• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Perkembangan Armada, Produksi dan Nilai Hasil Perikanan

Secara umum, pelaksanaan program pembangunan perikanan tangkap selama tahun 2003 menunjukkan hasil yang nyata dan menggembirakan. Hal ini dapat dilihat dari semakin luas dan terarahnya usaha peningkatan produksi perikanan tangkap, peningkatan konsumsi ikan, ekspor hasil perikanan, pendapatan nelayan, perluasan lapangan kerja, serta memberikan dukungan terhadap pembangunan di bidang industri dan menunjang pembangunan daerah. Beberapa indikator makro pencapaian pembangunan perikanan tangkap berdasarkan Statistik Perikanan Tangkap Indonesia, diuraikan berikut ini.

1) Produksi

Pada periode 2001-2003, perkembangan produksi perikanan tangkap meningkat rata-rata 5,15%, yaitu dari 4.276.720 ton pada tahun 2001 menjadi 4.728.320 ton pada tahun 2003 (Tabel 1).

Tabel 1 Perkembangan Produksi Perikanan Tangkap Tahun 2001 - 2003 Produksi (Ton) Wilayah Perairan 2001 2002 1) 2003 2) Rata-rata Kenaikan (%) Laut 3.966.480 4.205.370 4.406.200 5,40 Perairan Umum 310.240 316.030 322.120 1,90 Jumlah 4.276.720 4.521.400 4.728.320 5,15 Keterangan : 1) Angka sementara, 2) Angka proyeksi

Sumber : Ditjen Perikanan Tangkap, 2004

Dari data di atas terlihat bahwa laju produksi penangkapan di laut lebih tinggi dibandingkan dengan produksi penangkapan di perairan umum. Dalam periode 2001-2003, produksi penangkapan di laut meningkat rata-rata per tahun sebesar 5,40% dari 3.966.480 ton pada tahun 2001 menjadi 4.406.200 ton pada tahun 2003. Pada periode yang sama, produksi penangkapan di perairan umum hanya mengalami peningkatan 1,90% dari 310.240 ton pada tahun 2001 menjadi 322.120 ton pada tahun 2003. Jika dibandingkan dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 5,12 juta ton, maka produksi tahun 2003 telah mencapai 86,05% dari JTB.

2) Konsumsi Ikan Dalam Negeri

Seiring dengan peningkatan produksi, penyediaan ikan untuk konsumsi dalam negeri juga mengalami peningkatan. Jika pada tahun 2001 total penyediaan ikan hasil tangkapan dan budidaya untuk konsumsi dalam negeri mencapai 4,69

juta ton, maka pada tahun 2003 telah mencapai 5,30 juta ton. Dengan demikian, pada periode 2001 – 2003 terjadi kenaikan konsumsi ikan dalam negeri rata-rata 6,41% per tahun. Data selengkapnya tersaji pada Tabel 2.

Tabel 2 Penyediaan Ikan untuk Konsumsi Dalam Negeri Tahun 2001 - 2003 Konsumsi Uraian 2001 2002 1) 2003 2) Rata-rata Kenaikan (%) Konsumsi Total (1.000 ton) 4.692,96 4.841,55 5.308,68 6,41 Konsumsi per Kapita

(Kg/kapita/tahun) 22,47 22,84 24,67 4,83 Keterangan : 1) Angka sementara, 2) Angka proyeksi

Sumber : Ditjen Perikanan Tangkap, 2004

Kendati demikian, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, konsumsi ikan per kapita per tahun di Indonesia tergolong masih sangat kecil. Sebagai contoh, pada tahun 2003 konsumsi ikan dalam negeri baru mencapai 24,67 kg per kapita. Artinya, rata-rata penduduk Indonesia pada tahun 2003 hanya mengonsumsi ikan 67,5 gram (kurang dari satu ons) per hari.

Kenyataan diatas menunjukkan bahwa kampanye gerakan makan ikan sebagai makanan yang nikmat, sarat gizi, dan menyehatkan harus terus digelorakan dengan berbagai pendekatan dan media penyampaian. Di sisi lain, konsumsi ikan juga terkait erat dengan kondisi ekonomi masyarakat. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, produk perikanan yang beredar di pasaran masih terasa mahal. Dengan demikian, konsumsi ikan dalam negeri memiliki peluang lebih besar untuk meningkat jika kondisi makro perekonomian nasional semakin membaik.

3) Ekspor - Impor

Perkembangan perikanan Indonesia juga dapat dilihat dari neraca ekspor- impor. Data tahun 2001-2003 sebagaimana terlihat pada Tabel 4 menunjukkan bahwa ekspor perikanan Indonesia terus meningkat. Sebaliknya, impor menunjukkan kecenderungan yang terus menurun. Fakta yang cukup menarik untuk dianalisis, kenaikan rata-rata ekspor per tahun dari sisi volume dan dari sisi nilai menunjukkan angka yang cukup berbeda, yakni masing- masing 19,61% dan 11,92%. Hal ini patut menjadi perhatian bersama, apakah perbedaan persentase

ekspor dari sisi nilai dan volume tersebut terjadi karena adanya penurunan mutu produk perikanan yang diekspor atau karena hal lain, seperti harga internasional produk perikanan yang mengalami penurunan (Ditjen Perikanan Tangkap, 2004).

Kecenderungan lebih rendahnya persentase nilai (rupiah) perkembangan ekspor produk perikanan dibandingkan dengan perkembangan volume (ton) terjadi di hampir semua jenis ikan. Perbedaan yang paling mencolok terjadi pada komoditas ikan hias. Dari sisi volume, ikan hias mengalami peningkatan rata-rata 25,98% per tahun, namun dari sisi nilai komoditas ini hanya mengalami peningkatan rata-rata 13,56% per tahun. Perbedaan yang cukup mencolok juga terjadi pada komoditas tuna/cakalang/tongkol dengan perkembangan volume dan nilai masing- masing 18,93% dan 12,50% (Ditjen Perikanan Tangkap, 2004).

Kondisi yang sebaliknya terjadi pada sisi impor. Secara umum impor hasil perikanan pada periode 2001-2003 memang mengalami penurunan. Namun, rata- rata penurunan impor menunjukkan bahwa penurunan dari sisi nilai lebih kecil dibanding dengan penurunan dari sisi volume, masing- masing 5,38% dan 6,45%. Perbedaan signifikan terjadi pada komoditas tepung binatang berkulit keras/lunak. Untuk komoditas ini, pada sisi volume mengalami penurunan sebesar 26,93%, tapi dari sisi nilai justru mengalami peningkatan sebesar 6,83% (Ditjen Perikanan Tangkap, 2004).

Tabel 3 Perkembangan Ekspor Impor Perikanan Tahun 2001 – 2003

2001 2002 1) 2003 2)

KOMODITAS

Nilai % Nilai % Nilai %

Perubahan Rata-rata (%) Volume (Ton) 487.116 100 565.739 100 696.290 100 19,61 - Udang 128.830 26,45 124.765 22,05 150.130 21,56 8,59 - Tuna/Cakalang/Tongkol 84.205 17,29 92.797 16,40 118.460 17,01 18,93 - Rumput Laut 27.874 5,72 28.560 5,05 36.540 5,25 15,20 - Mutiara 21,75 0,00 5,87 0,00 9,92 0,00 - 2,01 - Ikan Hias 2.682 0,55 3.514 0,62 4.250 0,61 25,98 - Lainnya 243.503 49,99 316.098 55,88 386.900 55,57 26,11 Nilai (US$ 1.000) 1.631.899 100 1.570.353 100 2.004.067 100 11,92 - Udang 934.986 57,29 836.563 53,27 1.064.146 53,10 8,34 - Tuna/Cakalang/Tongkol 218.991 13,42 212.426 13,53 271.894 13,57 12,50 - Rumput Laut 17.230 1,06 15.785 1,01 21.770 1,09 14,76 - Mutiara 25.257 1,55 11.471 0,73 19.555 0,98 7,95 - Ikan Hias 14.603 0,89 15.054 0,96 18.671 0,93 13,56 E k s p o r - Lainnya 420.832 25,79 479.054 30,50 608.031 30,34 20,38 Volume (Ton) 162.472 100 124.010 100 136.870 100 - 6,65 - Ikan segar/beku 12.657 7,79 16.148 13,02 17.900 13,08 19,22 - Ikan kaleng 976 0,60 1.495 1,21 1.830 1,34 37,79 - Tepung Ikan 98.139 60,40 61.301 49,43 66.120 48,31 - 14,84 -Tepung Binatang Berkulit Keras/Lunak 14.166 8,72 7.149 5,76 6.840 5,00 - 26,93 - Lainnya 36.534 22,49 37,917 30,58 44.180 32,28 10,15 Nilai (US$ 1.000) 103.616 100 91.217 100 92.312 100 - 5,38 - Ikan segar/beku 10.254 9,90 10.404 11,41 10.404 11,27 0,73 - Ikan kaleng 1.414 1,36 1.650 1,81 1.650 1,79 8,34 - Tepung Ikan 50.346 48,59 37.628 41,25 37.628 40,76 - 12,63 -Tepung Binatang Berkulit Keras/Lunak 4.956 4,78 4.017 4,40 5.327 5,77 6,83 I m p o r - Lainnya 36.646 35,37 37.518 41,13 37.303 40,41 0,90

Keterangan : 1) Angka sementara, 2) Angka proyeksi

Sumber : Ditjen Perikanan Tangkap, 2004

4) Armada Kapal Perikanan

Peningkatan produksi penangkapan di laut, tidak terlepas dari bertambahnya sarana penangkap ikan yang dioperasikan dan makin majunya teknologi yang diterapkan sehingga terjadi kenaikan produktivitas. Pada periode 2001-2003, jumlah perahu/kapal perikanan di laut menunjukan peningkatan rata-rata sebesar 0,64%, yaitu dari 468.521 buah pada tahun 2001 menjadi 474.540 buah pada tahun 2003 (Ditjen Perikanan Tangkap, 2004).

Peningkatan rata-rata per tahun jumlah kapal motor terbesar terjadi pada kapal motor yang berukuran antara 50 – 100 GT sebesar 99,60% yaitu dari 1.602 buah kapal pada tahun 2001 menjadi 5.510 buah kapal pada tahun 2003, disusul kemudian oleh kapal motor berukuran 30-50 GT (91,13%) dan kapal motor

ukuran 100-200 GT (74,21%). Penurunan jumlah kapal terjadi pada kapal tanpa motor yang mengalami penurunan rata-rata sebesar 2,38% yaitu dari 241.714 buah kapal pada tahun 2001 menjadi 230.360 buah pada tahun 2003 (Ditjen Perikanan Tangkap, 2004). Hal tersebut sejalan dengan program motorisasi dan dorongan untuk lebih memanfaatkan ZEEI dengan menggunakan kapal motor berukuran besar. Selengkapnya, perkembangan jumlah kapal perikanan Indonesia periode 2001-2003 tersaji pada Tabel 4.

Tabel 4 Perkembangan Jumlah Kapal Perikanan Tahun 2001-2003

Jumlah

No. Jenis Kapal

2001 2002 1) 2003 2)

Rata-rata Kenaikan

(%)

1 Perahu Tanpa Motor 241.714 237.270 230.360 - 2,38

2 Perahu Motor Tempel 120.054 120.760 125.580 2,29

3 Kapal Motor 106.753 114.690 118.600 5,42 - KM < 5 GT 70.925 71.680 72.060 0,80 - KM 5-10 GT 22.641 23.100 23.610 2,12 - KM 10-20 GT 6.006 6.370 6.880 7,03 - KM 20-30 GT 3.008 3.370 3.780 12,10 - KM 30-50 GT 781 2.150 2.300 91,13 - KM 50-100 GT 1.602 4.380 5.510 99,60 - KM 100-200 GT 1.295 2.920 3.590 74,21 - KM = 200 GT 495 720 870 33,14 Jumlah 468,521 472.720 474.540 0,64

Keterangan : 1) Angka sementara, 2) Angka proyeksi Sumber : Ditjen Perikanan Tangkap, 2003

Dalam pengembangan perikanan kedepan, maka salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah peningkatan kemampuan armada perikanan, terutama yang dimiliki oleh nelayan skala kecil. Pada saat yang sama, secara bertahap tetapi pasti kita harus mengadakan rasionalisasi intensitas penangkapan (jumlah nelayan atau jumlah kapal ikan) pada setiap wilayan perairan sesuai dengan potensi lestarinya.

Dengan kata lain fishing effort pada wilayah-wilayah perairan yang telah

overfishing, seperti Selat Malaka, Pantai Utara Jawa dan lainnya sudah saatnya dikurangi. Selanjutnya, nelayan-nelayan ini ditingkatkan kemampuannya untuk beroperasi di wilayah perairan yang masih belum dimanfaatkan secara optimal (underutilization). Atau kelebihan nelayan dari wilayah yang telah mengalami

overfishing ini disalurkan pada usaha budidaya perikanan, industri penanganan dan pengolahan hasil perikanan, serta sektor ekonomi lainnya (Dahuri, 2002).

Upaya peningkatan kemampuan armada perikanan baik nasional maupun di masing- masing Provinsi, Kabupaten dan Kota merupakan langkah untuk menjadikan nelayan sebagai tuan rumah di lautnya sendiri. Para nelayan dengan armada yang lebih modern diharapkan mampu beroperasi di perairan teritorial bahkan ZEEI untuk dapat memanfaatkan sumberdaya yang ada sekaligus menjalankan fungsi pengawasan terhadap praktek ilegal kapal asing.

5) Jumlah Nelayan

Pada periode 2001-2003, jumlah nelayan juga terus mengalami peningkatan. Jika pada tahun 2001 nelayan Indonesia mencapai 3.286.500 orang, maka pada 2003 menjadi 3.476.200 orang (Ditjen Perikanan Tangkap, 2004). Dengan demikian, pada kurun waktu tersebut terjadi kenaikan jumlah nelayan rata-rata 2,86% per tahun. Selengkapnya tersaji pada Tabel 5.

Tabel 5 Perkembangan Jumlah Nelayan Tahun 2001 - 2003 Jumlah Nelayan (orang)

No. Wilayah Perairan

2001 20021) 20032) Rata-Rata Kenaikan (%) 1 Laut 2.562.945 2.573.300 2.673.760 2,15 2 Perairan Umum 723.555 753.630 802.440 5,32 Jumlah 3.286.500 3.326.930 3.476.200 2,86 Keterangan : 1) Angka sementara, 2) Angka proyeksi

Sumber : Ditjen Perikanan Tangkap, 2004

Adanya peningkatan jumlah nelayan cukup menggembirakan karena menunjukkan bahwa sektor perikanan tangkap terus membuka lapangan kerja. Namun di sisi lain, hal ini juga menjadi fakta yang patut mendapat perhatian bersama karena jika dibandingkan dengan produksi perikanan maka perbandingan jumlah nelayan dengan skala produksinya menjadi sangat kecil. Sebagai contoh, pada tahun 2003 produktivitas nelayan hanya 1,36 ton per orang. Artinya, jumlah tangkapan nelayan per hari hanya sekitar 3,73 kg saja. Gambaran selengkapnya tersaji pada Tabel 6.

Tabel 6 Produktivitas Nelayan Tahun 2001 – 2003

Uraian 2001 20021) 20032)

Produksi (ton) 4.276.720 4.521.400 4.728.320 Jumlah Nelayan (Orang) 3.286.500 3.326.930 3.476.200 Produktivitas ton/tahun/ orang 1,30 1,36 1,36

Nelayan kg/hari/orang 3,57 3,72 3,73

Keterangan : 1) Angka sementara, 2) Angka proyeksi Sumber : Ditjen Perikanan Tangkap, 2004

Jika dibandingkan terhadap jumlah tangkapan yang diperbolehkan, yakni 5,12 juta ton per tahun, maka jumlah nelayan sekarang ini masih terlihat terlalu banyak. Sebagai contoh, dengan jumlah nelayan tahun 2003, maka produktivitas nelayan hanya akan mencapai 1,56 ton per orang per tahun, atau hanya 4,27 kg/orang/hari (Ditjen Perikanan Tangkap, 2004).

Fakta diatas menunjukkan bahwa diperlukan beberapa upaya agar jumlah nelayan mencapai titik yang optimal. Upaya-upaya tersebut antara lain: (1) Relokasi nelayan dari wilayah yang overfishing ke wilayah yang underutilized; (2) Meningkatkan kemampuan nelayan artisanal menjadi nelayan modern melalui modernisasi alat tangkap dan peningkatan daya jelajah kapal; (3) Mengalihkan sebagian nelayan penangkap ke pembudidaya ikan; dan (4) Mengalihkan sebagian nelayan di bidang penangkapan ikan ke pekerjaan lain, terutama yang masih terkait dengan sub sektor perikanan, misalnya bidang pengolahan dan pemasaran.

Dokumen terkait