BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA
C. Analisis Intrakasus
C.1. Analisis Nenek Sri Handayani a. Hasil Observasi
Pada tiga kali pertemuan pengajian yang diikuti oleh peneliti,
peneliti hanya menemukan 2 kali pertemuan Nenek Sri mengikuti pengajian yaitu pada tanggal 27 Oktober 2014 dan tanggal 10
71
November 2014. Nenek Sri terlihat aktif ketika mengikuti pengajian. Beliau menjawab ketika Pak Ustadz memberikan pertanyaan. Beliau menjawab pertanyaan wawancara secara ramah namun ketika peneliti sedang melakukan wawancara terhadap Nenek Ning Sundasih pada tanggal 10 November 2014 yang ditempatkan di kamar yang sama yaitu kamar Asoka, Nenek Sri terlihat marah dan berkata kasar terhadap Nenek yang terkadang terkena gangguan jiwa yang memarahinya tanpa sebab.
b. Hasil Wawancara
Berdasarkan tujuan penelitian yang dilakukan yaitu untuk mengetahui pemahaman makna nikmat dan kebersyukuran serta mengetahui bentuk amalan dari perilaku bersyukur para lansia peserta pengajian kitab nashaihul ibad di PSTW Budi Mulia 1 Cipayung,
dilakukan wawancara diantaranya yaitu terhadap Nenek Sri. Menurut
Nenek Sri, nikmat yaitu semua yang didapat seperti pengetahuan dan pengalaman. Cara mensyukuri nikmat yang kita dapat yaitu diterima dengan tangan terbuka, apapun yang kita dapat dan apapun yang kita
hadapi. Dapat dipahami bahwa bersyukur menurut Nenek Sri adalah
menerima apapun dengan tangan terbuka.
Secara teori, Nenek Sri memahami bagaimana harus berperilaku syukur yaitu menerimanya apapun yang didapat maupun yang dihadapi. Kalau menerima musibah dihadapi dengan pasrah, ketika ada yang meledek tak perlu marah, kalau bersalah meminta maaf. Secara ilmu,
72
Nenek Sri dapat dikatakan bersyukur namun secara hal (keadaan) dan amal Nenek Sri belum dapat dikatakan bersyukur karena beliau tidak menerima dengan tangan terbuka ketika ada orang yang datang memarahinya sedangkan dia mengetahui bahwa orang yang memakinya sedang ada gangguan jiwa, beliau belum bisa menerima datangnya keadaan tersebut dan tidak dapat menjaga lisannya.
C.2. Analisis Kakek Nur Syamsi
a. Hasil Observasi
Setiap kali diadakan pengajian dan selama dilakukan penelitian, Kakek Nur Syamsi terlihat selalu mengikuti pengajian. Setiap mendekati waktu sholat, Kakek Nur Syamsi hadir lebih awal. Beliau mengawali dan mengakhiri kedatangan beliau dengan berdzikir. Beliau peduli terhadap sesama terlebih kepada teman sekamarnya. Hal ini teramati ketika adanya acara kunjungan anak TK ke panti dan beliau mendapatkan bingkisan dan beliau pun menanyakan apakah Kakek Tamrin mendaptkan bagian. Tak lupa pula beliau mengucapkan hamdalah ketika menerima bingkisan. Beliau juga mau berbagi nikmat dengan menawarkan kepada peneliti untuk ikut menikmati rezeki yang diterimanya.
73 b. Hasil Wawancara
Dari wawancara yang telah peneliti lakukan, menurut Kakek
yang akrab dipanggil Kakek Syamsi, beliau mengartikan nikmat
sebagai rasa puas dengan apa yang didapatkan dan wajib disyukuri dan sudah perintah dari Allah. Jawaban ini teramati ketika peneliti bertanya mengapa harus disyukuri dan beliau pun menjawab: “Ya kalau gak bersyukur mau apa lagi (sambil tersenyum), azab Allah kan amat pedih dan Allah akan menambahkan nikmat bagi orang yang bersyukur
(mata kembali berkaca-kaca).” Jadi, dalam hidup ini harus selalu
dilandasi rasa syukur karena tanpa syukur, manusia hanya merasakan penderitaan karena azab Allah amat pedih namun apabila mampu bersyukur maka akan selalu merasa bahagia dan puas dengan apa yang
didapat. Dapat dipahami bahwa bersyukur menurut Kakek Syamsi
adalah harus selalu puas dengan yang didapat berlandaskan ingat kepada Allah.
C.3. Analisis Kakek Kasmadi a. Hasil Observasi
Kakek Kasmadi hanya mengikuti 2 kali pengajian selama berlangsungnya penelitian yaitu pengajian pada tanggal 27 Oktober 2014 dan 10 November 2014.Setiap kali mengikuti pengajian, Kakek Kasmadi selalu membawa buku dan terlihat begitu memperhatikan Pak
74
Uatadz ketika menyampaiakan pengajian. Beliau selalu ikut solat berjama’ah.
b. Hasil Wawancara
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, menurut Kakek
Kasmadi nikmat adalah apa-apa yang diberikan oleh Allah. Bagi beliau hidup pun sudah termasuk nikmat dari Allah. Dalam hidup ini harus selalu bersyukur. Cara Kakek Kasmadi bersyukur yaitu dengan bertaqwa kepada Allah. Manusia diciptakan dengan segala kekurangan dan suka berkeluh kesah karena sejatinya kesempurnaan hanya milik Allah namun hal itu tidak boleh menutup cara kita untuk bersyukur kepada Allah karena dibalik dari apa yang diberikan Allah terdapat manfaat untuk kita. Kejadian-kejadian yang telah terjadi dalam kehidupan penting untuk dijadikan cermin, boleh kita menyesalinya namun kita harus tetap berusaha memperbaiki diri untuk untuk
menghadapi kehidupan yang sebenarnya yaitu di akhirat nanti. Dapat
dipahami bahwa bersyukur menurut Kakek Kasmadi adalah bertaqwa kepada Allah karena Allah telah memberikan apa yang dibutuhkan bagi hidup manusia.
C.4. Analisis Kakek Abdullah a. Hasil Observasi
Kakek Abdullah bin Karim memiliki kekurangan fisik yaitu hanya memiliki 1 kaki namun tidak terlihat raut kesedihan pada
75
wajahnya. Kekurangan pada fisiknya tidak menyurutkan niat beliau dalam beribadah. Selama dilakukan penelitian, beliau selalu terlihat mengikuti solat berjama’ah. Beliau juga terlihat selalu mengikuti pengajian.
b. Hasil Wawancara
Berdasarkan hasil wawancara, nikmat adalah segala-galanya,
sesuatu yang bagus, indah dan suatu keuntungan yang bisa dinikmati. Menurut Kakek Abdullah, bersyukur yaitu cara seorang hamba mempertanggungjawabkan segala amalan kepada Yang Maha Kuasa, segala yang terjadi dalam kehidupan dihadapi dan dilaksanakan sebaik mungkin, urusan ganjaran merupakan hak Allah semata.
C.5. Analisis Nenek Sa’adah
a. Hasil Observasi
Nenek Sa’adah merupakan salah satu lansia yang berada di PSTW Budi Mulia 1 Cipayung. Beliau ditempatkan di kamar Bougenvil. Beliau tinggal di panti bersama suaminya. Suami beliau merupakan sepupu dari suami pertama. Setelah suami pertama Nenek Sa’adah meninggal, beliau kasihan dengan kondisi iparnya yang memiliki istri lumpuh serta perekonomian yang sulit maka Nenek Sa’adah memutuskan untuk menikah dengannya. Setelah istri pertama suami beliau meninggal, beliau beserta suaminya dirujuk untuk tinggal
76
di panti. Sudah satu tahun lebih Nenek Sa’adah berada di panti bersama
suaminya.Walaupun terpisah kamar, Nenek Sa’adah tetap merawat suaminya yang kini terkena stroke. Selama dilakukan penelitian, Nenek Sa’adah selalu tampak mengikuti pengajian. Beliau juga suka berkonsultasi kepada narasumber pengajian kitab nashaihul ibad yaitu Pak Jufri jika ada permasalahan yang memberatkan batinnya.
b. Hasil Wawancara
Dari wawancara yang dilakukan, nikmat menurut Nenek
Sa’adah merupakan kemampuan dirinya melakukan segala amal soleh seperti ibadah, berbuat baik terhadap orang lain serta menjaga kesucian hati. Perilaku syukur yang beliau tunjukan kepada Allah yaitu mengingat segala nikmat yang telah sampai kepadanya serta melakukan kebaikan yang ditunjukan Allah melalui batinnya. Banyak ujian hidup yang sampai kepadanya seperti ditinggal mati oleh suami pertamanya, halangan keluarga besarnya untuk menikah dengan iparnya, dibohongi, dihina sampai dengan ujian penyakit kepada suaminya kini. Beliau merasa lelah lahir batin namun beliau kembali kuat ketika semuanya disandarkan kepada Allah. Hidup dan segala ujian yang dihadapi
dianggap olehnya sebagai bentuk kasih sayang dari Allah. Dapat
dipahami bahwa bersyukur menurut Nenek Sa’adah adalah
menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya karena itu tanda kasih sayang Allah dan berbuat sebaik mungkin baik dalam hubungannya dengan Allah maupun terhadap makhluk ciptaan-Nya.
77 C.6. Analisi Nenek Ning a. Hasil Observasi
Nenek Ning merupakan lansia yang terbilang rajin dan aktif.
Beliau aktif dalam mengikuti kegiatan yang diberikan oleh panti baik kegiatan keterampilan maupun keagamaan. Walaupun beliau berjalan sudah dibantu tongkat namun semangat beliau tidak surut. Beliau terlihat selalu mengikuti pengajian Kitab Nashaihul Ibad saat sedang dilakukannya penelitian. Terlihat raut wajah yang menenangkan dari beliau. Selain itu beliau juga sangat ramah dan santun ketika berhadapan dengan orang lain. Disaat mengikuti pengajian Kitab Nashaihul Ibad, beliau terlihat begitu khusyu. Selain itu, beliau juga senang membantu mendoakan orang-orang yang datang kepada beliau, beliau menunjukan daftar orang-orang yang minta didoakan.
b. Hasil Wawancara
Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan kepada Nenek
Ning, nikmat itu ketenangan maupun ketentraman yang dirasakan
karena terimakasih yang selalu beliau haturkan kepada Sang Kuasa. Beliau bersyukur dengan selalu berdoa kepada Allah serta selalu berterimakasih atas apa saja yang telah Allah berikan kepadanya dan menyandarkan segala sesuatu kepada Allah karena segala urusan hanya milik Allah. Beliau memahami hakikat bersyukur yaitu beliau mengetahui bahwa segala sesuatu datang dari Allah dan semua merupakan urusan Allah, beliau harus selalu berdoa dan berterimakasih
78
kepada Allah agar mendapatkan ketenangan yang memang diharapkan oleh manusia. Beliau menerima keadaan beliau yang harus menjalani masa tua dipanti. Beliau ramah, santun serta rajin khususnya dalam
beribadah. Dapat dipahami bahwa bersyukur menurut Nenek Ning
adalah berterimakasih kepada Allah dengan cara menyadari bahwa dirinya bergantung kepada Allah (selalu berdoa) sampai datang ketenangan dalam batinnya.