• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH SUCI TANIA ARNADA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH SUCI TANIA ARNADA"

Copied!
147
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGGUNAAN MODEL ALTMAN Z-SCORE DAN MODEL ZAVGREN UNTUK MENGETAHUI FINANCIAL DISTRESS PADA

PERUSAHAAN MANUFAKTUR INDUSTRI BARANG KONSUMSI PERIODE 2013 – 2017

OLEH

SUCI TANIA ARNADA 150502075

PROGRAM STUDI STRATA-1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2019

(2)
(3)
(4)
(5)

ANALISIS PENGGUNAAN MODEL ALTMAN Z-SCORE DAN MODEL ZAVGREN UNTUK MENGETAHUI FINANCIAL DISTRESS PADA

PERUSAHAAN MANUFAKTUR INDUSTRI BARANG KONSUMSI PERIODE 2013-2017

Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan potensi kebangkrutan pada perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi Terbuka di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan model Altman Z”score dan model Zavgren pada periode tahun 2013-2017, serta untuk mengetahui analisis kebangkrutan yang paling akurat dari kedua model kebangkrutan tersebut. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah 33 perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi terbuka di Bursa Efek Indonesia. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling purposive, sedangkan metode analisis digunakan adalah Multiple Discriminant Analysis (MDA) dan Model Logit Zavgren. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaaan antara potensi kebangkrutan dengan model Altman Z”score dan model Zavgren dengan menggunakan Uji Kruskal-Wallis H. Pada hipotesis kedua penelitian menunjukkan bahwa model Altman Z”score adalah yang paling akurat dalam memprediksi kebangkrutan pada perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi terbuka di Bursa Efek Indonesia.

Kata Kunci : Kebangkrutan, Altman Z”score dan Zavgren

(6)

ZAVGREN MODEL TO KNOW FINANCIAL DISTRESS IN MANUFACTURING COMPANIES INDUSTRIAL

CONSUMPTION GOODS 2013 – 2017 IN THE PERIOD

This research aims to look at the difference in potential bankruptcy in the Industry of consumer goods manufacturing company opened in Indonesia stock exchange by using the model of Altman Z score and model year 2013 period Zavgren – 2017, as well as to find out the most accurate analysis of bankruptcy of both models of bankruptcy. The samples used in the study were 33 Industrial consumer goods manufacturing company opened in Indonesia stock exchange.

Determination of the sample in this study using a purposive sampling technique, whereas the methods of analysis used was Multiple Discriminant Analysis (MDA), and Logit Models Zavgren. The results of this research show that there is a distinction between a potential bankruptcy with the model of Altman Z score and Test using model Zavgren Kruskal-Wallis H On the second hypothesis of the research shows that the model of Altman Z score is the most accurate in predicting bankruptcy on the company Manufacturing consumer goods Industry opens in Indonesia stock exchange.

Keyword : Bankruptcy, Altman Z”score and Zavgren

(7)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh., puji syukur peneliti ucapkan kehadirat Allah Subhanahu Wa T’ala atas segala rahmat dan karunia- Nya peneliti masih diberi kesehatan sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Penggunaan Model Altman Z-score dan Model Zavgren Untuk Mengetahui Financial Distress pada Perushaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi Periode 2013-2017”. Tujuan penulisan skripsi ini adalah salah satu untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, karena itu peneliti mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak, agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.

Pada kesempatan ini, peneliti mengucapkan terimakasih yang sebesar – besarnya buat orang tua tercinta bapak Suriawan dan ibu Efi Kesumawati yang telah membesarkan, mendidik dan memberikan dukungan, doa yang tiada henti nya bagi penulis. Selama proses penyusunan skripsi ini peneliti menyadari banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu peneliti mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, selaku Ketua Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Nurhayati Siregar, M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah membantu dan memberikan bimbingan, dukungan, arahan kepada peneliti,

(8)

arahan dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Ibu Dra. Lisa Marlina, M.Si, selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan waktu, arahan dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.

6. Untuk seluruh Dosen dan Pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara untuk setiap jasa – jasanya selama perkuliahan.

7. Terimakasih kepada Abangnda tercinta Rexi Ananda yang telah memberikan doa dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Terimakasih kepada sahabat kampus peneliti (Vena Revlina, Theresia Karina, Riyadil Jannah, Nurfayola Manday, Festin Nikita, Alya Indriani, Purnama Fitri, Lutfi Madani, Dwi Cahya, Mutiara, Najla) atas doa, semangat dan dukungan yang diberikan kepada peneliti.

9. Terimakasih kepada sahabat peneliti sedari SMA Rizki Fadillah dan kepada sahabat peneliti sedari SMA (Fadilla Wulansari, Sara Desfi, Roy Purmadi, Rizki Ananda, Zora Azelia) yang telah memberikan semangat dan dukungan yang diberikan kepada peneliti.

10. Terimakasih kepada rekan – rekan khususnya bagi Manajemen grup B dan Konsentrasi Manajemen Keuangan yang telah memberikan semangat kepada peneliti.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala dapat memberikan balasan atas kebaikan-kebaikan yang telah diberikan kepada peneliti baik di dunia maupun di akhirat kelak. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,

(9)

Medan, Juli 2019 Peneliti,

Suci Tania Arnada 150502075

(10)

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1 Landasan Teori ... 10

2.1.1 Laporan Keuangan ... 10

2.1.2 Komponen Laporan Keuangan ... 10

2.1.3 Tujuan Laporan Keuangan ... 11

2.2 Pengertian Financial Distress ... 12

2.2.1 Kebangkrutan ... 13

2.2.2 Penyebab Financial Distress ... 15

2.2.3 Prediksi Financial Distress ... 17

2.2.4 Analisis Kebangkrutan Model Altman Z-Score .. 18

2.2.5 Analisis Model Logit Zavgren ... 22

2.2.6 Manfaat Melakukan Prediksi Financial Distress . 25 2.2.7 Solusi Untuk Perusahaan yang Mengalami Financial Distress ... 27

2.3 PenelitianTerdahulu ... 28

2.4 Kerangka Konseptual ... 29

2.5 Hipotesis ... 31

BAB III METODE PENELITIAN ... 32

3.1 Jenis Penelitian ... 32

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 32

3.3 Batasan Operasional ... 32

3.4 Definisi Operasional Variabel ... 33

3.5 Operasionalisasi Variabel ... 36

3.6 Populasi dan Sampel ... 38

3.7 Jenis dan Sumber Data ... 40

3.8 Metode Pengumpulan Data ... 40

3.9 Teknik Analisis Data ... 41

3.10.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 41 3.10.2 Analisis Data Dengan Multi Discriminant

(11)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44

4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 44

4.2 Hasil Penelitian ... 64

4.2.1 Hasil Penelitian Analisis Statistik Deskriptif .. 64

4.2.2 Hasil Penelitian Multiple Discriminant Analysis . 66 4.2.3 Hasil Penelitian Model Zavgren ... 74

4.2.4 Pengujian Hipotesis 4.3 Pembahasan ... 84

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 86

5.1 Kesimpulan ... 86

5.2 Saran ... 86

DAFTAR PUSTAKA ... 88

DAFTAR LAMPIRAN ... 90

(12)

No. Tabel Judul Halaman 1.1 Total Laba Usaha dan Total Hutang Perusahaan Manufaktur ....

Industri Barang Konsumsi Periode 2013-2017 ... 4

2.1 Tabel Klasifikasi Altman Z-score Asli ... 18

2.2 Tabel Klasifikasi Altman Z’score ... 20

2.3 Tabel Klasifikasi Altman Z”score ... 21

2.4 Pengelompokan Prediksi Kebangkrutan ... 22

2.5 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 28

3.1 Operasionalisasi Variabel Model Altman Z”score ... 37

3.2 Operasionalisasi Variabel Model Zavgren ... 37

3.3 Daftar Sampel Perusahaan Industri Barang Konsumsi ... 39

3.4 Perusahaan Industri Barang Konsumsi Yang Menjadi Sampel Penelitian ... 39

4.1 Descriptive Statistics Model Altman Z”score ... 65

4.2 Descriptive Statistics Model Zavgren ... 66

4.3 Perhitungan Potensi Kebangkrutan Model Altman Z”score ... 67

4.4 Cut Off Model Zavgren ... 74

4.5 Perhitungan Potensi Kebangkrutan Model Zavgren ... 75

4.6 Hasil Uji Kruskal-Wallis H ... 82

4.7 Rekap Prediksi Keakuratan Model ... 83

(13)

No. Gambar Judul Halaman 1.1 Persentasi Perusahaan Industri Barang Konsumsi ... 2 1.2 The Stage of Bankruptcy ... 14 1.3 Kerangka Konseptual ... 31

(14)

No. Lampiran Judul Halaman

1 Hasil Statistik ... 90

2 Analisis Statistik deskriptif ... 126

3 Multiple Discriminant Analysis ... 126

4 Model Zavgren ... 130

5 Pengujian Hipotesis ... 135

(15)

1.1 Latar Belakang

Krisis ekonomi yang terjadi pada negara – negara di Eropa sedikit banyaknya juga membawa dampak pada perekonomian negara – negara di dunia.

Sekitar tahun 2008, dunia dikejutkan dengan krisis ekonomi di Amerika Serikat akibat subprime mortage. Akibat dari krisis ekonomi tersebut juga dirasakan oleh negara-negara berkembang salah satunya Indonesia, pada tahun 1998 Indonesia pernah mengalami krisis moneter yang diakibatkan menurunnya nilai rupiah terhadap dolar sampai masalah likuidasi pada perbankan di Indonesia. Penyebab krisis ini karena struktur ekonomi yang lemah tetapi utang luar negeri yang telah mencapai jumlah yang sangat besar, yang mengakibatkan tingkat suku bunga dan inflasi meningkat drastis, serta investasi menurun karena kurangnya kepercayaan investor menginvestasikan modal di perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang mengakibatkan kesehatan perusahaan juga mengalami penurunan bahkan perpotensi untuk bangkrut. Kondisi kebangkrutan ini disebut dengan Financial Distress. Dampak yang dialami oleh Indonesia membuat kinerja perekonomian Indonesia menurun tajam dan berubah menjadi krisis yang berkepanjangan di berbagai sektor industri barang konsumsi.

Indonesia merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya mencapai 240 juta jiwa, semakin bertumbuhnya jumlah penduduk yang ada di Indonesia maka semakin meningkat pula kebutuhan akan barang konsumsi.

Perusahaan manufaktur sektor Industri Konsumsi adalah salah satu perusahaan

(16)

manufaktur yang memproduksi berbagai kebutuhan bagi penduduk Indonesia.

Dalam hal ini perusahaan manufaktur sektor industri dan konsumsi sangat berperan penting bagi pemenuhan kebutuhan penduduk Indonesia. Sektor industri dan konsumsi mempunyai 5 sub sektor diantaranya, sub sektor makanan dan minuman, sub sektor rokok, sub sektor farmasi, sub sektor kosmetik dan keperluan rumah tangga dan sub sektor peralatan rumah tangga.

Sumber: www.idx.co.id (data diolah)

Gambar 1.1

Persentasi Perusahaan Industri Barang Konsumsi

Pada Gambar 1.1 terlihat bahwa perusahaan makanan dan minuman mempunyai kontribusi yang besar bagi kebutuhan penduduk Indonesia sebanyak 43% dibandingkan dengan perusahaan dari sub sektor lainnya. Dilihat juga bahwa perusahaan rokok mempunyai persentasi yang sangat kecil yaitu hanya 9%, perusahaan farmasi mempunyai persentasi yaitu 24%, perusahaan kosmetik

43%

9%

24%

14%

10%

Persentasi Perusahaan Industri Barang Konsumsi

Makanan dan Minuman Rokok

Farmasi

Kosmetik dan Keperluan Rumah Tangga

Peralatan Rumah Tangga

(17)

dan keperluan rumah tangga mempunyai persentasi sebesar 14%, dan perusahaan peralatan rumah tangga mempunyai persentasi 10%. Sektor Industri Barang Konsumsi merupakan penopang dalam Perusahaan Manufaktur, karena Industri Barang Konsumsi memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya. Namun, terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab perlambatan pada sektor Industri Barang Konsumsi mengalami perlambatan yang disebut Fast Moving Consumer Good/FMCG diantaranya adalah persaingan antar perusahaan yang semakin ketat dan memanas yang melibatkan berbagai merek lokal maupun impor. Pemulihan daya beli masyarakat yang melambat, serta pergeseran pilihan konsumen dari produk FMCG di Indonesia cenderung melambat dari beberapa tahun terakhir.

Semakin banyak perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi menyebabkan tingkat persaingan semakin tinggi, sehingga perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi diharuskan untuk memiliki kemampuan untuk tetap menjaga eksistensinya. Perusahaan yang tidak mampu bersaing dalam mempertahankan kinerjanya, perlahan akan tersingkirkan dari lingkungan industri dan akan mengalami kebangkrutan. Kondisi kebangkrutan ini disebut dengan Financial Distress. Financial Distress adalah keadaan dimana perusahaan mengalami kesulitan keuangan, hal ini terjadi sebelum perusahaan benar – benar mengalami kebangkrutan. Sebuah perusahaan dianggap mengalami financial distress jika salah satu nya mengalami laba operasi bersih negatif selama beberapa tahun atau penghentian pembayaran deviden, rustrukturisasi keuangan atau PHK besar-besaran. Kesulitan keuangan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan

(18)

perusahaan untuk membayar kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo yang menyebabkan kebangkrutan perusahaan (Wongsosudono & Charissa,2013).

Tabel 1.1

Total Laba Usaha dan Total Hutang Perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi Periode Tahun Berjalan 2013 – 2017 (Dalam Rupiah)

Kode

Saham Tahun Laba Bersih/Rugi Bersih Total Hutang

WIIM

2013 132.322.207.861 447.651.956.041

2014 112.673.763.260 488.708.478.588

2015 131.081.111.587 398.991.064.485

2016 106.290.306.868 362.540.740.471

2017 40.589.790.851 247.620.731.930

RMBA

2013 (1.023.985.000) 8.929.372.000

2014 (2.251.323.000) 12.102.506.000

2015 (1.638.538.000) 15.816.071.000

2016 (2.085.811.000) 9.189.504.000

2017 (480.063.000) 5.159.928.000

Sumber : www.idx.co.id

Tabel 1.1 menjelaskan laba bersih dan total hutang tahun 2013 – 2017 yang merupakan beberapa perusahaan Industri Barang Konsumsi. Perusahaan tersebut antara lain Wismilak Inti Makmur Tbk dan PT Bantoel Internasional Investama Tbk. Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa laba bersih yang diperoleh Wismilak Inti Makmur Tbk dan PT Bantoel Internasional Investama Tbk memiliki laba bersih yang tidak seimbang dengan total hutang dan dianggap mempunyai laba bersih negatif penurunan selama tahun 2013 sampai dengan tahun 2017. Terlihat juga pada tabel 1.1 PT Wismilak Inti Makmur Tbk memiliki laba bersih tertinggi pada tahun 2013 senilai 132.322.207.861 dan terendah pada tahun 2017 senilai 40.589.790.851. Sedangkan total hutang PT Wismilak Inti Makmur Tbk memiliki total hutang tertinggi pada tahun 2014 senilai 488.708.478.588 dan terendah pada tahun 2017 senilai 247.620.731.930. Berbeda

(19)

tahun 2017 senilai (480.063.000). Sedangkan PT Bantoel Internasional Tbk memiliki total hutang tertinggi pada tahun 2015 senilai 15.816.071.000 dan terendah pada tahun 5.159.928.000.

Dapat terlihat pada Tabel 1.1 bahwa perkembangan rata – rata perusahaan industri barang konsumsi selama 5 tahun periode mengalami penurunan.

Perusahaan meminjam modal dari kreditur bertujuan untuk menaikkan nilai perusahaan atau laba perusahaan. Sedangkan yang terjadi pada perusahaan diatas adalah semakin besar hutang ternyata tidak membuat nilai perusahaan atau laba bersih menjadi meningkat. Hal ini berarti terjadi penuruan kinerja perusahaan, manajer perusahaan belum mampu mengelola hutang dengan baik atau efisien sehingga menyebabkan nilai perusahaan atau laba bersih terus menurun yang mengakibatkan perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Analisis terhadap perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan yang dapat mengarah pada kebangkrutan merupakan suatu studi yang menarik untuk diteliti, analisis kebangkrutan sangat membantu dalam mengambil keputusan untuk melihat kemampuan perusahaan mengelola kasnya. Perusahaan secara tepat waktu diharapkan dapat memenuhi kewajiban membayar bunga, cicilan hutang dan menyediakan modal kerja.

Analisis financial distress ini menjadi hal yang penting bagi perusahaan, karena jika terjadi kebangkrutan bukan hanya perusahaan saja yang mengalami kerugian yang besar, tetapi juga para investor yang menanamkan modal di perusahaan tersebut. Kebangkrutan suatu perusahaan dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangan dengan cara menganalisis laporan keuangan. Analisis laporan

(20)

keuangan merupakan sebuah alat yang penting untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan strategi yang akan diterapkan oleh perusahaan tersebut. Tidak hanya untuk mengetahui strategi apa yang akan diterapkan di perusahaan tetapi dengan melakukan analisis laporan keuangan diwaktu yang lalu maka dapat diketahui kelemahan suatu perusahaan serta hasil – hasilnya yang dianggap telah cukup baik, dengan mengetahui potensi kebangkrutan perusahaan tersebut (Purwanti, 2005).

Salah satu alat yang digunakan untuk memprediksi financial distress dimasa yang akan datang adalah dengan menggunakan rasio keuangan, rasio keuangan mempunyai informasi yang akurat untuk melihat fenomena ekonomi.

Model Altman Z-score (1986) merupakan salah satu alat yang sangat penting untuk mengukur kebangkrutan suatu perusahaan. Model Altman Z-score adalah sebuah skor yang diberikan kepada perusahaan dengan menggunakan perhitungan rasio – rasio keuangan. Altman menggunakan lima rasio keuangan yang didapat dari menyeleksi tujuh rasio keuangan. Z-score menggunakan formula multivariate discriminan analysis dan hasil dari formula tersebut akan di interpretasikan kedalam beberapa kategori yang sudah di tetapkan (Gamayun, 2011). Z-score memiliki tingkat keakuratan hingga 95% setahun sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan.

Selain mampu memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan hingga 95%, ternyata model Altman Z-score mempunyai kelemahan, Multivariate discriminant analysis mempunyai nilai interpretasi yang sempit. Model Zavgren (1985) mengembangkan model untuk mengoreksi masalah tersebut. Model Zavgren menggunakan analisis logit untuk memprediksi kebangkrutan. Logit dianggap lebih

(21)

valid, model ini dapat diinterpretasikan sebagai sebuah tipe analisis regresi yang digunakan jika dependen variabel merupakan dummy variabel. Analisis logit juga menghasilkan profitabilitas kebangkrutan, juga perhitungan probabilitas memungkinkan pengukuran atas tingkat efektivitas manajemen.

Perbedaan kedua analisis ini yaitu model Altman Z-score dsn Zavgren ini disebabkan karena terdapat perbedaan perhitungan model kebangkrutan seperti rasio pada model Zavgren lebih banyak daripada rasio model Altman. Prediksi kebangkrutan model Zavgren menentukan nilai titik cutt off dari hasil Pi masing – masing perusahaan pada satu tahun saja, sedangkan pada model altman sudah ditentukan titik cut off nya.

Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian bertujuan melakukan pengujian secara empiris untuk mengetahui rasio keuangan dapat diasumsikan sebagai alat yang sangat penting untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan yang cukup akurat. Penelitian ini ingin menguji kembali hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya dengan mengambil objek penelitian pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu penulis memberi judul penelitian “Analisis Penggunaan Model Altman Z-score dan Model Zavgren untuk Mengetahui Financial Distress pada Perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi Periode 2013 – 2017”

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah :

(22)

1. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada potensi kebangkrutan pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013 sampai tahun 2017 dengan menggunakan model Altman Z- score dan model Zavgren ?

2. Model manakah yang terakurat menjadi prediksi kebangkrutan terhadap perusahaan manufaktur industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia menggunakan model Altman dan model Zavgren ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusuan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan menganalisis ada atau tidaknya perbedaan signifikan potensi kebangkrutan antara model Altman Z-score dan model Zavgren didalam memprediksi financial distress pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013 sampai tahun 2017.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis model mana yang lebih akurat menjadi prediktor kebangkrutan terhadap perusahaan manufaktur industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia menggunakan model Altman Z-score atau model Zavgren.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak terkait, yaitu:

1. Bagi Peneliti/ Akademisi

(23)

Sebagai sarana untuk menambah pengetahuan, wawasan mengenai finansial distress pada perusahaan manufaktur Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Indonesia. juga diharapkan dapat bermanfaat untuk mengetahui dan memahami hubungan antara teori yang dipelajari dengan keadaan yang sebenarnya didalam perusahaan manufaktur industri barang konsumsi.

2. Bagi Perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi

Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan masukan untuk menghindari financial distress pada perusahaan.

(24)

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Laporan Keuangan

Menurut Syahyunan (2015) laporan keuangan adalah produk dari manajemen dalam rangka mempertanggung-jawabkan (stewardship) penggunaan sumber daya dan sumber dana yang dipercayakan kepadanya. Secara umum laporan keuangan menyediakan informasi tentang posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu, kinerja dan arus kas dalam suatu periode yang ditujukan bagi pengguna laporan keuangan di luar perusahaan untuk menilai dan mengambil keputusan yang bersangkutan dengan perusahaan.

2.1.2 Komponen Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan output proses akuntansi. Laporan keuangan yang ada di dalam suatu perusahaan harus lengkap yang terdiri dari komponen – komponen berikut :

1. Neraca

Neraca merupakan laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada saat tertentu. Tujuan pembuatan neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal atau periode tertentu, biasanya pada waktu pembukuan ditutup dan ditentukan pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender, neraca sering disebut balance sheet.Laporan Laba/Rugi

(25)

2. Laporan laba/rugi adalah ringkasan mengenai pendapatan dan beban (biaya) serta laba atau rugi yang diperoleh perusahaan selama periode tertentu.

Perusahaan dapat mengklasifikasikan pendapatan dan beban atas dasar sifat atau fungsi dalam perusahaan.

3. Laporan Perubahan Modal

Perusahaan biasanya menyusun laporan yang menunjukkan sebab – sebab perubahan modal perusahaan. Perusahaan dengan bentuk perseroan, perubahan modalnya ditunjukkan didalam laporan laba tidak dibagi (retained earning). Dalam laporan ini ditunjukkan laba tidak dibagi awal periode, ditambah dengan laba seperti yang tercantum didalam laporan perhitungan rugi laba dan dikurangi dengan dividen yang diumumkan selama periode berjalan.

4. Laporan Arus Kas

Laporan arus kas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kebutuhan perusahaan dalam memanfaatkan dana tersebut, yang diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

5. Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangana adalah penjelasan naratif atau rincian dari jumlah yang tertera dalam neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan pertumbuhan modal serta informasi tambahan.

2.1.3 Tujuan Laporan Keuangan

Menurut Fahmi (2011), tujuan utama dari laporan keuangan adalah

(26)

memberikan informasi keuangan yang mencakup perubahan dari unsur – unsur laporan keuangan yang ditujukan kepada pihak – pihak lain yang berkepentingan dalam menilai kinerja keuangan terhadap perusahaan disamping pihak manajemen perusahaan. Para pemakai laporan akan menggunakannya untuk meramalkan, membandingkan, dan menilai dampak keuangan yang timbul dari keputusan ekonomis yang diambil oleh manajer keuangan. Jika nilai uang tidak stabil, maka hal ini akan dijelaskan dalam laporan keuangan. Laporan keuangan akan lebih bermanfaat apabila yang dilaporkan tidak saja aspek – aspek kuantitatif, tetapi mencakup penjelasan – penjelasan lainnya yang perlu. Dan informasi ini harus faktual dan dapat diukur secara objektif.

2.2 Pengertian Financial Distress

Financial distress adalah keadaan dimana perusahaan mengalami kesulitan keuangan, terjadi sebelum suatu perusahaan benar – benar mengalami kebangkrutan. Financial Distress merupakan suatu kondisi yang menunjukkan tahap penurunan dalam kondisi keuangan perusahaan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi (Almilia, 2006). Financial Distress juga bisa didefinisikan sebagai ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiban financial yang telah jatuh tempo (Beaver, 2010). Finansial distress bisa terjadi di berbagai perusahan dan bisa menajdi penanda/sinyal dari kebangkrutan yang mungkin akan dialami perusahaan. Jika perusahaan sudah masuk dalam kondisi fianancial distress,maka manejemen harus berhati – hati karena bisa saja masuk pada tahap kebangkrutan. Manajemen dari perusahaan yang mengalami financial distress harus melakukan suatu tindakan untuk mengatasi masalah

(27)

keuangan tersebut dan mencegah terjadinya kebangkrutan.

Perusahaan yang mengalami kondisi financial distress dapat dilihat atau ditentukan oleh berbagai faktor menurut para ahli, yaitu:

1. Kordestani (2011), menyatakan bahwa financial distress jika perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban yang tercantum di dalam laporan keuangannya.

2. Almilia (2006) menyatakan bahwa financial distress terjadi pada perusahaan yang mengalami laba bersih operasi (net operating income) negatif.

2.2.1 Kebangkrutan

Kebangkrutan juga sering disebut likuidasi atau penutupan perusahaan atau insolvensi. Biasanya, kebangkrutan suatu perusahaan ditandai dengan financial distress, yaitu keadaan dimana perusahaan lemah dalam menghasilkan laba atau cenderung mengalami defisit. Dengan kata lain, kebangkrutan dapat diartikan juga sebagai kegagalan keuangan dan kegagalan ekonomi yang terjadi pada perusahaan (Ramadhani & Lukviarman, 2009). Kegagalan dalam arti ekonomi (economic failure) merupakan keadaan dimana perushaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak bisa menutupi biayanya sendiri.

Kegagalan keuangan diartikan sebagai insolvensi yang membedakan antara arus kas dan dasar saham (Ramadhani & Lukviarman, 2009). Insolvensi atas dasar arus kas ada dua bentuk, yaitu:

1. Insolvensi Teknik, merupakan keadaan dimana perusahaan dianggap tidak dapat memenuhi kewajibannya pada saat kewajiban telah jatuh tempo.

2. Insolvensi dalam pengertian kebangkrutan diartikan dalam ukuran kekayaan bersih negatif dalam neraca konvensional atau nilai sekarang dari arus kas

(28)

yang diharapkan lebih kecil dari kewajiban.

Gambar 2.1 The Stage of Bankruptcy

Gambar 1.1 menunjukkan tahapan dari kebangkrutan. Tahapan dari kebangkrutan tersebut dijabarkan sebagai berikut (Kordestani, 2011).

1. Latency. Pada tahap ini, Return On Assets (ROA) akan mengalami penurunan 2. Shortage of Cash. Dalam tahap kekurangan kas, perusahaan tidak memiliki

cukup seumber daya kas untuk memenuhi kewajiban saat ini, meskipun masih mungkin memiliki tingkat profitabilitas yang kuat.

3. Financial Distress. Kesulitan keuangan dapat dianggap sebagai keadaan darurat keuangan, dimana kondisi ini mendekati kebangkrutan.

4. Bankruptcy. Jika perusahaan tidak dapat menyembuhkan gejala kejala kesulitan keuangan, maka perusahaan akan bangkrut. Kebangkrutan dapat disimpulkan sebagai suatu keadaan/situasi dimana perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi kewajiban kepada debitor karena perusahaan mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk menjalankan atau melanjutkan usahanya sehingga tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh perusahaan tidak dapat tercapai (Ramadhani & Lukviarman, 2009). Ketika perusahaan sudah

Latency

Shortage of cash

Financial Distress

Bankrupty

(29)

tidak mampu lagi dalam memenuhi kewajibannya dan menjalankan operasi perusahaan, maka selanjutnya akan ditutup atau dilikuidasi.

2.2.2 Penyebab Financial Distress

Financial distress bisa terjadi pada semua perusahan. Penyebab terjadinya financial distress juga bermacam – macam. Lizal (dalam Fachrudin, 2008) mengelompokkan penyebab kesulitan keuangan yang disebut Model Dasar Kebangkrutan Trinitas Penyebab Kesulitan Keuangan. Terdapat 3 alasan utama mengapa perusahaan bisa mengalam financial distress dan kemudian bangkrut, yaitu:

1. Neoclassical Distress

Financial distress dan kebangkrutan terjadi jika alokasi sumber daya di dalam perushaan tidak tepat. Manajemen yang kurang bisa mengalokasikan sumber daya (aset) yang ada di perusahaan untuk kegiatan operasioanl perusahaan.

2. Financial Model

Pencampuran aset benar tetapi struktur keuangan salah dengan liquidity constrains. Hal ini berarti bahwa walaupun perusahaan dapat bertahan hidup dalam jangka panjang tapi ia harus bangkrut juga dalam jangka pendek.

3. Corporate Governance Model

Menurut model ini, kebangkrutan mempunyai campuran aset dan struktur keuangan yang benar tapi dikelola dengan buruk. Ketidakefisienan ini masalah mendorong perusahaan menjadi out of the market sebagai konsekuensi dari masalah dalam tata kelola perusahaan yang tak terpecahkan.

Manajemen yang kurang kompeten juga menjadi penyebab utama kegagalan suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi dua, yaitu (Rudianto, 2013) :

(30)

1. Faktor Internal

Kurang kompetennya manajemen perusahaan akan berpengaruh terhadap kebijakan dan keputusan yang diambil. Kesalahan dalam mengambil keputusan akibat kurangnya kompetennya manajemen yang dapat menjadi penyebab kegagalan perusahaan, meliputi faktor keuangan maupun nonkeuangan. Kesalahan pengelolaan dibidang keuangan yang dapat menyebabkan kegagalan perusahaan, meliputi: adanya hutang yang terlalu besar sehingga memberikan beban tetap yang berat bagi perusahaan, adanya

“current liabilities” yang terlalu besar diatas “current asset”, lambatnya penagihan piutang dan banyaknya “bad debts”, kesalahan dalam “divident policy”. Kesalahan pengelolaan dibidang nonkeuangan yang dapat menyebabkan kegagalan perusahaan, meliputi: kesalahan dalam penentuan produk yang dihasilkan, kesalahan dalam kebijakan produksi.

2. Faktor Eksternal

Berbagai faktor eksternal dapat menjadi penyebab kegagalan sebuah perusahaan. Penyebab eksternal adalah berbagai hal yang timbul atau berasal dari luar perusahaan atau kendali pimpinan perusahaan atau badan usaha,yaitu kondisi perekonomian secara makro, baik domestik maupun internasional, adanya persaingan yang ketat, berkurangnya permintaan yang ketat, berkurangnya permintaan terhadap produk yang dihasilkannya,turunnya harga – harga dan sebagainya. Faktor eksternal yang bisa mengakibatkan kebangkrutan adalah kesulitan bahan baku supplier tidak dapat memasok lagi kebutuhan bahan baku yang digunakan

(31)

untuk produksi, perubahan dalam keinginan pelanggan yang tidak diantisipasi oleh perusahaan.

2.2.3 Prediksi Financial Distress

Menurut (Yuanita, 2010) salah satu aspek pentingnya analisis terhadap laporan keuangan dari sebuah perusahaan adalah kegunaannya untuk meramalkan kelangsungan hidup perusahaan. Financial distress sebagai tahap penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi. Beberapa peneliti yang melakukan penelitian mengenai metode prediksi financial distress dengan menggunakan macam-macam cara untuk menentukan perusahaan dalam kategori financial distress ataupun tidak.

Metode tersebut berupa laba bersih negatif selama 2 tahun berturut -turut, hal ini menandakan kinerja perusahaan kurang baik karena perusahaan tidak memiliki sumber pembiayaan. Selain itu metode yang peneliti lain gunakan adalah dengan menggunakan metode earning per share negatif, metode ini digunakan karena perusahaan yang mengalami kondisi tersebut akan sulit mendapatkan sumber pembiayaan.

Kesulitan yang dihadapi perusahaan akan menghambat kinerja perusahaan dan dapat memicu perusahaan mengalami financial distress.

Selanjutnya metode lain yang digunakan dalam memprediksi financial distress adalah interest coverage ratio yang kurang dari satu yaitu rasio biaya bunga terhadap laba operasional. Sedangkan prediksi financial distress pada penelitian ini menggunakan model Altman Z-score dan model Zavgren Logit.

(32)

2.2.4 Analisis Kebangkrutan Model Altman Z-score

Analisis model Altman Z-score merupakan salah satu teknik statistik analisis diskriminan yang dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan. Model Z-score dikembangkan oleh seorang peneliti kebangsaan Amerika Serikat yang bernama Edward I. Altman pada 1968, dengan menggunakan rasio – rasio keuangan. Adapun Z-score terus mengalami perubahan yaitu:

1. Z-score Asli

Z-score asli merupakan metode yang dikembangkan pertama kalinya oleh Edward I. Altman tahun 1968, yang dijadikan sampel diambil dari perusahaan sektor publik dan berlokasi di Amerika. Altman mengambil sampel 66 perusahaan terdiri dari 33 perusahaan bangkrut dan 33 perusahaan tidak bangkrut. Jumlah rasio yang dipilih adalah 22 buah, yang kemudian hanya dipilih 5 rasio yang paling kuat secara bersama berkorelasi dengan kebangkrutan.

Bentuk dari Model Z-score Asli dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.1

Tabel Klasifikasi Altman Z-score Asli

Z = 1,2X1 + 1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 1,0X5

X1 = Working Capital/Total Asset X2 = Retained Earning/Total Asset X3 = EBIT/Total Asset

X4 = Market Value of Equity/Book Value X5 = Debt Sales/Total Aset

Score Kondisi

Z-score > 2,99 Tidak Bangkrut

1,81 < Z-score < 2,99 Daerah Rawan (Grey Area) Z-score < 1,81 Berpotensi Bangkrut Sumber : Syahyunan (2013)

Perusahaan – perusahaan yang diteliti kemudian digolongkan menjadi 3 golongan yaitu perusahaan yang tidak bangkrut, perusahaan yang termasuk

(33)

daerah kelabu dan perusahaan yang bangkrut. Penggolongan ini berdasarkan nilai Z yang merupakan indeks keseluruhan dari fungsi multiple discriminant analysis dengan kriteria penilaian sebagai berikut:

a. Jika nilai Z > 2,29 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat sehingga dapat dikategorikan dalam perusahaan tidak bangkrut.

b. Jika nilai 1,81 < Z-score < 2,99 berada di daerah rawan dimana perusahaan tersebut tidak dapat ditentukan apakah termasuk kedalam kategori perusahaan yang bangkrut atau tidak bangkrut.

c. Jika nilai Z < 1,81 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko bangkrut.

2. Z’-score

Melalui model Z-score Asli timbul permasalahan dimana Z-score Asli tidak dapat diterapkan di Indonesia, ini disebabkan kondisi di Indonesia berbeda dengan di Amerika sehingga Altman mengembangkan model Z’score.

Terdapat perbedaan antara Indonesia dengan Amerika menggunakan model yang dipakai Altman adalah sedikitnya perusahaan di Indonesia yang go public. Jika perusahaan tidak go public, maka nilai pasar tidak bisa dihitung.

Model ini dikembangkan pada tahun 1983 dikarenakan terbatasnya penggunaan dari Z-score asli yang hanya dipakai untuk perusahaan publik dan manufaktur, model ini dikembangkan untuk perusahaan non publik (Private Manufacturer). Variabel X4 pada fungsi ini menggunakan nilai buku stakeholder’s equity karena perusahaan non publik tidak memiliki market value of equity. Mengingat bahwa tidak semua perusahaan melakukan go

(34)

public dan tidak memiliki nilai pasar, maka formula untuk perusahaan yang non publik diubah menjadi sebagai berikut:

Tabel 2.2

Tabel Klasifikasi Altman Z’score

Z = 0,717X1 + 0,847X2 + 3,107X3 + 0,420 X4 + 0,998X5

X1 = Working Capital/Total Asset X2 = Retained Earning/Total Asset X3 = EBIT/Total Asset

X4 = Book Value of Equity/Book Value of Debt

X5 = Sales/Total Aset

Score Kondisi

Z’score > 2,90 Tidak Bangkrut

1,20 < Z’score < 2,90 Daerah Rawan (Grey Area)

Z’ < 1,20 Berpotensi Bangkrut

Sumber: Syahyunan (2013)

Perusahaan – perusahaan yang diteliti kemudian digolongkan menjadi 3 golongan yaitu perusahaan yang tidak bangkrut, perusahaan yang termasuk daerah rawan (grey area) dan perusahaan yang berpotensi bangkrut.

Penggolongan ini berdasarkan nilai Z yang merupakan indeks keseluruhan dari fungsi multiple discriminant analysis dengan kriteria penilaian sebagai berikut:

a. Jika nilai Z > 2,90 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat sehingga dapat dikategorikan dalam perusahaan yang tidak bangkrut.

d. Jika nilai 1,20 < Z < 2,90 berada di daerah rawan dimana perusahaan tersebut tidak dapat ditentukan apakah termasuk kedalam kategori perusahaan yang bangkrut atau tidak bangkrut.

b. Jika nilai Z < 1,20 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko bangkrut.

3. Z”score

Altman mengembangkan varian terakhir dari Z-score, model ini digunakan untuk memprediksi terjadinya kebangkrutan perusahaan – perusahaan non

(35)

manufaktur seperti usaha – usaha kecil, retail/whole sales dan sektor jasa.

Pada model Z”score ini, nilai rasio sales to total asset dihilangkan dengan harapan efek industri, dalam pengertian ukuran perusahaan terkait dengan asset atau penjualan dapat dihilangkan. Sampel yang digunakan kemudian diganti dengan perusahaan dari negara berkembang (emerging market), yaitu Mexico. Z”score merupakan rumus yang paling fleksibel karena bisa digunakan untuk perusahaan publik maupun private.

Tabel 2.3

Tabel Klasifikasi Altman Z”score

Z = 6,56X1 + 3,26X2 + 6,72X3 + 1,05X4

X1 = Working Capital/Total Asset X2 = Retained Earning/Total Asset X3 = EBIT/Total Asset

X4 = Book Value of Equity/Book Value of Debt

Score Kondisi

Z”score > 2,60 Tidak Bangkrut

1,1 < Z”score < 2,60 Daerah Rawan (Grey Area)

Z”score < 1,1 Berpotensi Bangkrut

Sumber: Syahyunan (2013)

Perusahaan – perusahaan yang diteliti kemudian digolongkan menjadi 3 golongan yaitu perusahaan yang tidak bangkrut, perusahaan yang termasuk daerah rawan (grey area) dan perusahaan yang berpotensi bangkrut.

Penggolongan ini berdasarkan nilai Z yang merupakan indeks keseluruhan dari fungsi multiple discriminant analysis dengan kriteria penilaian sebagai berikut:

a. Jika nilai Z > 2,60 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat sehingga dapat dikategorikan dalam perusahaan yang tidak bangkrut.

b. Jika nilai 1,1 < Z < 2,60 berada di daerah rawan dimana perusahaan tersebut tidak dapat ditentukan apakah termasuk kedalam kategori perusahaan yang bangkrut atau tidak bangkrut.

(36)

c. Jika nilai Z < 1,1 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko bangkrut.

Dalam penentuan model kebangkrutan melalui analisis laporan keuangan harus disadari kemungkinan klasifikasi model (Classificaation error) yang dapat dikelompokkan menjadi 2:

a. Error tipe I terjadi bahwa timbul misclassification yang disebabkan oleh adanya prediksi bahwa perusahaan tidak bangkrut, tetapi ternyata mengalami kebangkrutan.

b. Error tipe II terjadi apabila timbul misclassification prediksi yang disebabkan oleh adanya prediksi bahwa perusahaan bangkrut kenyataannya tidak bangkrut.

Tabel 2.4

Pengelompokan Prediksi Kebangkrutan

Hasil yang diharapkan

Hasil Sesungguhnya

Perusahaan Bangkrut Perusahaan Tidak Bangkrut Bangkrut

Tidak Bangkrut

Benar

Kesalahan Tipe II

Kesalahan Tipe I Benar

Menurut Altman (1977) kesalahan tipe I diatas lebih berat dibandingkan kesalah tipe II, yaitu perusahaan tidak bangkrut tetapi kenyataannya mengalami kebangkrutan. Apabila perusahaan diprediksikan bangkrut tetapi kenyataannya tidak, maka akan mengalami kesulitan yang seharusnya tidak terjadi. Misalnya apabila prediksi tersebut digunakan, banyak investor dan kreditor akan menarik uangnya lebih cepat yang bisa menyebabkan kebangkrutan yang sesungguhnya.

(37)

2.2.5 Analisis Model Logit Zavgren

Tahap pengembangan metode penelitian relatif baru untuk menghitung risiko tekanan keuangan (Financial Distress Risk) telah dilakukan sepanjang tahun 1980-an dan permulaan tahun 1990-an dengan menggunakan analisis logit (Logit Analysis) disamping menggunakan analisis Multiple Discriminant Analysis.

Analisis Logit awal ditemukan oleh Christine V. Zavgren dengan mengadakan penelitian pada 45 perusahaan dalam keadaan bangkrut dan 45 perusahaan tidak bangkrut, serta memperhitungkan ukuran asset dan industri serupa. Aplikasi dari metode Zavgren (Logit) membutuhkan empat langkah (Zavgren, 1983), yaitu:

(1)menghitung serangkaian tujuh rasio keuangan; (2)setiap rasio dikalikan dengan koefiesien khusus; (3)nilai atau hasil yang diperoleh dijumlahkan secara bersama (Y); dan, (4)probabilitas kebangkrutan perusahaan dikalkulasi dengan fungsi probabilitas logit. Christine V. Zavgren menetapkan formula untuk menghitung probabilitas kebangkrutan perusahaan (Stickney dalam Rakhmawati, 2010) :

𝑝𝑖 = 1 1+𝑒𝑦

Pi adalah probabilitas kebangkrutan perusahaan. Eksponen y adalah fungsi multivarian yang terdiri dari satu tetapan konstanta dan berbagai koefisien atas variabel bebas. Variabel bebas mencakup tujuh rasio laporan keuangan yang meliputi rasio-rasio INV, REC, CASH, QUICK, ROI, DEBT, dan TURNOVER.

Nilai eksponen y dapat dihitung dengan menggunakan formula (Stickney dalam Rakhmawati, 2010):

Y = 0,23883 – 0,108 (INV) – 1,583 (REC) - 10,78 (CASH) + 3,074 (QUICK) +

(38)

0,486 (ROI) – 4,35 (DEBT) + 0,11 (TURN) Keterangan :

INV = Persediaan/Penjualan

REC = Rata-rata Piutang/Rata-rata Persediaan

CASH = (Penjumlahan Kas + Surat Berharga)/Total Aktiva QUICK = Quick Aset/Hutang Lancar

ROI = Laba Operasi Bersih/(Total Aktiva - Hutang Lancar) DEBT = Hutang Jangka Panjang/(Total Aktiva - Hutang Lancar) TURN = Penjualan/(Modal Kerja + Aktiva Tetap)

Variabel bebas berkoefisien negatif bisa meningkatkan probabilitas kebangkrutan, karena koefisien negatif akan menurunkan ey hingga mendekati angka nol, Pi (probabilitas kebangkrutan perusahaan) mendekati 1/1 atau 100%.

Sedangkan variabel bebas berkoefisien positif dapat menurunkan probabilitas kebangkrutan perusahaan, karena koefisien positif bisa meningkatkan ey hingga mendekati bilangan positif tak terhingga (~) yang mengakibatkan Pi (probabilitas kebangkrutan perusahaan) mendekati angka nol.

Untuk mengetahui indikasi kebangkrutan perusahaan diperlukan cut off untuk membedakan antara perusahaan yang di indikasikan sehat, rawan mengalami kebangkrutan dan bangkrut. Cut off pada penelitian ini dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

Standar deviasi :

𝑠 =√∑(𝑥𝑖 − 𝑥)2

√𝑛 − 1 Keterangan standar deviasi :

(39)

s = standar deviasi xi = data ke-i

x = rata – rata industri n = jumlah sampel

Rentang interval, dengan tingkat keyakinan 95% (α=0,05) (Dajan, 1986).

𝑥 − 𝑡𝑎2𝑠𝑡. 𝑑𝑒𝑣

√𝑛 < 𝜇 < 𝑥 + 𝑡𝑎2𝑠𝑡. 𝑑𝑒𝑣

√𝑛 Keterangan :

st.dev = standar deviasi x = rata-rata industri α = koefisien alfa t = koefisien t tabel n = jumlah sampel

Batas bawah rentang interval menentukan skor maksimal bagi penentuan suatu perusahaan dikatakan mempunyai kinerja yang buruk. Sementara batas atas rentang interval menentukan secara minimal bagi penentuan suatu perusahaan dikatakan mempunyai skor diantara kedua batas rentang interval masuk dalam kategori rawan atau kritis terhadap kesulitan yang mengarah pada kesulitan.

2.2.6 Manfaat Melakukan Prediksi Financial Distress

Prediksi financial distress menjadi perhatian bagi berbagai pihak karena dengan mengetahui kondisi keuangan perusahaan yang mengalami financial distress maka berbagai pihak tersebut dapat mengambil keputusan atau tindakan untuk memperbaiki keadaan ataupun untuk menghindari masalah. Ada berbagai

(40)

macam cara atau metode yang bisa digunakan untuk melakukan prediksi financial distress sebagai berikut (Almilia & Kristijadi, 2003):

1. Pemberi Pinjaman atau Kreditor. Instansi pemberi pinjaman memprediksi financial distress dalam memutuskan apakah akan memberikan pinjaman dan menentukan kebijakan mengawasi pinjaman yang telah diberikan kepada perusahaan. Selain itu juga digunakan untuk menilai kemungkinan masalah suatu perusahaan dalam melakukan pembayaran kembali pokok dan bunga.

2. Investor. Model prediksi financial distress dapat membantu investor ketika akan memutuskan untuk berinvestasi pada suatu perusahaan.

3. Pembuat Peraturan atau Badan Regulator. Badan Regulator mempunyai tanggung jawab mengawasi kesanggupan membayar hutang dan menstabilkan perusahaan individu. Hal ini menyebabkan perlunya suatu model untuk mengetahui kesanggupan perusahaan membayar hutang dan menilai stabilitas perusahaan.

4. Pemerintah. Prediksi financial distress penting bagi pemerintah dalam melakukan antitrust regulation.

5. Auditor. Model prediksi financial distress dapat menjadi alat yang berguna bagi auditor dalam membuat penilaian going concern perusahaan. Pada tahap penyelesaian audit, auditor harus membuat penilaian tentang going concern perusahaan. Jika ternyata perusahaan diragukan going concern-nya, maka auditor akan memberikan opini wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelas atau bisa juga memberikan opini disclaimer (atau menolak memberikan pendapat).

(41)

6. Manajemen. Apabila perusahaan mengalami kebangkrutan, maka perusahaan akan menanggung biaya langsung (fee akuntan dan pengacara) dan biaya tidak langsung (kerugian penjualan atau kerugian paksaan akibat ketetapan pengadilan). Oleh karena itu, manajemen harus melakukan prediksi financial distress dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk dapat mengatasi kesulitan keuangan yang terjadi dan mencegah kebangkrutan pada perusahaan.

2.2.7 Solusi untuk Perusahaan yang Mengalami Financial Distress

Kondisi financial distress memberikan dampak buruk bagi perusahaan karena kepercayaan investor dan kreditur serta pihak eskternal lainnya. Oleh karena itu, manajemen harus melakukan tindakan untuk mengatasi kondisi financial distress dan mencegah terjadinya kebangkrutan. Perusahaan yang mengalami financial distress biasanya memiliki arus kas yang negatif sehingga mereka tidak bisa membayar kewajiban yang jatuh tempo. Ada 2 solusi yang bisa diberikan jika perusahaan mempunyai arus kas negatif (Pustylnick, 2012) yaitu:

1. Restrukturisasi Hutang

Manajemen bisa melakukan restrukturisasi hutang yaitu mencoba meminta perpanjangan waktu dari kreditor untuk pelunasan hutang hingga perusahaan mempunyai kas yang cukup untuk melunasi hutang tersebut.

2. Perubahan dalam Manajemen

Jika memang diperlukan, perusahaan mungkin harus melakukan penggantian manajemen dengan orang yang lebih berkompeten. Dengan begitu, mungkin saja kepercayaan stakeholder bisa kembali pada perusahaan. Hal ini untuk menghindari larinya investor potensial

(42)

perusahaan pada kondisi financial distress.

2.3 Penelitian Terdahulu

Terdapat penelitian terdahulu untuk memprediksi kegagalan suatu perusahaan telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti, diantaranya sebagai berikut :

Tabel 2.5 Penelitian Terdahulu

No Penelitian

(Tahun) Judul Penelitian Teknik

Analisis Hasil Penelitian 1. Rizki

(2017)

Faktor – faktor yang mempengaruhi financial distress pada perusahaan property dan real estate terbuka di Bursa Efek Indonesia

Analisis Regresi Linier Berganda Data Panel

1. Current rasio berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress

2. Debt rasio berpengaruh positif san signifikan terhadap financial distress

3. .ROA (Return On Assets) berpengeruh negatif dan tidak signifikan terhadap financial distress

4. .Pertumbuhan penjualan berpengaruh positif dan tidak signifikan

2. Hidayat (2015)

Analisis dalam memprediksi kebangkrutan dengan menggunakan Multiple Discriminant Analysis dan Logit pada Industri Farmasi terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2009-2014

Multiple Disriminant Analysis dan Analysis Logit

Dari sepuluh pengujian metode terdapat 6 di antaranya mengalami perbedaan dalam memprediksi kebangkrutan yaitu Altman dengan Springate, Altman dengan

3. Liana &

Sutrisno (2014)

Analisis Rasio Keuangan untuk memprediksi kondisi Financial Distress Perusahaan manufaktur

Model analisis Regresi Linear Berganda

1. Rasio Likuiditas tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam menentukan perubahan variabel financial distress

2. Financial Leverage tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam financial distress.

3. Pertumbuhan tidak memilik pengaruh yang signifikan dalam menentukan financial distress 4. Ramlan

(2013)

Analisis kesulitan keuangan (Financial Distress) perusahaan Go Public pada Bursa Efek Indonesia

Multiple Discriminant Analysis

Telah didapatkan nilai – nilai variabel yang sebagian besar negatif dan menyebabkab sebanyak 16

perusahaan pada tahun 2009 berada dalam kondisi safe area Pada tahun 2010 perusahaan yang mengalami financial distress bertambah menjadi 17

5. Hazem &

Horani (2012)

Predicting Financial Distress of Companies Listed an Amman Stock Exchange

Regresi Logistik

1. Current Ratio berpengaruh signifikan terhadap financial distress

2. .Debt Ratio berpengaruh signifikan terhadap financial distress

(43)

Lanjutan Tabel 2.5

No Penelitian

(Tahun) Judul Penelitian Teknik

Analisis Hasil Penelitian 6. Mas’ud &

Srengga (2011)

Analisis RasioKeuangan dalam memprediksi Kondisi financial Distress perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia

Analisis Regresi Logistik

1. Current Ratio tidak berpengaruh signifikan t

2. erhadap financial

distress.Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap financial distress.

3. Arus Kas berpengaruh signifikan terhadap financial distress.

4. Aktivitas perusahaan berpengaruh signifikan terhadap financial distress 7. Handayani

(2010)

Perbandingan Model Z-score Altman dan Model Logit Zavgren untuk memprediksi potensi kerugian pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia

Analisis deskriptif

1. Metode Altman dapat digunakan didalam menilai dan memprediksi potensi kerugian perusahaan manufaktur BEI periode 2004 dan 2005.

2. Metode Zavgren dapat digunakan didalam menilai dan

8. Salehi &

Abedini (2009)

Financial Distress prediction in emerging market:

empirical evidences from Iran

Regresi Linear Berganda

1. PBIT/TA berpengaruh positif dan signifikan terhadap Financial Distress

2. TE/TA berpengaruh positif dan signifikan terhadap Financial Distress

3. S/TA berpengaruh positif dan signifikan terhadap Financial Distress

4. WC/TA berpengaruh negative dan signifikan terhadap Financial Distress

2.4 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainya dari masalah yang ingin diteliti. Kerangka konseptual ini gunanya untuk menghubungkan atau menjelaskan secara panjang lebar tentang suatu topik yang akan dibahas.

Kerangka ini didapatkan dari konsep ilmu atau teori yang dipakai sebagai landasan penelitian yang didapatkan pada tinjauan pustaka atau ringkasan dari tinjauan pustaka yang dihubungkan dengan garis sesuai variabel yang diteliti.

Kondisi keuangan perusahaan suatu gambaran dari keadaan perusahaan.

Gambaran ini diperoleh melalui laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan.

Sebagai sarana pertanggung jawaban atas kegiatan yang telah dilaksanakan dalam

(44)

periode tertentu. Dengan menggunakan laporan keuangan para pengguna dapat menjadikannya sebagai dasar untuk membuat keputusan. Kondisi minimal dari kinerja keuangan agar dapat dikatakan baik adalah dimana tingkat pendapatan sama dengan biaya ataupun lebih. Laporan keuangan yang telah selesai dibuat dapat dijadikan sebagai dasar dalam menilai kinerja keuangan perusahaan selama periode tertentu. Analisis laporan keuangan merupakan salah satunya, yang dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki permasalahan yang terjadi di perusahaan. Analisis laporan keuangan merupakan yang umum digunakan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan dengan rasio – rasio ataupun standar – standar yang telah ditetapkan sebelumnya dengan berdasarkan pada data kuantatif yang berasal dari laporan keuangan. Rasio keuangan merupakan suatu teknik analisis dibidang manajemen keuangan yang digunakan untuk mengatur kondisi – kondisi keuangan suatu perusahaan pada suatu saat tertentu maupun hasil – hasil usaha perusahaan pada satu periode tertentu dengan cara membandingkan dua buah variabel yang diambil dari laporan keuangan perusahaan, baik neraca maupun laba rugi.

Dengan mengetahui kondisi laporan keuangan, para manajer dapat mengetahui sejauh mana target perusahaan tercapai, masalah yang dihadapi dan timbal balik yang harus dilakukan untuk menyelasaikan permasalahan tersebut.

Apabila perusahaan termasuk dalam kategori perusahaan yang mengalami finansial distress maka para manajer diharapkan dapat segera melakukan perubahan dalam pengelolaan perusahaan atau hingga melakukan restrukturisasi jika perusahaan sudah termasuk dalam kategori kebangkrutan. Dalam penelitian

(45)

ini, peneliti menggunakan model Altman Z-score dan model Logit Zavgren.

Gambar 1.3 Kerangka Konseptual

2.5 Hipotesis

Berdasarkan kerangka konseptual tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. Terdapat perbedaan yang signifikan pada potensi kebangkrutan pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013-2017 dengan menggunakan model Altman Z-score dan Model Zavgren.

2. Analisis Model yang paling akurat dalam memprediksi kebangkrutan pada perusahaan perusahaan manufaktur industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia adalah model Altman Z-score dibandingkan model Zavgren.

Perusahaan Industri Barang Konsumsi terbuka di Bursa Efek Indonesia

Laporan Keuangan Perusahaan

Analisis Kebangkrutan

Perusahaan Model Altman

Z-score

Analisis Kebangkrutan

Perusahaan Model Zavgren

(46)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian deskriptif kuantitatif. Menurut Sugiyono (2013), penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif disebut juga metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini sebagai metode ilmiah atau empiris, objektif, terukur, rasional, dan sistematis (penelitian berupa angka – angka dan analisis menggunakan statistik).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Peneliti melakukan penelitian pada perusahaan manufaktur Industri Barang Konsumsi terbuka yang terdaftar dua Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menggunakan media internet yang digunakan adalah www.idx.co.id sedangkan waktu penelitian dimulai dari bulan Maret 2019 sampai dengan selesai.

3.3 Batasan Operasional

Agar penelitian tidak menyimpang dan lebih terarah maka peneliti menetapkan batasan operasional penelitian. Adapun batasan operasional dalam penelitian ini adalah:

1. Objek pada penelitian ini merupakan perusahaan Industri Barang Konsumsi terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI).

2. Untuk melihat perbedaan penggunaan model analisis kebangkrutan dengan model Altman Z-score dan model Zavgren.

(47)

3. Populasi penelitian digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur Industri Barang Konsumsi terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2013 – 2017 dan sampel penelitian yang digunakan adalah perusahaan manufaktur Industri Barang Konsumsi yang menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit selama periode 2013 – 2017 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

3.4 Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional merupakan pengertian suatu variabel yang diungkap dalam definisi konsep tersebut, secara operasional, secara praktik, secara nyata dalam lingkup objek penelitian atau objek yang diteliti. Untuk mengukur perbedaan penggunaan model Altman Z-score dan model Logit Zavgren sebagai berikut:

1. Penelitian Altman Z-score

Adapun model Altman Z-score adalah sebagai berikut:

Z-score : 6,56X1 + 3,26X2 + 6,72X3 + 1,05X4

a. Modal Kerja/Total Aset (X1)

Modal kerja yang dimaksud dalam X1 adalah selisih antara aktiva lancar dengan hutang lancar, sedangkan Total aktiva adalah merupakan keseluruhan aktiva yang dimiliki perusahaan terdiri dari aktiva lancar, aktiva tetap dan aktiva lain-lain. Rasio X1 pada dasarnya merupakan salah satu rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.

Hasil rasio tersebut negatif apabila aktiva lancar lebih kecil dari kewajiban lancar.

(48)

b. Laba Ditahan/Total Aset (X2)

Laba ditahan merupakan junlah atau bagian dari laba yang tidak dibagikan dalam bentuk dividen selama periode tertentu. Laba ditahan biasanya digunakan untuk perluasan usaha. Rasio ini mengukur akumulasi laba selama perusahaan beroperasi. Umur perusahaan berpengaruh terhadap rasio tersebut karena semakin lama perusahaan beroperasi untuk memperlancar akumulasi laba ditahan.

c. Laba Sebelum Bunga dan Pajak/Total Aset (X3)

Laba sebelum bunga dan pajak merupakan laba yang dihasilkan oleh perusahaan, yang diperoleh dari laba kotor dikurangi total biaya yang digunakan oleh perusahaan namun belum dikurangi dengan beban bunga dan pajak. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan.

d. Nilai Buku Ekuitas/Nilai Buku Utang (X4)

Modal yang dimaksud adalah gabungan nilai pasar dari modal dan saham, sedangkan hutang mencakup hutang lancar dan hutang jangka panjang. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap hutangnya melalui modalnya sendiri.

2. Penelitian Model Logit Zavgren

Adapun model Zavgren adalah sebagai berikut:

Zavgren : Y = 0,23883 – 0,108 (INV) – 1,583 (REC) - 10,78 (CASH) + 3,074 (QUICK) + 0,486 (ROI) – 4,35 (DEBT) + 0,11 (TURN)

Referensi

Dokumen terkait

Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2011

Sari (2014) Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode

Pengaruh Laba Akuntansi dan Arus Kas Operasi Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek

Apakah Arus Kas Operasi berpengaruh terhadap Return Saham perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Persediaan dan Rasio Lancar Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode

Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

"PENGARUH PROFITABILITAS, LEVERAGE, DAN LIKUIDITAS TERHADAP AGRESIVITAS PAJAK PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR SEKTOR INDUSTRI BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN