5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.5 Keragaan Desain Kapal Perikanan
Pelaksanaan pekerjaan basic design kapal perikanan ini didahului dengan mengadakan survei di lapangan terhadap kapal-kapal perikanan yang sudah dibangun dan sudah dioperasikan. Survei dilakukan di Ternate dengan beberapa daerah yaitu Dufa-dufa, Sangaji dan Jailolo. Pada saat survei, telah diamati 3 (tiga) jenis kapal penangkap ikan yaitu : kelas 3 GT, 10 GT dan 15 GT dengan masing- masing alat tangkap pole and line, rawai, gillnet, purse seine dan
handline. Setelah dilakukan kajian lebih lanjut melalui kuesioner dan dianalisis dengan menggunakan metode AHP, yang terpilih adalah Kapal 10 GT dengan alat tangkap pole and line. Dalam kajian basic design hanya difokuskan pada alternatif yang terpilih yaitu kapal ikan 10 GT dengan alat tangkap pole and line, dan diharapkan sebagai kajian desain kapal multipurpose dimana kapal yang ada di Ternate mayoritas kapal skala kecil.
Data lapangan dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui karakteristik kapal- kapal yang diamati. Disamping itu, desain kapal-kapal tersebut dikaji untuk mengetahui apakah kapal telah didesain dengan baik dan memenuhi ketentuan yang berlaku. Proses selanjutnya adalah membuat basic design kapal perikanan. Pembuatan desain ini mengacu pada pengamatan lapangan, terutama pada karakteristik budaya daerah.
Apabila kapal-kapal perikanan yang diamati, setelah dikaji ternyata memenuhi kriteria desain yang baik, maka kapal tersebut akan digambar ulang. Namun jika kapal tersebut masih belum memenuhi kriteria desain yang baik, maka dibuat desain yang baru.
Tahap ini ditujukan terutama untuk menganalisis data dari lapangan yang meliputi kondisi fisik kapal penangkap ikan, dan faktor keamanan serta keselamatannya, operasi penangkapan dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan, spesifikasi teknis standar untuk masing- masing kapal yang dikaji serta analisis finansialnya. Dari analisis ini diupayakan untuk menghasilkan rumusan yang dijadikan sebagai hasil akhir dari studi dalam bentuk rekomendasi.
(1) Kapal Perikanan Kelas 10 GT
Kapal kelas 10 GT yang disurvei pada studi ini adalah kapal perikanan yang menggunakan alat tangkap pole and line. Survei dilaksanakan di lapangan dengan cara pengukuran kapal, pengamatan langsung terhadap aspek fisik serta wawancara dengan para nelayan yang mengoperasikan kapal serta pihak galangan dan perajin kapal yang membangun kapal.
i) Ukuran Pokok Kapal
Dari hasil pengukuran fisik kapal diperoleh data ukuran pokok kapal yang disajikan pada Tabel 35.
Tabel 35 Ukuran Pokok Kapal Kelas 10 GT yang disurvei
NO UKURAN POKOK SATUAN (m)
1. Panjang Seluruh Kapal (LOA) 14.15
2. Panjang Deck Kapal (LDL) 13.50
3. Panjang Garis Air (LWL) 11.81
4. Lebar Maksimum (Bmax) 3.43
5. Lebar Dek (BDK) 3.43
6. Lebar Garis Air (BWL) 3.26
7. Tinggi Dek (DDK) 1.45
8. Freeboard (Fb) 0.37
9. Sarat (T) 1.08
ii) Gross Tonnage
Pada saat survei di lapangan, kelas Gross Tonnage kapal dihitung dan menggunakan beberapa asumsi. Gross Tonnage kapal yang sesungguhnya masih belum dapat dihitung dengan cermat, apabila koefisien balok (CB) kapal masih belum diketahui. Koefisien balok kapal yang sesungguhnya bisa dihitung setelah data pengukuran di lapangan dianalisis. Dari hasil analisis koefisien balok diperoleh dan digunakan untuk menghitung Gross Tonnage kapal.
Berdasarkan KEPMEN No.10 tahun 2003 tentang Perizinan Usaha Penangkapan, pasal 16 ayat (3) huruf (a) dan berdasarkan rumus International Formula for Tonnage Measurement of Ships 1969, ditetapkan bahwa perhitungan GT untuk kapal :
(1) Panjang diatas 24 m dihitung berdasarkan rumus pendekatan GT = V. k, dimana (V) adalah volume kapal dan (k) adalah konstanta yang didapat dari tabel konstanta untuk m3 volume kapal.
(2) Panjang dibawah 24 m dihitung dengan rumus : (L x B x D x Cb) : 2,83.
Dimana :
Cb = Koefisien block, untuk : Pukat Ikan = 0.8
Purse Seine = 0.6 s/d 0.8 Long Line = 0.6
iii) Rencana Garis
Berdasarkan hasil pengukuran fisik kapal di lapangan, rencana garis kapal kelas 10 GT yang disurvei digambar dan disajikan dibawah ini.
iv) Nilai Parameter Hidrostatik
Karakteristik kapal dapat dibaca pada Tabel 36 yang dihitung berdasarkan rencana garis. Hasil perhitungan ini berdasarkan sarat air 1.08 meter dan 1.45 meter.
Tabel 36 Nilai Parameter Hidrostatik Kapal 10 GT pada Sarat Air 1.08 meter
NO URAIAN UKURAN SATUAN KET.
I. DIMENSION
1. Panjang Seluruh Kapal (LOA) 14.15 m
2. Panjang Deck Kapal (LDL) 13.50 m
3. Panjang Garis Air (LWL) 11.81 m
4. Lebar Maksimum (Bmax) 3.43 m
5. Lebar Garis Air (BWL) 3.26 m
6. Tinggi Deck (DDK) 1.45 m 7. Sarat (T) 1.08 m 8. Volume 16.14 m3 9. Displacement 16.54 ton II. COEFFICIENTS 1. Prismatic 0.595 2. Block 0.390 3. Midship 0.655 4. Waterplane 0.733 III. RATIOS 1. L / B 3.63 2. B / T 3.02 IV. CENTROIDS 1. LCB 8.38 m 53.2% Aft 2. LCF 8.74 m 56.2% Aft 3. VCB 0.71 m V. AREAS 1. Waterplane 28.19 m2
Tabel 37 Nilai Parameter Hidrostatik Kapal 10 GT pada Sarat Air 1.45 meter
NO URAIAN UKURAN SATUAN KET.
I. DIMENSION
1. Panjang Seluruh Kapal (LOA) 14.15 m
2. Panjang Deck Kapal (LDL) 13.50 m
3. Panjang Garis Air (LWL) 12.88 m
4. Lebar Maksimum (Bmax) 3.43 m
5. Lebar Garis Air (BWL) 3.39 m
6. Tinggi Deck (DDK) 1.45 m 7. Sarat (T) 1.45 m 8. Volume 27.86 m3 9. Displacement 28.56 ton II. COEFFICIENTS 1. Prismatic 0.611 2. Block 0.442 3. Midship 0.721 4. Waterplane 0.762 III. RATIOS 1. L / B 3.80 2. B / T 2.33 IV. CENTROIDS 1. LCB 8.58 m 53.5% Aft 2. LCF 8.58 m 56.6% Aft 3. VCB 0.94 m V. AREAS 1. Waterplane 33.25 m2
v) Parameter Bentuk
Pada Tabel 38 disajikan parameter bentuk kapal 10 GT dengan alat tangkap
pole and line.
Tabel 38 Parameter bentuk kapal 10 GT yang disurvei
NO PARAMETER NILAI IDEAL NILAI SURVEI
1. L / B (rasio pjg lbr) 3.10 ~ 4.20 3.630 2. B/T (rasio lebar sarat) 2.00 ~ 3.20 3.020
3. CM (coefisien midship) 0.50 ~ 0.80 0.655
4. CP ( Coefisien prismatik) 0.55 ~ 0.65 0.595
5. LCB % (posisi ttk apung) - 6.00 ~ 1.00 - 1.800
6. ½
a (
sudut basah)
15.00 ~ 34.00 22.00 vi) ScantlingUntuk menganalisis konstruksi kapal dilakukan pencatatan terhadap bagian- bagian konstruksi kapal. Pada tabel dibawah ini disajikan scantling kapal 10 GT dan dibandingkan dengan ketentuan yang berlaku.
Tabel 39 Scantling Kapal 10 GT yang Disurvei serta Ketentuan Sesuai BKI
NO BAGIAN KONSTRUKSI UKURAN
SURVEI
UKURAN BKI
Keterangan
1. Lunas b x d 100 x 120 185 x 275 Kurang Sesuai 2. Linggi Haluan b x d 100 x 100 155 x 230 Kurang Sesuai 3. Linggi Buritan b x d 100 x 100 155 x 245 Kurang Sesuai 4. Gading Lengkung t x d 95 x 100 65 x 75 Sesuai 5. Gading Utama t x d 120 x 150 65 x 100 Sesuai
6. Wrang t x d - 60 x 180 -
7. Galar Balok t x d 150 x 45 210 x 60 Kurang Sesuai 8. Galar Balok Kim t x d 200 x 50 210 x 55 Kurang Sesuai
9. Kulit Luar t 40 40 Sesuai
10. Balok Geladak b x t 110 x 65 85 x 85 Sesuai
11. Geladak t 40 42 Sesuai
12. Pagar (Railing) d x t 200 x 35 500 x 30 Kurang Sesuai 13. Sekat-Sekat Kedap Air t 40 40 Sesuai
14. Palkah Ikan t 40 45 Sesuai
15. Pondasi Mesin d x t 200 x 250 170 x 210 Sesuai 16. Jarak Gading-Gading a0 400 330 Sesuai
Keterangan : b = lebar balok, d = tinggi balok, t = tebal balok a0 = jarak gading-gading
vii) Perhitungan Gross Tonnage Kapal
Perhitungan Gross Tonnage Kapal untuk kapal dibawah 24 m dihitung dengan rumus : (L x B x D x Cb) : 2,83. Dimana Cb = Koefisien block dari kapal. Untuk Cb Pukat Ikan = 0.8, Purse Seine = 0.6 s/d 0.8, Long Line = 0.6, untuk yang lain 0.5 s/d 0.6 ( KEPMEN No. 10 Tahun 2003).
GT = (11,81 X 3,43 X 1,45 X 0,55) : 2,83 = 11,415
Tabel 40 Hasil Survei Ukuran Kapal 10 GT
NO URAIAN UKURAN SATUAN
1. Panjang Seluruh Kapal (LOA) 14.15 m
2. Panjang Deck Kapal (LDL) 13.50 m
3. Panjang Garis Air (LWL) 11.81 m
4. Lebar Maksimum (Bmax) 3.43 m
5. Lebar Garis Air (BWL) 3.26 m
vii) Rancangan Umum Kapal Pole and line 10 GT dan Purse Seine 10 GT
5.5.2 Aspek Ekonomi Operasional Kapal
Aspek ekonomi pengoperasian kapal akan mengkaji mengenai keterkaitan pengoperasian kapal penangkapan ikan terhadap perekonomian, khususnya kelayakan usaha penangkapan secara finansial. Pengoperasian atau usaha penangkapan ikan akan selalu dipengaruhi dan sekaligus mempengaruhi perekonomian, baik secara regional maupun nasional bahkan juga internasional. Oleh karena itu, kajian ekonomi khususnya dari sisi finansial pengoperasian kapal penangkapan ikan perlu dilakukan untuk melihat kelayakan usaha tersebut.
Ukuran kelayakan suatu usaha biasanya berdasarkan pada dua kriteria yaitu nilai keuntungan bersih saat ini yang biasanya dikenal dengan istilah Net Present Value (NPV) dan prosentase penerimaan internal yang dikenal dengan istilah
Internal Rate of Return (IRR). Kedua kriteria dasar ini berangkat dari asumsi bahwa nilai uang saat ini adalah lebih besar bila dibandingkan dengan nilai uang pada masa yang akan datang. Untuk dapat menghitung nilai NPV atau IRR akan dilakukan beberapa perhitungan awal yang meliputi biaya investasi, biaya operasi dan hasil operasi. Dalam penelitian ini, kriteria yang digunakan adalah IRR. Selanjutnya, kelayakan usaha ini akan dikaji dengan mengaitkannya pada pagu kredit bank dan juga pola penangkapan ikan yang dewasa ini dikembangkan dalam usaha penangkapan ikan.
Usaha penangkapan ikan dengan pola tersebut akan dikaitkan dengan pembentukan koperasi perikanan/KUD Mina. Diharapkan dari kajian ekonomi khususnya dari sudut pandang finansial ini akan diperoleh alternatif pengusahaan yang produktif, layak dan dapat dilaksanakan oleh kelompok nelayan yang tergabung dalam koperasi perikanan.
1) Biaya Investasi Kasko Kapal
Biaya Investasi meliputi biaya pengadaan kapal dan alat tangkapnya dengan rincian seperti Tabel 41 dibawah ini.
Tabel 41 Biaya Investasi Kapal Ukuran 10 GT dengan Pole and Line
No Jenis Biaya Harga (Rp.) Umur Ekonomis (Tahun) Penyusutan (%) Nilai Penyusutan (Rp.) 1. Kasko Lengkap 37.471.800 10 10 3.747.180 2. Permesinan 46.344.900 10 10 4.634.490 3. Perlengkapan Kapal 9.881.300 10 10 988.130 4. Alat Tangkap 3.000.000 3 33.33 1.000.000 Jumlah : 96.698.000 10.369.800 2) Biaya/Modal Kerja
Biaya atau Modal Kerja yang dibutuhkan adalah modal kerja untuk operasi penangkapan selama satu tahun, yang rinciannya disajikan pada Tabel 42 dibawah ini.
Tabel 42 Biaya Modal Kerja Kapal Ukuran 10 GT dengan Pole and Line
NO Jenis Biaya Per Trip/Hari (Rp.) Per Tahun (Rp.)
1. Umpan 1.800.000 18.000.000 2. Bahan Bakar 2.200.000 22.000.000 3. Oli 180.000 1.800.000 4. Ransum 300.000 3.000.000 5. Air Tawar 8.000 80.000 6. Es Balok 600.000 6.000.000 7. Upah ABK (*) - - 8. Perawatan Kapal - 1.350.000
9. Perawatan Alat Tangkap - 300.000
10. Lain- lain - 200.000
Jumlah : - 52.730.000
(*) : Upah ABK dibayarkan berdasarkan prosentase dari hasil penjualan setelah dikurangi biaya operasional.
3) Hasil Pengamatan Survei Kapal Perikanan 10 GT : i) Rasio L / B = 3.630.
Rasio L / B kapal kelas 10 GT ini masuk nilai ideal yang ditetapkan. Oleh karena itu, nilai L / B kapal ini sudah sesuai peraturan BKI.
ii) Rasio B / T = 3.02.
Rasio B / T dari kapal kelas 3 GT ini masuk nilai ideal yang ditetapkan. Oleh karena itu, nilai L / B kapal ini sudah sesuai peraturan BKI.
iii) Koefisien bidang lintang tengah (CM) = 0.655.
Koefisien bidang lintang tengah kapal masuk nilai ideal yang ditetapkan. iv) Letak titik tekan (LCB) berada 0,532%.
LCB di depan midship adalah memenuhi kriteria yang ditetapkan.
v) Half Angle of Entrance Of Load Water Line (½
a
) = 13° adalah dibawah nilai ideal yang telah ditetapkan.vi) Dari hasil perhitungan Gross Tonnage kapal adalah 11,415 yang ternyata lebih besar dari perkiraan kasar dimana kapal dianggap masuk kelas 10 GT. vii) Jarak gading- gading kapal survei 500 mm, jauh lebih besar dari yang
ditetapkan oleh BKI yaitu 280 mm. Kapal yang disurvei pada umumnya tidak memasang wrang, sedangkan peraturan BKI harus dipasang wrang. viii) Semua parameter bentuk, scantling maupun kapasitas kapal akan di design
baru untuk menjadi basic design yang tetap dan akan diusahakan mempertahankan bentuk yang spesifik maupun nilai budaya dari daerah Ternate.
5.6 Linear Goal Programming
Linear Goal Programming dalam penelitian ini bertujuan untuk mengalokasikan jumlah armada dari teknologi penangkapan yang terpilih. Dari analisis yang dilakukan sebelumnya, teknologi penangkapan yang terpilih adalah : pole and line
dengan ukuran armada 10 - 30 GT, purse seine dengan ukuran armada 10 - 30 GT, dan bottom handline dengan ukuran armada < 10 GT. Untuk pengolahan data, pole and line dengan ukuran armada 10 - 30 GT disimbolkan dengan X1, purse seine
dengan ukuran armada 10 - 30 GT disimbolkan dengan X2, dan bottom handline
dengan ukuran armada < 10 GT disimbolkan dengan X3.
Tujuan yang ingin dicapai dalam analisis ini antara lain adalah :
1. Mengoptimumkan pemanfaatan sumberdaya ikan unggulan di Kota Ternate. Sumberdaya ikan dominan dan unggulan di Kota Ternate yang dioptimumkan adalah : cakalang, tuna (madidihang), layang, tongkol, dan ikan demersal.
a. Cakalang
Cakalang di tempat penelitian secara dominan ditangkap dengan menggunakan satu buah alat tangkap yaitu pole and line, dalam hal ini secara khusus pole and line dengan ukuran armada 10 - 30 GT. Berdasarkan hasil estimasi perhitungan potensi lestari, nilai MSY untuk cakalang di perairan Maluku Utara sebesar 21284,36 ton, sedangkan estimasi MSY untuk perairan Ternate adalah sebesar 60 % MSY Maluku Utara yaitu sebesar 12770,62 ton. Nilai potensi yang digunakan untuk pengalokasian ini, adalah nilai jumlah tangkap yang dibolehkan (JTB) yaitu 80 % dari MSY cakalang di Ternate atau sebesar 10216,49 ton.
Persamaan kendala tujuan dari permasalahan diatas adalah : DB1 - DA1 + 427,64X1 = 10216,49
b. Tuna (madidihang)
Tuna (madidihang) di tempat penelitian secara dominan tertangkap dengan menggunakan alat tangkap pole and line khususnya dengan armada ukuran 10 – 30 GT. Berdasarkan hasil estimasi perhitungan potensi lestari, nilai MSY untuk Tuna di perairan Maluku Utara sebesar 7430,33 ton, sedangkan estimasi MSY untuk perairan Ternate adalah sebesar 60 % MSY Maluku Utara yaitu sebesar 4458,20 ton. Nilai potensi yang digunakan untuk pengalokasian ini,
adalah nilai jumlah tangkap yang dibolehkan (JTB) yaitu 80 % dari MSY tuna di Ternate atau sebesar 3566,56 ton.
Persamaan kendala tujuan dari permasalahan diatas adalah : DB2 – DA2 + 96,79X1 = 3566,56
c. Layang
Layang di Kota Ternate tertangkap dengan menggunakan purse seine, dalam hal ini dipilih dengan menggunakan armada ukuran 10 – 30 GT. Berdasarkan hasil estimasi perhitungan potensi lestari, nilai MSY untuk layang di perairan Maluku Utara sebesar 13041,79 ton, sedangkan estimasi MSY untuk perairan Ternate adalah sebesar 60 % MSY Maluku Utara yaitu sebesar 7825,07 ton. Nilai potensi yang digunakan untuk pengalokasian ini, adalah nilai jumlah tangkap yang dibolehkan (JTB) yaitu 80 % dari MSY cakalang di Ternate atau sebesar 6260,06 ton.
Persamaan kendala tujuannya adalah sebagai berikut : DB3 – DA3 + 1449,07X2 = 6260,06
d. Tongkol
Tongkol di Kota Ternate tertangkap dengan menggunakan alat tangkap purse seine, khususnya dengan armada ukuran 10 – 30 GT. Berdasarkan hasil estimasi perhitungan potensi lestari, nilai MSY untuk tongkol di perairan Maluku Utara sebesar 12371,55 ton, sedangkan estimasi MSY untuk perairan Ternate adalah sebesar 60 % MSY Maluku Utara yaitu sebesar 7422,93 ton. Nilai potensi yang digunakan untuk pengalokasian ini, adalah nilai jumlah tangkap yang dibolehkan (JTB) yaitu 80 % dari MSY cakalang di Ternate atau sebesar 5938,34 ton.
Persamaan kendala tujuan yang diperlukan adalah : DB4 – DA4 + 1045,78X2 = 5938,34
e. Demersal
Ikan demersal di Kota Ternate tertangkap dengan menggunakan bottom handline, khususnya dengan armada < 10 GT. Berdasarkan hasil estimasi perhitungan potensi lestari, nilai MSY untuk ikan demersal di perairan Maluku Utara sebesar 101872,08 ton, sedangkan estimasi MSY untuk perairan Ternate adalah sebesar 60 % MSY Maluku Utara yaitu sebesar 61123,25 ton. Nilai potensi yang digunakan untuk pengalokasian ini, adalah nilai jumlah tangkap
yang dibolehkan (JTB) yaitu 80 % dari MSY ikan demersal di Ternate atau sebesar 48898,60 ton.
Persamaan kendala tujuan yang diperlukan adalah : DB5 – DA5 + 140,76X3 = 48898,60
2. Memaksimumkan penyerapan tenaga kerja di Ternate.
Untuk mengalokasikan tenaga kerja (nelayan) di Ternate, maka diperlukan data jumlah nelayan. Jumlah nelaya n di Kota Ternate adalah sebanyak 5174 orang. Dari hasil wawancara dan pengamatan di lapangan diketahui bahwa alat tangkap
pole and line dengan ukuran armada 10 – 30 GT rata-rata membutuhkan 24 tenaga kerja/unit, alat tangkap purse seine dengan ukuran armada 10 - 30 GT rata- rata memerlukan 20 tenaga kerja/unit, dan alat tangkap bottom handline dengan ukuran armada < 10 GT rata-rata membutuhkan 4 tenaga kerja/unit. Dengan demikian, persamaan kendala tujuan yang dibutuhkan adalah sebagai berikut : DB6 + 24X1 + 20X2 + 4X3 = 5174
3. Meminimumkan penggunaan BBM di Kota Ternate.
Untuk mengetahui pengalokasian BBM di Kota Ternate maka perlu diketahui ketersediaan BBM disana, serta penggunaan BBM pada masing- masing alat tangkap. BBM dalam hal ini dibagi dalam dua kategori, yakni solar dan minyak tanah.
a. Solar
Berdasarkan data dari Kantor Cabang Pertamina Ternate, ketersediaan solar di Kota Ternate adalah sebesar 134000 kiloliter. Persamaan kendala tujuan dari permasalahan ini adalah sebagai berikut :
64,20X1 + 13,52X2 + 10,80X3 - DA7 = 134.000
b. Minyak tanah
Berdasarkan data dari Kantor Cabang Pertamina Ternate, ketersediaan minyak tanah di Kota Ternate adalah sebesar 612.000 kiloliter. Persamaan kendala tujuan dari permasalahan tersebut adalah sebagai berikut :
4. Memaksimumkan nilai produksi usaha penangkapan ikan di Kota Ternate.
Berdasarkan data yang tersedia maka digunakan data nilai produksi yang telah diperoleh dari masing- masing teknologi penangkapan terpilih selama ini untuk menggambarkan hasil usaha yang dicapai. Berdasarkan data statistik perikanan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ternate, nilai produksi penangkapan pada tahun 2004 adalah sebesar Rp 42.203.700.000.
Persamaan kendala tujuan dari permasalahan ini adalah :
DB9+2.855.300.000X1+1.871.400.088X2+146.700.000X3 = 42.203.700.000
Hasil yang diperoleh dari pengolahan persamaan-persamaan diatas disajikan dalam Gambar 20.
Gambar 20 Hasil Analisis Data Linear Goal Programming
Dari Gambar 20 diatas diketahui bahwa hampir semua tujuan yang diinginkan tercapai. Hal ini ditunjukkan dari nilai variabel deviasional (DA atau DB) yang sama dengan nol. Kecuali untuk pemanfaatan sumberdaya ikan tuna yang masih berada di bawah nilai JTB nya sebesar 1254.21 ton, demikian juga dengan pemanfaatan sumberdaya ikan tongkol yang masih berada di bawah nilai JTB nya sebesar 1420.51 ton. Untuk tujuan memaksimumkan penyerapan tenaga kerja juga masih berada di bawah target pencapaian sebesar 3125 orang.
Pemanfaatan sumberdaya ikan tuna dan tongkol yang masih berada di bawah JTB menunjukkan masih kurangnya armada penangkapan di daerah penelitian khususnya pole and line dan purse seine dengan ukuran 10 - 30 GT. Dengan penambahan armada pole and line dan purse seine dengan ukuran 10 - 30 GT, sekaligus akan menyerap tenaga kerja, sehingga target pencapaian tena ga kerja dapat terpenuhi.
Adapun pengalokasian dari ke-tiga teknologi penangkapan yang terpilih adalah :
pole and line dengan ukuran armada 10 – 30 GT sebanyak 24 unit, purse seine dengan ukuran armada 10 – 30 GT sebanyak 4 unit, dan handline dengan ukuran armada < 10 GT sebanyak 347 unit. Berdasarkan kondisi yang ada saat ini, maka alokasi optimum armada pole and line dengan ukuran 10 – 30 GT sebanyak 24 unit dan alokasi optimum armada purse seine ukuran 10 - 30G T sebanyak 4 unit dapat diterima, hal ini disebabkan karena armada penangkapan ikan dengan ukuran 10 - 30 GT yang ada baru sekitar 19 unit. Untuk alokasi armada bottom handline sebanyak 347 unit dapat diterima pula, hal ini terkait dengan efisiensi penggunaan BBM.
Sesuai hasil analisis Code of Conduct for Responsible Fisheries yang telah dilakukan dalam penelitian ini terlihat bahwa hasil analisis Linear Goal Programing
menunjukkan bahwa terbukti kebijakan pengembangan armada yang diinginkan sesuai dengan Ketentuan Perikanan yang Bertanggung Jawab dengan armada ya ng diprioritaskan yaitu pole and line dan bottom handline masing- masing dengan alokasi sebanyak 24 unit dan 348 unit.
Martosubroto (2005) menyatakan bahwa dalam pengelolaan perikanan yang bertanggungjawab adalah pengelolaan yang dapat menjamin keberlanjutan perikanan dengan suatu upaya agar terjadi keseimbangan antara tingkat eksploitasi dengan sumberdaya yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa yang berkepentingan disini bukanlah hanya pemerintah tetapi juga pengguna penangkapan (stakeholders), karena kegagalan pengelolaan pada suatu perikanan akan merugikan pengusaha itu sendiri.
Oleh karena itu dalam penelitian ini armada kapal purse seine untuk sementara dilakukan pengendalian dengan alokasi sebanyak 4 unit. Pengendalian armada kapal
purse seine sesuai dengan analisis CCRF pada sub bab 5.4 tulisan ini dimana kapal
purse seine tidak ramah lingkungan yang hanya mempunyai skor 9 atau paling rendah dibandingkan dengan kapal pole and line dan kapal bottom hand line, disamping juga perairan laut Ternate - Maluku Utara pengelolaan sumberdaya perikanannya masih mengacu pada Ketentuan Perikanan yang Bertanggung Jawab dan masih sangat ramah
lingkungan. Pengendalian sementara armada kapal purse seine di Ternate dimaksudkan juga untuk menghindari adanya konflik nelayan antar daerah seperti terjadinya pembakaran kapal purse seine Dharma Samudera milik nelayan Tegal - Jawa Tengah pada hari Minggu 22 Januari 2006 oleh sejumlah orang tak dikenal di perairan Pulau Kerayaan, Kalimantan Selatan. Seperti dikutip dalam harian Kompas, 23 dan 24 Januari 2006 di halaman 24 bahwa peristiwa pembakaran kapal-kapal
purse seine nelayan Tegal - Jawa Tengah ini telah berlangsung beberapa kali di Kalimantan. Setelah peristiwa pembakaran ini dilanjutkan pula dengan demonstrasi sekitar 1000 nelayan dari kerukunan nelayan Kota Baru, Kalimantan Selatan ke DPRD Kota Baru pada hari Senin tanggal 23 Januari 2006, yang pada intinya mereka menolak masuknya kapal penangkap ikan purse seiner ke perairan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Selain karena penghasilannya menurun sejak kehadiran kapal purse seiner yang berdaya tangkap besar, mereka juga khawatir akan terus terjadi konflik antar nelayan. Mereka minta pemerintah bersikap tegas. Diharapkan konflik semacam ini tidak akan pernah terjadi di perairan Ternate khususnya dan Maluku Utara pada umumnya.