• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip Dasar dalam Pemahaman Kalender Hijriah

BAB II KALENDER HIJRIAH SEJARAH DAN

D. Prinsip Dasar dalam Pemahaman Kalender Hijriah

Sistem penanggalan atau kalender yang berkembang di dunia sangat banyak. Namun semuanya hanya bertumpu pada dua benda langit. Siklus peredaran harian, bulanan, dan tahunan dua benda langit, yaitu Matahari dan Bulan merupakan acuan dalam menyusun sistem penanggalan. Pemanfaatannya bagi tatanan sistem waktu jangka panjang dikenal sebagai sistem penanggalan Matahari (solar

calender), sistem penanggalan Bulan (lunar calender), dan

kalender Bulan Matahari (luni-solar calender).58

Kalender Hijriah atau kamariah dikenal juga dengan nama Lunar Calendar.59 Sebagaimana namanya, kalender ini menggunakan sistem pergerakan Bulan, yaitu perjalanan Bulan ketika mengorbit Bumi (berevolusi terhadap Bumi). Kalender ini murni menggunakan Bulan (lunar calendar) sebagai acuan, karena mengikuti fase Bulan. Kalender sistem

lunar, pada sisi lain tidak berpengaruh terhadap perubahan

musim, sebab kemunculan Bulan dalam satu tahun selama dua belas kali amat mudah diamati.60

Sebelum kalender Matahari berkembang dan dipergunakan secara luas, pada mulanya manusia

58

Tono Saksono, Mengkompromikan..., 47-48 59

Ruswa Darsono, Penanggalan ..., 32. 60

48

menggunakan peredaran Bulan sebagai acuan waktu, khususnya dalam hal pembuatan kalender. Hal ini dikarenakan kelebihan dan keunggulan sistem lunar dilihat dari kaca mata sains Astronomi, terlebih pengamatan terhadap peredarannya yang lebih mudah dan akurat meski tanpa alat bantu. Tercatat ada beberapa bangsa dan peradaban kuno yang pada awalnya menggunakan sistem peredaran Bulan dalam penentuan waktunya seperti Babilonia, Yunani dan Mesir di Timur Tengah, Aztec dan Inca di Barat, serta China dan Hindu di Timur, kemudian mereka menggantinya dengan sistem

luni-solar dengan tetap menjadikan peredaran Bulan sebagai

acuan, akan tetapi untuk menyesuaikan dengan pergantian musim mereka menambahkan bulan ke-13 pada tahun-tahun tertentu.61

Bulan sebagai satu-satunya satelit alam bagi Bumi membutuhkan waktu rata-rata 27h 7j 43m12d atau 27.321661 hari dalam satu lingkaran penuh mengelilingi Bumi. Artinya, jika pada suatu waktu Bulan berada pada titik yang searah dengan bintang tetap tertentu di langit, maka setelah 27h 7j 43m12d ia akan kembali berada ditempat semula. Periode perputaran Bulan mengelilingi Bumi (revolusi Bulan) dalam

61

Mohammad Ilyas, Sistem Kalender Islam dari Perspektif Astronomi, (Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka, 1997), 4.

49 satu putaran penuh ini dinamakan satu bulan Sideris atau

asy-Syahr an-Nujumi.

Selain mengelilingi Bumi, Bulan dan Bumi secara bersama-sama mengelilingi Matahari. Ketika lintasan Bulan mengelilingi Bumi tepat segaris dengan titik pusat bumi dan titik pusat Matahari, saat inilah yang disebut dengan konjungsi. Bulan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengelilingi Bumi dari satu konjungsi ke konjungsi berikutnya dibanding periode yang dibutuhkannya dalam mengelilingi Bumi satu putaran penuh. Periode yang dibutuhkan oleh Bulan dalam mengelilingi Bumi dari konjungsi ke konjungsi rata-rata adalah 29h 12j 44m 3d atau 29.530589 hari. Periode inilah yang digunakan sebagai dasar untuk menetapakan umur bulan kamariah yang biasa disebut dengan bulan Sinodis atau asy-Syahr al-Iqtirani.62

Selanjutnya, gerakan Bulan Sideris inilah yang dijadikan perbandingan dengan gerakan semu tahunan Matahari yang diakibatkan oleh gerakan revolusi Bumi, dimana bila dibandingkan antara gerakan Bulan Sideris dengan gerak semu Matahari pada Ekliptika yang berlangsung selama 365,242197 hari dalam satu kali putaran (satu tahun

62

Saadoeddin Djambek, Hisab Awal Bulan, (Jakarta : Tinta Mas Indonesia, 1975), 7.

50

Sideris), maka Bulan gerakannya lebih cepat dengan selisih

jarak 12o 11‟ 26,56”,63 karena itulah periode tahun Matahari lebih panjang 10 sampai 12 hari dari pada tahun Bulan.64

Gambar 2.1

Periode Syderis dan Sinodis Bulan

Gerakan revolusi Bulan yang dipakai sebagai dasar dalam penetapan lunar calendar adalah waktu Bulan Sinodis atau asy-Syahr al- Iqtirānī atau ad-Dā’irī. Periode Bulan Sinodis memiliki beberapa fase atau bentuk yang berubah-ubah, yaitu muhāq, hilāl, at-tarbī’, uhdūb dan

al-badr. Ketika pengamat melihat seluruh permukaan Bulan

bersinar, saat itulah Bulan dalam fase al-badr (purnama/full

moon). Saat Bulan nampak bersinar separuhnya, saat itulah

Bulan dalam fase at-tarbī’ (kwartir) yang terjadi dua kali pada

63

Abd. Salam Nawawi, Cara Praktis .. , 20. 64

51 awal bulan dan akhir bulan (first quarter dan last quarter). Jika Bulan terlihat bagaikan sabit, berarti Bulan mengalami fase al-hilāl (new moon),65 sedangkan fase al-uhdūb terjadi di antara fase at-tarbī’ dan al-badr.66

Adanya perubahan penampakan dari Bulan itu merupakan akibat dari fungsi elongasi Bulan.67 Pada fase

at-tarbī’ al-awwal (first quarter) Bulan berelongasi 90o

, kemudian pada fase al-badr (full moon) Bulan berelongasi 180o, berlanjut pada fase at-tarbī’ aṡ-ṡani (last quarter) sudut elongasi Bulan sebesar 270o, dan ketika Bulan berada pada fase al-muhāq sudut elongasinya sebesar 0o.

65

New Moon (Bulan Baru) adalah peristiwa segaris atau sebidangnya pusat Bulan dan pusat Matahari dari pusat Bumi. Pada saat demikian Bulan dan Matahari memiliki bujur ekliptika atau bujur Astronomi yang sama. Posisi demikian ditandai fraksi iluminasi (persentase penampakan cahaya hilal terhadap cahaya Bulan penuh) minimum. Pada saat posisi istimewa, yaitu Bumi, Bulan, dan Matahari segaris ditandai berlangsungnya gerhana Matahari di permukaan Bumi. Selengkapnya lihat Cecep Nurwendaya, Simulasi Pergerakan Benda Langit (Pedoman Rukyatul Hilal), dalam Kumpulan Materi : Pendidikan dan Pelatihan Nasional Pelaksanaan Rukyat Nahdlatul Ulama, (Jakarta : Lajnah Falakiyah PBNU, 2006). 8.

66

Muh. Nashiruddin, Kalender ..., 32. Lebih rinci lagi Slamet Hambali menjelaskan bahwa at-tarbī’ al-awwal (first quarter) terjadi pada malam ketujuh, kemudian pada malam ke-15 Bulan masuk dalam fase al-badr (purnama/full moon). Adapun fase at-tarbī’ aṡ-ṡani (last quarter) terjadi pada malam ke-22, dan akhirnya pada malam ke-29/30 Bulan tidak bercahaya lagi yang disebut dengan al-muhāq. Pada saat itu Bulan disebut berkonjungsi dengan Matahari yang dalam istilah bahasa Arab disebut ijtimak atau iqtirān. Kira-kira satu atau dua hari setelah itu, Bulan akan menampakkan diri dengan rupa semu atau sabit yang diberi nama al-hilāl. Lihat Slamet Hambali, Pengantar..., 225.

67

Elongasi atau biasa disebut Angular Distance adalah jarak sudut antara Bulan dan Matahari. Disebut al-Bu’du az-Zawiy pula dalam Bahasa Arab, sedangkan dalam kitab Sullam an- Nayyīrain diistilahkan dengan Bu’du baina an-Nayyīrain. Elongasi 0o berarti konjungsi, elongasi 180o diberi nama oposisi, dan 90o diberi nama kuadratur (at-tarbī’). Selengkapnya lihat Susiknan Azhari, Ensiklopedi ..., 61.

52

Lunar calendar yang mengacu pada revolusi Bulan

Sinodis selama 29h 12j 44m 3d, dibulatkan menjadi 29 atau 30 hari dalam satu bulannya, yaitu untuk bulan-bulan ganjil berumur 30 hari, sedang bulan-bulan genap berumur 29 hari. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya bilangan pecahan dari periode Bulan Sinodis. Selain itu juga, untuk menghindari kembali terjadi pecahan, maka dibuatlah tahun kabisat dan tahun basitah dalam rentang waktu 30 tahun atau yang biasa disebut daur, yaitu 11 tahun kabisat dan 19 tahun basitah. Setiap tahun kabisat terdapat 355 hari, sedangkan dalam tahun basitah terdapat 254 hari. Adapun kesebelas tahun kabisat itu adalah tahun yang ke-2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29, namun sebagian ulama menetapkan tahun ke-15 (bukan tahun ke-16).68

Kalender Hijriah memiliki 12 bulan dalam satu tahunnya. Penamaan bulan-bulan dalam kalender ini, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, menggunakan nama-nama bulan seperti pada kalender pra Islam, yaitu :

1. Muharam (bulan yang disucikan) 2. Safar (bulan yang dikosongkan) 3. Rabiul awal (musim semi pertama) 4. Rabiul akhir (musim semi kedua)

68

53 5. Jumadil awal (musim kering pertama)

6. Jumadil akhir (musim kering kedua) 7. Rajab (bulan pujian)

8. Syakban (bulan pembagian)

9. Ramadan (bulan yang sangat panas) 10. Syawal (bulan berburu)

11. Zulkaidah (bulan istirahat) 12. Zulhijah (bulan ziarah)

Sebagian dari bulan-bulan di atas berjumlah 29 hari dan sebagian 30 hari, lama tahun Hijriah adalah 354 hari, 8 jam dan 48 menit atau 354 11/30 hari. Terdapat sekitar 10 hari besar dalam kalender Hijriah.69 Kalender Hijriah, setiap tahun, 11 hari lebih cepat dari kalender Masehi sehingga selisih angka tahun dari kedua kalender ini lambat laun makin mengecil. Angka tahun Hijriah pelan-pelan mengejar angka tahun Masehi dan menurut rumus keduanya akan bertemu pada tahun 20526 Masehi yang bertepatan dengan tahun 20526 Hijriah.70 Sistem penanggalan seperti ini disebut sistem „urfi. Penyusunan kalender Islam berdasarkan sistem

‘urfi biasanya hanya dipakai untuk keperluan administrasi.

69

Ruswa Darsono, Penanggalan..., 72. 70

Tata Septayuda Purnama, Khazanah Peradaban Islam (Solo: Tinta Medina, 2011), 36.

54

Penentuan awal bulan kamariah untuk pelaksanaan ibadah tidak menggunakan sistem ini.

Meski pada prinsipnya sebuah bulan berlaku sampai munculnya bulan baru berdasarkan penglihatan, namun cara penetapan awal bulan dalam kalender Hijriah seperti ini tidak banyak dipraktikkan, melainkan penanggalan berlaku berdasarkan sistem perhitungan Astronomis terhadap gerakan Bulan. Sampai sekarang terdapat pengecualian dengan cara menyampaikan pengumuman awal bulan Ramadan dan bulan Haji, dikarenakan pada bulan tersebut terdapat hari-hari peribadatan, sehingga penetapannya dilakukan dengan cara klasik yaitu seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Sekalipun demikian, pada masa sekarang terdapat sejumlah negara yang meninggalkan cara tersebut dan menetapkan awal bulan kamariah berdasarkan perhitungan Astronomis dengan tidak mengenal koreksi oleh pandangan fisik secara aktual.71

Kalender Islam adalah satu-satunya sistem kalender yang tidak melakukan interkalasi. Dengan kata lain, kalender Islam adalah sistem kalender yang paling tua yang tetap mempertahankan keasliannya tanpa koreksi dan modifikasi. Turunnya ayat pelarangan penggunaan interkalasi (nasi’)

71

55 dalam perjalanan sejarah kalender Hijriah tercatat saat Nabi saw menunaikan haji wada‟ (haji terakhir yang dilakukan Nabi saw sebelum Nabi saw wafat). Sejarah juga mencatat bahwa sebelum Nabi saw berkhutbah dan mengkritisi sekaligus merekontruksi praktik interkalasi. Tercatat pula sahabat Abu Bakar ra pada tahun 9/630 melaksanakan ibadah haji pada bulan Zulkaidah bukan Zulhijah, yang mana pada saat itu Nabi saw tidak melaksanakan ibadah haji.72 Hal ini menandakan bahwa kalender Hijriah baru benar-benar sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah melalui ayat-Nya terlaksana setelah terjadinya haji wada‟, sehingga seharusnya

epoch73 (kala) yang digunakan untuk penentuan kalender Hijriah bukan pada saat tahun pertama hijrah Nabi saw (tahun 1 Hijriah), melainkan tahun terjadinya haji wada‟ (tahun 10 Hijriah). Mulai dari titik terjadinya haji wada‟ lah kalender Hijriah terkoreksi keteraturan dan kebenarannya sesuai peredaran lunar murni, karena tidak ada yang mengerti bagaimana aturan detail proses interkalasi sebelum haji wada‟ sehingga tahun pertama Hijriah tidak bisa dijadikan sebagai patokan atau pun acuan.

72

Muḥammad bin Aḥmad al-Qurthūbī, Al-Jāmi’ li Ahkām ..., Juz 10, 202. 73

Waktu epoch yaitu waktu yang menunjukkan bertepatannya sesuatu keadaan atau kejadian dengan momentum tertentu.

56