BAB IV ANALISIS KALENDER HIJRIAH KRITERIA 29
A. Analisis Kalender Hijriah Kriteria 29 dalam Tinjauan
Hisab dan rukyah (perhitungan dan pengamatan) dalam ruang lingkup ilmu Falak (terkait posisi dan gerak benda-benda langit) adalah multi disiplin ilmu yang digunakan untuk membantu dalam penentuan waktu pelaksanaan suatu ibadah. Setidaknya ilmu hisab rukyah merupakan gabungan antara Fikih dan Astronomi.1 Disebut Fikih karena dalam penentuan awal bulan tersebut tidak terlepas dari dasar hukum yang telah ditetapkan, terutama berkaitan dengan waktu pelaksanaan suatu ibadah yang bersumber dari al-Qur‟an, hadis dan ijtihad para ulama, sedangkan Astronomi memberikan formulasi terhadap tafsir yang terdapat dalam dalil-dalil tersebut dalam membuat rumusan matematis yang digunakan dalam prakiraan waktu.
1
T.Djamaluddin, Astronomi Memberi Solusi Penyatuan Umat, (Bandung: Lapan, 2011), 5.
110
1. Analisis Logical Astronomy Kalender Hijriah Kriteria 29
Seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, seharusnya semakin memberi kemudahan bagi umat Islam dalam membuat sistem kalender yang berdasarkan peredaran Bulan (lunar system) yang berbasis sains (Astronomi) serta tidak bertentangan dengan ilmu Fikih. Pada dasarnya, banyak metode perhitungan Astronomi yang dapat digunakan untuk mengetahui data-data posisi Matahari dan Bulan, mulai dari metode perhitungan dengan tingkat akurasi rendah (low
accuracy) hingga akurasi tinggi (high accuracy). Algoritma
perhitungan yang disusun oleh Jean Meeus2 merupakan salah satu metode perhitungan data posisi Matahari dan Bulan yang termasuk ke dalam kelompok perhitungan akurasi tinggi (high
accuracy computing method), dan model perhitungan ini lah
dengan bantuan bahasa Visual Basic for Application (VBA) di dalam Microsoft Excel yang dikembangkan oleh Khafid yang digunakan dalam perhitungan logical astronomy kalender Hijriah kriteria 29 pada bab sebelumnya, yang kemudian
2
Jean Meeus: Astronom berkebangsaan Belgia, lahir tahun 1928, mendapat julukan Master of Astronomical Calculations, karena sering melakukan perhitungan-perhitungan terhadap kejadian-kejadian Astronomi yang langka. Dapat dilihat dalam: Jean Meeus, Mathematical Astronomy Morsels, (Virginia: Willmann-Bell, Inc., 1997), iii.
111 diolah menjadi berbagai grafik gambar agar mudah untuk diinterpretasikan.
Algoritma Jean Meeus dalam perhitungan posisi Matahari dan Bulan sebenarnya merupakan reduksi dari perhitungan VSOP873 dan ELP-2000/824 yang lebih rumit dan lebih tinggi akurasinya. VSOP87 adalah rujukan perhitungan data Matahari dalam algoritma Jean Meeus, adapun ELP-2000/82 merupakan rujukan dalam perhitungan data Bulannya. Berangkat dari ribuan suku koreksi VSOP87 dan ELP-2000/82, Meeus hanya mengambil beberapa ratus suku koreksi saja, dan hanya mengambil suku-suku koreksi yang dinilai besar dan penting, serta membuang suku-suku koreksi yang kurang penting.5 Meski demikian, algoritma Jean Meeus mampu menghasilkan data posisi Matahari dan Bulan
3
VSOP87 atau Variations Séculaires des Orbites Planétaires, merupakan teori lintasan planet-planet yang dipublikasikan oleh P. Bretagnon dan G. Francou di Bureau des Longitudes, Paris pada tahun 1987. VSOP87 merupakan revisi dari VSOP82, karena pada VSOP82 tidak mencantumkan suku-suku koreksi yang bisa ditinggalkan untuk perhitungan full accuracy. Total jumlah koreksi pada VSOP87 sebanyak 2425 buah; 1080 koreksi untuk bujur ekliptika, 348 koreksi untuk lintang ekliptika dan 997 koreksi untuk jarak Matahari-Bumi. Dapat dilihat dalam: Jean Meeus, Astronomical Algorithm, (Virginia: Willmann-Bell, Inc., 1991), 205.
4
ELP-2000/82 atau Enable Development Ephemesris adalah teori lintasan Bulan yang dipublikasikan oleh M. Chapront-Touze dan J. Chapront pada tahun 1983 di Bureau des Longitudes, Paris. Total koreksi pada teori ELP- 2000/82 sebanyak 37.862 periodic terms (suku koreksi), terdiri dari 20.560 koreksi Bujur bulan, 7.684 koreksi lintang bulan, dan 9.618 koreksi Jarak bulan ke Bumi. Dapat dilihat dalam: http://eclipse.gsfc.nasa.gov/SEpath/ve82-predictions.html, diakses pada tanggal 21/4/2017 pukul 10.04 WIB.
5
Rinto Anugraha, Mekanika Benda Langit, (Yogyakarta: Lab. Fisika Material dan Instrumentasi Jurusan Fisika FMIPA UGM, 2012), 68.
112
yang akurat, dengan tingkat kesalahan tidak lebih dari 1 detik bujur dalam rentang waktu antara tahun -2000 hingga +6000 (sekitar 8000 tahun).6
Karakteristik periode ijtimak dalam grafik pada bab sebelumnya nampak begitu rapi dengan pengulangan grafik periode yang hampir sama, tidak lain karena Bulan memiliki beberapa siklus dalam pergerakannya. Bulan memiliki siklus yang sama atau hampir sama setiap 235 lunasi Bulan atau 19 tahun Tropis yang kemudian disebut dengan siklus meton.7 Siklus metonik ini menjadikan ijtimak atau konjungsi akan berlangsung pada tanggal yang hampir sama, sehingga dalam data sekitar 183 tahun setidaknya terdapat 9,6 siklus meton yang kemudian menggambarkan karakteristik periode ijtimak atau konjungsi yang hampir berbentuk grafik yang sama. Perhatikan tabel berikut :
6
Jean Meeus, Astronomical...., 154 7
Siklus meton merupakan siklus berulangnya fase Bulan pada tanggal yang sama atau hampir sama pada kalender Masehi, yaitu 235 lunasi, siklus 19 tahun Masehi sepadan dengan 19 tahun 7 bulan dalam sistem kalender Hijriah atau sekitar 6940 hari Matahari. Lihat https://www.wordslastchance.com/yahuwahs-calendar/siklus-metonik-disederhanakan.html, diakses pada 5 Februari 2017 13.06 WIB.
113
Tabel 4.1 Fenomena konjungsi 1980 dan 19998
No Tanggal dan Tahun Jam Tanggal dan Tahun Jam 1 17 Januari 1980 21:19 UT 17 Januari 1999 15:46 UT 2 16 Februari 1980 08:50 UT 16 Februari 1999 06:38 UT 3 16 Maret 1980 18:55 UT 17 Maret 1999 18:47 UT 4 15 April 1980 03:46 UT 16 April 1999 04:21 UT 5 14 Mei 1980 12:00 UT 15 Mei 1999 12:05 UT 6 12 Juni 1980 20:38 UT 13 Juni 1999 19:02 UT
Sampel data di atas menunjukkan tanggal terjadinya ijtimak pada tahun 1980 dan 1999 M atau bertepatan dengan 1400 dan 1419 H yang terjadi pada tanggal Masehi yang hampir sama. Begitu pula jam terjadinya ijtimak pun nilainya hampir berdekatan. Pengulangan siklus pergerakan Bulan ini lah yang disebut siklus metonik.
Seberapa teliti sebuah perhitungan komputasi sebuah rumus tertentu, pada faktanya pada ketelitian ijtimak yang disebutkan bahwa telah mencapai 0,01 detik busur masih terdapat banyak perbedaan hasil perhitungan (meski cenderung tipis) pada saat akan dilakukannya praktek rukyah teoritis. 9 Dibalik perbedaan-perbedaan tersebut, terdapat
8
Data diambil dari data yang sama dengan data pada bab sebelumnya. Lebih lengkapnya lihat lampiran data perhitungan kalender Hijriah kriteria 29
9
Sebagai contoh rekapitulasi data hisab awal Bulan Puasa 1424H/2003 pada Keputusan Temu Kerja Evaluasi Hisab Rukyat Tahun 2003, Departemen Agama. Ru‟yah teoritis pada 25 Oktober 2003 yang dilakukan dari berbagai macam
114
banyak faktor yang mempengaruhi keakuratan sebuah perhitungan, salah satu adalah data Bulan atau Matahari yang di gunakan. Apakah menggunakan data hidup (dinamis) atau data mati (statis). Sebuah hasil hisab dapat dipercayai kebenarannya jika didukung bukti-bukti kuat tentang tetepatannya, seperti halnya hisab gerhana Matahari yang merupakan ijtimak teramati yang memiliki ketelitian bahkan sampe orde detik, maka jaminan kebenarannya lebih kuat dari pada rukyah, karena orang lain dapat mengujinya dan pengamatan posisi Bulan bisa membuktikannya.10
Di lain sisi, meskipun kriteria 29 telah disesuiakan dengan kondisi geografis Indonesia yang beriklim tropis, namun faktor meteorologi tidak mudah diprediksi. Prakiraan cuaca hanya dapat dilakukan BMKG misalnya, maksimal selama satu minggu ke depan, sehingga untuk penyusunan kalender Hijriah dalam jangka waktu satu tahun misalnya, tidak bisa dicantumkan beserta prakiraan cuacanya sekaligus sebagai acuan ru‟yat al-hilal. Faktor cuaca memegang sumber menunjukkan hasil perhitungan ijtimak yang berbeda-beda. Menurut perhitungan al-Qawāid al-Falakīyyah ijtimak terjadi pada jam 20:14, menurut perhitungan Nurul Anwar ijtimak terjadi pada jam 19:58, perhitungan New Comb menyatakan ijtimak terjadi pada jam 19:53, perhitungan Jean Meuus menyatakan ijtimak terjadi jam 19:49, perhitungan EW,Brown menyatakan ijtimak terjadi pada jam 19:50, menurut perhitungan Ephemeris ijtimak terjadi pada jam 19:51, dan Mawaqit menyebutkan ijtimak terjadi pada jam 19:51. Lihat Khafid, Astronomi Bagian dari Solusi Penyatuan Kalender Islam, Makalah dalam Munas Penyatuan Kalender Hijriah pada tanggal 17-19 desember 2005, 3.
10
115 peranan tidak kalah penting juga dalam proses pengamatan hilal pada saat rukyah berlangsung. Selain itu, pengambilan sampel lokasi pengamatan dalam data perhitungan kalender Hijriah kriteria 29 hanya mengambil koordinat Banda aceh dan Pelabuhan Ratu saja yang kemudian dari data sempel itu akan mengcover produk akhir kriteria 29 untuk seluruh Indonesia, karena mungkin mempertimbangkan kenampakan hilal yang pasti lebih awal terlihat di wilayah Indonesia bagian Barat dari pada wilayah Indonesia bagian Timur, namun setidaknya pengambilan sampel harus mengambil beberapa koordinat daerah-daerah di Indonesia.
Data-data logical astronomy kalender Hijriah kriteria 29 pada bab sebelumnya, pada akhirnya sebenarnya bermaksud meminimalisir perbedaan antara kriteria wujudul hilal dan imkan rukyah, meski tidak mungkin seratus persen akan berkesimpulan sama, setidaknya logical astronomy kalender Hijriah kriteri 29 akan berusaha menjawab bagaimana meminimalisir perbedaan kalender Hijriah di Indonesia berdasarkan hisab yang argumentatif untuk keteraturan atau kepastian kalender dengan hasil rukyah untuk keperluan ibadah.
Jika acuan kalender Hijriah semata hanya pertimbangan ilmiah, maka kalender tersebut cukup mengacu
116
pada perhitungan waktu ijtimak. Definisi ijtimak sebagai acuan hanya murni ilmiah, tidak mempertimbangkan Fikih, sehingga perlu penelitian lanjutan tentang pijakan hukum Islam akan hal tersebut.
2. Analisis Landasan Fikih Kalender Hijriah Kriteria 29
Secara Fikih, hilal adalah Bulan sabit yang terlihat pada hari pertama dan hari kedua. Secara Astronomis, hilal adalah Bulan sabit yang muncul sejak hari pertama sampai hari ke tujuh, dan hilal merupakan satu bagian dari fase-fase Bulan. Baik menggunakan hisab maupun rukyah, syariat menjadikan hilal (Bulan sabit) sebagai standar acuan dalam penentuan awal bulan Hijriah.
Para pendukung perhitungan Astronomi (hisab) sering dianggap para ulama pendukung rukyah tidak memiliki kapasitas yang cukup sebagai ahli syari‟ah Islam. Sebaliknya, para pendukung rukyah dianggap terlalu naif dalam menafsirkan ayat al-Qur‟an dan hadis, tidak mampu menangkap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga cenderung kaku dan ketinggalan zaman. Semua berangkat dari perbedaan interpretasi dalam memahami ayat al-Qur‟an dan hadis yang menjadi rujukan untuk menentukan awal bulan-bulan ibadah.
117
a. Penelitian Hadis-Hadis Hisab Rukyah
Karakteristik yang sangat fundamental tentang parameter penafsiran atau pemahaman sebuah nas hadis itu terletak pada prinsip atau kaidah yang diyakininya. Jika metode dalam memahaminya lebih berpegang pada kaidah
al-ibrah bi umūmi al-lafaẓ lā bi khusūsi as-sabāb (ketetapan
makna itu didasarkan pada universalitas keumuman teks bukan pada partikulasi kekhususan sebab), maka dalam menetapkan sebuah produk penafsiran akan teks mereka lebih mengedepankan makna „am-nya dari pada menganalisis sebab-sebab diwahyukannya nash ditinjau dari sosio-history dan antropologi saat itu sebelum menetapkan suatu pemaknaan matan sebuah hadis, karena bertumpu pada analisis kebahasaan, tidak jarang penafsiran atau pemahamannya sangat kental dengan nalar bayānī dan bersifat deduktif dimana posisi lafaẓ teks lebih menjadi dasar penafsiran dan bahasa menjadi perangkat analisisnya.11
Sebaliknya, metode penafsiran secara kontekstual berpegang pada prinsip atau kaidah penafsiran al-„ibrah bi
khusūs as-sabāb lā bi umūmi al-lafaẓ (ketetapan makna itu
didasarkan pada partikulasi kekhususan sebab bukan pada universalitas keumuman teks). Penafsiran model ini
11
Syafrudin, Paradigma Tafsir Tekstual dan Kontekstual Usaha Memahami Kembali Pesan Al-Qur‟an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 36.
118
tama memahami makna asli suatu teks, kemudian menelusuri
sosio-history yang menyebabkan turunnya suatu teks atau
ajaran sehingga dapat merekonstruksi makna. Di kalangan penganut paham kontekstualisasi makna nas memunculkan kaidah baru yang di sebut al-„ibrah bi maqāshid asy-syarī‟ah (ketetapan makna didasarkan akan maksud-maksud syari‟ah). Kaidah ini berusaha mencari sintesis-kreatif dalam memahami teks dengan berpegang teguh pada tujuan disyari‟atkannya sebuah doktrin.12
Para ulama dalam mengaktualisasikan makna hadis tentang awal bulan baik dari mażhab rukyah, maupun dari mażhab hisab pun terkadang terjadi perbedaan di dalam masing-masing kelompok. Tergantung bagaimana pemahaman orang memahaminya. Di sini persoalan hukum Fikih diposisikan untuk melihat aturan apakah melanggar kaidah hukum atau tidak, mengingat yang ijtihadiyah tentu akan penuh dengan perbedaan. Perbedaan tafsir hisab dan rukyah dalam merujuk dalil syar‟i tidak bisa dipersatukan lagi. Kita terima itu sebagai kenyataan perbedaan mażhab dan sebagai khazanah pemikiran yang menunjukkan keluasaan ruang ijtihadi di kalangan umat Islam.13
12
Syafrudin, Paradigma Tafsir..., 36. 13
T.Djamaluddin, Pokok-pokok Pikiran Menuju Titik Temu Kriteria Penetapan Awal Bulan Hijriyah di Indonesia dan Jalan Mewujudkan Penyatuan
119
b. Permulaan Hari
Terdapat beberapa isyarat dikemukakan oleh para ulama Fikih mengenai permulaan hari, namun di antara mereka pun terjadi perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat permulaan hari itu di waktu maghrib, namun ada pula yang menyebutkannya di waktu fajar.
Menurut jumhur ulama Fikih, hari dimulai sejak terbenamnya Matahari (di waktu maghrib). Mereka mengemukakan sebuah isyarat dengan kewajiban atau tidaknya seseorang membayar zakat fitrah. Jika seseorang meninggal dunia sebelum Matahari terbenam di akhir Ramadan, ia tidak dikenai kewajiban membayar zakat fritrah, karena dia dianggap tidak menghadiri datangnya Idul Fitri yang jatuh pada saat terbenam Matahari di akhir Ramadan, namun apabila dia meninggal setelah terbenan Matahari di akhir Ramadan, maka ia dianggap telah menghadiri datangnya Idul Fitri, dan ia (ahli warisnya) wajib dikenakan membayar zakat fitrah. Bagi bayi yang dilahirkan atau orang yang masuk Islam sebelum terbenam Matahari, ia (orang tua bayi, atau muallaf tersebut) terkena kewajiban membayar zakat fitrah, karena bayi atau muallaf itu itu telah dianggap menghadiri Ramadan. Akan tetapi, jika bayi atau muallaf itu lahir atau Kalender Islam, Makalah disampaikan pada seminar penyatuan kalender Hijriyah untuk peradaban Islam Rahmatan lil „alamin di Yogyakarta, Mei 2016, 1.
120
memeluk Islam setelah terbenam Matahari di akhir Ramadan, maka ia tidak terkena kewajiban membayar zakat fitrah, karena dianggap tidak menghadiri Ramadan.14 Pandangan jumhur ulama tersebut memberikan isyarat bahwa mulainya hari adalah pada saat terbenamnya Matahari, yaitu di waktu Maghrib.
Di lain pihak, di kalangan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa hari itu dimulai pada saat terbitnya fajar. Mereka berpendapat waktu jatuh tempo terkena kewajiban atau tidaknya membayar zakat fitrah bagi orang yang meninggal dan bayi yang dilahirkan atau orang yang masuk Islam adalah saat terbitnya fajar, ketika datangnya waktu Subuh. Orang yang meninggal sebelum fajar Idul Fitri atau bayi yang lahir serta orang yang masuk Islam sesudah terbit fajar semuanya tidak dikenai kewajiban zakat fitrah. Sebaliknya, orang tersebut dikenai zakat fitrah adalah yang meninggal sesudah mulainya hari Idul Fitri, yaitu sesudah terbitnya fajar. Begitu pula orang yang lahir atau masuk Islam
14
Muḥammad Jawad Mughniyyah, al-Fiqh „alâ al-Mażâhib al-Khamsah (Beirut: Dâr al-Jawâd, t.th), diterjemahkan oleh Masykur A.B., dkk., Fiqih Lima Mażhab, (Jakarta: Lentera, 2003), 197. Lihat pula hadis yang diriwayatkan oleh Dāruquthnī dan Ishāq ibn Rahawaih; diriwayatkan juga oleh Abū Dāwud dan Baihaqī dengan lafaẓ yang sedikit berbeda. Lihat juga Dâruquthnî, Sunan al-Dāruquthnī (Beirut: Dâr al-Kutub al-„Ilmiyyah, t.th.), II: 44; dan Ishāq ibn Rahawaih, Musnad Ishāq ibn Ruhawaih, (Madinah: Maktabât Îmân, t.th.), 429. Lihat pula al-Kasânî, Badâ‟i al-Shanâ‟i fî Tartîb al-Syarâ‟i, Cet. II (Beirut: Dār al-Ihyā‟ al-Turāts al-„Arabî, 1419/1998), II:206.
121 sebelum mulainya hari Idul Fitri, yakni sebelum terbit fajar pada hari itu, dikenai zakat fitrah.
Pandangan ulama Hanafiyah ini dilandasi al-Qur‟an surat al-Baqarah ayat 187, yang berbunyi: “… dan makan
minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar…”, dan hadits Nabi saw, bahwa beliau
bersabda: “Puasamu adalah hari kamu berpuasa dan
fitrahmu adalah hari kamu ber-Idul Fitri”,15 oleh karenanya ulama Hanafiyah memberi isyarat bahwa permulaan hari itu saat terbitnya fajar,16 atau di waktu shubuh.17 Masalah penentuan hari ini penting dalam pembuatan kalender. Beberapa pakar telah mendiskusikan masalah ini, namun belum mencapai titik temu.
Selain pandangan tentang kapan dimulainya hari dimulai pada saat terbitnya fajar dan pada saat terbenamnya Matahari, belakangan muncul suatu pemikiran bahwa permulaan hari itu yang tepat adalah saat tengah malam hari, yaitu pukul 00:00. Pemikiran ini dikemukakan oleh seorang
15
Al-Dâruquthnî, Sunan al –Dâruquthnî..., II: 44 dan Ishâq ibn Rahawaih, Musnad Ishâq ..., 429.
16
Di zaman modern masyarakat yang mengikuti faham bahwa hari dimulai sejak terbit fajar adalah masyarakat Muslim kontemporer di Libya. Untuk Zulhijah 1428 H, negara ini memasuki tanggal 1 Zulhijah 1428 H pada hari Senin 10 Desember 2007, karena konjungsi terjadi malam Senin sebelum fajar, yaitu sebelum mulainya hari baru. Pemahaman tersebut adalah karena kebijakan yang dilakukan oleh Pemimpin Libya, Muammar Khadafi, saat berjayanya.
17
122
peneliti dari Maroko bernama Jamâluddîn Abd al-Râziq, yang telah melakukan suatu riset dengan memakan waktu cukup lama dan melakukan pengujian terhadap 600 bulan kamariah untuk tahun 1421 H. hingga 1470 H. Menurut Jamâluddîn, adalah mustahil untuk menjadikan terbenamnya Matahari atau terbit fajar sebagai permulaan hari dan sistem waktu. Ada tiga alasan yang menjadi dasar pertimbangan dalam hal ini. Pertama, ghurūb dan terbit fajar pada tempat tertentu berubah-ubah dan tidak tetap dari satu hari ke hari lain. Kedua, waktu
ghurūb dan terbit fajar itu terkait dengan lokasi tertentu,
sehingga sistem waktu yang demikian tidak dapat diberlakukan secara umum ke seluruh negeri. Ketiga, waktu-waktu ibadah tidak terpengaruh oleh penggunaan sistem waktu internasional, serta konsep malam dan siang bagi kewajiban puasa melampaui konsep hari. Apabila kita menganggap permulaan yuridis dari bulan Ramadan adalah pada pukul 00:00 hari Ahad misalnya, maka hal itu tidaklah berarti adanya suatu pertentangan atau kontradiksi dengan kita memulai salat tarawih sesudah Matahari terbenam.18 Selanjutnya, Jamâluddîn berpendapat bahwa kita harus menerima konvensi dunia tentang hari yaitu dimulai sejak tengah malam di garis tanggal internasional. Dapat ditarik
18
Jamâluddîn Abd Raziq, Taqwîm Islâmi: Muqârabah al-Syumûliyyah, makalah, disampaikan pada The International Symposium “Toward A Unified International Islamic Calendar”, diselenggarakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Jakarta, 4-6 September 2007, 8.
123 kesimpulan, tentang permulaan hari ada tiga pandangan, yaitu di waktu Maghrib (yang merupakan pandangan mayoritas), di waktu terbit fajar (pandangan minoritas), dan di waktu tengah malam (merupakan pandangan baru sebagai alternatif).
Kriteria 29 menetapkan ketentuan bahwa tanggal 29 sebagai hari terjadinya ijtimak dengan syarat ijtimak terjadi
qobla ghurūb, hal tersebut memberikan isyarat bahwa
mulainya hari untuk kriteria ini adalah sesuai dengan pandangan jumhur ulama Fikih, yaitu pada saat terbenamnya Matahari atau di waktu Magrib. Hal tersebut dijelaskan pada surat Yasin ayat ke-40 yang akan dipaparkan pada sub bab selanjutnya.
c. Fungsi Kalender Hijriah
Seiring perkembangan pemahaman dan pengetahuan, kini seringkali fungsi kalender Hijriah sebagai kalender sosial menjadi satu kesatuan dengan fungsinya sebagai kalender ibadah. Seperti halnya kalender Hijriah pada zaman sahabat yang ditetapkan berdasarkan perhitungan sistematis,19 kalender Hijriah kriteria 29 juga didasarkan pada perhitungan
19
Sama halnya dengan penanggalan Masehi yang digunakan saat ini, kalender Hijriah pun pada zaman sahabat ditetapkan berdasarkan perhitungan matematis. Jumlah hari yang digunakan senantiasa tetap setiap bulannya. Meskipun demikian, hal-hal yang terkait dengan pelaksanaan ibadah kaum Muslimin ketika itu tetap mengikuti ketentuan yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad, oleh karenanya kalender Hijriah yang telah ditetapkan merupakan penanggalan Administrasi Negara.
124
sistematis (hisab murni logical astronomy) yang bersifat argumentatif, namun aturan tanggal-tanggal ibadah tetap menjadi dasar dalam penyusunan kalender Hijriah kriteria 29 ini, sebagaimana yang dipraktekkan oleh sahabat. Hal ini sesuai dengan nas al-Qur‟an yang telah menyebutkan bahwa kalender Hijriah selain memiliki fungsi sebagai kalender administratif seperti halnya kalender Masehi, juga memiliki fungsi sebagai kalender ibadah.
Mereka bertanya kepadamu tentang Bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji (QS. al-Baqarah [2]: 189).20
Al-ahillah (bentuk plural dari hilal) berbeda dengan al-qamar yang dalam al-Qur‟an selalu disebut dengan bentuk
tunggal. Al-ahillah dalam ayat tersebut diposisikan oleh al-Qur‟an sebagai penentu waktu (time keeping) bagi umat manusia. Kata mawāqīt jamak dari kata mīqāt yang berarti waktu yang ditentukan untuk mengerjakan sesuatu.
20
Departemen Agama RI, Syaamil al-Qur‟an, dan Terjemahnya, (Bandung : Sygma Examedia Arkanleema), 29. Menurut riwayat Abi Ḥatim dan Ibnu „Aṡir, bahwa Mu‟aż bin Jabal, dan Sa‟labah bin Ghanimah bertanya, “Ya Rasulullah, apa sebab Bulan itu kelihatan mula-mula halus seperti benang kemudian bertambah besar, sampai rata-rata bundar, kemudian terus berkurang dan mengecil kembali seperti semula, dan tidak dalam satu bentuk tetap? Maka turulah ayat di atas. Lihat Kementrian Agama RI, Al-Qur‟an dan Tafsirnya, Juz II (Jakarta: PT.Sinergi Pustaka, 2012), 283.
125 Penyebutan al-nās (manusia) pada ayat di atas menunjukkan bahwa penggunaan fenomena hilal sebagai penentu waktu tidak hanya digunakan oleh umat Islam saja tetapi juga umat yang lainnya. Pengkhususan waktu untuk pelaksanaan ibadah haji dalam ayat tersebut juga mengindikasikan perlunya kesatuan kalender untuk seluruh umat Islam. Melaui ayat tersebut, Allah memberi petunjuk dan mengajari umat Nabi Muhammad saw tentang segala persoalan waktu dan perhitungannya menurut tahun kamariah untuk kepentingan mereka baik dalam melaksanakan ibadahnya (berfungsi sebagai kalender ibadah) maupun segala macam aktivitas sosialnya (berfungsi sebagai kalender administratif) seperti hal-hal yang bertalian dengan urusan ekonomi, perjanjian dan