PENIPUAN BERBASIS INTERNET (BERDASARKAN PUTUSAN NOMOR: 503/Pid.Sus/2018/PN.Jmb)
B. Analisis Kasus
1. Analisis pasal yang didakwaan
Mengenai surat dakwaan, dalam sistem peradilan pidana di Indonesia dibagi menjadi:105
a. Dakwaan Tunggal
Dakwaan tunggal ini hanya satu tindak pidana saja yang didakwakan, karena tidak terdapat kemungkinan untuk mengajukan alternatif atau dakwaan pengganti lainnya.
b. Dakwaan Alternatif
Dalam surat dakwaan ini terdapat beberapa dakwaan yang disusun secara berlapis, lapis yang satu merupakan alternatif dan bersifat mengecualikan dakwaan pada lapisan lainnya. Bentuk dakwaan ini digunakan bila belum didapat kepastian tentang tindak pidana mana yang paling tepat dapat dibuktikan. Dalam dakwaan alternatif, meskipun dakwaan terdiri dari beberapa lapisan, hanya satu dakwaan saja yang dibuktikan tanpa harus memperhatikan urutannya dan jika salah satu telah tebukti maka dakwaan pada lapisan lainnya tidak perlu dibuktikan lagi. Dalam bentuk surat dakwaan ini, antara lapisan satu dengan yang lainnya menggunakan kata sambung “atau”.
c. Dakwaan Subsidair
Sama halnya dengan dakwaan alternatif, dakwaan subsidair juga terdiri dari beberapa lapisan dakwaan yang disusun secara berlapis dengan
105 Sugianto, Hukum Acara Pidana Dalam Praktek Peradilan di Indonesia, (Yogyakarta: Deepublish,,2016), hal. 74
maksud lapisan yang satu berfungsi sebagai pengganti lapisan sebelumnya. Sistematik lapisan disusun secara berurut dimulai dari tindak pidana yang diancam dengan pidana tertinggi sampai dengan tindak pidana yang diancam pidana terendah.
Pembuktian dalam surat dakwaan ini harus dilakukan secara berurut dimulai dari lapisan teratas sampai dengan lapisan selanjutnya. Lapisan yang tidak terbukti harus dinyatakansecara tegas dan dituntut agar terdakwa dibebaskan dari lapisan dakwaan yang bersangkutan.
d. Dakwaan Kumulatif
Dalam surat dakwaan ini, didakwakan beberapa tindak pidana sekaligus, ke semua dakwaan harus dibuktikan satu demi satu. Dakwaan yang tidak terbukti harus dinyatakan secara tegas dan dituntut pembebasan dari dakwaan tersebut. Dakwaan ini dipergunakan dalam hal Terdakwa melakukan tindak pidana yang masing-masing merupakan tindak pidana yang berdiri sendiri.
e. Dakwaan Kombinasi
Yang disebut dengan dakwaan kombinasi, dikareankan didalam bentuk ini dikombinasikan atau digabungkan antara dakwaan kumulatif dengan dakwaan alternatif atau subsidair.
Contoh:
Kesatu, Primair: Pembunuhan berencana (340KUHP); Subsidair:
pembunuhan biasa (Pasal 338KUHP)
Dan
Kedua, Primair: pencurian dengan pemberatan (Pasal 363KUHP);
Subsidair: pencurian (Pasal 362KUHP).
Pada kasus ini tentang tindak pidana penipuan berbasis internet pada putusan No.503/Pid.Sus/2018/PN.Jmb yang penulis bahas, dakwaan yang digunakan oleh penutut umum dalam kasus ini adalah dakwaan tunggal. Dakwaan tunggal ini dijatuhkankarena penuntut umum menilai pada kasus ini hanya satu tindak pidana saja dan tidak terdapat kemungkinan untuk mengajukan alternatif atau dakwaan pengganti lainnya.
Adapun dakwaan tunggal yang dijatuhkan kepada terdakwa pada kasus ini adalah Pasal 45A ayat (1) UU RI NO.19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI NO. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo. Pasal 28 ayat 1 UU RI NO.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yaitu, “Setiap orang dengan sengaja,dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik”,Sedangkan untuk ketentuan ancaman pidana terhadap pelaku penipuan berbasis internet pada kasus ini terdapat pada Pasal 45A ayat (1) UU RI NO.19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI NO. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo. Pasal 28 ayat 1 UU RI NO.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yaitu
“Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang menyebabkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana
penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Demi keabasahannya, surat dakwaan harus dibuat dengan sebaik-baiknya sehingga memenuhi syarat. Adapun syarat atau hal yang harus dipenuhi dalam sebuah surat dakwaan menurut Pasal 143 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yaitu:106
a. Syarat formil
- Surat dakwaan harus diberi tanggal dan ditandatangani oleh penuntut umum
Pada kasus ini untuk memenuhi syarat formil sebuah dakwaan, maka dakwaan yang tersebut harus diberi tanggal yang jelas dan harus diberi tandatangan oleh penuntut umum. Akan tetapi, pada hal ini penulis tidak dapat menuliskan secara rinci tanggal yang pada dakwaan tersebut karena dakwaan pada kasus ini langsung dikutip dari putusan yang tidak ada lagi diberi tanggal dan tandatangan oleh penuntut umum.
- Berisikan identitas Terdakwa/ para Terdakwa
Dalam surat dakwaan harus meliputi nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan Terdakwa. Identitas tersebut dimaksudkan agar orang yang didakwa dan diperiksa di depan sidang pengadilan adalah benar-benar terdakwa yang sebenarnya dan bukan orang lain.
106 Andi Sofyan dan Abd.Asis, Hukum Acara Pidana,(Jakarta: Kencana, 2014), hal. 65
Pada kasus ini mengenai identitas Terdakwa, penuntut umu telah menuliskan secara jelas atas identitas Terdakwa, sebagai berikut:
1. Nama lengkap : Nur Cahaya Binti Abdul Hamid 2. Tempat lahir : Jambi
3. Umur/Tanggal lahir : 22/8 Agustus 1996 4. Jenis kelamin : Perempuan
5. Kebangsaan : Indonesia
6. Tempat Tinggal : Jl.Haji Badar Rt 22 No 27 Kel.Pasir putih Kec.JambiSelatan Kota Jambi
7. Agama : Islam
8. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga b. Syarat materil
- Uraian harus cermat
Dalam penyusunan surat dakwaan, penuntut umum harus bersikap cermat dan teliti terutama yang berkaitan dengan penerapan peraturan perundang-undangan yang berlaku agar tidak terjadi kekurangan dan/atau kekeliruan yang mengakibatkan batalnya surat dakwaan atau unsur-unsur dalam dakwaan tidak berhasil
- Uraian harus jelas
Jelas adalah penuntut umum harus mampu merumuskan unsur-unsur tindak pidana/delik yang didakwakan secara jelas dalam arti rumusan unsur –unsur delik harus dapat dipadukan dan dijelaskan dalam bentuk uraian fakta perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa.
- Uraian harus lengkap
Lengkap adalah bahwa dalam menyusun surat dakwaan harus diuraikan unsur-unsur tindak pidana yang dirumuskan dalam UU secara lengkap dalam arti tidak boleh ada yang tercecer/ tertinggal tidak tercantum dalam surat dakwaan.
Maka, mengenai syarat materil pada surat dakwaan pada kasus ini menurut penulis penuntu umum sudah cukup cermat, jelas, dan lengkap dalam membuat surat dakwaan oleh penuntut umum. Dalam dakwaan ini penyebutan tempat (locus delicti) dan waktu (tempus delicti) sudah diuraikan ssecara jelas yaitu pada dakwaan yang terdapat pada kalimat “Bahwa ia Terdakwa Nur Cahaya Binti Abdul Hamid pada hari dantanggal yang tidak dapat diingat lagi pada bulan Desember 2017 sekira pukul 19.00 Wib atau setidak-tidaknya pada waktu tertentu dalam bulan Desember tahun 2017 bertempat di Pulau Pandan Rt. 31 Kel. Legok Kec. Danau Sipin Kota Jambi atau setidak-tidak pada tempat lain yang masih termasuk dalam Daerah Hukum Pengadilan Negeri Jambi”
Jadi menurut penulis, dakwaan tunggal yang dijatuhkan penuntut umum kepada Terdakwa pada kasus penipuan berbasis internet ini sudah tepat dikarenakan penipuan tersebut menggunakan bantuan internet dalam melancarkan aksinya dan pasal yang dijatuhkan sudah tepat dikarenakan telah memenuhi unsur-unsur pada pasal yang dijatuhkan penuntut umum kepada Terdakwa. Pada kasus ini dalam pembuatan dakwaan ini sudah memenuhi syarat formil dan materil yang ada dalam Pasal 143 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana(KUHAP).
2.Analisis tuntutan
Selain membuat surat dakwaan penuntut umum juga berkewajiban membuat surat tuntutan pidana.107
Dalam tuntutan memiliki hubungan dengan surat dakwaan, maka dalam setiap tuntutan pidana tersebut harus dijelaskan isi unsur-unsur pada dakwaan, yaitu:
Hal ini diatur dalam Pasal 182 ayat (1) huruf a KUHAP, ditentukan bahwa setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, penuntut umum mengajukan tuntutan pidana kepada Terdakwa. Pada hal ini surat tuntutan pidana adalah bagian dari kegiatan penuntutan yang ditentukan dan harus dilakukan oleh penuntut umum setelah pemeriksaan selesai atau disebut dengan
“straf vervolging”.
108
a. Unsur barang siapa yang menunjuk pada siapa yang melakukan tindak pidana yang didakwakan.
b. Unsur kesengajaan atas perbuatan pidana yang memenuhi pasal-pasal tertentu.
c. Unsur perbuatan pidana yang memenuhi pasal-pasal tertentu.
Jadi semua unsur yang dijelaskan diatas harus dikaitkan dengan fakta-fakta dalam persidangan, atas pemeriksaan saksi-saksi dan bukti yang diajukan oleh penuntut umum.109
107 Sugianto,Op.Cit, hal.80
108 Frans Satriyo Wicaksono, Panduan Lengkap Membuat Nota Pembelaan, (Jakarta: Visimedia, 2009), hal.31
109Ibid
Mengenai tuntutan pada kasus tindak pidana penipuan berbasis internet yang penulis angkat, penuntut umum memiliki tuntutannya kepada Terdakwa dihadapan persidangan, yaitu:
1. Menyatakan Terdakwa Nur Cahaya Binti Abdul Hamid telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana “setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik”
sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 45A ayat (1) UU RI NOMOR 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU RI NOMOR 11 TAHUN 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo. Pasal 28 ayat (1) UU RI NOMOR 11 Tahun 2008 Tentang transaksi Elektronik.
2. Menjatuhkan pidana Terdakwa Nur Cahaya Binti Abdul Hamid dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan 6 (enam) bulan penjara dengan potong masa tahanan selama berada dalam tahanan dengan perintah agar Terdakwa tetap ditahan.
3. Menyatakan barang bukti berupa:
- 1 (satu) lembar kwitansi tertanggal 06 Mei 2018 untuk pembayaran arisan sebesar Rp.4.000.000,- (empat juta rupiah) dari Ariyanti kepada Nur Cahaya.
- 1 (satu) lembar kwitansi tertanggal 06 Mei 2018 untuk pembayaran arisan sebesar sebesar Rp.6.000.000,- (enam juta rupiah) dari Ariyanti kepada Nur cahaya.
- 5 (lima) lembar print out screenshoot percakapan penawaran arisan online oleh saudari Nur Cahaya melalui media sosial facebook.
- 1 (satu) bundel print out rekening koran Bank BRI dengan nomor rekening 563201028079532 atas nama Ariyanti
4. Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.2000,- (dua ribu rupiah).
Tuntutan penuntut umum jelas pada dakwaan tunggal yang diberikan oleh penuntut umum kepada Terdakwa, yaitu pada Pasal 45A ayat (1) UU RI NOMOR 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU RI NOMOR 11 TAHUN 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo. Pasal 28 ayat (1) UU RI NOMOR 11 Tahun 2008 Tentang transaksi Elektronik.yang memiliki unsur-unsur, yaitu:
1. Setiap orang;
2. Tanpa hak atau melawan hukum dengan sengaja dana tanpa hak menyebarkan barita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik.
Ad.1. Unsur setiap orang
bahwa dalam Pasal 1 butir 21 UU RI NO.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, pengetian orang adalah perseorangan, baik warga negara Indonesia, maupun warga negara asing, maupun badan hukum dan dalam doktrin hukum pidana, yang dimaksud demgam setiap orang adalah siapapun yang merupakan subyek hukum yang melakukan perbuatannya dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya, yang melakukan tindak pidana di wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam perkara ini telah didakwakan seseorang bernama Nur Cahaya Binti Abdul Hamid yang merupakan warga negara Indonesia, yang telah membenarkan indentitasnya sebagaimana dalam surat dakwaan penutut umum, sehingga tidak di temukan error in persona dalam pemerikasaan perkara ini dan dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya, sehingga dengan demikian unsur ini telah terpenuhi.
Ad.2.Unsur : Dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik;
Bahwa yang dimaksud dengan secara tanpa hak menurut Prof.Dr.Wirjono Prodjodikoro,SH, dapat dipersamakan dengan melawan hukum atau wederrechtlijk, yaitu diartikan sebagai si pelaku harus tidak mempunyai hak, kemudian Van Hammel juga mengatakan bahwa unsur ini diartikan sebagai tanpa hak sendiri. Pengertian tanpa hak ditujukan kepada apakah seseorang mempunyai hak atas sesuatu. Kemudian Van Vost mengartikan melawan hukum sebagai suatu perbuatan yang bertentangan dengan Undang-Undang, dan dipandang tidak patut dari sisi pergaulan masyarakat. Lebih lanjut dilakukan melangar ketentuan Undang-Undang (langemeyer).
Pada kasus ini, Terdakwa Nur Cahaya yang dikatakan dengan sengaja tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik adalah bahwa Terdakwa Nur Cahaya melalui akun facebookmiliknya dengan nama akun Nur Cahaya pada sekitar bulan Desember 2017 mengajak teman-teman yang ada di akun facebook milik Terdakwa untuk ikutbergabung arisan online dengan prosedur/mekanisme para
anggota arisan menyetor sejumlah uang kepada Terdakwa dan nantinya akan mendapatkan keuntungan sebesar 50% (lima puluh persen) s.d. 100%(seratus persen) dari jumlah uang yang disetorkannya dan keuntungan tersebut didapat dikarenakan uang tersebut akan Terdakwa kelola di Koperasi yang ada di Jakarta dan untuk para anggota arisan akan mendapatkan arisan tersebut secara bergantian dan setelah mendapat banyak peserta arisan online termasuk diantaranya Saksi Meika Rosita Binti Ilyas, Saksi Desi Marlina Als Desi Binti Khairul Anwar, Saksi Korban Ariyanti .SE Als Ay Binti Sunarto) yang ikut arisan onlineTerdakwa selanjutnya Terdakwa membuka arisan onlinetersebut dari bulan maret 2018 sampai dengan bulan mei 2018, Saksi korban Ariyanti .SE Als Ay Binti Sunarto mengikuti arisan online karena tertarik dengan keuntungan yang di status akun facebook milik Terdakwa lalu ikut arisan onlineTerdakwa Nur Cahaya Binti Abdul Hamid dan telah menyetorkan uang dengan total Rp. 16.300.000,- dan Saksi korban Ariyanti .SE Als Ay Binti Sunarto baru mendapatkan arisan dengan total sebesar Rp. 7.200.000,- sehingga Saksi korban Ariyanti .SE Als Ay Binti Sunarto berusaha menagih kepada Terdakwa uang arisan yang didapat sejumlah Rp. 9.100.000,- (sembilan juta seratus ribu rupiah) tetapi belum dibayar Terdakwa kemudian Saksi Ariyanti .Se Als Ay Binti Sunarto melaporkan kepada pihak POLRESTA Jambi, setelah dilaporkan Terdakwa memberikan uang sejumlah Rp.
4.000.000,- (empat juta rupiah) untuk membayar kekurangan dari arisan yang didapat saksi korban Ariyanti.
Oleh karena ini, akibat perbuaatan Terdakwa mengakibatkan kerugian saksi korban Ariyanti,SE Als Binti Sunarto mengalami kerugian Rp.5.100.000,- (lima juta seratus ribu).
Maka pada hal ini, penulis menilai tuntutan yang dijatuhkan oleh penuntut umum sudah tepat dikarenakan unsur-unsur yang dijelaskan diatas melalui dakwaan tunggal berdasarkan Pasal 45A ayat (1) UU RI NOMOR 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU RI NOMOR 11 TAHUN 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo. Pasal 28 ayat (1) UU RI NOMOR 11 Tahun 2008 Tentang transaksi Elektronik telah terpenuhi dalam perbuatan yang dilakukakan Terdakwa.
3. Analisis putusan
Muara dari seluruh proses persidangan perkara pidana adalah pengambilan keputusan hakim atau sering disebut dengan putusan pengadilan atau putusan akhir atau sering disebut dengan istilah putusan saja.110
Pada putusan ini dikenal bentuk-bentuk putusan pidana, antara lain:
Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur oleh Undang-Undang. Ini tertulis dalam Pasal 1 butir 11 KUHAP.
111
a. Putusan pemidanaan (verordeling), yaitu Majelis Hakim yang memeriksa perkara tersebut berpendapat Terdakwa bersalah melakukan perbuatan yang dituduhkan kepada Terdakwa (hal ini perbuatan yang didakwakan melalui surat dakwaan penuntut umum dalam persidangan).
b. Putusan bebas (vjispraak), yaitu Terdakwa dinyatakan bebas dari segala tuntutan yang diajukan kepada Terdakwa. Putusan bebas ini terjadi bila
110 Al.Wisnubroto,Praktek Persidangan Pidana,(Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka, 2014), hal.147
111 Andi Sofyan dan Abd.Asis, Op.Cit, Hal.348
pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemriksaan di sidang pengadilan, kesalahan Terdakwa atas perbuatan yang didakwakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan karena tidak terbukti unsur perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Terdakwa, hal ini tertulis pada Pasal 191 ayat (1) KUHAP.
c. Putusan lepas, yaitu perbuatan yang didakwakan kepada Terdakwa terbukti, akan tetapi perbuatan tersebut dalam pandangan hakim bukan merupakan tindak pidana, hal ini tertulis pada Pasal 191 ayat (2) KUHAP.
Dalam perkara tindak pidana penipuan berbasis internet yang penulis teliti, Majelis Hakim memberikan putusan akhir dengan putusan akhir yang dijatuhkan kepada Terdakwa adalah putusan pemidanaan. Dikarenakan dalam perkara ini, Majelis Hakim memeriksa perkaranya hingga selesai dan terhadap perbuatan Terdakwa yang telah didakwakan oleh penuntut umum telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum.
Dalam perkara tindak pidana penipuan berbasis internet pada putusan pengadilan No.503/Pid.Sus/2018/PN.Jmb yang penulis bahas dengan amar putusan pengadilan, sebagai berikut:
Memperhatikan, Pasal 45 A ayat (1) Undang-undang R.I. NO 19 Tahun2016 tentang perubahan atas Undang-undang R.I Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo. Pasal 28 ayat 1 Undang-undang R.I.
Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik telahterpenuhi dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan;
MENGADILI:
1. Menyatakan Terdakwa Nur Cahaya Binti Abdul Hamid telah terbuktibersalah melakukan tindak pidana “Setiap Orang yang dengan sengaja dantanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yangmengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik”;
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Nur Cahaya Binti Abdul Hamiddengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh Terdakwa, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan;
5. Menyatakan barang bukti berupa :
- 1 (satu) lembar Kwitansi tertanggal 06 Mei 2018 untuk pembayaranarisan sebesar Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah) dari Ariyanti kepada Nur Cahaya;
- 1 (satu) lembar kwitansi tertanggal 06 Mei 2018 untuk pembayaranarisan sebesar Rp. 6.000.000,- (enam juta rupiah) dari Ariyanti kepada Nur Cahaya.;
Dikembalikan kepada Saksi Ariyanti;
- 5 (lima) lembar print out screenshot percakapan penawaran arisanOnline oleh saudariNur Cahaya melalui media sosial facebook;
- 1 (satu) bundel print out rekening Koran Bank BRI dengan NomorRekening 563201028079532 atas nama Ariyanti Tetap terlampir dalam berkas perkara;
6. Membebankan kepada Terdakwa membayar biaya perkara sebesarRp.2.000,- (dua ribu rupiah).
Dalam amar putusan diatas Majelis Hakim memutuskan bahwa Terdakwa telah terbukti secara sah dan melakukan tindak pidana “Setiap Orang yang dengan
sengaja dantanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yangmengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik”. Pada hal ini dalam melakukan aksinya Terdakwa menggunakan internet untuk melakukan aksinya.
Menurut analisa penulis, putusan pengadilan pada putusan ini sudah tepat dan baik. Hal ini didasari dengan Majelis Hakim dalam putusannya melihat fakta-fakta hukum yang terjadi dan Majelis Hakim mempertimbangkan berdasarkan fakta-fakta hukum tersebut. Dalam hal ini, Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa unsur-unsur dalam dakwaan tunggal oleh penuntut umum telah terpenuhi.
Kemudian Majelis Hakim dalam putusannya memberikan hukuman pidana penjara selama 2 (dua) tahun penjara, hal ini diharapkan mampu memberi efek jera serta memberikan pembinaan terhadap pelaku ketika menjalani masa hukumannya. Kemudian menurut analisa penulis Terdakwa telah memenuhi seluruh unsur-unsur yang ada pada pertanggungjawaban pidana antara lain:
a. Kemampuan bertanggungjawab
Pada unsur ini, keadaan jiwa pelaku harus dapat dibuktikan dalam keadaan yang benaar-benar sehat secara kejiwaan.
b. Kesalahan
Pada putusan ini, penulis menganalisa bahwa bentuk kesalahan yang dilakukan Terdakwa adalah kesengajaan, yang dimana dalam hukum pidana dikenal dengan 2 jenis kesalahan, yaitu kesengajaan dan kealpaan. Terdakwa dengan sengaja melakukan tindak pidana penipuan dengan menggunakan sarana internet dalam melakukan aksinya. Pada amar putusan ini Terdakwa diputus bersalah dengan mengunakan Pasal
45A ayat (1) Undang-undang R.I. NO 19 Tahun2016 tentang perubahan atas Undang-undang R.I Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo. Pasal 28 ayat 1 Undang-undang R.I. Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
c. Tidak ada alasan pemaaf
Dalam unsur ini menurut analisa penulis, tidak ditemukan adanya alasan pemaaf yang dapat menghapuskan kesalahan pada perbuatan pidana Terdakwa .
BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya diatas, dapat ditarik kesimpulan diantaranya, sebagai berikut:
1. Pengaturan hukum terhadap pelaku tindak pidana penipuan berbasis internet diatur pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yangdiatur didalam Pasal 378 KUHP yang memiliki unsur subjektif dan objektif. Secara khusus tindak pidana penipuan berbasis internet diatur pada Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sedangakan mengenai ketentuan ancaman pidananya diatur pada Pasal 45A ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
2. Upaya penanggulangan terhadap pelaku tindak pidana penipuan berbasis internetyaitu melalui upaya penal policy dan non penal policy. Upaya penal policyyaitu upaya penanggulangan kejahatan melalui kebijakan hukum pidana. Pada hal ini, upaya penanggulangan penal policyini menitikberatkan pada sifat represif yang pada pelaksanaanya dalam penanggulanggan tindak pidana penipuan berbasis internet ini dilakukan dengan metode perlakuan (treatment) dan metode penghukuman (punishment). Kemudian dalam upaya penanggulangan melalui upaya non penal policy, yaitu upaya penanggulangan diluar dari kebijakan hukum pidana yang pada upaya ini menitikberatkan pada sifat preventiv memiliki
2 metode dalam upaya penanggulangan tindak pidana penipuan berbasis, yaitu metode moralistik dan metode abolionistik.
3. Penerapan hukum terhadap pelaku tindak pidana penipuan berbasis internet berdasarkan putusan Reg. No.503/Pid.Sus/2018/PN.Jmb, Terdakwa didakwa oleh penuntut umum dengan dakwaan tunggal Pasal 45A ayat (1) UU RI NO 19 TAHUN 2016 Tentang Perubahan atas UU RI NOMOR 11 TAHUN 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo. Pasal 28 ayat (1) UU RI NOMOR 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Kemudian pada tuntutan terdakwa dituntut dengan pidana penjara selama 2 tahun 6 bulan penjara beserta dengan barang bukti yang diajukan oleh penuntut umum. Dalam putusan final oleh
3. Penerapan hukum terhadap pelaku tindak pidana penipuan berbasis internet berdasarkan putusan Reg. No.503/Pid.Sus/2018/PN.Jmb, Terdakwa didakwa oleh penuntut umum dengan dakwaan tunggal Pasal 45A ayat (1) UU RI NO 19 TAHUN 2016 Tentang Perubahan atas UU RI NOMOR 11 TAHUN 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo. Pasal 28 ayat (1) UU RI NOMOR 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Kemudian pada tuntutan terdakwa dituntut dengan pidana penjara selama 2 tahun 6 bulan penjara beserta dengan barang bukti yang diajukan oleh penuntut umum. Dalam putusan final oleh