• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ANALISIS TANGGUNG JAWAB RUMAH SAKIT

C. Hak dan Kewajiban Pasien sebagai Konsumen

Perlindungan terhadap konsumen diberikan bertujuan agar konsumen dapat menuntut hak-hak yang selayaknya diperoleh setelah mereka melaksanakan kewajibannya. Selama ini sudah banyak konsumen yang sudah dirugikan baik secara materil maupun immateril oleh pelaku usaha, namun dari pihak konsumen kurang usahanya untuk menuntut hak-haknya. Kenyataan ini disebabkan konsumen kurang menyadari hal-hal apa saja yang menjadi haknya dan masih kurang untuk menjalani proses penuntutan hak-haknya yang lama dan rumit.

Lahirnya Undang-undang Perlindungan Konsumen memberikan penjelasan mengenai hal yang menjadi hak-hak konsumen yang tercantum dalam Pasal 4 yaitu :117

a. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa,

b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan, c. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur menangani kondisi dan jaminan

barang dan/atau jasa,

d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan,

117

Pasal 4 Undang-undang Perlindungan Konsumen No 8 Tahun 1999

e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut,

f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen,

g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif,

h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya,

i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. Selain memiliki hak yang dapat dituntut kepada pelaku usaha, konsumen juga memiliki kewajiban yang harus dipenuhi baik terhadap pelaku usaha maupun terhadap dirinya sendiri. Kewajiban tersebut dituangkan dalam Pasal 5 Undang- undang Perlindungan Konsumen yang berbunyi:118

a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan. Inilah yang dimaksud tanggung jawab konsumen terhadap dirinya sendiri. Meskipun pelaku usaha telah mencantumkan informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan suatu barang dan/atau jasa, tetapi apabila konsumen tidak memperhatikan itu semua, maka kerugian bagi konsumen tidak dapat dihindarkan. Dalam hal ini konsumen tidak dapat menuntut ganti kerugian dari pelaku usaha.

b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa.

118

c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati. Membayar harga yang telah disepakati merupakan kewajiban yang harus dipenuhi konsumen dalam setiap perjanjian dengan pelaku usaha, baik jual beli, sewa menyewa, dll.

d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum dengan sengketa perlindungan konsumen secara patut.

Sehubungan dengan hak dan kewajiban konsumen ini maka sejak lama sudah dikenal beberapa doktrin seperti doktrin Caveal Emptor 119, doktrin Sanectity Contract120 dan doktrin Caveal Venditor121.

Sehubungan dengan masalah konsumen, pasien sebagai konsumen juga mempunyai hak dan kewajiban yaitu : Memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu merupakan bagian pemenuhan hak konsumen yang utama, yaitu hak untuk terpenuhi kebutuhan dasarnya. Sementara itu, sebagai pengguna jasa layanan konsumen, konsumen juga memiliki sederetan hak.

119

Caveat emptor adalah istilah latin untuk ‘let the buyer awaren (konsumen harus berhati- hati). Hal ini berarti bahwa konsumen membeli sesuatu, maka ia harus waspada terhadap kemungkinan adanya cacat pada barang. Dalam Johannes Gunawan, bahan perkuliahan Pertanggungjawaban Produk, Program Pascasarjana magister Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, 1998.

120

Sanectity of Contract adalah doktrin yang memungkinkan produsen atau penjual “mengakali” konsumen. Menurut doktrin ini, sekali pembeli dan penjual mencapai kesepakatan, pengadilan akan memaksa mereka untuk melaksanakannya tanpa memperdulikan apakah kesepakatan itu adil bagi para pihak. Ibid

121

Caveat Venditor adalah doktrin yang menyatakan bahwa produsen tidak hanya bertanggungjawab kepada konsumen atas dasar tanggungjawab kontraktual. Karena produknya ditawarkan kepada semua orang, maka timbul kepentingan bagi masyarakat untuk mendapatkan jaminan keamanan jika menggunakan produk yang bersangkutan. Ibid

Hak-hak pasien diantaranya yaitu :122

1. Hak untuk memperoleh informasi tentang kondisi dan keadaan apa yang sedang mereka alami. Isi dan waktu pemberian informasi, sangat tergantung dari kondisi pasien dan jenis tindakan yang akan segera dilaksanakan. Informasi harus diberikan langsung kepada pasien dan keluarga;

2. Hak untuk bertanya atau mendiskusikan tentang kondisi atau keadaan dirinya dan apa yang mereka harapkan dari sistem pelayanan yang ada, dalam suasana yang dianggap memadai. Proses ini berlangsung secara pribadi dan didasari rasa saling percaya di antar kedua belah pihak;

3. Hak pasien untuk dilayani secara pribadi. Pasien harus diberitahu siapa dan apa peran mereka masing-masing (staf klinik, peneliti, peserta pelatihan dan instrukturnya, penyedia dan sebagainya);

4. Hak untuk memutuskan secara bebas apakah menerima atau menolak suatu pengobatan. Persetujuan merupakan persyaratan dalam melakukan suatu tindakan.

Menurut J.Guwandi, hak-hak pasien adalah sebagai berikut:123 1. Hak atas pelayanan dan manusiawi;

2. Hak memperoleh asuhan perawatan yang bermutu baik; 3. Hak untuk memilih dokternya;

122

Abdul Bari Saiffudin, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, (Jakarta: JNPKR-POGI, 2001),hal 36

123

4. Hak memerintah dokter yang merawat agar mengadakan konsultasi dengan dokter lain;

5. Hak atas ”privacy” dan kerahasiaan penyakit yang diderita;

6. Hak untuk mendapatkan informasi tentang penyakitnya, tindakan medik yang hendak dilakukan, alternatif terapi lainnya, prognosis;

7. Hak meminta tidak diinformasikan tentang penyakitnya;

8. Hak untuk menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya; 9. Hak untuk didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.

Dalam bukunya Soedarmo Soejitno mengemukakan beberapa hak dasar diantaranya adalah berpartisipasi dalam membuat keputusan tentang penanganan yang menyangkut kesehatan dirinya, mengajukan keluhan atau pengaduan, memperoleh pergantian untuk kerugian yang dideritanya.124

Selain mempunyai hak, pasien juga mempunyai kewajiban :125

1. Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan tata tertib rumah sakit;

2. Pasien wajib untuk menceritakan sejujur-jujurnya tentang segala sesuatu mengenai penyakit yang dideritanya;

3. Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter dalam rangka pengobatannya;

124

Soedarmo Soejitno, hal 116. Bandingkan juga dengan Pasal 4 dan Pasal 53 ayat (2), Pasal 55 Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992 Jo PP 32 Tahun 1996 tentang Tenaga kesehatan Pasal 23.

125

Op.Cit, Abdul Bari Saifuddin, dkk, hal.93. Bandingkan dengan Pasal 5 Undang-Undang Kesehatan.

4. Pasien dan/atau penanggungnya berkewajiban untuk melunasi semua imbalan atas jasa pelayanan rumah sakit/dokter;

5. Pasien dan/atau penanggungnya berkewajiban untuk memenuhi segala perjanjian yang ditandatanganinya.

Kewajiban pasien di rumah sakit yaitu :126

1. Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan tata-tertib rumah sakit;

2. Pasien wajib untuk menceritakan sejujur-jujurnya tentang segala sesuatu mengenai penyakit yan dideritanya;

3. Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instrusi dokter dalam rangka pengobatannya;

4. Pasien dan/atau penanggungnya berkewajiban untuk melunasi semua imbalan atas jasa pelayanan rumah sakit/dokter;

5. Pasien dan/atau penanggungnya berkewajiban untuk memenuhi segala perjanjian yang ditanda tanganinya.

Hak pasien :127 1. Hak atas informasi;

2. Hak memberi consent atas dilaksanakannya tindak medis tertentu; 3. Hak untuk memilih pemberi jasa (dokter);

4. Hak untuk memilih sarana kesehatan;

126 Ibid 127

5. Hak atas rahasia medis;

6. Hak untuk menolak pengobatan / perawatan; 7. Hak untuk menolak tindakan medis tertentu; 8. Hak untuk menghentikan pengobatan/perawatan; 9. Hak untuk mendapatkan second opinion;

10.Hak untuk melihat rekam medis (inzage).

Pasien dalam praktek sehari-hari sering dikelompokkan sebagai berikut :128 1) Pasien dalam, yaitu pasien yang memperoleh pelayanan tinggal atau dirawat pada

suatu unit pelayanan kesehatan tertentu atau dapat juga disebut dengan pasien yang dirawat di Rumah Sakit;

2) Pasien Luar/Jalan, yaitu pasien yang hanya memperoleh pelayanan kesehatan tertentu ada disebut juga pasien jalan;

3) Pasien opname, yaitu pasien yang memperoleh pelayanan kesehatan dengan cara menginap dan dirawat di Rumah Sakit atau disebut juga dengan pasien rawat inap.

Disisi lain, ada pendapat yang mengatakan “pada umumnya pasien dibedakan atas 2 (dua) macam, apabila dilihat dari cara perawatannya, yaitu pasien opname dan pasien berobat jalan”.129

128

Op Cit, Dalmy Iskandar, hal.57 129

R. doel Djamili dan Lenawti Tedjapurnama, Tanggung Jawab Hukum Seorang Dokter Dalam Menangani Pasien, (Jakarta: Abardin, 1988), hal.100.

Pasien opname ini memerlukan perawatan khusus dan terus menerus secara teratur serta harus terhindar dari gangguan situasi dan keadaan dari luar yang sangat mempengaruhi proses penyembuhan penyakitnya bahkan dimungkinkan menghambat kesembuhan pasien. Biasanya pasien ini adalah pasien yang telah mendapat diagnosa dari dokter yang berkesimpulan bahwa pasien ini harus dirawat secara khusus. Dalam keadaan demikian dokter akan memerintahkan kepada pasien agar segera masuk ke Rumah Sakit untuk perawatan yang khusus lagi. Hal ini dimaksudkan agar pasien yang dianggap serius mengidap penyakitnya harus dirawat dan diawasi oleh dokter setiap saat. Dengan demikian perawatan yang dilakukan itu akan mengikuti cara-cara pengobatan secara teratur dan terus menerus sehingga diharapkan dalam waktu singkat pasien tersebut akan sembuh. 130

Dilain pihak, ada juga pasien yang diperbolehkan berobat jalan, artinya pasien ini dirawat secara teratur pada waktu-waktu tertentu saja. Pada umumnya pasien ini datang sendiri ke rumah sakit, klinik, puskesmas atau dokter praktek yang tujuannya hanya untuk menjaga kesehatannya, mempertingi kesehatan dan daya tahan tubuhnya terhadap serangan penyakit tertentu atau hanya sekedar berkonsultasi tentang kesehatan dan tidak perlu harus di-opname. Walaupun pasien tersebut tidak dirawat ditempat perawatan, akan tetapi dalam perawatan kesehatannya sama perlakuannya dengan pasien yang opname. Artinya diantara keduanya walaupun berbeda status tapi sama-sama harus mendapat perhatian yang khusus, yang membedakan hanyalah dalam hal tinggal atau tidaknya pasien di tempat perawatan tersebut. Pasien berobat

130

jalan biasanya datang untuk berobat secara teratur pada waktu-waktu yang sudah disepakati, maka kelihatan adanya pengawasan yang tetap oleh dokter.131

Sehubungan dengan pelayanan kesehatan yang dilakukan dokter pada Rumah Sakit, maka oleh KODEKI mengemukakan bahwa pasien mempunyai hak sebagai berikut : 132

1) Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya sendiri dan hak untuk mati secara wajar; 2) Hak memperoleh penjelasan tentang diagnosa dan terapi dari dokter yang

mengobatinya;

3) Hak prosedur diagnosis dan terapi dari dokter yang mengobatinya;

4) Hak untuk prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan, bahkan dapat menarik diri dari kontrak terapeutik;

5) Hak memperoleh penjelasan tentang riset kedokteran yang akan diikutinya; 6) Hak menolak atau menerima keikut sertaannya dalam riset kedokteran;

7) Hak untuk dirujuk kepada dokter spesialis kalau diperlukan dan dikembalikan kepada dokter yang merujuknya setelah selesai konsultasi atau pengobatan untuk memperoleh perawatan atau tindak lanjut;

8) Hak kerahasiaan dan rekam mediknya atas hal pribadi;

9) Hak memperoleh penjelasan tentang peraturan-peraturan Rumah Sakit;

10)Hak berhubungan dengan keluarga, penasehat atau rohaniawan dan lain-lainnya yang diperlukan selama perawatan di Rumah Sakit;

131

Ibid, hal 36. 132

Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)

11)Hak memperoleh penjelasan tentang perincian biaya rawat inap, obat, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan roentgen, Ultrasonografi (USG), CT-

Scan, Magnetic Reconance Imaging (MRI) dan sebagainya, biaya kamar bedah,

kamar bersalin, imbalan jasa dokter dan lain-lainnya.133

Hak-hak sebagaimana disebutkan dalam Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen lebih luas daripada hak-hak dasar konsumen sebagaimana pertama kali dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat J.F. Kenddedy di depan kongres pada tanggal 15 Maret 1962 yaitu terdiri atas :134

1) Hak memperoleh keamanan; 2) Hak memiliki ;

3) Hak untuk mendapatkan informasi; 4) Hak untuk di dengar.135

Keempat hak tersebut merupakan bagian dari Deklarasi Hak-Hak Manusia yang dicanangkan PBB pada tanggal 10 Desember 1948. Dalam kerangka hukum perlindungan konsumen, pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatann mempunyai hak-hak dasar yang diakui secara International dan dilindungi pemahamannya. 136

133

Op. Cit, M. Yusuf Hanafiah & Amri, hal.47. 134

Loc.Cit, Shidarta, hal.80. 135

Ahmadi Mira & Sutarman Yudo, Hukum Perlindungan Konsumen,( Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hal.38-39

136

Sebaliknya Soerjono Soekanto yang mengutip dari Leenen mengemukakan bahwa pasien mempunyai kewajiban mendasar yang harus dilaksanakan, berupa kewajiban moral dari pasien untuk memelihara kesehatan yaitu : 137

1) Memberikan informasi kepada tenaga kesehatan, sehingga tenaga kesehatan mempunyai badan yang cukup untuk mengambil keputusan. Hal ini juga sangat penting agar tenaga kesehatan tidak melakukan kesalahan. Landasannya adalah bahwa hubungan antara tenaga kesehatan dengan pasien merupakan hubungan hukum, yang didasarkan atas kepercayaannya sehingga sampai batas-batas tertentu dituntut adanya suatu keterbukaan;

2) Melaksanakan nasehat-nasehat yang diberikan tenaga kesehatan dalam rangka perawatan. Jika pasien meragukan manfaat nasehat itu, yang bersangkutan mempunyai hak untuk meminta penjelasan yang lebih mendalam;

3) Menghormati kerahasiaan diri dan kewajiban tenaga kesehatan untuk menyimpan rahasia kedokteran serta kesendiriannya (privacy);

4) Memberikan ganti rugi, apabila tindakan-tindakan pasien merugikan tenaga kesehatan;

5) Berterus terang apabila timbul masalah dalam hubungan tenaga kesehatan dan rumah sakit baik yang berlangsung maupun tidak langsung. 138

Sedangkan M. Yusuf Hanafiah menyebutkan kewajiban pasien adalah sebagai berikut : 139

137 Ibid 138

Soerjono Soekanto, Segi-segi Hukum Hak dan Kewajiban Pasien Dalam Kerangka Hukum Kesehatan, (Bandung: CV. Mandar Maju, 1990), hal.39-40.

1) Memeriksa diri sendiri pada dokter.

Masyarakat perlu diberikan penyuluhan, bahwa pengobatan penyakit pada stadium dini akan lebih berhasil dan mengurangi komplikasi yang merugikan. Penyakit kanker stadium dini jelas pada umumnya dapat sembuh, jika diberikan terapi yang tepat, sedangkan pada stadium lanjut prognosisnya lebih buruk. Kadang kala pasien/keluarganya membangunkan dokter pada tengah malam, padahal ia telah menderita penyakit beberapa hari sebelumnya. Walaupun dokter harus siap melayani pasien setiap waktu, alangkah baiknya jika pasien dapat berobat pada jam kerja. Sebagai manusia biasa, dokter juga memerlukan istirahat yang cukup kecuali halnya dengan kasus gawat darurat (emergency case).

2) Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang penyakitnya

Informasi yang benar dan lengkap dari pasien/keluarga merupakan hal yang penting bagi dokter dalam membantu menegakkan diagnosis penyakit. Bila dokter dituntut malpraktek, tuntutan dapat gugur jika terbukti pasien telah memberikan keterangan yang menyesatkan atau menyembunyikan hal-hal yang pernah dialaminya.

3) Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter

Pasien berkewajiban mematuhi petunjuk dokter tentang makan berpantang, minum, pemakaian obat-obat, istirahat, kerja, saat berobat berulang dan lain- lainnya. Pasien yang tidak mematuhi petunjuk dokternya, keberhasilan pengobatannya berkurang.

139

4) Menandatangani surat-surat PTM, surat jaminan dirawat di Rumah Sakit dan lain sebagainya.

Dalam kontrak terapeutik ada tindakan medik, baik untuk tujuan diagnosis maupun untuk terapi yang harus disetujui oleh pasien atau keluarganya, setelah diberikan penjelasan oleh dokter. Surat PTM yang sifatnya tulisan, harus ditanda tangani oleh pasien dan atau keluarganya.

5) Yakin pada dokternya dan yakin akan sembuh

Pasien yang telah mempercayai dokter dalam upaya penyembuhannya, berkewajiban menyerahkan dirinya untuk diperiksa dan diobati sesuai kemampuan dokter. Pasien yang tidak yakin lagi pada kemampuan dokternya, dapat memutuskan kontrak terapeutik atau dokternya sendiri yang menolak meneruskan perawatan.

6) Melunasi biaya perawatan di Rumah Sakit, biaya pemeriksaan dan pengobatan serta honorarium dokter.

Perlu ditekankan disini bahwa imbalan untuk dokter merupakan penghargaan yang sepantasnya diberi oleh pasien/keluarga atau jerih payah seorang dokter. Kewajiban pasien ini haruslah disesuaikan dengan kemampuannya dan besar kecilnya honorarium dokter tidak boleh mempengaruhi dokter dalam memberikan pelayanan kedokteran yang bermutu, sesuai standar pelayanan medik.

Menurut H.T. Syamsul Bahri pada pidato pengukuhan jabatan Guru Besar pada Fakultas Hukum USU Medan pada tanggal 19 Agustus 1998 mengatakan bahwa

“Seseorang yang menderita suatu penyakit yang meminta pada seseorang dokter untuk menyembuhkan penyakitnya dan dokter tersebut menyetujuinya maka pada saat itu terjadilah suatu persetujuan atau dengan perkataan lain terjadilah transaksi terapeutik antara dokter dan pasien. 140

Selanjutnya H.T. Syamsul Bahri mengemukakan bahwa : Jasa doker, perawat, Rumah Sakit dan pelayanan kesehatan sangat menentukan hidup matinya seseorang. Tetapi pada prakteknya pertimbangan aspek kemanusiaan yang dikenakan pada konsumen atau pasien masih subjektif. Keadaan tersebut jelas tidak menunjang keberhasilan pembangunan kesehatan. Oleh sebab itu perlindungan hukum terhadap kedua belah pihak antara kepentingan tenaga kesehatan dan pasien harus diutamakan. 141

Dari sudut pandangan sosiologis dapat dikatakan bahwa pasien maupun tenaga kesehatan memainkan peranan-peranan tertentu dalam masyarakat. Dalam hubungannya dengan tenaga kesehatan, misalnya dokter, tenaga kesehatan mempunyai posisi dominan apabila dibandingkan dengan kedudukan pasien yang awam dalam bidang kesehatan.142

Pasien dalam hal ini, dituntut untuk mengikuti nasehat dari tenaga kesehatan yang mana lebih mengetahui akan bidang pengetahuan tersebut. Dengan demikian pasien senantiasa harus percaya pada kemampuan dokter tempat dia menyerahkan

140

Tan Kamelo, Butir-Butir Pemikiran Hukum Guru Besar Dari Masa ke Masa, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Fakultas Hukum USU, (Pustaka Bangsa Press, 2003), hal.332.

141

Op.Cit, Soerjono Soekanto, hal.50. 142

nasibnya. Pasien sebagai konsumen dalam hal ini, merasa dirinya bergantung dan aman apabila tenaga kesehatan berusaha untuk menyembuhkan penyakitnya. Keadaan demikian pada umumnya didasarkan atas kerahasiaan profesi kedokteran dan keawaman masyarakat yang menjadi pasien. Situasi tersebut berakar pada dasar- dasar historis dan kepercayaan yang sudah melembaga dan membudaya di dalam masyarakat. Hingga kini pun kedudukan dan peranan dokter relatif lebih tinggi dan terhormat.143

Pasien sebagai konsumen jasa di bidang pelayanan medis, dengan melihat perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan yang pesat, resiko yang dihadapi semakin tinggi. Oleh karena itu, dalam hubungan antara tenaga kesehatan dengan pasien, misalnya terdapat kesederajatan. Di samping dokter, maka pasien juga memerlukan perlindungan hukum yang proporsional yang diatur dalam perundang- undangan. Perlindungan tersebut terutama diarahkan kepada kemungkinan- kemunkinan bahwa dokter melakukan kekeliruan karena kelalaian.144

Dalam kontrak terapeutik ada dua macam hak asasi yang merupakan hak dasar manusia, yang mana hal ini erat hubungannya dengan pasien dalam mengambil sikap yaitu :145

1. Hak untuk menentukan nasibnya sendiri

Hak ini baru mempunyai efek apabila manusia sebagai individu mendapat kesempatan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Mandiri maksudnya, bahwa

143

Op.Cit, Wila Chandrawilala, hal.54. 144

Ibid, hal.55. 145

Ibid, hal.56.

pasien bertanggung jawab penuh atas apapun keputusan yang telah diambilnya. Kemandirian dalam kaitannya dengan unsur pertanggungjawaban hanya dimiliki oleh mereka yang telah dewasa. Hak untuk menentukan nasib sendiri dapat diartikan dalam 2 hal yaitu :

a. Hak untuk menentukan sejauh mungkin segala sesuatu yang berhubungan dengan tubuh dan rohani;

b. Hak untuk merencanakan, membentuk dan mengembangkan dirinya sebagaimana yang dikehendaki.

2. Hak atas informasi

Hak untuk menentukan nasib sendiri tidak mungkin terwujud secara optimal bila tidak didampingi oleh hak dasar atas informasi, karena keputusan akhir mengenai penentuan nasibnya sendiri itu dapat diberikan apabila pengambilan keputusan tersebut memperoleh informasi yang lengkap tentang segala untung dan ruginya apabila suatu keputusan tidak diambil.

Hak pasien :146

1. Hak atas informasi, adalah hak pasien untuk mendapatkan informasi dari dokter tentang hal-hal yang berhubungan dengan kesehatannya;

2. Hak atas persetujuan yaitu hak asasi pasien untuk menerima atau menolak tindakan medik yang ditawarkan oleh dokter, setelah dokter memberikan informasi;

146

3. Hak atas kerahasian kedokteran, yaitu keterangan yang diperoleh dokter dalam melaksanakan profesinya, dikenal dengan nama rahasia kedokteran. Dokter berkewajiban untuk merahasikan keterangan tentang pasien (penyakit pasien). Kewajiban dokter ini menjadi hak pasien. Hak ini merupakan hak individu dari pada pasien.

4. Hak atas pendapat kedua (second opinion), adalah kejasama antara dokter pertama dengan dokter kedua. Dokter pertama akan memberikan seluruh hasil pekerjaannya kepada dokter kedua, sehingga dengan keterbukaan dari para pakar, dapat menghasilkan pendapat yang lebih baik.

5. Hak untuk melihat rekam medik. Pengertian rekam medik yaitu, menurut Pasal 1 (a) Permenkes No.749/a/1989, ”rekam medik adalah berkas yang berisi catatan, dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan.

6. Pasien juga memiliki hak konfidensialitas, yaitu menjamin di depan meja hijau sekalipun bahwa semua informasi tentang dirinya, keadaan fisik dan penyakitnya, harus dipercayakan kepada dokter.