BAB II ANALISIS TANGGUNG JAWAB RUMAH SAKIT
F. Analisis Kasus Rumah Sakit Elisabeth dengan Badan
ESTHER TABITHA GULTOM (Konsumen) Lawan RUMAH SAKIT ELISABETH MEDAN (Pelaku Usaha).
Konsumen sebagai pasien mengajukan gugatan/pengaduannya tertanggal 09 Oktober 2007 melalui BPSK. BPSK merupakan alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan untuk memutus perkara konsumen yang merasa dirugikan dengan produk barang/jasa dari pelaku usaha yang dikonsumsi.
273
Ibid, hal 14 274
Adapun keluhan-keluhan yang disampaikan pasien kepada HUMAS rumah sakit adalah sebagai berkut:
1. Keluarga pasien diminta oleh beberapa suster yang bertugas untuk menjaga agar pasien tidak tertidur setelah menjalani operasi dan apabila hal itu benar maka seharusnya itu adalah tugas suster dan bukan keluarga pasien. Informasi yang sebenarnya menyatakan bahwa itu sebenarnya tidak masalah bila pasien tidur setelah operasi. Pasien sudah tidak istirahat sebelum operasi dan sesudah operasi tidak diperbolehkan tidur.
2. Pihak rumah sakit mempekerjakan suster yang merawat pasien masih pelajar dan seringnya masih semester 3 kebawah, sering seniornya tidak terlibat dalam perawatan dengan penanganan yang kurang berpengalaman membuat pasien kesal karena pada saat pasien dimandikan berulang kali diminta suster untuk memiringkan badan dan berulang kali pasien harus menjelaskan pasien tidak dapat memiringkan badan sendiri baik kekanan maupun kekiri karena tulang punggung pasien yang sakit.
3. Infus yang sering isinya sudah habis didiamkan sehingga pada saat diganti terdapat urat yang tersumbat oleh darah yang membeku. Bukan tugas pasien dan keluarga pasien untuk setiap kali mengawasi kantong infus.
4. Waktu kunjungan dokter selalu singkat sehingga penagihan honor dokter sangat tidak relefan. Dokter berkunjung tidak lebih dari 5 menit dan tidak setiap hari. Seingat pasien selama opname hanya 3 kali saja.
5. Dokter mengatakan agar pasien transfusi darah sebanyak 5 sak setelah melihat kulit tangan yang pucat padahal sebenarnya warna kulit pasien memang begitu. Hb 8.2 dan menurut informasi ilmu kedokteran Hb 8.2 itu masih pada batas yang wajar sehingga tidak perlu tranfusi dan pasien membatalkan transfusi tersebut. 6. AC tidak berfungsi sampai hari ke 3.
7. Shower yang tidak berfungsi dalam menyalurkan air panas sehingga air panas untuk mandi setiap pagi dan sore harus diantar oleh suster dengan ember dan sempat juga dengan ember yang bocor.
8. Tidak adanya daftar keperluan pribadi yang harus dibawa pasien dari rumah untuk penginapan di rumah sakit. Handuk yang hanya disiapkan pada awalnya saja dan kami pun dipertayakan oleh beberapa suster kenapa pasien tidak membawa handuk, baju tidur sendiri dari rumah.
9. Kamar mandi yang dibiarkan kotor diakibatkan oleh sepatu-sepatu suster yang kotor. Pada saat suster mengambil air dingin, handuk dan sabun dari kamar mandi dengan menggunakan sepatu yang kotor.
10.Petugas kebersihan memakai masker pada saat menyapu dan membersihkan ruangan dan pasien harus menghirup debu yang naik dan dibiarkan tidak memakai masker.
11.Makanan yang tidak disesuaikan dengan permohonan pasien seperti halnya tidak mengandung merica, bawang merah, putih, daun bawang, cabe santan. Sarapan pagi roti.
12.Pasien menerima tagihan sementara yang pertama dari rumah sakit dengan jumlah sekitar Rp.11 jutaan dengan status melahirkan dan rawat inap.
Demikianlah sejumlah keluhan yang diajukan oleh pasien kepada majelis BPSK. Sehubungan dengan pengaduan pasien bahwa pihak RS mempekerjakan suster yang merawat pasien masih pelajar dan seringnya masih semester 3 kebawah dimana seniornya tidak terlibat dalam perawatan dengan penanganan yang kurang berpengalaman. Hal ini membuat pasien kesal karena pada saat pasien dimandikan berulang kali diminta sama suster untuk memiringkan badan dan berulang kali pasien harus menjelaskan pasien tidak dapat memiringkan badan sendiri baik kekanan maupun kekiri karena tulang punggung pasien yang sakit. Ini termasuk kategori pelayanan menyangkut institusi baik berupa sarana dan prasarana pemberi pelayanan kesehatan (aspek kelembagaan). Seharusnya rumah sakit memperkerjakan tenaga kesehatan yang sesuai standar pelayanan rumah sakit swasta bukannya dengan memakai suster di bawah 3 semester. Disamping itu, kondisi AC, shower kamar mandi yang tidak berfungsi, kamar mandi yang kotor, makanan yang kurang lengkap, sementara kamar pasien adalah VIP membuat pasien tidak nyaman dengan pelayanan rumah sakit ini.
Ketidaknyamanan pasien dalam menerima pelayanan di rumah sakit harus dirubah, karena pada dasarnya harapan pasien sebagai konsumen kesehatan yaitu:275 1. Reliability (kehandalan) : pemberian pelayanan yang dijanjikan dengan segera
dan memuaskan;
275
Op.Cit, Happy Susanto, hal.92
2. Responsiveness (daya tanggap) : membantu dan memberikan pelayanan dengan
tanggap tanpa membedakan unsur SARA (Suku, Agama, Ras, dan Golongan) pasien;
3. Assurance (jaminan) : jaminan keamanan, keselamatan, kenyamanan;
4. Emphaty (empati) : komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan konsumen/
pasien.
Dalam memperbaiki ketidaknyamanan pasien dalam pelayanan di rumah sakit, maka pihak penyedia sarana kesehatan mempunyai kewajiban yaitu antara lain :276
1. Memberikan pelayanan kepada pasien tanpa membedakan suku, ras, agama, seks, dan status sosial pasien;
2. Merawat pasien sebaik-baiknya, menjaga mutu perawatan dengan tidak membedakan kelas perawatan;
3. Memberikan pertolongan pengobatan di UGD tanpa meminta jaminan materi terlebih dahulu;
4. Merujuk pasien kepada rumah sakit lain apabila tidak memiliki sarana, prasarana, peralatan, dan tenaga yang diperlukan;
5. Membuat rekam medis pasien rawat jalan dan inap.
Kewajiban rumah sakit harus disertai dengan tanggung jawab, agar rumah sakit dan manajemennya mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan yang memuaskan. Untuk tanggung rumah sakit swasta dapat diterapkan dengan Pasal
276
1365 dan 1367 KUHPerdata karena rumah sakit swasta sebagai badan hukum memiliki kekayaan sendiri dan dapat bertindak dalam hukum dan dapat dituntut seperti halnya manusia.
Namun, pelayanan kesehatan saat ini mengalami krisis, sistem pelayanan kesehatan belum mampu berfungsi dengan baik, karena pelaku-pelaku dalam sistem ini terkena dampak krisis nasional. Pelayanan kesehatan di rumah sakit mengalami penurunan pendapatan yang tajam, karena pemanfaatan jasa rumah sakit oleh masyarakat berkurang. Pasien lari ke pengobatan alternatif yang lebih murah. Tantangan dalam pelayanan kesehatan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan dan kepuasan pasien tentang tuntutan dan harapan terhadap pelayanan kesehatan. Juga bagaimana meningkatkan daya saing agar dapat tetap bertahan di era globalisasi.
Undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan antara lain mengatur upaya kesehatan dan sumber daya kesehatan sebagai pendukung penyelenggaraan upaya kesehatan, dengan pengertian sarana pelayanan kesehatan seperti kondisi kamar VIP disesuaikan dengan tarif/ukuran yang ditetapkan tidak semata-mata mencari keuntungan, seperti yang dikenakan rumah sakit Elisabeth pada pasien dengan status rawat inap dan melahirkan, namun harus seimbang dengan pelayanan yang diberikan. Menurut Undang-undang Kesehatan Pasal 71 ayat (1) bahwa masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan serta dalam penyelenggaraan upaya kesehatan beserta sumber dayanya mulai dari inventarisasi masalah, perencanaan, penilaian sampai berbentuk sumbangan pikiran, tenaga, kelembagaan, sarana serta
dana. Hal tersebut sulit dilaksanakan karena 27 Peraturan Pemerintah yang ditunjuk UU Kesehatan, baru 3 Peraturan Pemerintah yang telah diterbitkan, selebihnya 24 Peraturan Pemerintah belum dibuat.277 Akibatnya kepentingan pasien dalam pelayanan kesehatan terhambat.
Sehubungan dengan kasus antara Ester Tabitha Gultom dengan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen kota Medan diselesaikan dengan jalur arbitrase, ternyata penyelesaian dengan jalur alternatif penyelesaian sengketa ini mempunyai kelebihan. Diantaranya waktu yang dibutuhkan untuk proses persidangan sampai putusan sekitar 21 hari, sedangkan dengan jalur pengadilan memakan waktu yang sangat lama. Disamping itu biaya yang dibutuhkan hanya sekitar Rp. 0.00.- atau menghabiskan biaya yang sangat sedikit. Dan majelis yang memutus sengketa konsumen lebih fokus dibanding hakim yang ada di pengadilan.278
Jadi rumah sakit Elisabeth harus meningkatkan pelayanannya baik sarana prasarana maupun manajerial rumah sakit dan menghapuskan aturan/kebijakan rumah sakit yang menjadikan pasien sebagai objek bisnis serta rumah sakit harus menghargai hak-hak konsumen yang telah diatur oleh undang-undang.
Dalam Bab I Pendahuluan pada latar belakang, telah disinggung bahwa kasus terbaru mengenai kesehatan terjadi di rumah sakit Omni Internasional pada awal Juni 2009 dengan pasien bernama Prita Mulyasari. Bahwa Prita Mulyasari menjadi tersangka kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Omni Internasional. Prita dijerat
277
http://syukriy.wordpress.com/2009/06/02/kasus-prita-mulyasari-apa-yang-harus-kita- lakukan.html
278
dengan Pasal 27 ayat (3) Undang –undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik279, dengan sanksi pidana penjara maksimum 6 tahun dan/atau denda maksimal 1 milyar rupiah. Prita dianggap melakukan tindak pidana setelah menulis email di milis internet yang berisi keluhan pelayanan rumah sakit itu yang dinilai buruk. Prita menjadi tahanan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang Banten sejak 13 Mei 2009. Namun diperpanjang hingga 23 Juni 2009 untuk menunggu proses hukumnya.
Adapun isi keluhan Prita Mulyasari yang disebarkan melalui milis internet yaitu Prita menyatakan bahwa kemewahan rumah sakit dan title internasional tidak menjamin pelayanan yang diberikan pada pasien, karena semakin pintar dokter maka semakin sering dilakukan uji coba pasien, penjualan, dan suntikan. Prita memasuki rumah sakit Omni Internasional pada tanggal 7 Agustus 2008 dengan kondisi panas tinggi dan pusing, dia berharap bahwa rumah sakit dengan standard internasional mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus. Dalam pemeriksaan darah, rumah sakit menyatakan bahwa trombosit darahnya adalah 27.000 dengan kondisi normal adalah 200.000. Jadi, berdasarkan hasil pemeriksaan lab, Prita dinyatakan positif demam berdarah dan wajib rawat inap.280
279
Pasal 27 ayat (3) UU Informasi dan Transaksi Elektronik menyatakan bahwa Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
280
Op.Cit, http://syukriy.wordpress.com/2009/06/02/kasus-prita-mulyasari-apa-yang-harus- kita-lakukan.html
Namun keesokan harinya ketika dilakukan pemeriksaan ulang, ternyata dokter menjelaskan bahwa ada revisi terhadap hasil lab, bahwa jumlah trombosit pasien adalah 181.000, ditambah lagi dokter ahli menyarankan kepada para suster untuk memberi suntikan dan obat-obatan pada pasien tanpa seizin pasien ataupun keluarga pasien.281 Pihak rumah sakit tetap tidak memberikan keterangan yang pasti mengenai penyakit yang diderita pasien, sementara selama perawatan pasien diberi suntikan, obat-obatan untuk dimakan, dan tangan pasien sudah mengalami pembengkakan karena suntikan infus. Berselang dua hari kemudian kondisi pasien semakin parah, yang ditandai dengan pembengkakan di leher dan suhu badan mencapai 39 derajat. Lalu Prita meminta dokter untuk memberi keterangan mengenai penyakitnya, namun dokter belum juga memberi konfirmasi yang jelas.282
Dalam data medis, ternyata hasilnya yang diberikan fiktif. Prita dinyatakan lancar buang air besar, padahal kenyataannya semenjak masuk rumah sakit pasien susah buang air besar. Ditambah lagi hasil lab yang diberikan adalah 181.000, padahal suster mengatakan bahwa trombosit pasien 27.000. Ketika pasien menyampaikan komplain ke pihak manajemen rumah sakit, pihak rumah sakit tidak melayani dengan baik, yang ditandai dengan pihak rumah sakit meminta pasien untuk memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi pada pasien. Hal ini membuat pasien marah pada pihak manajemen rumah sakit. Pasien kembali berobat ke rumah sakit lain, dan ternyata penyakit yang diderita bukan demam berdarah,
281 Ibid 282
melainkan virus gondongan. Ketika Prita dan suaminya meminta kembali hasil lab trombosit yang 27.000, ternyata pihak rumah sakit malah mengelak memberikan, dan mengulur waktu-waktu. Kekecewaan sangat dirasakan Prita dengan hasil lab trombosit dari 27.000 berubah menjadi 181.000 kemudian pada saat rawat inap pasien juga diberikan suntikan-suntikan, obat-obatan dengan dosis tinggi yang mengakibatkan pasien sesak nafas.283
Hal ini menguatkan Prita bahwa manajemen rumah sakit Omni Internasional tidak jelas pelayanannya. Rumah sakit yang tidak sesuai dengan standard internasional, ditambah lagi tidak ada etika dokter yang bertanggung jawab terhadap hasil lab trombosit.284
Dari keluhan Prita di atas, jelas bahwa pihak rumah sakit tidak memberikan dokumen rekam medis (DRM) yang merupakan hak pasien. Rumah sakit tidak memberikan hasil pemeriksaan laboratorium untuk trombosit 27.000 itu. Kejanggalan lain dapat dilihat bahwa manajer rumah sakit yang juga seorang dokter, meminta pasien (dalam keadaan sakit) menceritakan kembali apa yang terjadi. Padahal dokter dapat membaca urutan kejadian dari DRM. Daftar rekam medis berperan penting sebagai alat untuk evaluasi kinerja dokter, perawat, bahkan petugas administrasi yang mendata identitas pasien. Dalam aspek hukum, DRM menjadi alat bukti seluruh layanan yang diberikan rumah sakit terhadap pasien. Jika Prita harus berhadapan dengan pengadilan, DRM dipakai sebagai bukti dan dibawa seorang ahli medical 283 Ibid 284 Ibid
record yang harus disumpah lebih dulu bahwa ia tidak menukar, mengurangi, atau
menambah data atau informasi dalam DRM.285
Jadi pihak rumah sakit Omni Internasional yang tidak memberikan daftar rekam medis (DRM) kepada pasien telah melanggar ketentuan Pasal 52 UU Praktik Kedokteran No.29 Tahun 2004 dimana hak pasien yaitu:286
1. Mendapat penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis; 2. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
3. Mendapat pelayanan sesuai kebutuhan medis; 4. Menolak tindakan medis;
5. Mendapat isi rekam medis.
Dalam World Medical Association mengeluarkan deklarasi hak pasien dan American Hospital Association memiliki A Patients Bill of Rights, dalam UU itu
dinyatakan bahwa pasien memiliki hak yang harus dihormati ketika berhadapan dengan penyedia layanan medis. Di samping itu, ada UU negara lain yang menyebutkan bahwa hak pasien adalah memperoleh pelayanan tidak diskriminatif, hak dihormati dan dilindungi privasinya, dan secapat mungkin mendapatkan solusi atas keluhan terdapat penyedia layanan.287
285
Bisakah Rumah Sakit Belajar dari Kasus Prita,
http://www.kompas.com/read/xml/2009/06/15/21114790/Bisakah.Rumah.Sakit.Belajar.dari.Kasus.Prit a
286
Pasal 52 Undang-undang Praktik Kedokteran 287
Op.Cit,
http://www.kompas.com/read/xml/2009/06/15/21114790/Bisakah.Rumah.Sakit.Belajar.dari.Kasus.Prit a
Kasus ini sebagian adalah dampak dari rumah sakit yang berbentuk Perseroan Terbatas yang cenderung hanya lebih mementingkan fungsi usaha dan keuntungan, padahal ada Peraturan Menteri Kesehatan No.378/Menkes/Per/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta, selain untuk mencari keuntungan sebagai perusahaan, rumah sakit harus menjalankan fungsi sosial. Dalam peraturan Menteri Kesehatan tersebut, rumah sakit wajib menjalankan fungsi sosial seperti pengaturan tarif pelayanan dengan memberikan keringanan atau pembebasan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu, dan pelayanan gawat darurat 24 jam tanpa mempersyaratkan uang muka, tetapi mengutamakan kesehatan.288
Suatu fakta bahwa pasien lebih memilih rumah sakit swasta daripada rumah sakit pemerintah. Sebagian besar kelompok menengah ke atas merasa bahwa pelayanan oleh rumah sakit swasta lebih bagus daripada layanan yang diusahakan oleh pemerintah.
Adapun bentuk-bentuk rumah sakit swasta antara lain :289 1. Perkumpulan
a) Tidak ada defenisi khusus tentang perkumpulan, kecuali mengacu pada Buku III KUPerdata sebagai bagian dari hukum Perikatan, yaitu Pasal 1653 KUHPerdata. Tata cara pendirian perkumpulan dan status badan hukum diatur dalam Staatblad 1870 No.64
288 Ibid 289
Evy Rachmawati, Menjamurnya Bisnis Kesehatan, Kompas 26 Juni 2009.
b) Jumlahnya paling sedikit dibandingkan RS swasta lain 2. Yayasan
a) Berdasarkan UU Yayasan No.16/2001 yang diubah menjadi UU No.28 Tahun 2004.
b) Sudah ada sejak 100 tahun yang lalu.
c) RS Yayasan dapat berbentuk milik lembaga keagamaan, milik lembaga kemanusiaan, ataupun milik dokter.
3. Perseroan Terbatas
a) Berdasarkan UU yang berkaitan dengan PT yaitu UU No.40 Tahun 2007, UU No.8 Tahun 1995, UU No.6 Tahun 1968 jo UU No.12 Tahun 1970, UU No. 1 Tahun 1967 jo UU No.11 Tahun 1970, dan UU No.9 Tahun 1968.
b) Merupakan persekutuan modal yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
c) Organ perseroan: RUPS, direksi, dewan komisaris.
d) Laba bersih setelah dikurangi penyisihan untuk cadangan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen, kecuali ditentukan lain dalam RUPS. Dividen ini dibagikan jika perusahaan memiliki saldo laba positif.
e) Pertumbuhan jumlah paling tinggi selama 10 tahun terakhir. f) 37,8 % berbentuk PT berada di Jakarta.
Berdasarkan bentuknya, rumah sakit dengan bentuk PT (perseroan terbatas) paling banyak ditemukan dibandingkan bentuk lainnya, seperti yayasan dan
perkumpulan. Tingginya minat mendirikan rumah sakit dalam bentuk PT karena bentuk PT memungkinkan laba dibagikan pada pemegang saham lebih besar daripada yayasan dan perkumpulan. Disamping itu dengan PT lebih memiliki landasan yang kuat bagi pengelolanya. Rumah sakit berbentuk PT biasanya berada pada daerah- daerah yang perekonomiannya besar. Dan secara umum rumah sakit swasta masih dikelola dengan berdasarkan UU PT, yayasan, peraturan perpajakan, dan aturan lain.290
Terkait dengan kasus di rumah sakit yang berlabel internasional ini, tampak jelas bahwa masyarakat lebih memilih rumah sakit dengan standard internasional karena adanya kepercayaan bahwa penamaan internasional akan memberikan pelayanan terbaik dengan standard internasional. Keinginan memperoleh kepercayaan masyarakat mendorong rumah sakit menggunakan nama internasional. Seperti kasus Prita Mulyasari dengan RS Omni Internasional, menurut Departemen Kesehatan belum ada aturan tentang rumah sakit internasional, yang ada hanyalah akreditasi nasional untuk pelayanan kesehatan di rumah sakit. Diharapkan rumah sakit dengan nama internasional ini mempunyai beban untuk menaikkan kualitas pelayanan. Jadi tidak sebatas permodalan asing tetapi standar akreditasi internasional.291
Pencantuman label internasional ini harus disesuaikan dengan pelayanan berstandar internasional, tidak hanya sekedar nama, ataupun menarik pemodal asing. Namun belum ada sanksi yang dapat dikenakan pada rumah sakit berlabel
290
Op.Cit, Evy Rachmawati, Menjamurnya Bisnis Kesehatan, Kompas 26 Juni 2009. 291
Ibid
internasional karena belum ada UU yang mengaturnya. Dan diharapkan RUU rumah sakit yang saat ini dalam tahap pembahasan di DPR dapat mengatur rumah sakit berlabel internasional.292
Kasus Prita kini menjadi bumerang kepada rumah sakit Omni Internasional, karena apabila awalnya pihak manajemen menanggapi keluhan Prita dengan baik tidak akan menjadi masalah seperti sekarang ini. Dalam kasus Prita yang menjadi tersangka kasus pencemaran nama baik rumah Sakit Omni Internasional dijerat dengan Pasal 27 ayat (3) UU No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sebenarnya tidak bermaksud menghina justru menyampaikan pesan kepada teman-temannya untuk berhati-hati dengan pelayanan rumah sakit, tetapi pihak kepolisian justru menahan Prita sehingga menimbulkan masalah hukum.
Jadi, kasus yang dialami Prita Mulyasari mencerminkan lemahnya perlindungan terhadap pasien. Pasien selama ini dimaknai sebagai objek industri kesehatan, bukan subjek yang harus dibantu. Oleh karena itu, perlindungan terhadap pasien perlu dimasukkan dalam bentuk undang-undang.293 Setiap dokter disumpah untuk memperlakukan pasien seperti mereka memperlakukan diri mereka sendiri, sehingga dokter lebih memperlakukan pasien dengan baik, dan diharapkan tidak menciptakan perselisihan diantara pihak penyelenggara kesehatan dengan pasien.
Perselisihan antara Prita Mulyasari dengan rumah sakit Omni Internasional ini merupakan puncak dari kegagalan komunikasi antara pasien dengan dan penyedia
292 Ibid 293
http:/property.kompas.com/read/xml/2009/06/03/14220877/kasus.prita.perlu.uu.perlindung an.pasien, diakses tanggal 18 Juni 2009
pelayanan kesehatan. Dalam praktiknya, hak pasien untuk mendapatkan informasi sering kali tidak diberikan secara utuh. Hal ini terjadi karena ada kesenjangan informasi atau pengetahuan antara pasien dan dokter. Sementara dokter dengan otoritasnya masih dengan paradigma lama bahwa informasi medis tidak penting diketahui oleh pasien. Maka, rumah sakit diharapkan memberi pelayanan yang terbaik kepada pasiennya agar pasien merasa puas terhadap pelayanan yang diterimanya.294
Apabila pasien tidak puas terhadap pelayanan di rumah sakit maka jalur yang dapat ditempuh adalah :295
1. Mengadukan masalah ke bagian pelayanan bagi konsumen di rumah sakit. Setiap kasus terkait etika pelayanan kesehatan di rumah sakit ditangani oleh Komite etika rumah sakit, yang anggotanya terdiri dari:
a) Dokter rumah sakit; b) Ahli etika;
c) Ahli hukum; d) Ahli agama; dan e) Tokoh masyarakat.
2. Dapat mengadukan ke Dinas Kesehatan setempat
3. Dapat mengadukan ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia atau Majelis Kehormatan Etik Kedokteran, apabila menyangkut dokter.
294 Ibid 295
Evy Rachmawaty, Saat pasien menuntut hak, Kompas Jumat 26 Juni 2009
4. Dapat mengadukan ke lembaga swadaya masyarakat seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen sebagai alternatif penyelesaian sengketa konsumen di luar jalur pengadilan.
5. Dapat mengadukan ke polisi untuk diajukan gugatan melalui jalur pengadilan. Suatu masukan bahwa meskipun ada jalur pengaduan, penyedia pelayanan harus berbenah diri, hal tersebut harus diikuti dengan evaluasi tenaga medis yang sudah berkompetensi dan menjalankan profesi sesuai dengan standar operasional. Evaluasi pelayanan kesehatan dimulai sejak pendidikan bagi penyedia layanan. Salah satu cara melindungi hak pasien adalah meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap penyedia layanan dengan adanya pengakuan bahwa rumah sakit telah terakreditasi. Sebelum rumah sakit mendapat akreditasi harus mendapat izin operasional dari dinas kesehatan dan Departemen Kesehatan. Proses akreditasi diantaranya adanya rekam medis, pelayanan gawat darurat, apotek, kelayakan bangsal, keamanan gedung, dan infrastruktur rumah sakit.
Rumah sakit di Indonesia juga telah diatur keberadaannya, tinggal bagaimana para penyedia pelayanan kesehatan mengelola rumah sakit tersebut. Adapun