HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Karakteristik Responden
4.2.1 Karakteristik Responden berdasarkan Umur
Dari hasil pengamatan terhadap 81 orang pelaku sektor informal yang ada pada Kawasan Hutan Kota Cadika menunjukkan bahwa pelaku sektor informal khususnya kelompok umur > 31 tahun merupakan jumlah terbesar yakni 51,9 %. Diikuti oleh kelompok umur 21-30 tahun sebesar 32,1 %, selanjutnya pedagang kaki lima yang berusia di atas 50 tahun tercatat sebesar 20%. Sedangkan kelompok usia pelaku sektor informal dibawah 20 tahun hanya 16 %. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan diagram berikut :
Gambar 4.6. Perspektif Master Plan Kawasan Hutan Kota Cadika Sumber : BAPPEDA Kota Medan 2011
Tabel 4.8. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Umur Jumlah (Orang) Persentase (%) < 20 tahun 13 16,0 21-30 tahun 26 32,1 >31 tahun 42 51,9 Jumlah 81 100
Sumber : Hasil Penelitian, 2012 (data diolah)
Pada tabel dan gambar diagram di atas dapat dilihat karakteristik responden berdasarkan umur mayoritas berumur di atas 31 tahun 51,9 %. Kelompok umur ini merupakan usia yang produktif dan yang termasuk penting dalam memperoleh kesempatan kerja. Pada usia tersebut pedagang telah cukup dewasa dan bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan keluarga.
Sulitnya mencari pekerjaan dalam bidang formal dan motivasi untuk bertahan hidup mendorong mereka membuka lapangan kerja sendiri yaitu sebagai pedagang kaki lima. Hal tersebut sesuai yang dikatakan Bromley (dalam Manning dan Effendi, 1996) sektor informal terutama PKL (Pedagang Kaki Lima) merupakan usaha yang paling mudah dimasuki sehingga secara tidak langsung mengurangi beban pemerintah dalam masalah pengangguran.
16,0%
32,1% 51,9%
Gambar 4.7. Diagram Pembagian Umur Responden
4.2.2 Karakteristik Responden berdasarkan Agama
Dari hasil pengamatan, didapat bahwa responden berdasarkan agama kelompok mayoritas pelaku sektor informal di sekitar kawasan Hutan Kota Cadika adalah beragama islam yaitu sebesar 98,8 %, dan sisanya dalah kristen sebesar 1,2 %. Adapun karakteristik responden tsb dapat kita lihat pada tabel dan gambar diagram berikut ini :
Tabel 4.9. Karakteristik Responden Berdasarkan Agama
Agama Jumlah (Orang) Persentase (%) Islam 80 98,8 Kristen 1 1,2 Jumlah 81 100
Sumber : Hasil Penelitian, 2012 (data diolah)
4.2.3 Karakteristik Responden berdasarkan Suku
Dari hasil pengamatan, didapat bahwa responden berdasarkan suku mayoritas adalah suku Jawa sebesar 46,9 % dan suku minoritas responden adalah Simalungun dan Karo yang masing – masing sebesar 1,2 %. Adapun karakteristik responden berdasarkan suku dapat kita lihat pada tabel dan gambar diagram dibawah berikut :
98,8% 1,2%
Gambar 4.8. Diagram Pembagian Agama Responden
Tabel 4.10. Karakteristik Responden Berdasarkan Suku Suku Jumlah (Orang) Persentase (%) Jawa 38 46,9 Batak 5 6,2 Melayu 9 11,1 Simalungun 1 1,2 Mandailing 14 17,3 Aceh 4 4,9 Padang/Minang 9 11,1 Karo 1 1,2 Jumlah 81 100
Sumber : Hasil Penelitian, 2012 (data diolah)
4.2.4 Karakteristik Responden berdasarkan Pendapatan
Dilihat dari pendapatan rata-rata per hari terungkap bahwa sebagian besar pelaku sektor informal mengaku bahwa pendapatan mereka rata – rata antara Rp. 1.000.001 s/d Rp. 2.000.000,- per bulan yaitu 48,1 %. Pelaku sektor informal yang mengaku pendapatannya dibawah Rp. 1.000.000,- adalah
sebesar 27,2 %. Dan yang mengaku memiliki pendapatan lebih dari 46,9% 17,3% 11,1% 11,1% 6,2% 4,9% 1,2% 1,2%
Gambar 4.9. Diagram Pembagian Suku Responden
Jawa Mandailing
Padang/ Minang Melayu
Batak Aceh
Rp. 2.000.001,- adalah sebesar 24,7 %. Sebaran data responden berdasarkan pendapatan disajikan pada tabel XII berikut ini :
Tabel 4.11. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan Rata – Rata per Bulan
Penghasilan Jumlah (Orang) Persentase (%) < Rp.1.000.000 22 27,2 Rp. 1.000.000 s/d 2.000.000 39 48,1 >Rp. 2.000.000 20 24,7 Jumlah 81 100
Sumber : Hasil Penelitian, 2012 (data diolah)
Ternyata sektor informal mampu memberikan penghasilan yang lebih besar dibandingkan dengan sektor formal seperti pegawai biasa. Berdasarkan pengamatan sebagian besar pelaku sektor informal berpendapatan kurang dari Rp. 1.000.000,- per bulan dan hanya memiliki satu lokasi usaha kaki lima. Meskipun ada beberapa pelaku sektor informal yang mengaku bahwa mereka memiliki usaha di lokasi lain, tapi tidak berlaku pada umumnya dan hanya sebagian kecil pelaku sektor informal.
27,2%
48,1% 24,7%
Gambar 4.10. Diagram Pembagian Pendapatan Rata -Rata per Bulan -Rata - -Rata Responden
< Rp.
1.000.000,-RP. 1.000.001 s/d Rp. 2.000.000,->Rp. 2.000.001
4.2.5 Karakteristik Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan
Sebaran data responden berdasarkan tingkat pendidikan disajikan pada tabel dan gambar diagram 4.2.5 berikut ini :
Tabel 4.12. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Jumlah
(Orang) Persentase (%) Tidak Berpendidikan 15 18,5 SD 34 42,0 SMP 18 22,2 SMA 14 17,3 Jumlah 81 100
Sumber : Hasil Penelitian, 2012 (data diolah)
Berdasarkan tabel dan gambar diagram tersebut diketahui, tingkat pendidikan pedagang kaki lima terlihat paling banyak adalah SD yaitu sebanyak 42% diikuti pedagang yang berpendidikan SMP yaitu sebanyak 22% kemudian tingkat pendidikan SMA dan yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali masing – masing sebanyak 18%. Sedangkan pedagang yang mempunyai pendidikan setingkat perguruan tinggi menurut hasil kuesioner adalah tidak ada. Tingkat pendidikan yang hanya setingkat SD maupun SMP
18,5%
42,0% 22,2%
17,3%
Gambar 4.11. Diagram Pembagian Tingkat Pendidikan Responden
atau bahkan tidak pernah sekolah sama sekali adalah sesuai dengan ciri-ciri dari sektor informal yaitu salah satunya adalah berpendidikan rendah. Rendahnya tingkat pendidikan menunjukkan bahwa usaha dalam sektor informal yang tidak membutuhkan keahlian dan ketrampilan khusus (Wirosardjono dalam Sari, 2003).
Banyaknya pedagang yang berpendidikan rendah bahkan ada yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal menyebabkan terjadinya penyimpangan – penyimpangan dalam memahami peraturan pemerintah. Misalkan menempati lokasi berdagang yang seharusnya tidak diperbolehkan, berjualan diluar waktu yang telah ditentukan serta sarana berdagang yang lebarnya melebih ketentuan yang diperbolehkan.
4.2.6 Karakteristik Responden berdasarkan Jumlah Pekerja
Kegiatan usaha kaki lima mampu memberikan lapangan pekerjaan tidak hanya bagi pelaku sektor informal sendiri tetapi juga tenaga kerja yang membantu kegiatan sektor informal. Pada umumnya pelaku sektor informal memiliki jumlah pekerja sekitar 1-2 orang atau sebesar 72 %, mereka adalah selain dirinya sendiri juga dibantu seorang pembantu, baik istri, suami, anak, saudara ataupun pekerja yang diupah. Pelaku sektor informal yang menggunakan tenaga kerja dengan jumlah 3 – 5 orang atau sebesar 24 %. Sedangkan pelaku sektor informal yang menggunakan tenaga kerja lebih dari 5 orang adalah sebesar 4 %.
Sebaran data responden berdasarkan jumlah pekerja disajikan pada tabel dan gambar diagram berikut ini :
Tabel 4.13. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Pekerja
Jumlah Pekerja Jumlah
(Orang) Persentase (%) 1-2 58 71,6 3-5 20 24,7 >5 3 3,7 Jumlah 81 100
Sumber : Hasil Penelitian, 2012 (data diolah)
Pada umumnya untuk jenis usaha yang melibatkan lebih dari 2 pekerjaan dalah jenis usaha berupa makanan olahan. Tenaga kerja yang dipekerjakan oleh pelaku sektor informal tersebut seperti yang telah dikatakan merupakan tenaga kerja dari lingkungan hubungan keluarga, kenalan dan berasal dari daerah yang sama. Sehingga sektor informal pelaku sektor informal terbukti dapat menciptakan lapangan kerja dan dapat mengurangi pengangguran.
71,6% 24,7%
3,7%
Gambar 4.12. Diagram Pembagian Jumlah Pekerja Responden
4.3 Uji Kualitas Data