• Tidak ada hasil yang ditemukan

NOMOR 189 PK/PDT/2009

C. Analisis Hukum Terhadap Dasar Pertimbangan Hakim

Setelah kasus tersebut dideskripsikan selanjutnya akan dilakukan analisis hukum dengan memberikan argumentasi-argumentasi hukum (legal reasoring) terhadap kasus tersebut khususnya mengenai dasar pertimbangan Hakim tentang keabsahan kepemilikan tanah.

Pokok penting dalam pertimbangan hakim ialah tentang bukti baru yang diajukan oleh Pemohon PK yaitu :

1. Bahwa yang dipermasalahkan adalah keabsahan SHM (Sertipikat Hak Milik) No. 6036/Cilandak apakah benar sebagai pengganti SHM 897/Cilandak. Ada 2 (dua) transaksi terhadap Ny. Nelly Moeljono yaitu terhadap Pemohon PK/Pembantah dan terhadap Termohon PK II.

2. Bahwa SHM 6036 Cilandak adalah cacat hukum karena SHM 897/Cilandak telah dialihkan dengan akte 16 dan ditambah akta 17. Oleh pemilik SHM 897 akan dicabut. Kemudian direkayasa SHM itu

seolah-olah hilang, lapor ke Polisi dan minta dibuatkan SHM yang baru yaitu SHM 6036/Cilandak.

3. Dengan dasar jual beli Ny. Nelly Moeljono Soebandi dengan Pemohon PK tidak sah karena transaksi semula belum dibatalkan.

4. Bahwa dalam SHM 6036/Cilandak pun tidak menyebut pengganti SHM semula No. 897 yang dianggap hilang.

5. Jika pemohon PK benar secara fisik menguasai objek perkara, mengapa tidak mengikutsertakan Ny. Nelly selaku penjual, dan Bank Niaga sebagai pihak yang berkeepentingan memberi kredit dengan jaminan SHM 6036/Cilandak tersebut.

Peninjauan kembali merupakan upaya hukum luar biasa yang dimaksudkan untuk memperbaiki kesalahan atau kekeliruan putusan Pengadilan tingkat yang lebih rendah oleh Pengadilan yang lebih tinggi, di mana kesalahan atau kekeliruan tersebut merupakan kodrat manusia, termasuk Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara. Menyadari kemungkinan adanya kesalahan atau kekeliruan tersebut, maka Undang-Undang memberikan kesempatan dan sarana bagi para pencari keadilan untuk memperoleh keadilan sesuai dengan tahapan hukum acara yang berlaku.

Pemeriksaan peninjauan kembali putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dalam perkara perdata diatur dalam Pasal 66 s/d 77 Undang-Undang No.14 Tahun 1985 jo Undang-Undang No.5 Tahun 2004 jo Undang-Undang No.3 Tahun 2009, sedangkan dalam perkara pidana diatur dalam Pasal 263 s/d 269 Undang-Undang No.8 Tahun 1981 tentang hukum acara

pidana. Baik permohonan/permintaan peninjauan kembali yang diatur dalam perkara perdata maupun yang diatur dalam perkara pidana, hanya dapat diajukan 1 (satu) kali sebagaimana ditentukan dalam Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang 14 Tahun 1985 dan Pasal 268 ayat (3) Undang-Undang No.8 Tahun 1981. Hal ini dipertegas lagi dalam Pasal 24 ayat (2) Undang-Undang No.48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, bahwa terhadap putusan peninjauan kembali tidak dapat dilakukan peninjauan kembali.

Menurut ketentuan Pasal 67 Undang-Undang No.14 Tahun 1985 jo Undang-Undang No.5 Tahun 2004 jo Undang-Undang No.3 Tahun 2009, permohonan peninjauan kembali putusan perkara perdata yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat diajukan hanya berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut :

a. Apabila putusan didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti-bukti yang kemudian oleh Hakim pidana dinyatakan palsu.

b. Apabila setelah perkara diputus ditemukan surat-surat bukti yang bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa tidak dapat ditemukan.

c. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih daripada yang dituntut.

d. Apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab-sebabnya.

e. Apabila antara pihak-pihak yang sama mengenai suatu soal yang sama, atas dasar yang sama oleh Pengadilan yang sama atau sama tingkatnya telah diberikan putusan yang bertentangan satu dengan yang lain.

f. Apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang nyata;

Dalam hal ini dasar pertimbangan hakim tersebut telah sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku karena novum yang diajukan Pemohon PK tidak dapat dibenarkan dengan alasan sebagai berikut :

- PK I pengaduan/Laporan Polisi tidak relevan, tidak ada sangkut paut - PK II putusan PN tidak ada sangkut paut dengan Pemohon PK - PK III pembatalan akte no. 16 dan 17 dalam tidak lanjut putusan PN - PK IV tidak menyangkut nama Pemohon PK

- PK V pernyataan N.T. Moeljono akan mencabut berhubung dengan Turut Terbantah

- PK VI tidak ada sangkut paut dengan Pemohon PK

- PK VII Sertipikat hak tanggungan seluruhnya dengan SHM 6036, tidak menyangkut pihak perkara.

Sehingga sudah sepatutnya hakim menolak semua peninjauan kembali yang diajukan oleh pemohon PK tersebut.

BAB IV

AKIBAT HUKUM PERDATA PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NO. 189 PK/PDT/2009

A. Akibat Hukum dari Putusan Mahkamah Agung No. 189 PK/PDT/2009 Akibat hukum adalah akibat suatu tindakan yang dilakukan untuk memperoleh suatu akibat yang dikehendaki oleh pelaku dan yang diatur oleh hukum. Tindakan yang dilakukannya merupakan tindakan hukum yakni tindakan yang dilakukan guna memperoleh sesuatu akibat yang dikehendaki hukum.66

Lebih jelas lagi bahwa akibat hukum adalah segala akibat yang terjadi dari segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh subyek hukum terhadap obyek hukum atau akibat-akibat lain yang disebabkan karena kejadian-kejadian tertentu oleh hukum yang bersangkutan telah ditentukan atau dianggap sebagai akibat hukum.67

Putusan Majelis Hakim pada Gugatan nomor 189 PK/PDT/2009 ialah menolak permohonan peninjauan kembali karena tidak beralasan menurut hukum sehingga harus ditolak.

Akibat hukum dari putusan tersebut Majelis hakim memutuskan untuk menolak peninjauan kembali yang diajukan oleh ASTUTI BUDI UTAMI, dengan menyatakan bahwa SHM No. 6036/Cilandak adalah cacat hukum, karena SHM 897/Cilandak telah dialihkan dengan akta 16 dan ditambah akta 17 oleh pemilik

66 R.Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2009, hal. 295

67 Pipin Syarifin, Pengantar Ilmu Hukum, Bandung: Pustaka setia, 1999, hal. 71

SHM 897/Cilandak sehingga SHM itu seolah-olah hilang, kemudian dilapor ke Polisi dan minta dibuatkan SHM yang baru yaitu SHM 6036/Cilandak. Dengan demikian sertifikat SHM No. 6036/Cilandak tersebut dibatalkan.

Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatigade) dapat dijumpai baik dalam hukum perdata maupun pidana. Kedua konsep perbuatan melawan hukum tersebut memperlihatkan perbedaan dan persamaan antara lain yaitu:68

1. Perbuatan melawan hukum perdata:

a. Perbuatan melawan hukum perdata dimaksudkan untuk melindungi kepentingan individu

b. Akibat dari adanya perbuatan melawan hukum perdata adalah meniadakan kerugian dari pihak yang dirugikan

2. Perbuatan melawan hukum pidana

a. Perbuatan hukum pidana dimaksudkan untuk melindungi kepentingan masyarakat umum.

b. Akibat dari adanya perbuatan melawan hukum pidana adalah pemidanaan dari individu yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat umum karena adanya tindak pidana yang dilakukan.

Dari perbuatan melawan hukum tersebut diatas dapat dilihat bahwa Nyonya Nelly Moeljono Soebandi ini telah melakukan perbuatan melawan hukum yaitu dengan membuat laporan kehilangan untuk penerbitan sertipikat baru tetapi dengan rekayasa atau memberikan keterangan yang tidak benar seolah-olah sertipikat tersebut hilang kenyataannya sertipikat hak milik Nomor 897/Cilandak

68 Rosa Agustina, Ringkasan Disertasi Perbuatan Melawan Hukum, Program Doktor Universitas Indonesia, hal 15

tersebut telah dialihkan kepada Tuan Heru Setia Budi dengan Nomor akta 16 dan 17.

Beberapa tuntutan yang dapat diajukan karena perbuatan melawan hukum antara lain:69

1. Ganti rugi dalam bentuk uang atas kerugian yang ditimbulkan

2. Ganti rugi dalam bentuk natural atau dikembalikan dalam keadaan semula 3. Pernyataan bahwa perbuatan yang dilakukan adalah melawan hukum 4. Melarang dilakukannya perbuatan hukum.

Kasus pemilikan sertipikat ganda ini tentu salah satu dari sertipikat tersebut adalah palsu, dimana dalam perbuatan melawan hukum memiliki tanah secara tidak sah dengan memalsukan sertipikat tanah dengan pemilikan tidak sah atau hanya penguasaan secara tidak sah sangat bergantung pada tindakan dan situasi sekeliling pelaksanaan perbuatan tersebut, akan tetapi, sering kali ada beberapa faktor dominan dalam tindakan pelaku yag dapat dipertimbangkan, faktor dominan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Apakah pelaku beritikad baik

2. Sejauh mana kerusakan terhadap benda milik orang lain tersebut

3. Sejauh mana dominasi penguasaan pelaku atas benda orang lain tersebut.

4. Sejauh mana kerugian material dan ketidaknyamanan terhadap korban.70

69 Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 1996, hal 40

70Munir Fuady, Perbuatan Melawan Hukum, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2010, hal.

58