Analisis penyifatan menggambarkan frekuensi seberapa sering karakterisasi objek tertentu dirujuk yang secara tidak langsung juga mengandung nilai-nilai sosial pada masyarakat Korea.
Universitas Sumatera Utara Adegan ke-9 (Penggunaan Honorifik terhadap Atasan)
Gambar 4.10
Adegan penggunaan honorifik terhadap atasan muncul di keseluruhan episode mulai dari episode 1-20. Gambar 4.10 merupakan adegan yang diambil dari episode 10.
Alur Gambar 4.10:
Asisten Manajer Ha bekerja lembur di kantor dan menyelesaikan proyek yang ditugaskan padanya setelah tengah malam. Dia sedikit khawatir pada Young Yi karena Young Yi belum pulang ke kantor sejak dia menyuruh Young Yi ke Pyeongtaek untuk memastikan bahwa pupuk di penyimpanan Seobu Chemical
dikirim ke pelabuhan Incheon besok pagi. Dia akhirnya menelepon Young Yi dengan telepon kantor. Han Suk Yool mengangkat telepon seluler milik Ahn
Young Yi dan melihat tulisan ‘Ha Sung Joon Sunbaenim’ di layar telepon
genggam Young Yi. Suk Yool menunjukkan ke Young Yi bahwa ada telepon dari Pak Ha dan membantu Ahn Young Yi untuk menjawab telepon dari Manajer Ha dengan mendekatkan telepon tersebut ke telinga Ahn Young Yi. Ahn Young yang
saat itu sedang mengemudi dengan segera menjawab telepon dan berkata “Ya Daerinim?.”
Universitas Sumatera Utara
Temuan:
Pada gambar 4.10 ditunjukkan Ahn Young menggunakan bahasa formal-honorifik pada atasannya yang terlihat dari tulisan di telepon seluernya, yaitu Ha Sung Joon Sunbaenim dan saat dia menjawab telepon dengan “Ya Daerinim?” Ini menggambarkan bentuk rasa hormat Ahn Young sebagai bawahan terhadap mitra tuturnya Asisten Manajer Ha yang merupakan atasannya. Kata ‘Ha Sung Joon Sunbaenim’ (Senior Ha Sung Joon yang terhormat) dan kalimat ‘Ya Daerinim’
(Asisten Manajer yang terhormat) sama-sama terdapat suffix nim yang menekankan rasa hormat Ahn Young Yi terhadap Ha Sung Joon sebagai senior dan juga asisten manajer di Timnya.
Melalui adegan tersebut dapat dilihat bahwa di dalam bahasa Korea, seorang penutur harus menentukan posisinya terlebih dahulu terhadap posisi mitra tuturnya dan juga tidak boleh melanggar kesantunan berbahasa. Bentuk penghormatan terhadap mitra tutur diberikan dengan mempertimbangkan situasi percakapan (formal atau nonformal), usia, jabatan, posisi sosial, dan hubungan antara penutur dan mitra tutur.
Masyarakat Korea didasarkan pada sistem hirarki sosial Konfusianime, di mana orang Korea perlu mengetahui posisi atau status orang lain untuk menentukan bagaimana berhubungan dengan dia, apakah dalam hal penghormatan yang diberikan atau bahasa untuk digunakan dalam berkomunikasi. Perusahaan Korea merupakan bagian dari sistem sosial dan identitas individu terikat dengan posisi yang mereka pegang dalam organisasi tertentu. Oleh sebab itu, mengetahui posisi seseorang dalam sebuah perusahaan Korea sangat diperlukan agar bisa menyesuaikan sikap dan bahasa ketika berinteraksi. Orang-orang yang berada di usia empat puluhan dan yang lebih tua lebih sensitif terhadap posisi dan hirarki. Ketika menyebut atau menyapa seseorang dengan status yang lebih tinggi, orang dengan posisi lebih rendah harus menambahkan honorifik nim pada akhir jabatan atau posisi sosial mitra tuturnya. Hal ini menunjukkan rasa hormat pada seseorang dengan status yang lebih tinggi (Vegdahl dan Hur, 2005: 202).
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan adegan di atas, maka nilai-nilai sosial yang ditemukan adalah nilai moral, yaitu penggunaan bahasa formal-honorifik pada orang yang posisinya lebih tinggi.
Adegan ke- 10 (Etika dalam Menyambut Tamu di Kantor)
Gambar 4.11
Adegan etika dalam menyambut tamu di kantor muncul di 2 episode, yaitu episode 15 dan 18. Gambar 4.11 merupakan adegan yang diambil dari episode 15.
Alur Gambar 4.11:
Jang Baek Ki menemui seniornya yang memiliki layanan bisnis penyewaan. Baek Ki berkunjung ke kantor seniornya bersama dengan Jang Geu Rae. Pada saat mereka sampai di kantor Senior Jang Baek Ki dengan ramah menyambut kedatangan mereka dan menanyakan kabar Baek Ki. Senior Baek Ki menyuruh sekretarisnya membawakan teh untuk tamunya dan mengajak Baek Ki dan Geu Rae ke ruangan pertemuan untuk berbincang-bincang. Baek Ki menjelaskan maksud kedatangannya bahwa dia mendapatkan tugas dari perusahannya untuk menjual sesuatu. Di saat sedang menjelaskan tugas apa yang sedang diterimanya, sekretaris dari perusahaan masuk ke dalam ruangan dan menyajikan teh kepada mereka.
Universitas Sumatera Utara
Temuan:
Gambar 4.11 menunjukkan senior Jang Baek Ki menyambut kedatangannya dan Jang Geu Rae ke kantor. Senior Baek Ki meminta sekretaris kantor untuk menyajikan teh hijau untuk tamunya, tanpa menanyakan sebelumnya minuman apa yang diinginkan oleh tamunya. Hal tersebut menggambarkan budaya minum teh hijau dan kebiasaan orang Korea dalam menyambut tamu yang berkunjung ke kantor.
Setiap kali tamu mengunjungi kantor seseorang, tamu akan disajikan minuman. Tamu biasanya tidak ditanya terlebih dahulu minuman apa yang dia inginkan, namun juga tidak sopan apabila menolak apa yang sudah ditawarkan. Tamu tidak akan selalu ditanya jenis minuman yang dia inginkan atau apakah lebih suka kopi atau teh hijau. Sekretaris di Korea terbiasa mempersiapkan sesuatu untuk tamu ketika ada tamu yang berkunjung ke kantor (De Mente, 2008: 212).
Dulunya, teh hijau ditawarkan kepada dewa-dewa (melalui ritual minum teh) serta tamu sebagai tanda hormat dan sukacita orang yang menyajikan teh. Sarjana Konfusius menggunakan teh sebagai cara untuk mengembangkan disiplin mental dan disiplin diri. Bahkan pada zaman dahulu, dikatakan bahwa "secangkir teh adalah awal dari Zen." Jadi, ketika seorang biksu mengatakan "minum teh sebelum Anda pergi" itu berarti "minum teh dan capailah pencerahan pada dirimu sendiri," karena upacara minum teh hijau dianggap oleh para biksu sebagai ukuran pendisiplinan untuk memurnikan pikiran. Rakyat jelata juga percaya bahwa teh hijau membantu meringankan kesepian dan menenangkan jiwa yang sakit. Dengan memberikan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari, teh hijau dianggap membantu menemukan kebenaran hidup (Choi dan Lim, 2007: 109).
Berdasarkan adegan di atas, maka nilai-nilai sosial yang ditemukan adalah nilai vital, yaitu aktivitas minum teh hijau dan nilai moral, yaitu etika dalam menyambut tamu di kantor, yang terdiri dari menyajikan teh hijau kepada tamu yang berkunjung.
Universitas Sumatera Utara 4.2.3 Analisis Pernyataan
Analisis Pernyataan menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu dikarakteristikkan secara khusus.
Adegan ke-11 (Pentingnya Menjaga Kibun Atasan)
Gambar 4.12
Adegan pentingnya menjaga kibun atasan muncul di 4 episode, yaitu pada episode 5, 9, 10 dan 20. Gambar 4.12 merupakan adegan yang diambil dari episode 10.
Alur Gambar 4.12:
Pada saat bekerja, Asisten Manajer Sung memanggil Han Suk Yool untuk menemuinya. Asisten Manajer Sung menganggap Suk Yool sudah bertindak kasar sebagai junior karena dia tidak memberi salam pada Asisten Manajer Sung sejak pagi. Dia menganggap Han Suk Yool tidak tahu posisinya, yang merupakan junior dan bawahannya.
Dialog:
Universitas Sumatera Utara
Seok Yool, aku bisa menerima ketidakmampuan. Tapi aku tidak bisa mentolerir sikapmu terhadap atasan dan tidak tahu di mana posisimu. Kamu tahu, hari ini, kamu tidak memberi salam padaku, tidak sekalipun.
Temuan:
Dialog pada gambar 4.12 menunjukkan Han Suk Yool tidak menyapa Asisten Manajer Sung sepanjang hari. Hal ini membuat Asisten Manajer Sung merasa tersinggung karena Han Suk Yool tidak menghormatinya sebagai senior. Gambar tersebut menunjukkan Han Suk Yool telah merusak kibun atasannya. Di dalam hubungan interpersonal masyarakat Korea hal ini menggambarkan pentingnya seorang bawahan untuk tidak merusak kibun atasannya.
Kibun berhubungan dengan suasana hati, perasaan dan keadaan pikiran. Menyakiti kibun seseorang berarti menyakiti harga dirinya, menyebabkan hilangnya harga diri dan membuatnya kehilangan muka. Crane (dalam Shim, Kim dan Martin, 2008: 77) mendefinisikan kibun sebagai kepribadian “seseorang”: Keadaan perasaan batin seseorang, martabat, kesadaran untuk diakui secara pribadi, penghormatan yang ia terima dari rekan-semua faktor ini menentukan moral, wajah, atau harga diri, pada dasarnya kondisi pikiran seseorang, dinyatakan
dalam bahasa Korea sebagai “ kibun.”
Hubungan interpersonal orang Korea menjalankan prinsip keharmonisan sosial. Mempertahankan suasana yang damai atau atmosfir yang nyaman lebih penting daripada mencapai tujuan secara langsung atau mengungkapkan kebenaran secara mutlak. orang Korea percaya bahwa ketika seseorang mencapai sesuatu, namun ternyata menyebabkan ketidaknyamanan terhadap individu lain sama halnya dengan tidak menyelesaikan apa-apa. Apabila hubungan tidak harmonis, maka akan sulit untuk bekerja mencapai tujuan apapun.
Kibun memasuki setiap aspek kehidupan orang Korea. Mengetahui bagaimana untuk menilai keadaan kibun orang lain, bagaimana untuk menghindari menyakiti hati orang tersebut, dan menjaga kibun diri sendiri merupakan keterampilan penting. Orang Korea tampaknya cukup sensitif dan emosional. Tindakan tidak menghormati kibun seseorang cenderung terjadi ketika seorang
Universitas Sumatera Utara
individu mengecewakan atau mengganggu atasannya. Misalnya, orang dengan status atau posisi lebih tinggi akan merasa kibun-nya dirusak ketika orang yang lebih muda atau lebih rendah statusnya tidak menunjukkan rasa hormat yang tepat, yaitu dengan tidak membungkuk dengan segera saat bertemu atau berpapasan, tidak menggunakan kata-kata honorifik, menghubungi atasan dalam waktu yang kurang pantas, atau bahkan lebih buruk, memberikan sesuatu kepada atasan dengan tangan kiri (Vegdahl dan Hur, 2005: 34).
Karena penekanan Konfusius pada harmoni dan hirarki dalam hubungan, seorang individu harus selalu mengungkapkan rasa hormat dan perhatian pada
kibun orang lain, kelompok maupun situasi tertentu. Di Korea, yang merupakan negara dengan struktur masyarakat hierarkis, kepekaan ini yang sangat penting, terutama berkaitan dengan orang-orang yang statusnya lebih tinggi. Orang dengan status lebih tinggi sering tidak mempertimbangkan perasaan orang-orang dari status yang lebih rendah. Namun kemudian seorang bawahan harus selalu mempertimbangkan perasaan atasannya. Bagi orang Korea, kibun adalah ketika "batin dan lingkungan yang damai dipertahankan” (Shim, dkk, 2008: 78). Dengan
mampu menjaga kibun seseorang berarti dia mampu berkomunikasi secara efektif dengan menunjukkan saling pengertian.
Hal ini menggambarkan bahwa kibun berarti menghormati orang lain dan menghindari tindakan yang bisa menyebabkan orang lain kehilangan muka atau kecewa. Konsep kibun bertujuan untuk menjaga keharmonisan sosial. Dalam tradisi rakyat Korea Selatan, keharmonisan dalam hubungan personal menjadi kekuatan yang dominan dalam kehidupan mereka. Fakta dan logika terkadang dikesampingkan. Persahabatan dan pertemanan dalam hubungan sosial merupakan suatu hal yang sangat berharga bagi warga Korea Selatan. Memberikan rasa nyaman dan bahagia bagi teman atau orang di sekitar menjadi kebutuhan utama.
Berdasarkan adegan di atas, maka nilai-nilai sosial yang ditemukan adalah nilai moral, yaitu menghormati kibun orang yang status atau posisinya lebih tinggi.
Universitas Sumatera Utara Adegan ke-12 (Budaya Menyelamatkan Muka/Chemyun)
Gambar 4.13
Adegan budaya menyelamatkan wajah atau chemyun muncul di 3 episode, yaitu episode 2, 5 dan 15. Gambar 4.13 merupakan adegan yang diambil dari episode 15.
Alur Gambar 4.13:
Baek-ki keluar untuk minum dengan Lee Sang Hyun, yang sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan magang di One Internasional. Jang Baek Ki bercerita tentang Jang Geu Rae yang mendapatkan persetujuan atas proposal bisnis yang diajukan. Lee Sang Hyun masih belum menerima kenyataan bahwa Jang Geu Rae diangkat sebagai karyawan, meskipun hanya sebatas karyawan kontrak. Dia merasa lebih pantas untuk diterima sebagai karyawan karena dia memiliki pendidikan yang tinggi dan juga kuliah di luar negeri. Sementara Jang Geu Rae hanyalah lulusan SMA. Meskipun saat ini Lee Sang Hyun sudah bekerja di perusahaan lain, namun dia harus bekerja di konglomerat (perusahaan besar) untuk tetap menjaga posisinya.
Dialog:
Lee Sang Hyun : Ibuku mengeluarkan banyak uang untuk membiayai lesku! Dia bekerja sangat keras! Ini adalah diskriminasi terbalik. Seharusnya aku juga menikmati hidupku. Aku tak pernah tidur sebelum tengah malam. Sepanjang sekolah. Aku pergi ke
Universitas Sumatera Utara
berbagai tempat les yang menjengkelkan dan ke perguruan tinggi! Aku juga belajar di luar negeri. Tapi, apa ini?
Jang Baek Ki : Bagaimana perusahaan-mu?
Lee Sang Hyun : Itu hanya sementara. Aku harus bekerja di konglomerat. Baek Ki, kau tahu? Untuk menjaga posisi 'kita', kita harus bekerja di konglomerat.
Temuan:
Dialog pada gambar 4.13 menunjukkan bahwa Lee Sang Hyun yang memiliki latar pendidikan mumpuni merasa harga dirinya tercoreng karena tidak bisa bekerja di perusahaan besar. Hal ini menggambarkan budaya menyelamatkan
‘wajah’ (chemyun) masih mengakar kuat di masyarakat Korea.
Oak dan Martin mendefiniskan chemyun sebagai prestise, harga diri, martabat, kehormatan dan reputasi terhadap posisi seseorang, di mana hal tersebut akan mempengaruhi posisi dan situasi seseorang maupun keluarga di masyarakat. (Vegdahl dan Hur, 2005: 73). Kehormatan atau aib dari keluarga memiliki hubungan langsung dengan keberhasilan atau kegagalan setiap individu di keluarga. Ketika seorang anggota keluarga berhasil, itu dianggap sebagai pertanda baik bagi keberhasilan seluruh keluarga dan untuk keberhasilan keturunannya. Sukses dalam hidup seorang individu dipandang sebagai kehormatan tertinggi untuk satu keluarga (Lee, 1999: 187).
Pada gambar 4.13 ditunjukkan bahwa individu yang tidak mampu untuk mempertahankan statusnya di masyarakat maka ‘wajah’nya akan tercoreng. Menyelamatkan ‘wajah’ di masyarakat Korea dipengaruhi oleh konfusianisme
yang masih mengakar kuat di dalam diri masyarakat Korea. Budaya Konfusianisme adalah budaya yang berorientasi pada keluarga di mana keluarga ditempatkan di atas masing-masing individu. Individu hanyalah sarana untuk mencapai kesejahteraan keluarga, sehingga menyelamatkan muka berarti menyelamatkan wajah keluarga, dan rasa malu berarti rasa malu untuk keluarga, bukan hanya untuk individu itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi status seseorang maka orang tersebut cenderung akan semakin rentan untuk merasa malu. Jika seseorang melakukan sesuatu yang tidak konsisten dengan
Universitas Sumatera Utara
status mereka, mereka akan kehilangan muka dan menjalani hidup mereka dengan wajah yang tercoreng. Mempertahankan, melindungi, dan menyelamatkan
chemyun berperan penting dalam pengembangan dan penerimaan status sosial seseorang di masyarakat.
Berdasarkan adegan di atas, maka nilai-nilai sosial yang ditemukan adalah nilai vital, yaitu pendidikan dan nilai kebenaran, yaitu menjaga chemyun
sebagai usaha untuk mempertahankan status sosial.
4.3 Pembahasan
Serial drama Misaeng merupakan salah satu produk media massa televisi Korea. Melalui media massa, negara Korea mengekspor nilai-nilai dalam produk industri budayanya, salah satunya yaitu melalui serial drama. Nilai sosial yang ada pada drama tersebut menurut Profesor Notonegoro (dalam Setiadi dan Kolip, 2011: 124-125) diklasifikasikan dibagai menjadi tiga bagian yaitu:
1) Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia atau benda-benda nyata yang dapat dimanfaatkan sebagai kebutuhan fisik manusia. Nilai material yang terdapat pada drama Misaeng adalah:
a) Makanan khas Korea
b) Peralatan makan masyarakat Korea, yaitu sujeo
c) Rumah tradisional Korea (hanok) d) Pakaian tradisional Korea (hanbok)
2) Nilai vital yaitu, meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan berbagai aktivitas. Nilai vital yang terdapat pada drama Misaeng adalah:
a) Tulisan Korea (hangul) b) Telepon seluler
c) Peralatan kantor, yaitu komputer, printer, mesin foto copy, mesin faksimili dan telepon
d) Aktivitas minum teh hijau e) Pendidikan
3) Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan rohani (spiritual) manusia yang bersifat universal, seperti:
Universitas Sumatera Utara
a) Nilai kebenaran dan nilai empiris, yaitu nilai yang bersumber pada akal manusia (logika, rasio, budi, cipta), misalnya sesuatu itu dianggap benar atau salah karena akal manusia memiliki kemampuan untuk memberikan penilaian. Nilai kebenaran yang terdapat pada drama Misaeng adalah:
a. Menjaga chemyun sebagai usaha untuk mempertahankan status sosial. b) Nilai moral/kebaikan, yaitu nilai sosial yang bersumber pada unsur kehendak, terutama pada tingkah laku manusia antara penilaian perbuatan yang dianggap baik atau buruk, mulia atau hina menurut tatanan yang berlaku di dalam kelompok sosial tersebut.
Nilai moral yang terdapat pada drama Misaeng adalah: 1. Etika dalam menyambut tamu, yang terdiri dari:
a) Mengajak tamu yang diundang ke rumah untuk makan malam b) Mengantar tamu sampai ke depan rumah
c) Melakukan chol sambil mengucapkan salam pada saat tamu akan meninggalkan rumah.
2. Etika dalam pertemuan bisnis yang terdiri dari:
a) Saling berjabat tangan ketika memperkenalkan diri b) Saling bertukar kartu bisnis
c) Menerima dan memberi kartu nama menggunakan tangan kanan dengan tangan kiri menopang tangan kanan.
3. Etika dalam budaya minum sul, yang terdiri dari:
a) Menerima minuman dari orang yang posisinya lebih tinggi dengan dua tangan
b) Memegang gelas dengan dua tangan atau tangan kanan memegang gelas dan tangan kiri menopang tangan kanan
c) Memiringkan badan ke arah samping ketika minum di hadapan orang yang posisi atau statusnya lebih tinggi.
4. Membungkuk dalam (90 derajat) pada orang yang posisi atau statusnya lebih tinggi.
5. Penggunaan bahasa formal-honorifik pada orang yang posisinya lebih tinggi.
Universitas Sumatera Utara
6. Etika dalam menyambut tamu di kantor, yaitu menyajikan teh kepada tamu yang berkunjung.
7. Menghormati kibun orang yang status atau posisinya lebih tinggi.
Berdasarkan adegan-adegan yang telah peneliti analisis, nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat Korea masih banyak dipengaruhi oleh Konfusianisme. Menurut C.Alexander Simpkins dan Annelen Simpkins (2000: 65) ajaran pokok Konfusian berkisar antara cara hidup dan cara menjalani hubungan. Kehidupan sehari-hari menjadi fokus utama ajarannya. Membuat kehidupan menjadi yang terbaik adalah sasarannya. Walaupun saat itu konfusianisme tidak lagi mendominasi, namun pada beberapa aspek konfusianisme masih mempengaruhi kehidupan masyarakat Korea terutama pada bidang sosial dan budaya. Konfusianisme juga berpengaruh pada hubungan sosial dan tata krama masyarakat Korea. Etika dan moralitas masyarakat Korea masih diliputi oleh pandangan-pandangan konfusianisme. Pengaruh konfusianisme tergambar pada bentuk nilai sosial masyarakat Korea, yaitu tulisan, aktivitas minum teh dan etika dalam hubungan sosial antara atasan dan bawahan dan kesantunan berbahasa.
Tradisi konfusianisme yang ketat memengaruhi hubungan sosial antar individu di Korea. Masyarakat Korea didasarkan pada sistem hirarki sosial Konfusianime, di mana orang Korea perlu mengetahui posisi atau status orang lain untuk menentukan bagaimana berhubungan dengan dia, apakah dalam hal penghormatan yang diberikan atau bahasa untuk digunakan dalam berkomunikasi. Sikap hormat berdasarkan usia dan senioritas masih menjadi bagian penting dari budaya Korea. Hal ini dipengaruhi oleh salah satu ajaran Konfusianisme yaitu lima dasar hubungan antar manusia, yang salah satunya adalah hubungan antara penguasa dengan rakyat. Di dalam lima dasar hubungan sosial tersebut, kesopanan dan kesetiaan adalah wujud kewajiban yang harus dipatuhi di dalam menjalani hubungan sosial.
Menurut J.K. Lee, usia adalah ukuran yang sangat penting untuk menentukan posisi administrasi atau sosial di masyarakat Korea. Di bidang akademik, menurut sebuah sistem penggolongan usia berdasarkan tatanan atau prinsip Konfusianisme, anggota pengajar yang termuda biasanya menghormati
Universitas Sumatera Utara
anggota pengajar senior yang umumnya memegang posisi yang lebih tinggi. Selain itu, anggota pengajar yang lebih muda selalu menggunakan bentuk honorifik ketika berbicara kepada anggota pengajar senior tanpa memandang status, karir, dan jenis kelamin (Lee, 2001: 16). Hal ini mempengaruhi aturan dalam hubungan antara atasan dan bawahan dalam hal berkomunikasi. Di dalam bahasa Korea, seorang penutur harus menentukan posisinya terlebih dahulu terhadap posisi mitra tuturnya dan juga tidak boleh melanggar kesantunan berbahasa. Seorang bawahan harus menggunakan honorifik terhadap atasannya sebagai bentuk kehormatan dan kesopanan.
Budaya chol dianggap sebagai interpersonal manner, terutama ketika berinteraksi dengan orang yang lebih tua atau dengan orang yang posisinya lebih tinggi. Dalam kebiasaan membungkuk di Korea umumnya terbagi dalam 3 jenis, yaitu informal, formal, dan sangat formal. Ketiganya dapat dibedakan dari sudut bungkuknya. Untuk informal seseorang akan membungkuk 15 derajat, formal dengan membungkuk 30 derajat, dan sangat formal hingga 90 derajat atau lebih, hingga dahi menyentuh tanah. Semakin dalam seseorang membungkuk, semakin menunjukkan rasa hormat, rasa bersalah, atau rasa terima kasih.
Pada budaya minum sul memperlihatkan bentuk kesopanan dalam menerima minuman dari atasan dengan dua tangan dan menghindarkan wajah agar tidak persis minum dihadapan wajah orang yang lebih tua dengan cara menggeser tubuh mereka sedikit kesamping.
Budaya minum teh hijau pada masyarakat Korea dimulai sejak zaman Dinasti Joseon (1392-1910). Keluarga istana dan kaum bangsawan meminum teh hijau dalam tata cara sederhana, yakni tata cara minum teh harian yang dinikmati pada hari-hari biasa, sementara tata cara teh khusus dijalankan untuk peristiwa-peristiwa tertentu, seperti pengumuman ratu atau putra mahkota atau bahkan memperingati ulang tahun pangeran. Sarjana Konfusius menggunakan teh hijau sebagai cara untuk mengembangkan disiplin mental dan disiplin diri. Bahkan pada zaman dahulu, dikatakan bahwa "secangkir teh adalah awal dari Zen." Zen adalah sumber utama keluhuran, yaitu kebijksanaan, cinta kasih, belas kasih dan kesetaraan. Zen adalah sumber keluhuran yang terwujud sebagai yi atau kebaikan.
Universitas Sumatera Utara
Moralitas berawal dari cinta kasih. Sarjana Konfusius menggunakan teh hijau sebagai cara untuk mengembangkan disiplin mental dan disiplin diri. Bahkan pada