2.2 Pengertian Financial Distress
2.2.4 Analisis Kebangkrutan Model Altman Z-score
Analisis model Altman Z-score merupakan salah satu teknik statistik analisis diskriminan yang dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan. Model Z-score dikembangkan oleh seorang peneliti kebangsaan Amerika Serikat yang bernama Edward I. Altman pada 1968, dengan menggunakan rasio – rasio keuangan. Adapun Z-score terus mengalami perubahan yaitu:
1. Z-score Asli
Z-score asli merupakan metode yang dikembangkan pertama kalinya oleh Edward I. Altman tahun 1968, yang dijadikan sampel diambil dari perusahaan sektor publik dan berlokasi di Amerika. Altman mengambil sampel 66 perusahaan terdiri dari 33 perusahaan bangkrut dan 33 perusahaan tidak bangkrut. Jumlah rasio yang dipilih adalah 22 buah, yang kemudian hanya dipilih 5 rasio yang paling kuat secara bersama berkorelasi dengan kebangkrutan.
Bentuk dari Model Z-score Asli dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.1
Tabel Klasifikasi Altman Z-score Asli
Z = 1,2X1 + 1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 1,0X5
X1 = Working Capital/Total Asset X2 = Retained Earning/Total Asset X3 = EBIT/Total Asset
X4 = Market Value of Equity/Book Value X5 = Debt Sales/Total Aset
Score Kondisi
Z-score > 2,99 Tidak Bangkrut
1,81 < Z-score < 2,99 Daerah Rawan (Grey Area) Z-score < 1,81 Berpotensi Bangkrut Sumber : Syahyunan (2013)
Perusahaan – perusahaan yang diteliti kemudian digolongkan menjadi 3 golongan yaitu perusahaan yang tidak bangkrut, perusahaan yang termasuk
daerah kelabu dan perusahaan yang bangkrut. Penggolongan ini berdasarkan nilai Z yang merupakan indeks keseluruhan dari fungsi multiple discriminant analysis dengan kriteria penilaian sebagai berikut:
a. Jika nilai Z > 2,29 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat sehingga dapat dikategorikan dalam perusahaan tidak bangkrut.
b. Jika nilai 1,81 < Z-score < 2,99 berada di daerah rawan dimana perusahaan tersebut tidak dapat ditentukan apakah termasuk kedalam kategori perusahaan yang bangkrut atau tidak bangkrut.
c. Jika nilai Z < 1,81 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko bangkrut.
2. Z’-score
Melalui model Z-score Asli timbul permasalahan dimana Z-score Asli tidak dapat diterapkan di Indonesia, ini disebabkan kondisi di Indonesia berbeda dengan di Amerika sehingga Altman mengembangkan model Z’score.
Terdapat perbedaan antara Indonesia dengan Amerika menggunakan model yang dipakai Altman adalah sedikitnya perusahaan di Indonesia yang go public. Jika perusahaan tidak go public, maka nilai pasar tidak bisa dihitung.
Model ini dikembangkan pada tahun 1983 dikarenakan terbatasnya penggunaan dari Z-score asli yang hanya dipakai untuk perusahaan publik dan manufaktur, model ini dikembangkan untuk perusahaan non publik (Private Manufacturer). Variabel X4 pada fungsi ini menggunakan nilai buku stakeholder’s equity karena perusahaan non publik tidak memiliki market value of equity. Mengingat bahwa tidak semua perusahaan melakukan go
public dan tidak memiliki nilai pasar, maka formula untuk perusahaan yang non publik diubah menjadi sebagai berikut:
Tabel 2.2
Tabel Klasifikasi Altman Z’score
Z = 0,717X1 + 0,847X2 + 3,107X3 + 0,420 X4 + 0,998X5
X1 = Working Capital/Total Asset X2 = Retained Earning/Total Asset X3 = EBIT/Total Asset
X4 = Book Value of Equity/Book Value of Debt
X5 = Sales/Total Aset
Score Kondisi
Z’score > 2,90 Tidak Bangkrut
1,20 < Z’score < 2,90 Daerah Rawan (Grey Area)
Z’ < 1,20 Berpotensi Bangkrut
Sumber: Syahyunan (2013)
Perusahaan – perusahaan yang diteliti kemudian digolongkan menjadi 3 golongan yaitu perusahaan yang tidak bangkrut, perusahaan yang termasuk daerah rawan (grey area) dan perusahaan yang berpotensi bangkrut.
Penggolongan ini berdasarkan nilai Z yang merupakan indeks keseluruhan dari fungsi multiple discriminant analysis dengan kriteria penilaian sebagai berikut:
a. Jika nilai Z > 2,90 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat sehingga dapat dikategorikan dalam perusahaan yang tidak bangkrut.
d. Jika nilai 1,20 < Z < 2,90 berada di daerah rawan dimana perusahaan tersebut tidak dapat ditentukan apakah termasuk kedalam kategori perusahaan yang bangkrut atau tidak bangkrut.
b. Jika nilai Z < 1,20 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko bangkrut.
3. Z”score
Altman mengembangkan varian terakhir dari Z-score, model ini digunakan untuk memprediksi terjadinya kebangkrutan perusahaan – perusahaan non
manufaktur seperti usaha – usaha kecil, retail/whole sales dan sektor jasa.
Pada model Z”score ini, nilai rasio sales to total asset dihilangkan dengan harapan efek industri, dalam pengertian ukuran perusahaan terkait dengan asset atau penjualan dapat dihilangkan. Sampel yang digunakan kemudian diganti dengan perusahaan dari negara berkembang (emerging market), yaitu Mexico. Z”score merupakan rumus yang paling fleksibel karena bisa digunakan untuk perusahaan publik maupun private.
Tabel 2.3
Tabel Klasifikasi Altman Z”score
Z = 6,56X1 + 3,26X2 + 6,72X3 + 1,05X4
X1 = Working Capital/Total Asset X2 = Retained Earning/Total Asset X3 = EBIT/Total Asset
X4 = Book Value of Equity/Book Value of Debt
Score Kondisi
Z”score > 2,60 Tidak Bangkrut
1,1 < Z”score < 2,60 Daerah Rawan (Grey Area)
Z”score < 1,1 Berpotensi Bangkrut
Sumber: Syahyunan (2013)
Perusahaan – perusahaan yang diteliti kemudian digolongkan menjadi 3 golongan yaitu perusahaan yang tidak bangkrut, perusahaan yang termasuk daerah rawan (grey area) dan perusahaan yang berpotensi bangkrut.
Penggolongan ini berdasarkan nilai Z yang merupakan indeks keseluruhan dari fungsi multiple discriminant analysis dengan kriteria penilaian sebagai berikut:
a. Jika nilai Z > 2,60 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat sehingga dapat dikategorikan dalam perusahaan yang tidak bangkrut.
b. Jika nilai 1,1 < Z < 2,60 berada di daerah rawan dimana perusahaan tersebut tidak dapat ditentukan apakah termasuk kedalam kategori perusahaan yang bangkrut atau tidak bangkrut.
c. Jika nilai Z < 1,1 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko bangkrut.
Dalam penentuan model kebangkrutan melalui analisis laporan keuangan harus disadari kemungkinan klasifikasi model (Classificaation error) yang dapat dikelompokkan menjadi 2:
a. Error tipe I terjadi bahwa timbul misclassification yang disebabkan oleh adanya prediksi bahwa perusahaan tidak bangkrut, tetapi ternyata mengalami kebangkrutan.
b. Error tipe II terjadi apabila timbul misclassification prediksi yang disebabkan oleh adanya prediksi bahwa perusahaan bangkrut kenyataannya tidak bangkrut.
Tabel 2.4
Pengelompokan Prediksi Kebangkrutan
Hasil yang diharapkan
Hasil Sesungguhnya
Perusahaan Bangkrut Perusahaan Tidak Bangkrut Bangkrut
Tidak Bangkrut
Benar
Kesalahan Tipe II
Kesalahan Tipe I Benar
Menurut Altman (1977) kesalahan tipe I diatas lebih berat dibandingkan kesalah tipe II, yaitu perusahaan tidak bangkrut tetapi kenyataannya mengalami kebangkrutan. Apabila perusahaan diprediksikan bangkrut tetapi kenyataannya tidak, maka akan mengalami kesulitan yang seharusnya tidak terjadi. Misalnya apabila prediksi tersebut digunakan, banyak investor dan kreditor akan menarik uangnya lebih cepat yang bisa menyebabkan kebangkrutan yang sesungguhnya.