• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA

D. Analisis Isi Kebijakan

Analisis isi kebijakan digunakan untuk menganalisis isi kebijakan yang berlaku yang terkait dengan pengelolaan dampak dari kegiatan komplek PLTU Paiton khususnya pengaruh komponen tahap operasional terhadap komponen lingkungan bentik perairan pesisir. Kebijakan yang akan dianalisis adalah arahan pengelolaan dan pemantauan pada dokumen RKL-RPL dengan cara membandingkan implementasi pada tahap operasionalnya.

Hidrooseanografi Daerah Pesisir Paiton

Perairan pesisir Paiton merupakan bagian dari perairan laut Selat Madura (Gambar 5). Berdasarkan posisi tersebut, kondisi fisik hidrooseanografi di perairan pesisir Paiton banyak dipengaruhi oleh kondisi di Selat Madura seperti pola arus, gelombang, dan pasang surut. Kondisi perairan di Selat Madura pada umumnya relatif tenang dengan karaketeristik tinggi gelombang relatif rendah, frekuensi gelombang relatif kecil dan panjang gelombang yang pendek. Pola gelombang di perairan sekitar Paiton lebih banyak disebabkan oleh bangkitan angin dikarenakan daerah ini merupakan perairan laut yang tertutup. Kecepatan angin maksimum umumnya terjadi pada puncak-puncak musim yakni pada puncak musim barat (sekitar bulan Desember) kecepatan angin rerata harian dapat mencapai 13 knot dengan arah 270° sementara pada puncak musim timur (akhir bulan Juli hingga awal Agustus) kecepatan angin rerata harian maksimum antara 10-11 knot dengan arah 90°. Tinggi gelombang di sekitar wilayah pesisir Paiton umumnya kurang dari satu meter, sementara gelombang besar yang dapat mencapai lebih dari empat meter dapat terjadi pada puncak-puncak musim dengan kemungkinan kejadian kurang dari 0.5%. (PJB, 2007). Pola arus di perairan pesisir Paiton cenderung bergerak ke arah timur pada saat surut dan ke arah barat pada waktu pasang dengan kecepatan rata-rata 25.8 cm/detik dan kecepatan maksimum 54 cm/detik. Pasang surut (pasut) di sekitar perarian Selat Madura mempunyai tipe campuran dominan ganda (mixed tide prevailing semidiurnal), artinya dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan periode pasut yang berbeda. Kedalaman perairan mulai dari depan area komplek PLTU Paiton ke arah utara berkisar antara lima hingga 30 meter (Paiton Energy/PE, 2008).

Sumber peta : Google Earth (Juli-2013)

Gambar 5 Lokasi pesisir Paiton di Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur

Potensi Perikanan

Sebagai daerah pesisir, Kecamatan Paiton banyak memiliki jenis potensi perikanan laut baik perikanan tangkap maupun budidaya. Jenis ikan hasil tangkapan utama di Kecamatan Paiton terdiri dari Kembung, Beloso, Lemuru, Tembang, Peperek, Selar, Layang, Bijinangka, Gulamah, dan Ekor Kuning (DPPK Kab Probolinggo, 2007 dalam PE, 2008). Sementara itu, hasil tangkapan nelayan di daerah Bhinor dan Banyuglugur yang terletak berbatasan dengan area komplek PLTU Paiton di sebelah barat dan timur terdiri dari jenis Kakap, Belanak, Kuniran, Kurisi, Kakak Tua, Kerapu, dan Bandeng (PE, 2008). Tingginya potensi ini tentunya perlu didukung dengan kondisi perairan dan juga lingkungan bentik perairan pesisir yang sehat sehingga dapat mendukung produktivitas perairan guna menjaga populasi ikan dan biota laut lainnya.

Berdasarkan hasil pengamatan di daerah pesisir Paiton, dijumpai terdapat beberapa usaha pembibitan udang, namun kondisinya saat ini tidak dalam kondisi yang optimal dalam pengusahaannya. Hal ini dapat disebabkan sarana dan prasarana yang belum memadai serta biaya operasional yang relatif tinggi. Namun demikian, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya No: KEP.240/DJ-PB/2012 tentang Penetapan 87 Lokasi Sentra Produksi Perikanan Budidaya Sebagai Kawasan Minapolitan Percontohan Tahun 2013, Kabupaten Probolinggo ditetapkan sebagai salah satu dari kawasan minapolitan tersebut dengan komoditas utama berupa udang serta Bandeng sebagai penunjang. Lokasi pusat pengembangan percontohan budidaya udang berada di Kecamatan Paiton dan didukung oleh lima kecamatan pesisir lain disekitar Paiton (www.probolinggokab.go.id, Mei 2013). Melalui kebijakan tersebut diharapkan potensi perikanan di Kabupaten Probolinggo khususnya di Kecamatan Paiton dapat dimanfaatkan lebih optimal.

Komplek PLTU Paiton

PLTU Paiton merupakan komplek pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara yang terdiri atas delapan unit pembangkit. Secara administratif, lokasi PLTU Paiton terletak di Desa Bhinor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Tabel 4 memberikan keterangan dari masing-masing unit pembangkit yang ada di komplek PLTU Paiton.

Terkait dengan aktivitas operasional PLTU yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap kondisi lingkungan bentik perairan pesisir, masing-masing pengelola unit telah melakukan upaya antara lain :

- menggunakan batu bara yang berkadar sulfur rendah;

- pemakaian sistem flue gas desulphurization untuk mengurangi kadar sulfur dari emisi cerobong;

- penggunaan tinggi cerobong yang memadai; - pemakaian burner NOx rendah;

- penggunaan dan perawatan electrostatic precipitator untuk mengurangi kadar abu dari emisi cerobong;

- pengelolaan abu batu bara berupa fly ash dan bottom ash melalui penimbunan di ash disposal yang letaknya relatif jauh dari pantai/pesisir;

menanggulangi limbah bahang dari water cooling discharge;

- menghindari terjadinya ceceran batu bara ke laut dengan pemasangan pelat pengarah ceceran batu bara kembali ke tongkang;

- mengarahkan dan menampung semua air limbah yang dihasilkan dari proses operasional ke retention basin dan mengalirkannya ke instalasi pengolah air limbah;

- mengarahkan dan menampung semua air limpasan dari sistem drainase di lokasi stockpile ke coal pile run off pond dan mengalirkannya ke instalasi pengolahan air limbah. Air tersebut dapat digunakan kembali untuk proses penyiraman batu bara di stock pile untuk menjaga suhu batu bara agar tidak terjadi kebakaran.

Tabel 4 Informasi unit pembangkit di area komplek PLTU Paiton

No. Nama

Pembangkit

Kapasitas (MW)

Pemilik Operator Tahun

beroperasi 1. Unit 1 dan 2 2 X 400 PT Pembangkit Jawa

Bali (PJB) Unit Pembangkitan Paiton

PT PJB UP Paiton

1994

2. Unit 5 dan 6 2 X 600 PT YTL Power Jawa Power 1998

3 Unit 7 dan 8 2 X 600 PT Paiton Energy PT IPMOMI 1999

4 Unit 3 1 X 800 PT Paiton Energy PT IPMOMI 2012

5 Unit 9 1 X 600 PLN Persero PLN (Persero) Pembangkitan Indramayu 2012 Sumber : PJB (2012)

Kualitas air laut

Berdasarkan data sekunder yang diperoleh berupa data rona lingkungan awal dari dokumen ANDAL dan laporan pelaksanaan dan pemantauan lingkungan hidup (RKL-RPL) yang dilaksanakan masing-masing pengelola unit pembangkit pada area komplek PLTU Paiton dapat diketahui bahwa salinitas perairan tersebut berkisar antara 33-34‰, sementara suhu perairan berkisar antara 28-29°C. Gambaran mengenai kualitas perairan laut di wilayah pesisir Paiton yang dirangkum dari beberapa data sekunder disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Kualitas perairan laut pesisir Paiton periode 1996-2012 No. Sumber data dan

tahun

Parameter yang tidak memenuhi Baku Mutu Lingkungan

Kode dan Lokasi Pengambilan Sampel

1. ANDAL PLTU Paiton Unit 5&6. 1996 TSS, Kekeruhan, Nitrit, COD, E.Coli, Fenol Pb,Cd,Ni,Zn 1: Kampung Bhinor

2: KRO (perumahan operator) 3: Dermaga barang

4: Dermaga batubara 5: Kanal outlet

6: Sesudah proyek PLTU Paiton Unit 1&2 7: Kampung Banyuglugur 2. ANDAL Pembangunan PLTU 2 Jawa Timur (Unit 9). 2006 Amonia, Nitrat, Deterjen, Minyak dan Lemak, Cd, Cu, Pb, Zn

AL1: Sebelah timur rencana dermaga AL2 : Rencana dermaga

AL3: Sebelah barat rencana dermaga

3. ANDAL PLTU Paiton Unit 3. 2008 -(semua parameter mememuhi baku mutu) SW1: Mangrove Bhinor SW2: Dermaga batubara SW3: Inlet kanal SW4: Outlet kanal

SW5: Sebelah tapak proyek SW6: Banyuglugur 4. Lap RKL RPL Unit 3. (laporan triwulan Periode Feb 2009 – Juni 2012) -(semua parameter mememuhi baku mutu)

SQ 1 : Perairan di sekitar suar SQ 2: Perairan di jetty PLN

SQ 3: Perairan di sebelah timur jetty PLN SQ 4: Perairan di utara supporting jetty SQ 5: Perairan disekitar inlet canal (cooling water intake)

SQ 6: Perairan disekitar outlet canal (cooling water discharge)

SQ 7: Perairan sebelah timur outlet canal

5. Lap RKL RPL Unit 7&8. (laporan tri-wulan Periode Feb 2009 – Sept 2012 -(semua parameter mememuhi baku mutu)

St-1: Perairan di depan Mesjid Bhinor St-2: Perairan di depan outlet stream PE St-3: Perairan di belakang coal unloading jetty PE

St-4: Perairan disekitar supporting jetty St-5 : Perairan didepan inlet canal

St-6: Perairan di depan coal unloading jetty St-7: Perairan di depan PJB coal stockpile St-8: Perairan di depan outlet canal

bahwa pada beberapa tahun terakhir umumnya kualitas air di pesisir Paiton masih dalam status mutu yang baik meskipun pada beberapa periode pemantauan terdeteksi adanya beberapa parameter yang tidak memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Beberapa parameter yang terdeteksi tidak memenuhi baku mutu merupakan parameter penciri polutan dari kegiatan domestik yakni ammonia, nitrit, minyak dan lemak, deterjen, serta E. coli. Parameter logam terlarut yang terukur melebihi baku mutu yang dipersyaratkan diperkirakan terjadi karena pengaruh kandungan logam pada sedimen dan tanah di sekitar wilayah Paiton yang pada kondisi alamiahnya mengandung beberapa parameter logam yang cukup tinggi. Hal ini terkonfirmasi pada pembahasan mengenai kandungan logam dalam sedimen pada bab selanjutnya.

Dokumen terkait