• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Analisis Kebijakan

1) Kebijakan Pembangunan Perikanan Tangkap

Potensi lestari perikanan Kota Ternate adalah sebesar 47.838,25 ton/ tahun yang terdiri dari ikan pelagis besar seperti tuna, tongkol, cucut, tenggiri dan ikan pelagis kecil seperti layang dan tembang, sedangkan ikan demersal seperti Kakap Merah, Ekor kuning serta berbagai jenis ikan Kerapu. Produksi perikanan Ternate adalah sebesar 10.048,50 ton atau tingkat pemanfaatannya baru mencapai 21,01 % dari potensi lestari, sehingga dari produksi yang dicapai tersebut menunjukkan tingkat pemanfaatannya masih under exploitation, akibatnya peluang investasi di sektor Perikanan dan Kelautan di Kota Ternate masih sangat terbuka.

Daerah penangkapan untuk pelagis besar (tuna dan cakalang) di perairan Kota Ternate meliputi perairan Pulau Hiri, Moti dan Pulau Batang Dua dan Laut Maluku. Musim penangkapan sepanjang tahun dan musim puncak yaitu pada Januari - April serta September – Oktober. Daerah penangkapan pelagis kecil dan demersal adalah pesisir Pulau Ternate, Moti, Hiri dan Tifure Batang Dua. Jenis pelagis besar yang dominan di perairan Kota Ternate meliputi jenis tuna (Thunnus

spp), cakalang (Katsuwonus pelamis), tenggiri (Scomboramorus spp) dan cucut

(flasmobranch). Khusus untuk ikan tuna dan cakalang tingkat pemanfaatan baru mencapai 21,07 % padahal perairan ini merupakan alur migrasi tuna dan cakalang sehingga peluang dan investasi masih sangat terbuka, demikian pula dengan tingkat pemanfaatan cucut masih sangat minim dan belum menggunakan sarana yang memadai.

Banyak jenis pelagis kecil yang terdapat di perairan Kota Ternate namun yang dominan dan banyak ditangkap adalah jenis layang (Decapterus spp) dan tembang (Sardinella fimbriata). Pemanfaatan pelagis kecil ini hanya dilakukan oleh nelayan tradisional yang berdomisili pada daerah kawasan pesisir kota sehingga pemasaran pelagis kecil selama ini masih didominasi pasar lokal dan antar pulau. Spesifik dasar perairan adalah substrat lumpur berpasir, memiliki terumbu karang dan padang lamun sehingga pada habitat ini sumberdaya demersal sangat potensial. Namun pemanfaatannya masih sangat sedikit, sehingga peluang usahanya masih sangat terbuka. Jenis jenis ikan demersal yang dominan dan sering menjadi tujuan penangkapan adalah kakap merah (Prestoporoides), ikan

tembang (Lutjanus johni), ikan kerong-kerong (Saurida tumbil). Khusus untuk ikan kerapu baru dikembangkan dua areal budidaya dan penangkapan dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA), sedangkan jenis ikan dasar lainnya mengandalkan pasar lokal.

Kota Ternate merupakan kota kepulauan yang terdiri dan 8 (delapan) pulau dan kesemuanya merupakan pulau-pulau kecil. Karakter masing- masing pulau sangat berbeda antara satu pulau dengan pulau lainnya. Lima pulau berpenghuni diantaranya yaitu Pulau Ternate, Pulau Moti, Pulau Hiri, Pulau Tifure dan Pulau Mayau dan tiga pulau yang tidak berpenghuni yaitu Pulau Mano, Pulau Maka dan Pulau Gurida. Perairan Kota Ternate memiliki berbagai jenis ikan hias pada perairan Pulau Hiri, Moti, dan Pulau Ternate dan yang dominan adalah jenis

Zanclidae (ikan bendera), Scorpaenidae (ikan lepu) dan jenis Chaetodontidae

(ikan kepe-kepe). Jenis-jenis ikan hias tersebut sangat indah dan bernilai ekonomis, namun diusahakan secara sederhana dengan mengandalkan pasar lokal.

Pulau Ternate merupakan pulau terbesar dari wilayah Kota Ternate dengan luas daratan 992,12 km2, dimana Kota Ternate merupakan Pusat Pemerintahan, baik Pemda Kota Ternate maupun Pemda Propinsi Maluku Utara. Berdasarkan data statistik, jumlah penduduk Pulau Terna te adalah 105.967 jiwa yang tersebar pada keliling Pulau Ternate. Jumlah Kelurahan pada Pulau Ternate adalah sebanyak 63 kelurahan, 54 kelurahan terletak pada bagian pesisir sehingga umumnya kegiatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya diarahkan pada pemanfaatan sumberdaya perikanan. Sumberdaya perikanan yang dominan di Pulau Ternate antara lain :

(1) Ikan pelagis : ikan tuna, cakalang, layang, selar dan tongkol;

(2) Ikan demersal : kakap merah dan bambanga n, kerapu bebek, kerapu sunu dan jenis lainnya;

(3) Danau : jenis ikan air tawar berupa ikan mas, nila dan mujair ;

(4) Non Ikan : teripang dengan jenis teripang pasir, teripang gama, teripang susu, kerang tiram, kima, udang lobster jenis bambu, hitam dan mutiara.

Selain itu, wilayah Pulau Ternate juga terdapat hutan bakau (mangrove) yang tumbuh pada beberapa kelurahan diantaranya di pesisir Kelurahan Mangga

Dua sampai ke Bastiong serta pesisir pantai Kelurahan Fitu, Gambesi dan Kastela namun kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Oleh karena itu Pemerintah Kota Ternate sekarang sedang melakukan rehabilitasi di beberapa wilayah pesisir. Sesuai dengan kondisi geografis wilayah, Pulau Moti merupakan bagian dari wilayah Kota Ternate yang memiliki spesifikasi tersendiri, ini dikarenakan kondisi flora dan fauna yang tidak sama dengan pulau-pulau lainnya di Kota Ternate. Pulau Moti yang luas keseluruhan wilayahnya 83.833 km2. Sedangkan Jarak Pulau Moti dengan Pulau Ternate adalah 11 mil laut, dimana rute perjalanan harus ditempuh melalui lautan dengan transportasi motor laut selama kurang Iebih 2 Jam. Pulau Moti terbagi atas 6 kelurahan dengan jumlah penduduk 5140 jiwa dengan mata pencaharian sebagian besar adalah nelayan dan petani. Hal ini dikarenakan semua wilayah Kelurahan berada pada wilayah pesisir. Sesuai dengan karakteristik Pulau Moti, bahwa para nelayan di daerah ini banyak yang melakukan penangkapan dengan purse seine; handline, gill net, bubu dan pancing tonda. Selain itu jenis ikan yang dominan di Pulau Moti antara lain ikan layang, ikan tongkol, kuwe, cakalang, kerapu, dan berbagai jenis ikan demersal lainnya.

Pulau Hiri memiliki karakteristik tersendiri, dimana kondisi geografis wilayahnya berhadapan dengan lautan bebas dan sebagian lagi bersebelahan dengan Pulau Ternate dan Pulau Halmahera. Luas daratan keseluruhan dari pulau ini adalah 7,31 km2 kondisi pulaunya berbatu dan air tanahnya payau, sehingga untuk pengembangan pertanian kurang cocok, potensi yang cocok untuk dikembangkan adalah perikanan. Kebiasaan para nelayan di Pulau Hiri dalam upaya pemanfaatan sumberdaya lautnya adalah dengan melaksanakan upaya penangkapan dengan sarana berupa kalase (muroami), mini purse seine, gill net,

pole and line, handline, pancing tonda dan bubu. Produksi yang dominan dan dapat dikembangkan adalah jenis ikan tuna, cakalang, layang, dan ikan dasar lainnya.

Pulau Tifure yang merupakan bagian wilayah dan Kecamatan Pulau Ternate memiliki luas daratan kurang lebih 7 km2 dan dihuni penduduk sebanyak 712 jiwa. Pulau Tifure terdiri dari 2 kelurahan yang me rupakan pulau terjauh dari ibukota dengan jarak 106 mil laut, dimana pulau-pulau ini merupakan alur migrasi ikan pelagis besar dan kecil. Pulau Tifure secara geografis tidak berbeda jauh

dengan pulau sekitarnya seperti Pulau Mayau dan Pulau Hiri. Sumberdaya ha yati yang paling dominan di pulau ini adalah untuk jenis ikan pelagis yaitu ikan tuna, cakalang, layang, tongkol dan ikan dasar. Jenis ikan dasar adalah ikan kakap merah, ikan gutila, ikan kuwe dan jenis ikan hias. Sedangkan produksi yang paling dianggap dominan adalah jenis ikan layang, Kemudian untuk jenis komoditi yang bisa dikembangkan adalah ikan tuna, cakalang dan layang.

Luas daratan Pulau Mayau kurang lebih 8,5 km2 dan berpenduduk kurang lebih 1.510 jiwa. Masyarakat di kepulauan ini bermata pencaharian hampir sama dengan masyarakat pulau Tifure yaitu sebagian besar nelayan dan petani. Potensi perairan laut untuk Pulau Mayau sangat besar untuk kegiatan perikanan tangkap, hal ini karena populasi Terumbu karang di perairan Pulau Mayau sangat luas dan masih utuh atau alami. Sehingga di perairan kepulauan ini dijumpai jenis-jenis ikan yang dominan seperti layang, komo/tongkol, cakalang dan tuna, ikan hiu/cucut, ikan hias dan beberapa jenis ikan dasar. Dari segi pemanfaatannya potensi sumberdaya alam pesisir dan lautnya juga termasuk masih rendah sehingga masih sangat besar peluang untuk pengembangan upaya perikanan tangkap. Armada dan sarana penangkapan yang digunakan para nelayan di kepulauan ini juga masih tergolong tradisional, sehingga hasil produksi tangkapannya masih rendah. Adapun armada dan alat tangkap yang selama ini digunakan para nelayan dapat dirincikan sebagai berikut: perahu tanpa motor 27 unit, motor tempel 12 unit, kapal motor tidak ada. Sarana penangkapan yang digunakan terdiri dari: mini long line 2 unit, purse seine / pajeko 2 unit, pole and line 1 unit, gill net 6 unit, bubu 21 unit, pancing tonda 61 unit dan handline 39 unit.

Peningkatan produksi perikanan yang telah dicapai selama ini telah meningkatkan konsumsi ikan per kapita nasional dari 19,98 kg per kapita pada tahun 1998 menjadi 21,78 kg per kapita pada tahun 2001. Konsumsi ikan pada masa yang akan datang, diperkirakan akan meningkat seiring dengan peningkatan kesejahteraan dan kesadaran masyarakat akan arti penting nilai gizi produk perikanan bagi kesehatan dan kecerdasan otak manusia. Jika dibandingkan dengan beberapa negara lain yang termasuk kedalam negara penghasil ikan dunia, maka Indonesia adalah negara dengan konsumsi per kapita paling rendah, bahkan lebih

rendah dibandingkan dengan Philipina. Pada tahun 1990 saja, konsumsi per kapita Philipina sudah mencapai 24 kg/kap/tahun. Sementara konsumsi per kapita Jepang mencapai 110 kg/kap/tahun. Peningkatan konsumsi ikan per kapita, memiliki korelasi dengan pendapatan per kapita suatu negara. Hal ini disebabkan kemampuan daya beli masyarakat produk perikanan tergantung pada tingkat pendapatannya. Semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin besar peluang untuk mengkonsumsi produk pangan berprotein tinggi seperti ikan dan produk hasil laut lainnya.

Konsumsi ikan di Kota Ternate pada tahun 2004 sebesar 7.074,90 ton, menunjukkan peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun 2003, maka kebutuhan konsumsi ikan lokal di Kota Ternate mengalami peningkatan sebesar 765,50 ton. Meningkatnya hasil tangkapan bagi nelayan secara langsung berpengaruh terhadap pendapatan nelayan, ini dilihat dengan tingginya permintaan ikan dipasar lokal dengan harga ikan yang sangat tinggi.. Ketergantungan pada iklim dan lingkungan menyebabkan pendapatan nelayan menjadi tidak menentu. Pendapatan nelayan ini diperkirakan akan menjadi lebih kecil dengan adanya krisis ekonomi yang telah melanda bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan karena meningkatnya biaya operasional dari sebelumnya, sementara depresiasi nilai rupiah terhadap dollar Amerika tidak dinikmati oleh nelayan kecil, karena pangsa pasar nelayan tradisional masih terfokus dalam negeri. Hal yang berbeda justru dialami pengusaha perikanan yang berorientasi ekspor, dimana nilai produksi perikanan mengalami peningkatan karena adanya depresiasi rupiah terhadap dollar.

Selain dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, hasil perikanan juga dipasarkan ke negara lain (ekspor) yang jumlahnya terus meningkat. Beberapa jenis komoditas perikanan Indonesia yang diekspor adalah udang, tuna/cakalang, rumput laut, kerang-kerangan, kepiting, ikan hias, ubur- ubur dan mutiara. Laju pertumbuhan ekspor perikanan Indonesia dalam kurun waktu 1998-2001 sangat pesat. Pada tahun 1998 volume ekspor perikanan Indonesia sebesar 650.291 ton dengan nilai US$ 1,7 milyar dan meningkat menjadi 703.155 ton dengan nilai US$ 1,74 milyar pada tahun 2000. Dengan perolehan devisa sebesar US$ 1,74 milyar pada tahun 2000, Indonesia telah

menjadi negara penghasil dan pemasok ikan terbesar ke lima di Dunia. Sampai saat ini volume dan nilai ekspor perikanan Indonesia masih didominasi komoditas udang dan tuna/cakalang.

Ekspor ikan tuna/cakalang Indonesia selama kurun waktu 1998-2001 mengalami peningkatan. Volume ekspor tuna pada tahun 1998, mencapai 104.330 ton dengan nilai US$ 215,1 juta, diharapkan meningkat menjadi 105.793 ton dengan nilai US$ 230,8 juta pada tahun 2001. Sebagian besar ekspor ikan tuna Indonesia, masih dalam bentuk ikan segar. Upaya untuk memperoleh nilai tambah melalui pengolahan bahan baku/ikan belum maksimal dilakukan eksportir Indonesia.

Meski Indonesia mampu meningkatkan ekspor komoditas perikanan, namun pertumbuhan itu masih diikuti dengan kenaikan impornya. Komoditas industri pengolahan perikanan bukan bahan makanan, seperti lemak dan minyak ikan, tepung ikan, tepung binatang berkulit keras/lunak masih mendominasi impor komoditas perikanan Indonesia. Pada tahun 1998, impor untuk jenis komoditas ini mencapai 46.088 ton dengan nilai mencapai US$ 33,5 juta. Angka impor komoditas tersebut terus mengalami peningkatan pada tahun 1999 mencapai volume impor sebesar 83.314 ton dengan nilai US$ 42,7 juta. Tahun 2000 volume impor komoditas ini telah mencapai 59.308 ton dengan nilai US$ 31,9 juta. Berarti sepanjang tahun 1998-2000 rata-rata impor Indonesia untuk komoditas bukan bahan makanan mengalami kenaikan volume mencapai 25,98 % dan kenaikan nilai rata-rata mencapai 1,73 %.

Kenaikan yang sama terjadi pada impor komoditas perikanan bahan makanan, seperti ikan segar/beku, ikan dalam kaleng, agar-agar dan komoditas bahan makanan lainnya. Bahkan pada tahun 2000, kebutuhan akan komoditas perikanan bahan makanan terus mengalami kenaikan yang cukup berarti. Indikasi ini dapat dilihat dari kenaikan volume impor komoditas perikanan bahan makanan mencapai 15.016 ton dengan nilai US$ 19,3 juta pada tahun 1998, dan mengalami kenaikan pada tahun 1999 mencapai volume 32,5 juta ton dengan nilai US$ 33,5 juta. Pada tahun 2000 angka volume dan nilainya tersebut mengalami kenaikan lagi, hingga volumenya mencapai 40.472 ton dengan nilai US$ 34,8 juta. Jadi,

sejak tahun 1998-2000 impor komoditas bahan makanan perikanan rata-rata mengalami kenaikan 70,49 % dengan kenaikan nilai mencapai 38,79 %.

Kenaikan impor bahan makanan tersebut umumnya disebabkan oleh kebutuhaan pasokan untuk industri pengalengan ikan. Saat ini terdapat 24 pabrik pengalengan ikan, diantaranya ada 13 pabrik bertujuan ekspor dengan kapasitas terpasang 259 ribu ton yang memproduksi ikan kaleng dari sardine dan mackerel

(60 %), tuna (35 %), dan kepiting (5 %). Selama ini kapasitas produksi mereka hanya mencapai 50 persen dari kapasitas terpasang. Faktor lain yang menyebabkan meningkatnya volume impor adalah maraknya rumah makan asing dan hotel yang memilih ikan impor (jenis ikan yang tidak hidup di perairan Indonesia ) dalam memenuhi keinginan konsumen. Dengan demikian total volume impor perikanan Indonesia mencapai 61.104 ton dengan nilai total US$ 52,5 juta pada tahun 1998, naik sebesar 115.818 ton dengan nilai US$ 76,3 juta pada tahun 1999. Meski pada tahun 2000 volume impor mengalami penurunan menjadi 99.780 ton dengan nilai total mencapai US$ 66,7 juta, namun perkembangan volume impor produk perikanan Indonesia dari tahun 1998-2000, secara keseluruhan mengalami kenaikan rata-rata sebesar 37,85 % dengan kenaikan nilai total rata-rata mencapai 16,39 %. Komoditas tepung ikan masih merupakan komoditas impor tertinggi, baik total volume maupun nilainya.

Dilihat dari neraca ekspor- impor produk perikanan di atas, jelas bahwa surplus perdaga ngan komoditas perikanan Indonesia dari tahun 1998-2000 mengalami kanaikan rata-rata sebesar 1,13 %. Meski mengalami kenaikan rata- rata impor, namun total neraca perdagangan ekspor- impor komoditas perikanan Indonesia dari tahun 1998-2000, mengalami kenaikan. Pada tahun 1998 surplus perdagangan perikanan Indonesia mencapai US$ 1,64 milyar, tahun 1999 mengalami surplus sebesar US$ 1,52 milyar dan pada tahun 2000 surplus perdagangan mencapai US$ 1,67 milyar. Naiknya surplus neraca perdagangan semakin membuktikan bahwa sektor perikanan tidak membebani neraca pembayaran, sebaliknya justru merupakan andalan untuk memperoleh devisa.

Sebagai satu komoditas ekspor non migas, perikanan mempunyai peran yang strategis dalam meningkatkan pendapatan devisa negara dan kesejahteraan para nelayan. Peningkatan terhadap produk perikanan baik untuk pasar domestik

maupun pasar internasional, terus meningkat seiring dengan meningkatnya laju pertambahan penduduk, kenaikan pendapatan (income), terjadinya pergeseran selera konsumen dari “red meat” menjadi “white meat” serta menurunnya konsumsi daging sebagai akibat dari merebaknya berbagai penyakit ternak seperti BSE (bovine spongiform encephalopaty) dan penyakit mulut dan kuku. Disamping itu akhir-akhir ini juga terlihat meningkatnya permintaan “organic food” termasuk “organic fish” khususnya di negara-negara maju.

Dengan potensi sumberdaya perikanan yang cukup melimpah, Indonesia mempunyai peluang yang baik untuk memposisikan diri sebagai produsen dan eksportir utama produk kelautan dan perikanan. Akan tetapi, pengembangan ekspor hasil perikanan dan kelautan dihadapkan kepada dua masalah utama, yaitu hambatan tarif dan hambatan non tarif. Seharusnya globalisasi perdagangan dunia, mengecilkan hambatan tarif dan non tarif. Justru disinilah letak permasalahan yang dihadapi negara berkembang, yakni munculnya hambatan tarif dan non tarif yang diberlakukan oleh negara- negara maju terkadang merupakan bagian dari upaya mereka melindungi industri dan kepentingan ekonomi domestik mereka. Adanya peningkatan devisa, menunjukkan bahwa sumber kekuatan cadangan dana pemerintah semakin kuat yang akan mengakibatkan pemerintah dapat membiayai operasional pembangunan tanpa tergantung pada hutang luar negeri.

Sejak tahun 2000 Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor perikanan masuk sebagai perhitungan pendapatan negara dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebagai penerimaan bukan pajak dari sumberdaya alam disamping minyak bumi, gas alam, pertambangan umum dan kehutanan. PNBP sektor perikanan berasal dari Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) dan Pungutan Hasil Perikanan (PHP) serta pendapatan non sumberdaya alam lainnya. Pengenaan pungutan perikanan didasarkan pada PP nomor 141 tahun 2000 dan 142 tahun 2000 serta penyempurnaannya berupa PP nomor 54 tahun 20002 dan 62 tahun 20002 yang diarahkan untuk mengakomodasikan ketentuan mengenai pungutan perikanan bagi kapal berbendera asing.

Sampai dengan 24 Desember 20002 realisasi PNBP mencapai sebesar Rp 258,156 milyar, yang terdiri dari Pungutan Pengusahaan Perikanan dan Pungutan Hasil Perikanan termasuk dari PMA dan PMDN sebesar Rp 255,45

milyar, dan jasa Pelabuhan sebesar Rp 2,7 milyar. Dengan demikian perolehan PNBP tahun 2002, baru mencapai 87,82 % dari target sebesar Rp 291,67 milyar. Target tersebut bersumber dari kapal berbendera Indonesia dan kapal berbendera asing, seperti terlihat pada Tabel 20.

Tabel 20 Target dan realisasi penerimaan pungutan perikanan bersumber dari pemanfaatan sumberdaya ikan, hingga 24 Desember 2002 (jutaan rupiah) Target Realisasi Sumber Penerimaan Tahun 2002 Nilai SPP yang di terbitkan Pungutan perikanan yang sudah dibayar Kapal berbendera Indonesia 118,000 232,317 190,789 Kapal Berbendera asing 173,000 92,494 64,660

Total 291,000 324,811 255,449

Sumber : Ditjen Perikanan Tangkap, 2002

Nilai Surat Perintah Pembayaran (SPP) pungutan perikanan yang telah diterbitkan hingga 24 Desember 2002 berjumlah Rp 324,8 milyar. Dari nilai SPP ini, telah dibayarkan sebesar Rp 255,4 milyar. Peningkatan pajak akan mengakibatkan penambahan keuangan negara yang selanjutnya akan menjadi dana perimbangan pusat dan daerah.

Otonomi daerah sebagaimana yang tertuang dalam Undang-undang No. 32 tentang Otonomi Daerah, merupakan landasan yang kuat untuk mencapai pengelolaan sumberdaya kelautan secara berkelanjutan. Agar otonomi daerah memberikan dampak positif terhadap pengelolaan sumberdaya laut, maka perlu adanya keinginan dan komitmen pemerintah daerah bersama masyarakat untuk mengelola sumberdaya kelautan yang berada dala m kewenangannya secara berkelanjutan.

Sebagaimana tersirat dalam definisi pembangunan berkelanjutan diatas, bahwa pembangunan suatu kawasan akan bersifat berkesinambungan (sustainable) apabila tingkat (laju) pembangunan beserta segenap dampak yang ditimbulkannya secara agregat tidak melebihi daya dukung lingkungan kawasan tersebut. Sementara itu, daya dukung lingkungan suatu kawasan ditentukan oleh kemampuannya didalam menyediakan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan bagi kehidupan makhluk hidup serta kegiatan pembangunan manusia, yaitu :

(1) Ketersediaan ruang (space) yang sesuai (suitable) untuk tempat tinggal/permukiman dan beberapa kegiatan pembangunan; (2) Ketersediaan sumberdaya alam untuk keperluan konsumsi dan proses produksi lebih lanjut; (3) Kemampuan kawasan untuk menyerap/mengasimilasi limbah sebagai hasil

samping dari kegiatan manusia dan kegiatan pembangunannya; dan (4) Kemampuan kawasan menyediakan jasa-jasa penunjang kehidupan (life

supporting systems) dan kenyamanan seperti udara bersih, air bersih, siklus hidrologi, siklus hara, siklus biogekimia dan tempat-tempat yang indah serta nyaman untuk rekreasi dan pemulihan kedamaian jiwa (spiritual renewal). Atas dasar pengertian pembangunan berkelanjutan dan daya dukung lingkungan, maka secara ekologis terdapat persyaratan agar pengelolaan sumberdaya kelautan di daerah dapat berlangsung secara optimal dan berkelanjutan. Strategi pembangunan kelautan tersebut adalah :

(1) Pemerintah Daerah Provinsi Maluku Utara harus melakukan inventarisasi dan pemetaan mengenai karakteristik, biofisik, potensi pembangunan (sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan), karakteristik dan dinamika sosio-kultural masyarakat, dan aspek kelembagaan (institusional arrangements). Khusus perihal informasi potensi sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan hendaknya dilaksanakan secepat mungkin. Namun demikian tidak berarti pelaksanaan pembangunan perikanan di Provinsi Maluku Utara harus menunggu terkumpulnya semua data dan informasi. Keduanya harus berjalan paralel dan saling melengkapi;

(2) Atas dasar informasi dari langkah pertama, selanjutnya disusun peta tata ruang pembangunan berkelanjutan yang terdiri atas kawasan preservasi, kawasan konservasi dan kawasan pembangunan. Di dalam kawasan pembangunan inilah diatur penempatan dan tata ruangnya untuk berbagai macam kegiatan (sektor) pembangunan secara sinergis dan saling menguatkan. Untuk menghindarkan timbulnya dampak negatif dari satu sektor yang dapat melemahkan kinerja atau mematikan sektor lainnya, ma ka diperlukan pengelolaan (mitigasi) dampak baik yang berupa dampak fisik (lingkungan), sosial ekonomi maupun sosial budaya.

(3) Menyusun rencana investasi dan pembangunan atas dasar peta tata ruang yang dihasilkan pada langkah kedua tadi. Sektor-sektor pembangunan dapat dibagi menjadi dua kelompok besar : (1) Sektor prasarana (social overhead capital) dan (2) Sektor produktif (directly productive activities). Sektor produktif adalah sektor-sektor pembangunan (ekonomi) yang langsung menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa (goods and services) yang diperlukan oleh masyarakat, termasuk perikanan, pertanian. Kehutanan, pariwisata, pertambangan dan energi, serta industri. Sedangkan sektor prasarana adalah sektor-sektor yang tidak secara langsung menghasilkan barang dan jasa, tetapi tanpa keberadaan sektor ini maka sektor produktif tidak mungkin berkinerja secara efisien dan optimal. Sektor prasarana selanjutnya dapat dikelompokkan menjadi sektor prasarana keras (hard-infrastructure sector), misalnya permukiman dan prasarana wilayah dan perhubungan; dan sektor prasarana lunak (soft-infrastructure sector) termasuk antara lain pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, agama, hukum, kelembagaan, iptek, dan pemberdayaan perempuan;

(4) Menyusun kebijakan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Langkah ini sangat penting dalam rangka menjamin pelaksanaan pembangunan kelautan secara berkelanjutan. Untuk mengantisipasi dan meminimalkan (mitigasi) dampak negatif yang akan muncul akibat berbagai kegiatan pembangunan di wilayah pesisir dan lautan, perlu dilakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) secara cermat dan benar. Selanjutnya untuk menjamin kelestarian (sustainability) sumberdaya perikanan laut, maka tingkat penangkapan total tidak melebihi Total

Dokumen terkait