayan dengan Alokasi Tenaga Kerja
Analisis hubungan antara variabel waktu kerja nelayan dengan alokasi tenaga kerja memiliki nilai signifikan (p)= 0.124 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel waktu kerja dan alokasi tenaga kerja nelayan, sehingga H0 diterima. Dalam rutinitas nelayan
bekerja dengan waktu kerjanya melaut, tidak berpengaruh pada kepemilikan pekerjaan sampingan nelayan. Umumnya, waktu kerja nelayan berhubungan dengan besarnya modal melaut yang dikeluarkan oleh nelayan untuk pembelian solar.
Hubungan Tingkat Pendapatan Responden dengan Perilaku Ekonomi
Uji hipotesis pengaruh tingkat pendapatan terhadap perilaku ekonomi nelayan dapat dijabarkan sebagai berikut:
H0 = tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendaptan
dengan perilaku ekonomi nelayan
H1 = terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendapatan dengan
perilaku ekonomi nelayan
Kriteria pengujian hipotesis dengan uji statistik korelasi Rank Spearman
adalah jika nilai signifikansi (p) >0.05 maka terima H0. Hal ini berarti bahwa
tingkat pendapatan nelayan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku ekonomi nelayan. Jika nilai signifikansi (p) <0.05 maka tolak H0 dan
terimaH1 yang berarti bahwa tingkat pendapatan nelayan memiliki hubungan yang
signifikan dengan perilaku ekonomi nelayan. Adapun korelasi antara tingkat pendapatan responden dengan perilaku ekonomi nelayan dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Korelasi tingkat pendapatan dengan perilaku ekonomi
Perilaku Ekonomi Tingkat Pendapatan
P s
Perilaku Produksi
Orientasi mutu 0.342 -0.154
Adaptasi Teknologi 0.676 0.068
Perilaku Konsumsi 0.433 -0.128
Alokasi Tenaga Kerja 0.032 0.339*
Nilai signifikan : 0.05
Sumber: Data Primer diolah (2013) Keterangan:
s : koefisien korelasi Rank Spearman P : nilai probabilitas
Hubungan Tingkat Pendapatan Responden dengan Perilaku Produksi
Hubungan tingkat pendapatan dengan perilaku produksi dibagi menjadi dua, yaitu: Pertama, tingkat pendapatan dengan orientasi mutu. Analisis hubungan antara variabel tingkat pendapatan dengan orientasi mutu memiliki nilai signifikan (p)= 0.342 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat pendapatan dan orientasi mutu yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 diterima. Mutu rajungan tidak
berhubungan dengan tinggi-rendahnya pendapatan yang didapatkan nelayan. Kedua, hubungan tingkat pendapatan dengan adaptasi teknologi. Analisis hubungan antara variabel tingkat pendapatan dengan adaptasi teknologi memiliki nilai signifikan (p)= 0.676 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat pendapatan dan adaptasi teknologi yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0 diterima. Pendapatan yang
dihasilkan dari penjualan rajungan dalam bentuk daging maupun brangkas, tidak menjadikan teknologi yang dimiliki nelayan seperti alat tangkap, perahu dan teknologi penunjang lainnya menjadi lebih baik. Hal ini disebabkan pendapatan nelayan yang tidak menentu, tidak dapat memastikan nelayan tersebut berteknologi tinggi
Hubungan Tingkat Pendapatan Responden dengan Perilaku Konsumsi
Analisis hubungan antara variabel tingkat pendapatan dengan perilaku konsumsi memiliki nilai signifikan (p)= 0.433 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat pendapatan dan perilaku konsumsi yang dilakukan oleh nelayan, sehingga H0
diterima. Pendapatan nelayan tidak memengaruhi perilaku konsumsi nelayan. Perilaku konsumsi nelayan akan sama bila pendapatan sedang menurun.
“… saya setiap hari membeli rokok hingga 2 bungkus sehari. Kalo gak merokok sehari aja, mulutnya jadi gak enak. Kalo lagi punya uang ya langsung bayar ke warung, tapi kalo uang lagi gak ada, tetep ngerokok, tapi ngutang di warung
dulu...”(Car, 50thn, 8 april 2013)
Hubungan Tingkat Pendapatan Responden dengan Alokasi Tenaga Kerja
Analisis hubungan antara variabel tingkat pendapatan dengan alokasi tenaga kerja memiliki nilai signifikan (p)= 0.032 yang berarti nilai signifikan <0.05. hal ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat pendapatan dan alokasi tenaga kerjayang diterapkan nelayan, sehingga H0 ditolak dan H1
diterima. Hubungan signifikan antara variabel tingkat pendapatan dan alokasi tenaga kerja yang dilakukan oleh nelayan tergolong positif yang sedang (Bungin 2001), ditunjukkan dengan koefisien korelasi dengan nilai 0.339. Tingkat pendapatan yang tinggi akan memotivasi nelayan untuk bekerja dan menyuruh anggota keluarga bekerja lebih baik lagi.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Responden dengan Perilaku Ekonomi
Uji hipotesis pengaruh tingkat pengetahuan terhadap perilaku ekonomi nelayan dapat dijabarkan sebagai berikut:
H0 = tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan
H1 = terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan
perilaku ekonomi nelayan
Kriteria pengujian hipotesis dengan uji statistik korelasi Rank Spearman
adalah jika nilai signifikansi (p) >0.05 maka terima H0. Hal ini berarti bahwa
tingkat pengetahuan nelayan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku ekonomi nelayan. Jika nilai signifikansi (p) <0.05 maka tolak H0 dan
terima H1 yang berarti bahwa tingkat pengetahuan nelayan memiliki hubungan
yang signifikan dengan perilaku ekonomi nelayan. Adapun korelasi antara tingkat pengetahuan responden dengan perilaku ekonomi nelayan dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Korelasi tingkat pengetahuan dengan perilaku ekonomi Perilaku Ekonomi Tingkat Pengetahuan
P s
Perilaku Produksi
Orientasi mutu 0.000 0.580*
Adaptasi Teknologi 0.579 0.090
Perilaku Konsumsi 0.424 0.130
Alokasi Tenaga Kerja 0.381 0.142
Nilai signifikan : 0.05
Sumber: Data Primer diolah (2013) Keterangan:
s : koefisien korelasi Rank Spearman P : nilai probabilitas
* : memiliki hubungan
Hubungan Tingkat Pengetahuan Responden dengan Perilaku Produksi
Hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku produksi dibagi menjadi dua, yaitu: Pertama, hubungan tingkat pengetahuan dengan orientasi mutu. Analisis hubungan antara variabel tingkat pengetahuan dengan orientasi mutu memiliki nilai signifikan (p)= 0.000 yang berarti nilai signifikan <0.05. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku produksi, sehingga H0 ditolak dan diterima H1. Selain itu,
terdapat koefisien korelasi sebesar 0.580 dimana menurut Bungin (2001), koefisien korelasi tersebut merupakan hubungan positif yang mantap. Hal ini berarti terdapat hubungan signifikan selaras antara variabel tingkat pengetahuan dan orientasi mutu. Pengetahuan nelayan memiliki peranan penting dalam industrialisasi perikanan untuk menyesuaikan mutu hasil tangkapan yang sesuai kebutuhan industri.
Kedua, hubungan tingkat pengetahuan dengan adaptasi teknologi. Analisis hubungan antara variabel tingkat pengetahuan dengan adaptasi teknologi memiliki nilai signifikan (p)= 0.579 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat pengetahuan dan adaptasi teknologi yang nelayan, sehingga H0 diterima. Nelayan memiliki
pengetahuan untuk teknologi yang lebih baik, namun keterbatasan modal mereka tidak dapat mengembangkan teknologi yang lebih modern.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Responden dengan Perilaku Konsumsi
Analisis hubungan antara variabel tingkat pengetahuan dengan perilaku konsumsi memiliki nilai signifikan (p)= 0.424 yang berarti nilai signifikan >0.05.
Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat pengetahuan dan perilaku konsumsi nelayan, sehingga H0 diterima. Pengetahuan
tentang mutu dan pelestarian laut tidak berhubungan dengan besar-kecilnya uang yang dikeluarkan nelayan untuk kegiatan konsumsinya.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Responden dengan Alokasi Tenaga Kerja
Analisis hubungan antara variabel tingkat pengetahuan dengan alokasi tenaga kerja memiliki nilai signifikan (p)= 0.381 yang berarti nilai signifikan >0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat pengetahuan dan alokasi tenaga kerja, sehingga H0 diterima. Tingkat pengetahuan
nelayan tentang mutu dan pengetahuan tentang rajungan tidak memiliki hubungan dengan alokasi tenaga kerja keluarga dan kepemilikan pekerjaan sampingan.