• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.7 Kesimpulan

4.6.2 Analisis hubungan pengaruh langsung dan tidak langsung

Dalam proses pencarian dan penerimaan inang oleh serangga, karakter tanaman yang satu akan terkait dengan karakter lainnya. Kombinasi karakter- karakter yang bersifat stimulan dan deterrent kemudian menentukan tingkat penerimaan serangga terhadap tanaman tertentu (Renwick dan Chew 1994). Pada penelitian ini, analisis hubungan antara satu karakter dengan karakter lainnya dilakukan melalui analisis korelasi dan analisis sidik lintas. Karakter-karakter tersebut dapat digunakan sebagai karakter seleksi untuk sifat resistensi aksesi handeuleum terhadap D. bisaltide.

Tabel 4.4 Korelasi antar karakter morfologi dan fitokimia daun handeuleum dengan jumlah telur yang diletakkan.

Karakter tanaman handeuleum Nilai korelasi Antosianin 0.71** Klorofil -0.74** Karotenoid -0.51 C organik 0.03 Nitrogen -0.52 C/N rasio 0.63* Kalsium 0.37 Serat 0.16 Alkaloid -0.38 Saponin 0.62* Flavonoid -0.02 Triterpenoid 0.31 Steroid -0.26

luas area daun 0.28

Trikoma 0.49 Keterangan : Korelasi menggunakan metode Pearson. * nyata pada taraf 5%, ** sangat nyata pada

taraf 1%.

Jumlah telur yang diletakkan berkorelasi nyata dengan kandungan antosianin, klorofil, saponin, dan C/N rasio tanaman handeuleum (Tabel 4.4). Roy (2000) serta Mattjik dan Sumertajaya (2002) menyatakan apabila nilai korelasi antara dua peubah mendekati -1 atau 1, maka hubungan antara keduanya sangat erat. Berdasarkan hasil analisis korelasi, nilai korelasi tertinggi didapat pada antosianin dan klorofil dengan aktivitas peletakan telur.

Price (1997) menyatakan bahwa serangga umumnya menghindari tanaman dengan kandungan tanin yang tinggi, nitrogen dan air yang rendah, serta tingkat kekerasan jaringan yang tinggi. Sebelumnya smith (1989) menyatakan bahwa tanin dapat menurunkan tingkat digestabilitas tanaman. Weisenborn dan Pratt (2008) menyatakan bahwa kandungan klorofil tanaman berkorelasi dengan kandungan nitrogen pada daun tanaman. Lebih lanjut dilaporkan bahwa pada penelitian yang dilakukan, jumlah telur yang diletakkan berkorelasi positif dengan kandungan nitrogen tanaman. Akan tetapi pada penelitian ini, jumlah telur yang diletakkan tidak berkorelasi nyata dengan kandungan nitrogen tanaman.

Apabila dihubungkan dengan kandungan metabolit sekunder, banyaknya jumlah telur yang diletakkan tidak berkorelasi kandungan flavonoid. Hal ini serupa dengan pernyataan Smith 91989) bahwa senyawa golongan flavonoid bersifat deterren bagi serangga. Pernyataan tersebut bertentangan dengan Panda dan Kush

(1995) yang menyatakan flavonoid merupakan senyawa yang dapat menarik serangga mendekati tanaman tertentu. Hasil penelitian Wink (2006) juga menunjukkan bahwa adanya flavonoid, senyawa volatil, atau terpenoid dapat menarik serangga untuk melakukan polinasi atau peletakan telur pada tanaman tersebut. Flavonoid merupakan salah satu senyawa kelompok fenol (Mann 1986; Smith 1989). Senyawa ini sendiri terdiri atas beberapa jenis senyawa turunan, di antaranya antosianin, flavon, dan isoflavon. Diduga beberapa jenis senyawa turunan flavonoid bersifat deterrent bagi serangga tertentu, sedangkan jenis lainnya bersifat atraktan. Karenanya, diperlukan kajian lebih mendalam mengenai jenis senyawa turunan flavonoid yang bersifat deterren dan atraktan terhdap imago D. bisaltide.

Roy (2000) mengemukakan bahwa analisis korelasi menggambarkan keeretan hubungan antara karakter satu dengan karakter lainnya. Akan tetapi, Budiarti et al. (2004) menambahkan bahwa analisis ini tidak dapat menggambarkan hubungan sebab-akibat antara karakter-karakter yang dikorelasikan. Penguraian hubungan sebab-akibat tersebut dapat dijelaskan melalui analisis sidik lintas.

Pada penelitian ini, analisis sidik lintas dilakukan terhadap karakter-karakter yang berkorelasi nyata dengan karakter aktivitas peletakan telur. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa pigmen antosianin, klorofil, C/N rasio, dan saponin berpengaruh nyata terhadap karakter peletakan telur (Tabel 13). Nilai dari karakter ini kemudian distandarisasi dan digunakan sebagai peubah bebas dalam analisis sidik lintas. Rekapitulasi hasil sidik lintas ditampilkan pada Tabel 4.5, serta Gambar 4.2.

Tabel 4.5 Pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung karakter terhadap peletakan telur imago D. bisaltide

Peubah bebas

Pengaruh langsung

(C)

Pengaruh Tidak Langsung melalui peubah

Pengaruh Total Antosianin Saponin C/N rasio Klorofil

Antosianin -0.978 0.097 0.088 1.507 0.715 Saponin 0.393 -0.242 0.069 0.406 0.627 C/N rasio 0.182 -0.472 0.150 0.763 0.623 Klorofil -1.517 0.972 -0.105 -0.092 -0.742 Total C -1.919 Residu 1.709

Gambar 4.2 Diagram lintas fenotipik antar 4 karakter dengan aktivitas peletakan telur oleh imago D. bisaltide.

Keterangan: Ctxi = pengaruh langsung peubah ke-i terhadap peubah telur (T); rxixy = koefisien korelasi antara peubah xi dan xy

Tujuan seleksi 13 aksesi handeuleum adalah mencari karakter tanaman yang dapat menurunkan aktivitas peletakan telur oleh imago D. bisaltide. Metode seleksi yang demikian dikenal dengan istilah seleksi negatif (Roy 2000). Terdapat dua metode seleksi, yakni seleksi langsung dan seleksi tidak langsung. Pada metode seleksi langsung, yang dijadikan kriteria seleksi adalah karakter target, dalam hal ini tanaman dengan jumlah telur sedikit, sedangkan bila menggunakan metode seleksi tidak langsung, seleksi dilakukan pada karakter yang berkorelasi nyata dengan

karakter target. Analisis sidik lintas merupakan salah metode analisis yang dapat digunakan untuk mengetahui berapa besar peranan suatu karakter dalam mempengaruhi karakter target. Analisis sidik lintas menunjukkan bahwa kandungan antosianin dan klorofil memiliki pengaruh negatif terhadap aktivitas peletakan telur, sedangkan saponin dan C/N rasio dalam tubuh tanaman berpengaruh positif.

Hasil sidik lintas menunjukkan bahwa karakter klorofil memiliki pengaruh langsung yang besar dan bernilai negatif. Korelasi karakter ini dengan aktivitas peletakan telur juga bernilai negatif. Hal ini mengindikasikan bahwa klorofil berkorelasi erat dan memiliki kontribusi yang besar terhadap penurunan aktivitas peletakan telur oleh imago D. bisaltide. Dengan demikian, karakter klorofil dapat dijadikan karakter seleksi untuk memperoleh aksesi resisten terhadap aktivitas peletakan telur imago D. bisaltide. Untuk tujuan seleksi, dapat dipilih aksesi dengan kandungan klorofil yang tinggi. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian Stefanescu et al. (2006) pada Euphydryas aurinia (Lepidoptera: Nymphalidae) yang menunjukkan serangga ini meletakkan telur lebih banyak pada daun tanaman yang mengandung klorofil 10% lebih tinggi dibandingkan tanaman dengan konsentrasi klorofil yang lebih sedikit.

Antosianin memiliki pengaruh langsung yang negatif. Korelasi senyawa ini dengan aktivitas peletakan telur bersifat positif. Model yang demikian menurut Singh dan Chaudhary (1979) menunjukkan bahwa terdapat karakter lain yang meneybabkan korelasi antosianin menjadi positif, sehingga antosianin tidak dapat dijadikan salah satu komponen seleksi. Seleksi tidak akan efektif bila dilakukan menggunakan karakter tersebut. Seperti halnya karakter antosianin, saponin dan C/N rasio tidak efektif untuk dijadikan karakter seleksi, karena walaupun keduanya berkorelasi dengan aktivitas peletakan telur, tetapi nilai pengaruh langsungnya rendah, yakni 0.182 dan 0.393, sehingga kedua karakter tersebut tidak efektif untuk dijadikan karakter seleksi.

Apabila dikaitkan dengan kandungan fitokimia yang berperan sebagai obat, yakni steroid, flavonoid (Willaman 1995), dan glikosida (Wiart 2006). Karakter klorofil tidak berkorelasi dengan ketiga karakter tersebut (Lampiran 4), akan tetapi untuk flavonoid, klorofil secara tidak langsung berkorelasi dengan salah satu senyawa golongan flavonoid, yaitu antosianin. Hal ini menunjukkan bahwa, secara

teori tinggi-rendahnya kandungan klorofil tidak berpengaruh terhadap kandungan steroid dan glikosida. Akan tetapi, seleksi berdasarkan kandungan klorofil mungkin akan mempengaruhi kandungan flavonoid pada tanaman. Dengan demikian, terdapat indikasi bahwa seleksi resistensi berdasarkan tingginya kandungan klorofil akan mempengaruhi kualitas tanaman handeuleum sebagai tanaman obat Karena itu, disarankan untuk melakukan seleksi independent cooling atau seleksi indeks untuk sifat resistensi tanaman dan kandungan obat yang tinggi.

Aksesi 12 merupakan aksesi dengan kandungan klorofil tertinggi dari 13 aksesi handeuleum yang diujikan. Proporsi kandungan klorofil terhadap pigmen antosianin dan karotenoid pada aksesi ini juga tinggi, yakni 6:1:3.Aksesi 12 memiliki kandungan glikosida dan steroid yang tinggi. Akan tetapi, kandungan flavonoid tergolong rendah. Pada aksesi 12, kandungan ketiga senyawa tersebut mengalami penurunan setelah terserang larva Berdasarkan hal tersebut maka aksesi ini dapat dijadikan tetua donor gen resistensi, namun diperlukan pemuliaan lebih lanjut untuk perbaikan komponen bioaktif sebelum dilepas menjadi verietas.

4.7 Kesimpulan

Berdasarkan penjabaran, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Preferensi peletakan telur tertinggi terdapat pada aksesi 1, 5, dan 9 2. Preferensi peletakan telur terendah terdapat pada aksesi 12

3. Berdasarkan aktivitas peletakan telur, aksesi 12 merupakan aksesi putatif resisten, sedangkan aksesi 1, 5, dan 9 adalah aksesi putatif rentan.

4. Senyawa antosianin, klorofil, saponin, dan C/N rasio pada tanaman handeuleum mempengaruhi preferensi peletakan telur D.bisaltide

5. Kandungan klorofil dapat dijadikan kandidat karakter seleksi untuk resistensi handeuleum terhadap D. bisaltide berdasarkan aktivitas peletakan telur

6. Tingginya kandungan alkaloid, tanin, dan glikosida cenderung digunakan D. bisaltide sebagai petunjuk untuk meletakkan telur pada tanaman handeuleum 7. Diperlukan perbaikan karakter komponen bioaktif pada aksesi 12

8. Pengujian aktivitas peletakan telur sebaiknya dilakukan pada periode November-Desember.

BAB V

STUDI AKTIVITAS MAKAN LARVA D. bisaltide

PADA TIGA BELAS AKSESI HANDEULEUM

5.1 Abstrak

Serangan larva serangga Doleschallia bisaltide (Lepidoptera: Nymphalidae) merupakan masalah utama dalam pengembangan tanaman handeuleum. Salah satu solusi dalam menangani serangan serangga tersebut adalah menggunakan varietas resisten. Dalam rangka perakitan varietas resisten, diperlukan pengetahuan mengenai besarnya dampak kerusakan akibat serangan larva D. bisaltide pada 13 aksesi handeuleum serta mekanisme pertahanan setiap aksesi handeuleum terhadap serangga tersebut. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan setiap aksesi tanaman handeuleum. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan diidentifikasi awal tingkat resistensi masing-masing aksesi tanaman handeuleum terhadap serangan larva D. bisaltide, dengan tujuan akhir akan dilakukan seleksi aksesi handeuleum berdasarkan aktivitas makan larva D. bisaltide. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2009, bertempat di BALITTRO. Rancangan yang digunakan adalah RKLT non faktorial. 13 aksesi handeuleum sebagai perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat serangan terendah terdapat pada aksesi 7 dan 13; dan tertinggi terdapat pada aksesi 2. Berdasarkan kategori resistensi, aksesi 7, 8, 12, dan 13 merupakan aksesi resisten, aksesi 2, 5, dan 9 merupakan aksesi rentan, sedangkan resistensi 6 aksesi handeuleum lainnya termasuk moderat. Kandungan alkaloid, serat, dan C organik berpengaruh langsung terhadap aktivitas makan larva D. bisaltide. Kandungan serat dapat dijadikan kriteria seleksi untuk sifat resistensi tanaman handeuleum berdasarkan aktivitas makan larva D. bisaltide.

Kata kunci: tingkat resistensi, aktivitas makan, kriteria seleksi

Abstract

The Damage because Larval of Doleschallia bisaltide (Lepidoptera: Nymphalidae) attack is a serious problem on caricature plant development. One of the solutions for carrying out larval attack is by using resistance variety. in order to get a resistant variety needed a knowledge concerning damage impact of larva D. bisaltide attack to 13 accessions of caricature plant and defense mechanism of each accession. The objectives of the research were to know the damage level on each accession. We also interest to do early investigation about resistance level of each accession to larval D. bisaltide attack. The final objectiveness of the research was doing selection for resistance trait based on feeding activity of larval of D. bisaltide. The research was done in August 2009 at BALITTRO. The experiment used Randomize Completely Block Designed with one factor, 13 caricature plant accessions as treatment. The result showed that the lowest attack level were on accession 7 and accession 13, while the highest were on accession 2. The accession 7, 8, 12, and 13 was putatif resistance, accession 2, 5, and 9 was susceptible, and the

others were middle resistance level. Alkaloid, cellulose, and c organic contents influenced feeding activity of D. bisaltide larva. Cellulose content can be used as selection criteria for resistance trait based on feeding activity of D. bisaltide.

Key words:resistance level, feeding activity, selection criteria

Dokumen terkait