• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISA DATA

5.2 Analisis Implementasi Program Kerajinan Tangan

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner tentang kategori daerah Brayan Bengkel sebagai daerah marginal/miskin di pinggiran kota menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan setuju daerah tersebut dikategorikan sebagai daerah marginal/miskin di pinggiran kota. Kategori masyarakat miskin dapat dilihat dari ketidakberdayaan memenuhi kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, ketidakberdayaan melakukan kegiatan usaha produktif (unproductiveness), ketidakberdayaan menjangkau sumber daya sosial dan ekonomi (inacceribility), dan ketidakberdayaan membebaskan diri dari mental budaya miskin serta senantiasa merasa mempunyai martabat dan harga diri yang rendah (Sumodiningrat, dalam Makmun, 2008:5).

Berdasarkan data PT KA Sumut, mereka yang tercatat menduduki bangunan di kawasan Brayan Bengkel di antaranya 108 keluarga pegawai aktif, 234 pensiunan karyawan, 85 keluarga anak pensiunan, dan pihak swasta. Selebihnya, warga yang tidak jelas identitasnya (Kompas, Harian. 2009). Keadaan lain yang dapat mendukung, berdasarkan Surat Penetapan Lokasi Kegiatan PNPM Mandiri Tahun 2008 No: B.189/MENKO/KESRA/15/2007 terdiri atas Kelurahan Brayan Bengkel dan Kelurahan Brayan Kota. Kriteria lain yang mendukung daerah Brayan Bengkel dikategorikan sebagai daerah marginal/miskin di pinggiran kota dapat dilihat dari potensi yang ada seperti kepadatan penduduk, sumber air minum, bahan bakar, kebersihan, keberadaan MCK, keadaan lain seperti rendahnya pendapatan masyarakat kebanyakan dari responden adalah ibu rumah tangga dan janda yang tidak punya pekerjaan karena dipecat dari pekerjaan

mereka. Hal ini tentu menjadi kendala bagi masyarakat binaan Brayan Bengkel tersebut untuk dapat hidup dengan layak.

Tabel 3

Distribusi Responden Tentang Program Kerajinan Tangan Sebagai Program Pengentasan Kemiskinan

No Tanggapan Responden F %

1 Mengetahui 14 77,67

2 Kurang mengetahui 4 22,33

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Data pada tabel 3 ini menunjukkan mayoritas responden yakni sebanyak 14 orang (77,67%) menyatakan bahwa program kerajinan tangan sebagai program pengentasan kemiskinan sangat tepat dengan berbagai alasan yang intinya program ini dapat membantu pendapatan keluarga yang kurang. Menurut beberapa responden dengan alasannya mereka sangat mengharapkan bantuan modal berupa uang dari Yayasan Cordia Caritas Medan sehingga dapat lebih mandiri kedepannya dan tidak hanya bahan material dan pelatihan yang dapat diberikan.

Dalam hal ini salah satu tujuan pelaksanaan program kerajinan tangan yaitu mampu mengangkat martabat masyarakat Brayan Bengkel. Secara tidak langsung program ini mengangkat martabat masyarakat binaan Brayan Bengkel karena mampu meningkatkan ketrampilan ibu rumah tangga dan janda yang tidak memiliki pekerjaan.

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner seluruh responden sebanyak 18 orang (100,00%) mengatakan bahwa pelatihan kerajinan tangan yang diberikan pelatih adalah sesuai dengan bidang usaha yang akan dijalankan, dan tidak ada responden yang menganggap kurang sesuai dengan bidang usaha yang akan dijalankan. Seluruh responden sangat setuju bahwa pelatihan kerajinan tangan sangat tepat karena keseluruhan responden yang wanita sangat berminat dengan kegiatan-kegiatan kerajinan tangan. Menurut mereka dalam proses pelatihan kerajinan tangan memang sudah menambah pendapatan mereka, hal tersebut dapat dilihat bahwa mereka menerima upah apabila dapat menghasilkan produk kerajinan tangan.

Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa keseluruhan responden (100%) mengikuti pelatihan kerajinan tangan yang diadakan oleh Yayasan Cordia Caritas Medan. Seluruh responden sangat antusias mengikuti pelatihan ini, dimana mereka berharap dengan mengikuti pelatihan kerajinan tangan ini dapat meningkatkan pendapatan mereka. Adapun pelaksanaan program kerajinan tangan diselenggarakan di Aula Geraja St Paulus Brayan Bengkel Jl. Asrama no 11 selama 6 bulan pada tanggal 6 Agustus 2007 sampai 20 Desember 2007 (Tambunan, 2007: 1-3).

Tabel 4

Distribusi Responden Tentang Frekuensi Pelatihan Kerajinan Tangan

No Frekuensi pelatihan per minggu f %

1 3 kali mengikuti pelatihan 16 88,88

2 2 kali mengikuti pelatihan 2 12,22

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Data pada tabel 4 menunjukkan mayoritas responden sebanyak 16 orang (88,88%) setiap minggunya mengikuti 3 (tiga) kali sesi pertemuan dengan pelatih dan 2 orang (12,22) kurang dari 3 kali sesi pertemuan. Hal ini menunjukkan keseriusan masyarakat binaan Brayan Bengkel dalam mendapat pengetahuan dan ketrampilan dalam kerajinan tangan.

Berdasarkan data yang didapat peneliti dari Cordia Caritas Medan bahwa jadwal yang ditentukan adalah 6 bulan pelatihan dan setiap peserta pelatihan mengikuti sesi seminggu sebanyak 3 (tiga) kali sehingga dapat memperoleh hasil yang maksimal. Alasan responden yang menjawab 2 kali mengikuti pelatihan kerajinan tangan dikarenakan mereka sibuk dengan keperluan yang lain sehingga membuat mereka tidak sempat untuk mengikuti pelatihan sebanyak 3 kali.

Melalui penelitian ini perlu diketahui jawaban responden tentang waktu yang dibutuhkan untuk satu kali pertemuan pelatihan kerajinan tangan. Dari data tersebut diketahui bahwa keseluruhan responden sebanyak 18 orang (100%) mengatakan waktu yang dibutuhkan yaitu berkisar 3 jam tiap kali pertemuan dengan pelatih. Menurut ketentuan Yayasan Cordia Caritas Medan bahwa kurang

lebih tiga jam dalam setiap pertemuan agar sesuai dengan tujuan Yayasan Cordia Caritas Medan agar masyarakat binaan Brayan Bengkel dapat mahir membuat berbagai hasil kerajinan tangan.

Tabel 5

Distribusi Responden Berdasarkan Bentuk Pelatihan Kerajinan Tangan

No Bentuk Pelatihan f %

1 Teori 2 11,12

2 Praktek 16 88, 88

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Data pada tabel diatas menunjukkan hampir keseluruhan responden sebanyak 16 orang (88.88%) mengatakan bentuk pelatihan kerajinan tangan yang diberikan adalah praktek, sedangkan tanggapan responden yang menyatakan bahwa pelatihan dalam bentuk teori saja sebanyak 2 orang (11,22). Bentuk pelatihan kerajinan tangan sangat tepat jika setiap masyarakat binaan serius dan benar ingin mengetahui cara membuat kerajinan tangan.

Dalam memberikan pelatihan sebaiknya terlebih dahulu memberikan ceramah berupa teori-teori membuat kerajinan tangan sehingga masyarakat binaan mendapat modal yang cukup untuk dapat mempraktekkan. Data pada tabel 5 dapat digambarkan bentuk pelatihan kerajinan tangan dengan memberikan ceramah dan kemudian praktek sudah sangat tepat untuk meningkatkan kapasitas ketrampilan mereka namun semua itu tidak terlepas dari kesungguhan setiap responden untuk belajar.

Tabel 6

Distribusi Responden Mengenai Perbandingan Bentuk Pelatihan

No Perbandingan Teori dan Praktek f %

1 20 :80 8 44,44

2 30 : 70 5 27,78

3 40 : 60 5 27,78

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Data pada tabel 6 ini menunjukkan mayoritas responden yang menjawab perbandingan antara 20:80 yakni sebanyak 8 orang (44,44%), yang menjawab 30:70 sebanyak 5 orang (27,78%), sedangkan yang menjwab 40:60 sebanyak 5 orang (27,78). Mereka menyatakan bahwa perbandingan praktek lebih dominan dengan teori. Dari data di atas maka diketahui bahwa responden banyak mendapatkan praktek seperti membuat tas, tikar dan kotak tisu. Jika dilihat dari pelaksanaan pelatihannya maka ceramah-ceramah yang diberikan adalah teori-teori membuat membuat tikar, tas, dan lain-lain yang kemudian pelatih langsung membimbing masyarakat binaan Brayan Bengkel dalam mempraktekkan membuat tas, tikar, dan kerajinan tangan lainnya.

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner tentang kesesuaian materi pelatihan kerajinan tangan terhadap kebutuhan menunjukkan keseluruhan responden (100%) menyatakan bahwa materi yang diberikan sewaktu pelatihan sudah sesuai dengan kebutuhan mereka. Responden selalu dibimbing dan diberikan pelatihan insentif oleh pelatih dan diharapkan ada peningkatan kualitas dan ketrampilan sumber daya manusia sesuai dengan tujuan jangka panjang program yaitu

masyarakat binaan diharapkan dapat mandiri. Hal ini dapat kita lihat dengan berhasilnya tujuan dalam pelaksanaan program kerajinan tangan yaitu optimalnya kinerja pelatih dalam memberikan materi-materi sehingga secara langsung dapat mempengaruhi kesuksesan program ini.

Tabel 7

Distribusi Responden Berdasarkan Hasil KerajinanTangan

No Hasil Kerajinan F %

1 Kerajinan Tas, Kotak Tisu, Frame 10 55.56

2 Kerajinan Tikar, Tas. 4 22.22

3 Kerajinan Keranjang, Kotak Tisu, Tas 4 22,22

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Data pada tabel 7 menunjukkan responden mampu untuk menghasilkan kerajinan tas, kotak tisu, dan frame sebanyak 10 orang (55,56%), kemudian responden yang mampu menghasilkan kerajinan tikar dan tas sebanyak 4 orang (22,22%), sedangkan responden yang dapat menghasilkan kerajinan keranjang, kotak tisu, dan tas sebanyak 4 orang (22,22%). Adanya perbandingan jenis hasil kerajinan tangan para responden disebabkan karena sebagian responden lebih tertarik dengan kerajinan tangan yang telah mereka hasilkan masing-masing, dengan alasan lebih mudah dalam pengerjaannya. Oleh karena itu Yayasan Cordia Caritas bisa dikatakan berhasil dalam meningkatkan kualitas dan keterampilan sumber daya masyarakat binaan Brayan Bengkel, hal ini dapat dilihat dari kemampuan dari seluruh responden yang dapat menghasilkan produk-produk kerajinan tangan.

Tabel 8

Distribusi Responden Berdasarkan Waktu Yang Diperlukan Membuat Kerajinan Tangan

No Waktu yang diperlukan f %

1 3 Minggu membuat kerajinan tangan 10 55.56 2 > 3 Minggu membuat kerajinan tangan 8 44.44

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Data pada tabel diatas menunjukkan mayoritas responden mampu membuat sebuah kerajinan tangan selama 3 minggu sebanyak 10 orang (55,56%), sedangkan responden yang mampu menghasilkan kerajinan tangan dalam waktu 3 minggu lebih sebanyak 8 orang (44,44%). Dari data diatas maka pelaksanaan program kerajinan tangan bisa dikatakan berhasil karena ketrampilan membuat kerajinan tangan dapat ditransformasikan kepada masyarakat binaan dalam waktu yang tidak terlalu lama, karena seluru responden dengan mudah memahami bentuk pelatihan kerajinan tangan yang diberikan oleh pelatih. Dengan kemampuan responden tersebut maka akan sangat membantu untuk mengembangkan kemampuan mereka secara mandiri.

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan peneliti dapat diketahui bahwa seluruh responden diberikan bantuan modal kepada masyarakat binaan Brayan Bengkel. Keseluruhan responden berpendapat bahwa mereka sangat mengharapkan bantuan berupa uang yang lebih sehingga mereka dapat lebih mandiri dalam menjalankan usaha kerajinan tangan ke depannya. Menurut

masyarakat binaan Brayan Bengkel bantuan modal yang diberikan masih sangat kecil sehingga tidak cukup untuk mengembangkan usaha kerajinan tangan yang dapat meningkatkan pendapatan mereka.

Tabel 9

Distribusi Responden Tentang Jumlah Bantuan Modal Yang Diberikan

No Jumlah Modal (perbulan) f %

1 Rp. 50.000-70.000 4 22,22

2 Rp. 80.000-Rp.90.000 10 55,56

3 >Rp.90.000 4 22,22

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Berdasarkan tabel 9 menunjukkan jumlah bantuan yang diberikan berkisar antara Rp. 80.000-Rp.90.000 perbulan sebanyak 10 orang (55.56%), sedangkan responden yang diberikan modal berkisar Rp. 50.000-Rp 70.000 sebanyak 4 orang (22,22%) sama dengan responden yang menerima bantuan lebih dari Rp. 90.000. Melihat jumlah modal yang diberikan bisa dikatakan modal tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari responden, namun Yayasan Cordia Caritas Medan juga memberikan bahan-bahan material seperti rotan, eceng gondok, daun pandan, dan bahan lainnya guna memenuhi perlengkapan dalam pelatihan kerajinan tangan.

Tabel 10

Distribusi Responden Tentang Pemanfaatan Modal

No Tanggapan Responden f %

1 Modal dapat dimanfaatkan secara maksimal 6 33.33 2 Modal kurang dapat dimanfaatkan secara maksimal 12 66.67

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Berdasarkan tabel 10 menunjukkan mayoritas responden sebanyak 12 orang (66.67%) mengatakan bahwa modal yang diberikan tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Modal uang sebesar Rp. 80.000 tentu sangat tidak cukup untuk mengembangkan usaha kerajinan tangan, sedangkan responden yang mengatakan bahwa modal yang diberikan dapat dimanfaatkan secara maksimal sebanyak 6 orang (33,33%).

Hasil kerajinan yang dihasilkan dalam pelatihan tersebut kemudian diberikan kepada Yayasan Cordia Caritas Medan yang kemudian didistribusikan oleh Pusat Sentra kerajinan tangan yang berada di Jalan Sei Asahan no. 42 Medan untuk dipasarkan dan dijual, hasil kerajinan tersebut diganti berupa uang sebagai upah mereka dan Cordia Caritas Medan mengharapkan kedepannya mereka dapat mandiri sehingga dapat meningkatkan ekonomi keluarga.

TABEL 11

No Tanggapan Responden f %

1 Kurang dapat dimanfaatkan 11 61.12

2 Tidak dapat dimanfaatkan 7 38.88

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Berdasarkan pada tabel 11 menunjukkan mayoritas responden sebanyak 11 orang (61.12%) mengatakan bahwa hubungan kerjasama sesama anggota kelompok tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat binaan Brayan Bengkel. Pernyataan ini didukung karena alasan tempat tinggal mereka agak jauh dan mereka juga mengatakan bahwa pelatihan ini hanya sebagai kegiatan menghabiskan waktu kosong mereka, karena sebelum adanya pelatihan kerajinan tangan seluruh responden tidak memiliki pekerjaan, sampai selesai pelatihan tersebut hubungan kerjasama dengan anggota lainnya tidak berlanjut dan hanya ketika pelatihan berlangsung saja.

Sampai penutupan pelatihan dibulan Desember 2007 mereka masih merasa bahwa mereka tidak terampil penuh dan masih memerlukan bahan mentah unutk menghasilkan lebih banyak hasil kerajinan tangan, jadi mereka masih bekerja untuk menghasilkan berbagai jenis hasil anyaman pandan dan eceng gondok dirumah.

Distribusi Penghasilan Responden Sebelum Adanya Program Kerajinan Tangan No Penghasilan Responden f % 1 <Rp. 250.000 perbulan 3 16.67 2 Rp. 250.000-Rp.300.000 perbulan 15 83.33 Jumlah 18 100 Sumber : Kuisioner 2009

Berdasarkan pada tabel 12 menunjukkan bahwa keadaan pendapatan mereka sebelum adanya program kerajinan tangan sangat memprihatinkan alasannya adalah karena meraka tidak mempunyai pekerjaan. mayoritas responden dalam memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari sebanyak 15 orang (83,33%) mengandalkan dari berjualan makanan kecil dan setiap bulannya mendapatkan uang berkisar antara Rp. 250.000-Rp.300.000 perbulan. Setelah adanya program kerajinan tangan masyarakat binaan Brayan Bengkel berharap tingkat penghasilan mereka semakin lebih baik. Kondisi keuangan yang demikian tentu sangat sulit untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan hidupnya, apalagi dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini .

Distribusi Penghasilan Responden Setelah Adanya Program Kerajinan Tangan No Penghasilan Responden f % 1 Rp. 250.000-Rp.300.000 perbulan 1 5.56 2 >Rp.300.000 perbulan 17 94.44 Jumlah 18 100 Sumber : Kuisioner 2009

Berdasarkan pada tabel 13 menunjukkan tanggapan responden tentang peningkatan pendapatan masyarakat binaan Brayan Bengkel setelah menerima program kerajinan tangan. Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa penghasilan responden lebih dari Rp. 300.000 perbulan sebanyak 17 orang (94,44%), dapat dilihat adanya pengaruh peningkatan pendapatan responden yang naik berkisar Rp. 50.000-Rp.100.000, memang keseluruhan responden meningkat pendapatannya, namun belum ada peningkatan pendapatan yang signifikan karena mereka belum bisa mandiri dan bisa dikatakan mereka hanya diupah sebagai pekerja untuk menghasilkan produk kerajinan tangan. Responden sangat mengharapakan diberikan bantuan modal yang lebih, sehingga dengan modal tersebut responden dapat meningkatkan pendapatn mereka.

Distribusi Responden Berdasarkan Status Kepemilikan Rumah

No Status Kepemilikan Rumah f %

1 Rumah sendiri 16 88,88

2 Sewa 2 11,12

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Dari tabel diatas menunjukkan sebanyak 16 orang (88,88%) responden mempunyai rumah sendiri, sedangkan hanya 2 orang (11,12%) menyewa rumah. Dari data tersebut menunjukkan bahwa status kepemilikan rumah responden sudah dapat dikatakan sejahtera, karena hampir keseluruhan mempunyai rumah sendiri. Adapun responden yang memiliki rumah sendiri kebanyakan adalah hasil warisan orangtua, sedangkan responden yang menyewa rumah adalah responden yang ekonominya sangat lemah, hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah sangat sulit ditambah lagi dengan biaya sewa rumah tiap bulannya.

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Rumah No Jenis Rumah f % 1 Permanen 15 72,22 2 Semi permanen 3 27,78 Jumlah 18 100 Sumber : Kuisioner 2009

Dari tabel 15 menunjukkan bahwa terlihat dari segi jenis rumah yang mereka tempati sudah tergolong baik, dengan mayoritas responden sebanyak 15 orang (72,22%) memiliki jenis rumah yang permanen, sedangkan responden yang memiliki jenis rumah semi permanen sebanyak 3 orang (27,78%) memiliki jenis rumah semi permanen. Dilihat dari jenis rumah yang ditempati oleh responden merupakan tempat tinggal yang dapat memberi kenyamanan bagi mereka dan yang penting mempunyai sebuah tempat tinggal untuk berlindung.

Tabel 16

Distribusi Responden Tentang Kepemilikan MCK

No Distribusi Responden F %

1 Ada 17 94,44

2 Dalam perbaikan 1 5,56

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Pada tabel 16 menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 17 orang (94,44%) menyatakan bahwa mereka sudah memiliki fasilitas MCK. Data diatas menunjukkan bahwa keseluruhan masyarakat binaan sudah menyadari bahwa kesehatan itu harus diawali dari keberadaan fasilitas MCK di dalam rumah, sedangkan untuk fasilitas air sudah cukup memadai karena kebanyakan responden menggunakan air PAM.

Berdasarkan hasil penyebaan kuesioner menunjukkan bahwa keseluruhan responden sudah dapat menikmati dan menggunakan fasilitas penerangan. Fasilitas penerangan ini diperoleh dari PT. PLN Persero. Hal ini tentu dapat membantu masyarakat binaan Brayan Bengkel dalam memperoleh informasi yang berguna untuk kehidupan mereka, seperti televisi, radio, dan lain-lain

Tabel 17

Distribusi Responden Tentang Keadaan Peralatan Rumah Tangga

No Tanggapan Responden F %

1 Memadai 5 27,78

2 Kurang memadai 13 72,22

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Berdasarkan data diatas menunjukkan tanggapan masyarakat binaan Brayan Bengkel terhadap kepemilikan peralatan rumah tangga yang dimilikinya. Tabel diatas menggambarkan mayoritas responden menyatakan bahwa peralatan rumah tangga yang dimiliki kurang memadai sebanyak 13 orang (722.22%) karena kurangnya sarana perabot rumah tangga (alat masak, meja, dan lain-lain), dan sarana hiburan seperti hanya sebagian yang memiliki telivisi sebagai sumber informasi pada masyarakat, sedangkan responden yang menyatakan bahwa peralatan rumah tangga yang dimiliki memadai sebanyak 5 orang (27,78%).

Tabel 18

Distribusi Responden Tentang Fasilitas Air Warga Binaan

No Tanggapan responden F %

1 Memadai 17 94,44

2 Kurang memadai 1 5,56

Jumlah 18 100

Sumber : Kuisioner 2009

Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa fasilitas air yang dapat dipakai oleh masyarakat binaan Brayan Bengkel sudah memadai dan mencukupi. Hal ini dapat dilihat dari mayoritas responden yang menyatakan bahwa fasilitas air yang memadai sebanyak 17 orang (94,44%), dan hanya 1 orang (5,56%) yang menyatakan kurang memadai. Dari tabel 17 menunjukkan bahwa sudah dapat menikmati dan menggunakan fasilitas air. Fasilitas air ini diperoleh dari PT. PAM JAYA.

BAB VI

PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data, maka penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai usaha menggambarkan uraian-uraian terdahulu selanjutnya mengajukan saran-saran yang merupakan sumbangan pemikiran, yaitu sebagai berikut :

1. Pelaksanaan program kerajinan tangan yang dilakukan oleh Cordia Caritas Medan bisa dikatakan berhasil, hal ini dapat terlihat di tabel 7 yang menunjukkan bahwa Cordia Caritas Medan berhasil dalam meningkatkan kualitas dan ketrampilan sumber daya masyarakat binaan Brayan Bengkel dari kemampuan mereka yang dapat menghasilkan produk-produk kerajinan tangan, kemudian partisipasi warga binaan dalam mengikuti pelatihan kerajinan tangan bisa dikatakan baik, hal ini terlihat di tabel 4 dimana mayoritas responden menghadiri pelatihan sesuai dengan jadwal yang disepakati, hal ini menunjukkan keseriusan masyarakat binaan Brayan Bengkel dalam mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam kerajinan tangan.

2. Permasalahan yang terdapat dalam pelaksanaan program kerajinan tangan ini adalah sedikitnya modal yang diberikan oleh Cordia Caritas Medan, memang keseluruhan responden mengalami peningkatan pendapatan, tetapi jumlahnya tidak terlalu besar, hal ini terlihat di tabel 13 yang

setelah adanya program kerajinan tangan. Kurangnya atau sedikitnya modal yang diberikan oleh Cordia Caritas Medan mengakibatkan masyarakat binaan Brayan Bengkel tidak dapat meningkatkan pendapatan, taraf hidup, dan kesejahteraannya secara mandiri.

6.2. Saran

Dalam pelaksanaan program kerajinan tangan dalam upaya peningkatan sosial ekonomi ternyata terlalu lamban sehingga hasilnya kurang memuaskan, adapun saran-saran yang disampaikan penulis adalah sebagai berikut:

1. Disarankan kepada Yayasan Cordia Caritas Medan agar menambah bantuan modal kepada warga binaan agar tidak terkendala membuat kerajinan tangan dan dapat meningkatkan pendapatan mereka.

2. Diharapkan kepada pihak Cordia Caritas Medan supaya terus melanjutkan kegiatan pelatihan, alasan dari saran ini karena hasil-hasil karya kerajinan tangan yang dibuat warga binaan lumayan bagus dan menarik.

3. Disarankan Bagi masyarakat binaan Brayan Bengkel agar hubungan kerjasama tetap terjalin diluar pelatihan kerajinan tangan.

Dokumen terkait