Universitas Sumatera Utara BIODATA PENELITI
Nama lengkap : Delilawati Tumangger
Tempat/Tanggal Lahir : Sidikalang, 05 Januari 1994
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jalan Bunga Kantil XXI No.2E, Padang Bulan, Medan
Orangtua
Ayah : Koting Tumangger
Ibu : Pida Nainggolan
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : 2001 – 2006 SDN 030288 Sidikalang 2006 – 2009 SMPN 3 Sidikalang 2009 – 2012 SMAN 1 Sidikalang
2012 – 2016 Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU Organisasi : Ikatan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (IMAJINASI)
Anggota
2012 – 2016
Ikatan Mahasiswa Dairi (IMADA)
Anggota
Universitas Sumatera Utara KEMENTERIAN RISET,TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSTAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
Jalan Prof. A. Sofian No.1 Kampus USU Medan 20155 Telepon/Fax: (061) 8217168
Minimal pertemuan 6 (enam) untuk setiap pembimbing
Diketahui oleh Dosen Pembimbing
Bimbingan dan ACC Bab I, II dan III
Bimbingan Bab IV
Bimbingan Bab IV
Bimbingan Bab IV dan V
Bimbingan Bab IV dan V
Universitas Sumatera Utara DAFTAR REFERENSI
Ardianto, Elvinaro dan Bambang Q-Anees. (2007). Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Ardianto, Elvinaro dan Lukiati Komala Erdinaya. (2004). Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Baran, Stanley J. (2012). Pengantar Komunikasi Massa: Melek Media & Budaya. Jakarta: Erlangga.
Basrowi. (2005). Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Bulaeng, Andi. (2004). Metode Penelitian Komunikasi Kontemporer. Yogyakarta: Andi.
Bungin, Burhan. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Cangara, Hafied. (2005). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Changhee, Park. (1995). Ideological Representations of Gender in Television: Ideological and Structuralist Semiotic Analysis of Korean Television Drama. Dissertation. Columbus: Ohio State University.
Choi, Joon-Sik. (2007). Understanding Koreans and Their Culture. Seoul: Her One Media.
Choi, Junghwa dan Hyang-Ok Lim. (2007). This Is Korea: All You Ever Wanted To Know About Korea. Seoul: Newrun.
De Mente, Boye. (2008). Etiquette Guide to Korea: Know The Rules That Make Difference. Singapore: Tuttle Publishing.
Eriyanto. (2011). Analisis isi: Pengantar Metodologi Untuk Penelitian Ilmu Komunikasi dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.
_______ . (2001). Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.
Hunggyu, Kim. (1997). Understanding Korean Literature. (Robert J. Fouser. Penerjemah). United States of America: An East Gate Book.
Jong, Yoo Tae. (1997). Korean Cultural Heritage. (Julie Pickering. Penerjemah). Seoul: Moonhwa Printing Co.
Universitas Sumatera Utara
Kriyantono, Rachmat. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Kuswandi, Wawan. (1996). Komunikasi Massa: Sebuah Analisis Isi Media Televisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Layanan Informasi dan Kebudayaan Korea. (2012). KOREA: Dulu & Sekarang. Seoul: Kementerian Budaya, Olahraga dan Pariwisata.
Liliweri, Alo. (2011). Komunikasi: Serba Ada Serba Makna. Jakarta: Kencana. Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Morissan. (2008). Manajemen Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio & Televisi. Jakarta: Kencana.
Mulyana, Deddy. (2010). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
______________. (2003). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Narwoko, J Dwi & Bagong Suyanto. (2010). Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana.
Nurudin. (2004). Komunikasi Massa. Malang: CESPUR.
Pelayanan Kebudayaan dan Informasi Korea. (2008). Fakta-Fakta Tentang Korea. Seoul: Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata.
Rakhmat, Jalaluddin. (2004). Metode Penelitian Komunikasi, Dilengkapi Contoh Analisis Statistik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Setiadi, Elly M & Usman Kolip. (2011). Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana. Shim, T. Young-ja, Min-Sun Kim dan Judith Martin. (2008). Changing Korea:
Understanding Culture and Communication. New York: Peter Lang Publishing.
Simpkins, C. Alexander dan Annelen M. Simpkins. (2000). Simple Confucianism: Tuntunan Hidup Luhur. Jakarta : Bhuana Ilmu Populer.
Sunarto & Hermawan (2011). Mix Methodology Dalam Penelitian Komunikasi. Jakarta: ASPIKOM.
Vegdahl, Sonja dan Ben Seunghwa Hur. (2005). Culture Shock: A Survival Guide to Custom and Etiquette. Singapore: Marshall Cavendish.
Universitas Sumatera Utara
West, Richard & Lynn H. Turner. (2009). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.
Wibowo, Indiwan Seto Wahyu. (2011). Semiotika Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Wibowo, Wahyudi. (2013). 한류 문화 Budaya Hallyu Korea. Yogyakarta: INAKOS (The Internasional Association of Korean Studies in Indonesia) Pusat Studi Korea UGM
Sumber Jurnal:
Lee, Y. Choong. (2012). Korean Culture And Its Influence on Business Practice in South Korea. The Journal of International Management Studies, 184 Volume 7, Number 2, October, 2012.
Lee, Zuk-Nae. (1999). Korean Culture and Sense of Shame. Transcultural Psychiatry June 1999 vol. 36 no. 2 181-194
Sumber Makalah Seminar
Lee, Jeong-Kyu. (2001. December). Confucian Thought Affecting Leadership and Organizational Culture of Korean Higher Education. International Consortium for Alternative Academic Publication (ICAAP), Seoul.
Sumber Internet
http://everything.explained.today/Korean_drama/ diakses pada 25 Januari 2016 pukul 16.20 WIB
http://www.nielsenkorea.co.kr/ diakses pada 27 Januari 2016 pukul 21.00 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Misaeng_(TV_series) diakses pada 27 Januari 2016 pukul 21.30 WIB
http://program.interest.me/tvn/misaeng diakses pada 15 April 2016 pukul 18.00
http://world.kbs.co.kr/indonesian/program/program_kfoodstory_detail.htm?No=1 0025513 diakses diakses pada 19 April 2016 pukul 16.00
https://id.wikipedia.org/wiki/Sujeo diakses pada 19 April 2016 pukul 16.30
http://vik.kompas.com/revolusi.mental.ala.korea diakses pada 18 Juli 2016 pukul 19.30
36 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif
dengan paradigma konstruktivis. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan
fenomena secara mendalam dengan pengumpulan data secara mendalam pula.
Penelitian kualitatif tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling. Penelitian kualitatif bersifat subjektif dan hasilnya bukan untuk digeneralisasikan
(Kriyantono, 2010: 56).
Metode penelitian kualitatif yang digunakan adalah metode analisis isi
kualitatif. Menurut Budd, analisis isi adalah suatu teknik sistematis untuk
menganalisis isi pesan dan mengolah pesan atau suatu alat untuk mengobservasi
dan menganalisis isi perilaku komunikasi yang terbuka dari komunikator yang
dipilih (Bungin, 2008: 187). Metode analisis isi kualitatif menekankan pada
penafsiran atau pemaknaan. Penggunaan analisis isi untuk penelitian kualitatif
tidak jauh berbeda dengan pendekatan lainnya. Awal mula harus ada fenomena
komunikasi yang dapat diamati, dalam arti bahwa peneliti harus lebih dulu dapat
merumuskan dengan tepat apa yang ingin diteliti dan semua tindakan harus
didasarkan pada tujuan tersebut.
Analisis isi media kualitatif lebih banyak dipakai untuk meneliti dokumen
yang dapat berupa teks, gambar, simbol dan sebagainya untuk memahami budaya
dari suatu konteks sosial tertentu. Dalam analisis isi media kualitatif semua jenis
data atau dokumen yang dianalisis lebih cenderung disebut dengan istilah “text”
apapun bentuknya gambar, tanda, simbol, gambar bergerak dan sebagainya. Atau
dengan kata lain yang disebut dokumen dalam analisis isi kualitatif ini adalah
wujud dari representasi simbolik yang dapat direkam/didokumentasikan atau
disimpan untuk dianalisis. Analisis isi media kualitatif ini merujuk pada metode
Universitas Sumatera Utara
mengidentifikasi, mengolah dan menganalisis dokumen untuk memahami
makna, signifikansi dan relevansinya (Bungin, 2008: 203).
3.2 Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian kualitatif menjelaskan apa yang menjadi
sasaran penelitian yang secara konkret tergambar dalam fokus masalah penelitian.
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah nilai-nilai sosial yang ditampilkan
dalam drama Misaeng.
3.3 Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah serial drama Korea Misaeng atau dikenal juga dengan Incomplete Life yang pernah ditayangkan mulai 17 Oktober-20 Desember 2014 di tvN setiap Jumat dan Sabtu, pukul 20.30 waktu Korea. Serial Misaeng
secara keseluruhan memiliki 20 episode, namun yang akan diteliti hanya beberapa
yang dianggap memiliki muatan nilai-nilai sosial, dengan maksud agar penelitian
lebih fokus dan tidak terlalu luas. Serial drama ini memiliki genre workplace,
drama, dan comedy.
3.4 Kerangka Analisis
Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2005: 248) menyatakan bahwa
analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan
data, mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi satuan yang dapat dikelola,
menafsirkannya, memaknai serta memutuskan apa yang dapat diceritakan pada
orang lain. Dalam penelitian ini unit analisis yang diambil berupa scene atau adegan dari interaksi yang dilakukan oleh para pemeran dalam serial drama
Misaeng yang sebelumnya telah ditonton peneliti terlebih dahulu. Tingkat analisisnya adalah makna pesan mengenai nilai-nilai sosial yang ditampilkan
lewat serial drama tersebut yang meliputi nilai material, nilai vital dan nilai
Universitas Sumatera Utara 3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Studi Dokumentasi
Yaitu dengan cara mencari, menyimpan dan meneliti dokumen yang
relevan dengan penelitian. Dalam hal ini studi dokumentasi dilakukan
dengan menghimpun data dari dokumentasi serial drama yang dijadikan
subjek penelitian.
2) Penelitian Kepustakaan
Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara mempelajari dan
mengumpulkan data melalui literatur dan sumber bacaan yang relevan dan
mendukung penelitian. Dalam hal ini penelitian kepustakaan dilakukan
melalui buku-buku, jurnal, internet dan sebagainya.
3.6 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan analisis terhadap data yang berhasil dikumpulkan
oleh peneliti melalui perangkat metodologi tertentu (Bungin, 2008: 196). Analisis
data menunjukkan kegiatan penyederhanaan data ke dalam susunan tertentu yang
lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Metode penelitian kualitatif ini dimulai
dari analisis berbagai data yang terhimpun dari suatu penelitian, kemudian
bergerak ke arah pembentukan kesimpulan kategori atau ciri-ciri umum tertentu.
Proses analisis data, dalam proses ini dengan menelaah seluruh data yang tersedia
dari berbagai sumber. Selanjutnya ialah mereduksi data, lalu dilakukan penafsiran
data/pengolahan data untuk menarik kesimpulan. Prinsip pokok teknik analisis
kualitatif adalah mengelola dan menganalisis data-data yang terkumpul menjadi
data yang sistematik, teratur dan mempunyai makna.
Penelitian ini menggunakan analisis isi semantik dalam menganalisis
nilai-nilai sosial yang digambarkan, meliputi nilai-nilai material, nilai-nilai vital, dan nilai-nilai
kerohanian. Dengan menggunakan kategorisasi yang kemudian dianalisis dengan
Universitas Sumatera Utara
a) Analisis Penunjukan (Designation Analysis), yakni menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu (orang, benda, kelompok,
konsep) yang mengandung nilai-nilai sosial dirujuk.
b) Analisis Penyifatan (Attributions Analysis), yakni menggambarkan frekuensi seberapa sering karakterisasi objek tertentu yang
mengandung nilai-nilai sosial dirujuk atau disebut.
c) Analisis Pernyataan (Assertions Analysis), yakni menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu yang mengandung nilai-nilai
sosial dilabel atau diberi karakter secara khusus.
40
Universitas Sumatera Utara BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Umum Serial Drama Misaeng 4.1.1 Profil Serial Drama Misaeng
Gambar 4.1 Poster Promosi Drama Misaeng
Universitas Sumatera Utara Tabel 4.1 Profil Serial Drama Misaeng
Judul 미생 / Misaeng
Nama lain An Incomplete Life
Genre Workplace
Drama
Komedi
Format Serial Televisi
Penulis Naskah Jung Yoon Jung
Sutradara Kim Won Seok
Negara Korea Selatan
Bahasa Korea
Jumlah Episode 20
Produksi
Produser eksekutif Lee Chan Ho
Produser Lee Jae Moon
Ham Seung Hoon
Lokasi Korea Selatan, Yordania
Durasi 65 menit
Jumat dan Sabtu pukul 20:30 (KST)
Siaran
Stasiun televisi tvN
Periode siaran 17 Oktober 2014 – 20 Desember
2014
Universitas Sumatera Utara Penghargaan yang Diterima
2015 51st Baeksang Arts Awards
1) Best Director (Kim Won Suk)
2) Best Actor (Lee Sung Min)
3) Best New Actor (Yim Si Wan)
2015 10th Seoul International Drama Awards
1) Best Miniseries
2015 8th Korea Drama Awards
1) Best Drama
2) Excellence Award - Actor (Kim Dae Myung)
3) Special Jury Prize (Yim Si Wan)
2015 4th APAN Star Awards
1) Top Excellence Award – Actor in a Miniseries (Lee Sung Min) 2) Excellence Award - Actor in a Miniseries (Yim Si Wan)
3) Best Supporting Actor (Lee Kyung Young)
4) Best Rookie Actor (Byun Yo Han)
2015 9th Cable TV Broadcasting Awards
1) Grand Prize (Daesang)
2) Star Award – Best Actor (Yim Siwan, Kang Ha Neul)
Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Misaeng_(TV_series)
Drama ini bercerita tentang kehidupan kerja di sebuah perusahaan
internasional yang bergerak di bidang perdagangan. Drama Misaeng
menggambarkan kehidupan nyata warga Korea di dunia kerja dan beragam
masalah yang kerap dialami para pekerjanya termasuk persaingan antar pegawai,
beratnya menjadi wanita pekerja yang menikah dan mempunyai anak,
diskriminasi di kantor bagi wanita pekerja, dan tekanan dalam menghadapi politik
kantor.
Drama ini mengisahkan seorang pemuda bernama Jang Geu Rae yang baru
saja memasuki dunia kerja yang penuh dengan tekanan. Jang Geu Rae harus
Universitas Sumatera Utara
keterampilan, pendidikan yang tinggi dan kemampuan berbahasa asing. Meski
demikian, ia tidak mudah menyerah dan memiliki kemauan yang kuat untuk
belajar. Selain menceritakan tentang perjuangan Jang Geu Rae sebagai tokoh
utama, drama ini juga bercerita mengenai rekan kerja Jang Geu Rae yang juga
baru diterima sebagai karyawan di One Internasional. Mereka adalah Ahn Young Yi, Jang Baek Ki dan Han Seok Yool. Berbeda dengan Geu Rae yang hanya
lulusan SMA, ketiga rekannya tersebut datang dengan latar pendidikan yang
tinggi dan mumpuni. Hal ini membuat mereka jauh lebih beruntung dari Jang Geu
Rae karena setelah magang mereka dijadikan karyawan tetap, sementara Jang Geu
Rae hanyalah karyawan kontrak. Berbagai kemelut yang dialami setiap tokoh di
drama ini mewakili perasaan mayoritas masyarakat Korea yang menghadapi
tekanan berat dalam dunia kerja mereka sehari-hari, apakah itu tekanan ketika
masa-masa trainee, tentang permasalahan dengan atasan saat bekerja maupun tentang hidup yang terasa belum lengkap (Incomplete / Misaeng).
Pemeran serial drama Misaeng adalah sebagai berikut: Pemain utama
1) Yim Siwan sebagai Jang Geu Rae
2) Lee Sung Min sebagai Oh Sang Shik (Wakil Kepala Tim Penjualan 3)
3) Kang So Ra sebagai Ahn Young Yi
4) Kang Ha Neul sebagai Jang Baek Ki
5) Byun Yo han sebagai Han Suk Yool
6) Kim Dae Myung sebagai Kim Dong Shik (Asisten Manajer Tim Penjualan 3)
Departemen Penjualan
1) Park Hae Joon sebagai Chun Kwan Woong (Manajer Tim 3)
2) Shin Eun Jung sebagai Sun Ji Young (Wakil Kepala Departemen/Kepala Tim
1)
3) Kim Jong Soo sebagai Kim Boo Ryun (Kepala Departemen)
4) Ryu Tae Ho sebagai Go Dong Ho (Kepala Tim 2)
5) Park Jin Soo sebagai Pak Hwang (Asisten Manajer Tim 2)
6) Kim Ga Young sebagai Jang Mi Ra (Tim 2)
7) Kim Kyung Ryong sebagai Lee Shin Tae (Kepala Departemen, pengganti
Universitas Sumatera Utara
8) Kim Won Hae sebagai Park Young Ho (Kepala Tim 3, pengganti Oh Sang
Shik)
Departemen Sumber Daya
1) Son Jong Hak sebagai Ma Bok Ryul (Kepala Departemen)
2) Jung Hee Tae sebagai Jung Hee Seok (Kepala Tim 2)
3) Kim Hee Won sebagai Park Jong Shik (Kepala Tim 3)
4) Jeon Seok Ho sebagai Ha Sung Joon (Asisten Manajer Tim 2)
5) Shin Jae Hoon sebagai Yoo Hyung Ki (Asisten Manajer Tim 2)
Tim Baja
1) Choi Young sebagai Cha Jung Ho (Kepala Tim)
2) Oh Min Suk sebagai Kang Hae Joon (Asisten Manajer)
3) Park Jin Seo sebagai Shin Da In (Karyawan)
Tim Fabrik (Tekstil)
1) Jang Hyuk Jin sebagai Moon Sang Pil (Kepala Tim 1)
2) Tae In Ho sebagai Sung Joon Shik (Asisten Manajer Tim 1)
Tim Penjualan IT
1) Kim Jung Hak sebagai Lee Seok Joong (Kepala)
2) Choi Gwi Hwa sebagai Park Young Goo (Asisten Manajer)
Perusahaan One Internasional
1) Lee Geung Young sebagai Choi Young Hoo (Direktur Eksekutif)
2) Nam Kyung Eup sebagai CEO One International
3) Hwang Seok Jeong sebagai Kim Sun Joo (Kepala Departemen Keuangan)
4) Song Young Kyu sebagai Kepala Tim Perencanaan
5) Kwak In Joon sebagai Pemimpin Tim Audit
6) Han Kap Soo sebagai Manajer cabang di Jordan
7) Choi Jae-woong sebagai Karyawan cabang di Jordan
8) Song Jae Ryong sebagai Manajer Pabrik di Cina
Pegawai Magang
1) Jo Hyun Sik sebagai Kim Seok Ho
2) Yoon Jong Hoon sebagai Lee Sang Hyun
Universitas Sumatera Utara
Pemeran lainnya
1) Sung Byung Sook sebagai ibu Jang Geu Rae
2) Nam Myung Ryul sebagai Pelatih Jang Geu-rae di Akademi Go
3) Lee Shi won sebagai Ha Jung Yeon
4) Oh Yoon Hong sebagai istri Oh Sang Shik
5) Lee Seung Joon sebagai Shin Woo Hyun dari Perusahaan Samjung
6) Seo Yoon Ah sebagai Lee Eun Ji
7) Oh Jung Se sebagai suami dari Lee Gyung Sun (Kepala Departemen Tekstil
Chungsol) (cameo)
Karakter tokoh-tokoh utama yang digambarkan dalam serial drama Misaeng:
1. Jang Geu Rae
Jang Geu Rae merupakan tokoh sentral dalam drama ini. Jang Geu Rae adalah
tokoh yang sabar, pantang menyerah, berkeinginan kuat untuk belajar.
Semenjak umum 7 tahun Jang Geu Rae mendedikasikan waktu dan hidupnya
untuk menjadi pemain Baduk (Go) profesional. Namun karena ayahnya meninggal, Jang Geu Rae terpaksa mengubur cita-citanya dan mencoba
berbagai pekerjaan menggantikan ayahnya sebagai tulang punggung keluarga.
Akhirnya Jang Geu Rae direkomendasikan oleh seseorang menjadi karyawan magang di One International, tanpa melewati proses perekrutan karyawan magang secara resmi. Dengan statusnya yang hanya lulus SMA dan diterima
sebagai karyawan magang melalui koneksi membuat Jang Geu Rae mendapat
tekanan dan cemoohan dari rekan maupun atasannya. Namun hal ini tidak
membuat Geu Rae menyerah dan terus berusaha keras untuk membuktikan
bahwa dia adalah seorang karyawan yang berkualitas.
2. Oh Sang Sik
Oh Sang Sik merupakan Manajer (kemudian diangkat menjadi wakil kepala)
Tim Penjualan 3 yang juga sekaligus sebagai atasan Jang Geu Rae. Oh Sang
Sik merupakan atasan yang bijaksana, memiliki kepribadian hangat dan sangat
Universitas Sumatera Utara
karyawan yang workaholic dan dia berani mengambil bisnis berisiko besar demi mencapai hasil yang maksimal. Dia selalu membela bawahannya dan
sangat anti dengan KKN. Selain sebagai seorang karyawan di One Internasional, Oh Sang Sik merupakan seorang suami dan ayah dari 3 anak-anaknya.
3. Ahn Young Yi
Young Yi merupakan satu-satunya karyawan magang perempuan. Dia berhasil
diterima sebagai karyawan tetap dan ditempatkan di Tim Sumber Daya 2,
sebuah tim elite di One Internasional. Ia merupakan sosok yang pintar, cekatan dan gigih dalam bekerja. Namun statusnya sebagai karyawan baru membuat
Ahn Young Yi mendapat tekanan dari atasannya dan sebagai satu-satunya
perempuan di timnya ia kerap mengalami mendapat perlakuan tidak adil karena
dia seorang wanita. Hubungannya dengan atasannya tidak begitu baik,
meskipun ia berusaha keras mencoba melakukan yang terbaik.
4. Jang Baek Ki
Jang Baek Ki merupakan sosok yang pintar dan ambisius. Dia memiliki latar
belakang pendidikan yang tinggi dan memiliki prestasi yang baik semasa
kuliah. Hal ini membuatnya sangat percaya diri dan beranggapan bahwa dia
cukup kompeten. Pada saat Baek Ki diterima sebagai karyawan tetap dan baru
bergabung dengan Tim Baja ia langsung memberikan atasannya proposal
bisnis kepada atasannya, bahkan sebelum dia membaca dokumen mengenai
item Tim Baja. Hal ini membuat Baek Ki diacuhkan oleh atasannya. Atasannya merasa bahwa Baek Ki masih harus belajar keterampilan dasar yang sangat
dibutuhkan oleh tiap anggota Tim Baja. Baek Ki merasa bahwa keberadaannya
di Tim Baja tidak disukai oleh atasannya karena dia selalu diberi pekerjaan
Universitas Sumatera Utara
5. Han Suk Yool
Han Suk Yool merupakan sosok pintar, ceria dan sangat peduli dengan
rekan-rekannya. Ia sangat suka bekerja di pabrik. Hampir seluruh keluarganya
bekerja di pabrik sehingga dia sangat menghormati orang-orang yang bekerja
di pabrik. Suk Yool ditempatkan di tim yang sangat dia inginkan, yaitu Tim
Fabrik. Namun Suk Yool harus menghadapi atasan yang licik dan
semena-mena. Senior Suk Yool selalu mengambil keuntungan dari setiap pekerjaan
yang dilakukannya dan seringkali memutarbalikkan fakta dan membuat Suk
Yool terpojok.
6. Kim Dong Shik
Kim Dong Shik merupakan Asisten Manajer di Tim Penjualan 3 dan sekaligus
sebagai atasan Jang Geu Rae. Dong Shik merupakan sosok yang baik hati dan
sabar. Pada saat Geu Rae pertama kali datang ke Tim Penjualan 3 dia sangat
sabar menghadapi Jang Geu Rae yang tidak bisa melakukan apa-apa.
7. Chun Kwang Woong
Merupakan sosok yang mengalami konflik batin. Dia merasa terbebani karena
direktur eksekutif secara langsung meminta Chun Kwang Woong untuk
bergabung dengan Tim Penjualan 3. Chun Kwang Woong dikirim ke Tim itu
karena tiga tahun lalu dia sudah pernah bekerja dengan Sang Shik dan Dong
Shik. Awalnya ia terbebani bekerja dengan Tim Penjualan 3, namun seiring
berjalannya waktu ia mulai menikmati waktu bekerja dengan Tim Penjualan 3
seperti tiga tahun lalu.
8. Sun Ji Young
Sun Ji Young merupakan sosok wanita pekerja keras dan sangat perhatian
dengan rekan kerja dan bawahannya. Sun Ji Young yang memiliki posisi Wakil
Kepala Departemen sekaligus sebagai Kepala Tim Penjualan 1 harus membagi
waktu untuk mengurus suami dan anaknya. Ia harus menghadapi kesulitan
Universitas Sumatera Utara 4.1.2 Sinopsis Singkat Serial Drama Misaeng
Jang Geu Rae adalah seorang pemuda 26 tahun yang sebelumnya
mendedikasikan waktu dan hidupnya untuk menjadi pemain Baduk (Go)
profesional. Jang Geu mulai menekuni permainan Baduk semenjak dirinya berumur 7 tahun. Masa remajanya dihabiskan di Akademi Go. Dia bermain Baduk
10 jam sehari dan dia hanya memiliki teman yang ada di akademi maupun kontes
Baduk. Dia sering memenangkan kejuaraan Baduk dan kecerdasannya dalam permainan Baduk diakui oleh para murid maupun guru di Akademi Go Korea, tempat di mana dia belajar permainan Baduk. Namun kemudian Jang Geu Rae harus mengubur cita-citanya untuk menjadi seorang pemain Baduk profesional. Semenjak ayahnya meninggal ia harus menjadi tulang punggung keluarga
menggantikan mendiang ayahnya. Geu Rae melakukan banyak paruh waktu
sembari belajar Baduk. Dia bekerja siang dan malam dengan melakukan berbagai macam pekerjaan seperti bekerja di swalayan, menjadi supir pengganti dan
bekerja di tempat pemandian umum. Hal ini membuatnya tidak fokus untuk
mengikuti kejuaraan Baduk lagi. Selain itu, alasan kesulitan finansial membuatnya sulit untuk tetap belajar di Akademi Go. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari Akademi Go dan bekerja menghidupi ibunya yang sudah tua.
Hingga akhirnya pada musim semi tahun 2012 Jang Geu Rae mendapat
kesempatan untuk bekerja sebagai karyawan magang di salah satu perusahaan
dagang internasional bernama One Internasional. Ibu Jang Geu Rae memiliki kenalan seorang presiden sebuah perusahaan kecil bernama Seong Won. Presiden perusahaan Seong Won mengenal direktur eksekutif One Internasional, sehingga Jang Geu Rae direkomendasikan untuk bekerja di One Internasional. Dengan statusnya yang hanya lulus SMA dan diterima sebagai karyawan magang melalui
koneksi membuat Jang Geu Rae mendapat tekanan dan cemoohan dari rekan
maupun atasannya. Namun hal ini tidak membuat semangat Jang Geu Rae untuk
bekerja menjadi luntur. Berkat usaha keras serta kegigihan yang ia peroleh
sewaktu menjadi pemain Baduk selama lebih dari 20 tahun, ia akhirnya diangkat sebagai karyawan kontrak selama dua tahun. Jang Geu Rae
ditempatkan di Tim Penjualan 3, di tim yang sama saat dia menjadi karyawan
Universitas Sumatera Utara
Jang Geu Rae juga memiliki teman sesama karyawan baru di One Internasional. Mereka adalah adalah Ahn Young Yi, Jang Baek Ki dan Han Suk Yool. Berbeda dengan Jang Geu Rae yang diangkat sebagai karyawan kontrak,
mereka bertiga diangkat sebagai karyawan tetap di One Internasional. Ahn Young Yi ditempatkan di tim Sumber Daya, Han Suk Yool di Tim Fabrik (Tekstil) dan
Jang Baek Ki di Tim Baja. Selama bekerja di One Internasional mereka semua mengalami kesulitannya masing-masing. Jang Geu Rae lebih beruntung karena
dari awal magang sudah menjadi bagian dari Tim Penjualan 3, sementara Ahn
Young Yi, Jang Baek Ki dan Han Suk Yool harus menyesuaikan diri dengan tim
barunya.
Ahn Young Yi yang bergabung di Tim Sumber Daya 2 kerap mengalami
mendapat perlakuan tidak adil karena dia seorang wanita. Sebagai satu-satunya
perempuan di timnya Young Yi mengalami diskriminasi dan mendapat tekanan
dari atasannya. Hubungannya dengan senior dan atasan tidak begitu baik,
meskipun ia berusaha keras bekerja layaknya karyawan lelaki yang lain. Jang
Baek Ki yang bergabung dengan Tim Baja diacuhkan oleh seniornya. Dia selalu
diberi pekerjaan yang ringan dan mendasar seperti membuat data dalam tabel
excel, membuat grafik, memeriksa kesalahan pengetikan dan merangkum kalimat. Hal ini membuat Baek Ki merasa bahwa keberadaannya di Tim Baja tidak disukai
oleh atasannya. Dia merasa bahwa dia sudah belajar dasar-dasar di sekolah,
magang, dan pelatihan kerja sehingga dia tidak perlu untuk melakukan hal-hal
mendasar tersebut. Suk Yool ditempatkan di tim yang sangat dia inginkan, yaitu
Tim Fabrik. Namun Suk Yool harus menghadapi atasan yang licik dan
semena-mena. Senior Suk Yool selalu mengambil keuntungan dari setiap pekerjaan yang
dilakukannya dan seringkali memutarbalikkan fakta dan membuat Suk Yool
terpojok.
Selama Jang Geu Rae menjadi karyawan kontrak di Tim penjualan 3 ia
bekerja sangat giat dan tidak kenal lelah. Meskipun dia hanyalah karyawan
kontrak dia selalu melakukan pekerjaan dengan maksimal. Jang Geu Rae adalah
sosok yang berpikir out-of- the-box dan fokus kepada hasil meskipun prosesnya sedikit atau bahkan sangat sulit. Ide-idenya yang sederhana membuat timnya
Universitas Sumatera Utara
perusahaan. Selain itu kerja keras dan ketelitian Jang Geu Rae membuat
perusahaannya bebas dari korupsi yang hampir saja merugikan perusahaan. Jang
Geu Rae berhasil menerapkan ilmunya tentang Baduk ke dalam kehidupan nyata. Dia memanfaatkan strategi-strategi Baduk untuk menyelesaikan permasalahan dalam dunia kerja. Bahkan dia dapat berpikir radikal dan berani mengutarakan
pemikirannya kepada atasannya.
Hal ini membuat CEO One Internasional memuji hasil kerja Jang Geu Rae. Banyak tim yang menginginkan Jang Geu Rae karena mereka menginginkan
seorang pemula yang dipuji oleh CEO. Mereka berpikir bahwa mereka tidak perlu
khawatir bahkan saat Jang Geu Rae tidak berguna lagi karena dia hanyalah
seorang karyawan kontrak.
4.2 Penyajian Data dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan klasifikasi atau kategori semantik yang
meliputi Analisis Penunjukan (Designation), Analisis Penyifatan (Attributions), dan Analisis Pernyataan (Assertions) untuk mengetahui pesan nilai-nilai sosial yang terkandung dalam serial drama Misaeng.
4.2.1 Analisis Penunjukan
Analisis penunjukan menggambarkan frekuensi seberapa sering objek
tertentu (orang, benda, kelompok, konsep) yang mengandung pesan nilai-nilai
Universitas Sumatera Utara Adegan ke-1(Makanan dan Peralatan Makan Masyarakat Korea)
Gambar 4.2
Adegan makanan dan peralatan makan masyarakat Korea muncul di 12
episode, yaitu episode 1, 4, 5, 7, 9, 13, 14, 16, 17, 18, 19 dan 20. Gambar 4.2
merupakan salah satu adegan yang diambil dari episode 20.
Alur Gambar 4.2:
Jang Baek Ki dan Ahn Young Yi makan siang berdua di sebuah tempat.
Sebelumnya Han Suk Yool memberitahu Baek Ki bahwa dia tidak bisa ikut
bergabung pada jam makan siang. Baek Ki dan Young Yi memesan menu yang
sama, yaitu seonji haejangguk. Baek Ki hanya memandangi sup yang ada di hadapannya dan mengaduk-aduk supnya dengan sendok. Baek Ki mencoba untuk
memakan sup tersebut, namun dia masih merasa mual dan enggan untuk
memakannya karena dia masih teringat dengan film horor yang pernah
ditontonnya dengan Young Yi sebelumnya. Kemudian tiba-tiba Han Suk Yool
datang dan meminta sup milik Baek Ki karena Baek Ki tidak mau memakannya.
Suk Yool menggeser sup Baek Ki dan mencampur nasi ke dalam sup dengan
sendok.
Temuan:
Pada gambar 4.2 ditunjukkan makanan masyarakat korea, yaitu nasi dan
Universitas Sumatera Utara
Nasi (Bap atau 밥)
Nasi merupakan makanan pokok bagi kebanyakan orang Korea. Faktanya,
masyarakat Korea tidak merasa bahwa mereka telah selesai makan kecuali
setelah mereka menikmati semangkuk nasi. Meskipun saat ini gaya hidup
masyarakat Korea sudah semakin kebarat-baratan dan konsumsi beras
mereka semakin menurun, nasi masih tetap memainkan peranan penting
dalam masakan Korea (Choi dan Lim, 2007: 89). Nasi di Korea biasanya
bertekstur lengket. Nasi biasanya disajikan bersama dengan berbagai aneka
ragam lauk pauk, terutama sayur-sayuran dengan banyak bumbu, sup,
makanan berkuah dan daging. Nasi dan sup dapat dihidangkan secara
terpisah maupun dicampurkan ke dalam mangkuk, tetapi lauk pauk
dihidangkan dalam piring-piring kecil di tengah meja untuk berbagi.
Seonji Haejangguk atau Sup Darah Sapi (선지해장국)
Masyarakat Korea memiliki banyak jenis sup dari berbagai jenis bahan dan
rempah-rempah. Salah satunya adalah seonji haejangguk. Seonji haejangguk
merupakan salah satu jenis haejangguk atau sering disebut dengan hangover stew. Disebut sebagai hangover stew karena karena sup ini bisa menghilangkan rasa pusing akibat minum minuman beralkohol. Rasanya
yang kuat membuat haejangguk selalu disajikan setelah seseorang mengonsumsi minuman beralkohol. Oleh sebab itu, rumah makan yang
menjual haejangguk banyak ditemukan di daerah perkantoran. Kuah dari
seonji haejangguk dibuat dari tulang sapi yang direbus lama, lalu isinya terdiri dari potongan daging sapi tebal, telur rebus, kecambah, potongan
darah sapi yang telah beku dan rempah-rempah khas Korea. Saat ini
haejangguk tidak hanya dinikmati untuk menghilangkan rasa mabuk saja, namun juga sebagai makanan pendamping nasi di saat sarapan, makan siang
maupun makan malam. Saat ini sup ini pun digemari oleh kaum pegawai
kantor karena mudah didapat di restoran-restoran dekat kantor
Universitas Sumatera Utara
Pada gambar 4.2 ditunjukkan peralatan makan masyarakat Korea. Pada
saat makan terlihat Baek Ki dan Suk Yool memakai sendok dan sumpit sebagai
peralatan makan mereka. Di Korea peralatan makan berupa sendok dan sumpit
disebut dengan sujeo. Masyarakat Korea menggunakan sendok dan sumpit ketika makan. Sumpit digunakan untuk mengambil makanan seperti nasi, sayur tanpa
kuah atau jenis makanan lain. Sedangkan sendok hanya digunakan untuk
mengambil sup saja. Makanan utama orang Korea adalah nasi dengan sup yang
disebut jjigae atau guk. Oleh karena itu, sangat sulit bagi orang Korea untuk makan tanpa sendok. Sebelum makan biasanya makanan akan dipotong di dapur
sebelum disajikan, atau akan dipotong di meja, sehingga mudah untuk diambil
menggunakan sumpit. Apabila makanan belum dipotong, maka sumpit dapat
digunakan untuk memotong makanan.
Bila diteliti dari artefak hasil penggalian di situs arkeologi, sendok sudah
lebih dulu dipakai oleh orang Korea daripada sumpit. Sendok sudah dipakai orang
Korea sejak Zaman Perunggu. Sumpit ditemukan dari artefak asal zaman Tiga
Kerajaan Korea. Berbeda dari sumpit Jepang atau sumpit Cina yang umumnya
dibuat dari kayu, sendok dan sumpit Korea dibuat dari logam seperti kuningan,
perunggu, perak, atau baja tahan karat. Sewaktu makan, sendok dan sumpit tidak
dipakai secara bersamaan atau tidak dipegang dengan kedua belah tangan,
melainkan secara bergantian. Ketika tidak dipakai, sumpit diletakkan di atas meja.
Sebagai alat makan, sujeo dipandang sebagai alat terpenting dalam kehidupan, dan sekaligus lambang kehidupan yang makmur. Oleh karena itu,
sujeo sering diberikan sebagai hadiah, khususnya untuk ulang tahun bayi dan pesta pernikahan. Sekarang ini, sujeo juga dibeli sebagai cenderamata (https://id.wikipedia.org/wiki/Sujeo)
Anak-anak di Korea sejak kecil sudah diajarkan untuk menggunakan
sumpit sebagai alat makan. Sumpit untuk anak kecil berbeda dengan sumpit untuk
orang dewasa. Anak kecil menggunakan sumpit yang menyatu, jadi dua sumpit itu
menjadi satu atau tidak terpisah dan terdapat dua lubang untuk dimasukan ke jari.
Jadi ketika lubang sumpit dimasukan ke dalam jari maka tidak akan terjatuh.
Universitas Sumatera Utara
seperti untuk orang dewasa. Jadi mereka akan terbiasa dengan sumpit sebagai alat
makan utama di Korea.
Berdasarkan adegan di atas, maka nilai-nilai sosial yang ditemukan
adalah nilai material yang terdiri dari makanan dan peralatan makan masyarakat
Korea.
Adegan ke-2 (Etika dalam Menyambut Tamu di Rumah)
Gambar 4.3
Adegan mengenai etika dalam menyambut tamu di rumah muncul di
episode 9. Gambar 4.3 merupakan adegan yang diambil pada episode 9.
Alur Gambar 4.3:
Pada saat jam kerja berakhir Jang Geu Rae mengundang Dong Shik untuk
datang ke rumahnya. Ketika mereka sampai di rumah Geu Rae, Dong Shik
bertemu dengan Ibu Geu Rae yang sedang mengangkat pakaian dari jemuran. Geu
Rae mengajak Dong Shik untuk masuk ke dalam rumah. Jang Geu Rae mengajak
Dong Shik untuk makan malam bersama di kamar Jang Geu Rae. Setelah selesai
makan malam akhirnya Jang Geu Rae menceritakan tentang masa lalunya yang
dulunya mempunyai komitmen untuk menjadi seorang pemain Baduk profesional,
Universitas Sumatera Utara
bercerita bagaimana dia bisa masuk ke One Internasional. Setelah berbincang-bincang tentang banyak hal tidak terasa malam semakin larut dan Dong Shik pun
harus pulang ke rumahnya. Jang Geu Rae mengantarkan Dong Shik dan
mengucapkan salam pada Dong Shik sambil membungkuk.
Temuan:
Pada gambar 4.3 terlihat bahwa Jang Geu Rae masih tinggal di rumah
yang bergaya tradisional, yaitu hanok. Hanok adalah rumah tradisional Korea yang hampir tidak berubah dari jaman Tiga Kerajaan sampai dengan Dinasti
Joseon (1392-1910). Hanok dibangun tanpa menggunakan paku dan hanya disusun dengan sambungan balok kayu. Rumah-rumah untuk kaum bangsawan
terdiri dari sejumlah bangunan terpisah, satu untuk menampung wanita dan
anak-anak, satu untuk kaum laki-laki dalam keluarga dan tamu-tamu mereka dan
bangunan lain untuk para pembantu, yang kesemuanya dikelilingi oleh sebuah
tembok. Tempat ibadah keluarga untuk menghormati arwah leluhur dibangun di
belakang rumah. Sebuah kolam dengan bunga teratai kadang-kadang dibuat di
depan rumah di luar tembok. Bentuk-bentuk rumah berbeda ini antara wilayah
bagian utara yang lebih dingin dengan daerah bagian selatan yang lebih hangat.
Rumah sederhana dengan lantai berbentuk persegi panjang, dapur dan sebuah
ruang di setiap sisinya berkembang menjadi rumah berbentuk L di bagian selatan.
Hanok pada perkembangannya berubah bentuk menjadi mirip huruf U atau persegi yang mengelilingi sebuah halaman (Pelayanan Kebudayaan dan Informasi
Korea, 2008: 179)
Gambar 4.3 menunjukkan Jang Geu Rae mengundang Dong Shik ke
rumahnya dan mengajaknya untuk makan malam bersama. Ketika Dong Shik
akan meninggalkan rumah Jang Geu Rae, dia mengantar Dong Shik ke depan
rumahnya dan membungkuk mengucapkan “sampai besok.” Hal ini
menggambarkan etika dalam menyambut tamu di Korea.
Di Korea, ketika seseorang diundang sebagai tamu ke rumah hal tersebut
adalah suatu kehormatan besar. Hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut ingin
lebih dekat dan mengenal kita. Kunjungan ke rumah jauh lebih mengungkapkan
Universitas Sumatera Utara
ini merupakan salah satu alasan mengapa lebih mudah dan lebih cepat untuk
mengembangkan suatu hubungan yang dekat dengan orang Korea dibandingkan
dengan Jepang dan orang Asia lainnya (De Mente, 2008: 65).
Tamu yang diundang ke rumah orang Korea selalu disajikan makanan.
Terkadang minuman atau jus buah dan hidangan pembuka akan ditawarkan di
ruang tamu, namun sebagian besar makanan akan disajikan di kamar tidur utama,
yang disebut anbang. Diundang ke kamar tidur utama adalah suatu kehormatan. Sebuah meja rendah akan diletakkan dan seluruh makan akan disajikan pada saat
yang sama, dengan nasi dan sup berdekatan dengan piring untuk perorangan dan
semua lauk diletakkan di tengah. Sebelum makan, tuan rumah sering mengatakan
‘kami tidak punya banyak makanan untuk dimakan, tetapi silahkan makan yang banyak.’ Hal ini mencerminkan sikap orang Korea yang bahkan jamuan besar
sekalipun tidak cukup baik untuk tamu mereka. Setelah makanan utama selesai,
kopi maupun air putih akan disajikan ke tamu (Vegdahl dan Hur, 2005: 162).
Ketika tamu siap untuk meninggalkan rumah, tuan rumah akan menemani
tamu ke pintu, depan rumah, ataupun ke mobil, kemudian membungkuk maupun
melambaikan tangan ketika mereka akan pergi. Dalam situasi bisnis, suatu
kebiasaan bagi orang Korea untuk mengantar klien atau pengunjung ke lift dan
menekan tombol lift untuk mereka, atau bahkan mengantar mereka ke depan
gedung apabila posisi mereka penting atau merupakan kelas atas (De Mente,
2008: 63).
Tradisi membungkuk di Korea umumnya dibagi dalam 3 jenis yaitu
informal, formal dan sangat formal. Dari ketiganya itu dapat dibedakan dari sudut
bungkuknya. Membungkuk 15 derajat untuk informal, 30-45 derajat untuk formal
dan 90 derajat hingga dahi menyentuh tanah untuk sangat formal. Membungkuk
untuk seorang pria biasanya meletakkan kedua tangan di samping paha untuk
menjaga keseimbangan, sedangkan wanita biasanya meletakkan kedua tangan di
atas paha. Membungkuk 15 derajat dipakai dalam pergaulan sehari-hari dengan
status sosial yang setara. Membungkuk 30-45 derajat dipakai dalam situasi formal
terhadap orang yang status sosialnya lebih tinggi. Membungkuk 90 derajat dipakai
Universitas Sumatera Utara
membungkuk 90 derajat juga dipakai ketika menunjukkan rasa bersalah maupun
terima kasih yang mendalam. Dalam lingkungan kerja membungkuk 90 derajat
biasanya ditujukan pada CEO dan eksekutif-eksekutif yang memiliki posisi
penting di perusahaan.
Berdasarkan adegan di atas, maka nilai-nilai sosial yang ditemukan adalah
nilai material, yaitu rumah tradisional Korea (hanok) dan nilai moral, yaitu etika
dalam menyambut tamu, yang terdiri dari mengajak tamu yang diundang ke
rumah untuk makan malam, mengantar tamu sampai ke depan rumah dan
melakukan chol sambil mengucapkan salam pada saat tamu akan meninggalkan rumah.
Adegan ke-3 (Penggunaan Hangul dan Telepon Seluler)
Gambar 4.4
Adegan penggunaan hangul dan telepon seluler muncul di keseluruhan episode, dimulai dari episode 1-20. Gambar 4.4 merupakan adegan yang diambil
dari episode 18.
Alur Gambar 4.4:
Tim Penjualan 3 sibuk bekerja pada proyek China (ekspor panel surya).
Kim Dong Shik memberikan dokumen pada Jang Geu Rae dan menyuruhnya
Universitas Sumatera Utara
Dong Shik menuju meja Jang Geu Rae, dia melihat Jang Geu menerima pesan
teks yang berisi ‘하선생님 : 그래씨~ 오늘도 좋은하루^^ (Guru Ha: Semoga
harimu menyenangkan, Geu Rae.’ Pesan tersebut dikirim oleh Ha Jung-yeon, guru TK yang menyukai Geu Rae. Dong Shik menyarankan Jang Geu Rae untuk
membalas kembali pesan teks tersebut karena gadis itu jelas sangat menyukai Jang
Geu Rae. Dong Shik juga mengatakan pada Jang Geu Rae untuk bersikap baik
pada gadis itu karena tidak mudah bagi seorang wanita untuk menjadi seseorang
yang agresif. Namun kemudian Jang Geu Rae melihat ke arah papan nama di
mejanya yang bertuliskan ‘장 그 래 사원 ( 계약 )’ (Jang Geu Rae – karyawan
(kontrak)’ dan mengatakan bahwa saat ini bukan waktu yang tepat baginya untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita.
Temuan:
Gambar 4.4 menunjukkan penggunaan hangul (tulisan Korea) dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Korea. Seluruh rakyat korea berbicara dan
menulis dalam bahasa yang sama, yaitu hangul, yang menjadi faktor penentu dalam pembentukan identitas nasional. Bahasa Korea memiliki beberapa dialek
berbeda termasuk dialek standar yang digunakan di Seoul dan daerah-daerah lain.
Tetapi dialek-dialek tersebut hampir mirip sehingga seseorang tidak mengalami
kesulitan memahami satu sama lain. Hanya dialek dari Provinsi Jejudo saja yang
begitu berbeda sehingga sulit dipahami oleh penduduk provinsi lain.
Studi-studi linguistik dan etnologi telah mengklasifikasikan bahasa Korea
ke dalam kelompok bahasa Ural-Altaic, yang mencakup bahasa Turki, Mongol
dan Tungus-Manchu. Hangul ditemukan oleh Raja Sejong pada abad ke-15 (tahun 1446). Sebelum alfabet ini terbentuk, persentasi jumlah penduduk yang bisa
membaca relatif kecil. Hanya sedikit rakyat Korea yang mampu menguasai
huruf-huruf Cina yang sulit, yang digunakan oleh kaum bangsawan.
Hangul yang terdiri dari 10 vokal dan 14 konsonan, dapat digabungkan untuk membentuk kelompok-kelompok suku kata yang berjumlah banyak. Sistem
alfabet ini sederhana namun sistematis dan menyeluruh, serta dianggap sebagai
Universitas Sumatera Utara
dan dituliskan, sehingga sistem ini mampu memberikan sumbangan besar dalam
tercapainya rata-rata melek huruf yang tinggi masyarakat Korea serta majunya
industri penerbitan di Korea (Pelayanan Kebudayaan dan Informasi Korea, 2008:
21).
Selain penggunaan hangul, gambar 4.4 juga menunjukkan penggunaan telepon seluler sebagai alat telekomunikasi di masyarakat Korea. Hal tersebut
juga menggambarkan kecanggihan teknologi di Korea dengan inovasi telepon
seluler yang mendukung fitur untuk membuka pesan teks tanpa membuka
pelindung ponsel.
Korea Selatan merupakan negara terkemuka sebagai pengembang dalam
bidang teknologi informasi dan komunikasi. Produk-produk yang berkaitan
dengan industri teknologi informasi dan komunikasi, seperti chip komputer dan telepon seluler, mencapai 33% dari total ekspor Korea, dan hampir tiap warga
Korea paling tidak memiliki satu buah telepon seluler. Di Korea semua sektor,
mulai dari industri layanan makanan sampai transportasi umum, sangat
bergantung pada komputer dan teknologi informasi (Layanan Informasi dan
Kebudayaan Korea, 2012: 237).
Keajaiban di Sungai Han adalah sebuah istilah yang diberikan karena
pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat, di bidang industrialisasi, pencapaian
teknologi, pembangunan gedung- gedung pencakar langit yang terjadi di Korea
Selatan setelah bangkit dari puing-puing Perang Korea dan kini menjadi sebuah
negara makmur. Industri elektronik Korea, seperti Samsung dan LG, menjadi
pesaing produk-produk elektronik buatan Cina, Eropa, Kanada bahkan Amerika,
mulai dari ponsel canggih, televisi plasma, LCD sampai semikonduktor.
Samsung Electronics mengembangkan bisnis semikonduktor pada awal 1980-an. Selanjutnya, langkah Samsung di bisnis elektronik kian kencang.
Berbagai produk mereka produksi mulai dari televisi, penyejuk ruangan hingga
telepon pintar berbasis teknologi Android. Telepon pintar Samsung kini menjadi
pemimpin pasar. Dikutip dari AFP, 8 Juni 2014, Samsung saat ini menguasai 25,2
Universitas Sumatera Utara
pada 2013 Samsung Electronics menjual 314 juta telepon seluler ke pasar dunia
(http://vik.kompas.com).
LG adalah perusahaan asal Korea Selatan terbesar kedua yang
memproduksi perangkat elektronik, dan juga merupakan perusahaan terbesar
ketiga di dunia dalam hal penggarapan perangkat elektronik serupa.
Perkembangan “LG Mobile Phone” sendiri baru dimulai sekitar akhir penghujung abad 20. Sejak tahun 1997 LG telah mengembangkan produk telepon seluler.
Kemudian, sekitar awal tahun 2000 mereka mengeluarkan LG Mobile Phone
pertamanya. Tepat pada tahun 2003, LG tercatat sebagai produsen CDMA teratas.
Sementara itu, pada tahun 2007 LG mendemonstrasikan teknologi standar 3G
MIMO untuk pertama kalinya. Dengan perkembangan sistem operasi komputer
yang tengah berkembang pada ponsel-ponsel pintar saat ini, LG pun turut
menelurkan produk-produk terkini. Pada tahun 2011, LG meliris tablet dan ponsel
Android pertamanya secara resmi. Sementara itu, pada awal tahun 2012 LG
berhasil meliris tablet dengan kamera 3D pertama. Dikutip dari AFP, 8 Juni 2014
LG berada di peringkat kelima dengan penguasaan pasar 4,9 persen pasar telepon
pintar dunia (http://vik.kompas.com).
Berdasarkan adegan di atas, maka nilai-nilai sosial yang ditemukan adalah
nilai vital, tulisan Korea (hangul) dan telepon seluler.
Adegan ke-4 (Pakaian Tradisional Korea)
Universitas Sumatera Utara
Adegan pakaian tradisional Korea terdapat pada episode 14. Gambar 4.5
merupakan adegan yang diambil dari episode 14.
Alur Gambar 4.5:
Pagi hari di awal tahun baru, Jang Geu Rae memutuskan untuk keluar
rumah dan pergi berjalan-jalan ke suatu tempat. Malam sebelumnya Ibu Geu Rae
menyarankan Geu Rae untuk beristirahat di suatu tempat karena besok kerabat
mereka akan datang ke rumah untuk berkunjung. Ia memutuskan untuk menuruti
saran ibunya untuk pergi berjalan-jalan ke suatu tempat menghindari berurusan
dengan kerabatnya, yang tidak senang dengan keputusannya untuk berhenti
bermain Baduk. Pada saat keluar dari rumah Geu Rae melihat sebuah keluarga
yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak yang mengenakan hanbok.
Temuan:
Gambar 4.5 menunjukkan penggunaan hanbok (pakaian tradisional) pada masyarakat Korea. Orang Korea masih memakai hanbok, namun hanya terbatas pada hari-hari libur khusus seperti tahun baru, Seollal (tahun baru Korea) dan
Chuseok (hari raya panen) dan pada perayaan keluarga seperti Hwangap, yaitu peringatan ulang tahun orang tua ke-60.
Pada zaman tiga kerajaan hanbok digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Laki-laki memakai jeogori (semacam jas, baji (celana panjang) dan durumagi (mantel luar) dengan topi, ikat pinggang dan sepasang sepatu. Para wanita
memakai jeogori (semacam jas pendek) dengan dua pita panjang yang diikat untuk membentuk otgoreum (simpul), rok panjang berpinggang tinggi yang disebut chima, sebuah durumagi, beoseon (kaos kaki katun putih) dan sepatu berbentuk perahu. Hanbok telah diwariskan dengan bentuk yang sama untuk laki-laki dan perempuan selama ratusan tahun dengan sedikit perubahan kecuali pada
panjang jeogori dan chima. Pakaian ala Barat mulai dikomersialkan di Korea setelah Perang Korea (1950-1953) dan pada era industrialisasi yang berlangsung
cepat di tahun 1960-an dan 1970-an, penggunaan hanbok berkurang dan dianggap kurang tepat sebagai pakaian sehari-hari. Tetapi, akhir-akhir ini, pencinta hanbok
Universitas Sumatera Utara
modelnya agar lebih sesuai dalam lingkungan modern (Pelayanan Kebudayaan
dan Informasi Korea, 2008: 181).
Berdasarkan adegan di atas, maka nilai-nilai sosial yang ditemukan adalah
nilai material, yaitu pakaian tradisional Korea (hanbok).
Adegan ke-5 (Penggunaan Peralatan Kantor)
Gambar 4.6
Adegan penggunaan peralatan kantor muncul di keseluruhan episode,
mulai dari episode 1-20. Gambar 4.6 merupakan adegan yang diambil dari episode
3.
Alur Gambar 4.6:
Tim Penjualan 3 memiliki masalah terkait dengan kasus ekspor kain lap
serat halus. Kim Dong Shik melewatkan salah satu isi kontrak yang disampaikan
secara lisan oleh klien. Tim Penjualan 3 pun berangkat ke pabrik di Ulsan untuk
segera menyelesaikan masalah sebelum importir membatalkan kontrak. Jang Geu
Rae membantu Oh Sang Sik untuk mencetak dokumen sertifikat daerah dan
mengirim sertifikat tersebut melalui faksimili ke agen forwarding (perusahaan yang mengatur pengiriminan untuk orang lain) agar kapal yang dibutuhkan bisa
Universitas Sumatera Utara
Temuan:
Gambar 4.6 menunjukkan penggunaan peralatan elektronik seperti
komputer, printer, mesin foto copy, mesin faksimili dan telepon untuk mendukung
produktivitas karyawan di kantor. Ini menggambarkan penerapan teknologi dalam
kehidupan sehari-hari masyarakat Korea.
Keunggulan teknologi Korea sangat dikenal dalam industri otomotif dan
elektroniknya. Industri elektronik Korea, lewat merek Samsung dan LG, menjadi
pesaing produk-produk elektronik buatan Cina, Eropa, Kanada, bahkan Amerika.
Keunggulan produk-produk elektronik Korea, Samsung dan LG, telah menguasai
dunia, dari telepon seluler, televisi plasma, LCD, sampai semikonduktor.
Saat ini aneka produk teknologi Korea bertebaran, dengan beragam jenis
dan kualitas. Sebut saja aneka merek seperti Hyundai, KIA, Samsung dan LG.
Korea Selatan saat ini telah mensejajarkan dirinya menjadi negara industri dunia
yang sebelumnya dikuasai oleh negara Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Di
Asia posisi Korea selatan sebagai negara industri bersaing ketat dengan jepang
yang terlebih dauhulu menguasai pasar industri dunia khususnya di bidang
industri otomotif dan teknologi.
Keberhasilan negara Korea dalam menguasai pasar teknologi dunia salah
satunya didorong oleh pemerintah Korea yang menanamkan doktrin yang tidak
bisa ditawar-tawar tentang cinta produk lokal sebagai bagian dari sikap patriot.
Apabila mereka menggunakan produk asing mereka merasa malu karena dianggap
tidak membantu negara. Inilah yang membuat perusahaan Korea bisa hidup dan
terus berkembang karena mereka memiliki pangsa pasar yang luas.
Korea Selatan adalah negara yang sangat hebat dalam nasionalisme
konsumennya. Negara ini memiliki merek-merek mobil Hyundai dan Kia yang
awalnya punya citra medioker (biasa-biasa saja). Namun karena kekuatan
nasionalisme konsumennya, saat ini mereka menjadi merek-merek global yang
disegani di seluruh dunia. Apabila diperhatikan lebih teliti pada drama Korea
sering memperlihatkan penggunaan mobil di Korea yang tidak jauh dari merek
Hyundai dan Kia. Mobil yang lalu-lalang di jalan tak jauh dari merek Hyundai
Universitas Sumatera Utara
masyarakat Korea sangat anti pada mobil Jepang. Begitu juga dengan ponsel,
masyarakat Korea terlihat lebih sering menggunakan merek ponsel Samsung dan
LG. Mereka bangga membeli dan memiliki merek buatan dalam negeri, tak hanya
sebatas mobil dan ponsel, tetapi juga elektronik, tekstil, makanan-minuman,
hingga kerajinan.
Adanya sikap anti-Jepang di Korea Selatan bukan tanpa alasan. Bagi
Korea, rasisme terhadap Jepang merupakan wujud dari kebanggaan nasional
ekstrim mereka dan keinginan mereka agar Jepang mengakui segala
kekejamannya ketika menjajah Korea di masa lalu. Sentimen anti-Jepang juga
didorong oleh pemerintah untuk tingkat tertentu, karena pemerintah Korea Selatan
melarang impor budaya Jepang (yaitu musik, film, komik, acara tv, dan lain
sebagainya) sampai akhir tahun 1990-an. Dan tentu saja, ada keluarga yang
mengajarkan bentuk rasisme anti-Jepang kepada anak-anak mereka.
Berdasarkan adegan di atas, maka nilai-nilai sosial yang ditemukan adalah
nilai vital, yaitu penerapan teknologi dalam kehidupan masyarakat Korea, yang
terdiri dari komputer, printer, mesin foto copy, mesin faksimili dan telepon.
Adegan ke-6 (Etika dalam Pertemuan Bisnis)
Universitas Sumatera Utara
Adegan mengenai etika dalam pertemuan bisnis muncul di 3 episode, yaitu
episode 8, 12 dan 16. Gambar 4.7 merupakan adegan yang diambil dari episode
12.
Alur Gambar 4.7:
Tim Baja dan Samjung akan bekerja sama dalam konsorsium batu bara di
Meksiko. Tim Baja dan Tim Sumber Daya, yang juga terlibat dalam konsorsium
tersebut, mengadakan pertemuan dengan perwakilan dari Samjung di kantor One
Internasional. Pada awal pertemuan Jung Hee Seok sebagai Manajer Tim Sumber
Daya dan Shin Woo Hyun sebagai Kepala Tim dari Samjung berjabat tangan dan
saling memperkenalkan diri. Kemudian keduanya saling bertukar kartu bisnis.
Temuan:
Gambar 4.7 menunjukkan Tim Baja dan Tim Sumber daya berdiri ketika
perwakilan dari Samjung memasuki ruangan. Kedua perwakilan dari perusahaan
One Internasional dan Samjung saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri
dan saling bertukar kartu bisnis etika dalam pertemuan bisnis di Korea. Ketika
menerima dan memberi kartu nama terlihat keduanya menggunakan tangan kanan
dengan tangan kiri menopang tangan kanan. Hal ini menggambarkan etika dalam
pertemuan bisnis di Korea.
Di Korea Selatan, salam adalah salah satu hal yang tidak boleh dilewatkan
oleh seorang pengusaha. Menurut Chaney dan Martin, dalam pertemuan formal
orang Korea akan berdiri untuk menyapa dan berjabat tangan sebagai salam ketika
memulai suatu pertemuan. Salam yang biasa antara laki-laki adalah membungkuk
disertai dengan jabat tangan. Wanita tidak berjabat tangan sesering pria (Lee,
2012: 189).
Kartu bisnis memainkan peranan penting dalam membangun hubungan di
Korea Selatan. Orang Korea menaruh perhatian pada pentingnya pertukaran kartu
nama, dengan cara tertentu. Biasanya, setelah berjabat tangan, kartu dipertukarkan
saat pertemuan awal. Apabila ekspatriat melakukan pertemuan bisnis di Korea
kartu nama harus dibuat dengan dua bahasa dan harus disimpan dalam kotak
Universitas Sumatera Utara
formal memberikan dan menerima kartu bisnis adalah dengan kedua tangan atau
tangan kiri ditempatkan di lengan kanan. Orang diharapkan untuk memegang
kartu dengan tangan kanan mereka. Apabila seseorang menggunakan tangan kiri
ketika menerima atau memberi sesuatu, hal ini dianggap kasar dan merupakan
contoh buruk dalam tradisi budaya Korea. Setelah menerima kartu, penerima akan
menganggukkan kepala untuk menunjukkan rasa hormat dan terima kasih (De
Mente, 2008: 94).
Berdasarkan adegan di atas, maka nilai-nilai sosial yang ditemukan adalah
nilai moral, yaitu etika dalam pertemuan bisnis yang terdiri dari saling berjabat
tangan sambil memperkenalkan diri, saling bertukar kartu bisnis serta menerima
dan memberi kartu nama menggunakan tangan kanan dengan tangan kiri
menopang tangan kanan.
Adegan ke-7 (Etika dalam Budaya Minum Sul)
Gambar 4.8
Adegan etika dalam budaya minum sul muncul di 15 episode, yaitu pada episode 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 11, 13, 14, 16, 17, 18, 19 dan 20. Gambar 4.8
merupakan adegan yang diambil dari episode 13.
Alur Gambar 4.8:
Tim Penjualan 3 berhasil mendapatkan persetujuan untuk proposal bisnis
Universitas Sumatera Utara
anggota timnya makan malam bersama untuk merayakan kesuksesan timnya.
Mereka akhirnya makan malam di restoran yang menjual tulang rusuk ayam dan
sambil menikmati soju.
Temuan:
Gambar 4.8 menunjukkan Tim Penjualan 3 sedang menikmati makan
malam bersama sambil menikmati soju untuk merayakan kesuksesan timnya. Oh Sang Shik menuangkan soju ke gelas Jang Geu Rae dan Dong Shik dan mereka menerima minuman tersebut dengan dua tangan. Ketika Jang Geu Rae dan Dong
Shik akan meminum soju tersebut mereka menghadap arah ke samping dan memegang gelas dengan dua tangan. Sementara Manajer Chun meminum soju
tersebut dengan tangan kanan memegang gelas dan tangan kiri menopang tangan
kanan. Hal ini menggambarkan etika dalam budaya minum sul pada masyarakat Korea.
Budaya minum sul (minuman beralkohol) adalah budaya yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Korea. Minum
minuman beralkohol juga memainkan peranan penting dalam hubungan
interpersonal dan bisnis di Korea. Masyarakat Korea biasanya minum untuk
meredakan stres, memberikan kebebasan emosi mereka, dan untuk lebih mengenal
satu sama lain.
Hampir semua kelompok sosial yang ada di Korea minum sul bersama untuk menjaga keharmonisan di antara anggota kelompoknya. Budaya minum sul
sangat erat kaitannya dengan sistem kolektivisme yang terdapat dalam masyarakat
Korea. Para pekerja di Korea menganggap penting sul karena dengan saling tawar menawari sul mereka dapat menunjukkan rasa kasih sayang mereka kepada rekan kerjanya yang sudah mereka anggap sebagai anggota keluarganya. Ini
dikarenakan adanya anggapan di Korea bahwa suatu perusahaan itu sama saja
dengan keluarga besar dengan para karyawannya sebagai anggota keluarganya
(Choi, 2007: 26).
Universitas Sumatera Utara
Khan, saat ia mempersiapkan invasi ke Jepang di Andong. Andong adalah daerah
yang terkenal dengan kualitas airnya yang bagus sehingga membuat soju dari daerah ini memiliki kualitas yang baik. Soju adalah barang komoditi bernilai tinggi pada masa lalu. Berdasarkan catatan sejarah, pada zaman dahulu soju
digunakan untuk tujuan pengobatan (Jong, 1997: 228).
Pada zaman dahulu, soju dibuat dengan cara difermentasi dan disuling, tetapi soju yang beredar di Korea saat ini, sebagian besar dibuat dengan cara menambahkan air pada alkohol murni karena sangat sulit memproduksi soju
dengan difermentasi dan disuling dalam jumlah besar. Kadar alkohol dalam soju
adalah 20 – 35%. Soju yang paling terkenal dan paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Korea pada saat ini adalah soju yang diproduksi oleh perusahaan Jillo yang bermerk ’Chamiseul (참이슬)’, dan soju yang diproduksi oleh perusahaan Lotte yang bermerk ’Choeum Chorom (처음처럼).’
Pada gambar 4.8 menunjukkan Oh Sang Shik menuangkan soju ke gelas
Jang Geu Rae dan Dong Shik. Lalu kemudian mereka menerima minuman
tersebut dengan dua tangan. sebelum akan meminum soju tersebut Jang Geu Rae dan Dong Shik memiringkan badan arah ke samping dan memegang gelas dengan
dua tangan, lalu kemudian meminumnya. Ketika seseorang dengan status yang
lebih tinggi menuangkan minuman pada junior atau orang yang lebih rendah
statusnya maka penerima harus menerima minuman dengan dua tangan atau
memegang gelas dengan tangan kanan dan tangan kiri memegang lengan kanan
bawah. Saat di hadapan orang yang status sosialnya lebih tinggi, meminum
minuman dengan posisi berhadapan dianggap tidak sopan. Orang tersebut harus
memiringkan badan dan kepala ke samping ketika akan menikmati minuman yang
sudah dituangkan (Vegdahl dan Hur, 2005: 159).
Berdasarkan adegan di atas, maka nilai-nilai sosial yang ditemukan adalah
nilai moral, yaitu etika dalam budaya minum sul, yang terdiri dari menerima minuman dari orang yang posisinya lebih tinggi dengan dua tangan, memegang
gelas dengan dua tangan atau dengan tangan kanan memegang gelas dan tangan
kiri menopang tangan kanan serta memiringkan badan ke arah samping ketika
Universitas Sumatera Utara Adegan ke-8 (Budaya Chol/Membungkuk)
Gambar 4.9
Adegan budaya chol atau membungkuk muncul di keseluruhan episode mulai dari episode 1-20. Gambar 4.8 merupakan adegan yang diambil dari episode
4.
Alur Gambar 4.9:
Seluruh karyawan magang mengadakan presentasi di depan direktur
eksekutif dan seluruh kepala departemen One Internasional sebagai tim penilai.
Wawancara presentasi ini merupakan tahap yang menentukan karyawan magang
akan diangkat menjadi karyawan tetap atau tidak. Suk Yool dan Geu Rae adalah
pasangan terakhir yang mengadakan presentasi. Moderator memanggil nama Suk
Yool dan Geu Rae untuk memulai presentasinya. Sebelum memulai presentasinya
Suk Yool dan Geu Rae terlebih dahulu membungkuk memberi salam pada
direktur eksekutif dan seluruh kepala departemen.
Temuan:
Gambar 4.9 menunjukkan sebelum Jang Geu Rae dan Han Suk Yool
memulai presentasinya mereka membungkuk dalam (membungkuk 90 derajat)
kepada tim penilai yang merupakan atasan mereka di One Internasional. Ini
menggambarkan sikap rasa hormat seorang bawahan kepada atasannya.
Sikap hormat berdasarkan usia dan senioritas masih menjadi bagian
penting dari budaya Korea dan mempengaruhi bagaimana seseorang
membungkuk kepada orang lain. Chol atau membungkuk, yang merupakan elemen kunci dalam etiket masyarakat Korea sejak zaman dulu, masih menjadi
Universitas Sumatera Utara
memperhatikan cara membungkuk yang tepat. Semakin dalam seseorang
membungkuk, semakin menunjukkan rasa hormat, rasa bersalah, atau rasa terima
kasih. Umumnya, atasan hanya akan sedikit menganggukkan kepala untuk
membalas sapaan bawahannya ketika membungkuk. Jika seorang bawahan
menginginkan sesuatu atau berada dalam kesulitan, mereka akan membungkuk
semakin dalam dan menahannya sedikit lama. Aturan penting lain dalam etika
membungkuk adalah orang dengan status atau posisi yang lebih rendah
diharapkan harus membungkuk terlebih dahulu (De Mente, 2008: 52).
Di Asia, Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki kebiasaan
membungkuk dalam memberi salam. Budaya membungkuk di Jepang (Ojigi)
biasanya dilakukan dengan posisi punggung lurus. Ketika menyapa satu sama
lain, berterima kasih maupun mengucapkan salam perpisahan biasanya
masyarakat Jepang akan membungkuk berulang kali, sementara di Korea
seseorang hanya akan membungkuk satu kali saja (http://infomory.com). Orang
Jepang terus berbalas-balasan membungkuk karena dianggap tidak sopan jika
seseorang tidak membalas tradisi membungkuk orang Jepang. Sering kali ketika
orang Jepang memberi salam dengan membungkuk, mereka akan memulainya
dengan bungkukan yang paling dalam kemudian disusul dengan bungkukan yang
rendah hingga yang terkecil. Hal ini mereka lakukan karena mereka melihat orang
yang ada di depannya membungkuk juga, sehingga dia berpikir bahwa dia harus
membungkuk lagi untuk membalas orang tersebut. Kemudian orang yang di
depannya juga berpikiran sama, sehingga mereka akan membungkuk lagi dan lagi.
Berdasarkan adegan di atas, maka nilai-nilai sosial yang ditemukan
adalah nilai moral, yaitu membungkuk dalam (90 derajat) pada orang yang posisi
atau statusnya lebih tinggi.
4.2.2 Analisis Penyifatan
Analisis penyifatan menggambarkan frekuensi seberapa sering
karakterisasi objek tertentu dirujuk yang secara tidak langsung juga mengandung