• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2.2 Kajian Pustaka

2.2.3 Analisis Isi (Content Analysis) .1 Pengertian Dasar Analisis Isi

Analisis isi (content analysis) adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicable) dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi (Bungin, 2008: 231). Logika dasar dalam komunikasi, bahwa setiap komunikasi selalu berisi pesan dalam sinyal komunikasinya itu, baik berupa verbal maupun non verbal. Sejauh ini, makna komunikasi menjadi amat dominan dalam setiap peristiwa komunikasi.

Pelopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang mempelopori teknik

symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi. Analisis isi tidak dapat diberlakukan pada semua penelitian sosial. Analisis isi dapat dipergunakan jika memiliki syarat berikut:

1. Data yang tersedia sebagian besar terdiri dari berbagai bahan yang terdokumentasi (buku, surat kabar, pita rekaman, naskah/manuscript). 2. Ada keterangan pelengkap atau kerangka teori tertentu yang menerangkan

tentang dan sebagai metode pendekatan terhadap data tersebut.

3. Peneliti memiliki kemampuan teknis untuk mengolah bahan/data yang dikumpulkannya karena sebagian dokumentasi tersebut sangat spesifik. Analisis isi digunakan untuk memperoleh keterangan dari isi komunikasi yang disampaikan dalam bentuk lambang. Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi, seperti surat kabar, buku, puisi, lagu, cerita rakyat, lukisan, pidato, surat, peraturan, undang-undang, musik, teater, dan sebagainya (Rakhmat, 2004: 89). Sebagai contoh, seorang peneliti mungkin ingin menganalisis isi buku belajar mandiri bagi orang tua guna menentukan jenis-jenis saran yang diberikan dalam buku tersebut.

Universitas Sumatera Utara

“Content analysis is a research technique for the objective, systematic,

and quantitative description of the manifest content of communication.”

“Analisis isi adalah teknik penelitian yang objektif, sistematis dan deskripsi kuantitatif dari apa yang tampak dalam komunikasi.”

Kendatipun banyak kritik yang dapat kita sampaikan pada definisi Berelson sehubungan perkembangan analisis isi sampai hari ini, namun catatan mengenai objektif dan sistematik dalam menganalisis isi komunikasi yang tampak dalam komunikasi, menjadi amat penting untuk dibicarakan saat ini. Salah satu tekanan Berelson dalam analisis isi, yaitu deskripsi kuantitatif, akan dibicarakan pada pembicaraan mengenai penelitian kuantitatif. Hal ini menunjukkan bahwa analisis isi adalah teknik yang bersisi ganda. analisis tersebut dapat digunakan pada teknik kuantitatif maupun kualitatif, tergantung pada sisi mana peneliti memanfaatkannya.

Analisis isi kuantitatif memfokuskan risetnya pada isi komunikasi yang tersurat (tampak atau manifest). Karena itu tidak dapat digunakan untuk mengetahui isi komunikasi yang tersirat (latent) (Kriyantono, 2010: 251). Misalnya, mengapa surat kabar A memberitakan konflik Ambon lebih banyak dari surat kabar lainnya, mengapa RCTI memberitakan isu kenaikan BBM dengan cara yang berbeda dengan TransTV, dan lainnya. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis isi yang lebih mendalam dan detail untuk memahami produk isi media dan mampu menghubungkannya dengan konteks sosial/realitas yang terjadi sewaktu pesan dibuat. Hal ini disebabkan perspektif penelitian isi media kualitatif selalu melihat pesan-pesan media (teks, simbol, gambar dan sebagainya) sebagai kumpulan simbol dan lambang representasi kultural atau budaya dalam konteks masyarakat (produk sosial dan budaya masyarakat). Inilah yang disebut dengan analisis isi kualitatif.

Dalam penelitian kualitatif, analisis isi ditekankan pada bagaimana peneliti melihat keajegan isi komunikasi secara kualitatif, pada bagaimana peneliti memaknakan isi komunikasi, membaca simbol-simbol, memaknakan isi interaksi simbolik yang terjadi dalam komunikasi. Dalam penelitian kualitatif, penggunaan analisis isi lebih banyak ditekankan pada bagaimana simbol-simbol yang ada pada komunikasi itu terbaca dalam interaksi sosial, dan bagaimana simbol-simbol itu

Universitas Sumatera Utara

terbaca dan dianalisis oleh peneliti. Dan sebagaimana penelitian kualitatif lainnya, kredibilitas peneliti menjadi amat penting. Analisis isi memerlukan peneliti yang mampu menggunakan ketajaman analisisnya untuk merajut fenomena sosial yang terbaca oleh orang pada umumnya.

Dalam analisis isi kualitatif semua jenis data atau dokumen yang dianalisis

lebih cenderung disebut dengan “text” apa pun bentuknya gambar, tanda (sign), simbol, gambar bergerak (moving image) dan sebagainya. Atau dengan kata lain yang disebut dokumen dalam analisis isi kualitatif adalah wujud representasi simbolik yang dapat direkam/didokumentasikan atau disimpan untuk dianalisis. Analisis isi kualitatif ini merujuk pada metode analisis yang integratif dan lebih secara konseptual untuk menemukan, mengidentifikasi, mengolah dan menganalisis dokumen untuk memahami makna, signifikansi dan relevansinya.

David L. Altheide (dalam Kriyantono, 2010: 251) mengatakan bahwa analisis isi kualitatif disebut pula sebagai Ethnographic Content Analysis (ECA), yaitu perpaduan antara analisis isi objektif dengan observasi partisipan. Artinya, istilah ECA adalah periset berinteraksi dengan material-material dokumentasi atau bahkan melakukan wawancara mendalam sehingga pernyataan-pernyataan yang spesifik dapat diletakkan pada konteks yang tepat untuk dianalisis. Oleh karena itu peneliti yang melakukan studi analisis isi kualitatif harus memerhatikan beberapa hal (Kriyantono, 2010: 252) :

Pertama adalah context, atau situasi sosial di seputar dokumen atau text yang diteliti. Di sini peneliti diharapkan dapat memahami the nature

(kealamiahan) dan cultural meaning (makna kultural) dari artifact (teks) yang diteliti. Contohnya, salah satu hal penting jika peneliti melakukan penelitian terhadap isi pesan media, yang harus ia pertimbangkan bahwa berita dalam surat kabar atau dalam siaran berita di televisi merupakan produk budaya dari sebuah organisasi atau lebih sederhananya berita adalah produk organisasional. Artinya, jika peneliti menganalisis isi pesan suatu pemberitaan, ia harus mempertimbangkan ideologi organisasi/institusi media massanya.

Kedua adalah process, atau bagaimana suatu produksi media/isi pesannya dikreasi secara aktual dan diorganisasikan secara bersama. Misalnya, karena

Universitas Sumatera Utara

pemberitaan di stasiun televisi adalah produk organisasional, peneliti juga harus mempertimbangkan bagaimana berita diproses. Bagaimana format pemberitaan televisi yang dianalisis tadi disesuaikan dengan keberadaan dari tim pemberitaan, bagaimana realitas objektif diedit ke dalam realitas media massa, dan sebagainya.

Ketiga adalah emergence, yakni pembentukan secara gradual/bertahap dari makna sebuah pesan melalui pemahaman dan interpretasi. Emergence ini akan membantu peneliti memahami proses dari kehidupan sosial di mana pesan tadi diproduksi. Di sini peneliti menggunakan dokumen atau teks untuk membantu memahami proses dan makna dari aktivitas-aktivitas sosial. Dalam proses ini peneliti akan mengetahui apa dan bagaimana si pembuat pesan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya atau oleh bagaimana si pembuat pesan mendefinisikan suatu situasi.

Analisis isi kualitatif bersifat sistematis, analitis tetapi tidak kaku seperti dalam analisis isi kuantitatif. Kategorisasi dipakai hanya sebagai guide, diperbolehkan konsep-konsep atau kategorisasi yang lain muncul selama proses riset. Saat ini telah banyak metode analisis yang berpijak dari pendekatan analisis isi kualitatif. Antara lain: analisis framing, analisis wacana, analisis tekstual, semiotik, analisis retorika, dan ideological criticism. Periset dalam melakukan analisis bersikap kritis terhadap realitas yang ada dalam teks yang dianalisis. Selain itu ECA mempunyai orientasi yang lebih kepada pengembangan konsep, koleksi data, dan munculnya analisis data yang mengandalkan pada kemampuan naratif dari peneliti.

Lewat analisis isi, peneliti dapat mempelajari gambaran isi, karakteristik pesan, dan perkembangan (tren) dari suatu isi (Eriyanto, 2011: 11). Peneliti tidak memusatkan perhatian pada apa yang terlihat dalam teks, tetapi makna dari teks tersebut.

Universitas Sumatera Utara 2.2.3.2 Bentuk Klasifikasi Analisis Isi

Janis membuat klasifikasi-klasifikasi untuk metode analisis isi (Bungin, 2008: 234-235) yakni sebagai berikut:

1. Analisis Isi Pragmatis (Pragmatic Content Analysis), yakni prosedur memahami teks dengan mengklasifikasikan tanda menurut sebab atau akibatnya yang mungkin timbul, misalnya berapa kali suatu kata tertentu ditulis atau diucapkan, yang dapat mengakibatkan munculnya sikap suka atau tidak suka terhadap sebuah rezim pemerintahan.

2. Analisis Isi Semantik (Semantic Content Analysis), yakni prosedur yang mengklasifikasikan tanda menurut maknanya, misalnya menghitung berapa kali kata demokrasi dijadikan sebagai rujukan sebagai salah satu pilihan sistem politik yang dianut oleh sebagian besar masyarakat dunia. Atau, misalnya yang lain, berapa kali kata Indonesia disebut oleh Obama sebagai rujukan contoh negara dengan keragaman suku, budaya dan agama, yang mampu mempersatukan semuanya dalam bingkai negara kesatuan. Secara rinci, Janis mengembangkan Analisis Isi Semantik menjadi tiga macam kategori sebagai berikut:

a) Analisis Penunjukan (Designation Analysis), yakni menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu (orang, benda, kelompok, konsep) dirujuk. Analisis model ini juga biasa disebut sebagai Analisis Isi Pokok Bahasan (Subject-Matter Content Analysis).

b) Analisis Penyifatan (Attributions Analysis), yakni menggambarkan frekuensi seberapa sering karakterisasi objek tertentu dirujuk atau disebut misalnya, referensi kepada ketidakjujuran, kenakalan, penipuan.

c) Analisis Pernyataan (Assertions Analysis), yakni menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu dilabel atau dikarakteristikkan secara khusus. Analisis ini juga disebut analisis tematik. contohnya, referensi terhadap perilaku menyontek di kalangan mahasiswa sebagai maling atau pembohong, seberapa sering Iran disebut oleh Amerika sebagai negara yang menantang himbauan masyarakat internasional dalam hal pembangunan proyek nuklir.

Universitas Sumatera Utara

3. Analisis Sarana Tanda (Sign-Vehicle Analysis), yakni prosedur mengklasifikasikan isi melalui sifat psikofisik dari tanda (misalnya menghitung frekuensi berapa kali kata cantik muncul, atau kata negara Indonesia muncul dalam sambutan Obama ketika berkunjung ke Indonesia).

2.2.3.3 Penggunaan Analisis Isi

Penggunaan Analisis isi tidak berbeda dengan penelitian kualitatif lainnya. Hanya saja, karena teknik ini dapat digunakan pada pendekatan yang berbeda (baik kuantitatif maupun kualitatif), maka penggunaan analisis isi tergantung pada kedua pendekatan ini.

Ada banyak manfaat dalam penggunaan metode analisis isi. Para peneliti telah menggunakan metode ini bukan hanya untuk mempelajari karakteristik isi komunikasi, tetapi juga untuk menarik kesimpulan mengenai sifat komunikator. Keadaan khalayak, maupun efek komunikasi. Penelitian analisis isi pernah digunakan untuk menganalisis gaya dan teknik propaganda, membandingkan kecenderungan politik media satu dengan yang lain dan sebagainya. Menurut Wimmer dan Dominick setidaknya ada lima kegunaan yang dapat dilakukan dalam penelitian analisis isi (Bungin, 2008: 188-191):

1) Menggambarkan Isi Komunikasi (Describing Communication Content) Analisis isi berfungsi untuk mengungkap kecenderungan yang ada pada isi komunikasi, baik melalui media cetak maupun eletronik. Misalnya, penelitian yang ingin mengetahui apakah pernyataan elite tertentu di media massa menggunakan gaya komunikasi politik yang agresif, menyerang pihak lain, atau submisif, yang cenderung diam atau mengalah.

1. Menguji Hipotesis tentang Karakteristik Pesan (Testing Hypothesis of Messages Characteristic)

Sejumlah peneliti analisis isi berusaha menghubungkan karakteristik tertentu dari komunikator (sumber) dengan karakteristik pesan yang dihasilkan. Sebagai contoh, Lembaga Konsumen Media tahun 1999 meneliti akurasi berita politik yang ada pada headlines sembilan surat kabar besar di Indonesia, menemukan bahwa Harian Kompas merupakan media yang paling

Universitas Sumatera Utara

akurat, memisahkan fakta dan opini, dan dilengkapi dengan data, dibanding media yang lain.

2) Membandingkan Isi Media dengan Dunia Nyata (Comparing Media Content

to the “Real World”)

Banyak analisis isi digunakan untuk menguji apa yang ada di media dengan situasi aktual yang ada di kehidupan nyata. Misalnya, membandingkan kekerasan yang ada di dunia televisi dengan kekerasan di kehidupan nyata. 3) Memperkirakan Gambaran Kelompok Tertentu di Masyarakat (Assessing the

Image of Particular Groups in Society)

Sejumlah penelitian analisis isi telah memfokuskan dan mengungkap gambaran media mengenai kelompok minoritas tertentu. Di sini analisis isi digunakan untuk meneliti masalah sosial tentang diskriminasi dan prasangka terhadap kelompok minoritas, agama tertentu, etnik, dan lain-lain. Misalnya, meneliti bagaimana orang kulit hitam ditampilkan dalam film-film Amerika. Apakah lebih sering sebagai lakon yang baik hati, atau pelaku kejahatan? Segar dan Wheelar (1971) dalam penelitiannya mendapati bahwa 75% peran utama dilakukan oleh orang Amerika kulit putih, 6% kulit hitam, dan sisanya kelompok-kelompok minoritas lainnya.

4) Mendukung Studi Efek Media Massa

Penggunaan analisis isi acapkali juga digunakan sebagai sarana untuk memulai penelitian efek media massa. Seperti dalam penelitian cultivation analysis, di mana pesan yang dominan dan tema-tema isi media yang terdokumentasi melalui prosedur yang sistematik dikorelasikan dengan studi lain tentang khalayak, penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah pesan-pesan di media massa tersebut menumbuhkan sikap-sikap yang serupa di antara para pengguna media yang berat (heavy users). Gerbner, Gross, Signorielli, Morgan, dan Jacson Beeck (1979) menemukan bahwa penonton berat TV (heavy viewers) cenderung lebih takut pada lingkungan sekitarnya. Penelitian Agenda Setting juga merupakan penelitian efek media yang diawali dengan analisis isi terhadap isi media. Di antara content analysis digunakan untuk mengetahui Agenda Media, kemudian dikorelasikan dengan Agenda

Universitas Sumatera Utara

Publik, yaitu apa yang dianggap penting oleh publik, yang datanya diperoleh melalui survei.

Berelson (dalam Krippendorf, 1993: 36-37) menyebut 17 kegunaan analisis isi, yaitu:

1. Mendeskripsikan kecenderungan-kecenderungan dalam isi komunikasi. 2. Melacak perkembangan ilmu pengetahuan.

3. Menyingkap perbedaan-perbedaan internasional dalam isi komunikasi.

4. Membandingkan media atau “level” komunikasi.

5. Memperhitungkan isi komunikasi dalam hubungannya dengan sasaran-sasarannya.

6. Mengkonstruksikan dan menerapkan standar-standar komunikasi.

7. Membantu pelaksanaan teknis penelitian (mengkode pertanyaan terbuka dalam wawancara survei).

8. Menyingkapkan teknik-teknik propaganda.

9. Mengukur “kehandalan” bahan-bahan komunikasi.

10.Menemukan gambaran-gambaran stylistik.

11.Mengidentifikasi niat-niat (intentions) dan karakteristik lain komunikator. 12. Menggambarkan keadaan psikologis seseorang atau kelompok.

13.Mendeteksi eksistensi propaganda (terutama untuk tujuan yang legal). 14.Melindungi intelijensi politik dan militer.

15.Merefleksikan berbagai sikap, kepentingan dan nilai (pola-pola kultural) berbagai kelompok masyarakat.

16.Mengungkapkan fokus perhatian.

17.Mendeskripsikan respons yang berbentuk sikap dan perilaku terhadap komunikasi.

2.2.3.4 Kelebihan dan Keterbatasan Analisis Isi

Bungin (2008: 192-193) mengungkapkan bahwa penggunaan analisis isi memiliki kelebihan dan keterbatasan. Kelebihan utama metode analisis isi adalah tidak digunakannya manusia sebagai subjek penelitian. Hal ini menyebabkan penelitian relatif lebih mudah, tidak ada reaksi dari populasi ataupun sampel yang diteliti karena tidak ada orang yang diwawancarai, diminta mengisi kuesioner,

Universitas Sumatera Utara

ataupun diminta datang ke laboratorium. Analisis isi juga relatif murah, tidak terbentur masalah perizinan penelitian. Bahan-bahan penelitian mudah didapat terutama di perpustakaan-perpustakaan, atau di bagian dokumentasi audio visual. Biaya untuk coder relatif lebih murah dibandingkan biaya operasional pengumpul data untuk survei.

Kekurangan analisis isi terpenting adalah ia hanya meneliti pesan yang tampak, sesuatu yang disembunyikan dalam pesan bisa luput dari analisis isi. Oleh karena itu, analisis isi kualitatif seperti semiotic, discourse, analisis framing, ataupun textual analysis dapat menutupi kekurangan ini. Kekurangan terpenting lain adalah kesulitan menentukan media atau tempat memperoleh pesan-pesan yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Meneliti berita kerusuhan, misalnya, akan kesulitan jika kita menetapkan pengambilan sampel medianya secara random, baik sistematis maupun simple random. Karena tidak semua media yang dipilih secara random itu ada berita kerusuhannya.

Kelemahan lain, adalah bahwa pesan komunikasi tidak selamanya merefleksikan fakta, terkadang memang ada usaha untuk membelokkan dunia simbolis yang ada di media (pesan) dari realitas yang sesungguhnya. Karena itu untuk penelitian analisis isi yang bertujuan untuk memahami realitas sosial, penelitian ini perlu dikonfirmasi dengan penelitian lainnya.

Dokumen terkait