• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENIPUAN BERBASIS INTERNET A. Upaya penanggulangan melalui penal policy

B. Upaya penanggulangan melalui non penal policy

Kebijakan non penal ini dapat ditempuh dengan cara memperbaiki perekonomian nasional, melakukan pendidikan budi pekerti kepada setiap orang baik secara formal maupun informal terutama kepada pihak yang rentan melaksanakan kejahatan.97

Dengan upaya penanggulangan melalui jalur non penal ini dapat dikatakan upaya penanggulangan yang dilakukan diluar hukum pidana. Upaya non penal ini sasaran utamanya adalah mengenai faktor-faktor penyebab terjadinya kejahatan, yakni meliputi masalah-masalah atau kondisi-kondisi sosial yang secara langsung atau tidak langsung dapat menimubulkan kejahatan atau menumbuhsuburkan kejahatan. Dengan demikian, dilihat dari sudut politik kriminal secara global, maka upaya-upaya non penal menduduki posisi kunci dan strategis dari keseluruhan upaya politik kriminal. Posisi dan kunci strategis dalam

Kebijakan non penal ini berupaya dalam pencegahan kejahatan tanpa menggunakan pidana (Prevention without punishment), termasuk didalamnya penerapan sanksi administratif dan sanksi perdata, pada kebijakan ini juga bertugas untuk mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan pembinaan lewat media massa.

96Marlina, Op.Cit, hal. 58

97 Widodo,Op.Cit, hal. 191

menanggulangi sebab-sebab dan kondisi-kondisi yang menimbulkan kejahatan, ditegaskan melalui Kongres PBB mengenai “The Prevention of Crime and the Treatment of Offenders,sebagai berikut:98

1. Bahwa masalah kejahatan merintangi kemajuan untuk pencapaian kualitas lingkungan hidup yang layak/ pantas bagi semua orang.

2. Bahwa strategi pencegahan kejahatan harus didasarkan pada penghapusan sebab-sebab dan kondisi-kondisi yang menimbulkan kejahatan.

3. Bahwa penyebab utama dari kejahatan di banyak negara ialah ketimpangan sosial, diskriminasi rasial dan diskriminasi nasional, standar hidup yang rendah, pengangguran dan kebodohan di antara golongan besar penduduk.

Beberapa masalah dan kondisi sosial yang dapat merupakan kondusif penyebab timbulnya kejahatan, jelas merupakan masalah yang tidak dapat diatasi semata-mata “penal”. Pada sisi ini lah keterbatasan jalur “penal” dan oleh karena itu, harus ditunjang dengan jalur “non penal”, salah satu jalur non penal untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Kebijakan sosial pada dasarnya adalah kebijakan atau upaya–upaya rasional untuk mencapai kesejahtareaan masyarakat.

Jadi, di indentik dengan kebijakan atau perencanaan pembangunan nasional yang meliputi berbagai aspek yang cukup luas dari pembangunan. Penangan atau kebijakan berbagai aspek pembangunan ini sangat penting karena disinyalir dalam kongres PBB (mengenai The Prevention of Crime and The Tratment of Offenders), bahwa pembangunan itu sendiri dapat bersifat “kriminogen” apabila pembangunan itu:99

1. Tidak direncanakan secara rasional atau direncanakan secara timpang, tidak memadai/tidak seimbang.

2. Mengakibatkan nilai-nilai kultural dan moral.

3. Tidak mencakup strategi perlindungan masyarakat yang menyeluruh/integral.

98 Barda Nawawi Arief,Op.Cit, 2011, hal.46

99Ibid, hal. 50

Salah satu aspek kebijakan sosial kiranya patut mendapat perhatian ialah penggarapan masalah kesehatan jiwa masyarakat (social hygiene), baik secara individual sebagai anggota masyarakat maupun kesehatan/kesejahtereaan keluarga, serta masyarakat luas pada umumnya.

Untuk melakukan upaya penanggulangan kejahatan tindak pidana penipuan berbasis internet melalui sarana non penal ini, maka harus mengetahui beberapa faktor penyebab terjadinya kejahatan tersebut, antara lain:100

1. Faktor Internal

Faktor ini bersumber dari dalam diri individu (intern) mempunyai hubungan dengan timbulnya suatu kejahatan. Adapun pendorong dari faktor intern ini, yaitu:

a. Faktor Individu b. Faktor Ekonomi c. Faktor Keluarga d. Faktor Religi 2. Faktor eksternal

Dalam hal ini faktor eksternal menjadi pendorong terjadi seseorang melakukan kejahatan penipuan berbasis internet. Adapun faktor pendorong dalam faktor eksternal ini, yaitu:

a. Faktor lingkungan b. Faktor sosial budaya

c. Faktor perkembangan teknologi d. Faktor pendidikan

100

Dengan itu, dalam upaya penanggulangan non penal ini yang menitikberatkan pada sifat “Preventive” (pencegahan/penangkalan/pengendalian) sebelum terjadinya kejahatan. Upaya penanggulangan bersifat preventif ini dilakukan untuk mencegah terjadinya atau timbulnya kejahatan yang pertama kali.

Upaya preventif ini mementingkan peranan pendidikan agama dan berbagai bentuk media penyuluhan keagamaan dalam memperkuat kembali keyakinan dan kemampuan manusia untuk mengikuti jalan kebenaran dan kebaikan. Dengan pendidikan dan penyuluhan agama yang efektif, tidak hanya diharapakan terbinanya pribadi manusia yang sehat jiwa/rohaninya tetapi juga terbinanya keluarga yang sehat dan lingkungan sosial yang sehat. Pembinaan dan penggarapan kesehatan jiwa masyarakat memang tidak berarti semata-mata kesehatan rohani/ mental, tetapi juga kesehatan budaya dan nilai-nilai pandangan hidup kemasyarakatan.

Pada dasarnya, bahwa upaya non penal yang paling strategis adalah segala upaya untuk menjadikan masyarakat sebagai lingkungan sosial dan lingkungan hidup yang sehat (secara materill dan inmaterill) dari faktor-faktor kriminogen. Ini berarti, masyarakat dengan seluruh potensinya harus dijadikan sebagi faktor penangkal kejahatan atau faktor “antikriminogen” yang merupakan bagian integral dari keseluruhan politik kriminal.101

Maka dalam upaya penanggulangan tindak pidana penipuan berbasis internet yang bersifat preventif ini memiliki 2 metode, yaitu:102

101Ibid,hal. 53

102Bonger, Pengantar Tentang Kriminologi, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1981), Hal.15

1. Metode moralistik

Dalam metode ini menyebarluaskan sarana-sarana yang dapat memperteguhkan moral seseorang agar dapat terhindar dari nafsu berbuat jahat. Dalam hal ini, upaya penanggulangan kejahatan dengan cara memberikan penyuluhan hukum, bimbingan agama, pembinaan mental dengan tujuan agar masyarakat tidak menjadi pelanggar peraturan.

2. Metode abolionistik

Metode ini berusaha memiliki cara penanggulangan bersifat konsepsional yang harus direncanakan dengan dasar peneltian kriminologi dan menggali sebab-sebabnya dari berbagai faktor yang saling berkaitan.

Untuk memperkuat kemampuan operasional penanggulangan maka diperlukan3 kemauan/kehendak, yaitu:103

Dari ketiga kemauan ini dipadukan menjadi kehendak pemerintah (Political will) dengan berbagai upaya perlu didukung oleh citra sosial (social will), melalui berbagai media dilancarkan kehendak pemerintah, serta kekuatan yang tidak boleh dilupakan adalah human atau individual will, berupa kesadaran untuk patuh/taat pada hukum serta senantiasas berusaha menghindarkan diri untuk tidak berbuat

1. Political will 2. Social will 3. Individual will

103Abintoro Prakoso, Kriminologi dan Hukum Pidana, (Yogyakarta: Laksbang Grafika, 2013), hal.170

kejahatan.Usaha yang tepat untuk memadukan ketiga kehendak tersebut memiliki cara, yaitu;104

1. Peningkatan dan pemantapan aparatur penegak hukum meliputi pemantapan organisasi, personal, dan sarana prasarana untuk penyelesaian perkara pidana.

2. Perundang-undangan yang dapat berfungsi mengkanalisasi dan menbendung kejahatan dengan jangkauan ke masa depan.

3. Mekanisme peradilan pidana yang efektif dan memenuhi syarat-syarat cepat, tepat, murah, dan sederhana.

4. Koordinasi antara aparat penegak hukum dan aparatur pemerintahan terkait, untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna dalam penanggulangan kriminalitas.

5. Partisipasi masyarakat untuk membantu kelancaran pelaksanaan penanggulangan kriminalitas.

Maka, tindakan hukum dikatakan “efektif” ketika perilaku bergerak ke arah yang di kehendaki, ketika subyek patuh atau menurut, banyak tindakan hukum tidak “efektif” dalam pengertian ini, orang mengabaikan atau melanggar/ketentuan. Lazimnya sanksi dibagi menjadi dua bagian, yaitu : imbalan dan hukuman. Para pembuat hukum berasumsi bahwa sanksi yang berlebel

“hukuman” adalah bersifat menyakitkan dan “imbalan” adalah bersifat menyenangkan, sehingga konsekuensi perilaku dikehendaki akan mengikuti secara otomatis.

Di Indonesia fungsi hukum di dalam pembangunan adalah sebagai sarana pembaharuan masyarakat. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa adanya ketertiban dalam pembangunan, merupakan sesuatu yang dipandang penting dan sangat penting. Upaya non penal ini merupakan kerangka pembangunan hukum nasional yang akan datang (ius constituendum). Pencegahan kejahatan harus mampu memandang realitas sosial masyarakat, hukum sebagai panglima harus menciptakan suaut tatanan sosial melalui kebijakan sosial.

104Ibid, hal. 171

Oleh karena itu, dengan mengoptimalkan upaya non penal, maka dalam upaya penanggulangan kejahatan yang terjadi di masyarakat tidak harus bertumpu pada sarana penal saja, tetapi perlu didorong dengan sarana non penal dalam kerangka politik kriminal yang integral guna mencapai tujuannya, yaitu upaya perlindungan masyarakat dan kesejahteraan masyarakat.

PENIPUAN BERBASIS INTERNET (BERDASARKAN PUTUSAN